Tuesday, 10 April 2018

14 years! 



14 years ago...

We were complete strangers to one another

Never I heard such a beautiful name as yours 

Never I knew a well-planned man like you

Never I knew someone as forward thinking as you

Never I feel doubtful nor worried knowing you 

who would take my hands for marriage from my beloved father


I couldn’t be more sure than the day you asked me to be your wife

Even though we never met before

But my heart and mind said you’re the one I am looking for 

Many would say I have gone mad

To marry someone I have never met

Many would ask...

How could it be?

I build a life with someone I never see


I said to them that I had one condition

Whoever agreed to this would meet my expectation 

And you were the first person ever agreed

To the condition I had been holding on tight


With the reliance to Allah ﷻ 

We embarked on the journey to build family

For His sake we navigate this married life

Hoping the reward for being patient to one another 

In time of hardship and in time of ease


I am well aware I am not perfect

But having you in my life make me realised

That we don’t have to be great

We just need to try our best

To respect and fulfil our duties outlined by The Most Sacred


I pray Allah ﷻ would please with us

And grants Jannah for the effort we make

For this life is purely a place of transit

The main prize is that as long as He’s SWT pleased!


Mabruuuuuk to my twin too Umm Adam 🤗


Indonesia - 10/04/2004


London - 10/04/2018


PS: picture was taken on our wedding day. My father arranged the horse carriage as a surprise for us and then he made us went around the village on the way to home from the masjid where we made nikah 🙂

Monday, 26 March 2018

Dream Big


Dua hari yang lalu, aku ngobrol dengan anak tetangga yang usianya sekitar 12 tahun. Kita bicara tentang cita cita. Dia bertanya kepadaku waktu aku masih kecil, apakah aku selalu ingin menjadi dokter? Jawabanku seperti jawaban2 yang selalu aku sampaikan kepada siapapun yang bertanya bahwa aku ingat sekali aku ingin menjadi seorang astronot! 


Entah kenapa aku bercita cita menjadi astronot, tapi cita2 itu menjadikan ku suka dengan bahasan alam semesta, bintang dan formasinya, bahkan sampai sekarang! 


Meski yang aku sukai adalah yang gak njlimet2 amat senjlimet bahasannya Stephen Hawking, tapi cukuplah untuk membuatku makin penasaran dan menganga lebar akan Hebatnya Allah ﷻ


Hanya saja, layaknya kebanyakan orang tua, ibuku sangatlah kukuh menginginkan aku menjadi seorang dokter! Beruntung sekali aku punya seorang ibu (Allah Yarhamu) yang jelas dan tegas dalam memegang visi, misi dan mimpi. In a way I must thank her for her vision, she gave me a sense of purpose and target which I couldn’t devise it for myself at such a young age! 


Bukan hanya bermimpi, tapi beliau benar2 mencari informasi, melakukan usaha apa saja supaya visi dan mimpi itu tercapai. 


Mulai dengan les privat hampir di semua mata pelajaran, target nilai yang harus aku raih, target danem tiap jenjang sekolah, target SMA dan universitas yang harus aku masuki. Semua sangat tertata rapi dan beliau tidak pernah lengah sedikitpun!


Dengan Bantuan dan Rahmat Allah ﷻ, mimpi itu terwujud!


Aku yang hanya seorang anak perempuan dari sebuah desa terpencil, bapak seorang guru, Ibu seorang wiraswasta yang tidak pernah mampu menyelesaikan sekolahnya karena masalah biaya, ga punya silsilah yang pernah menjadi dokter, ga punya silsilah yang pernah mengenyam dunia kuliah di PTN (kecuali paman yang juga karena gemblengan ibuku) akhirnya berhasil juga mewujudkan mimpi ibuku. Meski 7 bulan sebelum sumpah dokter beliau dipanggil Allah setelah sakit yang di derita selama 5 tahun, tapi mimpi dan tujuan yang beliau tanamkan sejak kecil benar2 menjadi kenyataan.




Cerita ini bukan untuk “show off” atau memuji kehebatan ibuku (meski aku yakin setiap anak akan selalu percaya bahwa ibu mereka adalah ibu terhebat sedunia) tapi sekedar fakta yang aku alami sendiri dan meninggalkan pelajaran bagiku pribadi dan aku berharap bagi siapapun yang membaca bahwa: 




Hidup ini cuma sekali, kesempatan ini selayaknya diukir dengan visi yang jelas (I’m not talking about misi untuk meraih Ridha Allah - which is obvious, tapi lebih detail dari itu dan tidak lagi gambaran abstrak).


Mimpi besar (misalkan ingin menjadi da’i yang tangguh, menjadi ibu hebat, menjadi dokter dan penghafal Quran, menjadi penulis, menjadi interior designer, menjadi ahli tafsir, mimpi punya anak soleh/ Solehah, mimpi punya keluarga samawa, termasuk mimpi punya badan kurus dan langsing spt jaman SMA 😂dll) di barengi dengan


1. Tawakal yang maksimal kepada Allah ﷻ 


2. Langkah praktis dan realistis untuk meraihnya (the most crucial part yet often to be the most disregarded)


3. Evaluasi di tiap persinggahan 




Adalah kunci keberhasilan.




Kalau hanya punya visi dan mimpi tanpa ada rencana matang dan langkah yang jelas maka mimpi itu hanya akan menjadi sekedar mimpi!




Pesan sponsor: Jangan takut bermimpi..... the only thing stopping you is yourself! 

Thursday, 22 March 2018

Mendidik bukan melayani

Sebelumnya.... aku mau nanya: siapa yang setuju dengan pernyataan bahwa: pemuda pemudi di jaman NOW lebih terampil memakai snapchat dan instagram daripada mengerjakan pekerjaan rumah?


Kalau anda salah satu yang angkat tangan..... silahkan baca lanjutan tulisan ini.


Kalau anda tidak setuju... tetap lanjutkan baca ya... kali aja bisa memberi perspektif lain (maksa banget mode:ON)


Hidup tanpa pembantu di negeri barat adalah sangat umum. Seorang ibu layaknya multi-talented individual. Mulai dari ngosek kamar mandi, masak, belanja, antar jemput anak ke sekolah, ngajar matematika, bahasa Inggris, science, Quran, hapalan, muroja’ah, beresin rumah, nyuci baju, piring, dan se-abreg aktivitas lainnya harus di kerjakan sendiri. Adakalanya beberapa tugas di wakilkan ke bimbel atau guru ngaji (yang jelas jelas pakai uang dan kadang ga seimbang antara kuantitas dan kualitas yang diajarkan dengan jumlah yang dibayar- pengalaman pribadi nih), okelah.... kalaulah demikian tetap aja tanggung jawab untuk tahu perkembangan dan hasil usaha, tetap tugas sang ibu. 


Nah.... masalahnya ada ibu2 yang easy-going, ada ibu2 yang sedikit perfectionist dan ada ibu2 idealis dan ibu2 yang praktis. Kayaknya aku yang terakhir deh!!! 


Seringnya, aku lebih sreg menyelesaikan pekerjaan rumah tanpa bantuan anak2 karena cepat beres dan hasilnya seperti yang aku inginkan. Namun ternyata hal ini perlu aku ubah.


Anak2 butuh untuk di ajarkan tanggung jawab (tentu sesuai dengan usia mereka), mereka juga perlu belajar ada konsekuensi untuk setiap perbuatan. Kalau mau main, harus mau merapikan. Kalau selesai makan harus mau paling nggak naruh piring ke tempat cucian, untuk yang gedhe harus mulai terbiasa mencuci piringnya sendiri, baju kotor harus masuk laundry basket atau mesin cuci, numpahin susu atau air harus rela menge-pel (semampu mereka).


Itu hanya contoh kecil yang sebisa mungkin aku terapkan karena life skills adalah sebuah proses dan tidak bisa di dapat dari sekolah atau tiba2 saja. 


Aku yakin semua ibu pasti tahu pentingnya ini dan itu, namun kadang praktik dan pelaksanaannya yang sedikit sulit. Butuh banget konsistensi, dedikasi dan improvisasi.... (apa cobaaaa....sengaja puitis! Haha)


Di jaman baheula (alias jaman aku masih unyu2) anak2 membantu ortu ke sawah (ngarit istilah enggresnya), membantu nyeboki Adek, membantu jualan beras dan es lilin, membantu nyapu halaman rumah seluas samudra adalah hal BIASA dan sangat jauh dari LUAR BIASA bahkan kalau ada anak yang ga mau bantuin All The above.... maka mereka masuk kategori anak ga tahu di untung atau paling ngeri anak durhaka (aaaarrrgh hiperbol deh!) tapi sekarang, anak2 lebih suka keren kalau nge-mall, jalan2 ke taman sambil

Poto2 saat emaknya ngos2an ngepel teras.


Jadii..... kesimpulannya....meminta anak untuk membantu kita bukanlah membebani mereka, justru hal ini lah yang akan menjadi Bekal mereka untuk hidup mandiri dan bisa jadi kunci sukses untuk masa depan mereka.

Parenting??

Dunia parenting adalah dunia yang banyak disukai emak2 dan mungkin sedikit dipedulikan oleh bapak2 kecuali oleh bapak2 spesial yang ingin dan mau terlibat dan sengaja ambil andil besar untuk membentuk karakter anak2 mereka. 


Fenomena adanya parenting coach, parenting training, parenting tips adalah hal hang baru. 


Menurut pengamatanku, bisa di bilang 15 tahun yang lalu, topik ini belum banyak dibicarakan di indonesia, namun kini banyak sekali group, tim, organisasi yang fokus ke parenting dan juga istilah2 baru yang kadang aku juga masih mumet memahaminya.


Aku sendiri suka banget dengan topik parenting wabil khusus topik ‘emotional development’ pada anak2.


Lahir dan besar di desa, istilah ini dan topik ini bukanlah makanan sehari hari bagi Ibu saya jaman dulu. Kalaulah aku lahir di kota, aku juga ragu apakah perkembangan emosiku saat anak2 akan menjadi fokus dalam tumbuh kembangku. 


Oleh karenanya kadang aku bertanya tanya, banyak dari ortu kita berbekal “nekat” menjadi orang tua, tapi kok ya anak2 mereka jadi anak2 yang PD, intune dengan emosi mereka sendiri, tahu cara bersosialisasi, tahu membawa diri, berprestasi dll. Apakah ini sekedar keberuntungan? Ataukah sebenarnya mereka tahu hanya saja pengetahuan itu tidak diformulasikan dalam bentuk parenting tips, parenting coach, dll? 


Ataukah kita aja yang overthinking dan overanalyse things dalam menghadapi tugas besar “mendidik aka parenting”?


Kalaulah keberuntungan, apa iya? Kok banyak banget yang beruntung? Biasanya keberuntungan kan hanya untuk segelintir orang. 


Atau mereka cuma trial and error? Kalau demikian apa bedanya sama kita2? Kalaulah kita tahu teori parenting yang macem2, penerapannya pun masih trial and error. Satu tips berlaku untuk anak pertama tapi ga bisa di terapkan ke anak yang kedua. Ya toh?!


Ada istilah: You parent your children based on how you had been parented. Artinya: cara kita mendidik anak kita banyak dipengaruhi oleh bagaimana dulu kita di didik oleh ortu kita.


Menurutku cara mendidik kita sebenarnya nya bisa jadi 4 macam:


1. Kalau dulu kita dididik dengan tangan besi (hayyaaaah) dan merasakan sakitnya, maka kadang ortu semacam ini akan mendidik anak2nya dengan model didikan yang berlawanan (misal dengan memanjakan atau bahkan menjadi “pengikut” anaknya bukannya “pendidik” anak2nya)


2. Kalau dulu kita dididik dengan bebas tanpa ada batasan jelas dan bahkan ada yang keluar jalur (saking bebasnya) maka ortu spt ini bisa jadi melakukan approach yang berlawanan dengan memberikan batasan yang jelas dan mungkin sedikit strict. 


3. Tipe yang ketiga sesuai teori di atas. Mendidik anak2 dengan cara warisan alias copy paste dari ortu kita sendiri. 


4. Tipe yang keempat adalah tipe: sak karepe’ dhewe lan sak isone. Yang penting ga keluar jalur syara’


Yoalaaaaah nulis panjang2 kok ya kesimpulannya ga ilmiah blas!!!


Jadi..... kesimpulannya....jreng.... jreng....


Sebagai ortu, belajar terus yuk, baca terus yuk, perbanyak ilmu, ga hanya ilmu halal haram, tapi juga ilmu tentang anak dan perkembangannya. Kalaulah emak kita dulu ga ngajarin bagaimana kita dulu musti “aware and intune” sama emosi kita, ya ga ada salahnya dan ga haram kita coba supaya anak2 kita menjadi “aware and intune”


Tujuannya satu: menjadikan mereka 1000x lebih hebat dari kita. Biidznillah!

Monday, 19 February 2018

My expressive jewel!

My second child Rumaysa who’s 5 yo is an expressive and outspoken child!


She also knows how to persuade anyone to come to terms with her choice and her commands in exception of her little brother hence she often feels frustrated to deal with him as he won’t back down to her demand.


Sometime Rumaysa can pull a funny statements or expression to make her point heard. 


Just like yesterday as we went out to have family lunch together and I know it was rather late but when we arrived at the destination the restaurant was closed! So we headed back to different restaurant which was on the way home so I could imagine how hungry and tired she was especially after swimming lession she had prior to this journey.


So out of the blue she just said to us:

“Oh Mama, Baba... I am super hungry (I don’t know why she likes using the word “super” in many sentences)... I just need something to SWALLOW right now” 


We all laughed out loud hearing her desperation! 


But boy!!! Eventually she did swallow everything in front of her eyes including a glass of milkshake that she supposed to share with her sister. 


Allahumma bariklaha!