Wednesday, 7 August 2019

Konunikasi dalam Rumah Tangga

#Day3


"Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Mba Hesti Rahayu dan aku akan menantang salah satu dari temanku untuk menulis di akhir tulisan ini."


*****************************


Komunikasi dalam Rumah Tangga 

Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter London

.

"Salam Sis...can I call you please? I really need your help."

.

Deg! Kalau ada SMS singkat, padat jenis beginian, ga tega banget menunda. Meski sedang repot biasanya aku tinggalkan semuanya. Ada urgensi dan kepanikan dalam kalimat tersebut dan feelingku biasanya terbukti benar. Demikian juga hari itu.

.

Aku langsung telpon dia. Sebut saja namanya Laila (bukan nama asli). Perkenalan kami cukup singkat. Dalam hitungan bulan Laila telah memberiku kepercayaan menjadi tempat curhat masalah rumah tangganya. Memang ini bukan kali pertama dia mengontak aku dengan nada yang hampir sama. Hari itu, dia menangis sejadi jadinya. Dia mempertimbangkan untuk lari dari rumah dan membawa anaknya yang masih berusia satu tahun. Padahal dia tidak punya keluarga satupun di Inggris. Seperti halnya aku, dia seorang imigran dari Pakistan yang pindah ke inggris karena di nikahi oleh laki laki berwarga negara Inggris. Laila berulang kali menyampaikan jika dia sudah mantap ingin meminta cerai dan menghilang dari keluarga. Laila mengaku bahwa suaminya telah membuatnya jatuh ke jurang depresi. Berkali kali dia berharap tidak bangun dari tidurnya. Seringkali, dia tidak punya tenaga merawat dirinya apalagi mengurus anaknya. Sedih aku mendengar kisahnya.

.

Setelah aku upayakan untuk menenangkan Laila, aku ajak dia bertatap muka. Tujuanku sekedar menguatkan sekaligus membantu mendudukkan dan memetakan masalah yang dia hadapi. Dari diskusi panjang kami, aku simpulkan bahwa komunikasi dan perbedaan persepsi lah yang menjadi biang keroknya. 

.

Mereka sama sama menginginkan Islam sebagai standar namun kenyataannya budaya dan tradisi Pakistan justru sering menjadi acuan. Mereka sama sama ingin memainkan peran suami isteri seperti yang Allah ﷻ gariskan, namun nyatanya campur tangan keluarga besar justru menjadi batu penghalang. 

.

Pernikahan tidak hanya menyatukan dua jenis manusia, namun ia menyatukan dua keluarga, dua cara pandang, dua cita cita, dua kebisaan, dua budaya, dua rasa. Karenanya, jika ada ‘breakdown communication’ maka masalah yang sepele bisa menjadi bom waktu. 

.

Bicara tentang komunikasi, ada 4 elemen yang mempengaruhinya: 

1. Sender (pengirim)

2. Message (pesan yang ingin disampaikan)

3. Medium (cara/alat/media yang di gunakan - verbal atau non verbal)

4. Receiver (penerima pesan)

.

Suami bukanlah paranormal yang bisa membaca isi hati sang istri dan demikian juga sebaliknya. Jika suami bukan tipe yang ‘peka’, ya nggak ada salahnya si isteri menyampaikan keinginannya secara blak blak-an. Pesan yang disampaikan pun harus jelas. Kalau hanya frase "Kok kebangetan sih Mas, mosok nggak faham sama kemauan isteri sendiri?" Maka kemungkinan untuk salah paham pastilah besar, karena suami harus menebak nebak kemauan isteri. Jika salah tebak dianggap tidak perhatian. Jika benar, masih dianggap kebetulan 🙂 serba salah deh! 

.

Yang lebih parah, jika isteri mengajukan pertanyaan ‘jebakan’ semacam: "Gimana mas? Aku sudah kelihatan langsing belum?" Maunya kaum perempuan sih dijawab :"Iya, sudah Dek!" Perkara kenyataannya masih banyak tumpukan lemak di sana sini, tak peduli. Kalau suami jawab : "Masih belum Dek, ayo lanjutkan dietnya" duh...piring terbang bakal mendarat 😂.

.

Kasihan memang kaum lelaki, di jawab jujur, dikira ngawur ...di jawab ga jujur, malah sewot. 

.

Menyampaikan curhatan hati atau protes kepada suami/ isteri pun perlu dipikirkan caranya(bicara langsung kah atau lewat surat/SMS) dan waktunya. Jangan sampai saat isteri yang sedang nggak enak badan dan sedikit lengah dalam mengurus rumah, suami protes dengan ruang tamu yang berantakan atau makanan yang kurang garam. Demikian juga isteri, saat suami kelelahan mencari nafkah, jangan kemudian nerocos protes dengan uang belanja yang kurang. 

.

Ada sebuah nasehat yang bagus dari seorang motivator bernama Jay Shetty. Berikut yang beliau sampaikan:

.

1. Mencintai itu bermakna tumbuh bersama. Menurutku, pasangan harus saling menyesuaikan seiring dengan perubahan kondisi dan bertambahnya kebutuhan. Jika pasangan belum memiliki anak, tentu dunia milik mereka berdua. Seiring bertambahnya anak dan tanggung jawab maka dibutuhkan pula adaptasi sikap dan pritotitas.

.

2. Hindari upaya merubah pasangan kita. Pasangan kita tidak harus menjadi sama persis seperti kita. Apalagi berharap mereka sesuai dengan imajinasi kita. Pasangan justru disatukan oleh perbedaan mereka. Perbedaan itulah yang nantinya membuat pasangan saling membantu, mengisi dan membangun karakter yang belum dimiliki. 

.

3. Janganlah memilih seseorang karena orang tersebut membuat kita bahagia namun jadilah seseorang yang bisa membuat diri kita sendiri bahagia. Karena sesungguhnya pasangan kita tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Kita sendirilah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. Pernahkah kita melihat orang yang berlimpah harta, dikaruniai sekian banyak putera, keluarga kaya namun tetap tidak bahagia? Tentu pernah! Karena bahagia adalah ‘mindset’ yang hanya bisa di bentuk dan di latih oleh pemilik ‘mind’ itu sendiri.

.

4. Ketahuilah dan kenalilah kapan kita harus memimpin dan kapan kita harus memberi kesempatan pasangan kita untuk ‘memimpin’. Kapan kita harus taat dan diam mendengarkan dan kapan kita harus cekatan mengambil keputusan. 

.

5. Setiap kali ada tantangan atau masalah, hindari pemikiran bahwa kita sedang melawan pasangan kita. Berfikir lah bahwa kami (aku dan pasangan) bersama sama sedang melawan (menghadapi) tantangan atau masalah tadi. Jadilah tim yang solid dan bahu membahu menyelesaikannya.

.

6. Usahakan kematangan spiritual kita ada di titik yang sama. Bagi seorang Muslim, sebisa mungkin pengetahuan agama dan proses hijrah suami isteri terjadi beriringan dan bersamaan. Jika demikian maka tidak perlu ada perceraian hanya karena isteri atau suami lebih islami.

.


Selanjutnya aku ingin menantang Zahra Jannah untuk menuliskan nasehat pernikahan yang paling berkesan selama ini.


London, 7 Agustus 2019


#RevowriterWritingChallenge

#BeraniMenulisBeraniBerbagi

#Gemesda

#RWCDay3

Monday, 5 August 2019

Percaya Diri

#Day2


"Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Wiwin Erwina dan aku akan menantang salah satu dari temanku untuk menulis di akhir tulisan ini."


*****************************


Percaya Diri

Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter London

.

Once upon the time...Di desa Antah Brantah. Lahir seorang anak perempuan dari seorang ibu yang bermimpi besar. Ibu yang masih grothal grathul membaca Al Quran. Bapak yang juga masih belajar. Sang ibu bermimpi besar supaya puterinya mampu mengkhatamkan tilawah Quran sebelum lulus SD. Sang ibu ingin puterinya jago berorasi bicara tentang agama. Sang ibu selalu ingin anaknya menjadi juara kelas. Sang ibu bermimpi puterinya menyabet juara di setiap lomba Musabaqah Tilawatil Quran. Mimpi yang sederhana. Namun untuk orang desa, mimpi ini sangat visioner. 

.

Siapa sangka mimpi itu membawa berkah karena sang anak ditakdirkan menjadi guru ngaji di sebuah Madrasah di London. Mengajar tilawah, Hifd, bahasa Arab Basic hingga Islamic Studies. 

.

Siapa sangka, dengan modal mimpi dan kerja keras tim beranggotakan Ibu, Bapak dan Paman, akhirnya jadi kenyataan. 

.

Saat kelas 5 SD setiap ba’da Subuh, Asr dan Maghrib Bapak mengayuh sepeda dan membonceng aku dan saudara kembarku untuk berguru ke Pak Zulul. Beliau ustad muda di desaku. Penuh ketelatenan beliau mengajariku bagaimana membaca Quran dengan Tajwid dan menghafalkan surat Yasin. Di sela sela kesibukannya, pak Zulul masih sempat menulis teks pidato berlembar lembar (total ada 9 halaman). Tema utamanya adalah kenakalan remaja. Tugasku: menghafalkan seluruh isi teks sampai titik koma. Semua atas permintaan Ibundaku. Setiap ada hajatan di desa atau di kota lain, dengan dorongan ibu, Pak Zulul mengajukan kami menjadi salah satu ‘pembicara’. Desa demi desa, kota demi kota di Banyuwangi bahkan sampai ke kota Jember pun kami datangi. Mereka menyebut aku dan saudara kembarku sebagai Da’i kembar cilik. Berbagai hajatan seperti Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi tidak pernah sepi dari panggilan. Meski belum seratus persen ‘ngeh’ (baca: faham) dengan isi kajian yang kami berikan tapi kami sudah senang jika pemirsa riuh bertepuk tangan. Mungkin mereka lebih menikmati suara mungil dan lucunya aksi kami daripada mengerti dan menghayati isi kajian. Sesekali terselip kalimat berbahasa Inggris yang -percaya atau tidak-masih aku ingat hingga sekarang. Demikian bunyinya: Education is one of the most important element in the development of a country! Bagaimana nada bicara untuk bait itupun masih aku ingat dengan sangat jelas. Menunjukkan, betapa memori yang terukir saat kanak kanak seolah tertulis di atas batu. Tertancap kuat. Kuncinya adalah pengulangan. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku harus praktek membawakan isi teks pidato 9 lembar itu di dalam kamar. Tidak boleh keluar kamar sampai selesai ‘rehearsal’. 

.

Inilah benih PeDe tampil di depan yang orang tuaku tanamkan sejak masa kanak kanak. Budaya lomba-lomba di Indonesia dimana anak anak ikut serta, memang bagus untuk memupuk benih PD mereka. Meski ada juga yang lebih setuju untuk menghindarkan anak anak dari stresor semacam keharusan mereka neng-handle rasa kecewa, kalah dan sakit hati lainnya. 

.

Jika ditanya pernah nggak ndredeg tampil di depan? Ya jelas pernah. Tapi seperti kata pepatah Inggris: ‘Practice makes Perfect’. Semakin banyak praktek semakin terbiasa. Awalnya ndredeg tapi akhirnya nggak terpikir. Apakah suka tampil di depan? Biasa saja. Hampir hampir pertanyaan ini sama seperti pertanyaan apakah suka berjalan di trotoar sebelah kiri? Lah mau berjalan di sebelah kiri atau kanan rasanya tidak ada beda 🙂. Kalau berjalan dan mau aman ya di trotoar bukannya di tengah jalan karena itu bukan pilihan. Ketika tampil di depan itu sebuah kebutuhan bahkan kadang bagian dari kewajiban, suka tidak suka harus tetap dilakukan. Setelah mengenal Islam dan faham akan kewajiban menyampaikan (meski tidak harus selalu tampil di podium), justru pembiasaan kecil dari Ibu dan Pak Zulul membawa berkah. Semoga menjadi amal Jariyah bagi keduanya. 

.

Setelah beranak pinak, paradigma tentang cara membangun PD ini akhirnya berubah (meski masih harus terus di perbaiki). PD anak tidak harus di bangun dengan ikut lomba atau memenangkan perlombaan #AkuSiapDiProtes. Tak jarang, lomba lomba ini lebih kepada testimoni pencapaian orang tua menggembleng anaknya. Wajar jika terkadang eforia orang tuanya jauh melebihi sang anak saat menang lomba. Menurutku, kemauan berpartisipasi dalam lomba saja sudah cukup menjadi testimoni keberhasilan ortu membangun PD dalam diri anaknya. Asal di barengi dengan pendidikan psikologi bagaimana sang anak harus mencounter eforia kemenangan dan sedih saat mengalami kekalahan, insyaAllah pelan tapi pasti akan mampu membangun karakter ‘resilience’ mereka. 

.

Karakter inilah yang nanti di perlukan saat mereka dewasa. Saat mereka menjalani pahit, manis, getirnya di tolak lamarannya, di kecewakan temannya, gagal menembus sekolah impiannya, tidak lulus ujian PNS-nya, tidak tembus beasiswanya dan berbagai emosi sedih lainnya. Karakter ‘resilience’ ini oleh psikolog bernama Angela Lee Duckworth di sebut sebagai GRIT. Grit adalah kemampuan, ketahanan dan kesabaran seseorang untuk terus mencoba, tidak menyerah dan tidak tergoyahkan oleh kegagalan. Semakin kuat daya tahannya, semakin besar kemungkinan sukses di bidangnya.

.

“Bagaimana denganmu Umm Adam aku menantangmu untuk menuliskan tentang serba serbi mendidik anak atau tema bebas" 

.

London, 5 Agustus 2019


#RevowriterWritingChallenge

#BeraniMenulisBeraniBerbagi

#Gemesda

#RWCDay2

Sunday, 4 August 2019

Jatuh Cinta di Ketikan Pertama

Tulisan ini dalam rangka memeriahkan #RevowriterWritingChallenge dan menjawab tantangan Mba Erika Kartini di Jepang. Di bagian akhir tulisan akan ada tantangan bagi yang tersebut namanya. 


*****************************


Jatuh Cinta di Ketikan Pertama

Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter London

.

Pernah kan mendengar istilah jatuh cinta pada pandangan pertama? Tentu. Tak heran dan tak jarang. Meski sebenarnya masih saja aku mencoba mengerti kok bisa? Mungkin seperti ‘pandangan’ emak emak melihat sayur segar, baju hari raya, atau korden bagus kali ya. Sekali melihat, hati ini tidak bisa berpaling...ciyah!

.

Kenapa ketikan dan bukan pandangan pertama? Karena memang perkenalan kami di awali dari media online. WhatsApp group dan juga facebook page. Kalau jaman dulu ada mirc, Yahoo messenger, MSN dan media chat lainnya, sekarang malah lebih canggih. 

.

Ada banyak teman bahkan sahabat yang kudapat dari media online ini. Pertemanan yang menjadikan kami seperti saudara. Ada sahabat jauh yang membersamaiku saat ibundaku tiada, ada sahabat jauh yang aku iringi saat rumah tangganya berkecamuk hingga mengharuskannya bercerai. Salah satu sahabat itu telah kembali kepada Allah ﷻ setelah sakit sekian lama.

.

Yang mengagumkan, meski belum pernah bertemu, hati kami tertambat erat. Ada cinta yang tersirat meski belum terungkap. Ini bisa di indera saat kami kopi darat. Baru baru ini ada kopdar member #Revowriter di Surabaya. Jadi ngiri dan mupeng berharap bisa ikutan. Apa daya biaya tiket London-Surabaya tidak semurah pecel lele. Akhirnya cuma bisa baca reviewnya dan menikmati jepretan fotonya. 

.

Grup lain yang aku sendiri sering kopdar namun selalu bikin hati deg-degan adalah member dari grup Mutiara Ummat. Mutiara ummat didirikan oleh salah satu sahabat dari Indonesia yang berdomisili di Belanda dan kini sudah kembali ke Indonesia. Itulah kali pertama aku kopi darat dengan member mutiara ummat. Perjalanan dari Amsterdam ke Enschede dengan mobil aku tempuh demi bertemu dua orang teman. Alhamdulillah, kedekatan dan kehangatan itu tidak hanya terasa lewat ketikan namun saat kami bertemu dan berpelukan. Ternyata memang ada tuh jatuh cinta pada ketikan pertama #opoiyo

.

Dari sekian banyak kopi darat, selalu ada perasaan bahagia, deg deg-an, dan berbagai rasa senang lainnya. Layaknya sebuah hadiah yang terbungkus, membukanya pelan pelan sembari menunggu untuk tahu apa isinya. Itulah rasa yang mewakili pertemuan kami. 

.

Kopi darat dengan member grup mutiara ummat lainnya terjadi di rumahku. Ada yang menginap dan ada yang sekedar berkunjung. Semuanya memberi kesan yang berbeda namun ada satu kesamaan dari lima kopi darat yang aku lakukan: rasa dekat layaknya sahabat yang pernah bersua dan terpisah lama. Padahal kami belum pernah berjumpa sebelumnya. Rasa rasanya seperti ada tali memori yang menjadikan kami merasa nyaman dan tenang tanpa ada kekhawatiran untuk di-judge atau di inspeksi. Maa sya Allah

.

Sebuah pertemanan bisa terjadi karena adanya sebuah ikatan. Ikatan muncul setelah ada saling berbagi. Dari berbagi, kita menjadi tahu apa yang telah menyatukan hati ini. Ada yang berteman karena sama sama suka diet. Ada yang berteman karena sama sama single parent, atau sama sama bersuami orang asing, atau sama sama menjadi perantau, atau sama sama dokter, blogger, penulis, sama sama suka krupuk, atau sama sama suka kumpul dan nggosip. 

.

Wajar kalau sebuah hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,


‎الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ


“Seseorang akan mencocoki kebiasaan (agama) teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian.” 

.

(HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; dan Ahmad, 2:344)

.

Tak heran jika salah satu nasehat untuk seseorang yang akan menikah adalah anjuran untuk melihat perangai teman temannya. Karena teman dekat itulah refleksi dari mereka yang sebenarnya. 

.

Ikatan-ikatan cinta diet, cinta krupuk, cinta travelling, hobi yang sama, dll bukanlah ikatan yang kuat. Kebaikan dan manfaat yang muncul dari ikatan seperti inipun tidak banyak. Satu satunya ikatan kuat, tak lekang oleh waktu dan penuh barakah adalah ikatan Aqidah. Kesamaan pemikiran dan standar inilah yang mampu menyatukan dan membebaskan pertemanan dari saling mendzolimi. Ketika hati ini tertambat karena syariat, maka inshaAllah selamat dunia akherat. 

.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)

.

Dalam hadis Qudsi Rasulullah juga bersabda: “Allah 'azza wa jalla berfirman: "Barangsiapa yang saling mencintai karena keagungan-KU, mereka akan mendapatkan beberapa mimbar terbuat dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan orang-orang yang mati syahid.(HR.Tirmidzi)

.

Ketika Allah ﷻ menjadi pusar dari semua ikatan pertemanan (bukan persaudaraan -karena kita tidak bisa memilih saudara namun kita bisa memilih teman) maka ridho

Allah ﷻ bisa kita genggam. Pertemuan dan saling berkunjung di antara keduanya pun bernilai pahala. 

.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

‎أنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ : أينَ تريدُ ؟ قالَ : أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ : هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ : لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ : فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ

“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya: “engkau mau kemana?”. Ia menjawab: “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya: “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan: “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah ‘Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan: “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ (HR Muslim no.2567).

.

Lah terus, apa nggak boleh kita berteman dengan orang yang sama sama suka baca buku atau sama sama suka lontong? Tentu saja boleh! Yang menjadi pertanyaan: apa yang mendasari pertemanan tadi? Jika hanya sekedar suka terhadap satu hal, maka jangan harap ikatannya akan bertahan lama. Kalau suatu saat salah satu teman tidak lagi suka lontong maka pertemanan akan berhenti sampai di situ. Belum lagi kalau cekcok, solusinya juga tidak jelas karena standar pertemanannya bisa jadi bukan syariat tapi sekedar asas manfaat. 

.

Selamat mencari teman. Seiring bergulirnya waktu dan bertambahnya tanggung jawab, jenis dan kebutuhan akan teman juga akan berubah. Tidak perlu risau jika harus menjauhi teman yang tidak membawa kepada kebaikan. Tidak perlu khawatir untuk dibenci. Teman sejati adalah teman yang mengerti, mendukung dan mendorong kita menjadi lebih baik dari hari ke hari. Jika mereka menghalangi proses ini, tenggelamkan saja pertemanan itu ke laut! 


Selanjutnya aku tantang penulis produktif bin keren Mba Rut Sri Wahyuningsih untuk menuliskan pengalamannya tentang suka duka pertemanan.

.

London, 4 Agustus 2019


#RevowriterWritingChallenge

#BeraniMenulisBeraniBerbagi

#Gemesda

#RWCDay1

Wednesday, 26 June 2019

Deddy corbuzier: Pesan Baginya dan Bagi Kita

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


‘Dilarang KPI, Prosesi Mualaf Deddy Corbuzier Tak Jadi Disiarkan di TV’ demikian judul sebuah berita yang nampak di newsfeed FB seminggu yang lalu.


Di portal berita Liputan6.com di lansir berita bahwa semula, prosesi pengislaman Deddy Corbuzier akan ditayangkan secara live di Hitam Putih. Namun karena terbentur peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) maka rencana itu tak jadi dilakukan. (19/6/2019)


Gus Miftah yang menjadi ‘guru spiritual’ Deddy selama ini mengiyakan: “Iya kemarin di Hitam Putih terpentok peraturan KPI. Enggak boleh, ada peraturan KPI ternyata acara itu dianggap rasis ada UU - nya tadinya sudah mantap di Hitam Putih," (liputan6.com/19/6/2019)


Menurut KPI, proses pengucapan syahadat secara live akan berdampak buruk bagi masyarakat karena kemungkinan besar Deddy harus menjelaskan kenapa meninggalkan agama yang dulu dan kini memeluk agama Islam. Di khawatirkan hal ini akan menciptakan ketidak nyamanan kepada pemeluk agama lain. Kelihatannya alasan ini masuk akal. Tapi sebenarnya berstandar ganda. Demikianlah jika sebuah sistem dibuat oleh manusia. Selalunya bingung, manusia mana yang harus dilindungi hak-haknya. Golongan mana yang harus di jaga hatinya. Padahal jika aturan itu buatan Sang Maha Pencipta manusia, maka kaya miskin, perempuan laki-laki, muda tua, muslim dan non muslim akan mendapat hak haknya.


Fenomena ini mengingatkanku akan sebuah TV swasta yang di kelola oleh dr Zakir Naik. Seorang ulama besar dari India yang ahli dalam bidang perbandingan agama. Beliau berguru kepada Sheikh Ahmad Deedat dari negara Afrika Selatan yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Stasiun TV yang bernama Peace TV itu di larang beroperasi di India karena di anggap mengancam keamanan negara. Padahal isi ceramah beliau berkisar tentang perbandingan agama. Meluruskan tuduhan-tuduhan miring terhadap Islam. Materi Aqidah, Sirah Nabawiyah, Akhlaq dan lain sebagainya. 


Yang lebih aneh lagi, dr Zakir Naik di larang untuk berdakwah di Inggris padahal sebelumnya beliau keluar masuk Inggris dan memberi orasi di berbagai forum besar di Inggris tanpa masalah. Namun akhirnya beliau di larang masuk Inggris di tahun 2010 karena beliau di anggap memiliki pandangan ekstrem. 

(BBC news/18/6/2010)


Pernah beliau di undang oleh Oxford Union, sebuah komunitas debat prestisius di Univeristas Oxford dimana mereka menghadirkan pembicara ternama dan meminta mereka menyampaikan pandangannya, kemudian mengadunya dengan oponen yang dikenal memiliki pandangan berlawanan. Siapapun yang di undang di forum ini sudah di anggap ahli dibidangnya. Saat Dr Zakir Naik bersedia memenuhi undangannya, justru pemerintah Inggris menolak memberi visa kepada Dr Naik. Walhasil beliau tidak bisa menjejakkan kakinya di Oxford namun beliau berhasil tampil melalui video call.


Jika sebuah ide yang di emban oleh orang atau sebuah negara sudah kehilangan kemampuan berargumen dan sudah nampak kelemahannya, maka cara paling mudah untuk ‘memenangkan’ pertempuran ide itu adalah dengan mempersekusi pihak lawan. Simpel dan gampang! Sekilas nampak menang, namun sebenarnya ini membuktikan kekalahan intelektual.


Terlepas dari keputusan KPI, jujur aku sempat heran, kenapa heboh banget ya? Apa karena Deddy Corbuzier punya 4 juta follower di YouTube? Atau karena dia telah mengumumkan jauh jauh hari? Atau rame karena memang ini fenomena yang jarang terjadi?


Pada umumnya orang ketahuan kalau dia mualaf setelah menyatakan pindah agama. Namun kasus Mas Deddy ini sebaliknya. Ada ‘build up or rather much anticipated event” alias upaya untuk mengumumkan supaya kejadian ini sengaja di tunggu. Ada bagusnya sih, kebaikan seperti ini menjadi viral. Buktinya yang di Inggris pun ikut-ikutan posting dan komentar 🙂

Kalau di Eropa, jelas ini kejadian yang biasa. 


Data jumlah mualaf di Eropa sendiri sangat menakjubkan. Berdasarkan riset Pew Research Center di tahun 2016, kurang lebih ada 500,000 non muslim menjadi mualaf (antara tahun 2010–2015). Sedang Jerusalem Post melaporkan di Inggris dan Perancis setidaknya ada 100,000 orang memeluk agama Islam di 10 tahun terakhir.


Alhamdulillah, Deddy Corbuzer ikut barisan mualaf ini. Tidak hanya sekali Deddy menyatakan, bahwa keislamannya bukan karena mau menikah dengan wanita muslim. Tapi memang dia telah mencari dan berdiskusi selama kurang lebih 8 bulan. 


Ikut bahagia? Jelas harus! 


Namun yang justru sulit adalah perjalanan setelah bersyahadat. 


Keputusan, komentar, pilihan-pilihan setelah bersyahadatain inilah yang nantinya akan menjadi testimoni, apakah seseorang memeluk Islam karena sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah benar ataukah ada alasan lain. Meski demikian tidak serta merta orang yang di luar sana wabilhusus netijen bisa menyimpulkan. Yang bisa kita nilai adalah dahirnya. Kita tidak berhak menilai batinnya. 


Dari fakta yang aku lihat di keseharian, setiap mualaf selanjutnya di perebutkan. Oleh siapa? Pihak yang punya kepentingan. Ada yang ‘mendekati’ dengan di dasari i’tikad baik. Ada yang mendekat karena asas manfaat. Kadang kondisi para mualaf yang seperti tanah gembur dan mudah di tanami apapun ini, kemudian di salah gunakan (abuse). Hanya untuk kepentingan golongan. Ada kesan mereka seolah ‘menjebak’ mualaf ini untuk percaya bahwa Islam versi mereka lah yang benar. Islam versi lain harus di hindari bahkan di musuhi. Bahkan di anggap sesat dan dijadikan momok. Sungguh di sayangkan!


Padahal jika seseorang yakin dengan kekuatan idenya, tak perlu mencaci maki. Apalagi melabel-i. Buktikan saja dengan kekuatan dalil aqli dan naqli. Maka orang nantinya akan mampu melihatnya sendiri. Mana yang wajib di ikuti dan mana yang justru harus di hindari.


Mencari ilmu adalah sebuah proses, butuh waktu dan butuh kesabaran. Penebar ilmu itupun harus juga bijak dalam mengajar. Kokohkan aqidahnya. Munculkan rasa cinta kepada NabiNya. Teguhkan ketaatan kepada syariat di kesehariannya, baru kemudian kenalkan mereka dengan kewajiban kifayah lainnya. 


Bagi seorang seperti Deddy, ketika seseorang menjadi figur publik maka mereka harus siap dengan segala macam perhatian dan inspeksi. Segala tingkah, polah, kata-kata, komen bahkan ‘like’ dari sang selebriti akan selalu menjadi bahan perbincangan. Mengajari kritis boleh boleh saja, namun harus disertai rasa tanggung jawab juga. 


Kaum muslim terutama netijen pun tidak boleh serta merta menuntut kesempurnaan. Hanya karena seseorang bersyahadat, dia harus nampak hebat. Semua hal tentangnya tiba tiba harus islami. Jangan sampai menghakimi tanpa mau mengajari. 


Semoga semakin banyak kebaikan yang muncul dari Islamnya seorang Deddy Corbuzier. 


Semoga syiar Islam yang lurus juga semakin membahana. 


Semoga para penjaga, pendakwah dan pendukung ajaran Islam yang murni semakin di minati. 


‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


London,25 Juni 2019


#mualaf

#kisahdariinggris

#catatandarilondon

#belajarmenulis

#revowriter

Monday, 24 June 2019

Sekolah Favorit & Ranking Kelas: Perlukah?

Oleh: Yumna Umm Nusaybah 

Selama 6 tahun terlibat dengan dunia sekolah (karena anak pertama masih kelas 4 SD) ada perbedaan yang sangat kentara antara pendidikan yang aku peroleh di Indonesia dan pendidikan dasar di London, Inggris.


Hal mendasar yang jelas berbeda dimana ini menentukan praktik keseharian di sekolah adalah "falsafah pendidikannya". 


Sedangkan hal praktis yang jelas sangat berbeda diantaranya: 

1. Tidak adanya kenaikan kelas di tiap jenjang pendidikan 

2. Tidak adanya sistem ranking kelas


Di tiap tahun, minimal ada dua kali Parents Evening (istilah yang di pakai untuk pertemuan guru dengan wali murid). Pengalaman pertama kami adalah tahun 2015 saat si bungsu kelas reception (TK besar). Di pertemuan itu kami hanya di beri laporan observasi mereka terhadap Nusaybah, apa yang sudah di ajarkan, target di triwulan selanjutnya, dan support apa yang bisa aku berikan di rumah untuk menunjang proses belajar. Tidak ada berita si gendhuk ranking berapa. Lah wong memang tidak ada ujian ataupun tes. Pihak guru menunjukkan buku LKS yang di kerjakan di sekolah. Ada asessment harian yang fokus para perkembangan kosakata, menumbuhkan minat belajar dan rasa ingin tahu, belajar mengenal huruf dan angka sambil bermain. Berhubung sang emak masih bermental "lama" akhirnya tetap aja ngotot ingin tahu, si gendhuk masuk group pembelajaran yang mana. Setelah sedikit memaksa akhirnya mendapat jawaban juga. Duh...sedikit lega. 


Di awal tahun ajaran, anak anak di persilahkan duduk sekehendak mereka. Guru lebih mementingkan familirisasi suasana kelas dan teman teman. Namun di pertengahan tahun ajaran mulai di kelompokkan berdasarkan kemampuan mereka. Itupun sebisa mungkin tanpa sepengetahuan si anak didik. Sang guru tidak ingin memunculkan perasaan bahwa anak-anak di meja biru lebih "cerdas" di banding anak-anak yang ada di meja merah. Filosofi ini sangat baru bagiku. Sedari kecil, aku di didik untuk berkompetisi. Saingan dengan teman sebangku! Kertas ujian di tutup sedemikian rupa supaya teman sebangku tidak menyontek. Bagaimanapun juga mereka adalah saingan berat untukku bisa menggondol juara. Saat rapot-an harus tertera tulisan ranking satu. 


Beda dengan sekolahnya anak anak. Jangankan ranking, skor nilai saja tidak ada. Yang ada hanya: exceeding (melampau target), met (telah memenuhi target), not met (belum memenuhi target).


Progress pun tidak pernah di bandingkan dengan anak lain. Justru perbandingan di lakukan dengan pencapaian anak itu sendiri tiap triwulan. Contoh: jika triwulan pertama, anak ‘reception’ mampu membaca buku level 2 (padahal target kurikulum adalah level 1) maka triwulan berikutnya si anak harus mampu naik menjadi level 3 atau 4 (meskipun secara kurikulum mereka hanya perlu sampai level 2). Jadi progres ini di buat sesuai kemampuan anak dan tenggang waktu yang ada. Jadi setiap anak akan memiliki target yang berbeda (minimal harus memenuhi target kurikulum, lebih tidak masalah)


Dalam hati aku bertanya tanya, lah terus bagaimana aku bisa tahu kalau anakku termasuk yang cerdas atau biasa biasa aja? 

Paradigmaku masih berkutat bahwa prestasi / keberhasilan mendidik anak di ukur dari hasil ujian yang berujung ranking. 


Dari ranking itu aku tahu sejauh mana anak ku belajar dan mengerti dibanding teman teman sekelasnya. 


Setelah aku pikir, ternyata justru ini lah pemikiran yang aneh. 

1. Bagaimana mungkin kemampuan memahami anak di nilai dari ujian? Karena pemahaman sangat berbeda dengan kemampuan menghafal. Soal soal ujian yang disajikan sebagian besar berisi pertanyaan tentang apa yang bisa kita ingat dari materi yang pernah tersampaikan. Mungkin ada soal yang bertujuan untuk menguji pemahaman namun jawabannya akan menjadi subyektif. Penilaian pun akan semakin sulit karena jika anak memiliki pemahaman yang sedikit berbeda (tidak sama persis) apakah kemudian si anak yang tidak pintar? Apakah tidak mungkin kalau sang guru lah yang tidak mampu menjelaskan?  

2. Mengapa si anak harus bersaing dengan teman sebayanya? Apalagi jika daya pemahaman mereka sejak awal sudah berbeda. Tidakkah lebih baik jika mereka bersaing dengan diri mereka sendiri? Dan itu bisa dinilai dari progress mereka dari hari ke hari.

3. Apa untungnya jika si anak tahu bahwa dia ada di ranking terendah? Akankah itu membuat mereka semakin semangat belajar? Atau justru membuat mereka semakin minder karena sekuat apapun berusaha, mereka tetap ada di ranking bawah. 

4. Apakah yang selalu ranking satu akan termotivasi untuk belajar terus? atau justru menjerumuskan mereka belajar hanya untuk mengejar angka?


Tidakkah lebih baik jika 

1. Si anak merasa bahwa mereka memiliki potensi yang bisa digali. 

2. Si anak melihat bahwa belajar itu asyik dan menarik. 

3. Pendidik fokus menumbuhkan minat belajar dan mengasah rasa ingin tahu anak? Aku pikir ini jauh lebih berharga dari mengumpulkan informasi, menghafal dan duduk di sebuah ujian. 


Bagaimanapun juga, ujian adalah stresor. Menunggu hasil ujian, interview dan sejenisnya sudah bisa membuat orang dewasa deg deg-an. Apalagi untuk anak anak usia 5-9 tahun. Pasti mereka juga merasa resah, gundah, stres dan berdebar debar.


Meski demikian, memang ada kompetisi dan ujian yang sehat dan bermanfaat. Porsinya saja yang harus cocok dengan usia anak. Anak pun harus di persiapkan secara mental jikalau menang ataupun kalah. 


Filosofi pembelajaran inilah yang diterapkan di Inggris. Belajar sambil bermain dengan benda yang bisa di pegang dan di indera (untuk usia balita - 6 tahun). Sedang 7-11 tahun (year 2-6) mereka mulai dengan duduk serius dan belajar hal hal yang sifatnya abstrak. 


Apakah tidak ada ujian sama sekali? Ada ujian di year 2 (kelas 2 SD) yang di beri nama SATS. Ujian ini bukan untuk mengukur kemampuan anak tetapi lebih kepada performa sekolah. 


Ujian selanjutnya ada di kelas 6. Hasil ujian ini pun tidak mempengaruhi pilihan sekolah. Semua anak di kelas 6 pasti lanjut ke kelas 7! Tidak ada yang tidak lulus.


Jadi ranking sekolah..perlukah? Untuk level sekolah dasar, aku pikir tidak perlu. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan keinginan untuk bersaing. Rasa ingin bersaing muncul setelah ada rangsangan dari luar misal: adik baru, teman baru yang dianggap "ancaman" terdapat keberadaan mereka. Atau adanya aba-aba dari orang tua bahwa mereka harus ranking satu. Menang. Juara dan lain sebagainya!


Sedang sekolah favorit: perlukah ada?


Aku sendiri meyakini, sekolah favorit menjadi favorit itu tidak terjadi dalam waktu semalam. Butuh perjuangan bertahun tahun untuk sebuah sekolah akhirnya bisa menjadi sekolah favorit. 


Secara pribadi, tidak perlu di hapus total. Cukup ada 1 sekolah favorit di setiap provinsi. Tak perlu zonasi, hanya perlu ujian masuk lokal (bukan nasional). Sama dengan konsep grammar school di Inggris. Selebihnya, setiap sekolah harus menerima peserta didik tanpa pilih kasih. 


Namun seperti tulisanku sebelumnya, harus ada sosialisasi yang jelas, pembiayaan yang maksimal dan kurikulum yang benar benar mengubah cara pandang. Semuanya sepertinya sulit diwujudkan dengan pendidikan sekuler seperti sekarang. Karena pendidikan sekarang lebih fokus kepada pencapaian materi (uang). Semakin favorit sebuah sekolah, semakin terbuka peluang untuk menembus universitas ternama. Semakin besar pula peluang untuk mendapat pekerjaan yang layak (meski secara fakta tidak selalu demikian). 


Padahal tingkat pendidikan tidak menentukan rezeqi seseorang. Bukti nyata ini bisa kita lihat dari Richard Branson dan Alan Sugar. Mereka adalah dua bilyuner ternama di Inggris. Tidak satupun dari mereka mencicipi bangku kuliah. Namun mereka berhasil membangun kerajaan bisnis yang omsetnya milyaran. 


Demikian juga pendiri perusahaan ternama Apple Inc, Steve Jobs. Dia juga drop out dari Reed College, di Amerika. 


Seandainya pendidikan sepadan dengan jumlah pendapatan, maka teori ini bisa dipatahkan dengan keberadaan ketiga orang di atas. Namun jika pendidikan sepadan dengan mempertajam dan menambah kekayaan intelektual, pembentukan karakter, penanaman etos kerja, kemampuan berfikir kritis, inovatif dan revolusioner maka tentu pendidikan akan menghasilkan pemikir dan kontributor hebat di masyarakat. Pertanyaannya: sudahkah sistem pendidikan kita demikian adanya?


London, 24 Juni 2019


#zonasi

#pendidikan

#catatandarilondon

#belajarmenulis

#opiniringan

#revowriter

Thursday, 20 June 2019

Zonasi: Antara Inggris dan Indonesia 



Oleh Yumna Umm Nusaybah 

Member Revowriter, London


Ramainya berita sistem zonasi di Indonesia akhirnya sampai juga ke Inggris.


Keponakan yang ingin masuk sekolah favorit di Jember ternyata tidak diperbolehkan karena dia tidak masuk dalam zona SMA yang bersangkutan. Walhasil terpaksa memilih SMA lokal. Semoga saja mendapatkan SMA yang di inginkan. 


Sistem ini sebenarnya tak jauh beda dengan sistem pendidikan di Inggris.


Di Inggris sendiri untuk level SD dan SMA (primary and secondary school) sudah lama memakai sistem zonasi ini. Di sini di kenal dengan nama catchment area. Sekolah dengan pembiayaan dari negara (State School) akan memakai sistem ini. Sedang bagi sekolah swasta (Private School), tidak wajib memakai sistem zonasi. Sekolah swasta berhak menentukan siapa yang akan mereka pilih menjadi siswa. Untuk level SMP, biasanya ada tes masuk dan interview. Sedang untuk level SD sedikit banyak bergantung dari informasi yang diberikan dalam permohonan (school application). 


Penilaian kualitas dari sebuah sekolah di Inggris sendiri dilakukan oleh sebuah badan yang bernama OFSTED (Office for Standards in Education, Children's Services and Skills). Ofsted ini akan mengadakan inspeksi ke sekolah dan berbagai fasilitas yang melibatkan pengasuhan anak dan muda mudi. Kadang dilakukan dadakan dan kadang terencana. Mereka akan menilai bagaimana sekolah mendukung proses belajar siswa. Apakah sekolah mampu membuat siswa berkembang, meraih potensi besar mereka, mengadopsi nilai nilai ideologi dasar dan kualitas pengajaran di sekolah tersebut. Setelahnya mereka akan release report (laporan) yang bisa di akses oleh khalayak umum lewat internet. Jadi setiap orang bisa membaca hasil laporan tadi secara lengkap. 


Ofsted akan memberikan nilai akhir dengan beberapa tingkatan: 

* grade 1: outstanding (terbaik)

* grade 2: good

* grade 3: requires improvement

* grade 4: inadequate


Apakah banyak orang tua di Inggris yang ingin anaknya masuk sekolah outstanding? Tentu saja! Tak heran kalau biasanya orang tua mati matian pindah ke rumah yang masuk zonasi sekolah bagus (outstanding). Bahkan ada juga yang bermain curang dengan memakai alamat kakek atau pamannya untuk registrasi supaya mendapat jatah tempat di sekolah yang di inginkan. Meski kalau ketahuan curang sebelum pengumuman, jelas aplikasi mereka akan di tolak. Namun kalaulah sudah terlanjur diterima maka sekolah tidak berhak mengeluarkan siswanya. 


Tak heran jika harga rumah juga dipengaruhi oleh rating sekolah di area tersebut. Semakin dekat dengan sekolah bagus (favorit) semakin mahal harga rumah dan semakin susah mencari rumah kosong yang bisa di sewa. Di Inggris, sudah menjadi praktik umum, orang tua berpindah pindah karena alasan sekolah sang anak. Sepertinya ‘trend’ ini akan terjadi juga di Indonesia jika kebijakan zonasi masih terus ada. 


Sistem Zonasi di Indonesia ini awalnya diniatkan untuk menyamaratakan hak pendidikan. Seperti yang di ungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.


"Kewajiban pemerintah dan sekolah adalah memastikan semua anak mendapat pendidikan dengan memerhatikan anak harus masuk ke sekolah terdekat dari rumahnya," ujar Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/6/2019).


"Karena pada dasarnya anak bangsa memiliki hak yang sama. Karena itu, tidak boleh ada diskriminasi, hak eksklusif, kompetisi yang berlebihan untuk mendapatkan layanan pemerintah. Sekolah negeri itu memproduksi layanan publik. Cirinya harus non excludable, non rivarly, dan non discrimination," lanjutnya. (Detik.com)


Namun aplikasinya yang perlu banyak pertimbangan. Perkara ini bukanlah perkara fundamental. Ini hanya cara untuk menyamaratakan pendidikan. Sah sah saja sebenarnya dipakai. Namun apa iya kalau kebijakan ini berhasil di aplikasikan di negara maju seperti Inggris berarti bagus juga untuk Indonesia? Belum tentu! 

Yang sebenarnya lebih perlu di cermati adalah dasar/ pondasi / filosofi yang mendasari sistem pendidikan itu sendiri.  


Apakah sebenarnya yang ingin disamaratakan? Kemampuan akademis? Kemampuan berfikir kritis? Pembentukan karakter berideologis? Menjadikan peserta didik berwawasan luas? Menjadikan anak didik beriman dan tidak selalu mendewakan budaya barat?


Bisakah sebenarnya sistem pendidikan yang ada sekarang memproduksi anak didik yang demikian?


Kalaulah memang ingin menyamaratakan pendidikan, sudahkah ada pemerataan sarana dan prasarana belajar? 


Sudahkah ada pemerataan guru-guru yang mumpuni dan berkualitas? 


Adakah juga keseimbangan antara jumlah siswa didik dan ketersediaan sekolah?


Memang mengubah kebijakan yang sudah berpuluh puluh tahun diterapkan tidaklah mudah. Apalagi jika ‘attitude’ terhadap mendidik dan tujuan bersekolah masih belum di rombak. Sekolah demi mendapat pekerjaan bagus di masa depan. Bukan demi membentuk kepribadian. Sekolah demi status sosial dan bukan menaikkan kemampuan inteletual. Sekolah karena itulah jenjang kehidupan yang berikutnya, bukan karena kecintaan kepada ilmu yang bermanfaat untuk ummat. 


Sudah semestinya ada proses sosialisasi untuk setiap kebijakan sebelum digulirkan. Perlu ada penjelasan dan edukasi kepada masyarakat tentang apa saja yang diperlukan. Dengan demikian tidak ada rakyat yang merasakan kedzoliman. Apalagi sampai ada yang terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada sekolah negeri yang bisa menampungnya. 


Di Inggris sendiri, tidak ada pungutan biaya sama sekali untuk pendidikan dasar. Semua anak di jamin mendapatkan sekolah. Tak akan ada kisahnya dimana anak terpaksa masuk sekolah swasta dan harus membayar mahal. Kalaulah masuk sekolah swasta adalah karena orang tuanya menghendakinya. Karena menurut UU Inggris, pendidikan adalah hak setiap anak. Justru orang tualah yang akan di kenai sanksi jika jelas jelas menelantarkan pendidikan anaknya. 


Sayangnya, hal hal di atas belum disempurnakan. Ada kesan kebijakan zonasi ini terburu buru dan tidak ada usaha untuk mengangkat sekolah sekolah yang masih berstandar rendah ke standar yang lebih layak. 


Cara pandang tentang sekolah unggulan pun tidak serta merta harus dihapuskan. 


Di London dan sekitarnya ada sekolah selevel SMP/SMA yang disebut Grammar School. Sekolah ini bisa di bilang sekolah unggulan. Isinya anak anak berprestasi dan cerdas karena untuk bisa lolos dan diterima di sekolah tersebut, mereka harus lulus 11+ exam. Sekolahnya pun gratis. Ada jatah zonasi (asal lulus tes) dan ada juga yang berhak masuk tanpa zonasi (dibutuhkan nilai yang lebih tinggi dari nilai zonasi). Jumlahnya pun tidak banyak. Kurang lebih dari 163 di seluruh Inggris bagian selatan (England). Rumor yang beredar, jebolan grammar School ini banyak yang melanjutkan ke Univeritas ternama seperti Oxford dan Cambridge. 


Kesimpulan. 


Sebuah kebijakan akan selalu membutuhkan sosialisasi. Mengupayakan anak mendapatkan pendidikan dari sekolah terbaik atau sekolah favorit adalah sangat wajar. Tidak perlu menyalahkan rakyat yang ‘mengerubungi’ penyedia pendidikan yang berkualitas. Yang menjadi tugas negara adalah menaikkan kualitas pendidikan tanpa harus menaikkan biaya. Lah kok bisa? Kenapa nggak? Kan kekayaan negara berlimpah ruah. 


Tidak seharusnya kualitas pendidikan sebanding dengan tebalnya dompet. Karena ini adalah hak dasar setiap rakyat. 


Yang perlu dipertanyakan kenapa sampai ada jurang kualitas yang lebar antara sekolah favorit dan non favorit.


Kenapa banyak sekali menjamur komersialisasi pendidikan. 


Kenapa juga sarana dan prasarana di setiap sekolah tidak sepadan? 


Masih banyak PR yang harus di selesaikan. 


Sistem zonasi sebenarnya tidak menjadi jawaban mendasar dari permasalahan di bidang pendidikan. Justru yang harus di rombak adalah ide ide yang mendasari setiap kebijakan dan apa yang inginkan dari mahalnya biaya dan lamanya jenjang pendidikan di Indonesia. 


London, 20 Juni 2019


#zonasi

#pendidikan

#catatandarilondon

#belajarmenulis

#opiniringan

Sunday, 16 June 2019

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London 


Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman?


Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita anggap seperti saudara sendiri?


Pernahkah kita bertemu dengan seseorang, meski hanya sebentar tapi justru menginspirasi?


Pernahkah kita mempunyai seorang kawan, kebaikan dan pengorbanan mereka menyentuh hati?


Berapa kali juga kita di kecewakan oleh teman yang sudah lama berkawan?


Berapa kali kita mundur teratur karena terbukti teman itu mau berada di samping kita karena asas manfaat saja.


Pernahkah kita bertemu seseorang yang pertemanannya tak lekang oleh masa?


Saat bahagia dan saat duka. Dia ada di samping kita 


Saat kita tertawa dan saat kita terluka, dia menghibur dan mengingatkan kita akan hakikat dunia.


Kadang diri ini penuh tanya,

Teman seperti apakah diriku?

Teman seperti apa yang aku cari?

Teman seperti apa yang benar benar aku cintai dan sayangi?

Teman seperti apa yang aku anggap teman sejati?


Rumusnya sebenarnya sederhana, siapa saja yang ada di samping kita saat kita berduka. 


Siapa saja yang menyisihkan waktu dan tenaganya saat kita membutuhkannya.  


Merekalah teman setia. Itulah teman yang sesungguhnya. 


Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris :


‘A friend in need is a friend indeed’


Artinya: teman yang ada saat kita membutuhkan, itulah teman yang sebenar benarnya.


Memilih seorang teman adalah sebuah ketrampilan. Dibutuhkan sebuah kemampuan mengatur rasa, mengukur diri sendiri (dalam berbagi dan berharap). Demikian juga kemampuan mendengarkan, empati dan berbicara saat yang tepat. 


Ada sebuah filosofi tentang teman yang sangat mewakili. 


Teman layaknya sebuah pohon. Ada dedaunan, ranting dan akar.


Daun akan berguguran, mereka tergantung pada cuaca (seasonal). Saat cuaca buruk, mereka berguguran. Saat cuaca cerah dan matahari bersinar, mereka menunjukkan eksistensinya.


Ada teman yang demikian. Berada di sekitar kita saat hari hari kita cerah dan bahagia. Ketika cobaan mulai melanda (krisis keuangan, pernikahan, kematian, kecelakaan, kesehatan, dll) maka mereka menghilang seketika. Tidak perlu menyalahkan mereka. Karena memang begitulah sejatinya teman selevel ‘dedaunan’. Tidak perlu marah dan kecewa. Perilaku mereka tidak menunjukkan kualitas kita, sebaliknya begitulah kualitas mereka.


Jika kita berkali kali dikecewakan oleh tipe teman seperti ini, berarti kita yang harus tajam dalam melihat dan meng-ihsas karakter seseorang. Sehingga kita tidak menaruh harapan yang terlalu besar. Haruskah di hindari? Tidak juga, karena tanpa dedaunan, sebuah pohon tidak nampak indah. Anggap saja mereka hadir untuk meramaikan suasana dan suporter saat kita bahagia. Hargai saja keberadaan mereka. Berterima kasih atas pertemanannya. Kita lah yang harus mengatur rasa di dalam dada. Supaya tidak kecewa. 


Seperti quote berikut: ‘some people come to your life just to teach you how to let go’. 


Kadang orang datang dalam kehidupan kita hanya untuk mengajari bagaimana kita harus melepaskannya. Ada orang yang datang sebagai sebuah berkah dan ada yang datang justru membawa masalah. Tapi justru membuat kita belajar menyelesaikannya. 


Bagian pohon yang kedua adalah ranting. Ranting nampak seolah olah kuat dan bisa menyangga berat. Namun saat dihadapkan pada beban yang berat, mereka patah dan berjatuhan. 


Orang seperti ini lebih menyakitkan untuk dijadikan teman. Karena kita sudah membuka hati. Mengisinya dengan keberadaan mereka. Namun di saat saat kritis dan sulit, mereka justru lari meninggalkan kita sendiri. Lagi lagi tak perlu menyalahkan mereka. Kita saja yang harus pandai menjaga diri. Berikan hati kepada yang benar benar berhak menerimanya. Bisa jadi teman ini tidak sadar telah menyakiti kita, namun itulah pertemanan yang bisa mereka suguhkan.


Yang terakhir adalah akar. Kalau dedaunan dan ranting jumlahnya bisa ratusan, maka akar tidaklah demikian. 


Teman yang seperti akar jumlahnya tidaklah banyak. Merekalah supporter setia kita. Bisa jadi dia masih dalam lingkup keluarga dan bisa juga teman sebaya. Siapa saja yang menemukan teman seperti akar pohon maka layaklah mereka berbahagia. Karena inilah teman sejati. Mereka yang menjadi tumpuan kita, pijakan saat kita ‘oleng’, bahagia ketika melihat kita berjaya, sedih dan siap siaga saat kita berduka. 


Namun demikian, satu hal yang harus kita sadari. Teman juga manusia. Mereka tidaklah kekal dan selamanya akan bersama kita. Jangan pernah bersandar pada sesuatu dan siapapun yang bersifat Fana. Bersandarlah kepada Dzat yang menghadirkan berbagai jenis teman tadi. Allah ta’ala!


Dia yang benar benar akan selalu bersama kita. Dia yang akan mendatangkan teman teman setia. Dia yang bisa menjauhkan teman yang tidak bermanfaat untuk dunia dan akherat. 


Sungguh benar perkataan Ibn Qayyim Al Jauziyah


‘DO NOT DEPEND ON ANYONE, BECAUSE EVEN YOUR OWN SHADOW LEAVES YOU WHEN IT’S DARK’


Jangan pernah bergantung kepada siapapun, bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu saat gelap (datang)


London

12 Juni 2019

9 Syawal 1440H


*Terinspirasi dari video Jay Shetty

Konunikasi dalam Rumah Tangga

#Day3 "Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Mba Hesti Rahayu dan aku aka...