Skip to main content

Ramadan & Masa Muda

#Milad8Revowriter

#RamadhanBersamaPelitaRevowriter

#PelitaRevowriter

#challengeday17

#Post10

#RamadanDay8

.

Ramadan dan Masa Muda

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member of Revowriter London)

.

Disclaimer: postingan ini sengaja dibuat dalam bentuk nasehat memakai kalimat perintah atau anjuran. Perlu di ingat bahwa hal ini tidak mengindikasikan bahwa penulis sudah sempurna. 

.

“Just to let you know before we carry on, I can’t cook so if you’re looking for someone who is good in the kitchen, I am not the one” (sebelum kita melanjutkan ke jenjang selanjutnya, sekedar informasi ya, saya (tuh) tidak bisa memasak jadi jika Anda mencari (isteri) yang pintar (memasak) di dapur, saya bukanlah pilihan yang tepat)

.

Itulah lafad yang pernah aku sampaikan kepada calon suami (saat itu) sebelum kami khitbah. Kenapa aku perlu menyampaikannya? Karena aku merasa ketidakmampuan memasak bisa menjadi ‘deal breaker’ bagi seorang lelaki ketika mencari isteri. Sama halnya seorang perempuan yang bisa jadi mensyaratkan suami yang bisa mengendarai mobil atau sepeda motor atau paling nggak sepeda pancal supaya bisa mengantar isterinya kemana mana. Apakah boleh di dalam Islam? Ya boleh lah! Mungkin akan banyak lelaki yang mengatakan itu bukan syarat mutlak namun aku yakin setiap lelaki akan menyukai istri yang pandai memasak. Disamping bisa menumbuhkan jalinan kasih sayang, memasak dirumah akan sangat mengurangi pengeluaran dibanding makan di luar. Lebih sehat dan lebih higienis pula. Kenyataanya, banyak sekali masalah pernikahan yang muncul dari urusan dapur. Sering aku mendengar keluh kesah para isteri dimana suami yang terlalu menuntut. Dia ingin menu berbeda tiap kali makan (resto kali ya?) Atau makanannya kurang sedap seperti masakan tetangga (nah ini yang bahaya). Intinya, untuk para jomblowati lillah diluar sana, Please jangan sepelekan urusan dapur. Karena kadang dapur menjadi penentu nasib pernikahan bakal mujur atau hancur! (Cielaaah hiperbol pake’ banget)

.

Terus jawaban calon suami apa? Untungnya tidak dijawab: “Kholas ... Goodbye!” Tapi beliau menjawab:” saya tak mencari tukang masak, saya tak mencari pembantu, tapi saya mencari orang yang akan menjadi IBU dari anak-anak saya”

.

Mak nyesssss!!

Alhamdulillah cocok dong sama misiku (Hayyah ngeles aja karena nggak pernah mau belajar masak). Tapi setelah menikah sekian tahun, bisa lah diambil kesimpulan bahwa tahu ilmu masak memang harus! Namun lebih harus lagi adalah tahu tentang ILMU KEHIDUPAN. Ilmu Islam, ilmu yang mengajarkan bagaimana menjadi hamba Allah سبحانه و تعالى, menjadi seorang istri, mendidik anak, menjadi teman, saudara seiman dan menjadi pembawa obor Islam ditengah kemaksiyatan dan kekufuran.

.

Karenanya, siapapun yang masih usia belasan, 20-an dan para pemuda di luar sana .... Jika kalian menyibukkan diri dengan mencari ilmu Islam, sibuk membantu membangun peradaban, sibuk mengumpulkan bekal ilmu bahasa Arab, tafsir, fiqh, menyempurnakan bacaan Quran dengan tajwid dan menguasainya. Menghabiskan waktu belajar sistem pergaulan Islam, ekonomi dalam Islam, perpolitikan dan kepemimpinan dalam Islam. Menghafal dalil dalil Quran, memahami kisah para nabi. Menyukai dan familier dengan kisah para sahabat. Mencoba menata hati, menguatkan nafsiyah dan menjaga kedekatan dengan Ilahi, maka kalian adalah kaum muda yang beruntung! Sungguh, saat nanti kalian menikah dan punya anak, maka tak akan banyak waktu untuk menimba ilmu. Saat- saat itulah kita harus mengalirkan ilmu. Waktu dan kekuatan konsentrasi tak akan lagi sama. Nasehat dari seorang Yumna, pakailah waktu muda dan kesendirian ini sebaik-baiknya. Mencari ilmu Islam sebanyak-banyaknya, sehingga nanti siap menempa generasi (anak) yang takut dan berbakti kepada Rabbnya. 

.

Kini aku hanya bisa menyesali kenapa dulu tak serius menekuni bahasa Arab. Kenapa dulu tak ngebut menyelesaikan banyak kitab? Kenapa tak duduk berlama lama dengan ahli ilmu untuk belajar fiqh dan tafsir? Apakah sekarang masih bisa? Tentu saja. Namun ibarat sebuah sepeda, kalau dulu kita hanya naik sepeda sendirian, sekarang kita harus membonceng banyak orang (keluarga). Ditambah dengan beban bawaan yang semakin banyak dan berat. Apakah sepeda masih bisa berlari? Bisa namun pelan sekali! Kadang terhenti, terseok, terjatuh dan kesusahan untuk bangun lagi. Karenanya ada hikmah menjadi KEJORA (Kelompok Jomblo Ceria - pinjam istilah Mba Ria Fariana). Bagusnya menjadi jomblowan jomblowati adalah ringannya beban yang dibawa dan banyaknya waktu yang tersedia. Take advantage of it.

.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

.

‎لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ، وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ

.

“Tidak akan bergeser kaki manusia di hari kiamat dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya dalam apa ia gunakan, tentang masa mudanya dalam apa ia habiskan, tentang hartanya darimana ia peroleh dan dalam apa ia belanjakan, dan tentang apa yang ia amalkan dari yang ia ketahui (ilmu). HR. At-Tirmidhi 

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


‎إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ


“Sesungguhnya Allah Ta’ala benar-benar kagum terhadap seorang pemuda yang tidak memliki shabwah”


(HR Ahmad 2/263, dishahihkan leh syaikh Al-Albani dalam “ash-Shahiihah” no. 2843)

.

Maksud “shabwah” adalah pemuda yang tidak mengikuti hawa nafsunya, dia membiasakan dirinya melakukan kebaikan dan berusaha keras menjauhi keburukan. (Muslim.or.id)

.

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,

.

‎وَنَفْسُكَ إِنْ أَشْغَلَتْهَا بِالحَقِّ وَإِلاَّ اشْتَغَلَتْكَ بِالبَاطِلِ

.

“Jika dirimu tidak disibukkan dengan hal-hal yang baik, pasti akan disibukkan dengan hal-hal yang batil. 

.

Tak hanya kaum muda, kaum ibu pun pasti memiliki waktu luang yang bisa dipakai untuk menimba ilmu Islam. Di situasi lockdown seperti ini banyak kajian islami online yang bisa diikuti. Berdiskusi lewat chat groups atau wasilah lain.

.

Semoga Allah سبحانه و تعالى memudahkan niat belajar Islam dan semoga Allah سبحانه و تعالى mengkaruniakan ilmu yang barakah. Amin

.

London, 2 Mei 2020

Ditulis di hari ke-9 Ramadan

Postingan ini ditulis atas permintaan spesial dari Dek Messy Ikhsan. (Hutangku lunas ya say 😀)

.

#GoresanYumna

#Revowriter

#KompakNulis

#GeMesDa

#Covid19

Comments

Popular posts from this blog

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak Oleh:  Yumna Umm Nusaybah (Member Revowriter London) . Datangnya tidak disangka  Mengenalnya pun tanpa terduga Membayangkan pun belum pernah Apalagi berangan angan untuk menikah . Namun kedua anak adam ini sejak awal memang tak punya keraguan Bahwa mereka tercipta untuk saling melengkapi  Bahwa masing-masing akan menjadi penawar kesendirian  Bahwa mereka dipertemukan HANYA karena Sang Maha Kuasa berkehendak demikian . 2 tahun bukan waktu yang lama Pun bukan waktu yang singkat Saat hasrat ingin menunaikan Sunnah RasulNya Terhalang oleh pandemi yang mendera . Namun memang benar … Bahwa dibalik penantian  Ada yang ingin Allah سبحانه و تعالى ajarkan . Kerelaan sang bunda menerima kenyataan Keyakinan pasangan bahwa mereka memilih jalan dan calon yang benar . Butuh waktu yang panjang …  Bagi seorang Bunda  Untuk menata hati dan merapikan benak Melepas anak pertama tumpuan jiwa Memulai hidup baru di ujung dunia  Bersama l...

Holier-than-thou

#OPEy2021Day10 . Holier-Than-Thou . oleh Yumna Umm Nusaybah (Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar) . Bisa kah menebak arti dari judul diatas?  Holier-than-thou adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris yang dimaknai sebagai  obnoxiously pious; sanctimonious; self-righteous. Istilah kerennya sok suci atau sok alim. . Ide ini bisa jadi ada dalam diri kita sendiri. Atau bisa juga tuduhan yang dilemparkan kepada kita. . Jika seseorang memandang bahwa dirinya lebih bertakwa, lebih comitted, lebih saleh dari orang lain karena dia sudah sangat taat pada aturan agama dalam kesehariannya, maka hal ini sangatlah berbahaya. Bisa-bisa dia melihat orang lain ‘tidak berharga’. Lebih buruk dan lebih rendah posisinya. Akibatnya, bukannya akhlak dan kebaikannya menarik orang disekitarnya, tapi justru dia nampak sebagai individu yang toxic, menyebalkan dan terkesan sok alim. Padahal ke’aliman’ dan kebaikan seseorang bukanlah self-proclaim atau pengakuan sendiri. Tapi kebaikan...

my Special Student

Seneng...happy lega dan terharu...itulah yang aku rasakan ketika murid 'istimewaku' menyelesaikan Iqra jilid 6 minggu yang lalu...percaya atau nggak aku menitikkan airmata dan menangis sesenggukan dihadapan dia, ibu dan kakak perempuannya....yah...airmata bahagia karena dia yang setahun yang lalu tidak tahu sama sekali huruf hijaiyah kini bisa membaca Al Quran meski masih pelan dan terbata bata...tapi makhrojul hurufnya bagus, ghunnahnya ada, bacaan Mad-nya benar....dan aku bayangkan jika seterusnya dia membaca Quran dan mungkin mengajarkannya kepada orang lain maka inshaAllah akan banyak pahala berlipat ganda... Namanya Tasfiyah ...seorang gadis cilik bangladeshi berusia 6 tahun saat pertama kali aku bertemu dengannya....Ibunya sengaja mengundangku datang ke rumah nya karena memang tasfi tidak suka dan tidak mau pergi ke masjid kenapa? karena sangat melelahkan...bayangkan aja 2 jam di setiap hari sepulang sekolah, belum lagi belajar bersama dengan 30 orang murid didampingi 1 ...