Monday, 21 March 2005

KISAH CINTA SEORANG DINDA

Suami saya adalah seorang jurnalis, saya mencintai sifatnya yang spontan dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul dihati saya ketika bersandar dibahunya. 3 tahun dalam masa perkenalan dan 2 tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa letih...lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan. Saya seorang wanita yang sentimental dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindui saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang sentiasa mengharapkan belaian ayah dan ibunya. Tetapi, semua itu tidak pernah saya peroleh. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitifnya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam perkawinan kami telah mematahkan semua harapan saya terhadap cinta yang ideal. Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan penceraian. "Mengapa?"Dia bertanya dengan nada terkejut. "Adek letih, Abang tidak pernah mencoba memberikan cinta yang adek inginkan." Dia diam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, nampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang lelaki yang tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya. "Apa yang bisa Abang lakukan untuk mengubah fikiran adek?" Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan perlahan. "adek ada 1 pertanyaan, kalau Abang menemukan jawabannya didalam hati adek maka adek akan mengubah fikiran adek; Seandainya, adek menyukai sekuntum bunga cantik yang ada ditebing gunung dan kita berdua tahu jika Abang memanjat gunung-gunung itu, Abang akan mati. Apakah yang Abang akan lakukan untuk adek?" Dia termenung dan akhirnya berkata, "Abang akan memberikan jawapannya esok." Hati saya terus gundah mendengar responnya itu. Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya menemukan selembar kertas dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan... 'Sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi izinkan Abang untuk menjelaskan alasannya." Kalimat pertama itu menghancurkan hati saya. Namun, saya masih terus ingin membacanya. "adek boleh mengetik dikomputer dan selalu mengusik program didalamnya dan akhirnya menangis di depan monitor, Abang harus memberikan jari-jari Abang untuk membantu adek memperbaiki program tersebut." "adek selalu lupa membawa kunci rumah ketika adek keluar, dan Abang harus memberikan kaki Abang untuk menendang pintu, dan membuka pintu saat adek pulang." "adek suka jalan-jalan di shopping center tetapi selalu tersesat bahkan ada saatnya tersesat di tempat-tempat baru yang adek kunjungi, Abang harus mencari adek dari satu tempat ke tempat yang lain untuk membawa adek pulang ke rumah." "adek selalu pegal pegal sewaktu 'teman baik' adek datang setiap bulan, dan Abang harus memberikan tangan Abang untuk memijit dan mengurut kaki adek yang pegal itu." "adek lebih suka duduk di rumah, dan Abang selalu risau kalau kalau adek menjadi Bosan. Dan Abang harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburkan hati adek dirumah atau meminjamkan lidah Abang untuk menceritakan hal-hal lucu yang Abang alami." "adek selalu menatap komputer, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan mata adek, Abang harus menjaga mata Abang agar ketika kita tua nanti, abang dapat menolong mengguntingkan kuku adek dan memandikan adek." "Tangan Abang akan memegang tangan adek, membimbing menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajah adek." "Tetapi sayangku, Abang tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, Abang tidak sanggup melihat airmatamu mengalir menangisi kematian Abang." "Sayangku, Abang tahu, ada banyak orang yang mencintaimu lebih daripada cinta Abang kepada adek." "Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan oleh tangan, kaki, mata Abang tidak cukup bagi dinda. Abang tidak akan menahan dinda mencari tangan, kaki dan mata lain yang dapat membahagiakan dinda." Airmata saya jatuh ke atas tulisannya hingga membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk terus membacanya lagi. "Dan sekarang, dinda telah selesai membaca jawaban Abang. Jika dinda puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkan Abang tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, Abang sekarang sedang berdiri di luar sana menunggu jawaban dinda." "Tetapi, jika dinda tidak puas, sayangku...biarkan Abang masuk untuk mengemaskan barang-barang Abang, dan Abang tidak akan menyulitkan hidup dinda. Percayalah, kebahagiaan Abang adalah bila dinda bahagia." Saya tertegun. Segera saya memandang pintu yang sedang tertutup rapat. Lalu saya segera berlari membukakan pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah gusar sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaan saya. Oh! Kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintai saya. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam 'wujud' yang kita inginkan, maka cinta itu telah hadir dalam 'wujud' yang tidak pernah kita bayangkan sebelum ini.

2 comments:

Anonymous said...

assalamualaikum ya ameeratul jannah

mashaALLAH...semua artikel yang ukhti koleksi sangat menyentuh. by the way....website nya boleh juga...nge-pink euy...hehehe

semoga bisa tambah keren dari hari ke hari. kali aja ditambahkan ada iklannya apa gitu....hehehe

wish u luck

wassalam
someone in canada

me_izzah said...

assalamu'alaikum mba amee...ehm..nuansa pink nih...ntar rajin2 berkunjung sini ah...btw cerita ini dah pernah ida baca di myquran...menyentuh banget deh...
wassalamu'alaikum