Sunday, 16 June 2019

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London 


Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman?


Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita anggap seperti saudara sendiri?


Pernahkah kita bertemu dengan seseorang, meski hanya sebentar tapi justru menginspirasi?


Pernahkah kita mempunyai seorang kawan, kebaikan dan pengorbanan mereka menyentuh hati?


Berapa kali juga kita di kecewakan oleh teman yang sudah lama berkawan?


Berapa kali kita mundur teratur karena terbukti teman itu mau berada di samping kita karena asas manfaat saja.


Pernahkah kita bertemu seseorang yang pertemanannya tak lekang oleh masa?


Saat bahagia dan saat duka. Dia ada di samping kita 


Saat kita tertawa dan saat kita terluka, dia menghibur dan mengingatkan kita akan hakikat dunia.


Kadang diri ini penuh tanya,

Teman seperti apakah diriku?

Teman seperti apa yang aku cari?

Teman seperti apa yang benar benar aku cintai dan sayangi?

Teman seperti apa yang aku anggap teman sejati?


Rumusnya sebenarnya sederhana, siapa saja yang ada di samping kita saat kita berduka. 


Siapa saja yang menyisihkan waktu dan tenaganya saat kita membutuhkannya.  


Merekalah teman setia. Itulah teman yang sesungguhnya. 


Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris :


‘A friend in need is a friend indeed’


Artinya: teman yang ada saat kita membutuhkan, itulah teman yang sebenar benarnya.


Memilih seorang teman adalah sebuah ketrampilan. Dibutuhkan sebuah kemampuan mengatur rasa, mengukur diri sendiri (dalam berbagi dan berharap). Demikian juga kemampuan mendengarkan, empati dan berbicara saat yang tepat. 


Ada sebuah filosofi tentang teman yang sangat mewakili. 


Teman layaknya sebuah pohon. Ada dedaunan, ranting dan akar.


Daun akan berguguran, mereka tergantung pada cuaca (seasonal). Saat cuaca buruk, mereka berguguran. Saat cuaca cerah dan matahari bersinar, mereka menunjukkan eksistensinya.


Ada teman yang demikian. Berada di sekitar kita saat hari hari kita cerah dan bahagia. Ketika cobaan mulai melanda (krisis keuangan, pernikahan, kematian, kecelakaan, kesehatan, dll) maka mereka menghilang seketika. Tidak perlu menyalahkan mereka. Karena memang begitulah sejatinya teman selevel ‘dedaunan’. Tidak perlu marah dan kecewa. Perilaku mereka tidak menunjukkan kualitas kita, sebaliknya begitulah kualitas mereka.


Jika kita berkali kali dikecewakan oleh tipe teman seperti ini, berarti kita yang harus tajam dalam melihat dan meng-ihsas karakter seseorang. Sehingga kita tidak menaruh harapan yang terlalu besar. Haruskah di hindari? Tidak juga, karena tanpa dedaunan, sebuah pohon tidak nampak indah. Anggap saja mereka hadir untuk meramaikan suasana dan suporter saat kita bahagia. Hargai saja keberadaan mereka. Berterima kasih atas pertemanannya. Kita lah yang harus mengatur rasa di dalam dada. Supaya tidak kecewa. 


Seperti quote berikut: ‘some people come to your life just to teach you how to let go’. 


Kadang orang datang dalam kehidupan kita hanya untuk mengajari bagaimana kita harus melepaskannya. Ada orang yang datang sebagai sebuah berkah dan ada yang datang justru membawa masalah. Tapi justru membuat kita belajar menyelesaikannya. 


Bagian pohon yang kedua adalah ranting. Ranting nampak seolah olah kuat dan bisa menyangga berat. Namun saat dihadapkan pada beban yang berat, mereka patah dan berjatuhan. 


Orang seperti ini lebih menyakitkan untuk dijadikan teman. Karena kita sudah membuka hati. Mengisinya dengan keberadaan mereka. Namun di saat saat kritis dan sulit, mereka justru lari meninggalkan kita sendiri. Lagi lagi tak perlu menyalahkan mereka. Kita saja yang harus pandai menjaga diri. Berikan hati kepada yang benar benar berhak menerimanya. Bisa jadi teman ini tidak sadar telah menyakiti kita, namun itulah pertemanan yang bisa mereka suguhkan.


Yang terakhir adalah akar. Kalau dedaunan dan ranting jumlahnya bisa ratusan, maka akar tidaklah demikian. 


Teman yang seperti akar jumlahnya tidaklah banyak. Merekalah supporter setia kita. Bisa jadi dia masih dalam lingkup keluarga dan bisa juga teman sebaya. Siapa saja yang menemukan teman seperti akar pohon maka layaklah mereka berbahagia. Karena inilah teman sejati. Mereka yang menjadi tumpuan kita, pijakan saat kita ‘oleng’, bahagia ketika melihat kita berjaya, sedih dan siap siaga saat kita berduka. 


Namun demikian, satu hal yang harus kita sadari. Teman juga manusia. Mereka tidaklah kekal dan selamanya akan bersama kita. Jangan pernah bersandar pada sesuatu dan siapapun yang bersifat Fana. Bersandarlah kepada Dzat yang menghadirkan berbagai jenis teman tadi. Allah ta’ala!


Dia yang benar benar akan selalu bersama kita. Dia yang akan mendatangkan teman teman setia. Dia yang bisa menjauhkan teman yang tidak bermanfaat untuk dunia dan akherat. 


Sungguh benar perkataan Ibn Qayyim Al Jauziyah


‘DO NOT DEPEND ON ANYONE, BECAUSE EVEN YOUR OWN SHADOW LEAVES YOU WHEN IT’S DARK’


Jangan pernah bergantung kepada siapapun, bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu saat gelap (datang)


London

12 Juni 2019

9 Syawal 1440H


*Terinspirasi dari video Jay Shetty

Keikhlasan Tanpa Merasa Ikhlas

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London - UK


Seminggu yang lalu...


Pagi pagi pukul 8:00 ada ketukan di pintu depan. Aku intip lewat jendela. Tukang yang sedang merenovasi rumah tetangga. 


Tetanggaku ini adalah seorang wanita lansia asli Ghana. Beliau meninggal saat pulang kampung ke Ghana. Rencananya, saat beliau balik ke London, rumah yang sedang di renovasi siap untuk di huni. Ternyata, Allah ﷻ berkehendak lain. Beliau meninggal mendadak seminggu sebelum kembali ke Inggris. 


Memang beliau sudah keluar masuk RS karena usia yang lansia. Tiap tahun beliau pulang ke Ghana. Disana ada rumah besar yang telah beliau bangun dari hasil kerjanya menjadi Health visitor di Inggris. 


Maret tahun lalu, kabar aku dapat dari anak angkatnya. Beliau tidak punya anak kandung, yang ada hanya God Daughters. Mereka hanya berkunjung sebulan satu atau dua kali. Hari hari wanita lansia ini di isi dengan menonton TV, baca koran dan online shopping. Beginilah kebanyakan para lansia di Inggris menghabiskan waktunya. 


Jadi...para tukang ini dipekerjakan oleh anak angkatnya. Sering sang tukang meminta kami membelikan ijin parkir. Ijin ini harus di beli oleh residen yang tinggal di area dengan zona yang sama. Harga 1 tiket £1.20 alias Rp 21.000 per 6 jam. Semasa tetanggaku yang lansia ini masih hidup, beliau sering meminta bantuan untuk pasang kabel-kabel internet, pesan tiket parkir spesial (disabled badge) dan hal hal tehnis lainnya. Kami cukup dekat meski kami berbeda keyakinan. Beliau sangat faham tentang tradisi muslim termasuk apa itu makanan halal, Ramadan, perayaan Idul fitri, dan lain sebagainya. Sering beliau belikan hadiah dan bingkisan untuk anak anakku. 


Demi menghormati mendiang tetangga dan itung-itung cari pahala, aku setujui permintaan si tukang.


Namun pagi itu, si tukang meminta tiket parkir sementara dan nanti kolega nya yang akan menggantinya. 


Tanpa pikir panjang, aku iya kan. Kebetulan ada tiket parkir seharian untuk semua zona (aku dapat gratis dari council). Tapi jatah tiket ini hanya 10 tiket per tahun. Aku usahakan untuk irit dan ‘di-eman eman’. 


Tapi aku relakan untuk di pakai pak tukang pagi itu. Si tukang senang dapat tiket seharian dan gratisan. Setelah dia berterima kasih, aku tutup pintu. Selang beberapa detik, ada ketukan lagi. Aku pikir orang yang sama. Tanpa aku intip lewat jendela, aku buka pintu. 


Ternyata...tetangga baru depan rumah. Seorang laki laki keturunan Afrika bertanya apakah boleh dia meminta satu tiket parkir juga. Dia tetangga yang baru pindah beberapa bulan, tidak pernah mengenalkan dirinya saat menjadi tetangga baru. Tidak pernah mengucapkan selamat pagi saat ketemu. Suka parkir asal asalan di depan rumah. Dia menyampaikan bahwa karena dia baru pindah, pihak council belum memberi ijin parkir sampai besok. Dan ijin sementara dia sudah habis. Belum pesan dan beli lagi. 


Bisa di bayangkan dong reaksiku! 


Respon pertama: "ih...enak aja! emang aku distributor kartu parkir?! Pesan sendiri gih sana!" (untung dalam hati aja) tapi yang keluar "Yes sure, let me get one for you."

Lalu aku jelaskan: "you can get this kind of permit for free, 10 permits every year and you can use it for all zone. Just visit the website and you can get it from there"


Dia berterima kasih. Dan aku langsung tutup pintu. Niatan untuk irit kartu parkir ga kesampean. Itu pikiranku. Sampai sore harinya...


Ada ketukan pintu...tetangga yang sama. Dia menyampaikan bahwa dia melihat pintu bagasi belakang mobilku terbuka lebar!


Terakhir aku pakai mobil, satu setengah jam yang lalu. Itu artinya, selama itu pula mobil yang aku parkir di pinggir jalan, pintu bagasinya terbuka lebar. Kalau ada pencuri, ini adalah sasaran empuk!


Qadha Allah ﷻ, mobil itu masih menjadi Rezeqi kami. Jadi aman aman saja. Jika tidak ada warning dari tetangga baruku, maka mobilku pasti semalaman dalam kondisi seperti itu. 


Serasa Allah ﷻ menamparku dengan kejadian ini. 


Kebaikan yang kita tanam akan kembali kepada kita. Entah itu di dunia atau di akherat. Dalam hati aku beristighfar berkali kali dan berterima kasih sekali kepada tetangga baruku yang repot repot memberi tahu. 


Terkadang kebaikan itu harus dilakukan tanpa pikir panjang karena Allah ﷻ tahu kita juga akan membutuhkan kebaikan mereka. 


Memang benar, membantu harus tanpa pamrih. Membantu harus tanpa berharap timbal balik. Kalau ada harapan untuk dikembalikan maka artinya kita berbuat baik karena asas manfaat. Kebaikan yang benar benar karena Allah ﷻ adalah kebaikan tanpa pamrih.


Kalau ada orang baik kepada kita, kita balas dengan kebaikan maka itu sudah biasa. Namun jika kita baik tanpa pamrih itu luar biasa. Apalagi baik kepada orang yang telah menyakiti kita, maka itu tanda kita benar benar ingin pahala saja. Asal tahu beda antara berbuat baik dan memaafkan dengan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


Ikhlas...itulah lawan dari pamrih. Kita sering mendengar orang berkata dengan mudahnya:"kalau beramal itu harus ikhlas, agar amalnya diterima oleh Allah". Padahal orang yang mengatakan demikian belum tentu ia masuk ke dalam kategori orang-orang yang ikhlas. Memang betul, kata "Ikhlas" mudah diucapkan, namun susah dipraktikkan. Apa sebetulnya hakikat dari ikhlas itu sendiri? Lalu apa ciri orang ikhlas dalam beramal?


Dalam kitab Mu’jam al-Wasith, kata ikhlas berasal dari kata خلص يخلص خلوصا yang berarti jernih atau murni. 


Sementara itu, menurut Al-Jurjani dalam al-Ta’rifat menjelaskan bahwa ikhlas adalah tidak mencari pujian dalam beramal.


Imam Qusyairi dalam kitab Arrisalah Al Qusyairiyah mengutip penjelasan gurunya. Ia menyatakan bahwa ikhlas adalah mengesakan Allah dalam ketaatan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. 


Perilaku ini tanpa ada embel-embel kepentingan lain yang berkaitan dengan manusia, atau ingin mencari pujian dan popularitas.


Menurut Dzun Nun Al Misri, ada tiga ciri orang ikhlas dalam beramal, yaitu:


Pertama, ketika dipuji atau dihina, sikapnya sama saja, tak ada perbedaan dalam perilakunya.


Kedua, melupakan amalan yang telah ia lakukan. Ia tak mau mengingatnya lagi. Seperti ketika telah memberi shadaqah atau bantuan kepada orang lain, maka ia tak mengungkitnya lagi. Agar amalnya tak sirna gara-gara al mannu (menyebut kembali amalan yang telah dikerjakan atau diberikan).


Ketiga, melupakan pahala amal akhirat, sehingga ia berusaha beramal sebanyak-banyaknya, karena selalu merasa kurang, serta tak pernah membanggakan amalnya.

Menurut pendapat Imam Fudhail bin Iyadh: meninggalkan amalan karena manusia maka itu riya’ (pamer) namanya, sedangkan beramal dengan tujuan agar dipuji manusia, maka itu masuk kategori syirik. Adapun ikhlas yaitu ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.


Hudzaifah Al Mura’syi, yang menyatakan bahwa ketika perilaku, perbuatan seorang hamba sudah sama lahir dan batinnya, baik di kala sendirian atau dalam suasana keramaian, maka kondisi seperti ini dinamakan ikhlas. (https://bincangsyariah.com/khazanah/ciri-orang-yang-ikhlas/)


Suka banget sama quote berikut


"Whoever sees sincerity in his sincerity, his sincerity is itself in need of sincerity. The destruction of every sincere person lies in his sincerity, (he is destroyed) to the extent that he sees sincerity in himself. When he abandons seeing sincerity in himself he will be sincere and purified."


"Siapa saja yang bisa melihat keikhlasan ketika dia berbuat ikhlas maka dia perlu keikhlasan dalam ikhlasnya (mempertanyakan keikhlasannya). Kerusakan dari setiap orang yang ikhlas ada pada keikhlasan (yang mereka rasakan). Saat dia tidak lagi melihat/ merasa bahwa dia ikhlas maka saat itulah sebenarnya dia benar benar ikhlas dan tersucikan (dari beramal selain karena Allah)"


London, 16 Juni 2019

13 Syawal 1440H


PS: tulisan ini tidak untuk mengatakan bahwa saya sudah ikhlas. Justru menjadi pengingat diri supaya terhindar dari membantu karena ingin dibantu.


#KisahDariInggris

#Revowriter

#CatatanRingan

#Renungan

#TazkiyatunNafs

Sunday, 9 June 2019

Hargai dan Cintai

#NasehatPernikahan

**********************

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London 


"Mba...saya harus bagaimana ya Mba. Dulu saya bercadar, lalu suami minta saya melepas cadar. Saya turuti. Sekarang saya disuruh melepas jilbab (baju panjang/Abaya) dan diminta memakai celana saja. Katanya bikin malu"


"Mba...suami saya jarang pulang. Dia sibuk terus bersama teman kerjanya. Ke cafe, ngobrol, pulang ke rumah selalu larut malam. Apakah pernikahan itu harus seperti ini Mba?"


"Mba...ternyata suami saya selama ini telah membohongi saya. Dia punya wanita simpanan. Entah mereka sudah menikah atau belum. Tapi saat akhir pekan, dimana dia pamit ada urusan ummat, ternyata dia bersama wanita itu."


Itulah sekelumit curhat yang pernah saya dengar. Karena saya seorang wanita, wajar kalau curhatnya dari ibu-Ibu. Kalau curhatnya dari bapak bapak malah aneh dan bisa bisa dosa (kan bukan mahram).


Mendengar curhat yang menyedihkan seperti ini membuatku merasa sedih. Selalunya kisah yang tertutur diiringi airmata. Nampak sekali hati mereka hancur berkeping keping. Ada dari mereka yang curhat untuk mencari penyelesaian. Ada yang sekedar ingin meringankan beban. Ada juga yang ingin meyakinkan diri mereka sendiri bahwa ada sekelumit harapan. Meski hampir memudar. 


Jikalau ada para pembaca mengalami hal yang serupa. Diuji oleh Allah lewat pasangannya. Aku berdoa agar Allah memberi jalan keluar. Yang baik untuk kedua pasangan. Semoga anak anak pun tidak menjadi korban. Permasalahan rumah tangga memang kompleks. Menyelesaikannya pun harus dengan sabar dan hati hati. Tidak bisa grusa grusu atau membela satu dan menjelekkan yang lain. 


Menyatukan dua manusia memang tidaklah mudah. Apalagi dua jenis yang berbeda. Intrik intrik rumah tangga tidak akan pernah habis. Seiring bertambahnya usia, jumlah anak, tambahan tanggung jawab, belum lagi orang tua kita yang semakin membutuhkan perhatian, kadang pasangan menjadi nomer sekian. 


Wajar kalau jurang komunikasi makin dalam. Masing masing sibuk dengan tanggung jawabnya. Sang suami sibuk bekerja sekuat tenaga supaya bisa menghidupi keluarga. Sang istri disibukkan mengurus anak dan rumah atau bahkan bekerja membantu ekonomi keluarga. 


Sebelum permasalahan dalam rumah tangga menjadi lebar dimana pilihannya tinggal: cerai atau tidak atau bahkan cerai baik baik atau cerai penuh benci. Pasti semua diawali dari sebuah masalah kecil. Masalah kecil yang tidak terselesaikan. Tidak terkomunikasikan. Berujung pada sebuah perasaan "diabaikan oleh pasangan". 


Berikut sekedar pesan ringan yang mungkin tidak menyelesaikan masalah serta merta. Namun bisa menjadi awal untuk menata kembali atau meluruskan lagi sebuah ikatan pernikahan dari dua lawan jenis. 


Emerson Eggerichs, best-selling author of Love and Respect menyimpulkan bahwa sebenarnya wanita itu butuh dicintai (loved) sedang laki laki butuh di hargai (respect). 


Kesimpulan ini dia ambil setelah survei pertanyaan: jika anda di minta memilih dari hal berikut, mana yang lebih mudah anda hadapi dan akan anda pilih? Ditinggalkan sendiri dan tidak di cintai oleh siapapun di dunia ini atau merasa tidak mampu dan tidak di hargai oleh semua orang? (If you were forced to choose one of the following, which would you prefer to endure, to be left alone and unloved in the world, or to feel inadequate and disrespected by everyone)


Dari sampel asli, 400 laki laki, 74% menjawab kalaulah terpaksa harus milih maka mereka memilih untuk sendiri dan tidak di cintai daripada tidak dihargai. 

Selanjutnya Emerson mengumpulkan data dari para wanita. Dia menemukan bahwa mayoritas wanita merasa lebih baik tidak di hargai daripada sendiri dan tidak di cintai.  


Berdasar pada data ini, Eggerichs menyimpulkan bahwa seorang istri itu ‘butuh untuk dicintai sebesar kebutuhan mereka untuk bernafas (a wife "needs love just as she needs air to breathe") dan seorang suami butuh untuk di hargai (a husband "needs respect just as he needs air to breathe")


Oke, itu memang buku psikologis yang ditulis oleh psikolog barat. Bagaimana dengan Islam?


Coba kita tengok hadis yang berkaitan dengan bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya dan bagaimana seorang istri seharusnya memperlakukan suaminya.


Untuk para suami:


Rasulullah ﷺ bersabda:


‎خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

�"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku" (HR At-Thirmidzi no 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no 1977 dari hadits Ibnu Abbas dan dishahihakan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))


Beliau shallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:


‎أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

�"Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya". (HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284))


Sedang berikut adalah hadis untuk para istri


Nabi ﷺ bersabda:


‎لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا


"Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya". HR AT-Thirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366)


Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:


‎إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ


"Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya." (Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1296 al-Mawaarid) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.)


Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,


‎لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنْ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ.


"Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya."(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5195), Muslim (no. 1026) dan Abu Dawud (no. 2458) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)


Jika kita tilik satu persatu, Allah ﷻ dan rasulNya juga sudah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang laki laki harus menunjukkan kasih sayangnya kepada istrinya. Dan seorang istri menujukkan hormatnya dengan mentaati suaminya (selama ada dalam koridor syara’)


Cek cok yang sering terjadi: suami mengatakan bagaimana saya bisa mencintai istri kalau dia tidak menghargai saya. Dan istri gantian mengatakan bagaimana saya bisa menghargai suami kalau dia kasar, tidak berakhlak dan tidak ahsan (baik) serta tidak penuh kasih sayang dalam memperlakukan saya. Inilah lingkaran setan. Selama si istri melulu meminta untuk di cintai dan selama suami melulu minta di hargai. Lingkaran masalah ini tidak akan pernah selesai.


Solusinya bagaimana? Do it as you are told! 

Lakukan apa yang menjadi kewajiban kita maka hak akan kita peroleh. Bisa jadi perolehan hak itu tidak segera dan serta merta. Namun jika kita melakukannya murni karena taat pada Allah ﷻ dan RasulNya maka insyaAllah sakinah, mawaddah dan Rahmah akan bisa tercipta. Atau paling tidak pahala sudah tersedia. 


Seperti apa bentuk respect kepada suami?

1. Tidak membicarakan aib suami kepada khalayak ramai

2. Memilih kata dan suasana saat bertutur kata

3. Memberi mereka kesempatan mengambil keputusan 

4. Mendukung keputusan mereka dan memujinya meski kadang ga sesuai dengan pertimbangan kita (para istri)

5. Memompa kePD annya dan memberitahunya bahwa kita bangga dengan segala pencapaiannya

6. Memilih teman yang suami suka dan menjauhi teman yang suami tidak suka

7. Mendengar nasihat dan segala batasan yang suami gariskan (meski mubah) Misal: suami tidak suka jika kita makan jengkol. Maka bentuk penghargaan kita adalah dengan menghindarinya sebisa mungkin

8. Tidak berbicara dengan nada merendahkan di hadapan suami dan di hadapan teman.

9. Boleh mengajari asal tidak terkesan menggurui


Seperti apa bentuk mencintai isteri?

1. Perhatian dengan apa yang istri sukai

2. Bertutur kata baik kepada mereka

3. Hindari memuji wanita lain di hadapan mereka 

4. Suka memuji hal hal kecil yang istri lakukan (asal nggak sarkastik)

5. Dampingi dan peluk istri saat mereka sedih, stress atau capek dengan segala urusan 

6. Ciuman sebelum berangkat kerja, SMS penuh cinta saat di tempat kerja, pelukan sekembali kerja adalah hal kecil tapi sangat bermakna

7. Diskusikan denhan istri semua yang dirasakan (oleh suami). Jangan malah diskusi dengan teman. Karena dengan begitu istri merasa dipentingkan

8. Beri mereka waktu luang untuk recharge dengan mengambil alih urusan anak dan rumah untuk sesaat. 

9. Berilah mereka sandang, pangan, papan yang sepadan dengan jumlah pendapatan (a.k.a jangan pelit)


Sama sama 9 poin. Masih banyak contoh lain yang bisa ditambahkan. Takut kepanjangan. Jadi saya cukupkan sekian 🙂


Semoga bermanfaat dan ini pengingat bagi diri sendiri juga. 


London, 9 Juni 2019

6 Syawal 1440H


#KisahDariInggris

#Revowriter

#CatatanRingan

#IslamDiLondon

Serba Serbi Idul Fitri di Inggris

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Sengaja bikin judul yang nyundhul. Penasaran isinya? Boleh tapi sebelumnya ada WARNING. 


Meski ada kata “Inggris”, tulisan ini tidak akan mampu mewakili gambaran seluruh Inggris. Karena aku tinggal di London maka Inggris yang aku maksud adalah London. Namun London itu luas sodara! Jadi harus aku kerucutkan lagi. Apa yang nantinya tertulis adalah pengalaman berlebaran di London timur (karena di situlah aku tinggal).

London timur adalah area dengan jumlah muslim terbesar di London. Di sinilah muslim menjadi mayoritas. Karenanya pengalamanku ini tidak akan sama dengan teman yang tinggal di London tapi dia di London barat (misalkan) dimana muslim menjadi minoritas. London timur itu juga banyak muslimnya Rek, jadi tulisan ini sebenarnya cuma tradisi tahunan dan serba serbi keluarga Pak Khalifa. Nah loh! Makin ga nyundhul tho? Yo wis ra popo. Sing gelem moco nggih monggo, sing mboten kerso...nggih mboten menopo.


Di setiap sharing pengalaman hampir sama lah situasinya. Kalau ada teman Inggris bertanya:”Yumna, tell me How is Eid in Indonesia?” Maka jawabanku pasti seputar apa yang aku alami, lihat di tivi, dan tradisi yang pernah aku ikuti. Tentu jawaban ini tidak akan mewakili dan menangkap wajah seluruh Indonesia. 

Inilah yang disebut skewed view. Setiap pandangan/ opini/ pengalaman akan selalu bias karena ia akan selalu tertulis berdasarkan pada sebuah sudut pandang tertentu. Salah satunya pengalaman pribadi si penulis. 


Walhasil...jika ada yang ingin mendapat informasi lengkap. Atau ingin mendapatkan gambaran Eid di London seakurat mungkin, maka diharuskan membaca dari banyak blogger dan sumber. So you can put all the pieces together to find the most accurate description. Ini adalah hukum alam dari cara mendapatkan informasi akurat


Karena ini bukan karya ilmiah jadi santai aja bro!


Jadi begini...

Eid 1440H kali ini diawali dengan kebingungan. Seperti biasa, kami mendapat kabar terlihatnya hilal Syawal sebelum maghrib karena kami di belahan paling barat jadi kami mendapat jatah sunset terakhir. Sedangkan saudara-saudara yang di Malaysia, Australia, Indonesia dan timur tengah sudah bisa menetapkan apakah hilal Syawal sudah terlihat ataukah belum. Kebanyakan dari masjid besar London mengikuti keputusan rukyat Saudi. Entah mengapa. Kalau Idul Adha memang seharusnya demikian (rukyat penduduk Mekkah menjadi acuan) namun Idul Fitri, tidak ada syariat yang menyatakan harus mengikuti rukyat Saudi. Berhubung Saudi mengklaim sebagai negara yang mengikuti rukyat dan bukan hisab, ditambah lagi mereka sudah bersaksi telah melihat hilal dan mengumumkan ke khalayak ramai, maka aku putuskan untuk mempercayainya. Meskipun secara hitungan astronomi, tidak mungkin mereka melihatnya. Inilah sumber kebingungannya. 


Sebelum adzan maghrib semua masjid besar sudah mengumumkan bahwa solat Eid hari Selasa. Artinya malam ini sudah masuk 1 Syawal. Panik dimulai! 


Hadiah belum ada yang terbungkus. Rumah belum di rapikan. Dekorasi lebaran belum terpasang. Akhirnya semuanya dilakukan malam itu juga. Aku dan suami bagi tugas. Aku bagian beberes, suami menyetrika baju. Akhirnya selesailah acara bungkus membungkus kado dan memasang dekorasi. Takbir tidak menggema seperti di Indonesia. Yang ada hanya takbir pribadi, di rumah sendiri. Beruntung sekali besok kami ada undangan makan siang dan makan malam dari teman. Jadi acara masak masak tidak seheboh orang kebanyakan. 


Semua selesai ketika jam menunjukkan pukul 4 pagi. Phew! Artinya 4-5 jam menyelesaikan semua tugas. Sekali dalam setahun, tak apa lah. Selesai salat subuh, kami beranjak tidur. Salat Eid dijadwalkan pukul 10 pagi. Ada banyak sekali pilihan. Mulai dari salat di masjid dengan pilihan waktu sampai salat eid di taman luas. Kami memilih salat di taman yang bernama Valentine Park. Karena jaraknya sangat dekat dan salat akan di pimpin mufti terkenal: Mufti Menk. Ternyata salat Eid ini di siarkan langsung oleh Channel TV Islam di Inggris bermama Eman TV. Ribuan jamaah berduyun duyun menghadiri. 


Pukul 7:30 pagi semua bangun. Mandi, sarapan cereal dan berganti pakaian. Pukul 8:30 kami berangkat. Sampai di taman, harus cari parkiran. Duh semua parkir gratis sudah penuh. Yang ada berbayar. Itupun harus kembali dalam waktu 2 jam! Kami putuskan parkir di dalam taman. Membayar £5 samapai salat Eid selesai. Usai parkir, kami berjalan beriringan dengan tetangga yang kebetulan parkir di belakang mobil kita. Suami mencari saf terdepan. Aku bersama anak anak dan tetangga di saf belakang. Rerumputan sudah di tutup dengan plastik tebal sebagai penanda saf. Panitia meminta kita antri sembari mengarahkan kemana kami bisa duduk. Ini cara mereka untuk mengatur saf supaya rapi dan rapat. Sajadah kami bentangkan. Duduk sambil mendengar lantunan takbir dan bacaan Quran. Setengah jam kemudian, hujan rintik rintik. Panitia panik. Karena ada sederetan Shuyukh yang rencananya akan memberikan sambutan. Namun para jama’ah meminta salat di mulai. Akhirnya, panitia menyetujuinya. Pukul 10:10 salat Eid di mulai. Alhmdulillah hujan juga berhenti jadi kami bisa menikmati khutbah Eid. 


Setelah semua usai, antri keluar dari parkiran. Jarak rumah dan taman yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit, hari itu butuh waktu satu jam. Sesampai di rumah, tidak ada acara sungkeman. Hanya foto bersama dan membuka hadiah. Anak anak bahagia sekali mendapat kejutan tahun ini (sengaja tidak di ekspos di sini) 🙂. Setelahnya, aku anjang sana ke tetangga. Ngobrol sebentar sembari makan biskuit asli Aljazair. Usai dari sana, kami salat duhur dan langsung cabut menuju rumah teman untuk makan siang. 


Di rumah teman Bangladesh (lahir dan besar di London) kami di suguhi beraneka ragam menu mereka. Biryani, kari ayam, kari daging, samosa, kebab dan berbagai manisan. Anak anak pun senang karena ada teman bermain. Sembari makan, kami mengobrol dan bercanda. Mereka sudah seperti keluarga di tanah rantau ini. 


Pukul 4 sore kami pulang ke rumah. Anak anak tertidur di mobil. Padahal ada undangan makan malam setelah ini (nampak banget emaknya yang ngotot dan semangat). Usai salat asar di rumah, lanjut perjalanan menuju East Ham. Kali ini yang mengundang teman Indonesia yang menikah dengan ikhwan Bengali. Menu yang dia masak: lontong lodeh dan rendang. Mantap dan cukup menjadi tombo kangen lebaran di Indonesia. Acaranya masih sama, mengobrol dan bercanda. Pukul 8 kami siap siap pulang. Pukul 9 kami sampai di rumah, sesaat sebelum maghrib tiba.


Setibanya di rumah, semua tepar dan langsung beranjak tidur. Esoknya kami di rumah seharian. Aku habiskan menelepon keluarga di Indonesia. Bercengkrama dan bercanda lewat kamera HP. 


Alhamdulillah atas tehnologi ini. Karena meski kami berjauhan dan tak berada di tempat yang sama, namun adanya foto dan video call membuat kami merasa ada di tengah tengah mereka.


Inilah sekelumit cerita Eidul fitri kami di London. Ada juga banyak teman Indonesia yang merayakan Idul fitri di wisma Nusantara. Kediaman duta besar Indonesia untuk Inggris raya. Solat eid dan makan opor ayam gratis yang disediakan oleh KBRI. 


Ada juga yang menghabiskan waktunya bersama keluarga besar. Usai salat di masjid. Yang menarik masjid di sini biasanya memiliki 3-4 kali salat eid dalam sehari untuk mengakomodasi jumlah muslim yang banyak dan tempat yang terbatas. 


Ada juga yang mengorganisir Eid untuk para mualaf yang jelas jelas tidak punya keluarga untuk merayakan eid bersama. Banyak anjuran untuk mengundang mereka supaya mereka tidak kesepian dan sedih di hari yang seharusnya mereka bahagia.


Bagaimana dengan Eid para pembaca?


Dari kami di London, selamat merayakan Idul Fitri 1440H. Eid Mubarak!


Taqabalallahu Minna wa minkum. Semoga Allah ﷻ menerima semua amal kita. 


London, 

4 Syawal 1440H 

7 Juni 2019


#KisahDariInggris

#Revowriter

#CatatanRingan

#IslamDiLondon

Wednesday, 5 June 2019

Terjun Saja!

#Day29

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Terjun Saja!


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Malam 29 sudah kurencanakan. Usai ifthar, ku susun semua jadwal. Membaca Quran, sholat, munajat dan tadabbur Ayat. Setelah selesai urusan dapur. Pukul 10:15 malam mengantarkan anak anak tidur. Hudayfah menolak tidur hingga pukul 11 malam karena tidur siang yang panjang. Setelah itu aku beranjak turun ke ruang tamu (kamar anak anak di atas). Kumulai dengan berwudhu, membaca Quran dimulai pukul 11:30 malam. Setelah beberapa waktu, ada suara krusak krusuk di atas. Eh...si thole bangun! Ya wis lah..jam menunjukkan pukul 1 pagi. Artinya so thole cuma tidur 1.5 jam. Tahu aja kalau emaknya mau begadang. Walhasil semua rencana gagal! Karena ternyata Allah ﷻ memintaku ngaji dan salat sambil ngemong. Minta ini minta itu, keluar masuk dapur minta susu dan buah buahan. Coba di tidurkan kembali. Nggak mempan!


Sebuah pelajaran: kadang realitas tidak seindah harapan. Harapan bisa khusyuk berkhalwat dengan Sang Maha Rahman. Apa daya Allah ﷻ kembali mengingatkan bahwa rencana manusia tidak secanggih rencana Tuhan.


Sama dengan tulisanku tentang diari Ramadan. 


Ramadan kali ini sedikit istimewa. Usai ikutan kelas intermediate Revowriter, ada niatan untuk meneruskan belajar mengukir aksara berharap sarat makna. Apalagi jika di lakukan di bulan mulia. Pasti jauh lebih berharga. Tapi harus aku akui, aku tipe orang yang seringnya hanya bermodal semangat tapi eksekusi tidak terjadi. Mungkin sempat melakukannya separuh tapi kemudian berhenti. Walhasil, niatan ini tidak terlalu aku perhatikan. Saat yang sama,di tiga hari pertama, ide tulisan sudah berjubel tapi belum juga ada waktu, tenaga dan kePD an di dalam jiwa. 


Akhirnya, Bismillah...coba lah tulis saja apa adanya. Dan tak terasa tulisan berangkai 29 hari terlaksana. Meski ada yang telat terbitnya 🙂


Terharu...gembira...lega...akhirnya target menulis harian selama bulan Ramadan tercapai. Meskipun di 10 hari terakhir agak macet karena kurangnya jam duduk dan ide menulis yang mulai habis. Ibarat lari maraton, menit menit sebelum garis finish tentu terasa berat dan sulit. Namun Allah ﷻ Maha Pengasih telah membantu dan memudahkan jalan untuk berbagi kebaikan.


Niat awal menulis adalah untuk sekedar berbagi random thoughts yang ada di benak di hari itu. Sebenarnya kurang yakin , akankah bermutu?


Tulisan ini menjadi tulisan akhir edisi Ramadan 1440H. Semoga kedepannya bisa menulis terus. Meski masih acak adul. Betul kata cikgu Asri Supatmiati bahwa jam duduk itu berpangaruh. 


Satu pelajaran berharga. Berencana memang harus, tapi jangan sampai rencana itu malah membuat kita takut berbuat. Terinspirasi untuk berbagi, boleh! Tapi jangan di bikin ribet dan malah menghentikan kita berkarya apalagi kalau hanya demi ‘like’ saja. Percuma! 


Aku yakin sekali, banyak tulisan tulisan keren di luar sana. Banyak penulis-penulis handal yang karyanya menggugah jiwa. Banyak para ‘alim/ ‘alimah yang tulisannya sarat dengan kebaikan dan di kenang sepanjang masa. 


Layaknya sebuah pintu yang punya kunci tersendiri. Demikian juga hati. Ada kunci untuk setiap hati. Kunci pembuka hati. Ada hati yang terbuka oleh kunci berupa tulisan. Ada juga kunci yang berupa uraian lisan. 


Kita tidak tahu kunci mana dan kunci siapa yang mampu membuka hati orang di luar sana. 

Kita tidak tahu ketukan siapa yang akan dijawab dan akhirnya membuat hati seseorang terbuka. 

Yang terpenting adalah aksi ‘mengetuk’. Mengetuk dengan mengingatkan kebesaran Allah ﷻ lewat firman firmanNya. 

Mengetuk dengan menyebarkan ibrah dalam keseharian

Mengetuk dengan tulisan tulisan yang menembus batas tempat dan waktu

Mengetuk untuk mengingatkan kembali bahwa ada cahaya Islam yang sudah kita punya.


Cahaya yang akan tetap menyala selama pemegang obor itu menjaganya

Cahaya yang hanya bisa di relfeksikan oleh yang punya mata

Cahaya yang akan menyinari sekitarnya.


Jika setiap dari kita merasa bertanggung jawab menjaga cahaya tadi, maka pasti makin banyak yang tertunjuki.


Semoga Allah ﷻ mengkaruniakan selalu cahayaNya untuk kita semua.

Semoga Allah ﷻ memberi kita jalan dan kesempatan untuk menjadi penjaga dan penyebar cahayaNya

Entah itu lewat lisan atau tulisan atau bahkan sekedar share postingan. 

Amin 


Khusus untuk pembaca setia saya (you know who you are). 

‎جزاك الله خيراً كثيراً untuk pompaan semangatnya. 


Bagi yang ingin mencoba, saran saya: take the plunge! Terjun saja! InsyaAllah bisa!


London, 3 Juni 2019

29 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Berubah dan Berbenah

#Day28

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Berubah dan Berbenah


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Setiap Ramadan akan berakhir, ada penyesalan. Kenapa diri ini tidak berusaha maksimal? Kenapa masih ada saja waktu yang terbuang? Kenapa masih kadang malas malasan? 29 hari terasa kurang, namun saat bersamanya sering aku sia siakan. 


Ku ulang ulang ayat dimana Allah berfirman tentang tujuan akhir dari puasa. La’allakum Tattaquun. Agar kalian menjadi orang yang bertakwa. Sudahkah diri ini meraihnya? Apa sebenarnya arti takwa? 


Sungguh...Takwa itu sebenarnya sudah kita praktek kan dalam keseharian di bulan Ramadan. 


Ketika kita tidak makan dan minum karenaNya. Sembunyi pun tidak ada yang mengetahui namun hati kita yakin bahwa Allah ﷻ mengamati. 


Ketika kita tidak menunda saat adzan maghrib tiba untuk membatalkan puasa. Taat pada syariat tanpa mempertanyakan kenapa harus berhenti saat maghrib dan bukan saat isya’.


Ketika kita mengikuti salat tarawih meskipun badan sudah capek. Karena kita berharap pahala dan ampunanNya. Membuktikan kita yakin akan surga dan neraka.


Ketika kita membaca Al Quran dan yakin betul bahwa kita sedang membaca Firman Allah Ta’ala. Pedoman hidup yang berlaku sepanjang masa. Membuktikan bahwa kita yakin akan kebenaran firmanNya.


Ketika kita makan sahur berharap barakahnya membuktikan bahwa makan minum, tidur, lafad yang muncul dari mulut, sebisa mungkin kita kontrol karena tahu akan konsekuensinya.


Sekiranya perilaku ini muncul di setiap hari sepanjang tahun. Maka sungguh beruntung. Allah ﷻ telah memilih kita menjadi orang yang sukses meraih berkah Ramadan.


Tapi...namanya juga manusia. Iman kadang kuat, kadang juga lemah. Kadang taat tanpa syarat. Kadang malas dan memilih milih syariat. Sheikh Yasir Qadh pernah menjelaskan. Jikalau keimanan seperti sebuah grafik, maka kita berharap setiap Ramadan berakhir, grafik kita ada di atas (misalkan angka 10). Kalaulah bulan berikutnya turun, maka turunnya pun tidak ke titik sebelumnya namun separuh atau lebih (misal angka 6). Ramadan berikutnya (jika kita masih mendapatinya) upayakan meraih angka 15 (ibarat saja). Kalaulah turun di bulan berikutnya maka tidak lebih rendah dari angka 8. Demikian seterusnya. Harapannya, Ramadan terakhir kita adalah Ramadan dengan titik tertinggi. 


Yang paling menyedihkan adalah jika puasa kita ada pada level yang terendah. 


Ibnu Rojab mengatakan,


‎أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ


“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja. 


Dan yang paling mengkhawatirkan adalah jika tidak mendapat apa apa kecuali lapar dan dahaga. 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


‎رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ


“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani)


Semoga kita tidak termasuk golongam tersebut. 


Mari rencanakan kebaikan yang akan kita lakukan di bulan berikutnya.


Jadikan Ramadan momentum perubahan. Yang belum menutup aurat. Mari tutup auratnya.

Yang belum belajar Islam, mari mulai belajar.

Yang sudah belajar, mari intensifkan

Yang sudah menjadi orang tua, mari fokuskan mendidik anak dengan tarbiyah Islam 

Yang belum menikah dan masih mencari, mari layakkan diri. 


Yang sudah bergabung dalam barisan dakwah, mantapkan kembali langkah. Pompa semangat untuk makin banyak berkontribusi.


Yang Allah ﷻ coba dengan sakit, semoga Allah mengangkat sakitnya. Sembari kita lihat sisi positif meski kadang susah. Allah ﷻ sedang menyucikan dosa kita dan menguji kesabaran kita. Siapa yang sabar maka pahalanya tiada terhingga. 


Allah berfirman,

‎إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ


“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10)


Yang Allah ﷻ sedang uji dengan orang tua yang membutuhkan kita, tetap semangat karena Birrul Walidain adalah sebaik baik amal.


Bagi yang masih di sibukkan dengan pekerjaan, mari sisihkan waktu untuk mencari dan menjemput hidayahNya.


Mari berubah dan berbenah. 


Semoga Allah ﷻ mengaruniakan ampunanNya atas ketaatan yang sudah kita coba di bulan mulia.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


‎مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa melaksanakan puasa Ramadhan karena keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah); akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)


Semoga kita termasuk di dalamnya

‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


London, 2 Juni 2019

28 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Sunday, 2 June 2019

Dahsyatnya Tawakkal

#Day27

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Dahsyatnya Tawakkal*


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


“Gimana saya harus bayar sekolah anak anak bulan depan ya? Gaji sudah tidak cukup karena sembako semakin mahal ”


“Suamiku ternyata selingkuh Mbak! Dia banyak menghabiskan waktunya dengan teman online nya. Apa iya aku harus ninggalin dia? Padahal ada anak juga”


“Sedih rasanya ini Ramadan pertama tanpa ibunda. Beliau meninggalkan kami beberapa bulan lalu”


“Bisnis saya bangkrut Dek. Nggak tahu Musti gimana habis ini. Hutang jadi menumpuk dan jatuh tempo dalam hitungan hari.”


Inilah intrik intrik kehidupan yang kadang membentuk sikap seseorang. Menjadi orang yang sabar atau menjadi orang yang hilang harapan. 


Kesulitan, stress, beban hidup, terjepit dalam berbagai masalah adalah fitrah hidup di dunia. Ujian akan selalu ada tanpa kita minta. Ujian akan harus kita hadapi dan tidak akan bisa dihindari. Yang harus di lakukan adalah menyikapi. 


Namun sayangnya, ada dari manusia yang kadang lupa. Bahwa Allah ﷻ mengajarkan untuk tidak fokus pada masalah yang ada. 


Fokuslah pada Sang Pemilik solusinya maka akan Allah ﷻ akan membuka jalan dari arah yang tidak kita sangka. 


Coba kita tengok kisah Nabi Musa عليه السلام 


Allah mengizinkan Nabi Musa dan para pengikutnya untuk keluar dari Mesir menuju Syam. Pergi dari tanah yang penuh kedzoliman.


Mengetahui kepergian Musa, kemarahan Firaun semakin memuncak. Ia siapkan pasukannya untuk mengerjar Nabi Musa dan pengikutnya. Hal ini di abadikan di dalam Al Quran.


Setiba beliau di depan Laut Merah. Para pengikut Nabi Musa jadi gundah. Mereka merasa terjepit. Di depan laut luas menghadang, di belakang bala tentara Firaun yang dikenal kuat dan ganas.


‎فَأَتْبَعُوهُم مُّشْرِقِينَ


Maka Firaun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 60).


Pada saat Firaun dan pasukannya berhasil menyusul Nabi Musa dan pengikutnya, pengikut Nabi Musa berkata,


‎فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى 

‎اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَ‌ۚ‏ ﴿۶۱﴾  


Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul" (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 61)


Mereka mengatakan demikian karena melihat di hadapan mereka jalan tertutup oleh lautan. Mereka mengadu kepada Nabi Musa. 


Kemudian beliau menjawab,


‎قَالَ كَلاَّ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ


Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 62).


Respon Musa عليه السلام menunjukkan sikap Tawakkal yang sebenarnya. 

Beliau tidak fokus dengan masalah yang di hadapinya. 

Beliau yakin Allah ﷻ tidak akan menyia nyiakan hambaNya yang taat dan berusaha selalu mengikuti perintahNya. 

Realitas yang di indera Nabi Musa dan pengikutnya sama! Namun ternyata menghasilkan respon yang berbeda dari keduanya. 


Pengikut Nabi Musa hanya melihat rintangan di hadapannya, sedangkan Nabi Musa TIDAK melihat hanya dengan mata. Beliau melihat dari kacamata imannya. Beliau yakin seyakin yakinnya bahwa Allah ﷻ bersamaNya dan akan memberikan jalan keluar segera. 


Jalan keluar yang tidak pernah sekalipun terbayang dalam benak manusia. 

Jalan keluar sebagai imbalan atas keteguhan dan ketaatan mereka. 

Jalan keluar yang membuktikan bahwa selama kita bergantung hanya kepada Allah ﷻ dan bukan kepada kemampuan kita sebagai manusia biasa. Maka keajaiban, kemudahan dan jalan keluar yang tak di sangka keberadaannya akan muncul di depan mata. Allah ﷻ pun memerintahkan Nabi Musa عليه السلام memukulkan tongkatnya. Apakah Nabi Musa bertanya dan protes dengan perintah Allah ﷻ yang nampak tidak bisa dicerna? Tentu tidak! Beliu melakukananya dengan serta merta. Dipenuhi keyakinan bahwa inilah jalan keluarnya. 



‎فَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى مُوۡسٰٓى اَنِ اضۡرِبْ بِّعَصَاكَ الۡبَحۡرَ‌ؕ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٍ كَالطَّوۡدِ الۡعَظِيۡمِ‌ۚ‏ ﴿۶۳﴾  



Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.(QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 63)


Mari kita belajar dari kisah mulia ini. 


Berapa banyak manusia bangga dengan kesuksesannya. Dengan pongah menganggap itu adalah murni dari kemampuan mereka. Ada juga yang menisbahkannya kepada keuletan cara kerja, kecerdasan aqal mereka, kegigihan dalam berusaha, detailnya rencana, tingginya cita cita. Dan mereka lupa bahwa tanpa Allah ﷻ semua tidak akan bisa diraihnya. 


Berapa banyak pula manusia merasa paling menderita sedunia. Seolah masalah selalu mengelilingi mereka. Ada yang menyalahkan diri sendiri. Ada juga yang menyalahkan orang sekitarnya. Merasa tidak mampu keluar dari lingkaran kesedihan. Merasa bahwa Allah ﷻ terus menerus menguji tanpa memberi solusi. (Ma’adzallah)


Padahal...jika seseorang itu bergantung tidak kepada kemampuan diri. Tetapi bergantung pada Ilahi. Pemberi ujian sekaligus Pemberi solusi, maka hidup tidak lagi repot dan ketentraman, qana’ah akan muncul di hati. 


Demikianlah tawakkal. Tawakkal bukan pasrah tanpa usaha. Justru Tawakkal adalah terus mencoba segala upaya yang masuk dalam lingkup kontrol kita. Saat yang sama, kita meyakini bahwa Allah ﷻ akan membersamai langkah kita mencari solusi. 


Nabi Musa عليه السلام tetap harus melakukan upaya. Allah ﷻ memerintahkan beliau mengambil tongkat dan memukulkannya.


Secara logika, apa yang beliau lakukan tidak akan menyelesaikan masalah. Secara kalkulasi manusia, aksi beliau tidak berhubungan dengan solusi. Namun nabi Musa عليه السلام tidak bergantung pada logika. Beliau bergantung pada Firman Allah Ta’ala. Allah ﷻ memerintahkan demikian. Tanpa ragu, beliau lakukan. 


Demikian juga seharunya sikap kita terhadap Islam. Adakalanya, sekilas syariat Islam terkesan berat bahkan menyulitkan. Tapi itulah namanya beban. Beban hukum untuk manusia yang mau beriman. Apapun syariat Allah ﷻ, kita harus yakin bahwa ketaatan kepadanya akan mendatangkan kebaikan. Itulah solusi yang Allah ﷻ berikan. Jika kita taat dan terus berusaha berjalan meski terseok seok untuk selalu menjaga kehalalan dan menghindari keharaman dalam tataran pribadi, masyarakat dan negara maka semua masalah akan bisa terselesaikan. 


Bisa jadi secara logika...terselesaikannya masalah itu nampak jauh dari harapan. Masalahnya terlalu kompleks, kerusakannya terlalu dalam, atau bahkan terasa utopia untuk kembali ke jalan Islam. Namun sekali lagi, mata hati seorang mukmin tidak fokus pada masalah. Tapi fokus pada Allah yang akan menyelesaikan. Tugas kita memukulkan tongkat (usaha) dan Allah ﷻ sendiri yang akan membelah lautan untuk kita bisa berjalan (menunjukkan kuasaNya dan memberikan penyelesaian).


*Terinspirasi dari kajian Yasmine Mogahed di YouTube. 


London, 1 Juni 2019

27 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Keluarga: Dimana Hati Berada

#Day26

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Keluarga: Dimana Hati Berada


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Selama 15 tahun di Inggris, tahun 2013 adalah mudik hari raya terakhir. Anak masih dua dan belum sekolah. Jadi bisa pulang selama hampir 8 minggu. Tapi sejak anak anak sekolah, jadwal mudik hari raya semakin sulit. 


Meskipun anak anak libur dua minggu setiap akhir Ramadan (termasuk hari raya) tapi pulang ke Indonesia dua minggu dengan membawa pasukan tiga di tambah harga tiket yang wah, rasanya kok berat juga. Apa nggak pingin pulang? Tentu saja. Bapak dan Abah (paman yang mengurusku sejak kecil) masih ada. Kakak juga disana. Pingin sekali bisa bertemu dan bercengkerama bersama di hari hari terakhir Ramadan. Pingin melihat takbir keliling desa. Pingin mendengar lantunan takbir dan bacaan Quran yang membahana. Pingin membantu menyiapkan jajanan di meja. Pingin bisa merasakan ribetnya di pagi lebaran. Anjang sana. Bertemu tetangga. Tertawa gembira. Itulah hal hal kecil yang kelihatannya sederhana namun memberi makna lebaran dan Ramadan yang berbeda.


Saat saat seperti ini, mengingatkanku pada sebuah quote: “Home is where the heart is”

This proverb means: your home will always be the place for which you feel the deepest affection, no matter where you are.


Rumah adalah dimana hati kita berada. Rumah adalah dimana kita merasa di cintai apa adanya. Tertawa dan konyol tanpa ada yang menghakimi. Bercanda tanpa ada yang tersinggung meski mungkin sedikit kejam dan sarkastik :)


Bagi seorang anak, keluarga adalah orang tua dan adik kakak. Tantangan besar membangun rumah tangga jauh dari keluarga besar adalah rasa cinta dan peduli yang bisa terkikis. Karena intensitas komunikasi yang berkurang. Mungkin Kita di sibukkan dengan keluarga kecil yang kita bina atau bahkan pekerjaan. Namun saat hari raya, saat saat bahagia, merekalah yang kita inginkan. 


Meski kadang ujian datang. Bentrok dengan orang yang kita sayangi karena satu dan lain hal. Pada kenyataannya merekalah yang Allah ﷻ takdirkan. Menjadi keluarga, penyangga, cheer leader, bersama menanggung beban agar hidup terasa lebih ringan. 


Siapapun yang sedang di uji dengan saudara. Mari kita tengok kisah Nabi Yusuf Alaihissalam. Dari sekian banyak saudara, nabi Yusuf menjadi korban kecemburuan mereka. Beliau di buang ke sumur oleh saudara saudara yang notabene sedarah. Gara gara peristiwa itu, Nabi Yusuf akhirnya terdampar dan menjadi budak. Dibeli oleh Raja ternama, digoda oleh isterinya dan akhirnya masuk penjara. Setelah sang raja sadar kesalahan isterinya, beliau membebaskan Nabi Yusuf AS dan memberinya sebuah posisi penting. Ketika beliau menjadi orang hebat dan ternama, orang penting di singgasana, saudara yang sudah membuat nabi Yusuf terbuang datang mengharap bantuan makanan karena masa paceklik yang menimpa. Nabi Yusuf tetap mau memaafkan. Beliau bahkan membantu dan tidak menghardik atau memalukan mereka di dalam istana. Itulah kesabaran yang indah. Sabrun Jamil. 


Mungkin kita di uji oleh saudara seperti saudara Nabi Yusuf. Akan tetapi contoh telah di berikan oleh Allah ﷻ kepada kita. Seburuk apapun manusia, kemaafan adalah lebih baik dan berpahala. 


Siapa yang memaafkan manusia maka Allah ﷻ berjanji menolong mereka.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata:


‎يَا رَسُول اللَّه، إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِم وَيُسِيئُونَ إِليَّ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيَجْهَلُونَ علَيَّ، فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلا يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلكَ


“Wahai Rasulullah, sama memiliki kerabat, saya sambung tapi mereka malah meutuskan, mereka berbuat buruk kepada saya tapi saya berusaha untuk berbuat baik kepada mereka. Mereka berbuat jahil kepada saya tapi saya sabar tidak ingin membalas dengan yang sama. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘jika yang kamu katakan itu benar, maka seakan-akan kamu menaburkan debu panas ke wajahnya dan senantiasa Allah akan menolong kamu selama kamu terus berbuat seperti itu'” (HR. Muslim)


Ramadan segera berakhir. Masih ada harapan kita mendapat malam mulia. Pinta kita kepadaNya. Ya Allah Berikanlah kami hati yang mudah untuk memaafkan. Dan jangan jadikan saudara kandung kami sebagai cobaan. 


Untuk yang mudik, selamat berakhir pekan bersama handai tolan. Hati-hati di jalan. Jangan lupa bahwa doa orang safar di dengar Yang Maha Rahman. Terus berdoa dan meminta di penghujung Ramadan. 


London, 31 Mei 2019

26 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Friday, 31 May 2019

Cinta yang sesungguhnya 

#Day25

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Cinta yang Sesungguhnya 

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London

.

Dalam bukunya "Reclaim Your Heart" sister Yasmin Mogahed menjelaskan tentang makna wa cinta yang sesungguhnya.

.

Bagi sebuah kendi air, untuk bisa memenuhinya dengan air maka kendi itu harus di kosongkan. Jika kendi tadi sudah terisi susu atau kopi dimana seharunya terisi oleh air maka susu dan kopi tadi haruslah di buang lalu dibersihkan. Tidak mungkin kendi itu bisa menampung jika sudah penuh. Kalaulah masih separuh lalu di isi air maka air pun tidak akan bisa dinikmati. Yang ada malah kopi yang tidak enak atau susu yang encer. 

.

Demikian juga hati manusia. Hati manusia seperti kendi air. Menampung rasa cinta. Jika hati di biarkan menampung cinta dunia maka cinta yang sesungguhnya yakni cinta kepada Pencipta tidak akan ada.

.

Kalaulah ada, maka sebenarnya cinta itu bak susu yang encer. Apakah susu encer bisa di sebut air? Tentu tidak! Jika cinta kita kepada Allah ﷻ ternodai oleh cinta dunia maka cinta itu bukanlah cinta yang sebenarnya. 

.

Apa itu cinta dunia? Apakah sayang kepada anak? Cinta kepada pasangan? Suka kepada barang mahal? Lihat saja Al Quran untuk mendapat jawabannya.

.

Dalam Surat Ali Imran ayat 14 Allah ﷻ menjelaskan

.

‎زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

.

Allah ﷻ sudah menjadikan kehidupan dunia sebagai hal yang menarik. Namun Allah ﷻ juga mengingatkan kita, bahwa semuanya fana. Tempat kembali yang harus kita fokuskan adalah surga. 

.

Tentu cinta kepada hal di atas boleh, hanya saja kadarnya perlu di kendalikan dan diukur. Tidak boleh melebihi cinta kepada Akherat dan Allah ﷻ 

.

Yasmin Mogahed menjelaskan. Cinta dunia adalah false attachment. Jika seseorang merasa dirinya akan hancur lebur ketika hal yang ada di diambil darinya maka itu pertanda kita sudah terpaut begitu kuat dengan dunia. Tentu ini bahaya! Karena itu berarti, hati kita sudah dipenuhi dengan kecintaan yang tidak seharusnya. Bukankah hal yang kita miliki di dunia ini pinjaman dan amanah dari Sang Maha Pencipta? Lalu kenapa kita begitu mencintai hal yang kita pinjam? Kenapa kita begitu terobsesi dengan hal yang sesungguhnya bukan milik kita? 

.

Karenanya, kadang Allah ﷻ memberikan ujian untuk melihat sejauh mana keterikatan kita terhadap pinjamanNya. 

.

Menyadarkan kembali bahwa kita bukan pemilik apa apa. 

Mengingatkan kembali bahwa pinjaman tadi tidak untuk di salah gunakan atau bahkan untuk melawan Tuhan. 

.

Ujian itu bisa berupa anak yang tidak lagi taat. Pasangan yang menelantarkan. Harta, tahta, kehormatan, status sosial, pekerjaan dan segala kemudahan yang di ambil seketika. Saat itulah Allah ﷻ ingin mengosongkan hati kita dari kecintaan yang salah. 

.

Sekiranya kita dipinjami sepeda oleh tetangga. Dan suatu hari mereka memintanya kembali, tanpa berfikir panjang kita akan mengembalikannya. Tanpa drama dan tanpa air mata. Kenapa? Karena sudah begitu seharusnya. Akan sangat aneh jika kita malah menolak mengembalikan, marah marah atau bahkan membenci tetangga dan keadaan mereka. 

.

Demikian juga dunia dan seisinya. Mereka di karuniakan kepada kita untuk satu tujuan: menjadi sarana untuk menghamba dan menyembah Allah Subhanahu Wata’ala.

.

Sayangnya, penghambaan seorang manusia tidak selalu kepada Rabbnya. Adakalanya mereka menghambakan diri kepada hawa nafsunya.

.

Dalam Quran Surat Al Jatsiyah:23 Allah ﷻ berfirman:


‎اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِ ۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ

.

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya? Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat?) Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

.

Ayat di atas menjadi bukti bahwa ada orang yang menghambakan dirinya kepada hawa nafsunya. Melakukan apa saja yang mereka inginkan tanpa mau peduli pada batasan syariat. Mulai dari cara berpakaian, bergaul, berteman, bekerja, berfoya foya hingga meraih kekuasaaan dan mengumpulkan harta. "Asal aku senang, tidak merugikan orang, ya ga apa apa!" Itulah moto mereka.

.

Jika ingin hati terpenuhi dengan cinta yang sebenarnya maka penghambaan dan kecintaan kepada selainNya harus di tinggalkan. Dengan cara apa? Membatasi keinginan yang liar dan taat pada aturan Islam.

.

Bukankah Allah ﷻ telah mengajarkan kepada kita lima rukun Islam. Kita mulai dari yang sederhana itu saja. 

.

Salat menjadikan kita detach/ lepas dari dunia saat waktu salat tiba. Sesibuk apapun, Allah ﷻ ingin kita pause dan ingat siapa prioritas utama. 

.

Puasa menjadikan kita lepas/ detach dari kebutuhan biologis (makan minum) ataupun perbuatan lain yang manusiawi untuk dilakukan. Namun Allah ﷻ ingin kita menunda pemenuhannya saat adzan maghrib tiba. Hanya dan hanya karena, ketaatan padaNya.

.

Zakat melatih kita lepas/detach dari cinta harta. Di wajibkan hanya kepada yang mampu dan menjadi pembersih harta mereka.

.

Haji melatih kita lepas/detach dari segala kemudahan dunia. Ternyata kita bisa tetap menikmati tidur tanpa kasur empuk saat di Muzdalifah. Ternyata kita bisa dengan mudah dan senang hati buang hajat tanpa kamar mandi bak hotel bintang lima. Ternyata kita tetap terlindungi tanpa rumah berpintu dan terbuat dari batu bata di Mina.

.

Jika keadaan memaksa, ternyata kita bisa. 

.

Bukan apa yang ada di depan mata yang sebenarnya membuat hati kita tenteram, lega dan bahagia. Tetapi cara kita memandang dan memproses fakta yang terjadi kepada kita. 

.

London, 30 Mei 2019

25 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Viralkan Kebaikan  

#Day24

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Viralkan Kebaikan 


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Kalau kita mendengar nama Thufail Ibn Amru, apa yang muncul pertama kali di benak kita? 

Mungkin pertanyaan: siapa sih beliau? Emang apa pentingnya tahu tentang beliau? 


Namun jika kita mendengar nama Abu Hurairah RA. Hampir semua orang yang pernah membaca hadis pasti tahu dan mengenal namanya. 


Keduanya sama sama dari Suku Daus. Namun yang sebenarnya mendakwahi Abu Hurairah RA adalah Thufail Ibn Amru RA. 


Thufail bin Amru menyatakan keislamannya di Makkah lalu kembali kepada kaumnya di Yaman. Dengan modal pengetahuan yang dia peroleh selama singgah singkatnya di Makkah dan bersama dengan Rasulullah ﷺ mulailah dia mendakwahkan Islam. Di awal dakwahnya semua orang menolak ajakan Thufail kecuali satu orang. Dialah Abu Hurairah RA. Beberapa waktu kemudian Abu Hurairah memutuskan hijrah ke Madinah dan mengikuti kemanapun Rasulullah pergi. Tak heran kalau beliau menjadi perawi hadis terbanyak hingga sekarang. 


Coba kita bayangkan. Berapa pahala dari seorang Thufail ibn Amru. Pernahkah beliau menyangka kalau orang yang telah dia dakwahi dan di tunjuki Allah ﷻ akhirnya menjadi seorang ulama besar yang namanya dikenang ratusan tahun setelah beliau meninggal. 


Pernahkah terbersit dalam benak Thufail bahwa satu satunya orang yang mau menerima dakwah beliau adalah penghafal hadis terbanyak?

Daya ingat Abu Hurairah RA yang luar biasa menjadi referensi ternama melintasi hitungan abad dan menyebar ke seluruh penjuru dunia.


Saat itu Thufail tidaklah tahu masa depan Abu Hurairah. Yang Thufail lakukan adalah menjadi perantara cahaya Islam. Jika dibandingkan Abu Bakr dan Umar serta Ali RA, masa Thufail bersama Rasulullah tidaklah banyak. Apa yang Thufail tahu, itulah yang beliau sampaikan. 


Seperti kata seorang teman: Jika Islam telah merasuk dan menyatu dalam jiwa dan tingkah laku kita, maka wajar jika kita tidak bisa mengungkungnya. Akan ada dorongan untuk menyampaikan. Dorongan untuk berbagi. Meskipun itu hanya sedikit. Meskipun ilmu belum setinggi langit. 

Itulah yang Thufail bin Amru lakukan.


Menyampaikan dengan hikmah dan dalil yang meyakinkan. 

Menyampaikan dengan kerendah hati-an. 

Meyampaikan karena yakin itu adalah kewajiban.

Menyampaikan demi keselamatan kita sendiri di hari penghisaban.

Menyampaikan sembari belajar.


Seperti Thufail, kita tidak pernah tahu akan menjadi apa orang yang kita temui. Akan menajdi apa orang yang mau mendengarkan nasihat kita. Ada kemungkinan orang yang kita yakinkan akhirnya menjadi ustad/ustadzah hebat di masa depan. 


Tak perlu pilih kasih. Tak perlu melihat latar belakang. Bukankah Umar bin Khathab dulunya musuh bebuyutan dari Islam? Bukankah Ikrimah bin Abu Jahal juga pernah memerangi Islam? Bukankah Khalid Ibn Walid pemimpin musuh Islam di perang Uhud?


Tapi bagaimana akhir dari kisah mereka? Melegenda dan penuh pelajaran. Quran mengubah mereka menjadi manusia pilihan. Mereka telah dimuliakan karena telah memilih Islam. Iman dan keistiqomahan mereka dikenang sepanjang jaman. 


Jika tidak karena Thufail, tidak akan ada Abu Hurairah yang melegenda. Jika tidak ada Bilal bin Rabah, tidak ada Khalid bin Walid yang perkasa. Jika tidak ada Mus’ab bin Umar tidak akan ada Sa’ad bin Mu’adh yang menggetarkan Arsy Allah saat beliau tiada. Dan jika tidak ada Abu Bakr maka tidak akan ada Thalhah bin Ubaidillah yang dijamin masuk surga.


Memang benar bahwa Allah ﷻ lah yang menunjuki mereka. Tapi Allah ﷻ juga memberi kesempatan kepada hamba hambaNya yang mau mencoba untuk bisa menjadi perantara cahayaNya.


Alangkah bahagianya jika kita menjadi salah satu darinya. Karenanya, jangan ragu untuk mencari dan menyambut hidayah Allah ﷻ.

Jangan tunda. Jangan berfikir terlalu lama. 

Sematkan cahaya Islam itu di dada. Ambillah dengan penuh keyakinan. Berjalanlah di siratal Mustaqim ini tanpa pernah menoleh ke belakang. Serulah orang orang yang lewat dan bertemu kita. Sebisa-nya. Mungkin dengan kata sederhana. Mungkin dengan tulisan pendek namun bermakna. Mungkin dengan SMS ajakan kebaikan. Atau mengorganisir kajian dan mengumpulkan teman teman dan mengundang seorang da’i.


Berikut salah satu hadis dari perawi ternama


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


‎مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا


Barangsiapa mengajak (manusia) kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa mengajak (manusia) kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 2674; Abu Dawud, no. 4611; At-Tirmidzi, no. 2674; Ibnu Mâjah, no. 206; Ahmad, II/397; Ad-Dârimi, I/130-131; Abu Ya’la, no. 6489)


Mari sebar cahaya. Pompa semangat untuk orang orang di sekitar kita. 

VIRALKAN KEBAIKAN.


London, 29 Mei 2019

24 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Tuesday, 28 May 2019

Berkaca dari Sejarah

#Day23

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Berkaca dari Sejarah

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London

.

Saat Rasulullah Muhammad ﷺ gencar mendakwahkan Islam di Makkah. Pertentangan, ujaran kebencian, fitnah, ancaman fisik dan mental dikerahkan oleh musuh musuh Islam. Tujuan mereka satu: menghentikan penyebaran Islam. Mereka tidak kuasa melihat ajaran Islam semakin diterima. Kaum kafir Quraisy sangat gerah melihat jumlah pengikut Nabi Muhammad ﷺ semakin bertambah! 

.

Segala upaya mereka lakukan. Mulai dari mengiming-imingi Rasulullah dengan wanita, harta dan tahta. Mengikuti kemanapun beliau pergi dan mementahkan ajakan Rasulullah setelah beliau beranjak dari mendakwahi sebuah kaum. Pernah mereka meminta beliau ﷺ kompromi. Sampai ancaman pembunuhan dan boikot pun harus Rasulullah lalui.

.

Suatu hari di masa tegang ini, seorang dari Bani Daus dari Yaman datang ingin menyembah berhala di depan ka’bah. Di perbatasan Makkah dia sudah di wanti wanti oleh kaum Quraisy. Bahwa ada seorang yang mengaku Nabi. Kata kata yang keluar dari mulutnya (ﷺ) penuh dengan sihir. Dia akan menjauhkanmu dari agama nenek moyangku. Dia akan memisahkanmu dari sanak keluargamu. Jika dia mendekatimu, jangan dengarkan. Jauhi dia sejauh jauhnya. Itulah pesan musuh Nabi. Mereka melemparkan tuduhan palsu. Mereka menyebarkan berita bohong tentang Rasulullah. Berikut penuturan Thufail sendiri. 

.

Ath-Thufail berkata,

.

Demi Allah, mereka terus menceritakan berita-beritanya yang aneh, menakut-nakutiku atas diri dan kaumku dengan perbuatan-perbuatan Muhammad yang terkutuk dan tercela sampai aku pun bertekad bulat untuk tidak mendekat kepadanya, tidak berbicara dengannya dan tidak mendengar apa pun darinya.

Manakala aku berangkat ke Masjidil Haram untuk melakukan thawaf di Ka’bah dan mencari keberkahan kepada berhala-berhala yang kepada merekalah kami menunaikan ibadah haji dan kepada merekalah kami mengagungkan, aku menyumbat kedua telingaku dengan kapas karena aku takut ada perkataan Muhammad yang menyusup ke telingaku.

.

Begitu aku masuk masjid, aku melihat Muhammad sedang berdiri. Dia salat di Ka’bah dengan shalat yang berbeda dengan shalat kami, beribadah dengan ibadah yang berbeda dengan ibadah kami. Pemandangan itu menarik perhatianku, ibadanya menggugah nuraniku. Tanpa sadar aku melihat diriku telah mendekat kepadanya sedikit demi sedikit, sehingga tanpa kesengajaan diriku telah benar-benar dekat kepadanya.

.

Allah pun membuka hatiku, sebagian apa yang diucapkan Muhammad terdengar olehku, aku mendengar ucapan yang sangat indah. Aku berkata kepada diriku, “Celaka kamu wahai Thufail, sesungguhnya kamu adalah laki-laki penyair yang cerdas, kamu mengetahui yang baik dan yang buruk, apa yang menghalangimu untuk mendengar ucapan laki-laki ini? Jika apa yang dia bawa itu baik, maka kamu harus menerimanya, jika buruk maka kamu harus membuangnya.”

.

Ath-Thufail berkata, “Aku diam sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan tempatnya menuju rumahnya, aku mengikutinya sampai dia masuk ke dalam rumahnya dan aku pun masuk kepadanya. Aku berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kaumku telah berkata tentangmu begini dan begini. 

.

Demi Allah, mereka terus menakut-nakuti dari ajaranmu sampai aku menutup kedua telingaku dengan kapas agar aku tidak mendengar kata-katamu. Kemudian Allah menolak itu semua dan membuatku mendengar sebagian dari ucapanmu. Aku melihatnya baik, maka jelaskan ajaranmu kepadaku.”

.

Di saat itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan agamanya kepadaku, beliau membacakan surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, aku tidak pernah mendengar sbuah ucapan yang lebih bagus dari ucapannya, aku tidak melihat sebuah perkataan yang lebih adil daripada perkaranya.

.

Pada saat itu aku ulurkan tanganku untuknya, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang haq selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, aku masuk Islam.” (Kisahmuslim.com)

.

Demikianlah kisah Thufail Bin Amru RA ketika memeluk Islam. Betapa banyak kemiripan kondisi Rasulullah Muhammad ﷺ dengan kita sekarang. 

.

Hari ini, Islam menjadi bulan bulanan. Kaum muslimin dimanapun banyak menjadi korban. Nyawa, harta dan keimanan mereka di bantai habis habisan. Di negeri Barat sendiri, pemeluk Islam di anggap aneh dan tidak masuk akal. Kok mau hidup di bawah kungkungan agama? Kok masih saja teguh memegang agama yang sudah berumur ribuan tahun? Mana ada surga dan neraka? Kalau mati ya sudah mati aja nggak usah dipikir nanti kemana. Anak anak muda di goda nafsunya dengan musik, film, food, fashion dan segala yang menyenangkan diri. Mereka di jauhkan dari rasa peduli. Nafsi nafsi...kalau lo mau baik, ya sana. Gue mau jelek ya jangan turut campur. Emang jelek dan bagus itu standar siapa? Ngapain juga ngoyo ngoyo ibadah. Muda foya foya. Tua kaya raya. Mati masuk Surga! 

.

Lah...apa iya begitu adanya? 

.

Islam dan Quran di jadikan bahan ejekan dan guyonan. 

Bahkan di Belanda Greet Wilder usul supaya melarang keberadaan Quran. 

Banyak Da’i yang tidak diperbolehkan melanjutkan perjuangannya. 

Di sekolah pun diajarkan ide ide yang bertentangan dengan kayakinan Islam yang jelas hukumnya. 

Kebenaran berusaha di tutup tutupi. Kebatilan dan kesalahan di danai. Pengemban Islam di persekusi. 

Dan setiap upaya menasehati di anggap sok suci. 

.

Rasulullah ﷺ harus melalui perjuangan sedemikian berat. 

Hanya karena meyakini dan memegang Islam, beliau dianggap jahat. 

Demi membela kebenaran dan mengajak manusia ke arah kebaikan malah di anggap sebagai pengkhianat. 

.

Demikianlah Allah ﷻ berkehendak. 

Dia ingin menjadikan beliau ﷺ sebagai contoh untuk kita. 

Sebagai seorang utusan dari Sang Maha Perkasa. 

Apapun yang beliau ﷺ lakukan akan menjadi panutan bagi pengikutnya.

.

Jika menjadi muslim taat harus menghadapi cacian, makian dan perlakuan buruk seperti yang dialami oleh Rasul dan para sahabat. Maka jangan berkecil hati. Itu tanda kita menapaki jalan yang benar. 

Karena musuh dari kebenaran adalah kebatilan. 

Musuh dari Allah ﷻ adalah pengikut syaitan. 

.

Mari perdalam ilmu agama. Kita baca Sirah Rasulullah ﷺ supaya kita mengerti apa yang sudah beliau hadapi. 

Dan kemungkinan fakta yang nanti harus kita lalui. Tanpa merasa paling menderita sendiri. 

.

Mari kuatkan iman. Karena memegang teguh Islam tidak lagi gampang. 

.

Berharap jalan hidup yang mudah boleh boleh saja. Namun tidak perlu terlalu resah jika kenyataan tidak selalu seindah harapan. 

.

Bersama setiap kesulitan akan ada kemudahan. Itu yang Allah ﷻ janjikan. Cobaan hidup apapun jika kita tidak dihadapkan pada pilihan harus kufur atau tetap beriman maka anggap saja itu cobaan ringan. 

.

Semoga Allah ﷻ mengkaruniakan keistiqomahan. 

.

London, 28 Mei 2019

23 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Monday, 27 May 2019

Lidah dan Rasa

#Day20

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Lidah dan Rasa


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


“A person’s tongue can give you the taste of his heart” Ibn Qayyim Al Jawziyyah


Jleb! Dalem banget gitu loh! Sebuah quote yang menjadi pengingat diri. 


“Lidah seseorang bisa mengindikasikan rasa dari hatinya.”


Kata ‘taste’ disini bermakna bagus tidaknya kualitas hatinya. Jika hatinya penuh dengan kebaikan, husnudan, terhindar iri dan dengki maka yang muncul dari lidahnya juga demikian. 


Jika hatinya benci terhadap kemaksiyatan dan ketidakadilan maka bukan sumpah serapah yang muncul namun nasihat kebenaran dan kesabaran. 


Jika hatinya setia pada halal dan haram maka bukan hinaan dan cacian yang didahulukan, namun dalil dan fakta yang di kedepankan. 


Itu jika kita bisa bertemu dan saling berhadapan. Namun ternyata lidah kita bisa juga diihsas melalui tulisan. Lewat status pendek kita di jejaring sosial. Semua mewakili isi hati dan perasaan. Maka jangan salahkan orang jika mereka menilai pribadi kita dari cara kita mengungkapkan. 


Meskipun sebagai pembaca, tak layak juga kita terburu buru menghakimi. Ada orang yang berniat baik tapi salah mengerti. Karenanya, pikirlah beribu kali sebelum tulisan kita terunggah. Sumpah serapah tidak mampu mengubah. Yang ada hanya saling menyakiti. Lalu apa guna dari status tadi?


Pertanyaannya, apakah iya...kita akan bersumpah serapah jika orang yang bersangkutan ada di depan kita? Ataukah sebenarnya itu rasa terdalam yang hanya berani dan mampu kita tuang dalam tulisan? 

Di dinding yang kita klaim milik pribadi. Namun faktanya di setting publik supaya di baca oleh seluruh penduduk negeri. 


Tegas menentang kesalahan dan kedoliman memang mutlak! Sudah di contohkan oleh para Rasul sekaligus para sahabat. Umar ibn Khatab dikenal tegas. Kata katanya tidak ada bias. Karakter beliau terkenal kuat. Menggugah semangat sekaligus menebar ketakutan untuk berbuat maksiyat. 

Namun beliau mengedepankan akhlak dalam menyusun lafad. Tidak pernah tersirat kesombongan apalagi sumpah serapah.


Tidakkah kita bahagia jika Allah memilih kita menjadi seperti Umar RA. Dimana kehadiran kita sudah membuat orang jera dan mundur teratur untuk berbuat dosa. Aku yakin kita pernah duduk bersama orang orang seperti ini. Kedekatan kepada Allah ﷻ lah yang memuliakan mereka. Ketegasan mereka dalam beramar ma’ruf nahi munkar yang membuat mereka menjadi legenda. Bukan karena lafad mereka yang asal asalan. Apalagi kata kata kasar. 


Tegas bukan bearti keras. Berprinsip bukan berarti keras kepala. Mempertahankan kebaikan harus dengan cara yang Ihsan. Ada waktu dan tempat dimana kita bisa menunjukkan kekuatan dan keagungan. Itu sudah di atur oleh syariat. 


Keluarga adalah saksi terbaik kita. Merekalah yang bisa melihat kita apa adanya. Saat kita senang, saat kita susah. Saat hati riang, khawatir, takut ataupun gundah. Apa kata mereka? Mari bertanya. Sudahkah lafad lafad indah itu menjadi refleks keseharian? Apakah doa dan kebaikan yang kita dahulukan? Atau hari hari kita justru dipenuhi rasa marah, frustrasi dan keluh kesah? 


Mari kita renungkan. Kesaksian Anas Bin Malik. Seorang sahabat yang tumbuh dan besar bersama baginda Rasulullah ﷺ 


Anas bin Malik Radhiyallahu anhu pernah tinggal dan membantu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun, baik dalam perjalanan maupun ketika di rumah. 


Anas Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 10 tahun tidak pernah mengatakan ‘Uh” kepadanya. 


Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah menyalahkan Anas Radhiyallahu anhu terhadap apa yang dilakukan, dengan mengatakan, “Kenapa engkau melakukan ini?” atau terhadap apa yang tidak dilakukan, dengan mengatakan, “Kenapa enkau tinggalkan?”


HR al-Bukhâri, no. 2768 dan Muslim, no. 2309 dari Hadits Anas bin Malik Radhiyallahu anhu.


Kita bilang kita mau menegakkan Islam dan kebenaran. Menjadi generasi yang mengajak kepada penerapan Al Quran. Sudahkah kita mencontoh Rasulullah Muhammad ﷺ? Dimana Aisyah RA menggambarkan akhlak beliau sebagai Quran yang berjalan. 


Memang betul bahwa perbaikan akhlak bukanlah solusi dari ribuan masalah. Entah itu hegemoni barat, kemiskinan, krisis pemimpin, keuangan, peperangan, kenakalan remaja, feminisme, budaya hedonisme dan berbagai konflik sosial. 


Namun akhlak berperan untuk menghias setiap amal. Dari situ akan nampak keindahan Islam di lingkup personal. Jika hal itu saja sudah sulit kita lakukan, adakah harapan dakwah akan sampai ke hati yang sudah keras dan diliputi bisikan syaitan? 


So...what would people taste when they hear what our tongue utter? 

Please do ponder and seek the answer. 


London, 25 Mei 2019

20 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Pengampunan dan Kemaafan 

#Day22

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Pengampunan dan Kemaafan


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Tahun 2002...Masih ingat perasaan deg deg-an saat berdiri di depan pintu ruang sidang. Hari itu diberitahukan siapa dokter muda yang lulus koas tahun pertama. Perasaan takut, gundah, khawatir, membayangkan sedihnya jika harus mengulang dan bahagianya jika bisa lulus tanpa halangan. Satu persatu dokter muda di panggil melalui satu pintu. Keluar dari pintu yang lain. Mereka duduk berjajar. Keputusan diumumkan di depan banyak orang. Tidak ada lagi yang bisa para koas lakukan. Hanya diam, pasrah, hening dan raut wajah yang mewakili suasana hati.

Berhubung ujian koas adalah ujian oral. Kelulusan dan tidaknya sedikit subyektif. Tidak ada yang tahu secara pasti hasilnya. Kami hanya bisa menduga duga.

.

Satu kata yang kami tunggu: LULUS! Jika bapak Dekan mengucapkan kata itu, maka serta merta kami masuk jenjang koas tahun kedua. Keluar dari ruang sidang riang gembira. 

.

Namun jika beliau berkata: “TIDAK LULUS”. Maka kami harus mengulang. Jaga malam di departemen yang sama. Kembali menjalani ujian oral. 

.

Aku merenung. Ini belumlah hari penghisaban. Hari dimana keputusan pengadilan dari Sang Maha Adil akan dikumandangkan. Tidak ada ujian ulang. Kematian telah di sembelih. Yang ada hanya keabadian. Pilihannya hanya dua. Surga atau neraka. Mata uangnya adalah rahmat Allah dan amal baik kita selama hidup di dunia. Karena sungguh tidak ada manusia yang mampu masuk surga hanya karena amalnya. 

.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu’anhu disebutkan sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam,


‎لَا يُدْخِلُ أَحَدًا مِنْكُمْ عَمَلُهُ الْجَنَّةَ، وَلَا يُجِيرُهُ مِنَ النَّارِ، وَلَا أَنَا إِلَّا بِرَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ

.

“Tidak ada amalan seorangpun yang bisa memasukkannya ke dalam surga, dan menyelematkannya dari neraka. Tidak juga denganku, kecuali dengan rahmat dari Allah” (HR. Muslim no. 2817)

.

Bayangkan di hari itu. Rasa apa yang ada di dalam hati kita? Takut dan khawatir yang tidak terukur. Kebingungan dan keresahan lebih besar dari sebuah gunung. Perkaranya demikian dahsyat hingga kita tidak akan tertarik untuk melihat semua orang yang telanjang bulat.

.

Dalam Shahîh Bukhâri dan Muslim dari A’isyah Radhiyallahu anhuma, ketika Ia mendengarkan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

.

‎يُحْشَرُ النَّاسُيَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنْظُرُ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ فَقَالَ الْأَمْرُ أَشَدُّ مِنْ أَنْ يُهِمَّهُمْ ذَاكِ

.

Manusia akan di kumpulkan dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan belum dikhitan. Aku bertanya, ‘Wahai Rasûlullâh, wanita dan laki laki semua akan saling melihat satu sama lain? 

.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Wahai ‘Aisyah kondisinya mengalahkan keinginan mereka untuk saling melihat satu sama lain.”[HR. Bukhari, no. 6527 dan Muslim, no. 2859]

.

Kabar ini sebenarnya sudah cukup untuk menjadi bahan renungan. Bahwa hari penghisaban akan sungguh mencekam. Ketakutan ini seharusnya menggerakkan kita beramal baik dan terus memohon ampunan. 

.

Adakah yang menjamin amal baik kita bersih dari Riya’?

Adakah yang menjamin amal baik kita di terima?

Adakah yang yang menjamin amal baik kita selalu lillahi ta’ala?

.

Wajar jika hati ini berdebar

Membayangkan hari kematian, kebangkitan dan penghisaban.

Wajar jika airmata ini mengalir

Membayangkan satu persatu keputusan Allah ﷻ dikumandangkan 

Satu persatu dosa kita diperhitungkan 

Satu persatu amal baik kita di telaah

Orang yang pernah kita sakiti dan dolimi maju dan menuntut keadilan

.

Kabar ini menjadi pengingat, supaya kita menyiapkan diri. Demi hisab yang mudah. Kalau perlu kita mohon kepada Allah agar buku catatan amal tidak di buka oleh malaikatNya. 

Dikarenakan ampunan yang kita minta selama di dunia. Dan upaya keras kita meraih ridho Nya. 

.

Bayangkan jika Allah ﷻ tidak lagi peduli dengan buku catatan karena Dia ridho dengan usaha kita? 

Bayangkan jika Allah ﷻ memudahkan hisab, dengan menghapus semua dosa.

Bayangkan jika Allah ﷻ menutup buku catatan dan mengijinkan kita langsung masuk surga?

.

Apakah mungkin? Tidak ada yang tidak mungkin bagiNya. 

.

Layaknya seorang anak. Jika kita punya anak yang selalu taat. Berusaha keras membahagiakan orang tuanya. Menghindar dari perbuatan yang membuat kita marah. Maka sekali mereka berbuat salah, maka dengan mudah kita memaafkan dan melupakan.

.

Tanpa menyamakan Allah ﷻ dengan ciptaanNya. Dia sudah menjanjikan kemaafan untuk hambaNya yang mau bertaubat. Hamba yang merendah dan mengakui kesalahan dan kekhilafannya. Hamba yang yakin akan Rahman RahimNya. Di siang hari mereka berusaha selalu taat. Di malam hari mereka berkhalwat bersama Rabbnya. 

.

Mumpung waktu masih ada, pinta kemaafan dan ampunan dariNya. Al Afuw mampu menghapus catatan keburukan. Al Ghaffar mampu menutup segala kesalahan.

.

Imam al-Ghazali rahimahullah, dalam karyanya al-Maqshad al-Asna fi Syarhi Asma’ Allah al-Husna. al-Afuwwu (pemaafan) lebih tinggi dari pengampunan (al-Ghaffar dan al-Ghafur). Menurutnya, pengampunan (al-Ghaffar dan al-Ghafur) hanya sebatas ‘menutupi’ kesalahan kita, sehingga kesalahan itu tidak menimbulkan efek negatif terhadap diri kita. Namun, pada hakikatnya, kesalahan itu tetap ada.

.

Makna a-Ghaffar dan al-Ghafur adalah as-sitru, yang artinya ‘menutupi’. Dengan begitu, kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan akan dibuka kembali oleh Allah di saat kita berhadapan satu-persatu di hadapan-Nya, kelak pada hari kiamat.

.

Sedangkan makna al-Afuwwu adalah al-mahwu wa izalat al-atsari (menghapus dan menghilangkan bekas). Persis seperti kita men-delete secara permanen file komputer kita, yang tidak bisa kita recycle bin.


Ketika Allah memaafkan kita, maka kesalahan kita itu terhapus dari buku catatan amal kita, bahkan malaikat yang mencatat pun tidak mengetahuinya. 

(Sumber: muslimmedianews.com)

.

Apalagi yang kita tunda? Basahi bibir ini dengan dzikir spesial Lailatul Qadr. Ucapkan dengan penuh ketulusan di tengah segala kesibukan. Hadirkan ketaatan di setiap amal. Semoga Rahmat dan ampunan Rabb kita dapatkan. Amin

.

London, 27 Mei 2019

22 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Memburu Malam Mulia

#Day21

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Memburu Malam Mulia

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London

.

Diantara trilyunan manusia 

Dari jaman Nabi Adam Alaihissalam hingga sekarang

Allah ﷻ memilih Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia paling dicintaNya

.

Diantara ribuan tempat di muka bumi

Allah ﷻ memuliakan tiga tempat sebagai tanah suci

Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al Quds di Palestina

.


Diantara sekian banyak hari

Allah ﷻ memilih hari Jumat sebagai hari yang diberkahi

.

Diantara 12 bulan yang ada, Allah ﷻ melipatgandakan pahala di bulan Ramadan

.

Diantara 29/30 hari bulan Ramadan, Allah ﷻ khususkan 10 hari terakhir untuk di perhatikan

.

Karena di dalamnya ada malam Lailatul Qadr

Malam yang lebih baik dari seribu bulan

Sekali lagi...lebih baik. Bukan sebaik seribu bulan. Namun lebih baik darinya

Sebuah amal di malam ini berpahala layaknya kita beramal selama 83 tahun lamanya

.

Malam dimana para malaikat memenuhi jagat raya

Bahkan malaikat terbaik pengirim wahyu Jibril Alaihissalam ikut bersama mereka

Di malam itu mereka bersama orang orang yang terjaga

Menyebut nama Allah ﷻ, beribadah dan berdoa 

.

Malam ini menjadi rahasia Allah ﷻ Yang Maha Rahman

Diberikan kepada mereka yang mencari dan yang benar benar berusaha mendapatkan kemuliaan

Tidak ada yang tahu dengan pasti kapan dan kepada siapa nikmat itu Allah ﷻ berikan

Karenanya Rasulullah menganjurkan

.

Mencari Lailatul Qadr setiap malam di sepuluh hari terakhir

Tidak hanya di malam ganjil namun juga di malam genap

Mengisinya dengan berdoa, i’tikaf, membaca Quran dan salat

Tadabbur, bersedekah dan berdzikir

.

Coba kita bayangkan...

Seandainya orang yang kita kagumi

Datang sebagai kejutan 

Di minggu yang telah ditentukan

Di tempat yang telah di beritahukan 

Maka sewajarnya kita berusaha hadir dan menunggu setiap hari

Demi bertemu dengan pujaan hati

.

Sungguh aneh, jika kita tidak menjadikan pencarian ini 

Prioritas dari segala aktivitas

Rencana matang dan mengurangi urusan dunia

Memenuhi masjid dan mushola

Tidur siang supaya malam bisa begadang

Mengurangi jumlah makanan supaya ibadah menjadi ringan

.

Untuk kaum ibu yang seharian sudah dipenuhi kegiatan

Mengurus anak, menyiapkan buka puasa dan bekerja 

Atau yang kesulitan pergi ke masjid atau mushola

Tidak menjadi alasan untuk tidak ikut berlomba 

Ajak anak dan tetangga dekat merapat

Kondisikan suasana rumah

Supaya mereka juga semangat untuk beribadah

Atas usaha yang dilakukan, beri mereka hadiah

Supaya mereka mengingat malam Ramadan sebagai memori indah

.

Ucapkan doa sesuai Sunnah

.

‎اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

.

"Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu anni"

.

Artinya : "Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku." (HR. Tirmidzi)

.

Semoga Allah ﷻ memilih kita menjadi peraih Lailatul Qadr di Ramadan ini dan seterusnya. 

.

London, 26 Mei 2019

21 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Friday, 24 May 2019

Perspektif tentang Ujian

#Day19

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Perspektif tentang Ujian


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Jadikan Buah Lemon Itu Minuman yang Manis!


Orang cerdik akan berusaha merubah kerugian menjadi keuntungan.


Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk

dan berlipat ganda.


Ketika Rasulullah s.a.w. diusir dari Makkah, beliau memutuskan untuk menetap di Madinah dan kemudian berhasil membangunnya menjadi sebuah

negara yang sangat akrab di telinga dan mata sejarah.


Ahmad ibn Hanbal pernah dipenjara dan dihukum dera, tetapi karenanya pula ia kemudian menjadi imam salah satu madzhab. 


IbnuTaimiyyah pernah di penjara, tetapi justru di penjara itulah ia banyak melahirkan karya. 


As-Sarakhsi pernah dikurung di dasar sumur selama bertahun-tahun, tetapi di tempat itulah ia berhasil mengarang buku sebanyak dua puluh jilid. 


Ketika Ibnul-Atsir dipecat dari jabatannya, ia

berhasil menyelesaikan karya besarnya yang berjudul Jami'ul Ushul dan an-Nihayah, salah satu buku paling terkenal dalam hadits. 


Demikian halnya dengan Ibnul-Jawzy, ia pernah diasingkan dari Baghdad, dan karena itu ia menguasai qiraah sab'ah.


Malik ibn ar-Raib adalah penderita suatu

penyakit yang mematikan, namun ia mampu melahirkan syair-syair yang sangat indah dan tak kalah dengan karya-karya para penyair besar zaman Abbasiyah. 


Lalu, ketika semua anak Abi Dzuaib al-Hudzali mati meninggalkannya seorang diri, ia justru mampu menciptakan nyanyian-

nyanyian puitis yang mampu membekam mulut zaman, membuat setiap pendengarnya tersihir, memaksa sejarah untuk selalu bertepuk tangan saat mendengarnya kembali.


Begitulah, ketika tertimpa suatu musibah, Anda harus melihat sisi yang paling terang darinya. Ketika seseorang memberi Anda segelas air lemon, Anda perlu menambah sesendok gula ke dalamnya. Ketika mendapat hadiah seekor ular dari orang, ambil saja kulitnya yang mahal dan tinggalkan bagian tubuhnya yang lain. 


Ketika disengat kala jengking, ketahuilah bahwa sengatan itu sebenarnya memberikan kekebalan pada tubuh Anda dari bahaya bisa ular.


Kendalikan diri Anda dalam berbagai kesulitan yang Anda hadapi! Dengan begitu, Anda akan dapat mempersembahkan bunga mawar dan melati yang harum kepada kami. Dan {Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.}

(QS. Al-Baqarah: 216)

 

Sebelum terjadi revolusi besar di Perancis, konon negara itu pernah memenjara dua sastrawan terkenalnya. Salah seorang dari keduanya sangat optimistis dan yang seorang lagi pesimistis bahwa revolusi dan perubahan akan segera terjadi. Setiap hari keduanya sama-sama melongokkan kepala

melalui sela-sela jeruji penjara. Hanya saja, sang sastrawan yang optimistis selalu memandang ke atas dan melihat bintang-bintang yang gemerlap di langit. Dan karena itu ia selalu tersenyum cerah. 


Adapun sastrawan yang pesimistis, ia selalu melihat ke arah bawah dan hanya melihat tanah hitam di depan penjara, dan kemudian menangis sedih.


Begitulah, sebaiknya Anda selalu melihat sisi lain dari kesedihan itu. Sebab, belum tentu semuanya menyedihkan, pasti ada kebaikan, secercah harapan, jalan keluar serta pahala. 


(Dikutip dari buku La Tahzan karya Dr Aidh Al Qarni).


Seorang sheikh pernah berkata. Bahwa fitnah (cobaan) dunia, apapun bentuknya, dialami oleh seorang individu, sebuah masyarakat ataupun sebuah negara, adalah cara Allah ﷻ menajamkan dan menguatkan mereka. Bak pisau yang di asah oleh pandai besi. Di bakar dengan api yang sangat panas. Di tempa dengan besi besar. Makin sering prosesnya dilakukan maka pisau akan semakin tajam. Makin telaten mengikuti prosesnya maka kualitas pisau itu tak perlu diragukan. 


Demikian juga kehidupan. Allah ﷻ menguji seseorang untuk melihat kualitas iman. Apakah sekuat baja atau selevel karet. Apakah teruji oleh bara api ataukah meleleh saat terkena panas. 


‎أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ


Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?

(QS: al-'Ankabuut Ayat: 2)


‎وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

(QS: al-'Ankabuut Ayat: 3)


Pernahkan kita melihat, orang yang terpenjara karena keislaman mereka. Keluar penjara justru semakin kokoh iman dan pengorbanannya. 


Pernahkah kita dengar ada orang yang terpenjara karena alasan yang sama. Namun keluar menjadi penghianat Allah ﷻ dan rasulNya.


Ada orang yang di uji dengan anak, pasangan, harta, orang tua, kesehatan, lingkungan dan teman. 


Ada orang yang diuji dengan waktu luang, kecerdasan dan segala kemudahan. 


Ummat di uji dengan penguasa yang khianat. Kaum muslimin di uji dimana kekayaan mereka di babat. Kita di uji dengan kehinaan karena Quran hanya di taruh lemari. Dibaca tanpa di tadaburi. Di hafalkan tanpa di terapkan. 


Pertanyaan: bagaimana agar kita bisa lulus ujian? Silahkan tengok kisah Anbiya’ dan Sahabat Rasulullah Muhammad ﷺ 

Disana akan kita temui semua cara dan contoh serta keteguhan yang diperlukan untuk bisa menempuh dan lulus ujian. 

Untuk tahu kekuatan iman. Coba kita lihat ujian yang Allah ﷻ berikan. Sudahkah kita kokoh memegang Islam? Ataukah kompromi saat kesulitan menghadang? 


London, 24 Mei 2019

19 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Dicari...

#Day18

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Dicari...


Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Siapa yang tidak kenal Abu Hurairah? Perawi hadis ternama dari Suku Ad Daus dari Yaman. Berhijrah ke Madinah untuk bisa bersama kecintaannya Rasulullah Muhammad ﷺ. Meninggalkan seluruh harta dan kekayaan. Menjadi Ahlus suffah (kaum fakir miskin) yang tinggal di beranda masjid nabawi. Abu Hurairah memilih mengabdikan diri dan waktunya untuk menimba ilmu Allah ﷻ. Langsung dari guru dan baginda mulia ﷺ. Kekuatan hafalan dan kecerdasannya terbukti dari ribuan hadis yang beliau riwayatkan. Berkat doa dari baginda mulia ﷺ 


Sufyan bin 'Uyainah, dari Az Zuhri, dari Al-A'raj, dia berkata : aku mendengar Abu Hurairah berkata : Kalian mengira bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, dan Allahlah Dzat yang Maha menepati janji. Dulu aku adalah orang yang miskin yang selalu membantu Rasulullah saw yang makan sekedar makanan pokok saja, sedangkan orang-orang muhajirin disibukkan dengan perniagaan di pasar-pasar, dan orang-orang anshar disibukkan dengan harta benda mereka, lalu Nabi saw bersabda : 


“Siapa yang mau membentangkan bajunya maka dia tidak akan pernah lupa terhadap apa yang ia dengar dariku.”


Maka aku pun membentangkan bajuku hingga beliau selesai mengucapkan sabda-sabdanya lalu aku menempelkan bajuku ketubuhku. 


Setelah itu aku tidak pernah lupa akan hadits-hadits yang aku dengar dari beliau. (HR. Muslim No. 2492)

 

Ya...kemiskinan Abu Hurairah RA sangat mengenaskan. Pernah beliau sampai pingsan bahkan kejang akibat kelaparan. Mengganjal perut dengan batu yang di ikatkan di pinggang menjadi hal yang lumrah. 


Suatu hari, beliau sudah sangat lapar dan berharap ada tawaran makanan. Abu Bakr As Siddiq RA lewat. Abu Hurairah sengaja bertanya tentang sebuah ayat, mendiskusikannya sambil berjalan. Hingga tiba di depan pintu rumah Abu Bakr RA. Abu Hurairah berharap Abu Bakr RA mengajaknya masuk ke dalam. Menawari makanan. Namun semua tinggal harapan. Abu Bakr tidak memanggilnya dan kembali pulang. 


Setelahnya beliau melihat Umar RA. Hal yang sama beliau lakukan. Namun Umar RA pun tidak menawarinya masuk ke dalam rumah dan menawarinya makanan. 


Akhirnya, Rasulullah Muhammad ﷺ lewat. Beliau ﷺ faham gelagat Abu Hurairah. Ditawarilah beliau mampir ke rumah. Ada susu di dalam gelas. Abu Hurairah di minta memanggil semua ahli Suffah. Padahal jumlah susu dan jumlah orang tidaklah sepadan. Abu Hurairah sempat khawatir, akankah susu itu cukup untuk semua orang. Berkah dari tangan Rasulullah ﷺ. Susu yang cuma satu gelas cukup untuk mengenyangkan banyak orang. Termasuk Abu Hurairah dan terakhir di minum oleh Rasulullah ﷺ sendiri. 


Inilah penderitaan dan cobaan sahabat ternama Abu Hurairah RA. Kemiskinan yang tidak lantas membuat beliau buta. Menjual kehormatan dengan meminta ataupun menghiba. Beliau tetap berusaha mencari jalan. Dan ternyata barakah dari Allah ﷻ dan rasulNya beliau genggam.


Ramadan bulan berbagi. Banyak sekali orang yang berhak mendapat zakat dan sadaqah. Sistem kapitalis sudah menjadi kontributor besar akan adanya kesenjangan sosial. Yang kaya makin kaya. Yang miskin makin tertindas. 


Jika kita menoleh ke kanan dan ke kiri. Pasti akan banyak orang seperti Abu Hurairah. Mereka miskin namun punya kehormatan. Miskin namun tetap setia pada kehalalan. Miskin dan tetap semangat mendakwahkan Islam. 

Miskin dan selalu mengedepankan kepentingan ummat dari pada diri mereka sendiri. 

Miskin namun tidak pernah meratapi nasib. Mengadu hanya kepada Allah ﷻ yang Maha Tahu perkara ghaib. 


Carilah orang orang ini. 

Bantulah mereka. Mereka tidak pernah meminta. 

Namun sebenarnya mereka membutuhkan kita. 

Mereka selalu bersyukur dengan sedikit yang mereka punya. 

Selalu menyebutkan kebaikan Allah ﷻ kepada mereka. 

Selalu nampak bahagia tanpa beban. 

Namun jauh di lubuk hati terdalam, mereka menunggu uluran kebaikan dari orang yang peka. 

Siapa tahu, kebahagiaan mereka berbuah doa baik untuk kita. 


Pencarian ini menuntut kita mengenal orang di sekitar. Berbaur dengan siapa saja tanpa memandang kasta. 

Mendengar dan mengamati. 

Bertanya dan meneliti. 

Aku yakin pasti kita bisa temui. 


London, 23 Mei 2019

18 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah Member Revowriter, London  Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman? Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita a...