Wednesday, 19 February 2020

Turning Forty

Turning Forty

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Disclaimer: Ini nasehat untuk diri sendiri. Sekiranya ada kesamaan tokoh dan kejadian. Maka sekedar kebetulan 

.

Beberapa hari yang lalu, usiaku masuk kepala empat. Dua hari setelahnya dapat kabar dari WA group kalau suami #BCL-artis ternama- #AshrafSinclair mendadak meninggal. Diduga kena serangan jantung. Di usianya yang ke-40 juga. Meski nggak ngikutin gosip Indonesia namun berita duka itu terpampang di berbagai sosial media. Jadi tahu juga akhirnya. 

.

Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada penciptanya. Inilah bagian dari drama kehidupan. Doaku, semoga Allah ﷻ memberi kesabaran dan kekuatan kepada keluarga yang ditinggalkan. Dan mengkaruniakan ampunan dan surga untuk yang sudah meninggal. اللهمّ امين 

.

Entah kenapa. Banyak sekali renungan yang menyedot pikiran gegara masuk dekade ke-4. Ada perasaan nervous, excited, anxious. Hal yang sama aku rasakan saat dulu aku menginjak usia ke-20. Aku punya feeling usia 20-30 tahun akan menjadi usia yang dramatis. Sebagian besar remaja juga mengalaminya Ternyata benar dugaanku. Direntang usia inilah perubahan besar terjadi. Aku lulus menjadi dokter, ibunda tiada, menikah, pindah negara, mulai bekerja, dan menjadi ibu untuk pertama kalinya. Peristiwa besar yang mau tidak mau menuntutku untuk juga berubah, mematangkan diri dan berevolusi. Secara konsep, aku masih punya dasar yang sama yakni Islam. Tapi banyak sekali cara pandangku terhadap orang, pertemanan, kehidupan, harta, tahta, kedudukan, karir dan pekerjaan pelan-pelan berubah. Akhirnya aku bisa melihat benarnya nasehat, ‘we all grow older but only some grow wiser’. Buktinya masih ada juga tua-tua keladi. Makin tua makin menjadi jadi (gak karuan perbuatannya)

.

Akankah di usia 40 tahun ini akan banyak peristiwa yang menjadi batu loncatan seperti usia 20? Aku punya firasat yang sama. Usia 40 ini sangat istimewa karena Allah ﷻ pun menyebutkannya di dalam Al-Quran surah Al-Ahqaaf ayat 15.

.

Allah Ta’ala berfirman,


‎وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

.

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:

"Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (QS. Al-Ahqaf: 15

.

Al-Imam Al-Qurthubi menyatakan bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya.

.

Ibnu Katsir menyatakan bahwa ketika seseorang berada dalam usia 40 tahun, maka sempurnalah akal, pemahaman dan kelemah lembutannya. (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6:623)

.

Sebagaimana diterangkan oleh Imam Asy-Syaukani rahimahullah, para ulama pakar tafsir menyatakan bahwa tidaklah seorang nabi diutus melainkan mereka telah berusia 40 tahun. (Rumaysho.com)

.

Demikian juga baginda Rasulullah Muhammad ﷺ. Malaikat Jibril turun menyampaikan ayat Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq saat usia beliau 40 tahun (meski ada riwayat lain beliau masih beberapa bulan menjelang usia 40 tahun). Ada yang mungkin bertanya. Kenapa Rasulullah diutus menjadi seorang rasul diusia 40 tahun? Seandainya Muhammad ﷺ diutus menjadi seorang Rasul di usia yang lebih muda, kemungkinan besar beliau akan memiliki waktu yang panjang untuk mendakwahkan Islam. Bisa jadi perluasan Islam akan semakin cepat dan besar.

Wallahu ‘alam.

.

Menurutku pertanyaan ini memang menggelitik tapi sebenarnya tidak akan ada yang mampu menjawabnya kecuali Allah SWT semata. Karena pemilihan usia 40 tahun adalah af’al Allah. Itu murni kehendak Allah. Apa alasan sebenarnya? Maka Allah lah yang harus menjelaskannya. Sepanjang pengetahuanku tidak ada ayat Al Quran yang menjawab dengan jelas dan langsung pertanyaan ini. Namun banyak Ulama terdahulu yang mengira-ira. Kembali lagi ini perkiraan manusia. Jika ingin jawab pastinya, harus mati dulu, masuk surga. Baru nanti di surga tertinggi, saat kita bertemu langsung dengan Allah, saat itulah kita bisa mendapat jawaban yang sesungguhnya. Kalaulah sekarang saat kita hidup di dunia pertanyaan itu terjawab, toh tidak akan merubah fakta. Tidak juga menambah nilai apapun juga. Toh Rasulullah sudah selesai melakukan tugas kenabiannya. Beliau juga sudah menyampaikan semua risalah Allah ﷻ kepada ummatnya. Beliau juga sudah melengkapinya dengan af’al (perbuatan), qaul (ucapan) dan takrirnya (diamnya) ﷺ. Ketiganya kita kenal sebagai Sunnah baginda ﷺ. 

.

Bagi kita pengikut Rasulullah mulia ﷺ dan yang sudah memasuki usia 40 tahun. Bisa lah kita bercermin. 

.

Sudahkah kita memiliki sedikit saja dari kedewasaan beliau? Kematangan beliau? Kedalaman berfikir beliau? Kemampuan memganalisa beliau? Dedikasi Beliau? Pengorbanan beliau? Memiliki people skills dan non judgemental approach yang beliau miliki?

.

Beberapa hal yang aku simpulkan berkaitan dengan usia 40 ini

.

1. Disinilah titik kritis dari usia seseorang. Seandainya seseorang hanya punya jatah 60 atau 70 tahun, maka lebih dari separuh usianya sudah dia lalui.

.

Rasulullah bersabda, "Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampaui umur tersebut". [HR. Ibnu Majah: 4236].

.

Di sinilah persimpangan jalan seseorang. Mau kemana kaki melangkah maka kemungkinan besar di situlah akhir dari perjalanannya. Jika dia memilih belok ke kanan (surga dan kebaikan) maka ada harapan besar dia meninggal saat melakukan kebaikan. Namun jika dia memilih belok ke kiri (maksiyat dan keburukan) maka tak perlu menyalahkan siapa-siapa jika demikian pula akhir dari kehidupannya. 

.

.

2. Di usia 40 pula biasanya seseorang mencapai puncak kejayaan. Secara fisik, materi, status pernikahan, keluarga, kematangan emosi, kemampuan berfikir, karakter dan kebiasaan mereka sudah sangat kompeten dan ‘ajeg’. Tak akan banyak perubahan setelah usia 40 tahun. Wajar jika tugas kenabian juga dimulai di usia ini. Namun ironisnya, seperti kita menaiki sebuah gunung, jika sudah ada di puncak maka langkah selanjutnya adalah turun. Apakah prosesnya bakalan mudah, lancar, atau menggelincir cepat dan memasuki liang lahat? Tak ada orang yang tahu. Sebisa mungkin kita harus menyiapkan bekal dan membawa seperlunya supaya tidak menggelinding cepat. 

.

.

3. Kemampuan fisik sudah berbeda. Usia empat puluh plus adalah saat dimana kemampuan tubuh tidak seperti saat muda. Metabolisme semakin melambat. Banyak lemak berkeliaran di pembuluh darah. Kebutuhan olah raga semakin bertambah. Sakit pinggang, sakit gigi, sakit kepala menjadi langganan. Seolah menjadi pengingat bahwa mesin tubuh sudah mulai karatan. Allah sudah memberi sedemikian panjang waktu muda untuk berbuat. Ada yang mengisinya dengan maksiyat. Ada yang justru rajin belajar agama bahkan menjadi pengemban dakwahnya. Inilah saatnya membelakangi dunia dan menghadapi akherat. Tak ada kata terlambat. Mulailah membuat persiapan bekal menghadap Rabb kita. Dulu saat muda mampu melakukan puluhan aktivitas tanpa lelah. Kini tubuh tak lagi bekerja sama. Sebelum tubuh benar-benar kadaluwarsa, carilah aktivitas yang berpahala besar, berefek luas dan prioritaskan sesuai porsinya.

.

.

4. Lingkaran teman harus juga diperhatikan. Seiring bertambahnya usia maka lingkaran teman akan semakin mengecil. Kalau dulu saat muda kita perlu teman dengan jumlah yang banyak. Kini kita hanya perlu teman yang benar-benar setia. Teman yang menambah cakrawala. Menambah nilai dan tidak hanya untuk berhaha hihi. Kelilingi diri kita dengan teman yang mau dan mampu mengingatkan dan membawa kita ke surga. 

.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

.

"Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’" (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)


Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali. 

.

Hasan Al- Bashri berkata,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة 

يوم القيامة

.

Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.

.

.

5. Inilah saatnya memikirkan apa yang bisa kita tinggalkan setelah kematian. Bukan ... Bukan tentang banyaknya harta. Atau viralnya peristiwa. Bukan pula ketenaran yang menyesatkan. Tapi perlu kiranya memikirkan amalan yang pahalanya akan selalu mengalir. Saatnya memikirkan perbuatan apa yang bisa mendatangkan pahala berlipat hingga akhir zaman. Ikuti saja contoh baginda ﷺ. Pasti akan faham. 

.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

.

‎إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثَةٍ : إِلا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

.

"Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: (1) sedekah jariyah, (2) ilmu yang diambil manfaatnya, (3) anak shalih yang selalu mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim, no. 1631)

 .

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


‎إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ

 

"Sesungguhnya yang didapati oleh orang yang beriman dari amalan dan kebaikan yang ia lakukan setelah ia mati adalah:


1. Ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan.

2. Anak shalih yang ia tinggalkan.

3. Mushaf Al-Qur’an yang ia wariskan.

4. Masjid yang ia bangun.

5. Rumah bagi ibnu sabil (musafir yang terputus perjalanan) yang ia bangun

6. Sungai yang ia alirkan.

7. Sedekah yang ia keluarkan dari harta ketika ia sehat dan hidup.

Semua itu akan dikaitkan dengannya setelah ia mati." (HR. Ibnu Majah, no. 242; Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al-Iman. Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan dihasankan oleh Al-Mundziri. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

.

Semoga Allah ﷻ melimpahkan barakah di sisa usia kita semua. 

Semoga kita mampu meninggalkan legacy (warisan) yang bermanfaat bagi dunia yang kita tinggalkan dan bernilai pahala untuk akhirat kita. 

‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 

.

London, 19 Februari 2020

.

#Renungan

#GoresanYumna

#KisahDariInggris

#bclsinclair

Saturday, 8 February 2020

Mengapa Menunda Berhijab?

#RevowriterLoveHijab

#Day7

.

Mengapa Menunda Berhijab?

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Ustad Nouman pernah menggambarkan dalam sebuah kajiannya. Bahwa ayat-ayat di dalam Al Quran yang berkaitan dengan surga, pengampunan, kebaikan, maka Allah ﷻ sering memakai lafad-lafad yang menggugah. Contohnya dalam Quran Surat Ali Imran:133


‎۞ وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ (١٣٣)

.

Dan segeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan , dan surga seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.

.

Atau dalam surat Al Baqarah: 148

.

‎وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ


 Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

.

Dalam Surat Al Hadid:21


‎سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

.

Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya...... 


Kata saari’uu dan fastabiquu maknanya hampir sama. Yakni bersegera dan bergegas menuju suatu tujuan.


Perbedaannya, pada kata saari’uu yang ditekankan adalah kesegeraan bergerak, tanpa sedikit pun ragu, dan tanpa bertele-tele memikirkan sesuatu di luar itu, sehingga membuatnya tidak maksimal. 


Adapun kata fastabiquu lebih kepada perintah berlomba jangan sampai keduluan oleh yang lain. Dari kata ini mengindikasikan bahwa banyak orang yang menempuh jalan kebaikan ini. Masing-masing bergerak cepat dan bersegera untuk mencapai tujuan tertentu.


Sedang istilah saabiquu lebih dahsyat lagi. Dalam kata saabiquu terkandung makna bersegera atau berlomba, dan anjuran memenangkan perlombaan. Jadi tidak hanya bersegera beramal, melainkan juga amal yang berkualitas. (Dakwatuna.com)

.

Allah ﷻ sudah menyiapkan surga yang sedemikian luasnya. Untuk orang yang menyegerakan dirinya taat pada perintahNya. 

.

Sekarang bayangkan. Jika ada orang kaya raya di sebuah desa. Dia membuat sayembara. Siapapun yang mau membawa sebongkah batu dengan berat 5 kg ke rumahnya. Maka dia akan memberikan imbalan berupa istana dan seluruh isinya. Kira-kira bagaimana respon kita?

.

Tanpa berfikir panjang pasti kita akan mengantar batu itu. Bahkan demi imbalan lebih, kita akan membawa 15 atau bahkan 25kg kalau perlu. Jika boleh bolak balik, maka pasti akan kita habiskan setiap hari dan minggunya mengangkut beban itu. Meski berat tapi kita tak akan menyerah. Karena imbalannya sangat menggiurkan.

.

Jika ada orang yang mau membayar kita 100ribu rupiah untuk solat Sunnah dan satu juta untuk setiap solat wajib. Bayangkan betapa banyak orang yang mau solat. Demi imbalan.

.

Pertanyaannya, kenapa ketika ada aturan Allah berupa kewajiban menutup aurat. Memakai jilbab dan kerudung. Masih banyak yang tidak menyegerakan? Masih banyak yang enggan? Padahal Allah menjanjikan siapapun yang bersegera taat kepadaNya, akan ada imbalan surga.

.

Apakah karena ketidakmampuan kita menggambarkan surga? Lalu kenapa kita tidak mencoba membaca, mentadaburi Al Quran yang dipenuhi dengan gambaran surga? 

.

Banyak sekali alasan yang diajukan untuk menunda. Diantaranya:

.

.

1. Saya belum mendapat hidayah

.

Hidayah seperti sepiring nasi. Tersedia di depan meja. Jika tangan tidak mengambilnya. Maka nasi tidak akan masuk ke mulut kita. Untuk mendapat hidayah maka harus ada upaya. Tidak hanya ditunggu. Tapi harus dicari. Mencarinya tidak di dompet, di diskotek, mall dan Plaza. Hidayah ada bersama orang-orang soleh. Di majlis taklim. Majlis ilmu. Di masjid dan di tempat dimana Quran dan Sunnah di bahas. 

.

.

2. Bagaimana nanti saya bisa bekerja dan menikah setelah berhijab?

.

Justru jika kita berkerudung sebelum menikah maka proses penyaringan calon suami akan lebih mudah. Lelaki yang datang bukan lelaki sembarangan. Paling nggak dia lelaki yang mau menerima syariat hijab. Kemungkinan besar lelaki taat. Untuk pekerjaan, tak perlu risau. Allah ﷻ yang menetapkan Rezeqi kita. Jika Allah ﷻ berkehendak mencabut sumber Rezeqi itu maka berkerudung atau tidak, tetap akan terjadi. Bukankah lebih terhomat ketika kita tetap taat meski diuji olehNya? Daripada berduit tapi bergelimang dosa.

.

.

3. Saya nggak betah gerah dan panas.

.

Merasa gerah itu hanya sementara. Jika sudah terbiasa, tak akan lagi terasa panasnya. Dan ingat juga ada panas yang lebih membara. Neraka! 


Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,

“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132)

.

.

4. Saya masih muda. Nanti saja kalau saya sudah tua

.

Siapa yang bisa menjamin kita hidup sampai tua? Bagaimana jika kerudung pertama yang terpakai adalah kain kafan? Tidakkah menakutkan? Bersegera saja. Karena semakin ditunda, bisa-bisa niat dan tekad semakin terkikis.

.

.

5. Saya bukan muslim yang sempurna. Saya tak ingin merusak image hijaber gara-gara saya

.

Justru dengan menutup aurat (dengan jilbab dan khimar) maka kita berkomitmen untuk semakin menyempurnakan iman. Tak perlu lah kita merasa satu-satunya penanggung beban. Toh banyak juga muslimah lain yang bisa menjadi perwakilan Islam. Kita bukan satu-satunya. Mungkin kita belum seberapa dibanding mereka. Tapi bukankah mereka juga pernah berada di titik dimana kita sekarang berada? Bedanya, mereka terus berjalan dan berjuang untuk membuktikan keimanan mereka. Jika ingin seperti mereka, ikuti jejaknya.

.

.

6. Hijab kan hanya penampilan luar. Yang penting hatinya benar. Hijabi dulu hati kita

.

Apakah berarti solat juga tidak perlu, jika hatinya sudah dekat sama Allah? Apakah berdakwah, berjihad juga harus dihindari? Kan yang penting hatinya? Lalu bagaimana kita akan menjelaskan sirah nabawiyah yang penuh dengan contoh dan hikmah? Kalaulah ada manusia di dunia yang berhak untuk tidak melakukan apa-apa, maka Rasulullah ﷺ lah orang satu-satunya. Beliau tinggal berdoa. Membersihkan hati dan tidak melakukan aktivitas fisik. Namun buktinya, semua perbuatan beliau menunjukkan bahwa TIDAK hanya HATI yang penting. Tapi amal dhohir juga harus ada. Bayangkan jika pasangan kita berkali-kali bilang sayang dan cinta. Tapi tak pernah ada bukti nyata dari cara dia memperlakukan kita. Apa bisa kita percaya? Jangan-jangan hanya klaim saja?! Sungguh iman bermakna meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?


7. Buat apa berhijab jika kelakuan masih nggak karuan? Perbaiki dulu akhlak 

.

Hijab adalah salah satu pintu kebaikan. Semakin kita mendekat kepadaNya. Semakin banyak pintu kebaikan yang akan Dia buka. Justru dengan berhijab akan ada kontrol langsung untuk tidak lagi urakan. 

.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,  

.

‎يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ في نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً (رواه البخاري، رقم 7405 ومسلم ، رقم 2675 )

.

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Aku tergantung persangkaan hamba kepadaKu. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingatku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diriKu. Kalau dia mengingatKu di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari.” (HR bukhari, no. 7405 dan Muslim, no. 2675)

.

Akhlak adalah sifat yang mengiringi sebuah amal. Akhlak dari solat adalah khusyu’. Akhlak dari memberi adalah menyembunyikan dan tidak menyebut-nyebutnya. Jadi memperbaiki akhlak termasuk di dalamnya memperbaiki perbuatan.

.

.

8. Berhijab itu bikin hidup jadi ribet dan nggak praktis

.

Ribet itu tergantung dari cara pandang kita. Demi sesuatu yang berharga, keribetan tidak akan menjadi masalah. Contohnya, punya anak. Mengurus bayi sangatlah ribet. Mengurus suami juga ribet. Toh tetap saja ada perempuan yang mau direpotkan menjadi ibu dan isteri. Kenapa? Karena it’s worth it. Sama demban menyisir rambut, meluruskannya, membuatnya indah tergerai, mewarnainya, semuanya ribet. Bukankah lebih mudah jika hanya dikuncir dibelakang? Menutupinya dengan hijab. Tak perlu proses yang panjang. Justru lebih praktis dan cepat. 

.

.

9. Saya takut kehilangan teman dan ditentang oleh keluarga. 

.

Kalau dia benar benar teman setia maka mereka akan mendukung kita kapanpun dan dimanapun. Apalagi jika mengarah kepada kebaikan. Selembar kain tidak akan mengubah kita sebagai teman. Bisa jadi dengan menutup aurat, peristiwa ini menjadi titik balik dan proses pembuktian. Siapa teman yang sebenarnya dan siapa teman gadungan. Justru semakin kita dekat dengan Sang Maha Pencipta maka semakin ridho Allah kepada kita. Dan Dia SWT Jua yang mampu menjaga kita dan teman-teman awet jalinan pertemanan. Untuk Keluarga, ada sebuah hadis yang bisa menjadi jawaban. Diriwatakan oleh Imam Ahmad (5/66) dari Abdullah bin Sham


١٧۹ - لاَ طَاعَةَ لأََِحَدٍ فِيْ مَعْصِيَةِ اللهِ تَبَارَكَ وَتَعَالٰى

‫ ‬

 “Tidak ada ketaatan terhadap seseorang dalam mendurhakai Allah Yang Suci dan Maha Luhur.”

.

Untuk para ortu, Mustinya kita bangga jika anak gadis kita memilih menutup aurat untuk taat kepadaNya dan menjaga ‘Izzahnya.

.

.

10. Saya takut di anggap sok alim, sok suci dan ekstrim.

.

Takut yang seperti ini jangan dipelihara. Komentar orang tidak akan pernah ada habisnya. Selalunya mereka hanya berani ngomong di bibir saja. Sirik tanda tak mampu. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Awalnya mungkin sedikit menyakitkan, lama-lama juga terbiasa. Komentar itu tidak menunjukkan siapa kita tapi justru menjadi bukti karakter mereka (yang suka komentar negatif).

.

Siapa sebenarnya yang berhak kita takuti? Allah berfirman (yang artinya) : “..Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku” (QS. Al Ma’idah: 44).

.

Semoga tulisan ini bisa menjadi pompaan semangat. Untuk yang belum berhijab menjadi mantap berhijab. Untuk yang sudah berhijab, bergerak cepat mengajak. 

.

London, 7 Februari 2020 pukul 11 malam GMT (waktu Inggris) 

.

Keterangan gambar: Diambil saat berkunjung ke Vancouver- Kanada 2009


#HijabEveryDay

#HijabSampaiMati

#HijabPerintahAllah

#goresanyumna

#KisahDariInggris

Thursday, 6 February 2020

Salah Kaprah Tentang Hijab

#RevowriterLoveHijab

#Day6

.

Salah Kaprah Tentang Hijab

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

"Hey D, I have this niggling question about hijab. I hope you don’t get offended." Tanya kolegaku, Katherine saat kami dinas malam. (FYI dia memang memanggilku dengan inisial nama depan. Entah kenapa? Aku sih asyik asyik aja. Dan kaget juga saat dia menyebut kerudungku dengan bahasa Arab: HIJAB)

.

(Hey D, aku punya pertanyaan yang menggelitik tentang hijab. Semoga kamu tidak tersinggung)

.

"Yes, sure, fire away...I am more than happy to answer it" jawabku sok PeDe.

.

(Ya silahkan, tanya saja, aku seneng-seneng saja menjawabnya)

.

"I am always wondering, Errmmm... are you sleeping with that on (hijab)?"

.

(Aku selalu penasaran, apa kamu tidur dengan memakainya -hijab?)

.

.

Glodhak! Pingin ngakak tapi yo nggak sopan lah. Wong dia nanya baik-baik dan pingin tahu aja. Kalau ditertawakan, bisa-bisa dia merasa sudah mengajukan pertanyaan yang konyol. 

.

Dengan senyum aku jawab, "No... I sleep in my PJ without hijab. I don’t shower with it. I don’t wear it at home as there is only my husband and my kids at home. I don’t wear it while I am cooking either"


(Ya nggak lah...aku tidur memakai piyama tanpa hijab. Aku juga tidak mandi sambil memakai hijab. Aku juga tidak memakainya dirumah karena hanya ada suami dan anak-anakku. Aku juga tidak memakainya saat memasak).

.

"Aaah...that is interesting. For some reasons I am thinking you have to wear that all the time even in your sleep. So when are you exactly wearing it?"

.

Akhirnya diskusi berlanjut tentang mahram, pernikahan, dan segala hal berkaitan dengan isu perempuan. Seingatku, Katherine memang gadis bule yang open minded. Dia mau mendengarkan. Tidak judgemental. Kami cocok kerja bareng. Dia sering teriak gembira kalau tahu aku ditugaskan bersamanya. Dia yang menyematkan panggilan istimewa untukku, "Speedy Gonzalez". Menurutnya meski aku berpakaian super tertutup (versi mereka), aku masih bisa gesit dan cepat dalam menyelesaikan pekerjaan. Walhasil, kita punya waktu istirahat yang lebih panjang. 

.

Siapapun yang tinggal di negeri Barat. Memiliki jalinan dekat dengan pribumi setempat. Pasti pernah mendapat pertanyaan yang mirip atau bahkan sama. Pertanyaan Katherine bukanlah hal yang aneh. Sedikit lucu memang tapi aku malah suka jika mereka mau bertanya. Karena itu menunjukkan bahwa mereka mau terbuka dan mendengar penjelasan kita. Bagi yang tinggal di Eropa, Amerika, Australia, cobalah sekali sekali membuat survei kecil-kecilan. Tanyakan kepada masyarakat di luar sana, saat mendengar atau melihat perempuan berhijab apa kesan pertama mereka? Banyak tentunya. 

Ada pertanyaan dan miskonsepsi yang lucu. Ada juga yang serius. Paling sering biasanya anggapan bahwa perempuan berhijab itu tidak berpendidikan. Mereka tidak fasih berbahasa Inggris. Bisanya hanya macak, manak, masak. Berikut yang umum dan sering disampaikan oleh mereka yang penasaran 

.

.

1. Perempuan berhijab itu tertindas karena mereka tidak punya pilihan untuk bebas memilih berpakaian apa saja sekehendak hatinya. 

.

Respon: Sebebas-bebasnya manusia di barat, mereka masih punya batasan. Dan ini sangat alami. Batasan kebebasan itu adalah kebebasan orang lain. Tidak ada kebebasan yang sifatnya mutlak. Satu contoh saja, jika ada orang berjalan sambil telanjang bulat di jalanan London, kemungkinan besar mereka akan diamankan oleh pihak kepolisian. Karena dianggap melanggar "public decency" dan "breach of the peace." Itu artinya setiap orang tidak ‘bebas’ semaunya. Ada ‘dress code’ dalam berbagai suasana. Ketika ada acara pesta, ke pasar, ke pertemuan resmi, ke kolam renang, masuk ke tempat ibadah dan lain sebagainya. Mengatakan bahwa perempuan berhijab tidak bebas, sungguh aneh. Kenyataanya para hijaber sendiri yang memilih berpakaian demikian. Jadi sebenarnya mereka sedang memakai ‘kebebasannya’ dengan memilih menutup auratnya. Toh mereka masih bisa memilih warna. Model kerudung (asal sesuai syariat). Jenis kain. Dan lain sebagainya. Tak ada hijaber yang keluar karena ada orang yang memaksa mereka dengan menaruh kain dikepalanya kemudian dia tak bisa melepasnya. Anehnya, meski para hijaber sudah berulang kali mengatakan bahwa mereka justru merasa bebas dari mata-mata liar dan hawa nafsu membara. Mereka merasa bebas menentukan siapa yang bisa melihat auratnya. Merasa bebas menyembunyikan lekukan tubuhnya. Eh tetap saja argumen bahwa hijaber itu tertindas tidak pernah habis dijajakan. Seolah para perempuan muslimah harus menerima tuduhan ini dan membenarkannya.

.

.

2. Mereka berhijab karena di paksa oleh Ayah, paman, Kakak lelaki atau suami. 

.

Respon: Jika bertanya langsung kepada hijaber, mayoritas dari hijaber akan menjawab bahwa mereka berhijab tanpa paksaan, ancaman ataupun penindasan. Kalaulah ada, prosentasenya sangat kecil. Di website worldhijabday.com ada sebuah statistik. Diambil dari poling online melalui media instagram mereka dengan follower 40,000 dan FB dengan follower 790,000. Pertanyaan yang diajukan adalah "Were you forced to wear the hijab?" (Apakah kamu dipaksa memakai hijab?) 93% menjawab TIDAK dan 7% menjawab IYA.

Anehnya, meskipun para hijaber sudah ‘berteriak-teriak’ membuat video, press release, membuat pengakuan dan segala bentuk pemberitahuan kepada publik bahwa mereka memilih berhijab karena keinginan mereka sendiri. Karena mereka ingin mendekatkan diri kepada Tuhan. Karena mereka ingin diidentifikasi sebagai seorang Muslim. Karena mereka ingin menjalankan perintah agama. Karena mereka ingin dinilai dari ketinggian dan kecerdasan aqalnya dan bukan dari molek tubuh dan cantik parasnya. Dan berbagai alasan lainnya. Ah tetap saja miskonsepsi ‘hijab adalah paksaan’ ada di daftar pertama. Nah loh, siapa sebenarnya yang tidak mau mendengarkan uraian para hijaber? Apalagi yang musti hijaber lakukan supaya di dengar. Supaya gagal faham dan salah kaprah ini bisa di babat habis? 

.

.

3. Hijab adalah penghalang kemajuan perempuan. Karena hijab lah perempuan muslimah tidak bisa berkarya. Karena hijab, mereka harus memendam mimpinya. Karena hijab, mereka harus merelakan peran muslimah dikebiri dan dibatasi.

.

Respon: Tak susah membuktikan kesalahan miskonsepsi ini. Jelas-jelas hal ini bertentangan dengan fakta yang ada. Berapa banyak dokter yang berhijab. Insinyur, interior designer, guru, personal trainer, broadcaster, jurnalis, penulis, peneliti, motivational speaker, dan segala bentuk profesi yang memakai hijab? Jika tuduhan diatas benar, mana mungkin ada muslimah berhijab dengan profesi tersebut diatas? Butuh pendidikan yang tinggi untuk bisa mencapai profesi-profesi tadi. Yang menarik, sekolah selevel SMP/SMA TERBAIK di Inggris justru diraih oleh Tauheedul Islam Girls' High School di Blackburn. Sekolah Islam khusus perempuan. Jika hijab memang menajdi penghalang, bagaimana mereka bisa menjustifikasi kenyataan diatas? Islam jelas mengharuskan seorang muslim cerdas, tangkas, berwawasan luas dan bijak. Perempuan dan laki-laki. Hijab bukan penghalang. Justru dengan hijab, menutup aurat dengan benar, tata pergaulan yang syar’i maka interaksi laki-laki dan perempuan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat MURNI hanya untuk kepentingan sosial. Bukan untuk meluapkan godaan syaitan. Atau memenuhi syahwat semata. Profesionalitas akan terjaga. Saling menghormati dan menghargai akan selalu ada. 

.

Pesan moral

.

Yang terpenting! Apapun profesi, kedudukan, aktivitas dan kesibukan kita sebagai muslimah berhijab, tak perlulah bersusah payah membuktikan mereka (para pemegang prejudice) SALAH! 

.

Kenapa? Karena jika niat awalnya hanya demikian maka tak akan ada ujungnya. Akan selalu ada tuduhan baru. Akan membutuhkan pembuktian baru. Semakin kita mengejar keinginan untuk di akui oleh orang yang tidak memahami cara pandang kita. Semakin kita ingin divalidasi oleh mereka yang tidak bisa melihat hukum Islam dengan lensa yang sebenarnya, maka semakin jauh kita dari tujuan awal mempertahankan kemuliaan Islam. 

.

Satu contoh, karena ingin membuktikan perempuan berhijab bisa segala macam, akhirnya ada atlit berhijab. Ajang putri-putrian berhijab. Penyanyi berhijab. Penari berhijab. Komedian berhijab. Rapper berhijab. Entah sampai dimana batasannya? Pernahkah terpikir, cara merespon kesalah fahaman tentang image hijaber seperti ini justru kontraproduktif? Oke lah kalau masih dalam koridor syara’. Bagaimana kalau justru kita terperangkap di dalam maksiyat yang berbungkus hijab. Kan menambah masalah? Bukannya meluruskan kesalah fahaman dan miskonsepsi. Yang ada justru menambah daftar miskonsepsi baru tentang pengertian hijab dan peran hijab yang sebenarnya.

.

Aku yakin banyak yang setuju dan tidak setuju dengan pandangan di atas. Saya persilahkan diskusi dan berdebat dengan cara yang ahsan. 

.

Wallahu ‘Alam 

.

London, 7 Februari 2020 pukul 21:31 GMT

.


Keterangan gambar: Diambil saat berkunjung ke Weesp, Belanda bulan Desember 2018.


#HijabEveryDay

#HijabSampaiMati

#HijabPerintahAllah

#goresanyumna

#KisahDariInggris

Wednesday, 5 February 2020

Hijab: Is It A Fashion Statement?

#RevowriterLoveHijab

#Day5

.

Hijab: Is It A Fashion Statement?

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

“Sampeyan ini pulang dari London kok penampilannya kayak pulang dari Saudi tho, Mbak? Baju berwarna gelap, polos, tak bermotif dan baju yang sampeyan pake’ ini kan model lama?”

.

Ini komentar yang aku dengar dari seorang teman di tahun 2008. Tahun ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di Indonesia setelah 4 tahun pindah ke Inggris. 

.

Nyesek juga mendengar komennya. Meskipun maksud dari temenku hanya guyon saja. Eh...Tapi ada benarnya. Kenyataanya, lemari dirumahku penuh dengan jubah berwarna hitam atau warna gelap seperti biru dongker, abu-abu, coklat tua dan merah maroon. Kalaulah ada motif bunga, aku hanya berani memakainya saat musim panas saja. Atau saat ada undangan pesta. Lah kenapa? Karena memang demikianlah standar warna para hijaber di areaku. Supaya tidak terlihat mencolok, haruslah kita mengikuti budaya setempat. Kalau nggak bisa-bisa kena hukum Tabarruj. Meski tak dipungkiri ada muslimah dari Ghana, Nigeria, dan Sierra Leone yang juga terbiasa memakai baju bermotif mencolok. Namun itu bukan pakaian keseharian. Mereka tidak antar jemput anak ke sekolah dengan memakai baju yang ‘rame’. Hanya di hari istimewa saja (eid atau jumat).

.

Di Indonesia dan Malaysia tentu berbeda. Negara tropis akan cenderung ‘berani’ memilih warna. Gamis dan kerudung nge-pink, kuning, ijo royo-royo bahkan merah membara. Tak ada jadi masalah. 

Sebenarnya bukan warna dan motif yang menjadi sorotan tapi ketika khimar dan jilbab menjadi fashion statement.

.

Berapa kali kita dengar seorang designer muslimah dan koleksi ‘busana muslimahnya’ dipertontonkan di ajang Fashion Show kelas dunia. New York Fashion Week, London Fashion week dan berbagai catwalk bergengsi lainnya. Baru-baru ini malah ada ajang baru yang yang di beri nama Modest Fashion Week. 

.

Modest Fashion Week adalah platform mode tahunan yang didirikan oleh Franka Soeria, pendiri Alahijab.com - platform media sosial yang didedikasikan untuk mode ‘modest/sopan’ - dan pengusaha Turki Özlem Şahin. Duo, yang bertemu di Istanbul, awalnya memutuskan untuk meluncurkan Modest Fashion Week untuk mengisi celah di pasar. Maka lahirlah Istanbul Modest Fashion Week lahir. Menyusul keberhasilannya yang spektakuler, keduanya diundang ke London untuk menjadi tuan rumah edisi kedua Fashion ekstravaganza, dan ditahun 2019, Modest Fashion Week berlangsung di Dubai untuk pertama kalinya. (Vogue.com).

.

Tak hanya ajang bergengsi. Brand dunia pun melihat potensi Modest Fashion ini sebagai potensi mengeruk uang. Seperti dilaporkan oleh The State a Islamic Global Economy bahwa tahun 2020 pasar Modest Fashion bisa bernilai lebih dari 226 trilyun poundsterling! Tak heran jika akhirnya model baju ‘modest’ aka sopan termasuk di dalamnya kerudung, celana panjang, naju berlengan panjang dan gamis menjadi incaran brand-Brand besar .

.

Pada tahun 2014, DKNY memasarkan koleksi Ramadhan berupa gamis dengan harga puluhan juta. Di 2015 H&M menampilkan seorang model berhijab, Mariah Idrissi. (The Independent 19/4/2019)

.

Yang tak kalah ramai adalah seorang model muslimah dari Amerika yang bernama Halima Aden, berusia 20 tahun, telah menunjukkan kepada dunia bahwa wanita yang mengenakan kerudung juga bisa berkarier sebagai foto model di media mainstream. Apakah ini sebuah pencapaian? Ini diskusi di lain waktu. Pada tahun 2016, Aden menjadi kontestan pertama yang mengenakan kerudung di ajang Miss Minnesota Pageant dan sejak itu dia terus muncul di berbagai catwalk. Tahun 2018, Aden juga menjadi foto model pertama yang mengenakan kerudung dan menghiasi sampul majalah Vogue Inggris. Hal ini dianggap gebrakan besar bagi seorang wanita muslimah. Selama 102 tahun publikasi, ini baru pertama kali terjadi!

.

Apakah ini membuktikan Islam semakin diterima di negeri Barat? Apakah memang busana Muslimah sudah sedemikian hebat? Atau sebenarnya ada faktor pengeruk milyar dengan busana yang dikenal ‘Modest Fashion?’ Dari mana asal usul kata Modest Fashion ini sendiri?

.

Istilah ‘Modest Fashion’ sebenarnya tidak memiliki definisi yang saklek alias tetap. Masing masing orang mendefinisikan modest/sopan dengan cara berbeda. Namun, istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan pakaian yang menyembunyikan kecantikan lekukan tubuh. Gaya berpakaian untuk tidak menonjolkan kecantikan tubuh wanita.

.

Yang sangat menggelitik, upaya berpakaian sopan ini sebenarnya di motori oleh para muslimah dan dasari oleh Aqidah mereka. Mereka adalah wanita muslimah yang ingin tetap trendy tapi sejalan dengan aturan Islam. Walhasil Modest Fashion ini melingkupi baju berupa jilbab, khimar, burqa, atau sekedar atasan, celana panjang, jaket dan gaun yang menyembunyikan lekukan.

.

Sayangnya, banyak dari para designer kelas dunia yang kemudian menjadikan mode sebagai dasar kreativitas. Baru kemudian membumbuinya dengan ‘rasa’ Islam. Seharusnya Islam yang menjadi sandaran melalui pengertian dalil-dalil Quran dan Sunnah. Baru kemudian mendesign baju yang cocok dengan syariat.

.

Yang mengkhawatirkan, trend yang mereka contoh kan nantinya akan dimintai pertanggung jawaban di hari penghisaban. Karenanya perlu sekiranya setiap profesi termasuk Fashion designer mengerti dalil syara’ sebelum berkarya dan menjadi trend setter dunia. 

.

Terlepas dari pro dan kontra. Semua pasti setuju bahwa geliat Islam semakin kentara. Bahkan gaungnya sampai ke negeri Barat. Kaum muda semakin PEDE dengan hijab mereka. Yang perlu disadari, kaum muslimin sebenarnya memiliki banyak potensi. Menjadi ummat yang kreatif, menjadi pelopor, menjadi trendsetter, dan menjadi sumber cahaya. Sayangnya, yang memiliki kesadaran adalah para pemilik modal. Mereka melihat kaum muslimin memiliki daya beli yang tinggi. Kaum muslimin juga konsumen yang berjumlah 1.3 trilyun di dunia. Jika ada yang berhasil masuk dan mengisi kekosongan permintaan pasar maka mereka berpotensi mengeruk trilyunan. Jadi jangan heran jika brand-brand besar melirik kita sebagai pangsa pasar. 

.

So...is hijab a fashion statement? Of course not! It is a statement that we submit to our Lord m. It’s a form of obedience towards His commandment. We hear and we obey ya Rabb.

.

London, 5 Februari 2020

.

Keterangan gambar: Diambil di musim panas 2019 bersama Umm Adam di taman dekat rumah sambil ngemong bocah-bocah. 


#HijabEveryDay

#HijabSampaiMati

#HijabPerintahAllah

#goresanyumna

#KisahDariInggris

Monday, 3 February 2020

Hidayah Yang Hampir Hilang

#RevowriterLoveHijab

#Day3

.

Hidayah Yang Hampir Hilang

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Al Kisah...

Di sebuah desa terpencil, tinggal seorang gadis belia. Dibesarkan oleh orang tua yang sangat perhatian dengan pendidikan. Agama memang menjadi tuntunan. Namun sekedar puasa, solat, mengaki, haji, nikah, waris dan berputar masalah ibadah. Didorong mimpi besar sang ibunda. Si gadis harus meninggalkan desa tercinta untuk nge-kos supaya bisa sekolah di SMA favorit di kabupatennya. Di usia 15 tahun dia sudah jauh dari orang tua. Situasi memaksanya untuk bisa mandiri. Mengambil keputusan-keputusan besar berkaitan dengan keuangan, target sekolah, memilih teman, menjaga pergaulan, memilih les-lesan. Semuanya sendiri. Tentu komunikasi lewat telpon dengan ibunda masih terus berjalan. Setiap pagi, di jam yang sama dengan durasi kurang lebih sama. Ibunda mengabsen tanpa jeda. Di masa SMA inilah perubahan besar terjadi.

.

Kelas 2 SMA kelas pertengahan semester 

.

Suatu hari ada materi mentoring dari kakak kelas. Aku memanggilnya mbak Anik. Dia kakak kelas yang ramah, cerdas, percaya diri. Dialah ketua OSIS yang disegani dan yang istimewa dia memakai HIJAB. Kami satu kos-kosan. Tapi aku belum dekat. Aku mengenalnya sebagai orang yang sangat bersahaja. Semua orang di kos-kesan menghormatinya. Bahkan bisa dibilang mereka semua sungkan. Tak ada yang berani mengganggunya. Siang itu di acara mentoring Mba Anik berkata: “Dek, sampeyan tahu nggak kalau perempuan itu diWAJIBkan menutup aurat ketika mereka keluar rumah dan dihadapn non mahramnya?”


“Hah?! Wajib, Mba?” Aku tersontak kaget.


“Iya, Dek...” jawabnya singkat.


“Itu artinya kalau aku nggak pake’ kerudung dan menutup aurat, artinya aku berdosa mbak? Sama seperti dosanya orang yang nggak solat?” Tanyaku masih penasaran.


“Bener sekali, Dek” jawabnya.


Jiwaku terguncang! Tanpa disuruh, seluruh badanku terasa lemah lunglai. Aku tertunduk lesu. Kutelungkupkan wajahku di atas bangku. Aku menangis sejadi jadinya. Seperti ada yang menamparku. Hatiku bergetar kencang. Ada rasa marah, takut dan kecewa karena baru sekarang, di usia 15 tahun, aku baru mendengar akan adanya kewajiban berkerudung. Dimana saja aku selama ini? Mengapa saat aku belajar Iqra di Mushola dekat rumah, Ustad tidak menjelaskannya? Siapa yang salah? Kenapa seolah kewajiban ini datang tiba-tiba? Jangan-jangan mbak Anik saja yang mewajibkannya! 

.

Berjuta pertanyaan bermunculan. Satu persatu Mba Anik sabar menjawab dan menjabarkannya. Aku tak berkutik. Tak ada lagi kekuatan untuk menolak kebenaran hujjahnya. Kewajiban ini ternyata sudah sejak lama ada. Aku saja yang baru mendengarnya.

.

Malam itu juga aku telpon ibunda. Beliau tidak serta merta menyetujui keputusanku untuk berbusana muslimah. Pertimbangannya, seragam sekolah yang masih baru, harus membuat lagi, tentu tidak murah! Ibunda menjanjikan lepas SMA aku boleh mengubah penampilanku. Sementar ini fokus saja sekolah. 

.

Kusampaikan ke Mba Anik pandangan ibu. Mba Anik tidak memintaku memaksa ibunda. Berdoa saja supaya Allah membuka hati ibunda dan mengijinkan niatku berhijrah. Masa yang sulit bagiku, karena antara hati dan kenyataan tidak sejalan. 

.

Bulan berganti bulan. Tahun berganti tahun. Seminggu sebelum kami masuk semester baru kelas 3 SMA, ibunda memberikan kejutan. Beliau datang membawa tiga pasang baju seragam berupa atasan lengan panjang dan rok panjang lengkap dengan kerudungnya. Aku tersontak kaget. Hampir saja keinginanku menutup aurat itu lenyap tak berbekas. Bahkan hari itu pula aku mempertanyakan keputusan ibunda, “Kenapa harus sekarang, Mi? Kan tinggal setahun lagi. Kenapa nggak nanti saja pas kuliah?” 


Dulu...aku yang memaksa. Namun mungkin karena aku tidak memperjuangkan hidayah yang sudah terbukti kebenarannya. Kini aku sendirilah yang malah ogah-ogahan taat. Hampir saja Allah mencabut keinginan menuntaskan kewajiban. Jika bulan karena ibunda, mungkin diri ini tidak lagi menginginkannya. Untung saja Ibunda bersikeras. Bermodal taat kepada orang tua, aku mengiyakannya. 


Mulailah perjalanan sebagai seorang wanita muslimah yang menutup aurat aku mulai. Pesan ibunda yang selalu aku ingat, “Kalau sampeyan pakai kerudung, Mami maunya sampeyan serius dan nggak main-main. Percuma pakai kerudung kalau masih pakai baju ketat, memperlihatkan bentuk pantat, dan tindak tanduknya nggak karuan. Makanya Mami pingin kamu sekalian memakai Jubah.” 

‎الله اكبر perubahan yang drastis! 

.

Namun sedikitpun tak pernah ada penyesalan. Dari situ justru banyak pintu-pintu kebaikan yang Allah ﷻ buka. Pergaulan makin terjaga. Aku mendapat kesempatan pindah ke kos-kosan yang dipenuhi perempuan berhijab. Bertemu dengan para ahli ilmu.

.

Semoga Allah ﷻ memberikan pahala berlipat ganda untuk Mba Anik yang membuka jalan kebaikan untukku.

Dan semoga menjadi amal jariyah untuk ibunda atas segala dorongan dan nasehatnya.

.

Alhamdulillah..hijab itu tetap terpakai hingga sekarang. Semoga hingga akhir hayat.

‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين

.

Karenanya yang masih ragu, tak perlu lama menunggu. Karena kita tidak tahu akankah Allah menjaga keinginan berhijrah dan berkerudung itu. 

Jika niat sudah ada. Kuatkan asa dengan melakukannya. Biar Allah yang mengurus apapun setelahnya. Yakinlah bahwa Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan hambaNya yang ingin mengikuti perintahNya.

.

Ini kisahku pertama berhijab. Bagaimana dengan kisahmu?


London, 3 Februari 2020


#HijabEveryDay

#HijabSampaiMati

#HijabPerintahAllah

#goresanyumna

#KisahDariInggris

Sunday, 2 February 2020

Hijabku BUKAN Pilihanku

#RevowriterLoveHijab

#Day2

.

Hijabku BUKAN pilihanku

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Kaget dengan judulnya? Ya...memakai hijab (khimar dan jilbab) bukan sebuah pilihan. Tapi sebuah KEWAJIBAN.

.

Layaknya solat. Mau sholat atau nggak sebenarnya bukan pilihan. Kita harus melakukannya sebagai bukti keimanan. Jika ada orang tidak solat, tidak puasa di bulan Ramadan, tidak berzakat, maka kita tidak pernah mengatakan bahwa mereka memilih demikian. Tapi kita mengatakan bahwa mereka meninggalkan perintah agama. Memang banyak sebabnya, bisa jadi karena mereka kurang memahami konsekuensi di akhirat, tidak tahu kalau itu adalah kewajiban, ada ketakutan dianggap macam-macam, ada kemalasan, merasa tidak praktis dan terasa menyulitkan. Tapi semua orang tahu bahwa sebuah kewajiban adalah keharusan dan bukan pilihan. Kalau aktivitas tadi sebuah pilihan maka kapan saja mereka bisa se-enaknya meninggalkan solat, puasa dan berzakat. Padahal tidak demikian kenyataannya.

.

Menurut saya, sesuatu disebut pilihan jika antara meninggalkan dan melakukan, memiliki konsekuensi yang tak jauh beda. Sebuah pilihan bisa berubah dari waktu ke waktu. Hari ini saya memilih makan nasi goreng. Besok Mie goreng. Hari ini saya memilih tinggal di Inggris. Mungkin 10 tahun lagi saya memilih tinggal di Indonesia. Hari ini saya tidak bekerja, mungkin bulan depan saya memilih bekerja. Semuanya berada dalam ranah Mubah (dibolehkan) dan saat itulah kita punya pilihan. 

.

Yang lebih penting sebenarnya, apa yang mendasari sesuatu itu di sebut pilihan? Apakah benak manusia yang menjadi tolok ukur? Ataukah justru baik buruk, benar salah tadi di sandarkan pada tuntunan Sang Pecipta benak manusia? 

.

Di dunia barat, kebebasan individu begitu dijunjung tinggi. Ide ini sudah diekspor ke seluruh negara di dunia termasuk Indonesia. Seseorang ‘bebas’ melakukan apa saja berlandaskan pada penilaian pribadi mereka. Masing-masing orang tidak akan memiliki standar yang sama. Satu contoh saja, jika kita bertanya: apakah sosial media itu baik atau buruk? Maka kita akan mendapat sekelompok orang yang menjawab baik dan kelompok lain menjawab buruk. Alasan dari tiap orang dikelompok tersebut bisa beraneka ragam. Kenapa? Karena standar baik dan buruk tiap orang akan bergantung pada cara pandang, budaya, pemikiran dan latar belakangnya. 

.

Wajar jika debat tentang syariat tak pernah ada ujungnya. Mereka menuduh Islam memenjarakan wanita karena hijabnya. Menomorduakan wanita karena hukum warisan. Memandang rendah wanita karena hukum persaksian. Melihat wanita sebagai makhluk terjajah karena harus meminta ijin kepada suaminya. Mereka memandang syariat dari lensa individualis dan sekulerisme. Saat yang sama berusaha meyakinkan kaum muslimah bahwa lensa Islam mereka sudah jelek, banyak tergores, ketinggalan jaman dan tak cocok lagi dipakai di jaman sekarang. Walhasil, mereka melihat kaum perempuan yang masih memakai lensa Islam harus ‘dibebaskan’. Mereka harus diajari untuk melihat setiap permasalahan dengan menggunakan lensa sekuler ini. Jika tetap bersi keras maka muslimah inilah yang bermasalah. Bukan lensanya!

Kalaulah akhirnya perempuan muslimah ini memakai lensa sekuler namun masih tetap memilih memakai hijab dengan alasan kebebasan (sama halnya dengan perempuan lain yang bebas memakai rok mini atau celana super pendek) maka penyeru ide kebebasan masih tetap melihat muslimah tadi BELUM MENGAMBIL PILIHAN YANG TEPAT! Mereka akan dianggap terbebas dari kungkungan lensa Islam selama mereka bebas dari hijabnya! 

.

Bagaimana sikap yang seharusnya?

.

Sebagai muslimah, paradigma dari lensa Islam dan syariah lah yang harus dipakai. Jika mereka tidak memilih Islam dan iman maka keharusan memakai lensa itu tidaklah ada. Di sinilah ada pilihan. Memilih menjadi seorang Muslim? Ataukah sebaliknya? Ketika seseorang memilih menghambakan dirinya kepada Sang Maha Pencipta maka saat itulah kita menentukan pilihan. Apa yang datang sesudahnya menjadi konsekuensi dari pilihan awal. Sebagai muslim, ketika melihat masalah, lensa yang harus dipakai adalah lensa yang sudah disediakan oleh Pencipta Kehidupan. Allah SWT sudah menurunkan tuntunan yang lengkap. Mengajarkan bagaimana melihat dan meletakkan dunia. Darimana kita? Apa yang terjadi setelah nyawa lepas dari raga? Berakhir dimanakah ruh manusia? Lensa islam mampu memandang sebuah fakta dan mengajari penyikapan kita dengan sejelas jelasnya. Sampai hal sekecil-kecilnya. Ibarat kacamata, ukuran minusnya sudah di takar sedemikian rupa untuk seluruh manusia. Akan bisa dipakai selamanya. Akan bisa melihat setiap hal dengan jelas tanpa bias! 

.

Kok bisa? Karena hakikatnya semua manusia dari jaman Nabi Adam AS sampai hari kiamat memiliki potensi, masalah, dan penyelesaian yang sama! Hanya warna dan jenisnya saja. Sama sama butuh makan. Akhirnya manusia bekerja. Memang jenis pekerjaannya berbeda. Namun ujung dari kebutuhan itu sama. Berhubung Islam datang dalam bentuk Khutthutun Ar Ridha (garis-garis besar), darinya bisa di ekstrak segala macam jenis hukum untuk masalah baru. Hanya diperlukan manusia cerdas, hanif, lurus dan bertaqwa yang disebut Mujtahid. Dia yang akan menggali hukum-hukum dari Quran dan Sunnah untuk menyelesaikan masalah baru. 

.

Hijab dalam hal ini Jilbab dan Khimar bukan hal baru. Hukumnya tidak pernah berubah. Kewajibannya sudah ada sejak Quran surah An-Nur:31 dan Al Ahzab:59 turun. Bagaimana seharusnya merespon perintah ini? Tengok saja cara sahabiyah meresponsnya.

.

Sayyidah Aisyah RA menarasikan, “Ketika turun ayat hijab, para muslimah yang beriman kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam seketika itu mencari kain apa saja yang bisa menutupi aurat mereka. Mereka merobek selimut mereka lalu berkerudung dengannya. (HR. Imam Bukhari: 4759)

.

Ummu Salamah, Istri Nabi ﷺ yang lain, mengisahkan seperti pemandangan sekumpulan gagak hitam. “Ketika turun firman Allah, “Hendaknya mereka (perempuan-perempuan beriman) mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka” (QS. Al-Ahzab: 59), perempuan-perempuan Anshar keluar seolah-olah pada kepala mereka terdapat burung-burung gagak karena warna (warna hitam) kain-kain (mereka).” (HR. Imam Abu Daud : 4101).

.

Demikianlah lensa Islam yang didasari sebuah keimanan. Mereka merespon perintah Allah ﷻ tanpa jeda. Tidak ada debat, mencari cari alasan atau bahkan mempertanyakan sebuah syariat. Karena pilihan sudah di tetapkan sejak awal. Bahwa tujuan kita diciptakan adalah menghamba kepadaNya. 

.

So...hijab bukan pilihan namun kewajiban. Bukti kita mencoba taat pada syariat. Sekalipun tak seharusnya tersirat keinginan untuk melepasnya, mendorong orang lain melepasnya, atau bahkan menjadi asisten orang-orang yang berdalih ingin membebaskan kita dari kungkungan. 

.

Hijab mungkin hanya selembar kain, namun ini adalah simbol Islam dan simbol ketaatan. Simbol kita bangga memakai lensa Iman dan Islam dalam menilai sebuah perbuatan. 

.

London, 2 Februari 2020

.

#HijabEveryDay

#HijabSampaiMati

#HijabPerintahAllah

#goresanyumna

#KisahDariInggris

Pro Kontra World Hijab Day

#RevowriterLoveHijab

#Day1

.

Pro Kontra World Hijab Day

.

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

#WorldHijabDay (WHD) jatuh pada tanggal 1 Februari. Tahun 2013 adalah tahun pertama inisiatif ini di lakukan. Gerakan ini dipelopori oleh seorang muslimah keturunan Bangladesh yang pindah dari negara kelahirannya dan kemudian besar di New York sejak berusia 11 tahun. Namanya Nazma Khan. 

.

Nazma menjadi satu-satunya anak yang memakai kerudung di sekolah menengah. Dia memiliki pengalaman pahit di sekolahnya sebagai seorang hijaber (pemakai kerudung/khimar). Berikut penuturannya di ambil dari website official worldhijabday.com

.

"Tumbuh di Bronx, NYC, saya mengalami banyak diskriminasi karena kerudung saya," katanya. Di sekolah menengah, saya dikata-katai dengan sebutan 'Batman 'atau' ninja '. Semasa kuliah pasca 9/11, saya dipanggil Osama bin laden atau teroris. Mengerikan. Saya pikir satu-satunya cara untuk mengakhiri diskriminasi adalah jika kami meminta para perempuan memakainya sendiri dan merasakan perlakuan orang terhadap pemakai hijab.“

.

Tujuan awal dari Nazia adalah mengundang para perempuan memakai hijab selama sehari (1 Februari) dan melihat sendiri perubahan sikap orang disekitar kita dalam memperlakukan seseorang dengan selembar kain di kepalanya. Secara personal, mereka tetaplah orang yang sama. Namun tak dipungkiri banyak perubahan drastis dari cara orang memandang dan memperlakuan pemakai hijab (kerudung). 

.

Di negeri Barat sendiri sudah banyak sekali survei yang membuktikan bahwa ada perlakukan diskrimansi, penyerangan secara fisik dan verbal kepada perempuan berhijab. Meski belum pernah mengalami secara langsung. Tapi aku pernah menuliskan kisahku di sebuah tulisan dengan judul ‘Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris’ silahkan di baca di http://ameeratuljannah.blogspot.com/2018/12/menjadi-minoritas-setelah-14-tahun.html


“Women 'attacked for wearing hijabs' in London suffer possible broken ribs and internal bleeding” (The Independent 3/11/2019)

.

Shocking moment hijab-wearing pregnant woman is viciously punched in ‘Islamophobic’ attack (The Sun 23/11/2019)

.

Muslim ‘has hijab ripped off and pelted with eggs’ in savage attack (Metro News 20/08/2019)

.

Man attacked the woman and spat in her friend's face while they waited for a Tube at Baker Street. (News.sky 17/07/2017)

.

Demikianlah beranda berita Inggris. Wanita berhijab di serang secara fisik dan verbal hampir setiap bulan. Boleh di cek di website yang mendokumentasikan tindakan diskriminasi dan islamophobia di www.tellmamauk.org.

.

Tak heran jika Nazma dan banyak wanita diseluruh jagat raya merasa perlu menunjukkan kepada dunia bahwa tidak gampang menjadi wanita muslimah dengan identitas keislamannya. Sehingga perlu ada toleransi agama dari orang-orang di luar sana.

.

Ini adalah sebuah cara membuka wacana dan dialog dengan orang orang yang belum mengerti tentang alasan perempuan memakai hijab. Satu cara saja. Sekarang yang terpenting adalah isi dari diskusinya. Karena percuma jika kita meminta orang memakai hijab sehari saja namun tidak diIringi dengan diskusi tentang kenapa wanita muslimah memakainya, kenapa hanya selembar kain tapi mengundang banyak masalah? Siapa yang berperan mendorong perlakuan islamophobia? Kenapa kerudung telah membuat banyak orang marah? InsyaAllah akan ada di tulisan berikutnya.

.

Inisiatif Nazma bukan tanpa cibiran dan tantangan. Banyak sekali artikel yang ditulis oleh beberapa muslim liberal yang menunjukkan keberatan mereka dengan meminta wanita (muslim/non muslim) mencoba memakai hijab di tanggal 1 Februari. Salah satu yang sangat menentang adalah Yasmine Mohammed. Dia besar di keluarga muslim taat di Kanada namun merasa dipaksa untuk taat pada syariat. Dia merasa tidak punya pilihan. Dan mendorong para wanita untuk melepas hijabnya di tanggal yang sama. Menurut Yasmine dan bala jaer-nya, ada sebuah hipokrasi alias kemunafikan dari cara Nazma meminta orang memakai hijab sehari saja. Nazma tumbuh, besar dan tinggal di Amerika. Negara yang ‘dikenal’ memberikan kebebasan bagi siapa saja dari cara mereka berpakaian, berperilaku, beragama dan berpendapat. Justru yang tidak memberikan kebebasan untuk memilih berkerudung atau tidak adalah negeri-negeri Islam di timur tengah. Seharusnya merekalah yang harus belajar toleransi dalam beragama dan memberikan pilihan kepada penganutnya. Masalahnya, negara yang mereka sebutkan bukanlah perwakilan Islam. Mereka adalah negara yang mengklaim Islam sebagai dasar negara namun banyak praktek yang didasarkan pada budaya. Bukan syariat agama. Jadi menurut Yasmine dan kawan kawannya, adalah salah jika Nazma yang tinggal di barat malah meminta penduduknya bertoleransi.

.

Tentu debat yang berkaitan dengan syariat tidak akan ada ujungnya jika dasar atau lensa yang dipakai untuk melihat masalah ini tidak sama. Bagi orang yang tidak beriman, kerudung hanya selembar pakaian. Namun bagi seorang muslimah, kerudung/hijab dan jilbab adalah simbol ketaatan. Memang tidak ada jaminan orang yang berhijab lebih ‘baik’ dan lebih kuat imannya. Karena hanya Allah ﷻ yang bisa mengukur kadar keimanan seseorang. Namun bagi mereka yang mengenakan kerudung dengan niatan mengikuti perintah Allah ﷻ (bukan sekedar ikut-ikutan trend/fashion/teman) maka mereka sudah selangkah menunjukkan ketaatan. Perilaku lainnya adalah urusan baru lagi. 

.

Kami, para hijaber pun tidak pernah meng-klaim bahwa kami berada dipuncak keimanan hanya karena selembar kain dikepala. Jadi tak perlu merasa dihakimi jika kami mengajak mereka yang belum berhijab untuk kembali taat kepada Rabbnya.

.

London, 1 Februari 2020


#HijabEveryDay

#HijabSampaiMati

#HijabPerintahAllah

#goresanyumna

#KisahDariInggris

Turning Forty

Turning Forty . Oleh: Yumna Umm Nusaybah (Member Revowriter London) . Disclaimer: Ini nasehat untuk diri sendiri. Sekiranya ada kesamaan tok...