Skip to main content

Posts

Pahlawan hidupku

Demi memulai tulisan ini, aku membutuhkan waktu berminggu minggu untuk menata hati. Setiap aku mulai menulis, mataku tak mampu membaca ketikan yang ada di layar moitorku karena air mata yang menyelimuti seluruh bola mataku. Bukan hal yang mudah bagiku untuk menulis tentang seseorang yang begitu dekat di hatiku sementara aku tak bisa lagi memberi pijatan kesukaannya, menatap wajahnya atau mendengar suaranya, karena beliau telah dipanggil Allah melalui sakit kankernya 15 tahun yang lalu. . . Sebulan sebelum pernikahan yang digelar bersama dengan saudara kembarku, Allah ternyata memanggil beliau. Seorang ibu yang tumbuh dan besar di ujung pulau jawa dan terpelosok tapi memiliki mimpi yang tinggi. Beliau adalah seorang motivator, pengusaha ulet, pendidik ulung dan perekat keluarga. Meski hanya lulusan sekolah dasar, akan tetapi beliau lah yang menjadi public speaker trainer, make up artist teacher, business motivator hingga life coach bagi kami. Ibarat produk, beliau adalah seorang wanita ...

Marshmallow experiment dan generasi instan

"Mama, can I open the presents now? Please please please..." (Mama boleh aku buka hadiah hadiahnya sekarang? Boleh Ya...ya...ya...) Aku jawab:"You can open one present at a time, you can choose which present you want to open today and play with it and tomorrow after school, you can open another one" (Kamu boleh membuka satu hadiah di satu waktu. Hari ini kami boleh pilih satu dan membukanya, besok sepulang sekolah kami buka lagi satu) Rumaysa merengek meminta membuka hadiah-hadiah yang di terima dari teman temannya dari pesta kejutan karena dia sudah tamat Iqra. Allahumma Bariklaha. Rumaysa sangat berbeda dari kakaknya. Dia punya kemauan keras dan punya determinasi yang tinggi untuk meraih hal yang dia inginkan. Ada bagusnya... dan tentu ada juga kurang bagusnya. Bagus.. karena dia siap bekerja keras tanpa henti jika dia tahu bahwa ada imbalan besar yang dia bisa peroleh saat target yang aku set bisa dia raih. Tidak bagusnya....kurang bisa mengendali...

2018 Reflection

Let’s make this new year day productive by writing beneficial reflection and tag 5 people. Could be in any languages. ------ 2018 Reflection Name 3 words that best describe 2018 *Unexpected *Exciting *Productive  . . Name the Biggest lesson you’ve learnt this year *If you push yourself beyond the comfort zone, surely you will be able to see how much potential you actually possess* . . What’s the Biggest change I did this year *Took on 3 jobs at one time although 2 of them were temporary* . . What’s the Best decision I have made this year: *Seizing any good opportunities came on my way and looking deep within myself with fresh eyes.* . . Name Best single achievement this year: *Willingness to challenge myself paired with unconditional support and encouragement from my dearest husband* . . Who helped you to get through 2018 *Husband, my children, few of close friends and fantastic neighbour* . . Which worry was unnecessary this year: *That I won’t be able to balance between finishing...

Who Am I?

Suatu hari puteri pertamaku bertanya:  "Mama, who actually am I? Am I Indonesian? Am I Ethiopian? Am I British? What am I? Majority of my friends can say that they are Bengali, Pakistani or Indian, but I don’t know how I would describe myself?" -- (Mama, siapakah aku sebenarnya? Apakah aku seorang WN Indonesia? Ethiopia? Inggris? Siapa aku? Kebanyakan teman-temanku bisa menjawab bahwa mereka orang Bangladesh, Pakistan atau India, tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa menggambarkan tentang siapa diriku?) . . Pertanyaan ini muncul setahun yang lalu saat Nusaybah masih berusia 8 tahun. Dan aku yakin, suatu saat pertanyaan ini akan muncul kembali saat dia mulai dewasa.  . . Bisa di pastikan setiap manusia akan melalui sebuah proses pencarian jati diri. Ada yang mencari jawaban itu dengan penuh keseriusan, ada yang asal jawab saja dan ada yang tidak peduli dan lewat begitu saja tanpa ada bekas dan tanpa pernah peduli untuk memikirkannya kembali.  . . Jika seseorang bertanya k...

Yang sedih untuk dikenang, hanya akan menguatkan.

“Nduk, muliho yo Nduk.... mami mlebu Rumah Sakit mulai mambengi sampe saiki” - (Nak, pulang ya nak.... mami masuk RS sejak semalam sampai sekarang) . . Deg.....! Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara Bapak atau yang biasa aku sebut dengan panggilan Pak’e di telpon genggamku. Meski sejak kelas 1 SMA aku ngekos dan jauh dari orang tua, baru kali ini Pak’e memintaku pulang. Pastilah ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Aku hitung sudah hampir satu bulan lebih aku belum sowan ke desa menemui pak’e dan Mami. Semua dikarenakan kesibukan perkuliahan di UNAIR Surabaya yang sudah memasuki tahun ketiga. Dengan rasa khawatir yang masih menggantung, aku putuskan pulang di pagi harinya dan aku langsung meluncur ke Rumah Sakit Islam di Banyuwangi. . . Sampailah aku dan saudara kembarku ke ruangan di mana mami di rawat, aku lihat nenekku duduk di samping mami sambil menangis. Aku lihat tubuh lemah tergolek di pembaringan, tubuh yang terlihat sangat kurus sekali. Aku benar benar terk...

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (part 3-END)

Perbedaan yang terakhir yang Bianca sampaikan: "I am a university graduate..." dan dia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku sendiri yang harus mengisi titik titik itu... Sejenak aku diam terpaku karena bagiku itu bukanlah perbedaan karena aku juga "University graduate" alias lulusan Univeritas gitu loh!!! . . Tapi kenapa yang muncul dalam benak Bianca pernyataan yang seperti itu?  . . Karena konteks diskusi kami adalah perbedaan di antara kami berdua, maka konsekuensi logis dari kalimat itu sudah tersirat meski tidak tersurat, bahwa: "Bianca adalah lulusan universitas sedang aku bukan!" Beda lagi jika Bianca bilang:"I have my PhD degree" maka masih ada kemungkinan aku mengisi titik titiknya dengan jawaban :"I have my bachelor degree or Master Degree"  Tapi dengan kalimat Bianca itu sudah nampak BIAS dan quick judgement yang menyimpulkan bahwa: perempuan berkerudung di hadapannya (dalam hal ini aku) adalah wanita yang tidak pernah mengecam ...

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (Part 2)

Pukul 12:30 siang masuk waktu ISHOMA, sambil menunggu antrian makan siang, aku putuskan untuk sholat duhur karena di musim dingin seperti sekarang, waktu waktu solat berdekatan satu sama lain. Aku tanya ke ketua panitia, seorang wanita berkulit putih berambut pendek bernama Bethan:"do you have a small spare room where I can pray?" (Adakah ruangan kecil yang bisa aku pakai untuk solat?)  Dengan senyum manis, dia menjawab:"Let me ask the museum manager and I will get back to you, when do you need it and for how long? (Aku akan coba tanya ke manajer museum dan nanti aku kasih tahu kamu, kapan kamu butuhnya dan untuk berapa lama?). Aku jawab: "I would appreciate it if I can use it now and I only need it for no longer than 5 to 7 minutes" (Kalau bisa sih sekarang dan aku hanya butuh untuk 5-7 menit saja) Selang beberapa menit, Bethan sudah kembali dan mengajakku turun tangga dan menunjukkan ruangan meeting kosong yang bisa menampung lebih dari 10 orang! "Thank...