Sunday, 20 January 2019

Pahlawan hidupku

Demi memulai tulisan ini, aku membutuhkan waktu berminggu minggu untuk menata hati. Setiap aku mulai menulis, mataku tak mampu membaca ketikan yang ada di layar moitorku karena air mata yang menyelimuti seluruh bola mataku. Bukan hal yang mudah bagiku untuk menulis tentang seseorang yang begitu dekat di hatiku sementara aku tak bisa lagi memberi pijatan kesukaannya, menatap wajahnya atau mendengar suaranya, karena beliau telah dipanggil Allah melalui sakit kankernya 15 tahun yang lalu.

.

.


Sebulan sebelum pernikahan yang digelar bersama dengan saudara kembarku, Allah ternyata memanggil beliau. Seorang ibu yang tumbuh dan besar di ujung pulau jawa dan terpelosok tapi memiliki mimpi yang tinggi. Beliau adalah seorang motivator, pengusaha ulet, pendidik ulung dan perekat keluarga. Meski hanya lulusan sekolah dasar, akan tetapi beliau lah yang menjadi public speaker trainer, make up artist teacher, business motivator hingga life coach bagi kami. Ibarat produk, beliau adalah seorang wanita yang full package.

.

.


Hari itu Sabtu, 22 Februari 2004, tepatnya jam 9 pagi, aku bergegas menuju ke rumah sakit dimana mami (panggilanku kepada beliau) dirawat di Surabaya. Selama dua hari terakhir, kondisi beliau makin memburuk dengan kesadaran yang sudah sangat menurun. Segera aku cium tangan bapak dan mas dan mempersilahkan mereka untuk istirahat setelah semalaman terjaga demi menjaga mami. Aku segera ambil kursi dan duduk di sebelah mami sambil membaca Al Quran. Terlihat tubuh beliau kurus terbaring lemah dengan mata terpejam. Belum selesai satu halaman aku baca ayat ayat suci Al Qur’an namun aku perhatikan nafas beliau mulai melambat. Segera aku bangunkan mas untuk menelpon saudara kembarku yang masih berada di kos-an agar lekas datang. Tahun itu adalah tahun terakhir masa kuliah kedokteranku, dan fenomena yang terjadi kepada ibuku adalah hal yang sudah bisa aku pahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berlutut dan melafalkan syahadad tepat di dekat telinga beliau dengan suara agak keras dan berlinangan airmata. Antara perasaan sedih karena akan kehilangan seorang ibu yang sangat aku cintai sementara aku belum sempat untuk membalas budi beliau bercampur dengan perasaan bahwa aku harus tegar dan kuat karena semua bergantung kepadaku sebagai anak yang faham tentang Islam dan kesehatan. 

.

.


Beberapa menit kemudian terdengar seseorang berlari masuk ke kamar dan ternyata saudara kembaku yang datang dengan tergopoh gopoh dan melihat apa yang sedang terjadi. Dia menangis dan menjerit, “Mami….!!!” Ku katakana kepadanya, “Ayo sini, bantu aku mentalqin beliau!” Akhirnya kami berdua mengucapkan syahadad bersama sama, aku dari telinga kiri beliau dan saudara kembarku dari telinga kanan. “Asyhadu..anlaailaaha..illallah..wa asyhadu…anna..muhamdarasulullah” Entah sudah berapa kali kami lafadzkan syahadad ke telinga beliau sambil berlinang airmata, di saksikan mas, bapak dan para suster yang sudah siap untuk membantu. 

.

.


Hingga akhirnya aku lihat nafas beliau begitu pelan dan satu persatu nafas itu terhela hingga akhirnya saat nafas terakhir beliau hembuskan aku hentikan dan aku pegang kaki beliau, ternyata sudah dingin. Aku cium kening beliau dan berakhirlah perjalanan beliau sebagai seorang hamba Allah didunia ini. “Tolong suster panggil dokter jaga untuk declare jam kematian ibu saya” aku katakan kepada suster yang sudah siap dari tadi menunggu instruksi dari kami. Begitu dokter jaga datang, beliau memeriksa semua vital sign dan akhirnya konfirmasi bahwa mami sudah meninggal secara medis dinyatakan. Segera bapak tanda tangan surat surat untuk mengurus kepulangan jenazah mami dari rumah sakit. 

.

.

Aku langsung keluar kamar dan menangis sejadi jadinya! Semua memori tentang beliau seperti film yang diputar di depan mataku. Sumpah dokter dan pernikahan kami berdua yang sebentar lagi akan digelar tidak akan bisa beliau saksikan. Sungguh sebuah kesedihan yang tak terkira, setelah beliau berjuang berbulan bulan untuk bertahan dan bertahun tahun untuk mendidik dan membesarkan kami demi meraih cita cita kami memakai jas putih dan bertitel”dokter”.

.

.

Akhirnya setelah dua jam menunggu, kami mendapatkan ambulan untuk membawa jenazah beliau pulang ke Banyuwangi. Hujan deras disertai petir siang itu seolah mengiringi kesedihan yang kami rasakan. Aku dan kembaranku duduk di bagian belakang ambulan menemani beliau yang sudah terbalut kain kafan dan terbujur kaku, sementara bapak duduk disebelah supir sebagai penunjuk arah. Sepuluh jam perjalanan kita tempuh akhirnya kita tiba di Banyuwangi hampir tengah malam. Rumah kami sudah penuh dengan warga dan saudara yang siap memandikan dan menshalati beliau. Karena terlalu larut akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk menguburkan beliau setelah terbit fajar akan tetapi perawatan jenazah diselesaikan malam itu juga. 

.

.

Keesokan harinya saat aku melihat jenazah didalam keranda dan menjauh dari pandangan mata untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir beliau, tak kuasa aku menahan rasa sedih yang amat dalam karena benar benar aku akan terpisah secara fisik selamanya dan aku tidak akan pernah bisa mencium tangan dan memeluk beliau. Hampir aku kehilangan kesadaran seperti halnya yang terjadi pada mas dan mbakku.

.

.

Selamat jalan mami, meski engkau sudah jauh dariku secara fisik, tapi memori tentangmu akan selalu terpatri kuat dalam benakku.


Meski engkau tak akan pernah lagi bisa mendengar keluh kesah kehidupan rumah tanggaku dan intrik intrik dalam membesarkan anak anakku, akan tetapi aku aku akan kenalkan mereka tentangmu.

 

Semoga Allah berikan Jannatul FirdausNya kepadamu karena telah mendidik kami untuk mengenal Islam melalui para guru yang engkau datangkan dan temen temen yang engkau pilihkan.

 

Semoga Allah terangi dengan cahaya di alam penantianmu karena telah mengorbankan waktu, tenaga dan pikiranmu agar kami bisa belajar baca Quran sejak dini.

 

Semoga Allah ampuni dosa dosamu karena telah mendidik kami menjadi da’i sejak kecil demi menyebarkan Islam.

 

Semoga Allah lapangkan kuburmu karena telah menjahitkan berpuluh puluh pakaian syar’i untuk kami saat kami memutuskan untuk berhijrah

 

Mami…dalam doa ku titipkan semua cinta ku padamu. Tak akan usang semua memori tentang mu. Masih ku simpan rapi semua mimpi dan cita cita mu. Dengan bantuan dan ijin Allah, aku akan usahakan sekuat tenaga untuk wujudkan semuanya.

 

Dari anak mu yang selalu bangga kepadamu dan rindu yang membuncah 


Nduk Rin (panggilan sayang dari beliau)

Riyadh 20 Januari 2019

Dana Umm Adam (saudara kembarku)

Thursday, 17 January 2019

Marshmallow experiment dan generasi instan



"Mama, can I open the presents now? Please please please..." (Mama boleh aku buka hadiah hadiahnya sekarang? Boleh Ya...ya...ya...)

Aku jawab:"You can open one present at a time, you can choose which present you want to open today and play with it and tomorrow after school, you can open another one"

(Kamu boleh membuka satu hadiah di satu waktu. Hari ini kami boleh pilih satu dan membukanya, besok sepulang sekolah kami buka lagi satu)

Rumaysa merengek meminta membuka hadiah-hadiah yang di terima dari teman temannya dari pesta kejutan karena dia sudah tamat Iqra. Allahumma Bariklaha.

Rumaysa sangat berbeda dari kakaknya. Dia punya kemauan keras dan punya determinasi yang tinggi untuk meraih hal yang dia inginkan. Ada bagusnya... dan tentu ada juga kurang bagusnya.

Bagus.. karena dia siap bekerja keras tanpa henti jika dia tahu bahwa ada imbalan besar yang dia bisa peroleh saat target yang aku set bisa dia raih.

Tidak bagusnya....kurang bisa mengendalikan diri dan emosi jika menginginkan sesuatu. Jika dia ingin sesuatu maka itu harus sekarang juga!
‎الحمد لله رب العالمين
Sedikit demi sedikit seiring usianya bertambah, semakin dia bisa mengerti arti dari "menunggu dan bersabar".

Beberapa bulan yang lalu aku membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa di akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an ada sebuah eksperimen yang diberi nama "marshmallow experiment".

Eksperimen ini dilakukan oleh univeritas ternama di dunia: Stanford university di bawah pimpinan psikolog yang kemudian menjadi profesor yang bernama: Walter Mischel.

Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk menguji sebuah teori yang menghubungkan antara kesuksesan akademis di kemudian hari dengan kemampuan seorang anak dalam menunda untuk mendapatkan kepuasan sesaat (delayed gratification).

Dalam eksperimen ini mereka mengambil sampel anak usia TK (Preschool). Mereka menaruh snack yang menggoda di depan peserta eksperimen. Salah satu makanan kecil yang tersedia adalah marshmallow (aku menyebutnya permen gambus). Oleh karenanya eksperimen ini disebut "marshmallow experiment".

Si anak di beri informasi bahwa:
1. Dia boleh makan snack di depannya sekarang juga atau..
2. Jika dia bisa menunggu 15 menit (dimana penguji akan keluar dari ruangan dan masuk kembali setelah 15 menit) maka si anak bisa mendapat 2 snack (tidak hanya 1) sebagai "imbalan kesabarannya menunggu"

10 tahun kemudian anak-anak yang sama (yang tentunya kini sudah tumbuh dewasa) di minta kembali berpartisipasi dan diukur kesuksesan akademisnya.

Dari eksperimen tersebut (yang mana baru2 ini mulai di pertanyakan kekuatan argumennya 😜) disimpulkan bahwa:

Anak yang mampu menahan diri untuk tidak mendapatkan kesenangan sesaat dan mau menunggu demi imbalan yang lebih, maka mereka meraih nilai akademis yang lebih tinggi dari yang tidak mampu menahan diri.

Sang profesor akhirnya berkesimpulan bahwa anak yang di didik untuk bisa menunggu dan mengasah kemampuan mereka untuk menunda kepuasan (delayed gratification) akan lebih kompeten di kemudian hari.

Setelah membaca artikel itu, aku jadi berfikir. سبحان الله
Konsep ini sudah ada sebenarnya di dalam Islam. Islam mengajarkan kita melatih diri untuk bersabar, menahan hawa nafsu dan Istiqomah di jalan yang benar meskipun sulit.

Kadang konsep yang sebenarnya sudah di ajarkan oleh Allah ﷻ lewat rasul Mulia baginda Rasulullah Muhammad ﷺ
 1400 tahun yang lalu, memiliki bobot lebih hanya karena sudah melalui sebuah penelitian dari universitas bergengsi di dunia. استغفر الله العظيم

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al Kahfi yang artinya:

"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia…." (al-Kahfi: 28)

Bersabar tidak hanya bermakna menerima Qadha Allah ﷻ yang menurut kita buruk akan tetapi bersabar juga bermakna
1. Terus menerus taat kepada Allah ﷻ dan berjalan di jalan yang Haq/benar meskipun aral melintang dan cobaan menghadang.
2. Terus menerus menjauhi larangan Allah ﷻ meskipun orang, lingkungan sekitar menggoda dan menggiring kita ke arah pembangkangan terhadap hukum dan aturan Allah ﷻ

Ini adalah konsep dasar yang bisa di aplikasikan di berbagai aspek kehidupan. Entah itu kita sebagai seorang individu yang terus berkembang dan berusaha menjadi baik ataupun sebagai seorang ibu yang mendidik putera puteri kita menjadi generasi hebat.

Ironisnya, justru sekarang semakin banyak hal yang berbau instan. Mulai dari Mie, susu, shopping, bahkan sampai kerudung ada istilah kerudung instan (yang ga pake’ peniti itu looh). Semakin banyak applikasi2 yang memudahkan generasi sekarang mendapatkan yang mereka inginkan dalam waktu cepat. Mulai dari pesan gojek, makanan, sepatu, transfer uang, beli tiket pesawat, nelpon keluarga, dan bisa di bilang hampir semua aktivitas bisa di lakukan dengan hanya bermodal smartphone dan semuanya bisa diperoleh dalam hitungan detik!

Pernah aku berfikir, tingginya angka perceraian di kalangan pemuda muslim di Inggris bisa jadi juga di picu oleh keinginan sesaat yang menggebu gebu. Setelah tahu proses panjang yang dibutuhkan dalam pernikahan untuk saling mengenal, saling mengerti, saling membantu, saling menghargai dan saling bersabar terhadap satu sama lain, mereka belum siap atau malah tidak tahu bagaimana menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan berumah tangga yang tidak bisa di selesaikan dengan cara instan. Bisa jadi ini adalah efek "failure to delay the sense of gratification"

Pertanyaan yang menjadi PR buat kita semua
1. Mungkinkah kita bisa menanamkan nilai2 (kesabaran plus menahan diri dari godaan) kepada anak2 kita jika kita sendiri masih bergantung kepada yang instan dan lebih menyukai yang instan-instan?
2. Apakah upaya nyata yang sudah kita lakukan untuk melatih anak2 kita terlebih lagi diri kita sendiri supaya mampu mengendalikan diri dari semua "distraction" yang ada di depan mata?
3. Akankah kita dan generasi setelah kita nantinya tahu arti dari sebuah perjuangan dan perjalanan panjang meraih sebuah hasil maksimal? Ataukah mereka lebih memilih berhenti di tengah jalan karena ternyata Medan di depan mata semakin terjal?

Menahan diri, bersabar, tahan dari godaan perlu di pupuk dan di ajarkan...Bukan untuk nilai akademis di masa datang... bukan... tapi kerena memang dunia adalah ujian untuk tahan godaan dan ajang menunjukkan kepada Allah ﷻ atas kemampuan kita bersabar demi surga Firdaus sebagai imbalan.

Yumna Umm Nusaybah
London
11:52 malam
16 Januari 2019

#Kisahdariinggris
#revowritermutiaraummat
#curhatemakemak
#tulisanringan


Tuesday, 1 January 2019

2018 Reflection


Let’s make this new year day productive by writing beneficial reflection and tag 5 people. Could be in any languages.

------


2018 Reflection


Name 3 words that best describe 2018

*Unexpected *Exciting *Productive 

.

.

Name the Biggest lesson you’ve learnt this year

*If you push yourself beyond the comfort zone, surely you will be able to see how much potential you actually possess*

.

.

What’s the Biggest change I did this year

*Took on 3 jobs at one time although 2 of them were temporary*

.

.

What’s the Best decision I have made this year:

*Seizing any good opportunities came on my way and looking deep within myself with fresh eyes.*

.

.

Name Best single achievement this year:

*Willingness to challenge myself paired with unconditional support and encouragement from my dearest husband*

.

.

Who helped you to get through 2018

*Husband, my children, few of close friends and fantastic neighbour*

.

.


Which worry was unnecessary this year:

*That I won’t be able to balance between finishing new tasks I took on and fulfil my responsibilities as a wife and a mother*

.

.

How did you grow emotionally this year 

*I become better in shifting through any negative things around me whether it’s a comment, a situation, someone new or old I knew. Those things don’t affect me anymore even in a slightest. In contrary, it taught me how to be stronger and pick the necessary battle *

.

.

Your happiest moment in 2018

*When some of our plans become reality*

.

.

Your saddest moment in 2018

*Hearing few close friends of mine losing their loved ones*

.

.

Now I would like to tag 5 people and write your reflections 😘


Umm Adam

Erika Kartini

Rinta Twins Bunda

Citra Citraa

Hesti Rahayu

And special tag for cikgu Asri Supatmiati

Sunday, 30 December 2018

Who Am I?

Suatu hari puteri pertamaku bertanya: 

"Mama, who actually am I? Am I Indonesian? Am I Ethiopian? Am I British? What am I? Majority of my friends can say that they are Bengali, Pakistani or Indian, but I don’t know how I would describe myself?" -- (Mama, siapakah aku sebenarnya? Apakah aku seorang WN Indonesia? Ethiopia? Inggris? Siapa aku? Kebanyakan teman-temanku bisa menjawab bahwa mereka orang Bangladesh, Pakistan atau India, tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa menggambarkan tentang siapa diriku?)

.

.

Pertanyaan ini muncul setahun yang lalu saat Nusaybah masih berusia 8 tahun. Dan aku yakin, suatu saat pertanyaan ini akan muncul kembali saat dia mulai dewasa. 

.

.

Bisa di pastikan setiap manusia akan melalui sebuah proses pencarian jati diri. Ada yang mencari jawaban itu dengan penuh keseriusan, ada yang asal jawab saja dan ada yang tidak peduli dan lewat begitu saja tanpa ada bekas dan tanpa pernah peduli untuk memikirkannya kembali. 

.

.

Jika seseorang bertanya kepada kita tentang siapa kita yang sebenarnya? Apa jawaban pertama yang muncul dari mulut kita? Bahkan sebelum itu, kata apa yang muncul dalam benak kita? 

.

.

Seorang Perempuan-kah? Seorang ibu? Seorang enterpenur? Seorang dokter? Seorang direktur? Seorang ibu Rumah Tangga? Seorang ilmuwan? Orang Jawa? Orang Cina? Orang Batak? 

.

.

Tanpa kita sadari, sebenarnya Jawaban pertama itu menjadi perwakilan dari ide dasar tentang siapa kita yang sesungguhnya dan identitas ini yang nantinya menjadi titik sentral dari berbagai pilihan dan prioritas yang akan kita ambil di kehidupan keseharian kita atau jika ada aktivitas yang berbenturan dan kita di haruskan memilih. 

.

.

Satu contoh, seseorang perempuan yang benar benar butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarganya dan akhirnya mendapat pekerjaan itu, namun pekerjaan tersebut mengharuskan perempuan tadi memakai pakaian yang tidak sopan, maka pada saat itu akan terjadi ‘perang batin’ yang membuat si perempuan tadi harus memilih. 


Jika si perempuan tadi mengajukan pertanyaan itu kepada kita, saran apa yang yang akan kita berikan kepadanya?


Nah.. apa landasan kita menasehati tentang pilihan yang tepat? Siapa yang kita jadikan rujukan? Nasehat dan standar siapa yang kita pakai? Itu tergantung dari jawaban kita dari pertanyaan "Siapa kita" sebenarnya dan prioritas apa yang harus kita ambil dari berbagai pilihan yang ada. 

.

.

Jika kita menyadari bahwa hidup kita tidaklah "bebas" seperti klaim orang orang barat, maka sudah selayaknya kita kembalikan lagi pertanyaan itu kepada Yang sudah menciptakan kita. 

.

.

Allah ﷻ sudah menjelaskan bahwa tugas kita di dunia adalah untuk beribadah kepadaNya. Sebagaimana tersebut dalam Quran Surah Adz Dzariyat, Allah Ta’ala berfirman,


‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56) 

.

.

Ibadah dari segi bahasa adalah berasal dari perkataan Arab yang terbentuk dari kata dasar "ain", "ba" dan "dal" (عبد) yang membawa maksud merendah diri, patuh dan taat (al-Maududi, 1984). 

.

.

Kerendahan diri, kepatuhan dan ketaatan ini adalah secara umum, tidak difokuskan kepada sesuatu apapun.

.

.

Dari segi istilah, ibadah bermaksud khusyuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merendah diri dan tetap hati kepadaNya. Jelaslah, maksud dari segi istilah ini telah meletakkan fokus ketundukan dan kepatuhan seseorang manusia itu hanya ditujukan kepada Allah Subhanu Wa Ta’ala, tanpa sekutu sama sekali. 

.

.

Maka tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang Makhluk untuk mendefinisikan siapa kita.

.

.

Jadi siapakah kita? Kita adalah hamba Allah ﷻ yang di Ciptakan untuk menyembah Dia ﷻ. Walhasil, pilihan pilihan kita dalam hidup kita sudah semestinya selaras dengan apa yang Allah ﷻ inginkan. 

.

.

Bukannya selaras dengan hawa nafsu atau keinginan sesaat atau apa yang menguntungkan atau mana yang lebih gampang dilakukan atau mana yang lebih menghasilkan uang atau mana yang nanti di anggap lebih mulia oleh masyarakat.

Bukan, sekali lagi bukan itu yang seharunya menjadi standar. Tapi, manakah menurut Allah ﷻ pilihan yang tepat? tujuan yang tepat? pandangan di mata Allah ﷻ yang benar?

.

.

Jika seseorang sudah memahami hakikat mendasar jati diri ini maka tidak ada orang yang kesulitan memilih karena pusar dari pilihan itu tidak akan berubah! 

Hukum dan syariat Allah ﷻ tidak akan pernah berubah. 

.

.

Aku bisa bayangkan kebingungan itu akan jarang terjadi, kalaulah ada maka dengan tambahan pengetahuan ilmu dan bertanya kepada ahli ilmu akan bisa menemukan jawabannya. 

.

.

Seorang ibu RT akan mengerti apa yang di prioritaskan, demikian juga seorang ayah, seorang ibu pekerja, kapan seorang anak harus memprioritaskan kedua orang tuanya, kapan seorang suami harus memprioritaskan anak2nya, bahkan kapan seorang pemimpin harus menahan diri untuk tidak ikut2an mengucapkan natal dan boleh tidaknya kita atau para pembesar negeri ini berpartisipasi dalam perayaan agama lain. Semuanya sudah jelas dan selayaknya rasa malu, rasa takut, rasa minder, dan rasa rasa yang lain tidak seharusnya menjadi pertimbangan.

Penghujung 2018 sudah tiba, 2019 akan segera mulai, mari kita pertanyakan kembali Who Am I and let’s find the right answer and work from there. 


Wallahu ‘Alam bishowab


Weesp, Belanda

30 Desember 2018

Ditulis oleh: Yumna Umm Nusaybah

Saturday, 22 December 2018

Yang sedih untuk dikenang, hanya akan menguatkan.


“Nduk, muliho yo Nduk.... mami mlebu Rumah Sakit mulai mambengi sampe saiki” - (Nak, pulang ya nak.... mami masuk RS sejak semalam sampai sekarang)

.

.

Deg.....! Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara Bapak atau yang biasa aku sebut dengan panggilan Pak’e di telpon genggamku. Meski sejak kelas 1 SMA aku ngekos dan jauh dari orang tua, baru kali ini Pak’e memintaku pulang. Pastilah ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Aku hitung sudah hampir satu bulan lebih aku belum sowan ke desa menemui pak’e dan Mami. Semua dikarenakan kesibukan perkuliahan di UNAIR Surabaya yang sudah memasuki tahun ketiga. Dengan rasa khawatir yang masih menggantung, aku putuskan pulang di pagi harinya dan aku langsung meluncur ke Rumah Sakit Islam di Banyuwangi.

.

.


Sampailah aku dan saudara kembarku ke ruangan di mana mami di rawat, aku lihat nenekku duduk di samping mami sambil menangis. Aku lihat tubuh lemah tergolek di pembaringan, tubuh yang terlihat sangat kurus sekali. Aku benar benar terkejut dengan perubahan drastis dari berat badan mami. Ternyata BB beliau telah turun 30kg dalam rentang waktu 1 bulan! Sekiranya pengetahuan itu aku miliki sekarang, pasti aku sudah curiga malignansi, namun saat itu kebodohanku menutupi kesimpulan yang hampir hampir jelas. 

.

.


Aku peluk mami dan menangis sejadi jadinya, aku tanyakan kepada mami dan pak’e kenapa aku tidak di beri kabar sama sekali selama satu bulan terakhir tentang perubahan BB mami dan kondisi mami. 


Lewat telpon, beliau memang hanya mengeluh diare hampir setiap hari dan berasa capek saja, lagi lagi kebodohanku hanya bisa menyarankan mami cek up ke dokter spesialis interna. Beliau menuruti nasehatku dan dari sana, diketahui level hemoglobin beliau hanya 4! Oleh karenanya dokter menyarankan beliau opname. 


Aku langsung meminta bertemu dokter jaga, aku tanya apa saja kemungkinan penyebab HB turun drastis dalam waktu cepat? Perdarahankah? Apakah diare

Yang beliau keluhkan di sertai darah? Masalah di produksinya-kah (masalah dengan sumsum tulang belakang), ataukah hal lain? Setelah diskusi panjang lebar dokter menyarankan kami pergi periksa kolonoskopi, dan itu harus di Surabaya! 

.

.

Mulailah perjalanan panjang mendiagnosis penyakit ini. Hari demi hari, bulan demi bulan, masuk tahun demi tahun kami lalui, tapi belum juga ada titik terang. Segala jenis spesialisasi sudah beliau temui dan kami susuri, mulai dari yang di Banyuwangi hingga di Surabaya. Mulai dari ahli penyakit dalam, dokter mata, ahli rhematologi, ahli gastroenterologi, ahli nefrologi (ginjal), ahli jantung, ahli imunologi dan entah ahli ahli apalagi. Rasanya hampir hampir kami putus asa dan tidak tahu lagi harus kemana. Setiap bulan puluhan juta harus kita siapkan untuk opname, transfusi darah, injeksi eritropoitin, dan treatment2 lain karena HB yang selalu turun. Setiap tes darah, kami deg deg-an karena kami tidak tahu, akankah minggu itu HB naik atau turun drastis lagi. 


Malam malam kami terisi dengan solat malam dan untaian doa serta tangisan menghiba Allah ﷻ supaya diberi jalan keluar dan titik terang tentang sakit yang di sudah diderita mami selama 4 tahun!

.

.

Sampai suatu pagi, aku hadiri laporan pagi bagian interna dari dokter jaga malam UGD RS Dr Soetomo. Saat itu aku sudah masuk tahun kelima di FK Unair dan kami sudah mulai praktek di RS. Pasien dilaporkan datang dengan keluhan yang tidak spesifik dan sudah menghabiskan waktu berbulan bulan berpindah dari satu dokter spesialis ke dokter spesialis yang lain. Dokter Ami (yang saat itu belum meraih gelar profesor) menyampaikan ulasan beliau bahwa pasien ini sudah diketahui penyakit utamanya namun pasien dengan sakit seperti ini biasanya di awali dengan kunjungan ke banyak dokter spesialis tapi tidak memiliki kejelasan diagnosa. Ini tipe khas dari pasien yang menderita keganasan sel plasma darah bernama MULTIPLE MYELOMA!

.

.

Aku dan saudara kembarku saling berpandangan dengan hati teriris. Adakah kemungkinan mami menderita penyakit ini? Inikah titik terang yang kami inginkan? Haruskah kami berbahagia karena akhirnya titik terang itu mulai kelihatan ataukah bersedih karena kekhawatiran kami selama ini menjadi kenyataan?

.

.


Dengan perasaan bingung dan pikiran kacau, kami meminta waktu sebentar dengan Dr Ami usai laporan pagi. Beliau menganjurkan supaya mami melakukan tes darah spesifik untuk menegakkan diagnosa Multiple Myeloma. Kami memberi kabar kepada mami dan membawa beliau ke Surabaya untuk tes darah tersebut.


Setelah hasil tes ada di tangan, kami kunjungi Dr Ami di tempat praktek beliau. Kami tunjukkan hasil tes darah dan beliau memberi selamat kepada aku dan saudara kembarku karena telah berhasil menegakkan diagnosa yang tidak mudah. 


Lalu beliau bertanya:”Siapa pasien ini?”


Sambil tertunduk lesu, lemah lunglai kami jawab:”Ibu kami, Dok...”


Beliau ikut prihatin karena justru puteri sang ibu sendiri yang akhirnya harus menemukan diagnosa final dari sakit yang sudah 4 tahun menggerogoti sang Ibunda. Beliau juga menyampaikan bahwa kanker darah ini sudah memasuki stadium 4! Tidak ada terapi lain selain paliative care untuk mengurangi sedikit rasa sakit karena kanker yang telah menyebar ke seluruh tubuh. 


Setahun setelah diagnosa itu tegak, mami di panggil Allah ﷻ di usia beliau yang masih relatif muda, 57 tahun. 


Mami...yang selalu bercita cita putri kembarnya menjadi seorang dokter, membuka praktek bareng-bareng dan membantu orang orang miskin di desa yang tidak mampu berobat, telah di beri sakit yang menakdirkan sang puteri mendiagnosis sakit beliau sendiri.


Meski beliau hanya mampu menyaksikan wisuda sarjana kedokteran kami, dan tidak dihadirkan oleh Allah ﷻ dalam upacara sumpah dokter kami, akan tetapi jasa, pengorbanan, kerja keras, doa, air mata, dan malam malam serta tirakat yang sudah beliau lakukan berperan besar menjadikanku seperti sekarang.


Mami.... yang telah kehilangan kesempatan bersekolah dan selalu memimpikan menjadi seorang perawat telah mengalirkan tekad kuat buat kami -anak anaknya untuk tidak pernah menyerah, terus berjuang dan membuat sesuatu yang orang anggap jauh dari jangkauan menjadi mungkin dengan izin Allah ﷻ Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Mami.... yang ditakdirkan menikah dengan seorang kepala sekolah SD harus bekerja ekstra keras supaya bisa menyambung hidup dan membiayai 2 anak kuliah sekaligus. Beliau tidak pernah malu mencoba bisnis baru di setiap waktunya. 


Mulai dengan berjualan kerupuk, es lilin, menjahit baju, mengurus salon, perias pengantin, berjualan baju anak-anak di pasar, berjualan barang2 plastik, berjualan sayur keliling desa, berjualan genteng dan segala jenis enterprenur sudah beliau jalani. 


14 tahun yang lalu, mimpi beliau sudah menjadi kenyataan... namun memori perjuangan meraihnya tidak akan pernah lekang. 


Ya Allah ﷻ Ya Rahman.

Ampunilah dosa ibundaku tersayang

Lapangkanlah kuburnya

Mudahkan lah hisabnya 

Karuniakan lah Surga tertinggiMu untuknya

Berilah kami kesempatan berkumpul kembali di surga Firdaus yang kekal


‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


Weesp, Belanda

22 Desember 2018

Bertepatan dengan hari Ibu di Indonesia.

Ditulis oleh Nduk Yuyun yang selalu mendoakanmu (panggilan kesayangan mami untukku)


Ditulis dalam rangka mengikuti audisi naskah”Persembahan cinta untuk Ibu”

Friday, 21 December 2018

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (part 3-END)



Perbedaan yang terakhir yang Bianca sampaikan: "I am a university graduate..." dan dia tidak melanjutkan kalimatnya.


Aku sendiri yang harus mengisi titik titik itu...


Sejenak aku diam terpaku karena bagiku itu bukanlah perbedaan karena aku juga "University graduate" alias lulusan Univeritas gitu loh!!!

.

.


Tapi kenapa yang muncul dalam benak Bianca pernyataan yang seperti itu? 

.

.

Karena konteks diskusi kami adalah perbedaan di antara kami berdua, maka konsekuensi logis dari kalimat itu sudah tersirat meski tidak tersurat, bahwa: "Bianca adalah lulusan universitas sedang aku bukan!"


Beda lagi jika Bianca bilang:"I have my PhD degree" maka masih ada kemungkinan aku mengisi titik titiknya dengan jawaban :"I have my bachelor degree or Master Degree" 


Tapi dengan kalimat Bianca itu sudah nampak BIAS dan quick judgement yang menyimpulkan bahwa: perempuan berkerudung di hadapannya (dalam hal ini aku) adalah wanita yang tidak pernah mengecam pendidikan tinggi (Univeritas). Itu bedanya aku dan dia (paling gak berdasar pada ungkapan dia yang aku pahami)

.

.

Aku sengaja tidak beraksi dengan kalimat Bianca karena pasti kalimat tadi tidak sama sekali dia niatkan untuk merendahkanku. 

.

.

Bianca hanya menerka saja berdasar pada praduga yang selama ini mungkin dia tahu dan yang selama ini beredar dan di jual bebas oleh media2 koran ataupun TV di Inggris bahwa 

.

.

1. Wanita berkerudung itu identik dengan tidak berpendidikan tinggi. (Kalaulah ada itu hanya kasus pengecualian) 

2. Wanita berkerudung itu tidak fasih berbicara bahasa Inggris.

3. Wanita berkerudung itu di tindas oleh laki2 di komunitas mereka sendiri

4. Wanita berkerudung itu tidak punya pilihan (dipaksa untuk berkerudung dl) serta tidak punya banyak pilihan.

.

.

Kalau itu yang selalu di jual oleh headline2 media masa, sangat bisa dipahami darimana prasangka dan praduga Bianca tadi berasal. Its not her fault!.

.

.


Ini adalah pengalaman pertama bagiku menghadapi komentar yang sedikit menyudutkan seperti ini (meski hanya tersirat). Mengingat aku hanya 3 muslimah berkerudung dari 100 lebih orang yang hadir. Tentu saja identitasku sebagai perempuan berkerudung sangat bisa di indera. Seperti di Part 1 kisah ini sudah aku sebutkan, meski saat kerja di RS aku berinterasi dengan dokter, konsultan, perawat, tukang bersih2 RS tapi selama 6 Tahun itu tidak sekalipun aku mengalami kejadian seperti ini atau merasakan hal yang aneh begini. 


Mungkin sebagian pembaca akan berfikir: "ah, kamu aja yang sensitif Yum, mungkin bukan itu maksud Bianca" 


Mungkin saja demikian, tapi hari itu, aku tidak habis pikir dengan banyaknya pandangan mata dan ungkapan-ungkapan dan respon-respon aneh dari orang-orang di sekelilingku. 


Apakah karena aku ‘merasa’ menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris? Semoga saja hanya karena itu! 


Yah... karena ini pengalaman pribadi dan tulisan ini di tulis dari situasi yang sulit bisa di gambarkan kecuali berhadapan langsung dan berada di antara para wanita pekerja profesional yang menatapku dengan tatapan sedikit aneh (menurutku) maka ini adalah kesimpulan sederhana yang aku tangkap. 


Jujur....masih banyak kejadian yang lebih frontal dan lebih menakutkan dari yang aku alami hanya karena kami berkerudung. 


Sejenak pikiranku di sibukkan dengan kesimpulan di atas, tanpa ku sadari Sarah sudah masuk ke pembahasan berikutnya.


Aku tidak ingin tepancing dan aku merasa tidak perlu tersinggung, aku anggap Bianca belum banyak bertemu wanita2 berkerudung yang berprestasi atau membaca dan berinteraksi secara langsung dengan mereka (aku juga sedang memakai kacamata bias-ku kali ini) tapi aku bertekad di akhir acara aku harus meluruskan salah kaprah yang sudah merajalela. 


Kapan lagi kesempatan meluruskan prasangka itu datang, bisa jadi aku orang pertama dan orang terakhir Bianca temui dalam hidupnya (hiperbola banget deh!)


Akhirnya di akhir acara, ada kesempatan untuk para peserta berbicara dan mengajukan pertanyaan dan komentar. 


Saat itulah aku sampaikan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang aku harap bisa sedikit membuka mata dan meluruskan prasangka di luar sana (secara tersirat) bahwa perempuan berkerudung bisa juga berpendidikan tinggi dan bergelar dokter tapi memilih voluntary work. 


"Would it be possible to provide us with some researches -maybe in the form of archives that will be available online for all the coach to access- so we can back up all the statistics written on the coach note?"


"Let me give you just one example: just yesterday I delivered the session on "behave" and one of the attendees asked if it’s normal for her 11 years old daughter occasionally wet her bed, since I came from medical background and had spent 7 years studied medicine, I could help her a little bit and suggested the possible problem her daughter faced, and what she needs to do next. I am

fully aware that me as a coach is not meant to be parenting consultant let alone health advisor but my attendees really appreciated my help in that instance. So I guess additional information would help us along way and build our credibility even more!


Hikmah 


1. Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan tentang kita (wanita Muslima), tapi penting bagi kita menunjukkan bahwa Islam tidak seperti yang mereka pahami. It’s not about us but it’s about the image of Islam yang harus kita bela.


2. Tidak perlu tersinggung jika ada yang salah sangka, buktikan saja dengan adab dan tingkah laku yang islami.


3. Hidup sebagai ‘practicing muslim’ (muslim yang berusaha memegang dan menerapkan ajaran Islam dalam keseharian) dan sebagai minoritas di negeri Barat, mau nggak mau, suka nggak suka dan tanpa kita minta,

sudah menjadikan kita sebagai penanggung beban dan pembawa obor kebenaran. Pastikan kita memantaskan diri untuk amanah besar itu!


4. Prasangka dan praduga yang keliru tentang kaum perempuan pada khususnya atau Islam pada umumnya tidak cukup di counter (di lawan) dengan sikap dan tingkah laku yang baik saja tapi juga kemampuan menjelaskan dan kemampuan berargumen sehingga cahaya Islam selalu menjadi yang tertinggi. Lebih keren lagi kalau yang bersuara adalah kaum PEREMPUAN itu sendiri! 


5. Bersyukurlah jika kita berada di lingkungan dimana kita tidak harus "membuktikan" kepada khalayak rama ibahwa kita orang yang baik dan orang yang normal meskipun kita berkerudung.


6. Ambil kesempatan yang Allah ﷻ sajikan kepada kita untuk membela agamaNya kapanpun dan dimanapun.


7. Perbanyak ilmu, perbanyak diskusi, perbanyak menghadiri majelis ilmu di lingkungan kita ataupun menimba ilmu lewat media online supaya kita tahu dan bisa menyuarakan Islam dengan cara yang benar dan argumen yang kuat.


8. Hindarilah prasangka dan praduga, gimana caranya? Yah... dengan banyak membaca dan memahami.


9. Jadilah muslim yang aktif dan bantulah Islam dengan membuat narasi tandingan yang benar, tangguh dan beralasan.


The end


#KisahDariInggris

#RevowriterMutiaraUmmat

#MuslimDiBarat

#IslamDiInggris

#CurhatEmakEmak


Weesp, Belanda

21 Desember 2018

Ditulis oleh Yumna Umm Nusaybah

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (Part 2)

Pukul 12:30 siang masuk waktu ISHOMA, sambil menunggu antrian makan siang, aku putuskan untuk sholat duhur karena di musim dingin seperti sekarang, waktu waktu solat berdekatan satu sama lain. Aku tanya ke ketua panitia, seorang wanita berkulit putih berambut pendek bernama Bethan:"do you have a small spare room where I can pray?" (Adakah ruangan kecil yang bisa aku pakai untuk solat?) 


Dengan senyum manis, dia menjawab:"Let me ask the museum manager and I will get back to you, when do you need it and for how long? (Aku akan coba tanya ke manajer museum dan nanti aku kasih tahu kamu, kapan kamu butuhnya dan untuk berapa lama?).


Aku jawab: "I would appreciate it if I can use it now and I only need it for no longer than 5 to 7 minutes" (Kalau bisa sih sekarang dan aku hanya butuh untuk 5-7 menit saja)


Selang beberapa menit, Bethan sudah kembali dan mengajakku turun tangga dan menunjukkan ruangan meeting kosong yang bisa menampung lebih dari 10 orang!


"Thank you so much, Bethan! I really appreciate it, would it be okay if use it now and again in the next 30 - 45 minutes?"


(Terima kasih banyak, Bethan, dan bolehkah aku pakai lagi ruangan ini sekarang dan 30-45 menit lagi?) - sekalian ijin untuk memakai ruangan yang sama untuk solat asar.


Selesai solat, aku menuju meja yang sudah dipenuhi sandwich. Di situ sudah tertulis berbagai jenis sandwich, ada yang untuk vegetarian, gluten Free, dan sandwich yang berisi ayam dan daging. Jelas jelas daging dan ayamnya nggak halal, walhasil aku pilih sandwich untuk vegetarian yang isinya alpukat dan keju (ga nge-fan sama sekali sama rasanya tapi asal perut terisi saja)

.

.

.

Selesai makan, masuklah kami ke sesi kedua yang di isi oleh Ms Sarah Minor-Massy- seorang ibu dengan satu anak yang bekerja sebagai Solution director di MindGym. Dari aksennya, kelihatannya dia bukan wanita asli London. Dugaanku benar saat dia memperkenalkan diri. Sarah lahir dan besar di California, dan baru setahun terakhir pindah ke London. 


Topik yang di angkat Sarah hari itu berjudul: One of Us. Diskusi utamanya berbicara tentang bagaimana secara psikologis, perilaku setiap manusia akan selalu dipengaruhi oleh cara pandang mereka alias bias yang mereka miliki. Cara pandang/ bias ini terbentuk dari proses berkembangnya mereka di sepanjang perjalanan hidup, jumlah dan jenis informasi yang masuk ke dalam otak, dan apa yang menjadi kebiasaan keseharian kita (budaya). Beliau menyebutnya "unconscious bias". Sarah membuat sesinya interaktif. 

.

.


Sesi itu dia mulai dengan sebuah tes yang bernama IMPLICIT ASSOCIATION TEST dimana tes ini menganalisa adanya fenomena "the Stroop effect"


Dia menampilkan tulisan yang berwarna. Kata merah di tulis dengan tinta berwarna merah, lalu kami para audiens di minta membaca WARNA dari TULISAN itu secepat mungkin. Wajarlah kalau kami semua bisa membacanya dengan sangat cepat dan mudah. (Lihat gambar 1)


Selanjutnya dia menampilkan kata merah tapi di tulis dengan tinta warna biru dan kami di minta menyebut WARNA DARI TULISAN secepat mungkin dan BUKAN APA yang tertulis, saat inilah banyak yang berhenti atau mungkin menyebut warna yang keliru. (Lihat gambar 2)


Dari tes sederhana ini, para psikologis menyimpulkan bahwa alam bawah sadar kita cenderung secara cepat membuat kesimpulan dan kadang kesimpulan ini tidak logis dan terlalu menggeneralisasi. Warna merah belum tentu tertulis dengan kata MERAH (seperti pada latihan 2), tapi secara otomatis otak kita akan membaca kata "merah" yang berwarna "biru" dengan sebutan "merah" padahal yang di inginkan adalah menyebut warna dan bukan membaca kata yang tertulis. 


Alam bawah sadar kita cenderung mengasosiasikan kata dengan hal tertentu. Salah satu contonya adalah kata: kulit putih di asosiasikan dengan kata cantik, kata Afrika di asosiasi kan dengan krisis kelaparan, kata Eropa di asosiasikan dengan kemajuan, kata bule di asosiasikan dengan ganteng dan kaya, dan seterusnya. Pelajaran yang Sarah sampaikan: sudah menjadi sifat manusia untuk selalu ‘make a quick judgement’ (menghakimi sesuatu dan situasi dengan cepat) berdasar dan bergantung dari kebiasaan dan informasi yang sering kita peroleh. Sayangnya ‘quick judgement’ ini sering tidak benar bahkan berbahaya, sudah semestinya kita ‘take time’ untuk memberi diri kita sendiri kesempatan berfikir sehingga kita bisa menghakimi sesuatu, situasi dan seseorang dengan benar pula.


Kesimpulanku pribadi: berhati hatilah dalam mencari informasi, pastikan informasi, ilmu yang kita baca dan isi ke dalam otak kita adalah informasi yang benar dan valid, bukan hoax tapi berdasar. Kalau ilmu itu ilmu Islam, maka harus ada referensi dalil (Quran dan Sunnah). Kalaulah informasi itu tentang seorang maka kita kenal syariat yang namanya tabayyun dimana Islam

mengajarkan kita untuk cek dan ricek serta tidak grasa grusu bereaksi. We should respond and not react!


Fenomena ini juga menarik, kata Sarah, judgement itu juga bagian dari ‘decision making process’. Kalau pemahaman realitas kita nggak pas karena judgement kita yang grusa grusu maka cara kira merespon, menyikapi, dan menghakimi serta menghakimi sesuatu itupun akan keliru besar. 


Kalau fakta ini hal yang sepele dan mubah (dibolehkan dalam Islam) maka nggak masalah, tapi kalau ini berkaitan dengan hal besar semacam seorang perempuan yang ingin menikah dengan seorang laki2 atau sebaliknya dan mereka hanya menggunakan ‘stroop effect’ ini maka kemungkinan besar pernikahan mereka tidak akan langgeng. Kesan pertama boleh menggoda tapi selanjutnya belum tentu bikin bahagia. 

.

.

Konteks untuk kami para Parenting Coach saat itu adalah agar kita membuang bias itu sejauh jauhnya dan memberi kesempatan yang sama bagi semua peserta yang mengikuti parenting program yang kita suguhkan. Misalkan, menganggap peserta yang tidak aktif berbicara berarti tidak punya pendapat, menganggap peserta yang tidak fasih berbahasa Inggris tidak menguasai materi, dll. 

.

.

Setelah tes psikologi masal selesai, kami di minta bertukar informasi dengan orang yang duduk di sebelah kita tentang tiga persamaan dari kami berdua. Kebetulan sebelahku adalah seorang wanita berkulit putih dari Inggris utara dengan aksen kentalnya. Sebut saja namanya Bianca (bukan nama asli). Dia yang memulai berbicara dan menyimpulkan bahwa kami sama sama seorang ibu, sama sama seorang coach, dan sama sama perempuan. Aku pun setuju dengan pilihannya (of course).

.

.


Berikutnya, kami di minta saling bertukar informasi tentang apa yang menjadi perbedaan dari kami berdua. Ini yang MENARIK. Meski agak berat dan sungkan bagi kami untuk membicarakannya, tapi ini bagian dari topik yang harus di diskusikan. Aku persilahkan Bianca memulainya terlebih dahulu. Jujur aku sangat tertarik ingin mendengar apa yang ada dalam benaknya. 


Kata pertama yang dia sebut adalah, agama! (Perlu di catat bahwa obrolan tentang agama bukanlah obrolan umum, hal ini sangat privat dan jarang orang mau mendiskusikannya). 


Dia bilang:"Aku roman Katolik, kamu muslim" (aku mengangguk) 


Selanjutnya aku bilang:"kamu berambut pirang, aku berambut gelap, kamu seorang native, aku seorang imigran". Seperti kebiasaan orang Inggris yang terkenal sopan, dia pingin membuatku merasa nyaman dengan mengatakan: "aku dulu juga imigran di Spanyol"


Batinku berbicara: kayaknya orang Inggris di Spanyol tidak menyebut diri mereka

Imigran deh tapi mereka menyebut diri mereka EXPAT!. Imigran adalah label yang hanya di tempelkan oleh negara maju kepada para pendatang dari negara "miskin" atau negara "berkembang". Walaupun kenyataannya sama sama hijrah/ pindah tempat, tapi para pendatang dari negara maju tidak akan di sebut imigran, mereka di label dengan kata Expat. Lagi2 ini adalah asosiasi yang sengaja di tempelkan dari sebuah bahasa dengan realitas tertentu meskipun kenyataan yang terjadi sama tapi statusnya berbeda.


Rasa bahasa dari imigran dan expat TIDAKlah sama!


Anyway, giliran Bianca lagi untuk menyebut perbedaan antara aku dan dia, dan kalimat terakhirnya ini benar benar membuatku mengerutkan dahi dan bertanya tanya.


Bersambung...


#KisahDariInggris

#RevowriterMutiaraUmmat

#Muslim

#IslamDiInggris


Weesp, Belanda

21 Desember 2018

Pahlawan hidupku

Demi memulai tulisan ini, aku membutuhkan waktu berminggu minggu untuk menata hati. Setiap aku mulai menulis, mataku tak mampu membaca ketik...