Skip to main content

Keluarga Campuran Dan bilingual

#OPEy2020Day19

#kisahdariinggris

.

Keluarga Campuran dan Bilingual

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

"Does your child know your mother tongue, Yumna?" 

.

Pertanyaan yang selalu berhasil membuatku tersenyum pahit. Karena jawabannya bisa diduga, "No, not even simple instruction let alone engaging in a conversation" 

.

Padahal dulu sebelum Nusaybah (anak pertama) lahir, aku sudah bertekad bulat untuk menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dalam percakapan kami sehari hari. Kalaulah mereka tidak mengenal bahasa Jawa. Paling nggak mereka tidak kehilangan bahasa ibunya.

.

Saat Nusaybah berusia 20 bulan kami berkunjung ke Indonesia. Dua bulan di Indonesia membuatku puas dan bahagia.

Karena Nusaybah terpapar dengan bahasa Ibunya. Dia sudah mulai bicara, berkomunikasi dengan keluarga besar tanpa masalah. Sekembalinya kami ke Inggris, aku harus kembali bekerja. Otomatis saat aku kerja, suami yang tugas jaga anak. Mulailah muncul masalah. Setiap Nusaybah meminta sesuatu, dia akan mengutarakannya dalam bahasa Indonesia. Suami tidak faham sama sekali. Walhasil, dia harus meneleponku untuk mencari tahu maksud puterinya (saat itu belum rame google Translate). Bisa dibayangkan berapa kali aku harus mengangkat telpon saat bekerja. Jelas tidak praktis dan tambah rumit. Sedikit demi sedikit semangat untuk bilingual pun terkikis. Bahasa dirumah (aku dan suami) adalah Inggris. Sedang bahasa anak-anak di sekolah juga Inggris. Akhirnya, karena alasan praktis. Jadilah anak-anak kami hanya mengenal satu bahasa. Padahal suami bisa menguasai 5 bahasa. 

.

Sangat disayangkan memang. Ternyata baru aku sadari. Butuh kerja keras bagi orang tua yang menginginkan anaknya fasih dua bahasa. Mudah memang berangan-angan. Namun aplikasinya yang sulit dan butuh kesabaran. Sekarang, kerjaanku justru bertambah. Setiap kali anak-anak ingin ngobrol dengan Kakungnya (kakek), aku yang harus menjadi penterjemah.

.

Banyak artikel yang membahas pro dan kontra tentang bilingual. 

Beberapa keuntungan itu diantaranya adalah:

.

1. Meluaskan jangkauan. 

.

Jika bisa fasih bahasa Indonesia dan Inggris pada level native maka bisa dibayangkan luasnya jangkauan ide yang bisa mereka jajakan. Dia akan bisa menjelaskan konsep dalam dua bahasa di hadapan dua audiens yang berbeda. Keuntungannya berlipat ganda.  


2. Membuka kesempatan dan peluang. 

.

Kaum bilingual akan mendapatkan teman baru. Bisa bepergian ke tempat yang baru bahkan bisa membuka kesempatan untuk bekerja di negara lain. Menikah dengan orang diluar bangsanya. Bisa belajar kultur dan budaya baru. 

.

3. Kaum bilingual biasanya lebih cerdas dan terasah kemampuannya dalam memutuskan. 

.

Karena saat berbicara, otak mereka harus sering memilih dan memilah kosakata dalam dua bahasa. Ibarat lemari pakaian. Ada banyak celana dan kaos dengan warna berbeda. Mereka harus cepat memutuskan mana yang senada dan cocok dipakai bersamaan. Kemampuan cepat memutuskan ini terlatih sejak awal bagi para bilinguals. Walhasil ketika mereka besar, mereka bisa cepat menganalisa, menyimpulkan dan mengambil keputusan. Awalnya hanya diaplikasikan pada masalah yang sederhana namun saat dewasa mereka bisa menggunakan keahlian ini untuk hal-hal yang lebih kompleks.

.

4. Ahli dalam multitasking dan conflict resolution. 

.

Kemampuan ini dikenal sebagai executive control. Pusat kontrol eksekutif otak adalah area utama yang bertanggung jawab untuk mengelola dua bahasa dan menyelesaikan konflik. Ketika anak-anak bilingual belajar dan menggunakan berbagai bahasa (memantau dengan tepat dan menggunakan kata-kata dari bahasa yang tepat pada waktu yang tepat) mereka melatih dan memperkuat fungsi eksekutif mereka melalui mekanisme neuroplastisitas. (Psychologytoday).


5. Kaum bilingual biasanya memiliki daya ingat yang lebih baik dari monolingual. 

.

Tentu saja! Mereka harus mengingat dua kosakata untuk objek yang sama. Sedang monolingual hanya perlu tahu dan ingat satu kosakata saja. Otak yang sering dilatih sejak kecil mengingat dan menghafal maka layaknya otot, dari hari ke hari semakin kuat. 

.

6. Alasan kesehatan. 

.

Dalam sebuah penelitian ditemukan bahwa bilinguals memiliki resiko lima tahun lebih lambat terjangkit Dementia dan Alzheimer dibanding monolingual. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya konektivitas di area otak tertentu. Ini membantu mengatasi disfungsi otak yang lebih besar daripada monolingual yang tinggal di wilayah geografis yang sama. Para peneliti melakukan brain scan pada 85 orang di Italia Utara yang semuanya mengidap demensia tahap yang sama. Empat puluh lima dari mereka adalah bilingual Jerman-Italia dan 40 orang hanya bisa bahasa Jerman atau Italia saja. Para peneliti menggunakan pemindaian otak FDG-PET yang mendeteksi pengambilan glukosa untuk mengungkapkan seberapa aktif bagian otak tertentu dan seberapa baik mereka terhubung ke daerah otak lainnya. Otak para bilinguals terbukti masih aktif terutama area yang mengontrol kemampuan fungsi eksekutif (serangkaian proses kognitif dan keterampilan mental yang melibatkan perencanaan, pemantauan dan meraih tujuan. Termasuk didalamnya atensi, memori, inhibisi, pemecahan masalah).

.

.

Sedang kekurangan bilinguals diantarnya:

.

1. Kosakata para bilingual tidak sekaya monolingual. 

.

Layaknya setiap keahlian, jika seseorang fokus pada satu hal. Pastinya mereka akan lebih dengan untuk mendalami dan menyelaminya. Walhasil kadang mereka mampu menyampaikan ide dan pemikirannya jauh lebih variatif karena pilihan kosakata yang kompleks dan banyak. 

.

2. Kemampuan metacognitive mereka sedikit lebih rendah dari monolingual. 

.

Apa itu metacognitive? Kemampuan mengetahui bahwa mereka tahu atau tidak tahu. Berfikir tentang bagaimana/apa jenis pemikiran mereka. Sadar akan kesadaran dirinya. Orang bilang ini adalah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Metakognisi dapat mengambil dua bentuk yakni pengetahuan tentang kapan dan bagaimana menggunakan strategi tertentu untuk pembelajaran atau pemecahan masalah. Ada penelitian yang dilakukan oleh Cambridge University berkaitan dengan topik ini. 

.

3. Momen kehilangan kata jadi lebih sering dibanding monolingual. 


Hal ini bisa dimengerti karena mereka harus memproses dua kali dari orang biasa. 

.

4. Dari observasi pribadi (bukan penelitian) aku melihat anak yang mengalami speech delay (tanpa penyebab klinis lain) biasanya berasal dari keluarga dengan latar belakang bilingual. Hal ini berlangsung sementara saja. Seiring pertumbuhan dan perkembangan, mereka bisa berada level yang sama dengan teman sebaya.

.

Semoga belum terlambat. InsyaAllah masih bisa les bahasa. Tak hanya bahasa Indonesia tapi juga Arab Fusha (bahasa Quran). Kunci utamanya, membenamkan diri kita dalam lingkup orang yang berbahasa sama. Dari situ kita bisa cepat belajar sekaligus juga memahami rasa bahasa, budaya dan cara berfikir mereka. Yang menarik orang Indonesia sebenarnya terbiasa bilingual. Bahasa Indonesia dan bahasa sukunya (Jawa, Sunda, Padang, Batak, dan lain sebagainya)

.

Untuk para imigran di negeri orang, aku sarankan untuk bisa ‘memaksa’ diri supaya bisa menguasai bahasa lokal dimana kita tinggal. Syukur-syukur jika bisa pada level mendiskusikan ide dan pemikiran. Jadi tidak hanya dialog keseharian. Jika kita sudah mampu menjelaskan konsep, ide abstrak kepada seseorang dengan bahasa baru. Maka itu tanda kita sudah menguasainya. 

.

London, 19 Januari 2020

.

#OPEy2020bersamaRevowriter

#Revowriter

#KompakNulis

#GeMesDa

#OnePostEveryday

#MutiaraUmmat

#goresanyumna

Comments

Popular posts from this blog

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak Oleh:  Yumna Umm Nusaybah (Member Revowriter London) . Datangnya tidak disangka  Mengenalnya pun tanpa terduga Membayangkan pun belum pernah Apalagi berangan angan untuk menikah . Namun kedua anak adam ini sejak awal memang tak punya keraguan Bahwa mereka tercipta untuk saling melengkapi  Bahwa masing-masing akan menjadi penawar kesendirian  Bahwa mereka dipertemukan HANYA karena Sang Maha Kuasa berkehendak demikian . 2 tahun bukan waktu yang lama Pun bukan waktu yang singkat Saat hasrat ingin menunaikan Sunnah RasulNya Terhalang oleh pandemi yang mendera . Namun memang benar … Bahwa dibalik penantian  Ada yang ingin Allah سبحانه Ùˆ تعالى ajarkan . Kerelaan sang bunda menerima kenyataan Keyakinan pasangan bahwa mereka memilih jalan dan calon yang benar . Butuh waktu yang panjang …  Bagi seorang Bunda  Untuk menata hati dan merapikan benak Melepas anak pertama tumpuan jiwa Memulai hidup baru di ujung dunia  Bersama l...

Holier-than-thou

#OPEy2021Day10 . Holier-Than-Thou . oleh Yumna Umm Nusaybah (Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar) . Bisa kah menebak arti dari judul diatas?  Holier-than-thou adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris yang dimaknai sebagai  obnoxiously pious; sanctimonious; self-righteous. Istilah kerennya sok suci atau sok alim. . Ide ini bisa jadi ada dalam diri kita sendiri. Atau bisa juga tuduhan yang dilemparkan kepada kita. . Jika seseorang memandang bahwa dirinya lebih bertakwa, lebih comitted, lebih saleh dari orang lain karena dia sudah sangat taat pada aturan agama dalam kesehariannya, maka hal ini sangatlah berbahaya. Bisa-bisa dia melihat orang lain ‘tidak berharga’. Lebih buruk dan lebih rendah posisinya. Akibatnya, bukannya akhlak dan kebaikannya menarik orang disekitarnya, tapi justru dia nampak sebagai individu yang toxic, menyebalkan dan terkesan sok alim. Padahal ke’aliman’ dan kebaikan seseorang bukanlah self-proclaim atau pengakuan sendiri. Tapi kebaikan...

my Special Student

Seneng...happy lega dan terharu...itulah yang aku rasakan ketika murid 'istimewaku' menyelesaikan Iqra jilid 6 minggu yang lalu...percaya atau nggak aku menitikkan airmata dan menangis sesenggukan dihadapan dia, ibu dan kakak perempuannya....yah...airmata bahagia karena dia yang setahun yang lalu tidak tahu sama sekali huruf hijaiyah kini bisa membaca Al Quran meski masih pelan dan terbata bata...tapi makhrojul hurufnya bagus, ghunnahnya ada, bacaan Mad-nya benar....dan aku bayangkan jika seterusnya dia membaca Quran dan mungkin mengajarkannya kepada orang lain maka inshaAllah akan banyak pahala berlipat ganda... Namanya Tasfiyah ...seorang gadis cilik bangladeshi berusia 6 tahun saat pertama kali aku bertemu dengannya....Ibunya sengaja mengundangku datang ke rumah nya karena memang tasfi tidak suka dan tidak mau pergi ke masjid kenapa? karena sangat melelahkan...bayangkan aja 2 jam di setiap hari sepulang sekolah, belum lagi belajar bersama dengan 30 orang murid didampingi 1 ...