Tuesday, 15 November 2016

{percakapan} the opposite

Again this is question raised by my 4 yo while I was teaching her Iqra' (how to recite Quran) 

R:"we have to be serious mama, this is Quran!"

Me:"yes of course, we have to, why is it so?"

R:"because Quran is the word of Allah ﷻ" (with her cute accent saying Quran and Allah ﷻ). I know who's opposite of Allah ﷻ... it's shaitaan.. Quran is the word of Allah ﷻ so what is the word of shaitan mama?"

Oh dear!!! I am stuck! 

Her sister jumped to answer:"I know I know, was wasa is the word of shaitaan"

I'm still scratching my head...and think to find the answer or rather how to respond 🙈

They think everything must have ' the opposite' in this life 😁

{percakapan} emulating the prophet ﷺ

It's endearing to see how my two girls competing with one another to please their mother (me of course lol).

I believe Rumaysa adores and looks up to her older sister Nusaybah. This can be seen from how keen she copies and talks as well as behaves exactly like her sister.

Whatever advice, analysis, reasons, story, imagination and all sorts that Nusaybah have, for sure she will take it wholeheartedly. Of course this also due to her age (4 yo) and being younger sibling and at "copy paste" stage.

Just like today after we finished salatul isha in jama'ah (of course with her recited Al Fatihah loudly while doing ruku', sujud and standing) she finished her Salam and said to me:

"I want to make dua like the way the prophet Muhammad ﷺ did"

After saying those sentences, she took of her prayer cloth (Indonesian: Mukena) and then raised her hand and then said:

"Nusaybah told me that Prophet Muhammad never wear hijab so I want to be like him!"

Me:"is that why you took off your hijab? 
R:"yes"

Afterward, she continues -so called- to pray sunnah without hijab.

Bless her!! 

I cant hold my smile while searching the best way to explain to her.

Friday, 4 November 2016

My two cents on 4th November demo

Beberapa unek2 yang ada di benakku saat melihat aksi 4 Nov 2016!

1. Yang ragu bahwa kaum muslim di Indonesia susah untuk berubah lah, mereka terlalu sekuler lah, mereka ga mau maju lah, mereka sudah terlalu jauh dari Islam lah.... ini bukti kecintaan mereka terhadap Al Quran. Memang mungkin ada yang bilang bahwa niat para demonstran bisa beda beda dan ga murni karena ini membela Al Quran, namun kita tidak berhak melihat hati dan niat seseorang, itu urusan Allah ﷻ dan mereka , yang kita lihat adalah aksi dan tindakan mereka. Banyak yang mengorbankan kan waktu, tenaga dan keringat serta uang demi Suksesnya aksi ini dan itu layak untuk di acungi jempol! 

2. Ini bukti nyata bahwa "there is still goodness in them"(kaum muslim di Indonesia)  

3. Ini membuktikan bahwa ghirah Islam itu masih kuat dan bisa di arahkan asal ada kekuatan opini yang benar di sebarkan oleh orang2 yang yakin.

4. Ini membuktikan bahwa masa bisa bergerak dan ummat mau mengorbankan apa saja demi agama dan kitab mereka. Dan ini harta berupa ghirah ini adalah potensi yang berharga bagi ummat ini. 

5. Ini membuktikan bahwa perubahan di Indonesia menuju Islam sangatlah mungkin.

6. Saya tidak anti Kristen atau anti agama lain. Mereka berhak beragama dan beribadah menurut kemauan mereka. Lakum dinukum waliyadin (untukmu agamamu dan untukku agamaku) namun sebagai seorang muslim saya di wajibkan menilai segala sesuatunya (kejadian, perbuatan dll) dari kacamata Islam dan bukan dari kacamata dan jelas bagi kami penistaan Quran, nabi (termasuk nabi Isa) adalah SALAH siapapun pelakunya.

7. Dari sini saya juga semakin sadar dan yakin bahwa tentara2 dan polisi2 Indonesia yang mayoritas muslim juga akan mau dan bersedia membela agama ini jika mereka diperlukan dan faham akan posisi dan peran besar mereka

8. Bahwa *the goodness of* kaum muslim di *grass root level* Belum dan tidak banyak terwakili di level elit politisi, media maupun selebriti, oleh karenanya yang nampak di TV2 masih tetap sama yakni proses sekularisasi dan penjajahan pemikiran yang di lakukan lewat program2 yang ga mendidik.

Sekian terima kasih

Thursday, 11 February 2016

Bahagia itu sederhana

Bahagia itu sederhana...

Melihat Rumaysa mainan dengan kamera HP ku dan motret kakaknya yang sedang membaca Quran, sambil menikmati hasil jepretan nya sendiri ... Sudah membuatku bahagia. 

Bahagia itu sederhana...

Mendengar kedua gadisku mengatakan:" Mama, I love your food and I like whatever you cook!" 
Sudah membuatku bahagia

Bahagia itu sederhana....

Melihat Nusaybah bisa membuat adiknya tertawa terbahak bahak
Sudah membuatku bahagia

Bahagia itu sederhana...

Ketika Rumaysa menyampaikan kepada kakaknya sebelum dia berangkat sekolah:"oh I will miss you Nusaybah"
Sudah membuatku bahagia 

Bahagia itu sederhana...

Melihat Nusaybah sengaja menyisakan susu dari sarapan cereal coklat-nya karena tahu adiknya suka susu coklat
Sudah membuatku bahagia

Bahagia itu sederhana....

Melihat Rumaysa sabar menunggu waktunya nonton kartun karena sang kakaknya masih belum selesai hafalan Quran
Sudah membuatku bahagia

Bahagia itu sederhana...
Sesederhana cara kita mendefinisikan arti bahagia 

Semoga Allah ﷻ selalu melindungi dan menjaga anak anak kita dan menjadikan mereka generasi Rabbani yang kokoh imannya, tangguh mentalnya dan cerdas aqalnya.

اللهمّ امين يا ربّ العالمين

Tuesday, 12 January 2016

Renungan 1

Setelah punya 2 anak (6 dan 3 tahun) aku benar benar percaya bahwa 

"Lebih mudah mengajarkan matematika dan bahasa kepada anak2 daripada mengajarkan adab dan membentuk karakter mereka menjadi manusia mulia" 

Orang bilang, membentuk emotional integence alias kecerdasan emosional jauh lebih dibutuhkan daripada kecerdasan intelektual karena orang yang cerdas emosinya akan mampu mengolah segala kemampuan,
Kekurangan dan kelebihan hidup ini untuk berpihak kepada keberhasilan dia.

Namun kadang, lebih banyak waktu kita habiskan untuk fokus pada hal yang tidak seharusnya.

Bukan berarti kita tidak Perlu membuat anak anak kita cerdas secara inteletual namun "mental set" dari kita sebagai orang tualah yang penting. Supaya seimbang dan tidak salah prioritas atau salah menimbang.

But...yang paling penting adalah kecerdasan spiritual dimana anak2 kita ajarkan tentang siapa Tuhan mereka dan apa peran Allah ﷻ dalam hidup kita, dan bahwa kehidupan kita punya makna dan tujuan yang telah di gariskan oleh Sang Pencipta kehidupan. Hingga akhirnya mereka menjadi generasi yang tidak pernah sombong dan selalu melihat dunia dan segala kejadian di dalamnya dari sudut pandang yang benar.

Inilah hal Tersulit!! 
namun jika berhasil
Maka orang tua akan menuai pahalanya bahkan sampai tubuh mereka sudah bersatu dengan tanah!

Maha adil Allah ﷻ 
Dia mengaruniakan pahala yang besar berdasar pada besarnya upaya dan sulitnya sebuah peran.

Mendidik anak menjadi Generasi Allah ﷻ adalah peran yang tidak gampang, tak heran kalau pahalanya mengalir terus.

Ayo kita semangat mengembalikan fokus terhadap hal2 yang memang berhak mendapat fokus :) *belibet kalimatnya*