#OPEy2021Day05
.
National Lockdown di Inggris Dan Pemahaman
.
oleh: Yumna Umm Nusaybah
(Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar)
.
Akhirnya, ketiga kalinya National lockdown terjadi di Inggris. Angka infeksi meningkat tajam beberapa minggu terakhir. Para ahli menyampaikan bahwa adanya variasi baru dari virus Corona adalah penyebab utamanya. Sejak bulan September tahun lalu para peneliti sudah menemukan setidaknya 17 variasi mutasi dari virus corona ini. Review dari aturan ini akan dilakukan paling tidak tanggal 15 Februari 2021. Senin 4 Januari 2021 di laporkan kasus harian mencapai 58.784 dengan angka kematian 407 orang dalam waktu 28 hari telah dinyatakan positif (BBC.com). Nampak sekali pemerintah Inggris kewalahan menghadapi lonjakan kasus positif yang terus meningkat meskipun liburan natal dan tahun baru sudah dilakukan lockdown di London dan daerah sekitarnya dengan harapan jumlah kasus menurun. Ternyata kenyataan tidak seindah harapan, walhasil karantina nasional harus diberlakukan.
.
Anak-anak yang seharusnya masuk sekolah (usai liburan musim dingin) tanggal 6 Januari besok, harus kembali distance learning alias belajar dari rumah. Rencana awal, daring dilakukan paling tidak sampai tanggal 18 Januari 2021. Besar kemungkinan berlanjut sampai dengan liburan cawu di pertengahan Februari mendatang. Padahal sejak September 2020 mereka sudah kembali tatap muka hanya saja jika ada kasus positif salah satu peserta didik maka ‘social buble’ (yang berinteraksi langsung) harus isolasi juga. Walhasil ada siswa yang tiap dua minggu harus isolasi.
.
Sayangnya banyak juga orang yang belum percaya bahwa kasus covid-19 ini nyata. Padahal sudah banyak memakan korban. Akankah mereka hanya percaya jika anggota keluarganya menjadi salah satu korbannya?
Ada juga laporan dari teman kemarin yang menjadikan dalih doa, membaca Quran bersama sebagai alasan untuk kumpul-kumpul meskipun aturannya jelas melarang acara sosial.
.
Sebagai manusia, wajar jika ketidakpastian ini membut kita gundah gulana. Tak tahu bagaimana harus menyikapinya. Tak bisa berencana. Bahkan mungkin tak ingin lagi menyusun mimpi dan rencana panjang. Respon dari masing-masing orang akan berbeda meskipun orang tersebut sama sama faham Islam. Kenapa? Karena tidak selamanya manusia dituntun oleh pemahamannya. Kadang pertahanan pertama yang kita pakai untuk menghadapi konflik adalah emosi kita. Mengedepankan emosi dalam menyikapi sesuatu bisa menyebabkan kita membesarkan masalah kecil atau sebaliknya mengecilkan masalah yang sebenarnya besar dan vital. Emosi tidak seharusnya diberi peran untuk menyelesaikan permasalahan tapi emosi hanya diperlukan untuk memberi rasa kepada sebuah realita. Itu saja. Rasa ini lah yang membuat hidup lebih indah atau sebaliknya lebih susah. Untuk mencari dan mendapatkan solusi maka benak dan akal lah yang berperan.
.
Sama halnya dengan covid-19 ini. Jika emosi dibiarkan merajalela maka panic attack dan anxiety (cemas) akan mendominasi. Bahkan bisa menjadi depresi yang bisa berakibat fatal. Oleh karena itu, kita perlu mengontrol emosi ini dengan sebuah pemahaman.
.
Apa itu pemahaman? Pemahaman berbeda dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hanyalah sekedar informasi yang masuk ke dalam benak. Sedang pemahaman adalah pengetahuan/ informasi yang sudah kita olah dalam benak kita sendiri, kita adopsi, lalu kita jadikan sebagai dasar dalam melihat sebuah realita. Pemahaman menjadi dasar dalam memutuskan ataupun memilih jalan keluar.
.
Contoh sederhana, saat kita ingin mendapatkan surat ijin mengemudi (SIM). Di Inggris sendiri kita harus lulus dua tahap. Tahap teori dan tahap praktik. Untuk teori, kita harus tahu tanda-tanda lalu lintas dan apa yang harus dilakukan. Sedang untuk praktik, kita harus menggunakan apa yang sudah kita tahu dan baca sebagai panduan saat kita mengendarai mobil. Jika kita taat dengan aturan lalu lintas maka bisa dipastikan kita tidak akan kena tilang. Sekedar tahu teori lalu lintas adalah pengetahuan. Ketika kita percaya (dalam hal ini dihafalkan dan digunakan) aturan tadi dan kita jadikan teori yang sudah kita tahu sebagai panduan ketika mengendarai mobil, itu artinya kita sudah menjadikan pengetahuan itu sebagai pemahaman.
.
Dari sini kita bisa menjawab pertanyaan, bagaimana mungkin seseorang mengkaji Islam bertahun tahun tapi tak nampak efeknya? Tingkah polahnya masih sama saja. Hal itu karena topik kajian itu hanya menjadi pengetahuan, dikumpulkan hanya seperti tumpukan buku tapi tak pernah mereka internalisasi, tak pernah mereka pikirkan sendiri dan tak pernah mereka adopsi. Ketika kita tak tertarik untuk menjadikan ilmu itu sebagai dasar dan panduan perbuatan maka pengetahuan itu belum menjadi pemahaman.
.
Karenanya, tahu ilmu tentang qadha dan qadar tidak menjamin kita tetap tenang, tidak panik, tidak cemas sampai kita mengadopsi pengetahuan itu sebagai pemahaman
.
London, 5 Januari 2021
.
#Kompaknulis
#OPEy2021bersamaRevowriter
#positifliterasi
#GoresanYumna
#COVID19
#Gemesda
Comments