Skip to main content

Hikmah itu....

tit..tit....siang itu, sehari yang lalu...Hp ku berbunyi....ku tengok...ternyata ada 2 buah sms sekaligus...sms dari ukhtiku di malaysia....dia mengabarkan ada gempa baru di wilayah jawa barat,...innalillahi wainna ilaihi rojiun...semoga Allah memberi kekuatan kepada para korban dan menjadikan kita orang2 yang mampu mengambil hikmah dari kejadian yang ada.....
HIKMAH DI BALIK BENCANA
Innâ lillâhi wa inna ilayhi râji'ûn! Hanya itulah yang layak kita ucapkan menyusul Tsunami di pangandaran....
Dua Macam Bencana Bencana apapun yang dipandang buruk oleh manusia sebetulnya tidak terlepas dari dua macam.
Pertama: bencana yang memang merupakan sunatullah. Contohnya adalah gempa bumi, tsunami, meletusnya gunung merapi, kekeringan dalam jangka waktu lama, dll. Bencana ini dapat menimpa siapapun, Muslim ataupun kafir. Bencana alam dalam kategori ini semata-mata dimaksudkan untuk menunjukkan kemahakuasaan Allah. Allah SWT berfirman:
Apakah mereka tidak melihat bahwa sesunguhnya Kami mendatangi bumi, lalu Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya); tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya. (QS ar-Ra'd [13]: 41).
Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa maksud dari "Kami mengurangi bumi itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya" adalah dengan tenggelamnya sebagian bumi, gempa, dan berbagai macam bencana. Semua ini, sebagaimana terungkap dalam ayat di atas, adalah semata-mata atas kehendak-Nya.
Kedua: bencana yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia. Contohnya adalah banjir yang diakibatkan oleh penebangan hutan secara liar, wabah kemiskinan dan kelaparan di tengah-tengah kekayaan alam yang melimpah ruah akibat kekayaan tersebut diserahkan kepada pihak asing, merajalelanya kemaksiatan dan kriminalitas akibat hukum-hukum Allah tidak dilaksanakan, mewabahnya penyakit kelamin (seperti AIDS) akibat pergaulan bebas, dll. Allah SWT berfirman:
Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan akibat ulah manusia. (QS ar-Rum [30]: 41).
Sikap Kita Menyikapi bencana yang pertama, yang merupakan sunatullah, manusia sebetulnya hanya perlu tiga hal: Pertama: keimanan, sehingga kita wajib meyakini bahwa musibah apapun yang terjadi memang telah digariskan oleh Allah SWT:
Katakanlah, "Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah atas kami." (QS at-Taubah [9]: 51).
Kedua: kesadaran, segala bentuk bencana alam yang merupakan sunatullah itu merupakan bukti kemahakuasaan Allah. Dengan itulah, kita seharusnya menyadari betapa manusia ini sangat lemah dan tidak berdaya di hadapan kemahakuasaan Allah. (Lihat: QS ar-Ra'd [13]: 41 di atas).
Ketiga: kesabaran. Dengan bencana alam yang Allah ciptakan, Allah sebetulnya hendak menguji kesabaran manusia. Lalu Dia menciptakan berbagai macam bencana seperti wabah kelaparan akibat kurangnya makanan, wabah kekeringan, hilangnya harta bahkan nyawa akibat bencana alam, dsb. Allah SWT berfirman:
Kami pasti akan menguji kalian dengan sesuatu berupa: ketakutan; kelaparan; serta kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang jika ditimpa musibah maka mereka mengucapkan, "Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji'ûn". (QS al-Baqarah [2]: 155-156).
Adapun untuk menyikapi bencana yang kedua yang terjadi akibat ulah manusia, selain keimanan, kesabaran dan kesadaran di atas, manusia juga perlu satu hal lain, yakni bertobat dan kembali secara total pada hukum Allah, dengan kembali melaksanakan seluruh syariat-Nya dalam kehidupan ini. Sebab, dengan bencana jenis kedua ini, Allah memang menghendaki agar manusia mau kembali ke jalan-Nya. Allah SWT berfirman:
Telah nyata kerusakan di daratan dan di lautan akibat ulah manusia agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka; mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan-Nya). (QS ar-Rum [30]: 41).
Momentum Kebersamaan Kaum Muslim yang menyaksikan saudara-saudara mereka yang tertimpa bencana alam sudah semestinya ikut prihatin dan memberikan bantuan, baik moril maupun materil, sebagai wujud ukhuwah islamiyah. Rasulullah saw. bersabda:
Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain….Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat. (HR Muttafaq 'alaih).
Maka mereka sudah selayaknya, berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan bantuan kepada para korban bencana; bukan sekadar dari aspek materialnya saja, melainkan juga dari aspek penjagaan akidah (iman) dan keislamannya. Namun, manakala bencana alam itu sifatnya meluas, maka negara sebagai pemelihara urusan umat harus berperan. Sebab, Rasulullah saw. Bersabda:
Pemimpin adalah penggembala; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Maka, penguasa yang baik akan benar-benar bertindak sebagai 'penggembala' yang senantiasa melayani 'gembalaannya' dengan cepat dan tepat. Beginilah seharusnya pemimpin kaum Muslim.
Khatimah Bagi seorang Muslim, musibah apapun seharusnya dapat semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT seraya memelihara kesabaran dan ketawakalan kepada-Nya. Musibah sejatinya membuahkan bertambahnya iman seorang Mukmin, bertambah baiknya hubungan dirinya dengan Allah, serta semakin sempurnanya kedekatan dirinya dengan-Nya. Rasulullah saw. bersabda:
Alangkah mengagumkan keadaan seorang Mukmin; seluruh perkaranya adalah kebaikan. Jika dia mendapatkan nikmat, dia bersyukur; itulah kebaikan baginya. Jika dia tertimpa musibah, dia bersabar; itu pun kebaikan baginya. (HR Muslim).
Terakhir, marilah kita sama-sama berdoa kepada Allah, semoga memberikan rahmat kepada korban yang meninggal, dan memberikan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan. Amin.
source: buletin Al Islam

Comments

Amee..YM IDnya ganti ya? Tolong add punyaku ya...dr_rosalina

Makasih ya..
Sisca said…
Mbak Amee, kita semua terluka oleh musibah bertubi di negeri kita.

Semoga Tuhan tidak lagi memberi cobaan. amin .
liza said…
amee..suka deh dengan postingan nya, bener mee... daripada sedih berkepanjangan mendingan kembalikan diri ke yang nyita-in ya... kek nya leot baru mee.. daku gag bisa liat :(

Popular posts from this blog

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak

Saat Sang Maha Kuasa Berkehendak Oleh:  Yumna Umm Nusaybah (Member Revowriter London) . Datangnya tidak disangka  Mengenalnya pun tanpa terduga Membayangkan pun belum pernah Apalagi berangan angan untuk menikah . Namun kedua anak adam ini sejak awal memang tak punya keraguan Bahwa mereka tercipta untuk saling melengkapi  Bahwa masing-masing akan menjadi penawar kesendirian  Bahwa mereka dipertemukan HANYA karena Sang Maha Kuasa berkehendak demikian . 2 tahun bukan waktu yang lama Pun bukan waktu yang singkat Saat hasrat ingin menunaikan Sunnah RasulNya Terhalang oleh pandemi yang mendera . Namun memang benar … Bahwa dibalik penantian  Ada yang ingin Allah سبحانه و تعالى ajarkan . Kerelaan sang bunda menerima kenyataan Keyakinan pasangan bahwa mereka memilih jalan dan calon yang benar . Butuh waktu yang panjang …  Bagi seorang Bunda  Untuk menata hati dan merapikan benak Melepas anak pertama tumpuan jiwa Memulai hidup baru di ujung dunia  Bersama l...

Holier-than-thou

#OPEy2021Day10 . Holier-Than-Thou . oleh Yumna Umm Nusaybah (Member of Revowriter London dan Co-founder Dokter Kembar) . Bisa kah menebak arti dari judul diatas?  Holier-than-thou adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris yang dimaknai sebagai  obnoxiously pious; sanctimonious; self-righteous. Istilah kerennya sok suci atau sok alim. . Ide ini bisa jadi ada dalam diri kita sendiri. Atau bisa juga tuduhan yang dilemparkan kepada kita. . Jika seseorang memandang bahwa dirinya lebih bertakwa, lebih comitted, lebih saleh dari orang lain karena dia sudah sangat taat pada aturan agama dalam kesehariannya, maka hal ini sangatlah berbahaya. Bisa-bisa dia melihat orang lain ‘tidak berharga’. Lebih buruk dan lebih rendah posisinya. Akibatnya, bukannya akhlak dan kebaikannya menarik orang disekitarnya, tapi justru dia nampak sebagai individu yang toxic, menyebalkan dan terkesan sok alim. Padahal ke’aliman’ dan kebaikan seseorang bukanlah self-proclaim atau pengakuan sendiri. Tapi kebaikan...

my Special Student

Seneng...happy lega dan terharu...itulah yang aku rasakan ketika murid 'istimewaku' menyelesaikan Iqra jilid 6 minggu yang lalu...percaya atau nggak aku menitikkan airmata dan menangis sesenggukan dihadapan dia, ibu dan kakak perempuannya....yah...airmata bahagia karena dia yang setahun yang lalu tidak tahu sama sekali huruf hijaiyah kini bisa membaca Al Quran meski masih pelan dan terbata bata...tapi makhrojul hurufnya bagus, ghunnahnya ada, bacaan Mad-nya benar....dan aku bayangkan jika seterusnya dia membaca Quran dan mungkin mengajarkannya kepada orang lain maka inshaAllah akan banyak pahala berlipat ganda... Namanya Tasfiyah ...seorang gadis cilik bangladeshi berusia 6 tahun saat pertama kali aku bertemu dengannya....Ibunya sengaja mengundangku datang ke rumah nya karena memang tasfi tidak suka dan tidak mau pergi ke masjid kenapa? karena sangat melelahkan...bayangkan aja 2 jam di setiap hari sepulang sekolah, belum lagi belajar bersama dengan 30 orang murid didampingi 1 ...