Skip to main content

Keistimewaan Sebuah Adab

#OPEy2020Day12

#goresanyumna

.

Keistimewaan Sebuah Adab

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Sister yang mengirim SMS dibawah adalah seorang ibu dari sekolahnya anak-anak yang lahir dan besar di Inggris bagian utara. Karena dia menikah, akhirnya dia harus pindah ke London. Setelah sekian tahun hidup di London, dia belum juga memiliki teman dekat. Teman yang dia harapkan bisa membantunya makin dekat dengan Allah ﷻ 

.

Sejak kajian dwi mingguan di adakan di sekolah, dia salah satu peserta yang paling semangat ماشاء الله. 

Semoga Allah ﷻ menjaga semangat itu. 

.

Bukan tidak tertarik, sudah sejak lama dia ingin menghadiri majlis ilmu namun yang sering menjadi kendala adalah waktu yang tidak cocok, kesibukan karena kerja, tempat yang jauh, dan lain sebagainya. Namun ada satu alasan yang menggelitik hatiku, dia sampaikan bahwa salah satu yang membuat dia tidak ‘sreg’ datang ke pengajian adalah karena kesan eksklusif dari penyelenggara dan para audiens yang menghadirinya. Atmosfer Islam yang seharusnya memberi kehangatan tidak dia dapatkan. Justru para audiens yang sudah lama datang ber-haha hihi sendiri tanpa memperhatikan peserta baru. Hal sudah pernah aku dengar sebelumnya.

.

Di akui atau tidak, hal ini sering menjadi penghalang seseorang untuk mendatangi majlis ilmu. Orang yang ingin belajar Islam malah terhalangi karena kesan dingin, tidak ramah. Pandangan judgemental (menghakimi). Bahkan sikap cuek bebek dari peserta! Bukankah sangat di sayangkan jika mereka menjauhi majlis ilmu dan tidak lagi tertarik Islam karena perilaku pengembannya? Sebaliknya, seseorang yang mengaku membawa nama Islam seharusnya menjadi contoh akhlak mulia. Kehangatan pribadinya, lemah lembut tutur katanya, tegas namun bijak dalam bersikap, Islam terpancar dari cara mereka dealing dengan orang di sekitarnya. 

.

Mudah sekali untuk berkoar koar layaknya singa podium. menyuarakan Islam dengan lantang namun saat isterinya ditanya apakah dia suami seperti yang orang bayangkan? Jauh dari kebenaran. 

.

Atau isteri yang mengasuh banyak majlis taklim, namun dalam keseharian dirumah tidak menampakkan aura Islam. 

.

Ada sebuah nasehat dari teman, jika ingin tahu tabiat seseorang, bertanyalah kepada isteri/suami dan anak-anaknya. Karena merekalah cermin yang sebenarnya. Bagaimana karakter mereka yang sesungguhnya. 

.

Ada sebuah kisah menarik dari perjalanan hidup Rasulullah ﷺ. Meski beliau rasul, kepala negara, guru sekaligus sahabat bagi para pengikutnya, beliau tidak pernah memandang orang sebelah mata. Coba tengok ungkapan seorang sahabat

Amru Bin Al-Ash. Setiap beliau lewat atau berkhotbah, Amru Bin Ash selalu merasa istimewa. Tatapan beliau seolah mengindikasikan bahwa Amru Bin Ash adalah sahabat paling beliau cinta. Meski pada kenyataannya, saat Amru Bin Ash bertanya langsung kepada Rasulullah ﷺ, jawabannya justru berbeda. 

.

Amru bin Ash bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling anda cintai?”

Rasul menjawab: “Aisyah”.

“Maksud saya ialah dari kalangan laki-laki?”.

Beliau menjawab: “Bapaknya (Abu Bakar)”.

“Kemudian siapa?”

“Umar bin Khattab”. Lalu beliau menyebutkan beberapa nama yang ia cintai.(Hr. Bukhari dan Muslim).

.

Meski jawabannya bukan seperti yang beliau dengar namun kenyataan bahwa Amru bin Ash merasa spesial sebelum beliau memberikan jawaban, cukup membuktikan kepada kita betapa Rasulullah selalu memberikan tatapan Istimewa kepada sahabatnya ﷺ.

.

Sungguh, inilah adab yang seharusnya kita miliki. Tidak memandang sebelah mata. Memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara. Membuat mereka merasa terhomat. Merasa dihargai jika kita bersamanya. 

.

Betapa banyak kisah dimana non muslim mulai tertarik belajar Islam karena adab yang ditampakkan oleh seorang muslim. 

.

Satu kisah dari seorang sahabat Rasulullah ﷺ bernama Abu Dujanah. Setiap usai menjalankan ibadah salat berjamaah shubuh bersama Nabi, Abu Dujanah selalu terburu-buru pulang tanpa menunggu pembacaan doa oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika selesai salat. Suatu Ketika, Nabi mencoba meminta klarifikasi pada Abu Dujanah ketika bertemu dengannya.

.

“Hai, apakah kamu ini tidak punya permintaan yang perlu kamu sampaikan pada Allah sehingga kamu tidak pernah menungguku selesai berdoa. Kenapa kamu buru-buru pulang begitu? Ada apa?” tanya Nabi Muhammad kepada Abu Dujanah.

.

Abu Dujanah pun menjawab, “Ehmm Rasulullah, saya punya satu alasan.

.

“Apa alasanmu? Coba kamu utarakan!” Lanjut Nabi Muhammad SAW.

.

“Begini,” kata Abu Dujanah sambil memulai menceritakan alasannya. “Rumah kami berdampingan persis dengan rumah seorang laki-laki. Nah, di atas pekarangan rumah milik tetangga kami ini, terdapat satu pohon kurma menjulang, dahannya menjuntai ke rumah kami. Setiap kali ada angin bertiup di malam hari, kurma-kurma tetanggaku tersebut saling berjatuhan, mendarat di rumah kami.”

.

“Ya Rasul, kami keluarga orang yang tak berpunya. Anak-anakku sering kelaparan, kurang makan. Saya takut saat anak-anak kami bangun, apa pun yang didapat, mereka makan. Oleh karena itu, setelah selesai shalat, Saya bergegas segera pulang sebelum anak-anak terbangun dari tidurnya dan memakannya. Kami kumpulkan kurma-kurma yang berceceran di rumah, lalu kami kembalikan kepada pemiliknya.

:

Satu saat, kami pernah agak terlambat pulang. saya menemukan anakku yang sudah terlanjur makan kurma hasil temuannya. Mata kepala saya sendiri menyaksikan, tampak ia sedang mengunyah kurma basah di dalam mulutnya yang ia pungut di bawah tanah tepat di rumah kami.”

.

Mengetahui itu, Abu Dujanah pun memasukan jari-jari tangannya ke mulut anaknya itu. dia keluarkan apa pun yang ada di mulut anaknya. Abu Dujanah mengatakan pada anaknya, "Nak, janganlah kau permalukan ayahmu ini di akhirat kelak." Anakku lalu menangis, kedua pasang kelopak matanya mengalirkan air karena sangat kelaparan.

.

Dia katakan kembali kepada anaknya itu, ‘Hingga nyawamu lepas pun, aku tidak akan rela meninggalkan harta haram dalam perutmu. Seluruh isi perut yang haram itu, akan aku keluarkan dan akan aku kembalikan bersama kurma-kurma yang lain kepada pemiliknya yang berhak.” (Muslim.okezone.com)

.

Dalam sebuah riwayat, disampaikan Abu Bakr RA akhirnya membeli pohon kurma itu untuk Abu Dujanah. Sehingga anak-anak Abu Dujanah bisa menikmatinya. Dan sang pemilik buah kurma terkesima dengan adab dan ketakwaan Abu Dujanah hingga akhirnya memilih Islam. 

.

Semoga Allah ﷻ memberi kita kemudahan untuk selalu menjadi pejuang Islam disertai adab yang menakjubkan.

Amin

.

London, 12 Januari 2020

.

#OPEy2020bersamaRevowriter

#Revowriter

#KompakNulis

#KisahDariInggris

#GeMesDa

#OnePostEveryday

#MutiaraUmmat

Comments

Popular posts from this blog

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak Oleh:  Yumna Umm Nusaybah (Member Revowriter London) . Datangnya tidak disangka  Mengenalnya pun tanpa terduga Membayangkan pun belum pernah Apalagi berangan angan untuk menikah . Namun kedua anak adam ini sejak awal memang tak punya keraguan Bahwa mereka tercipta untuk saling melengkapi  Bahwa masing-masing akan menjadi penawar kesendirian  Bahwa mereka dipertemukan HANYA karena Sang Maha Kuasa berkehendak demikian . 2 tahun bukan waktu yang lama Pun bukan waktu yang singkat Saat hasrat ingin menunaikan Sunnah RasulNya Terhalang oleh pandemi yang mendera . Namun memang benar … Bahwa dibalik penantian  Ada yang ingin Allah سبحانه و تعالى ajarkan . Kerelaan sang bunda menerima kenyataan Keyakinan pasangan bahwa mereka memilih jalan dan calon yang benar . Butuh waktu yang panjang …  Bagi seorang Bunda  Untuk menata hati dan merapikan benak Melepas anak pertama tumpuan jiwa Memulai hidup baru di ujung dunia  Bersama l...

Holier-than-thou

#OPEy2021Day10 . Holier-Than-Thou . oleh Yumna Umm Nusaybah (Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar) . Bisa kah menebak arti dari judul diatas?  Holier-than-thou adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris yang dimaknai sebagai  obnoxiously pious; sanctimonious; self-righteous. Istilah kerennya sok suci atau sok alim. . Ide ini bisa jadi ada dalam diri kita sendiri. Atau bisa juga tuduhan yang dilemparkan kepada kita. . Jika seseorang memandang bahwa dirinya lebih bertakwa, lebih comitted, lebih saleh dari orang lain karena dia sudah sangat taat pada aturan agama dalam kesehariannya, maka hal ini sangatlah berbahaya. Bisa-bisa dia melihat orang lain ‘tidak berharga’. Lebih buruk dan lebih rendah posisinya. Akibatnya, bukannya akhlak dan kebaikannya menarik orang disekitarnya, tapi justru dia nampak sebagai individu yang toxic, menyebalkan dan terkesan sok alim. Padahal ke’aliman’ dan kebaikan seseorang bukanlah self-proclaim atau pengakuan sendiri. Tapi kebaikan...

my Special Student

Seneng...happy lega dan terharu...itulah yang aku rasakan ketika murid 'istimewaku' menyelesaikan Iqra jilid 6 minggu yang lalu...percaya atau nggak aku menitikkan airmata dan menangis sesenggukan dihadapan dia, ibu dan kakak perempuannya....yah...airmata bahagia karena dia yang setahun yang lalu tidak tahu sama sekali huruf hijaiyah kini bisa membaca Al Quran meski masih pelan dan terbata bata...tapi makhrojul hurufnya bagus, ghunnahnya ada, bacaan Mad-nya benar....dan aku bayangkan jika seterusnya dia membaca Quran dan mungkin mengajarkannya kepada orang lain maka inshaAllah akan banyak pahala berlipat ganda... Namanya Tasfiyah ...seorang gadis cilik bangladeshi berusia 6 tahun saat pertama kali aku bertemu dengannya....Ibunya sengaja mengundangku datang ke rumah nya karena memang tasfi tidak suka dan tidak mau pergi ke masjid kenapa? karena sangat melelahkan...bayangkan aja 2 jam di setiap hari sepulang sekolah, belum lagi belajar bersama dengan 30 orang murid didampingi 1 ...