Thursday, 14 November 2019

Pohon Keimanan

Oleh Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Hari menjelang gelap. Aku, suami dan anak-anak berjalan pulang setelah seharian keluar. Kebetulan di depan stasiun Stratford ada ATM. Suami mau cek transaksi. Aku tunggu tak jauh darinya. Tiba tiba wanita tinggi, usia 30-an, berbaju rapi dan wangi mendekatiku. 

.

"Hi, do you have a minute?" Tanya si perempuan cantik tadi. 

.

"Sorry, I am actually rushing to go home, I am just waiting for my husband. There he is. Sorry I have to go" Jawabku sambil tergesa gesa. 

.

"Oh never mind. Have a Good evening." sambil melambaikan tangannya yang menggenggam tumpukan brosur.

.

Aku punya feeling mereka adalah ‘da’i’ alias pendakwah dari penganut Kristen Jehovah Witness (JW). Bukannya menghindar, tapi kami memang harus mengejar maghrib. 

.

Dari pengamatanku, penganut dan penyebar JW inilah yang masih aktif mengajak (baca:mendakwahi) orang orang untuk percaya kepada ajaran agama Kristen. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku bertemu mereka. Pintu rumah kami sering di ketuk oleh mereka dan beberapa kali aku sempatkan untuk mengobrol dan mendengar langsung misi apa yang sebenarnya mereka bawa. Yang terjadi justru mereka lebih banyak menyetujui apa yang aku sampaikan. Mungkin mereka berusaha menemukan titik temu antara kami supaya obrolan terdengar enak dan tidak menghakimi atau menggurui. Satu hal yang patut di acungi jempol dari mereka adalah dedikasi menyebarkan kepercayaannya. Hujan badai mereka lalui. Kalau perlu bawa jas dan payung. Pagi dan malam mereka jalani. Mengetuk pintu rumah satu ke rumah yang lain. Seperti malam itu, gerimis dan angin kencang. Sang perempuan berdiri di pintu keluar stasiun underground Stratford bersama dengan temannya.

.

Usai di samperin perempuan tadi Nusaybah sempat bertanya, "who were they, Mama?"

.

Ketika aku jawab bahwa mereka adalah penyebar agama Kristen. Dia balik bertanya: "Apakah mereka berusaha membuatmu pindah ke agama Kristen? Bagaimana kalau nanti jika aku sudah besar, ada orang berusaha meyakinkanku untuk memeluk agama lain?"

.

Tentu saja emak dengan senang hati memulai. "Well...mereka yakin akan ajaran yang mereka sebarkan. Wajar kalau mereka ingin menyebarkannya. Kita yakin dengan kebenaran Islam, kita pun berkewajiban menyebarkannya. Orang kristen atau Hindu akan percaya agama merekalah yang paling benar. Kita pun yakin agama kita yang benar."

.

"So how do we know Islam is the truth and the correct one, Mama?"

.

Yup! Pertanyaan klasik dan jauh jauh hari sudah aku prediksi. Kebetulan minggu minggu ini, di sekolah anak anak ada international faith week. Anak-anak dari sekolah lain dan beragama non Islam datang dan mengenalkan agama mereka. Tujuannya adalah untuk membuka cakrawala peserta didik sekaligus menunjukkan bahwa meski berbeda, kita tetap bisa saling menghargai. Tak heran jika Nusaybah yang kini sudah berusia 10 tahun tertarik dengan falsafah tentang berbagai agama. Bahasan Aqidah adalah pertanyaan yang sering dia ajukan.

.

Aku melihat inilah tantangan baru menjadi ortu. Anak anak di papar dengan berbagai macam ide saat masih muda. Memang sih ada sisi positifnya, namun ada juga negatifnya. Satu sisi, mereka menjdi kritis, melek dan bisa menghasilkan keyakinan yang solid. Negatifnya, kalau ortu nggak siap dengan jawaban yang memadai, bisa bisa malah melahirkan keraguan akan kebenaran Islam. 

.

Sistem pendidikan di Inggris mengajari peserta didiknya untuk menjadi free thinker. Ungkapan semacam: make sure you question everything, don’t just accept hearsay, do your research, think for yourself, seeing is believing, dll adalah mantra yang aku anggap ‘double-edged sword’. Kenapa? Karena bisa menguntungkan tapi juga bisa menyakitkan. 

.

Berfikir, harus! Al Quran berulang kali mengajak kita berfikir dengan pertanyaan-pertanyaan yang memikat perhatian semacam

"Kenapa mereka tidak berfikir?"

"Kenapa mereka tiada mengetahui?"

"Kenapa mereka tiada mempergunakan akal," dan demikikanlah seterusnya…….!"

.

Di sisi yang lain, aqal manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua pertanyaan mampu dijawab oleh aqal. Tidak semua pertanyaan layak dan perlu di jawab. Sayangnya ada orang ‘cerdas’ yang mengira bahwa apapun yang tidak dapat di jangkau atau di jawab oleh aqal maka hal tersebut tidak ada, tidak bisa di percaya dan tidak perlu di perhatikan. 

.

Pertanyaan semacam Allah Maha Mendengar, bagaimana cara Dia mendengar? Melihat? Adalah pertanyaan yang tidak akan bisa dijawab dan kalaulah bisa dijawab, toh tidak akan berefek apapun. 

.

Beda dengan pertanyaan, apa tujuan Allah ﷻ menciptakan manusia? Kenapa manusia diberi pilihan? Mana yang masuk dalam lingkup pilihan? Kenapa ada perang jika Allah ﷻ Maha Pengasih, dll akan dengan mudah bisa di jawab dan akan berefek pada menguatnya Aqidah kita. 

.

Permasalahannya, sebagai ortu, sudahkah hal hal seperti ini kita pelajari? Bagaimana kita bisa membuktikan kepada anak anak kita secara obyektif akan kebenaran sebuah agama? 

.

Apa yang kita suguhkan ke dalam benak mereka jika mereka bertanya tentang konsep dasar keimanan? Bagaimana membuktikan kebenaran Quran? Apakah benar Rasulullah Muhammad utusan Tuhan? Kenapa ada surga dan neraka? Dan lain sebagainya. 

.

Sepertinya belajar dan terus belajar adalah kuncinya. Mencari ilmu Islam untuk menguatkan Iman. Bukan sekedar memenangkan pertarungan ide. Apalagi hanya untuk menajdi ajang pemuasan aqal (intellectual entertainment).

.

Ibaratkan keimanan kita sebagai sebuah pohon. Jika akarnya kuat maka pohon tadi juga kuat. Badai topan menghadang, siap di lawan. Kokoh berdiri tegak menjulang. Tak jarang daun dan rantingnya menjadi pengayom orang sekitar. Buahnya bermanfaat untuk khalayak ramai. Pohon yang sehat akan menghasilkan buah yang manis. Supaya akarnya kuat dan pohon tumbuh pesat, harus ada proses pemupukan, mengairi, menjaga, memangkas cabang dan ranting yang tidak bermanfaat. Proses ini tidak bisa dilakukan hanya untuk sesaat. Namun perlu waktu berhari hari, kesabaran dan Istiqomah dimulai dari pohon itu masih kecil hingga akhir hayat. 

.

Pupuk tadi tidak lain adalah ilmu tentang Islam. Ilmu untuk diterapkan. Ilmu yang membantu kita kontemplasi dan terus berjuang memperbaiki diri. Kalaulah kita menjadi da’i, itupun karena Allah ﷻ mewajibkan. Bukankah ilmu lebih berarti jika kita bagi.

.

London, Kamis 14 Desember 2019


#Renungan

#Revowriter

#NasehatDiri

#Islam

#KisahDariInggris

#GeMesda

Pinjaman Berupa Waktu

Oleh Yumna Umm Nusaybah

(Member Revowriter London)

.

Suatu sore saat pulang sekolah. Emak konsen nyetir, si Sulung memulai bertutur, "Mama, do you know that today is 09/10/19 and if you add the day and the month, the total will represent the year which is 19," terang Nusaybah penuh binar. 

.

Nusaybah menjelaskan bahwa gurunya menerangkan bahwa kejadian ini hanya terjadi sekali dalam kehidupan seseorang bahkan sampai hari akhir. 

.

Aku mencoba meminta putri sulungku menarik pelajaran dari ungkapan sang guru.

.

"So, knowing that every date only happens once and never ever repeat itself for the rest of this life, what do you learn from it?" tanyaku.

.

"Hmm...I am not sure. What would it be, Mama?" Jawabnya sambil berfikir. 

.

"Well, one of the most important lesson we can learn is that time will never return. Once we lose it, that’s it! Once we waste it, we can’t make it up. Once we pass it without good thing, we lost all the chance. So make the the most of the time we have to do good things that please Allah ﷻ." Jelasku panjang lebar. (Bahwa waktu tidak akan pernah kembali. Sekali kita kehilangan waktu, maka kita benar benar kehilangan. Sekalinya kita menghabiskan waktu itu tidak untuk kebaikan maka kita kehilangan kesempatan. Jadi gunakanlah waktu sebaik mungkin untuk mencari ridho Allah).

.

‎الله اكبر 

.

Sebegitu pentingnya waktu sampai sampai Allah ﷻ bersumpah atas nama waktu/Masa di Surat Al Asr. Pertanda bahwa kita perlu memperhatikan bagaimana kita menghabiskan waktu di keseharian.

.

Dikisahkan, ada seorang ulama’ besar. Hidupnya tergolong sebentar. Beliau meninggal saat berusia 45 tahun. Meski demikian, beliau mampu menghasilkan karya spektakuler. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab. Mulai dari kitab di bidang hadis,fiqh, bahasa dan akhlak. Jumlah yang banyak ini diramalkan hanya bisa di selesaikan oleh orang yang hidup hingga 70-80 tahun. 

Tapi سبحان الله 

Barakah waktu yang Allah ﷻ berikan kepada beliau bisa kita rasakan manfaatnya hingga hari ini. 

.

Beliaulah penulis kitab ternama hadis Arba’in, Riyadhush Shalihin, Al-Minhaj (Syarah Shahih Muslim). Beliaulah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria atau lebih dikenal sebagai Imam An Nawawi (muslim.co.id)

.

Pertanyaannya sekarang, apakah hidup ini hanya sekedar untuk makan, minum, sosialisasi, kerja, sekolah? Atau ada nilai tambah yang membuat kita berbeda dari makhluk lain? 

.

Seharusnya ada! Nilai tambah itu adalah dengan ‘meminjamkan’ waktu yang telah Allah ﷻ berikan kepada kita. Seperti Imam Nawawi. Beliau meminjamkan masa muda dan masa paruh bayanya untuk belajar dan mengajarkan Islam. Penuh keseriusan dan dedikasi. Belajar Islam tidak hanya menjadi pengisi waktu luang. Apalagi menjadi prioritas terbawah. Dalih umum lainnya, "Ah Nanti saja saat usia sudah tua dan fisik sudah melemah. Iya kalau otak masih mau di ajak kerjasama. Lah kalau nanti justru pikun dan baca Al fatihah saja terbolak balik sambil terengah-engah? Apa nggak menyesal?

.

Yakinlah, jika kita meminjamkan waktu kita untuk Allah ﷻ maka Dia akan mengembalikan ‘pinjaman’ waktu tadi dengan barakah waktu yang tersisa.

.

Pernahkah kita merasa dalam waktu 24 jam banyak sekali aktivitas kebaikan yang bisa kita lakukan? 

.

Pernahkah pula kita merasa waktu berputar dengan cepat sampai sampai kita hanya mampu menyelesaikan satu tugas saja!

.

Contoh meminjamkan waktu kita untuk Allah adalah dengan mengalokasikan waktu yang kita miliki untuk membantu tegaknya Din Islam. Tahap berikutnya adalah menjadikan waktu kita berpusar dan berputar mengelilingi aktivitas ini.  

.

Bagaimana caranya? Gampang! Gali potensi masing-masing. Cari keahlian yang kita miliki. Bisa dengan orasi, menulis, mengorganisir kajian besar, mendesign undangan, membuat video dakwah, menjadi tim transportasi, tim konsumsi, tim iklan dan berbagai kontribusi yang lain.

.

Demikianlah perbincanganku dengan Nusaybah. Sebenarnya pelajaran diatas justru tamparan untuk diriku sendiri. 

.

Nasehat untuk diri yang lemah ini. Sungguh benar sabda Nabi ﷺ tentang Nasehat.

.

‎عن أبي رقية تميم بن أوس الداري رضي الله عنه, أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ» قلنا: لمن؟ قال: «لله, ولكتابه, ولرسوله, لأئمة المسلمين وعامتهم». رواه مسلم

.

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus ad-Daary radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Agama itu nasihat". Kami pun bertanya, "Hak siapa (nasihat itu)?". Beliau menjawab, "Nasihat itu adalah hak Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, pemerintah kaum muslimin dan rakyatnya (kaum muslimin)". (HR. Muslim)

.

London, Jumat 8 November 2019

.

#RenunganJumat

#Revowriter

#Nasehat

#Islam

#KisahDariInggris

Thursday, 3 October 2019

Diskusi Merek


Oleh: Yumna Umm Nusaybah 

.

Pulang sekolah si sulung cerita...

.

Nusaybah: “Mama, do you know what is Gucci?”

.

Glodhak!!! Pertanyaan ini menyiratkan dua hal. Nusaybah menganggap si emak kagak ngarti atau dia pingin tahu apa itu Gucci. 

.

Untuk sementara emak pasang aksi oon alias sok ga tahu demi mencari akar masalah (ciyah!!). Maklum sodara sodara, emak jarang banget bicara merek.

.

Me:”ermmm...what is Gucci?” (Apa tuh Gucci?)

.

Nusaybah:” hah?!! You don’t know Gucci, Mama?? That is an expensive brand” (hah, mosok ga tahu Gucci Mama? Itu loh merk yang harganya mahal)

.

Me:”Really?How do you know?” (Kok Tahu?)

.

Nusaybah:”My friend told me. R*** (nama temannya) screamed (out of excitement) when she saw Z*** has a Gucci keyring. R said it’s a very expensive brand. So all the girls were amazed by it.” (Temanku yang bilang. Si R menjerit saat melihat Z punya gantungan kunci Gucci. R bilang ini barang mahal. Semua temanku perempuan heran).

.

Me:”Aha...I see. That’s how the discussion started and how you found out about Gucci” (oh jadi begitu awalnya sampai kamu tahu tentang Gucci)

.

Lega juga tahu asal mula dunia per-Gucci-an ini di jelajah Nusaybah. Maklum, emak ndeso ini memang nggak banyak tahu tentang merek dan nggak pernah mempermasalahkan merk. Jadi dirumah kami, merek tidak pernah menjadi bahan diskusi. 

.

Bukan anti merk, tapi pingin anak-anak nggak termakan merk atau terpapar tanpa ada konteks yang tepat. Beli ya beli tapi let’s not make it a big deal. Memang barang bermerek biasanya berkualitas. Fair juga menjadikannya sebagai alasan memilih barang bermerek. Tak bisa dipungkiri, anak anak atau pun kita akan dikelilingi teman atau orang yang makan merek. Wajar jika upaya untuk ‘tak tergoda’ akan menjadi tantangan tersendiri. Banyak yang pernah menyampaikan kepadaku, “Lah...Yum, aku juga nggak pernah bicara tentang merek, nggak tergila gila sama merek, tapi anak-anakku tahu banget sama berbagai merek mahal. Parahnya, mereka hanya mau beli barang bermerk. Gengsi mah kalau nggak bermerek”

.

Itulah kekuatan sebuah masyarakat yang di ayomi sebuah sistem yang senada. Kita diyakinkan bahwa merek itu penting. Bahwa penampilan, label baju, sepatu, jam tangan, dan lainnya harus jelas kentara. Sekuat apapun seorang individu atau sebuah keluarga, mereka tetap harus berjuang membendung arus kuat dari masyarakat yang memiliki standar pemikiran berbeda.

.

Tanpa sadar, bisa jadi kita menilai orang dari kacamata superfisial ini juga. Jika demikian, bukan lagi kesalahan masyarakat, tapi kesalahan juga ada pada diri kita. Jangan jangan Itulah cermin dari diri kita sendiri. 

.

Maksude?Jadi begini, jika seseorang terobsesi dan sangat mengagungkan merek karena kesan ‘posh/berduit/papan atas/tajir/“ dan sebangsanya, maka saat ngelihat orang lain, kita akan ngecek merek tas, sepatu, baju, jam tangan lawan bicara (orang lain). Kalau seseorang terobsesi sama gigi rapinya, maka hal pertama yang dinilai dari orang lain adalah senyum Pepsodentnya. Kalau seseorang terobsesi dengan uang/gaji pasti nyari tahu kerjaan orang itu apa? Lalu di Google gajinya. 


Karenanya saat mendidik anak kita, sebisa mungkin standar penilaian yang kita pakai adalah standar yang Allah ﷻ pakai. 

.

Apa standar itu? 

.

‎إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ 

.

Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian. 

.

Jadi...sebisa mungkin, teman dan orang yang kita puji di hadapan anak kita hanyalah mereka yang tunduk patuh pada syariat Islam. Mereka yang tahu cara membawa diri. Mereka yang berakhlak mulia. Mereka yang mengedepankan sifat rendah hati, empati, penyayang, dan lain sebagainya. Walhasil merk tidak pernah muncul dalam wacana penilaian. 

.

Makanya aneh bin kaget juga mendengar si sulung tiba tiba membawa nama designer Gucci. 

.

Akhirnya pembicaraan ini menjadi momentum bagus bagiku untuk mendiskusikan tentang 

1. Dasar kita menilai sesuatu

2. Siapa yang menetapkan dasar tadi?

3. Apa itu baik dan buruk? 

4. Apakah dasar kita menetapkan sesuatu berharga dan nggak?

5. Bolehkah kita iri dengan kenikmatan yang orang lain miliki?

6. Bagaimana menundukkan rasa iri itu jikalau ada?

7. Bolehkah kita pamer jika kita punya barang-barang bermerk? 

8. Apa ciri ciri orang yang suka pamer?

9. Teman seperti apa yang Mustinya kita jadikan panutan dan teman setia?


Sayangnya, terlalu panjang jika harus menuliskan seluruh dialog kami sore itu. 

.

‎سبحان الله 

.

Membuatku teradar bahwa kadang Allah ﷻ ‘melempar’ sebuah momentum untuk mengajari kita. Dia sediakan sarana berupa anak untuk menjadi pengingat dan pengasah diri. Dia ingin menegur kita dan mengingatkan apa standar penilaian kita sebenarnya. Sudahkah kita melakukan tugas berat mengasuh anak anak ini sebaik baiknya.


London, 3 Oktober 2019


#KisahDariInggris

#Revowriter

Sunday, 29 September 2019

Kekuatan Manusia



Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Ada sebuah ungkapan yang membandingkan antara samudra dan genangan air*

.

Samudra dalamnya tak terukur. Meski tenang namun mampu menghanyutkan.

.

Genangan air tidak berombak, tenang dan tidak beranjak. Namun sekali pijak akan musnah tak berbekas. 

.

Samudra tidak akan pernah kering meski musim panas datang.

.

Genangan air hanya ada di musim hujan, kalaulah ada akan segera menguap saat panas mendera.

.

Demikian sebenarnya kekuatan mental seseorang. Orang menyebutnya “mental strength” 

.

Orang yang bermental baja bukanlah genangan air. Mereka adalah samudra.  

.

Mereka tidak akan tergoyahkan berubahnya cuaca dan suasana. 

.

Mereka tidak akan terpengaruh oleh trend yang menyeret semua orang tanpa pandang bulu. 

.

Mereka tidak akan depresi hanya karena komentar sana sini. 

.

Mereka tidak akan menjual harga sebuah diri apalagi Aqidah demi ‘likes dan thumbs up’. 

.

Mereka mampu memilih dan memilah. Mana yang baik dan membawa berkah dan mana yang perlu di buang dan tidak boleh di jamah!

.

Kekuatan mental ini memang tidak sekuat kekuatan Ruhiyah. Namun kekuatan ini juga bagian dari kekuatan lain selain kekuatan fisik. 

.

Orang yang kuat fisik belum tentu kuat mental. Orang yang kuat mental belum tentu kuat fisik. Namun orang yang kuat secara spiritual, dia akan mampu menghadapi cobaan fisik dan mental tanpa masalah.

.

Kekuatan mental ini bisa dibentuk sejak masih kanak kanak. Diajarkan dan ditempa oleh lingkungan, orang tua dan siapapun yang ada di sekitar anak anak tadi. Semakin dewasa seseorang sudah ‘seharusnya’ semakin kuat mental dan fisiknya. Namun kenyataannya tidak demikian. Usia tidak menunjukkan kematangan seseorang. Karena kadang ada yang berusia muda namun menghadapi sekian banyak kesulitan hidup. Mau tidak mau yang bersangkutan harus menguatkan diri. Pada akhirnya mereka menjadi pribadi yang tahan banting. 

.

Ada yang sudah usia senja namun hidupnya ‘lurus lurus’ saja. Saat gempa besar dan cobaan hidup melanda, mereka tumbang tanpa sisa.

.

Lalu apa yang membedakan? Ada tidaknya kontemplasi atas perjalanan hidup yang dilalui. Membuka mata akan kondisi sekitar. Mengambil pelajaran dari peristiwa keseharian. Mengkaitkannya dengan tujuan awal kita diciptakan.

.

Sejatinya, manusia tidak akan luput dari uji coba. Kadarnya saja yang berbeda. Kadar itu sudah terukur dan di-personalised langsung dari Sang Maha Pencipta. Yang lebih hebat lagi, Allah pun telah memberikan kita ‘tool’ agar kita bisa menyikapinya. Allah ﷻ akan menguji kita berkali kali pada titik kelemahan kita. Terus di ulang hingga ‘lulus’ dengan nilai ‘memuaskan’. Baru kemudian kita diuji dengan hal lain. Bisa jadi dengan hal yang menggiurkan. Agar derajat kita bertambah dihadapanNya. 

.

Ujian tidak hanya berupa kesedihan, rasa sakit dan kekurangan. Ujian bisa berupa kemudahan hidup, limpahan harta dan kenikmatan lainnya. Hanya saja, Sadarkah kita bahwa semua ini hanya sarana? Supaya kita menuai pahala demi Surga? Sabarkah kita saat susah? Syukurkah kita jika bahagia?

.

Sungguh mengherankan. Kadang orang yang belum menemukan Tuhan mampu melampaui himpitan ujian. Mereka menggantungkan dirinya pada kekuatan mental.


Bayangkan bagi orang yang sudah menemukan Rabb-nya. Betapa besar energi, kekuatan dan kemampuannya menerjang badai kehidupan? 

.

Karenanya, jangan pernah putus asa. Mungkin hari ini, himpitan hidup begitu menyesakkan dada. Kesulitan dan kesedihan datang bertubi tubi tanpa jeda. Air mata mengalir tanpa henti. Namun jika kita tahu ada Yang Maha Kuat yang menjadi sandaran kita. Maka bukan hanya mental baja yang kita punya. Namun kekuatan ruhiyah yang menjadi sumber amunisi kita. 

.

Kekuatan ini membuat kita yakin bahwa kesedihan dan rasa susah itu tidak terbuang percuma. Semua di catat rapi oleh malaikat-Nya. Di hari penghisaban, akan menjadi tabungan yang bisa kita klaim kembali.

.

Inilah indahnya Iman. Yang menancap seperti akar pohon besar yang kuat. Batang, ranting dan daunnya tumbuh dan memberi manfaat. 

.

Karenanya, mental baja? iya!

Kekuatan ruhiyah? Harus punya! 

Supaya tidak terombang ambing oleh arus dunia. 

.

London, 28 Oktober 2019


*terinspirasi dari video unggahan Radhi Devlukia (isteri Jay Shetty)

Monday, 2 September 2019

Untukmu Yang Sudah Setia


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

.

.

Kau tak banyak berkata kata

Sekalinya berucap, penuh dengan ukiran makna

Jikalau dulu aku bisa nikmati suaramu

Kini, lebih banyak kubaca ketikanmu

.

.

Cintamu yang tulus, bisa sangat aku indera

Teraba dan menusuk jiwa

Keikhlasanmu dalam mencintai

Menjadi panutan bagi diri ini

.

.

Berpuluh puluh purnama lewat tanpa kita bersua

Namun hangatnya pelukanmu masih selalu terasa 

Cintamu selalu mengantarkan kaki ini

Menapak dan berlari untuk menemui

Meski hanya untuk separuh hari

.

.

Dahulu...

Berdua di kamar, kita diskusi panjang

Belajar bersama memaknai kehidupan 

Kau membersamaiku di pahit getirnya kehidupan

Kau menguatkanku dan mengingatkanku untuk terus berjuang

.

.

Mungkin banyak pilihan hidupku yang tidak senada denganmu

Banyak prioritasku yang tidak se-ideal harapanmu

Kau tahu sifat dan karakterku yang masih perlu di rubah

Namun kau tak pernah putus asa dan tak pernah lemah

Dalam mengingatkan tanpa menggurui

Mengingatkan tanpa menghakimi

Mengingatkan di dasari rasa cinta karenaNya

Bahkan saat kita telah terpisah oleh benua 

.

.

Itulah yang aku kagumi darimu..

.

.

Kebersamaan kita tidaklah lama

Namun hadir mu membawa makna

Meski kini kita jarang bertatap muka

Aku ingin kau tahu bahwa kenangan dan kebaikanmu tidak akan aku lupa

.

.

Aku di sini, kau di sana

Kau arungi bahtera hidupmu dengan orang yang Allah pilihkan 

Demikian juga denganku 

.

.

Tak pandai diri ini mengungkapkan isi hati

Namun berharap tulisan ini sudah mewakili

.

.

Syukurku tak terhingga

Allah pertemukan aku denganmu

Yang sudah selalu setia

Yang sudah mengajariku bahwa cinta karenaNya

Tak lekang oleh jarak dan usia

.

.

Teruntuk sahabatku di Surabaya...

‎أحبك في الله 

.

.

London, 2 September 2019

Wednesday, 7 August 2019

Komunikasi dalam Rumah Tangga

#Day3


"Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Mba Hesti Rahayu dan aku akan menantang salah satu dari temanku untuk menulis di akhir tulisan ini."


*****************************


Komunikasi dalam Rumah Tangga 

Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter London

.

"Salam Sis...can I call you please? I really need your help."

.

Deg! Kalau ada SMS singkat, padat jenis beginian, ga tega banget menunda. Meski sedang repot biasanya aku tinggalkan semuanya. Ada urgensi dan kepanikan dalam kalimat tersebut dan feelingku biasanya terbukti benar. Demikian juga hari itu.

.

Aku langsung telpon dia. Sebut saja namanya Laila (bukan nama asli). Perkenalan kami cukup singkat. Dalam hitungan bulan Laila telah memberiku kepercayaan menjadi tempat curhat masalah rumah tangganya. Memang ini bukan kali pertama dia mengontak aku dengan nada yang hampir sama. Hari itu, dia menangis sejadi jadinya. Dia mempertimbangkan untuk lari dari rumah dan membawa anaknya yang masih berusia satu tahun. Padahal dia tidak punya keluarga satupun di Inggris. Seperti halnya aku, dia seorang imigran dari Pakistan yang pindah ke inggris karena di nikahi oleh laki laki berwarga negara Inggris. Laila berulang kali menyampaikan jika dia sudah mantap ingin meminta cerai dan menghilang dari keluarga. Laila mengaku bahwa suaminya telah membuatnya jatuh ke jurang depresi. Berkali kali dia berharap tidak bangun dari tidurnya. Seringkali, dia tidak punya tenaga merawat dirinya apalagi mengurus anaknya. Sedih aku mendengar kisahnya.

.

Setelah aku upayakan untuk menenangkan Laila, aku ajak dia bertatap muka. Tujuanku sekedar menguatkan sekaligus membantu mendudukkan dan memetakan masalah yang dia hadapi. Dari diskusi panjang kami, aku simpulkan bahwa komunikasi dan perbedaan persepsi lah yang menjadi biang keroknya. 

.

Mereka sama sama menginginkan Islam sebagai standar namun kenyataannya budaya dan tradisi Pakistan justru sering menjadi acuan. Mereka sama sama ingin memainkan peran suami isteri seperti yang Allah ﷻ gariskan, namun nyatanya campur tangan keluarga besar justru menjadi batu penghalang. 

.

Pernikahan tidak hanya menyatukan dua jenis manusia, namun ia menyatukan dua keluarga, dua cara pandang, dua cita cita, dua kebisaan, dua budaya, dua rasa. Karenanya, jika ada ‘breakdown communication’ maka masalah yang sepele bisa menjadi bom waktu. 

.

Bicara tentang komunikasi, ada 4 elemen yang mempengaruhinya: 

1. Sender (pengirim)

2. Message (pesan yang ingin disampaikan)

3. Medium (cara/alat/media yang di gunakan - verbal atau non verbal)

4. Receiver (penerima pesan)

.

Suami bukanlah paranormal yang bisa membaca isi hati sang istri dan demikian juga sebaliknya. Jika suami bukan tipe yang ‘peka’, ya nggak ada salahnya si isteri menyampaikan keinginannya secara blak blak-an. Pesan yang disampaikan pun harus jelas. Kalau hanya frase "Kok kebangetan sih Mas, mosok nggak faham sama kemauan isteri sendiri?" Maka kemungkinan untuk salah paham pastilah besar, karena suami harus menebak nebak kemauan isteri. Jika salah tebak dianggap tidak perhatian. Jika benar, masih dianggap kebetulan 🙂 serba salah deh! 

.

Yang lebih parah, jika isteri mengajukan pertanyaan ‘jebakan’ semacam: "Gimana mas? Aku sudah kelihatan langsing belum?" Maunya kaum perempuan sih dijawab :"Iya, sudah Dek!" Perkara kenyataannya masih banyak tumpukan lemak di sana sini, tak peduli. Kalau suami jawab : "Masih belum Dek, ayo lanjutkan dietnya" duh...piring terbang bakal mendarat 😂.

.

Kasihan memang kaum lelaki, di jawab jujur, dikira ngawur ...di jawab ga jujur, malah sewot. 

.

Menyampaikan curhatan hati atau protes kepada suami/ isteri pun perlu dipikirkan caranya(bicara langsung kah atau lewat surat/SMS) dan waktunya. Jangan sampai saat isteri yang sedang nggak enak badan dan sedikit lengah dalam mengurus rumah, suami protes dengan ruang tamu yang berantakan atau makanan yang kurang garam. Demikian juga isteri, saat suami kelelahan mencari nafkah, jangan kemudian nerocos protes dengan uang belanja yang kurang. 

.

Ada sebuah nasehat yang bagus dari seorang motivator bernama Jay Shetty. Berikut yang beliau sampaikan:

.

1. Mencintai itu bermakna tumbuh bersama. Menurutku, pasangan harus saling menyesuaikan seiring dengan perubahan kondisi dan bertambahnya kebutuhan. Jika pasangan belum memiliki anak, tentu dunia milik mereka berdua. Seiring bertambahnya anak dan tanggung jawab maka dibutuhkan pula adaptasi sikap dan pritotitas.

.

2. Hindari upaya merubah pasangan kita. Pasangan kita tidak harus menjadi sama persis seperti kita. Apalagi berharap mereka sesuai dengan imajinasi kita. Pasangan justru disatukan oleh perbedaan mereka. Perbedaan itulah yang nantinya membuat pasangan saling membantu, mengisi dan membangun karakter yang belum dimiliki. 

.

3. Janganlah memilih seseorang karena orang tersebut membuat kita bahagia namun jadilah seseorang yang bisa membuat diri kita sendiri bahagia. Karena sesungguhnya pasangan kita tidak bertanggung jawab atas kebahagiaan kita. Kita sendirilah yang bertanggung jawab atas kebahagiaan kita sendiri. Pernahkah kita melihat orang yang berlimpah harta, dikaruniai sekian banyak putera, keluarga kaya namun tetap tidak bahagia? Tentu pernah! Karena bahagia adalah ‘mindset’ yang hanya bisa di bentuk dan di latih oleh pemilik ‘mind’ itu sendiri.

.

4. Ketahuilah dan kenalilah kapan kita harus memimpin dan kapan kita harus memberi kesempatan pasangan kita untuk ‘memimpin’. Kapan kita harus taat dan diam mendengarkan dan kapan kita harus cekatan mengambil keputusan. 

.

5. Setiap kali ada tantangan atau masalah, hindari pemikiran bahwa kita sedang melawan pasangan kita. Berfikir lah bahwa kami (aku dan pasangan) bersama sama sedang melawan (menghadapi) tantangan atau masalah tadi. Jadilah tim yang solid dan bahu membahu menyelesaikannya.

.

6. Usahakan kematangan spiritual kita ada di titik yang sama. Bagi seorang Muslim, sebisa mungkin pengetahuan agama dan proses hijrah suami isteri terjadi beriringan dan bersamaan. Jika demikian maka tidak perlu ada perceraian hanya karena isteri atau suami lebih islami.

.


Selanjutnya aku ingin menantang Zahra Jannah untuk menuliskan nasehat pernikahan yang paling berkesan selama ini.


London, 7 Agustus 2019


#RevowriterWritingChallenge

#BeraniMenulisBeraniBerbagi

#Gemesda

#RWCDay3

Monday, 5 August 2019

Percaya Diri

#Day2


"Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Wiwin Erwina dan aku akan menantang salah satu dari temanku untuk menulis di akhir tulisan ini."


*****************************


Percaya Diri

Oleh Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter London

.

Once upon the time...Di desa Antah Brantah. Lahir seorang anak perempuan dari seorang ibu yang bermimpi besar. Ibu yang masih grothal grathul membaca Al Quran. Bapak yang juga masih belajar. Sang ibu bermimpi besar supaya puterinya mampu mengkhatamkan tilawah Quran sebelum lulus SD. Sang ibu ingin puterinya jago berorasi bicara tentang agama. Sang ibu selalu ingin anaknya menjadi juara kelas. Sang ibu bermimpi puterinya menyabet juara di setiap lomba Musabaqah Tilawatil Quran. Mimpi yang sederhana. Namun untuk orang desa, mimpi ini sangat visioner. 

.

Siapa sangka mimpi itu membawa berkah karena sang anak ditakdirkan menjadi guru ngaji di sebuah Madrasah di London. Mengajar tilawah, Hifd, bahasa Arab Basic hingga Islamic Studies. 

.

Siapa sangka, dengan modal mimpi dan kerja keras tim beranggotakan Ibu, Bapak dan Paman, akhirnya jadi kenyataan. 

.

Saat kelas 5 SD setiap ba’da Subuh, Asr dan Maghrib Bapak mengayuh sepeda dan membonceng aku dan saudara kembarku untuk berguru ke Pak Zulul. Beliau ustad muda di desaku. Penuh ketelatenan beliau mengajariku bagaimana membaca Quran dengan Tajwid dan menghafalkan surat Yasin. Di sela sela kesibukannya, pak Zulul masih sempat menulis teks pidato berlembar lembar (total ada 9 halaman). Tema utamanya adalah kenakalan remaja. Tugasku: menghafalkan seluruh isi teks sampai titik koma. Semua atas permintaan Ibundaku. Setiap ada hajatan di desa atau di kota lain, dengan dorongan ibu, Pak Zulul mengajukan kami menjadi salah satu ‘pembicara’. Desa demi desa, kota demi kota di Banyuwangi bahkan sampai ke kota Jember pun kami datangi. Mereka menyebut aku dan saudara kembarku sebagai Da’i kembar cilik. Berbagai hajatan seperti Isra’ Mi’raj dan Maulid Nabi tidak pernah sepi dari panggilan. Meski belum seratus persen ‘ngeh’ (baca: faham) dengan isi kajian yang kami berikan tapi kami sudah senang jika pemirsa riuh bertepuk tangan. Mungkin mereka lebih menikmati suara mungil dan lucunya aksi kami daripada mengerti dan menghayati isi kajian. Sesekali terselip kalimat berbahasa Inggris yang -percaya atau tidak-masih aku ingat hingga sekarang. Demikian bunyinya: Education is one of the most important element in the development of a country! Bagaimana nada bicara untuk bait itupun masih aku ingat dengan sangat jelas. Menunjukkan, betapa memori yang terukir saat kanak kanak seolah tertulis di atas batu. Tertancap kuat. Kuncinya adalah pengulangan. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, aku harus praktek membawakan isi teks pidato 9 lembar itu di dalam kamar. Tidak boleh keluar kamar sampai selesai ‘rehearsal’. 

.

Inilah benih PeDe tampil di depan yang orang tuaku tanamkan sejak masa kanak kanak. Budaya lomba-lomba di Indonesia dimana anak anak ikut serta, memang bagus untuk memupuk benih PD mereka. Meski ada juga yang lebih setuju untuk menghindarkan anak anak dari stresor semacam keharusan mereka neng-handle rasa kecewa, kalah dan sakit hati lainnya. 

.

Jika ditanya pernah nggak ndredeg tampil di depan? Ya jelas pernah. Tapi seperti kata pepatah Inggris: ‘Practice makes Perfect’. Semakin banyak praktek semakin terbiasa. Awalnya ndredeg tapi akhirnya nggak terpikir. Apakah suka tampil di depan? Biasa saja. Hampir hampir pertanyaan ini sama seperti pertanyaan apakah suka berjalan di trotoar sebelah kiri? Lah mau berjalan di sebelah kiri atau kanan rasanya tidak ada beda 🙂. Kalau berjalan dan mau aman ya di trotoar bukannya di tengah jalan karena itu bukan pilihan. Ketika tampil di depan itu sebuah kebutuhan bahkan kadang bagian dari kewajiban, suka tidak suka harus tetap dilakukan. Setelah mengenal Islam dan faham akan kewajiban menyampaikan (meski tidak harus selalu tampil di podium), justru pembiasaan kecil dari Ibu dan Pak Zulul membawa berkah. Semoga menjadi amal Jariyah bagi keduanya. 

.

Setelah beranak pinak, paradigma tentang cara membangun PD ini akhirnya berubah (meski masih harus terus di perbaiki). PD anak tidak harus di bangun dengan ikut lomba atau memenangkan perlombaan #AkuSiapDiProtes. Tak jarang, lomba lomba ini lebih kepada testimoni pencapaian orang tua menggembleng anaknya. Wajar jika terkadang eforia orang tuanya jauh melebihi sang anak saat menang lomba. Menurutku, kemauan berpartisipasi dalam lomba saja sudah cukup menjadi testimoni keberhasilan ortu membangun PD dalam diri anaknya. Asal di barengi dengan pendidikan psikologi bagaimana sang anak harus mencounter eforia kemenangan dan sedih saat mengalami kekalahan, insyaAllah pelan tapi pasti akan mampu membangun karakter ‘resilience’ mereka. 

.

Karakter inilah yang nanti di perlukan saat mereka dewasa. Saat mereka menjalani pahit, manis, getirnya di tolak lamarannya, di kecewakan temannya, gagal menembus sekolah impiannya, tidak lulus ujian PNS-nya, tidak tembus beasiswanya dan berbagai emosi sedih lainnya. Karakter ‘resilience’ ini oleh psikolog bernama Angela Lee Duckworth di sebut sebagai GRIT. Grit adalah kemampuan, ketahanan dan kesabaran seseorang untuk terus mencoba, tidak menyerah dan tidak tergoyahkan oleh kegagalan. Semakin kuat daya tahannya, semakin besar kemungkinan sukses di bidangnya.

.

“Bagaimana denganmu Umm Adam aku menantangmu untuk menuliskan tentang serba serbi mendidik anak atau tema bebas" 

.

London, 5 Agustus 2019


#RevowriterWritingChallenge

#BeraniMenulisBeraniBerbagi

#Gemesda

#RWCDay2

Pohon Keimanan

Oleh Yumna Umm Nusaybah (Member Revowriter London) . Hari menjelang gelap. Aku, suami dan anak-anak berjalan pulang setelah seharian keluar....