Wednesday, 22 September 2021

Lamaran Setiap Minggu

#RevowriterWritingChallenge
#Day1
#1Dari10Tulisan
.
Tulisan ini untuk #RevowriterWritingChallenge. Saya akan menantang salah satu dari teman saya untuk menulis tema serupa di akhir tulisan
.
Lamaran Setiap Minggu
Oleh: Yumna Umm Nusaybah
.
Judulnya bikin baper nggak sih? Percaya nggak percaya, kejadian ini nyata adanya. Seorang lelaki melamar seorang perempuan SETIAP MINGGU. Ini bukan prank dan juga bukan mainan. Bukan sulap dan bukan pula sihir (hayyah). Terus?
.
Begini ... sebenarnya lelaki dan perempuan ini sudan menikah selama 45 tahun! Tapi sayangnya di usianya yang sudan senja, sang isteri menderita Alzheimer. Sebuah penyakit degeneratif yang mempengaruhi sel-sel otak. Salah satu ciri khasnya adalah penurunan daya ingat, penurunan kemampuan berpikir dan bicara, serta perubahan perilaku secara bertahap. Penyebab pasti penyakit Alzheimer belum diketahui. Akan tetapi diduga Alzheimer terjadi karena pengendapan protein di dalam otak, sehingga menghalangi asupan nutrisi ke sel-sel otak (google). 
.
Jadi sang isteri ini tidak ingat sama sekali bahwa dia sudah menikah 45 tahun lamanya!
Namun demikain, sang Suami tidak lantas meninggalkan isterinya begitu saja atau malah mencari penggantinya. Sebaliknya, sang Suami dengan setia menemani isterinya, merawatnya dan tak sedikitpun marah atau kecewa karena sang isteri kini lupa akan statusnya. Lupa akan suaminya. Lupa akan masa masa indah pernikahan mereka. Rajutan cinta puluhan tahun lamanya, tak tersisa di benaknya. 
.
Bayangkan saja rasanya! Jika kita berada pada posisi sang suami. Mari tanya diri kita sendiri, akankah kita masih setia? Atau kita move on karena banyak hal yang bisa kita lakukan tanpa harus menanggung beban merawat isteri yang sakit dan pelupa? Akankah kita bertahan dalam pernikahan sedemikian rup? 
Kalaulah kita tetap setia, apa faktor pendorongnya? Karena cintakah? Karena kasihankah? Atau karena tak ada lagi pilihan terbaik selain bertahan menjaga isteri yang sudah setia mendampingi sekian dekade lamanya? 
.
Menariknya, Sang Suami ini memilih setia. Tak hanya itu, dia ingin selalu memberikan kebahagiaan kepada isterinya dengan memberikan kejutan setiap minggunya. Dengan cara apa? Melamar sang isteri. Tak hanya sekali tapi setiap minggu. Kenapa? karena sang Suami melihat kembali luapan kebahagiaan di wajah sang isteri seperti saat dulu pertama dia melamarnya. Seorang penderita Alzheimer masih memiliki rasa. Dia juga mampu memroses rangsangan rasa bahagia. Bermodal ini, sang suami ingin selalu menghadirkan senyum bahagia di wajah isteri tercintanya. 
.
Entah apa lagi kalau bukan cinta yang melandasinya. Tentunya bagi sang suami sangatlah menyakitkan karena dia tahu ini bukanlah kejadian yang sebenarnya. Ini adalah sandiwara manis demi tetap membahagiakan isterinya. Bagi sang suami, senyum dan kebahagiaan sang isteri saat dilamar menjadi obat yang luar biasa. Meninggalkan memori manis di masa tua mereka.  Pilu karena dilupakan tak menjadi penghalang untuk memberikan kebahagiaan kepada kekasihnya.
.
Video yang aku peroleh dari instagram ini mampu meluberkan airmata. Aku kagum akan kesetiaan sang suami. Mungkin memang bukan agama yang mendasari kesetiaan mereka. Bukan pula impian surga yang abadi selamanya. Namun rasa sayang dan cinta yang menghujam ke dalam dada. Cinta yang mengakar kuat karena kebersamaan sekian lama didalam suka dan duka.
.
Di hari yang sama aku mendengar kisah tentang pernikahan pasangan muda yang berakhir dengan perceraian. Hasil pernikahan yang membuahkan 1 anak menjadi perang bratayuda. Sang suami menyalahkan isteri dan sebaliknya. Anak menjadi rebutan dan dijadikan senjata untuk saling menyakiti dan mencari pembenaran. 
.
Sang lelaki berusia 29 tahun sedang perempuannya kurang lebih 26 tahun! Pernikahan seumur jagung seolah menjadi tren bagi banyak kaum muda.  Kawin cerai dalam tempo bulanan. Pernikahan bukan lagi ikatan sakral. Suami/isteri seolah seperti kaos kaki yang dengan mudah dilepas dan diganti.

Tentunya kita tidak membicarakan tentang pernikahan yang memang bermasalah sejak awal. Bukan pula pernikahan yang dipenuhi dengan visi misi yang tak sejalan. Atau pernikahan yang diwarnai penindasan (abuse) baik itu fisik maupun emosional. 
.
Kita membahas tentang pernikahan pada umumnya. Dimana ada intrik dan bumbu-bumbu pedasnya. Sayangnya, di zaman yang serba instan ini sadar atau tidak telah membentuk jiwa kita instant juga. Susah sedikit, menyerah. Lama sedikit prosesnya, menyerah. Berat sedikit, melemah! Padahal salah satu alasan kenapa menikah itu berpahala besar adalah karena besarnya ujian dan banyaknya gelombang di dalamnya. 
.
Menikah seharusnya dikawal dengan visi ingin merubah diri menjadi lebih baik. Saling mengisi atas kekurangan masing-masing. Bersabar atas kekurangan pasangan. Bersyukur atas kelebihan mereka. Memaafkan atas kesalahan mereka. Memberi ruang untuk mereka tumbuh bersama waktu. Memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengakui kekurangan dan memperbaikinya. Kupikir itulah kuncinya. Mudah ditulis dan diucapkan namun memang butuh perjuangan untuk menerapkan. 

Semoga kita diberi kemudahan untuk tumbuh besar bersama dalam ikatan sakral pernikahan. 

Bagi para jofisa, siapkan kesabaran seluas samudera dan open minded atas proses l percepatan pendewasaan. 

 "Bagaimana denganmu Umm adam, apakah kamu setuju dengan pandanganku? Aku menantangmu untuk menuliskan tema serupa”.

London, 21 Agustus 2021.

#RevowriterWritingChalleng
#BeraniMenulisBeraniBerbagi
#RWCDay1
#goresanyumna

Monday, 11 January 2021

Holier-than-thou

#OPEy2021Day10
.
Holier-Than-Thou
.
oleh Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Bisa kah menebak arti dari judul diatas?  Holier-than-thou adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris yang dimaknai sebagai 
obnoxiously pious; sanctimonious; self-righteous. Istilah kerennya sok suci atau sok alim.
.
Ide ini bisa jadi ada dalam diri kita sendiri. Atau bisa juga tuduhan yang dilemparkan kepada kita.
.
Jika seseorang memandang bahwa dirinya lebih bertakwa, lebih comitted, lebih saleh dari orang lain karena dia sudah sangat taat pada aturan agama dalam kesehariannya, maka hal ini sangatlah berbahaya. Bisa-bisa dia melihat orang lain ‘tidak berharga’. Lebih buruk dan lebih rendah posisinya. Akibatnya, bukannya akhlak dan kebaikannya menarik orang disekitarnya, tapi justru dia nampak sebagai individu yang toxic, menyebalkan dan terkesan sok alim. Padahal ke’aliman’ dan kebaikan seseorang bukanlah self-proclaim atau pengakuan sendiri. Tapi kebaikan, akhlak dan tindak tanduk kita yang baik adalah kesaksian dari orang di sekitar kita.
.
Coba kita tengok perjalanan baginda Rasulullah ﷺ. Siapa yang menyematkan gelar Al Amin pada baginda? Bukan beliau sendiri! Tapi masyarakat makkah lah yang menamakan beliau karena mereka membuktikan dan menyaksikan sendiri kejujuran beliau. Beliau selalu dikenal sebagai manusia yang baik hati, ber-adab, bisa dipercaya dan memiliki integritas yang tinggi. Para kaum Quraisy tidak melihat adanya kecacatan sedikitpun dalam diri beliau sebagai manusia. Kaum
Quraisy mengakui kredibilitas baginda ﷺ . Apa yang kaum kafir Quraisy benci adalah ajaran Islam beliau ﷺ, dakwah beliau ﷺ. Bukan sosok Rasulullah yang mereka permasalahkan tapi ajaran yang beliau bawa. Jika kita ingin mencontoh baginda maka kebaikan kita dalam keseharian itulah yang harus nampak dan di indera sebelum mereka mendengar lisan kita berbicara (ceramah kita).
.
Holier-than-thou ini bisa juga menjadi tuduhan yang dilemparkan oleh orang yang kurang komitmennya terhadap agama kepada orang yang mereka anggap lebih commited. Tuduhan ini tentunya didasari banyak hal. Bisa jadi kebencian mereka terhadap si individu tersebut. Atau bisa jadi benci terhadap ajaran agamanya atau benci kepada dakwah yang disampaikannya. Apapun itu, hal ini tak perlu dirisaukan oleh penerus tugas anbiya karena sudah sunnatullah, mereka ditentang oleh pengusung kebatilan. Yang terpenting kita jauh dari perasaan lebih alim, lebih soleh dan lebih mulia. 
.
Perlu kita ingat bahwa rasa dalam hati tak ada yang tahu. Hanya Allah ﷻ dan kita sendiri. Karenanya, harus sering sering kita menengok ke dalam hati kita. Tengok kembali niat kita. Apakah syaitan telah mempercantik godaannya. Dengan cara apa?  Dengan membuat kita beranggapan bahwa amal baik kita sudah banyak, pasti diterima, usaha kita sudah maksimal jadi mari bergembira.
.
Jika mulai ada perasaan seperti ini, mari kita baca kisah istimewa berikut ini (kuperoleh saat menghadiri kelas Hadith bersama Ustadzah Yumna Patel dari Zaynab Institute)
.
Dikisahkan dari sahabat Jabir RA, Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wa sallam (SAW) mendatangi kami kemudian Beliau bersabda: 

"Jibril berkata: Wahai Muhammad, demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran, sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla memiliki seorang hamba telah beribadah kepada Allah selama lima ratus tahun di puncak gunung di sebuah pulau yang dikelilingi dengan lautan yang lebar dan tinggi gunung itu adalah tiga puluh dzira".
.
Jarak dari setiap tepi lautan yang mengelilingi gunung itu adalah empat ribu farsakh. Di gunung itu terdapat sebuah mata air selebar beberapa jari. Dari mata air itu mengalir air segar dan berkumpul ke sebuah telaga di kaki gunung.
.
Di sana juga terdapat pohon-pohon delima yang selalu berbuah setiap hari sebagai bekal hamba tersebut beribadah kepada Allah setia harinya. Setiap kali menjelang sore, hamba itu turun dari gunung ke telaga untuk mengambil air wudlu, sekaligus memetik buah delima lalu memakannya, baru kemudian mengerjakan salat.
.
Usai salat, hamba itu selalu berdoa kepada Allah Taala, supaya kelak ketika ajalnya menjemput, dia wafat dalam keadaan bersujud kepada Allah dan dia juga berdoa supaya setelah kematiannya, jasadnya tidak dirusak oleh bumi dan oleh apapun juga sampai datangnya hari kebangkitan.
.
Allah Ta'ala pun mengabulkan semua doa hamba tersebut. Kemudian Allah berfirman: "Masukkan hambaKu ini ke surga dengan sebab rahmat-Ku".
.
Hamba tersebut berkata: "Dengan sebab amalku Ya Rabb".
.
Allah berfirman: "Masukkan hambaKu ke surga dengan sebab rahmat-Ku".
.
Hamba tersebut tetap berkata: "Dengan sebab amalku Ya Rabb".
.
Kemudian Allah berfirman: "Sekarang coba timbang amal hambaKu ini dengan nikmat yang telah aku berikan kepadanya".
.
Ternyata setelah ditimbang, nikmat penglihatan yang telah diberikan Allah kepada hamba itu menyamai timbangan amal ibadah yang telah dilakukannya selama 500 tahun. Dan masih tersisa anggota tubuh lain yang belum ditimbang, sedangkan amal hamba tersebut ternyata sudah habis.
.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman: "Sekarang masukkan hambaKu ini ke neraka".
.
Mendengar perintah Allah itu, kemudian para Malaikat menggiring hamba tersebut ke neraka. Tiba-tiba ketika akan digiring ke neraka, hamba itu berteriak sambil menangis: "Ya Rabb, masukkan aku ke surga dengan rahmat-Mu".
.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman kepada para Malaikat: :Tahan dulu wahai Malaikat, dan bawa dia ke sini".
.
Hamba itu lalu dibawa oleh para Malaikat kehadapan Allah Ta'ala. Kemudian Allah berfirman: "Wahai hambaKu, siapakah yang telah menciptakanmu yang sebelumnya kamu bukan apa-apa?" Hamba itu menjawab: "Engkau Ya Rabb".
.
Kemudian Allah berfirman: "Siapakah yang telah memberimu kekuatan sehingga kamu mampu beribadah kepadaKu selama 500 tahun?" Hamba tersebut menjawab: "Engkau Ya Rabb".
.
Allah berfirman: "Siapakah yang telah menempatkanmu di sebuah gunung yang berada di tengah-tengah laut yang luas, mengalirkan dari gunung tersebut air yang segar sedangkan di sekelilingnya adalah air asin. Yang menumbuhkan buah delima setiap malam yang seharusnya hanya setahun sekali berbuah, serta siapa yang telah memenuhi permintaanmu, ketika engkau berdoa supaya dimatikan dengan cara bersujud?"
.
Hamba itu menjawab dengan wajah menunduk: "Engkau Ya Rabb".
.
Allah berfirman: "Itu semua tak lain adalah atas rahmat-Ku, dan dengan rahmat-Ku juga engkau Aku masukkan surga".
.
Kemudian Allah Ta'ala berfirman kepada para Malaikat: "Masukkan hambaKu ini ke surga, engkau adalah sebaik-baik hamba wahai hamba-Ku". Dan dimasukkanlah hamba itu ke dalam surga berkat rahmat Allah Ta'ala.
.
Kemudian Malaikat Jibril AS berkata: "Sesungguhnya, segala sesuatu itu berkat rahmat Allah wahai Muhammad". (Dari buku "Tambihul Ghafileen" oleh Shaikh Abul Laith Samarkandi).
.
Hal ini mengingatkan kita bahwa
.
1. Karena ijin Allah ﷻ semata kita ada di jalan-Nya. Bukan karena kehebatan dan kecerdasan kita. Tapi karena rahmat Allah ﷻ saja.
.
2. Jika ahli ibadah 500 tahun saja belum bisa membeli surga Allah dengan amalnya, bagaimana denga kita yang rata-rata meninggal diusia kurang dari 100 tahun? Cukupkah amal kita? Tentu tidak! Karenanya konyol jika kita merasa sudah aman dari siksa api neraka.
.
3. Niat kita mengikuti Rasulullah meniti jalan dakwah ataupun beramar Maruf nahi munkar adalah karena itu kewajiban. Semata mata memenuhi perintah Allah ﷻ. Niatkan demikian. Dakwah adalah salah satu cara kita mencari ridhoNya. Mendekatkan diri kepada Allah ﷻ.
.
4. Jangan pernah puas dengan amal baik karena usaha dan keistiqomahan kita yang Allah ﷻ lihat di hari penghisaban nantinya. Layaknya seorang anak yang sering mengecewakan orang tua, selama kita terus mencoba berbuat baik, berbakti, dan menomer satukan mereka maka suatu saat mereka akan ridho dengan kita. Setelahnya, kesalahan dan kelalaian kita akan mudah mereka maafkan. 
.
5. Jangan pernah meremehkan amal sekecil apapun, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang akan mengetuk pintu surgaNya. 
.
Semoga Allah ﷻ memudahkan kita menjadi hamba yang tawadhu dan bijak dalam bertindak. Amin
.
London, 10 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda

Sunday, 10 January 2021

Intrik Pertemanan di Dunia Maya



#OPEy2021Day09
.
Disclaimer: 
1. Postingan ini disinyalir banyak berisi curhatan dan penilaian yang subyektif.
2. Postingan ini tidak ditujukan kepada pihak tertentu. 
.
Intrik Pertemanan di Dunia Maya.
.
oleh Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Pernah nggak sih di ‘unfriend’ sama teman Facebook? Gimana rasanya? Jawabanku: Tergantung! Rasa sakit hati di-unfriend oleh teman FB tergantung dari kedekatan kita dengan mereka. Sebenarnya ada kemiripan dengan pertemanan di dunia nyata, jika kita tak terlalu kenal dan tak pernah di telpon atau di SMS oleh seorang teman, lalu orang tersebut lama tak mengontak, ya tak apa. Namun jika kita dulunya sahabat dekat yang selalu telpon-telponan, SMS-an dan tiba-tiba tak pernah di sapa, tak ada kabar, seolah tenggelam di telan bumi maka kita pun akan bertanya tanya. Ada apa gerangan dengannya? Apakah dia sakit? Apakah dia sedang dirundung duka? Apakah dia sibuk dengan aktivitas barunya? Tapi kenapa tidak pernah cerita? Kan kita dulu begitu dekat? 
.
Wajar memang kalau kita bertanya-tanya. Kalau si dia memberi penjelasan, pasti semua dengan mudah diselesaikan dan dilupakan. Kuncinya, mau mengomunikasikannya? Mau bertanya, apakah dia tersinggung dengan kita, atau memang benar benar sibuk sehingga bukan hanya kita yang dicuekin tapi semua orang bahkan keluarganya? Itulah yang seharusnya atau biasanya terjadi di dunia nyata. Meskipun kadang tak selalu baik endingnya. Pertemanan dunia nyata lebih mudah mengelolanya. 
.
Yang tricky, jika kita berteman dengan mereka di dunia nyata dan maya. Misalkan kolega, teman kuliah, teman SMA dan teman yang tahu masa lalu kita atau bahkan tetangga. Ketika teman di duta (dunia nyata) menjadi teman di dumay (dunia maya) lalu kita di-unfriend mereka, biasanya sakitnya luar biasa. Kenapa? Karena ada pemutusan sepihak tanpa tahu alasannya. Karena unfriend itu pertanda bahwa kita ditolak oleh mereka tanpa tahu alasannya. Mereka tak mau lagi berurusan dengan kita di dunia maya. Dan biasanya ini akan mempengaruhi cara kita handle orang tersebut di dunia nyata. Contoh ekstremnya: seorang lelaki pulang dari kantor dan langsung menjatuhkan talak kepada isterinya. Lalu kabur entah kemana. Tak ada kabar dan penjelasan kenapa ada perceraian sepihak? Pasti sebagai wanita, kita akan mencari cari jawaban yang masuk akal, mempertanyakan ada apa? ujungnya bisa jadi kita menyalahkan diri kita sendiri. Bisa jadi karena kesalahan kita yang kurang perhatian, kurang faham kebutuhan pasangan, tak bisa mengindera tanda ketidakpuasan darinya. Boro-boro menyalahkan suami yang tiba-tiba saja menceraikan dan melarikan diri, yang ada kita malah dihantui pertanyaan besar dan rasa bersalah yang tak beralasan. 

Hal tersebut akan terus seperti itu sampai kita berdamai dengan diri sendiri. Memberi ruang untuk menerima bahwa teman datang dan pergi. Bahwa jika teman meninggalkan kita, tidak selalu karena kita mengecewakan mereka. Bisa jadi karena mereka lah yang bermasalah. Namun mereka tak tega mengungkapkannya kepada kita. lebih baik menjauh daripada memperbesar masalah.
.
Dari sini bisa di fahami kenapa di-unfriend oleh teman di sosial media yang sudah kita anggap ‘teman dekat’ bisa juga berbahaya bagi kesehatan mental kita. Kita mempertanyakan reputasi/ kebaikan / kredibilitas diri kita sendiri. Kenapa? karena kita sendiri tak bisa merasionalisasi pemutusan sepihak pertemanan itu. Apalagi jika si dia masih harus kita temui di dunia nyata. Pasti jadi canggung dan aneh jadinya.
.
Berapa banyak orang menuliskan rasa kecewa dan marahnya ketika di unfriend oleh teman atau saudara. Ketika korban unfriend merasa kecewa, hal itu bukan karena mereka sok baper, tapi karena bagi mereka, pertemanan mereka sangat bermakna. Jika A melihat skala kedekatannya dengan B ada di angka 9, sedang si B melihat kedekatan mereka hanya di angka 5, maka wajar jika mudah bagi si B mengakhirnya. Masalahnya, kedekatan kita sebagai teman di sosial media tidak bisa diukur dengan skala. Karena ini urusan hati. Bisa jadi kita berhaha hihi tapi hati kita tidak disana. Mungkin ada yang berargumen bahwa seringnya komen dan like menunjukkan kedekatan, tapi jika tidak pernah DM atau ngobrol privately dan membuka diri, berbagi masalah dan keluh kesah, tahu sejarah kita, maka susah juga menetapkan mereka sebagai teman istimewa. 
.
Inilah uniknya berteman melalui sosial media. Pertemanan dimana kita bisa ‘berpura-pura’. Menebar pesona. Menghadirkan personality yang sesuai tuntutan pasar tapi bukan diri kita yang sebenarnya. Perlu di ingat, pertemanan dunia maya mengeliminasi banyak faktor (human touch) seperti ekspresi wajah, bahasa tubuh yang mana hal ini berporsi besar (80%) saat kita berkomunikasi.
.
Jika kita tidak bisa mengatur perasaan. Jika kita tak bisa membedakan mana kenyataan dan mana dunia maya, bisa bisa dibuat gila. Bayangkan jika perasaan ini di alami oleh remaja yang belum ‘ajeg’ pribadinya. Remaja yang masih mencari jati diri. Remaja yang bisa jadi memakai ‘likes dan hearts’ sebagai ukuran diterima tidaknya dia oleh ‘teman’ dan dunia. Maka jangan salahkan remaja itu jika dia menjadi cemas, depresi dan kecanduan social media. 
.
Pesan moral
.
Pertama, berfikir lah seratus kali untuk memberi anak-anak kita akses sosial media. Karena kesehatan dan kematangan mental mereka jauh lebih berharga daripada likes dan komen dari orang yang tak pernah mereka temui. Bagi para generasi yang sudah dewasa, bisa jadi gampang untuk bilang bahwa sosial media bukanlah segala galanya. Puluhan dislike ga mempan untuk menghacurkan ketahanan mental. Namun bagi generasi muda, sudah banyak bukti bahwa dunia maya berefek sama besarnya dengan dunia nyata. Terbukti banyak depresi dan kasus bunuh diri karena online bullying.  
.
Kedua, Berfikir lah dua kali sebelum unfriend seseorang. Mungkin bisa jadi pertemanan yang kita anggap biasa, bagi mereka adalah nyawa karena kita lah satu-satunya harapan dan orang yang bisa menopang semangat hidup mereka. Berfikir lah positif sebelum remove seseorang. Bisa jadi mereka punya masalah jadi ingin menghilangkan jejak dengan unfriend semua temannya (tak haya kita). Bisa jadi juga mereka sedang tidak ingin mendengar kabar dari siapapun karena masalah di dunia nyata yang mendera. 
.
Ketiga, Kalaulah kita menjadi korban unfriend, tak perlu kecewa dan tak perlu dianalisa. Move on and add a new friend 😜. Mungkin kita terlalu aktif memenuhi timeline mereka. Mungkin postingan kita terlalu menantang pemikiran. Mungkin pencapaian dan aura bahagia kita membuat mereka mempertanyakan kebahagiaan mereka sendiri. Mungkin postingan kita menjadi trigger negative emotion dalam diri mereka lalu bertanya tanya “kenapa kok bukan aku ya yang bahagia?” Mungkin mereka capek membaca tulisan panjang. Mungkin landasan mendasar kita sudah tak lagi sama jadi tak lagi sejalan. 
.
Million dollars Question for me, pernahkah aku unfriend orang? Pernah! Yakni para ikhwan yang tak tahu kok bisa nyanthol di pertemanan. Pernah juga akun yang tak jelas namanya (misal: Gadis kiyut). Pernah juga nge-block teman yang sudah unfriend duluan karena pertengakaran hebat di dunia nyata. Pernah juga akun jualan yang isinya hanya iklan sedang aku posisi di Inggris tak mungkin untuk membeli dan bertransaksi. 
.
Prinsipku, sosial media sama dengan platform sosial lainnya. Aku hanya ingin dikelilingi oleh orang yang baik, orang yang menambah kebaikan, orang yang bijak, bisa membawa diri, mengontrol diri, menyuntikkan motivasi, mengingatkanku kembali dan sebisa mungkin menjauh dari orang yang negatif, nggak sopan dan nggak bermanfaat. 
.
Mohon maaf jika ada salah kata atau ada hal yang menyinggung perasaan.
.
London, 9 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda

Simple is the best


#OPEy2021Day08
.
Simple is The Best
.
oleh Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Ada nggak sih yang bertanya tanya kenapa design gambar untuk tulisanku #OPEY2021 ini sangat sederhana, dua warna saja dan ga neko-neko? Bagi yang sering mengikuti tulisanku beserta gambar yang menyertainya bisa melihat bahwa biasanya design grafisku rame atau bahkan terlalu rame dan nggak artistik. 
.
Kali ini aku menganut filosofi baru. Filosofi ini aku coba untuk membuktikan beberapa teori. Salah satunya adalah teori yang sudah lama dikenal: “Less is more”
.
Beberapa quotes dari orang pintar dikatakan bahwa kecerdasan seseorang bisa dilihat dari cara dia menyederhanakan sebuah hal yang kompleks.
Albert Einstein bilang “The definition of genius is taking the complex and making it simple.” Sedangkan Leonardo da Vinci mengatakan, “Simplicity is the ultimate sophistication.”
.
Jika kita perhatikan Mark Zuckenberg (pendiri dan pemilik Facebook) dan Simon Cowell (seorang produser tajir dari Inggris), ada kesamaan dari cara mereka berpakaian. Keduanya selalu memakai baju yang sama. Mark memakai kaos oblong abu-abu sedang Simon memakai kaos oblong berwarna putih. Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh The Independent tertanggal 26 Januari 2016, ketika dia ditanya kenapa memakai kaos yang sama setiap waktu? Dia menjawab bahwa dia tidak ingin menghabiskan waktu dan tenaganya yang sangat berharga untuk menentukan hal sepele seperti pakaian yang harus dia pakai hari itu, sarapan yang harus dia makan, dan seterusnya. Dia meyakini bahwa secara psikologi hal-hal seperti ini menghabiskan energi dan menurutnya, jika dia bisa gunakan energi tadi untuk hal yang bermanfaat bagi manusia lainnya, kenapa tidak?
.
Menurutku ini filsafat kehidupan yang bijak (bukan berarti aku penggemar Om Mark loh ya). Di jaman sekarang, kesederhanaan identik dengan kemiskinan. Sederhana diasosiasikan dengan rendahnya kepercayaan diri. Sederhana berarti juga udik alias ndeso. Tapi ternyata salah satu orang terkaya di dunia melihat sebaliknya.
.
Budaya konsumerisme yang dibawa oleh kapitalisme sudah menjerat dan membuat kita terbawa arus. Akhirnya kita simpulkan bahwa semakin banyak pilihan semakin enak. Semakin kompleks sebuah pilihan semakin canggih. Semakin kaya maka harus semakin sering tampil beda. Dan seterusnya.
.
Padahal secara psikologi, makin banyak pilihan maka makin sulit memutuskan. Satu contoh, jika kita masuk toko kue A yang menjual berbagai jenis kue (basah/kering) dengan pilihan 10 warna yang berbeda, 10 ukuran yang berbeda dan 10 rasa yang berbeda. Kemudian ada toko B yang menjual kue kering SAJA dengan 5 pilihan warna/ ukuran / rasa. Sejenak kita akan berfikir bahwa pergi ke toko A lebih menyenangkan karena banyak pilihan. Tapi sebenarnya waktu belanja di toko A akan lebih lama dari pada belanja di toko B. Ketika kita dihadapkan banyak pilihan akan terjadi dua hal:
.
1. kebingungan sehingga memakan waktu yang lebih panjang untuk menentukan
2. rasa tak yakin apakah kita sudah memilih dengan benar dan maksimal?
.
Kadang dua hal tersebut justru membuat kita tidak memilih sama sekali dan keluar toko tak jadi beli. 
Contoh lain adalah proses pencarian jodoh. Jika seorang jomblowati diberi atau mendapat banyak pilihan ikhwan yang akan mengkhitbah, maka bisa dipastikan dia akan merasakan dua hal diatas. Kalau yang datang mengkhitbah hanya satu atau dua saja, maka pilihan akan cepat diambil. Energi tak terkuras banyak, selanjutnya justru bisa fokus dengan proses berikutnya. 
.
Karenanya, kadang kitalah yang harus berani mengambil keputusan untuk membatasi jumlah pilihan. Menyederhanakan keinginan. Menentukan standar dasar. Dan sejatinya, ini semua untuk kemudahan dan kesehatan mental kita sendiri. Bagaimana menyederhanakannya? Wah butuh tulisan lain untuk membahasnya. 
.
Orang yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan pilihan di berbagai aspek kehidupannya dengan suka rela (bukan karena lingkungan yang memaksa) maka dialah orang yang terbebas dari kungkungan tuntutan sosial. 
.
Orang yang memiliki kemampuan untuk menyederhanakan ide-ide besar dan kompleks lalu menyampaikannya kepada banyak orang dari kalangan manapun tanpa membuat lawan bicara nampak bodoh, maka dialah orang cerdas yang sesungguhnya. Hal ini mengindikasikan bahwa dia faham sekali inti sebuah ide/konsep. Dia kelola sendiri ide itu kemudian dia sederhanakan untuk bisa dikonsumsi khalayak ramai. Jika kesederhanaan ide itu datang dari kesimpulan atas ide yang kompleks maka orang pun akan mengindera. Namun jika ide sederhana itu layaknya tulang tanpa daging, maka orang pun akan mengenalinya. Sama sama sederhana tapi berbeda dari mana sumber kesederhanaannya dan prosesnya menjadi sederhana (mbulet nggak sih?)
.
Dalam Islam, konsep sederhana namun sarat makna (simple yet concise) sudah banyak contohnya. Ayat-ayat Makkiyah di dalam Al Quran sangat bisa di indera. Ayatnya pendek, sangat menggugah, menarik perhatian pendengarnya, bermelodi dan bersajak. Namun meski pendek, ternyata tafsir dari ayat tersebut berlembar lembar dan tak akan habis pelajarannya diambil oleh siapapun sampai akhir zaman. Layaknya sebuah samudera, mau menyelami sedalam apapun akan tetap bisa. Karena semakin sederhana sebuah lafad semakin sarat maknanya. 
.
Demikian juga hadis Rasulullah Muhammad ﷺ. Coba tengok beberapa hadis berikut.
.
‎مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” – Sunan Abi Dawud
.
‎تَهَادُوْا تَحَابُّوْا
.
“Berbagi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” – Hadits Riwayat Al-Bukhari

. ‎مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ اَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang melakukan sebuah amal perbuatan yang tidak ada contohnya dari kami maka amal perbuatan itu tertolak!’.” - Sahih Muslim
.
Hadis terakhir dan hadis pertama bisa diaplikasikan dalam banyak aspek perbuatan. Sederhana bukan lafadnya? Namun para fuqaha meng-istinbath (menarik) hukum untuk realitas baru dari hadis tersebut. Sederhana lafadnya namun makna dan implikasinya luar biasa.
Karenanya, jangan takut menjadi orang sederhana. Baik dalam perbuatan maupun dalam berkata-kata. Kenapa?
.
1. Karena sederhana itu indah.
.
Sesuatu yang disajikan dengan sederhana bisa langsung terlihat keindahanya. What You see is What you get. Orang tak tak perlu bertele tele melihat keindahannya. Tak perlu bedak tebal dan make up ratusan. Jadilah apa adanya, karena jika orang menghargai kita ketika kita menjadi apa adanya maka kita pun mudah untuk berkaca. Orang sederhana hanya menarik orang yang juga sederhana. Dengan apa adanya, akan mudah menyaring teman yang sejalan atau tidak sejalan dengan cara kita.
.
2. Karena memilih menjadi sederhana itu tidaklah mudah 
.
Banyak godaan di luar sana untuk menjadi orang yang bukan diri kita sendiri. Entah itu karena tuntutan jaman sosial media. Jaman yang mengedepankan eksploitasi wanita. Saat kaum hawa terobsesi oleh make up dan Fashion-nya (catet: obsesi) tapi kita memilih menjauh dari gaya hidup ‘glamour’ yang ditawarkan, tidaklah mudah. Apalagi jika sebenarnya kita mampu (secara materiil) namun memilih tidak berjalan ke arah sana. 
Ide pun demikian. Untuk menyederhanakan ide besar dan sangat kompleks, tidaklah gampang. Jika kita tidak menguasai dan memahami dengan jelas ide dasar yang kita sebarkan maka kita akan cenderung berputar putar atau hanya sekedar memakai jargon-jargon besar yang tak bisa dan tak biasa di fahami orang.
.
3. Karena sederhana itu menunjukkan kejelasan
.
ketika seseorang bisa menyederhanakan sebuah konsep maka itu menujukkan kita faham sekaligus memudahkan orang memperoleh kejelasan. Ketika sebuah ide itu jelas maka akan mudah ditangkap orang. Selanjutnya akan mudah untuk diadopsi oleh khalayak. Akhirnya bisa mengubah manusia dan dunia. Disinilah kekuatan sebuah lafad sederhana yang mudah di mengerti. Pernah nggak sih heran dengan kemampuan ulama terdahulu sepeti imam Syafi’i, Ibn Qayyim Al Jauziyah dalam menyampaikan idenya? Quote mereka hanya beberapa kata tapi mak Jleb! Mengena dan membuat benak berkelana. 
.
4. Karena sederhana membuat energi kita terfokus pada hal yang penting saja
.
Seperti contohku di awal. Design grafis tulisan #OPEY2021 kali ini sengaja aku sederhanakan karena aku ingin fokus dengan isi tulisan saja. Ternyata ini cukup membantu. Karena design canva tak lagi memakan waktu lama. Waktuku bisa aku fokuskan untuk membaca, memahami dan mengolah kata yang akhirnya menjadi tulisan dengan harapan ini adalah tulisan sederhana (semoga). 
.
Ketika kita hidup sederhana maka kita akan fokus pada tujuan utama kita dilahirkan di dunia. Tujuan itu pun termaktub dengan lafad pendek, jelas dan tak ada ambigu. 
.
Allah Ta’ala berfirman,
‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56)
.
London, 8 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda

Thursday, 7 January 2021

4 Tipe Perlekatan (Attachment Style)




#OPEy2021Day07
Disclaimer: tulisannya panjang, mohon sabar
.
4 Tipe Perlekatan (Attachment Style) 
.
oleh Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
“Suamiku tuh ga perhatian banget deh Sya, masa aku potong rambut ga dikomentari. Mbokya bilang cantik kek, seger kek atau apalah. Mana kalau ngantor ga pernah mau SMS atau nelpon. Kalau dia nggak makan siang dirumah, aku curiga, jangan jangan dia makan siang sama kolega perempuannya” curhat seseorang mamah muda. Sebut saja namanya Bela
.
Lain halnya dengan Bela, Tasya punya pandangan lain, “Kamu sih Bel ... jadi isteri tuh mbokya jangan terkesan butuh banget sama suami. Yang PeDe gitu loh. Jangan tunjukkan kalau kita takut ditinggal mereka. Kita kan wanita perkasa.” Jelas Tasya. 
.
Berapa kali kita bertemu dengan istri / perempuan / teman yang seperti Bela dan Tasya.  Bela yang begitu ‘needy’ alias membutuhkan. Tipe isteri pencemburu. Dia sering cemas dan takut posisinya digantikan oleh wanita lain. Akhirnya, Bela menjadi isteri yang selalu merasa kurang perhatian. Dia menuntut suami untuk selalu lapor tentang kemana dan apa yang sedang / telah / akan dia lakukan. Isteri seperti ini merasa ada yang salah/ kurang dengan pernikahan mereka. Isteri merasa harga dirinya bergantung pada perhatian suaminya.
.
Sedang Tasya sebaliknya. Dia cenderung wanita ‘sok’ perkasa. Tak butuh sosok lelaki. Kalaulah dia menikah maka suami hanya pelengkap status saja. Suami bukan hal pertama dan utama. Hidup berputar dan berporos mengelilingi dirinya. Dia tak memberi kesempatan pada dirinya sendiri dan pasangannya untuk mempertanyakan apakah mereka sedih, kecewa, bahagia dan cinta selama tinggal bersama? Kenapa? Karena dia merasa aman jika sebuah hubungan itu tak terlalu mendalam (deep). Dia khawatir dan takut jika dia memberi hati sepenuhnya lalu dia kecewa. Dia takut tak bisa ‘melarikan diri’ saat hubungan itu bermasalah. Maksudnya sih baik, dia hanya ingin mengurangi resiko sakit hati jika suatu hari dia dicampakkan oleh orang tersayang (suami).
.
Dalam sebuah pernikahan, kedua model diatas sama sama toxic alias tidak sehat. Islam mengajarkan bahwa suami isteri di dalam pernikahan Islam seharusnya seperti sahabat. Masalahnya sekarang, cara bersahabat satu orang dengan orang lainnya bisa berbeda. Ada sahabat yang sangat needy dan clingy seperti Bela. Ada sahabat yang merasa tak harus menunjukkan bahwa kita butuh mereka karena ketakutan menjalin hubungan lebih mendalam. Ada sahabat yang oke oke saja saat sahabatnya butuh waktu sendiri. Dia tidak gundah saat suami ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Meski berjauhan mereka masih bisa saling percaya. Kenapa? Karena dia adalah pribadi yang dewasa, ‘secure’ dan pasangannya adalah orang yang bisa dipercaya.
.
Cara dia ‘bersahabat’ dengan pasangan, dipengaruhi oleh attachment style (tipe perlekatan) kepada seseorang. Karenanya, profil pernikahan ideal tidaklah satu warna. Ada gradiennya (Shade). Yang terpenting, suami isteri bisa mengerti cara masing-masing ‘bersahabat’. Hal ini juga bisa dilihat dari dinamika pernikahan Rasulullah ﷺ bersama para isteri beliau. Cara Rasulullah ﷺ memperlakukan Sayyidah Ummu Salamah RA berbeda dengan approach beliau menghadapi Sayyidah Aisyah RA. Beliau adalah sebaik-baik panutan. Para ummahatul mukminin pun mengerti posisi mereka di hadapan Baginda ﷺ .
.
Tipe attachment ini sedikit banyak dipengaruhi oleh cara kita dibesarkan. Karakter yang terbentuk mempengaruhi bagaimana kita mengolah sebuah hubungan.
.
Apa itu attachment style? Dalam ilmu psikologi dimaknai sebagai cara kita mendekati atau menghindari hubungan dengan orang yang kita cintai. Bisa jadi orang tersebut adalah pasangan, anak, ataupun teman. Memahami tipe perlekatan (attachment) kita sendiri dan memperhatikan attachment type orang-orang yang kita sayangi adalah DUA KUNCI penting untuk menciptakan hubungan interpersonal yang sehat, penuh cinta, langgeng dan mengalir gampang. 
.
Dalam artikel psychologytoday disimpulkan ada 4 tipe perlekatan atau attachment style.

1. Anxious Preoccupied (tipe cemas dan menyita pikiran)
3. Dismissive Avoidant (tipe meremehkan dan menghindar)
5. Fearful Avoidant (tipe penakut dan menghindar)
6. Secure (tipe dewasa/aman)
.

Berikut penjelasannya.
.
1. Tipe cemas dan menyita pikiran
.
Tipe ini biasanya muncul dari orang yang dibesarkan oleh orang tua yang penuh cinta namun juga sering diterlantarkan atau ditinggal oleh ibu/ ayah/kakek/nenek (Sosok yang dulunya begitu dekat dan mereka percaya). Pengalaman diterlantarkan ini menjadikan dia merasa tak pernah aman. Karenanya, timbul ketakutan yang tak beralasan. Dia harus terus diyakinkan (reassured) oleh pasangannya bahwa suaminya tak akan meninggalkan dirinya. Dia merasa pasangannya harus selalu ada disampingnya. Dia ingin SELALU menghabiskan waktu bersama-sama.  Menurutnya, dia tidak perlu memberi ruang kepada pasangan untuk sekedar menyendiri atau menikmati hobi. Kalaulah itu terjadi, maka yang ada justru cemburu kepada kegiatan pasangan, hobi ataupun teman. 
.
Bahayanya, pasangan bisa merasa sangat tercekik, terkekang dan merasa tidak dipercaya. Akibatnya, hubungan malah renggang. Rasa frustrasinya muncul dalam bentuk marah, baper, sampai depresi saat tak mendapat perhatian. Tipe seperti ini cenderung memandang negatif dirinya sendiri. Dia merasa ada yang kurang, merasa lengkap jika ada usaha dari pasangannya.
.
2. Tipe meremehkan dan menghindar
.
Tipe ini biasanya lahir dari orang tua yang super cuek alias ga peduli dengan tumbuh kembang emosional anaknya. Sekedar memberi sandang, pangan dan papan. Ortu sibuk dengan pekerjaan dan kegiatannya sendiri. Orang tua tidak mengalokasikan waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak-anaknya. Walhasil, ketika dewasa dan menjalin hubungan (dengan teman atau pasangan) mereka tidak berani memberikan hati sepenuhnya, karena mereka tidak terbiasa.
.
Atau sebaliknya, tipe ini muncul dari didikan orang tua helikopter yang selalu mengontrol setiap keputusan anak-anaknya bahkan hal yang sangat kecil seperti warna kaos kakinya. Karena diperlakukan demikian, ketika sudah dewasa dia membangun sebuah benteng pertahanan agar pengalaman yang sama tidak terulang. Ujungnya dia cenderung menghindar, tidak mau memberi hati sepenuhnya karena ketakutan akan dikontrol oleh pasangan sama seperti saat dia dikontrol oleh orang tuanya. 
.
Tipe ini biasanya memandang dirinya sangat mampu. Merasa dibutuhkan. Fokus pada kebahagiaannya dan kebutuhannya. Hanya sedikit peduli atau bahkan tak peduli sama sekali terhadap kebutuhan pasangannya. Tak peduli apakah suami/isteri bahagia bersamanya.
.
3. Tipe takut dan menghindar 
.
Tipe ini dibesarkan dalam kondisi toxic. Dia mengalami banyak perlakuan buruk dari orang tua seperti abuse, kekerasan, lingkungan alkoholik dan keluarga yang tidak stabil. Rasa takut menjadi bagian dari dirinya. Jadi dia tumbuh dihantui rasa takut dan khawatir. Ujungnya menjadi pribadi yang juga tak stabil. 
.
Menjalin hubungan dengan tipe ketiga ini terkategori sulit. Orang seperti ini banyak memiliki insecurity. Pikiran negatif tentang dirinya dan pasangannya sangat mendominasi. Dia merasa kurang, tak memiliki banyak kelebihan, kemampuan, dan merasa tak layak dicintai. Pada saat yang sama jika pasangannya baik dan perhatian, dia melihatnya dengan kacamata curiga. Dia tak mudah percaya dan susah memberi kepercayaan. Ada keinginan untuk dekat dan membuka hati tapi saat pasangan membalas dengan cinta dia merasa terpenjara. Selanjutnya ingin membebaskan diri dengan berlari menjauhi atau meninggalkan pasangannya. Jika pasangan faham dan mau bersabar inyaAllah bisa diarahkan 
.
4. Tipe Dewasa/Aman (secure)
.
Ini tipe dambaan dan ideal. Orang seperti ini dibesarkan oleh orang tua yang balance (seimbang) dari sisi memberi kebebasan memilih tapi juga mengarahkan. Orang tuanya mendisiplinkan tapi juga mencurahkan kasih sayang dengan bahasa cinta yang tepat. 
.
Orang seperti ini ada untuk pasangannya. Dia bisa diandalkan, perhatian dan bisa
mendorong orang yang dicintainya menjadi lebih baik. Dia memberi kenyamanan kepada pasangan. Dia menopang pasangan ketika menghadapi rintangan atau sedang kesal. Dia  sendiri tak segan mengakui bahwa dia butuh hal yang sama dan tak ragu meminta kepada pasangannya. Ada kejujuran, keterbukaan dan pengertian dalam hubungan mereka.
.
Jika dia berpasangan dengan tipe 1-3 (yang lebih menantang) maka dia mampu membantu pasangannya untuk berevolusi dan mengembangkan kemampuan mereka. 
.
Apakah tipe attachment ini bisa berubah? Bisa! Setiap orang berproses dalam kehidupannya. Psikologi orang bisa diarahkan dan dijaga. Ketika dia mau merenung dan mengakui bahwa dia memiliki kekurangan yang harus dia luruskan kemudian berikrar memperbaiki diri (bukannya malah mencari kambing hitam) maka itu adalah langkah pertama dan utama. 
.
Pesan bagi para jofisa (jomblo fi sabilillah), carilah calon pasangan yang memiliki kecenderungan tipe ke-4.
.
Bagi yang sudah menikah, silahkan direnungi tipe yang manakah kita? Jika kita merasakan derita dalam pernikahan, bisa jadi tipe attachment-nya yang perlu diubah. Dan mulailah itu dengan mengubah diri kita. 
.
London, 7 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda

Tipping Point




#OPEy2021Day06
.
Tipping Point
.
oleh Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Tiga hari yang lalu, aku mengikuti acara Mental Health Summit 2021 yang diselenggarakan oleh Muslim Student Association (MSA) yang digawangi oleh anak-anak muda di Amerika dan Kanada. Alasanku ikut adalah karena topik dan pembicaranya yang sangat kompeten di bidangnya. Salah satu pembicara dari Inggris adalah seorang Mufti muda dari London. Sheikh Moinul Abū Hamza (isteri beliau Nasima Umm Hamza adalah temanku). Mereka mendirikan banyak organisasi di London timur, salah satunya adalah Al Madaad outreach yang fokus pada konseling pernikahan, konflik keluarga dan kesehatan mental. Ada satu hal yang sangat berkesan dari penyampaian beliau. Sheikh Moinul menjelaskan bahwa kadang kita cepat sekali menilai seseorang yang sepintas berlaku ‘judes’ dan ‘beringas’ kepada kita. Sebagai seorang muslim, mencari pembenaran (excuse) untuk saudara kita dan menghindari berfikir negatif seharusnya menjadi default setting kita. Kenyataannya, mudah sekali mengucapkan dan menuliskannya namun susah sekali melakukannya. 
.
Kadang, kita tidak tahu apa yang membuat orang berlaku negatif kepada kita. Bisa jadi dia sendiri mendapat serangkaian perlakuan tak enak dari orang (sebelum bertemu kita) berkali kali dan kitalah ‘korban pelampiasannya’. Bukan karena kita salah, bukan karena kita lemah, tapi karena kita kurang beruntung aja. 
.
Hal ini mengingatkanku akan sebuah nasehat seseorang (entah siapa aku lupa) tentang konsep tipping point. 
.
Apa itu tipping point? Dalam kamus Oxford di definisikan sebagai “the point at which a series of small changes or incidents becomes significant enough to cause a larger, more important change.” Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bermakna titik di mana serangkaian perubahan atau insiden kecil menjadi cukup signifikan untuk menyebabkan perubahan yang lebih besar dan lebih penting. 
Tipping point ini bisa dalam bentuk titik menuju kebaikan dan titik menuju keburukan. Harapannya, kita lah yang menjadi pendorong orang lain jatuh ke arah kebaikan. Logikanya seperti ini, bayangkan ada bola di puncak sebuah kurva. SATU sentilan ke KIRI menyebabkan bola masuk jurang neraka, jurang depresi, jurang keputus asaan dan jurang kesedihan. Sebaliknya, SATU sentilan ke KANAN akan menyebabkan dia masuk lembah kebahagiaan, lembah penuh kesenangan, lega dan kebaikan. Jika kita tahu bahwa orang yang ada di hadapan kita (entah kita kenal baik atau tidak) ada di puncak kurva dalam hidupnya, kira-kira apa yang kita lakukan? Tentunya kita akan berhati-hati dalam bertindak, bersikap, berekspresi dan berkata-kata. Kita tidak ingin menjadi penyebab menggelindingnya dia ke jurang nestapa.
.
Bisa jadi sentilan kecil kita berupa sunggingan senyum, SMS emoji cinta, ucapan salam yang penuh ikhlas, tulisan receh (menurut kita), bahkan sekedar mendengar keluh kesah sepenuh jiwa adalah hal kecil yang memberi makna besar bagi mereka yang sedang berada di puncak kurva dan tak tahu harus memilih jalan yang mana. 
.
Bisa jadi komentar nyinyir kita di sosial media, tatapan nanar mata atau sekedar alis yang terangkat atau muka yang masam akan membuat dia tergelincir ke arah keburukan. 
.
Tak heran jika Islam mengajarkan agar kita berbuat baik meski itu kecil. Kadang hal kecil itu bermakna luar biasa bagi sesama.
.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata pada Jabir bin Sulaim,

‎وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722)
.
Ketika kita bermimpi besar mengembalikan kemuliaan ummat, maka sembari memahamkan diri kita sendiri dan orang disekitar maka kita pun harus memperhatikan perbuatan/hal kecil yang bisa memberi makna besar. 
.
Berapa kali kita mengucapkan dan menulis sesuatu lalu kita lupa. Sepuluh tahun kemudian seseorang datang dan mengatakan kepada kita bahwa lafad yang pernah kita ucapkan menghujam kuat ke dalam dada dan telah mengubah jalan hidup mereka.
.
Tidak gembira kah kita jika tujuh tahun mendatang seseorang datang dan mengatakan kepada kita bahwa senyum yang kita sungging hari ini membuatnya merasa berarti sehingga sejak itu dia tidak lagi membenci dirinya sendiri. 
.
Tidak gembira kah kita jika lima tahun ke depan, sapaan selamat pagi tanpa beban yang kita ucapkan membuat seseorang mencari makna kebahagiaan dan berujung padanya memeluk Islam? 
.
Tidak gembira kah kita jika uang 25 ribu rupiah yang kita jajakan mencegah seseorang tidur dalam keadaan lapar? 
.
Tidak gembira kah kita jika dua puluh tahun mendatang, emoji yang kita kirimkan ternyata menyelamatkan seseorang dari depresi mental?
.
Memang lafad dan lisan punya kekuatan mengubah dunia, namun demikian, perilaku kita sehari hari, cara kita membawa diri, default kita dalam berinteraksi, ekspresi kita dalam bersosialisasi, punya peran yang tak kalah penting.
.
Coba tengok orang disekitar kita. Sudahkah kita mendahulukan Rahmah (kebaikan) kepada sesama?  Karena bisa jadi, kita lah tipping point seseorang hari ini, jam ini dan detik ini. 
.
Be gentle with people today. You don' t know someone's inside struggles. Instead of being the last straw, you can be their first sign of hope. 
.
London, 6 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda

National Lockdown di Inggris Dan Pemahaman


#OPEy2021Day05
.
National Lockdown di Inggris Dan Pemahaman
.
oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Akhirnya, ketiga kalinya National lockdown terjadi di Inggris. Angka infeksi meningkat tajam beberapa minggu terakhir. Para ahli menyampaikan bahwa adanya variasi baru dari virus Corona adalah penyebab utamanya. Sejak bulan September tahun lalu para peneliti sudah menemukan setidaknya 17 variasi mutasi dari virus corona ini. Review dari aturan ini akan dilakukan paling tidak tanggal 15 Februari 2021. Senin 4 Januari 2021 di laporkan kasus harian mencapai 58.784 dengan angka kematian 407 orang dalam waktu 28 hari telah dinyatakan positif (BBC.com). Nampak sekali pemerintah Inggris kewalahan menghadapi lonjakan kasus positif yang terus meningkat meskipun liburan natal dan tahun baru sudah dilakukan lockdown di London dan daerah sekitarnya dengan harapan jumlah kasus menurun. Ternyata kenyataan tidak seindah harapan, walhasil karantina nasional harus diberlakukan. 
.
Anak-anak yang seharusnya masuk sekolah (usai liburan musim dingin) tanggal 6 Januari besok, harus kembali distance learning alias belajar dari rumah. Rencana awal, daring dilakukan paling tidak sampai tanggal 18 Januari 2021. Besar kemungkinan berlanjut sampai dengan liburan cawu di pertengahan Februari mendatang. Padahal sejak September 2020 mereka sudah kembali tatap muka hanya saja jika ada kasus positif salah satu peserta didik maka ‘social buble’ (yang berinteraksi langsung) harus isolasi juga. Walhasil ada siswa yang tiap dua minggu harus isolasi.
.
Sayangnya banyak juga orang yang belum percaya bahwa kasus covid-19 ini nyata. Padahal sudah banyak memakan korban. Akankah mereka hanya percaya jika anggota keluarganya menjadi salah satu korbannya? 
Ada juga laporan dari teman kemarin yang menjadikan dalih doa, membaca Quran bersama sebagai alasan untuk kumpul-kumpul meskipun aturannya jelas melarang acara sosial. 
.
Sebagai manusia, wajar jika ketidakpastian ini membut kita gundah gulana. Tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Tak bisa berencana. Bahkan mungkin tak ingin lagi menyusun mimpi dan rencana panjang. Respon dari masing-masing orang akan berbeda meskipun orang tersebut sama sama faham Islam. Kenapa? Karena tidak selamanya manusia dituntun oleh pemahamannya. Kadang pertahanan pertama yang kita pakai untuk menghadapi konflik adalah emosi kita. Mengedepankan emosi dalam menyikapi sesuatu bisa menyebabkan kita membesarkan masalah kecil atau sebaliknya mengecilkan masalah yang sebenarnya besar dan vital. Emosi tidak seharusnya diberi peran untuk menyelesaikan permasalahan tapi emosi hanya diperlukan untuk memberi rasa kepada sebuah realita. Itu saja. Rasa ini lah yang membuat hidup lebih indah atau sebaliknya lebih susah. Untuk mencari dan mendapatkan solusi maka benak dan akal lah yang berperan. 
.
Sama halnya dengan covid-19 ini. Jika emosi dibiarkan merajalela maka panic attack dan anxiety (cemas) akan mendominasi. Bahkan bisa menjadi depresi yang bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, kita perlu mengontrol emosi ini dengan sebuah pemahaman. 
.
Apa itu pemahaman? Pemahaman berbeda dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanyalah sekedar informasi yang masuk ke dalam benak. Sedang pemahaman adalah pengetahuan/ informasi yang sudah kita olah dalam benak kita sendiri, kita adopsi, lalu kita jadikan sebagai dasar dalam melihat sebuah realita. Pemahaman menjadi dasar dalam memutuskan ataupun memilih jalan keluar. 
.
Contoh sederhana, saat kita ingin mendapatkan surat ijin mengemudi (SIM). Di Inggris sendiri kita harus lulus dua tahap. Tahap teori dan tahap praktik. Untuk teori, kita harus tahu tanda-tanda lalu lintas dan apa yang harus dilakukan. Sedang untuk praktik, kita harus menggunakan apa yang sudah kita tahu dan baca sebagai panduan saat kita mengendarai mobil. Jika kita taat dengan aturan lalu lintas maka bisa dipastikan kita tidak akan kena tilang. Sekedar tahu teori lalu lintas adalah pengetahuan. Ketika kita percaya (dalam hal ini dihafalkan dan digunakan) aturan tadi dan kita jadikan teori yang sudah kita tahu sebagai panduan ketika mengendarai mobil, itu artinya kita sudah menjadikan pengetahuan itu sebagai pemahaman. 
.
Dari sini kita bisa menjawab pertanyaan, bagaimana mungkin seseorang mengkaji Islam bertahun tahun tapi tak nampak efeknya? Tingkah polahnya masih sama saja. Hal itu karena topik kajian itu hanya menjadi pengetahuan, dikumpulkan hanya seperti tumpukan buku tapi tak pernah mereka internalisasi, tak pernah mereka pikirkan sendiri dan tak pernah mereka adopsi. Ketika kita tak tertarik untuk menjadikan ilmu itu sebagai dasar dan panduan perbuatan maka pengetahuan itu belum menjadi pemahaman.
.
Karenanya, tahu ilmu tentang qadha dan qadar tidak menjamin kita tetap tenang, tidak panik, tidak cemas sampai kita mengadopsi pengetahuan itu sebagai pemahaman
.
London, 5 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda

Lamaran Setiap Minggu

#RevowriterWritingChallenge #Day1 #1Dari10Tulisan . Tulisan ini untuk #RevowriterWritingChallenge. Saya akan menantang salah satu dari teman...