Wednesday, 26 June 2019

Deddy corbuzier: Pesan Baginya dan Bagi Kita

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


‘Dilarang KPI, Prosesi Mualaf Deddy Corbuzier Tak Jadi Disiarkan di TV’ demikian judul sebuah berita yang nampak di newsfeed FB seminggu yang lalu.


Di portal berita Liputan6.com di lansir berita bahwa semula, prosesi pengislaman Deddy Corbuzier akan ditayangkan secara live di Hitam Putih. Namun karena terbentur peraturan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) maka rencana itu tak jadi dilakukan. (19/6/2019)


Gus Miftah yang menjadi ‘guru spiritual’ Deddy selama ini mengiyakan: “Iya kemarin di Hitam Putih terpentok peraturan KPI. Enggak boleh, ada peraturan KPI ternyata acara itu dianggap rasis ada UU - nya tadinya sudah mantap di Hitam Putih," (liputan6.com/19/6/2019)


Menurut KPI, proses pengucapan syahadat secara live akan berdampak buruk bagi masyarakat karena kemungkinan besar Deddy harus menjelaskan kenapa meninggalkan agama yang dulu dan kini memeluk agama Islam. Di khawatirkan hal ini akan menciptakan ketidak nyamanan kepada pemeluk agama lain. Kelihatannya alasan ini masuk akal. Tapi sebenarnya berstandar ganda. Demikianlah jika sebuah sistem dibuat oleh manusia. Selalunya bingung, manusia mana yang harus dilindungi hak-haknya. Golongan mana yang harus di jaga hatinya. Padahal jika aturan itu buatan Sang Maha Pencipta manusia, maka kaya miskin, perempuan laki-laki, muda tua, muslim dan non muslim akan mendapat hak haknya.


Fenomena ini mengingatkanku akan sebuah TV swasta yang di kelola oleh dr Zakir Naik. Seorang ulama besar dari India yang ahli dalam bidang perbandingan agama. Beliau berguru kepada Sheikh Ahmad Deedat dari negara Afrika Selatan yang sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Stasiun TV yang bernama Peace TV itu di larang beroperasi di India karena di anggap mengancam keamanan negara. Padahal isi ceramah beliau berkisar tentang perbandingan agama. Meluruskan tuduhan-tuduhan miring terhadap Islam. Materi Aqidah, Sirah Nabawiyah, Akhlaq dan lain sebagainya. 


Yang lebih aneh lagi, dr Zakir Naik di larang untuk berdakwah di Inggris padahal sebelumnya beliau keluar masuk Inggris dan memberi orasi di berbagai forum besar di Inggris tanpa masalah. Namun akhirnya beliau di larang masuk Inggris di tahun 2010 karena beliau di anggap memiliki pandangan ekstrem. 

(BBC news/18/6/2010)


Pernah beliau di undang oleh Oxford Union, sebuah komunitas debat prestisius di Univeristas Oxford dimana mereka menghadirkan pembicara ternama dan meminta mereka menyampaikan pandangannya, kemudian mengadunya dengan oponen yang dikenal memiliki pandangan berlawanan. Siapapun yang di undang di forum ini sudah di anggap ahli dibidangnya. Saat Dr Zakir Naik bersedia memenuhi undangannya, justru pemerintah Inggris menolak memberi visa kepada Dr Naik. Walhasil beliau tidak bisa menjejakkan kakinya di Oxford namun beliau berhasil tampil melalui video call.


Jika sebuah ide yang di emban oleh orang atau sebuah negara sudah kehilangan kemampuan berargumen dan sudah nampak kelemahannya, maka cara paling mudah untuk ‘memenangkan’ pertempuran ide itu adalah dengan mempersekusi pihak lawan. Simpel dan gampang! Sekilas nampak menang, namun sebenarnya ini membuktikan kekalahan intelektual.


Terlepas dari keputusan KPI, jujur aku sempat heran, kenapa heboh banget ya? Apa karena Deddy Corbuzier punya 4 juta follower di YouTube? Atau karena dia telah mengumumkan jauh jauh hari? Atau rame karena memang ini fenomena yang jarang terjadi?


Pada umumnya orang ketahuan kalau dia mualaf setelah menyatakan pindah agama. Namun kasus Mas Deddy ini sebaliknya. Ada ‘build up or rather much anticipated event” alias upaya untuk mengumumkan supaya kejadian ini sengaja di tunggu. Ada bagusnya sih, kebaikan seperti ini menjadi viral. Buktinya yang di Inggris pun ikut-ikutan posting dan komentar 🙂

Kalau di Eropa, jelas ini kejadian yang biasa. 


Data jumlah mualaf di Eropa sendiri sangat menakjubkan. Berdasarkan riset Pew Research Center di tahun 2016, kurang lebih ada 500,000 non muslim menjadi mualaf (antara tahun 2010–2015). Sedang Jerusalem Post melaporkan di Inggris dan Perancis setidaknya ada 100,000 orang memeluk agama Islam di 10 tahun terakhir.


Alhamdulillah, Deddy Corbuzer ikut barisan mualaf ini. Tidak hanya sekali Deddy menyatakan, bahwa keislamannya bukan karena mau menikah dengan wanita muslim. Tapi memang dia telah mencari dan berdiskusi selama kurang lebih 8 bulan. 


Ikut bahagia? Jelas harus! 


Namun yang justru sulit adalah perjalanan setelah bersyahadat. 


Keputusan, komentar, pilihan-pilihan setelah bersyahadatain inilah yang nantinya akan menjadi testimoni, apakah seseorang memeluk Islam karena sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah benar ataukah ada alasan lain. Meski demikian tidak serta merta orang yang di luar sana wabilhusus netijen bisa menyimpulkan. Yang bisa kita nilai adalah dahirnya. Kita tidak berhak menilai batinnya. 


Dari fakta yang aku lihat di keseharian, setiap mualaf selanjutnya di perebutkan. Oleh siapa? Pihak yang punya kepentingan. Ada yang ‘mendekati’ dengan di dasari i’tikad baik. Ada yang mendekat karena asas manfaat. Kadang kondisi para mualaf yang seperti tanah gembur dan mudah di tanami apapun ini, kemudian di salah gunakan (abuse). Hanya untuk kepentingan golongan. Ada kesan mereka seolah ‘menjebak’ mualaf ini untuk percaya bahwa Islam versi mereka lah yang benar. Islam versi lain harus di hindari bahkan di musuhi. Bahkan di anggap sesat dan dijadikan momok. Sungguh di sayangkan!


Padahal jika seseorang yakin dengan kekuatan idenya, tak perlu mencaci maki. Apalagi melabel-i. Buktikan saja dengan kekuatan dalil aqli dan naqli. Maka orang nantinya akan mampu melihatnya sendiri. Mana yang wajib di ikuti dan mana yang justru harus di hindari.


Mencari ilmu adalah sebuah proses, butuh waktu dan butuh kesabaran. Penebar ilmu itupun harus juga bijak dalam mengajar. Kokohkan aqidahnya. Munculkan rasa cinta kepada NabiNya. Teguhkan ketaatan kepada syariat di kesehariannya, baru kemudian kenalkan mereka dengan kewajiban kifayah lainnya. 


Bagi seorang seperti Deddy, ketika seseorang menjadi figur publik maka mereka harus siap dengan segala macam perhatian dan inspeksi. Segala tingkah, polah, kata-kata, komen bahkan ‘like’ dari sang selebriti akan selalu menjadi bahan perbincangan. Mengajari kritis boleh boleh saja, namun harus disertai rasa tanggung jawab juga. 


Kaum muslim terutama netijen pun tidak boleh serta merta menuntut kesempurnaan. Hanya karena seseorang bersyahadat, dia harus nampak hebat. Semua hal tentangnya tiba tiba harus islami. Jangan sampai menghakimi tanpa mau mengajari. 


Semoga semakin banyak kebaikan yang muncul dari Islamnya seorang Deddy Corbuzier. 


Semoga syiar Islam yang lurus juga semakin membahana. 


Semoga para penjaga, pendakwah dan pendukung ajaran Islam yang murni semakin di minati. 


‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


London,25 Juni 2019


#mualaf

#kisahdariinggris

#catatandarilondon

#belajarmenulis

#revowriter

Monday, 24 June 2019

Sekolah Favorit & Ranking Kelas: Perlukah?

Oleh: Yumna Umm Nusaybah 

Selama 6 tahun terlibat dengan dunia sekolah (karena anak pertama masih kelas 4 SD) ada perbedaan yang sangat kentara antara pendidikan yang aku peroleh di Indonesia dan pendidikan dasar di London, Inggris.


Hal mendasar yang jelas berbeda dimana ini menentukan praktik keseharian di sekolah adalah "falsafah pendidikannya". 


Sedangkan hal praktis yang jelas sangat berbeda diantaranya: 

1. Tidak adanya kenaikan kelas di tiap jenjang pendidikan 

2. Tidak adanya sistem ranking kelas


Di tiap tahun, minimal ada dua kali Parents Evening (istilah yang di pakai untuk pertemuan guru dengan wali murid). Pengalaman pertama kami adalah tahun 2015 saat si bungsu kelas reception (TK besar). Di pertemuan itu kami hanya di beri laporan observasi mereka terhadap Nusaybah, apa yang sudah di ajarkan, target di triwulan selanjutnya, dan support apa yang bisa aku berikan di rumah untuk menunjang proses belajar. Tidak ada berita si gendhuk ranking berapa. Lah wong memang tidak ada ujian ataupun tes. Pihak guru menunjukkan buku LKS yang di kerjakan di sekolah. Ada asessment harian yang fokus para perkembangan kosakata, menumbuhkan minat belajar dan rasa ingin tahu, belajar mengenal huruf dan angka sambil bermain. Berhubung sang emak masih bermental "lama" akhirnya tetap aja ngotot ingin tahu, si gendhuk masuk group pembelajaran yang mana. Setelah sedikit memaksa akhirnya mendapat jawaban juga. Duh...sedikit lega. 


Di awal tahun ajaran, anak anak di persilahkan duduk sekehendak mereka. Guru lebih mementingkan familirisasi suasana kelas dan teman teman. Namun di pertengahan tahun ajaran mulai di kelompokkan berdasarkan kemampuan mereka. Itupun sebisa mungkin tanpa sepengetahuan si anak didik. Sang guru tidak ingin memunculkan perasaan bahwa anak-anak di meja biru lebih "cerdas" di banding anak-anak yang ada di meja merah. Filosofi ini sangat baru bagiku. Sedari kecil, aku di didik untuk berkompetisi. Saingan dengan teman sebangku! Kertas ujian di tutup sedemikian rupa supaya teman sebangku tidak menyontek. Bagaimanapun juga mereka adalah saingan berat untukku bisa menggondol juara. Saat rapot-an harus tertera tulisan ranking satu. 


Beda dengan sekolahnya anak anak. Jangankan ranking, skor nilai saja tidak ada. Yang ada hanya: exceeding (melampau target), met (telah memenuhi target), not met (belum memenuhi target).


Progress pun tidak pernah di bandingkan dengan anak lain. Justru perbandingan di lakukan dengan pencapaian anak itu sendiri tiap triwulan. Contoh: jika triwulan pertama, anak ‘reception’ mampu membaca buku level 2 (padahal target kurikulum adalah level 1) maka triwulan berikutnya si anak harus mampu naik menjadi level 3 atau 4 (meskipun secara kurikulum mereka hanya perlu sampai level 2). Jadi progres ini di buat sesuai kemampuan anak dan tenggang waktu yang ada. Jadi setiap anak akan memiliki target yang berbeda (minimal harus memenuhi target kurikulum, lebih tidak masalah)


Dalam hati aku bertanya tanya, lah terus bagaimana aku bisa tahu kalau anakku termasuk yang cerdas atau biasa biasa aja? 

Paradigmaku masih berkutat bahwa prestasi / keberhasilan mendidik anak di ukur dari hasil ujian yang berujung ranking. 


Dari ranking itu aku tahu sejauh mana anak ku belajar dan mengerti dibanding teman teman sekelasnya. 


Setelah aku pikir, ternyata justru ini lah pemikiran yang aneh. 

1. Bagaimana mungkin kemampuan memahami anak di nilai dari ujian? Karena pemahaman sangat berbeda dengan kemampuan menghafal. Soal soal ujian yang disajikan sebagian besar berisi pertanyaan tentang apa yang bisa kita ingat dari materi yang pernah tersampaikan. Mungkin ada soal yang bertujuan untuk menguji pemahaman namun jawabannya akan menjadi subyektif. Penilaian pun akan semakin sulit karena jika anak memiliki pemahaman yang sedikit berbeda (tidak sama persis) apakah kemudian si anak yang tidak pintar? Apakah tidak mungkin kalau sang guru lah yang tidak mampu menjelaskan?  

2. Mengapa si anak harus bersaing dengan teman sebayanya? Apalagi jika daya pemahaman mereka sejak awal sudah berbeda. Tidakkah lebih baik jika mereka bersaing dengan diri mereka sendiri? Dan itu bisa dinilai dari progress mereka dari hari ke hari.

3. Apa untungnya jika si anak tahu bahwa dia ada di ranking terendah? Akankah itu membuat mereka semakin semangat belajar? Atau justru membuat mereka semakin minder karena sekuat apapun berusaha, mereka tetap ada di ranking bawah. 

4. Apakah yang selalu ranking satu akan termotivasi untuk belajar terus? atau justru menjerumuskan mereka belajar hanya untuk mengejar angka?


Tidakkah lebih baik jika 

1. Si anak merasa bahwa mereka memiliki potensi yang bisa digali. 

2. Si anak melihat bahwa belajar itu asyik dan menarik. 

3. Pendidik fokus menumbuhkan minat belajar dan mengasah rasa ingin tahu anak? Aku pikir ini jauh lebih berharga dari mengumpulkan informasi, menghafal dan duduk di sebuah ujian. 


Bagaimanapun juga, ujian adalah stresor. Menunggu hasil ujian, interview dan sejenisnya sudah bisa membuat orang dewasa deg deg-an. Apalagi untuk anak anak usia 5-9 tahun. Pasti mereka juga merasa resah, gundah, stres dan berdebar debar.


Meski demikian, memang ada kompetisi dan ujian yang sehat dan bermanfaat. Porsinya saja yang harus cocok dengan usia anak. Anak pun harus di persiapkan secara mental jikalau menang ataupun kalah. 


Filosofi pembelajaran inilah yang diterapkan di Inggris. Belajar sambil bermain dengan benda yang bisa di pegang dan di indera (untuk usia balita - 6 tahun). Sedang 7-11 tahun (year 2-6) mereka mulai dengan duduk serius dan belajar hal hal yang sifatnya abstrak. 


Apakah tidak ada ujian sama sekali? Ada ujian di year 2 (kelas 2 SD) yang di beri nama SATS. Ujian ini bukan untuk mengukur kemampuan anak tetapi lebih kepada performa sekolah. 


Ujian selanjutnya ada di kelas 6. Hasil ujian ini pun tidak mempengaruhi pilihan sekolah. Semua anak di kelas 6 pasti lanjut ke kelas 7! Tidak ada yang tidak lulus.


Jadi ranking sekolah..perlukah? Untuk level sekolah dasar, aku pikir tidak perlu. Tidak ada anak yang dilahirkan dengan keinginan untuk bersaing. Rasa ingin bersaing muncul setelah ada rangsangan dari luar misal: adik baru, teman baru yang dianggap "ancaman" terdapat keberadaan mereka. Atau adanya aba-aba dari orang tua bahwa mereka harus ranking satu. Menang. Juara dan lain sebagainya!


Sedang sekolah favorit: perlukah ada?


Aku sendiri meyakini, sekolah favorit menjadi favorit itu tidak terjadi dalam waktu semalam. Butuh perjuangan bertahun tahun untuk sebuah sekolah akhirnya bisa menjadi sekolah favorit. 


Secara pribadi, tidak perlu di hapus total. Cukup ada 1 sekolah favorit di setiap provinsi. Tak perlu zonasi, hanya perlu ujian masuk lokal (bukan nasional). Sama dengan konsep grammar school di Inggris. Selebihnya, setiap sekolah harus menerima peserta didik tanpa pilih kasih. 


Namun seperti tulisanku sebelumnya, harus ada sosialisasi yang jelas, pembiayaan yang maksimal dan kurikulum yang benar benar mengubah cara pandang. Semuanya sepertinya sulit diwujudkan dengan pendidikan sekuler seperti sekarang. Karena pendidikan sekarang lebih fokus kepada pencapaian materi (uang). Semakin favorit sebuah sekolah, semakin terbuka peluang untuk menembus universitas ternama. Semakin besar pula peluang untuk mendapat pekerjaan yang layak (meski secara fakta tidak selalu demikian). 


Padahal tingkat pendidikan tidak menentukan rezeqi seseorang. Bukti nyata ini bisa kita lihat dari Richard Branson dan Alan Sugar. Mereka adalah dua bilyuner ternama di Inggris. Tidak satupun dari mereka mencicipi bangku kuliah. Namun mereka berhasil membangun kerajaan bisnis yang omsetnya milyaran. 


Demikian juga pendiri perusahaan ternama Apple Inc, Steve Jobs. Dia juga drop out dari Reed College, di Amerika. 


Seandainya pendidikan sepadan dengan jumlah pendapatan, maka teori ini bisa dipatahkan dengan keberadaan ketiga orang di atas. Namun jika pendidikan sepadan dengan mempertajam dan menambah kekayaan intelektual, pembentukan karakter, penanaman etos kerja, kemampuan berfikir kritis, inovatif dan revolusioner maka tentu pendidikan akan menghasilkan pemikir dan kontributor hebat di masyarakat. Pertanyaannya: sudahkah sistem pendidikan kita demikian adanya?


London, 24 Juni 2019


#zonasi

#pendidikan

#catatandarilondon

#belajarmenulis

#opiniringan

#revowriter

Thursday, 20 June 2019

Zonasi: Antara Inggris dan Indonesia 



Oleh Yumna Umm Nusaybah 

Member Revowriter, London


Ramainya berita sistem zonasi di Indonesia akhirnya sampai juga ke Inggris.


Keponakan yang ingin masuk sekolah favorit di Jember ternyata tidak diperbolehkan karena dia tidak masuk dalam zona SMA yang bersangkutan. Walhasil terpaksa memilih SMA lokal. Semoga saja mendapatkan SMA yang di inginkan. 


Sistem ini sebenarnya tak jauh beda dengan sistem pendidikan di Inggris.


Di Inggris sendiri untuk level SD dan SMA (primary and secondary school) sudah lama memakai sistem zonasi ini. Di sini di kenal dengan nama catchment area. Sekolah dengan pembiayaan dari negara (State School) akan memakai sistem ini. Sedang bagi sekolah swasta (Private School), tidak wajib memakai sistem zonasi. Sekolah swasta berhak menentukan siapa yang akan mereka pilih menjadi siswa. Untuk level SMP, biasanya ada tes masuk dan interview. Sedang untuk level SD sedikit banyak bergantung dari informasi yang diberikan dalam permohonan (school application). 


Penilaian kualitas dari sebuah sekolah di Inggris sendiri dilakukan oleh sebuah badan yang bernama OFSTED (Office for Standards in Education, Children's Services and Skills). Ofsted ini akan mengadakan inspeksi ke sekolah dan berbagai fasilitas yang melibatkan pengasuhan anak dan muda mudi. Kadang dilakukan dadakan dan kadang terencana. Mereka akan menilai bagaimana sekolah mendukung proses belajar siswa. Apakah sekolah mampu membuat siswa berkembang, meraih potensi besar mereka, mengadopsi nilai nilai ideologi dasar dan kualitas pengajaran di sekolah tersebut. Setelahnya mereka akan release report (laporan) yang bisa di akses oleh khalayak umum lewat internet. Jadi setiap orang bisa membaca hasil laporan tadi secara lengkap. 


Ofsted akan memberikan nilai akhir dengan beberapa tingkatan: 

* grade 1: outstanding (terbaik)

* grade 2: good

* grade 3: requires improvement

* grade 4: inadequate


Apakah banyak orang tua di Inggris yang ingin anaknya masuk sekolah outstanding? Tentu saja! Tak heran kalau biasanya orang tua mati matian pindah ke rumah yang masuk zonasi sekolah bagus (outstanding). Bahkan ada juga yang bermain curang dengan memakai alamat kakek atau pamannya untuk registrasi supaya mendapat jatah tempat di sekolah yang di inginkan. Meski kalau ketahuan curang sebelum pengumuman, jelas aplikasi mereka akan di tolak. Namun kalaulah sudah terlanjur diterima maka sekolah tidak berhak mengeluarkan siswanya. 


Tak heran jika harga rumah juga dipengaruhi oleh rating sekolah di area tersebut. Semakin dekat dengan sekolah bagus (favorit) semakin mahal harga rumah dan semakin susah mencari rumah kosong yang bisa di sewa. Di Inggris, sudah menjadi praktik umum, orang tua berpindah pindah karena alasan sekolah sang anak. Sepertinya ‘trend’ ini akan terjadi juga di Indonesia jika kebijakan zonasi masih terus ada. 


Sistem Zonasi di Indonesia ini awalnya diniatkan untuk menyamaratakan hak pendidikan. Seperti yang di ungkapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.


"Kewajiban pemerintah dan sekolah adalah memastikan semua anak mendapat pendidikan dengan memerhatikan anak harus masuk ke sekolah terdekat dari rumahnya," ujar Muhadjir dalam keterangan tertulisnya, Rabu (19/6/2019).


"Karena pada dasarnya anak bangsa memiliki hak yang sama. Karena itu, tidak boleh ada diskriminasi, hak eksklusif, kompetisi yang berlebihan untuk mendapatkan layanan pemerintah. Sekolah negeri itu memproduksi layanan publik. Cirinya harus non excludable, non rivarly, dan non discrimination," lanjutnya. (Detik.com)


Namun aplikasinya yang perlu banyak pertimbangan. Perkara ini bukanlah perkara fundamental. Ini hanya cara untuk menyamaratakan pendidikan. Sah sah saja sebenarnya dipakai. Namun apa iya kalau kebijakan ini berhasil di aplikasikan di negara maju seperti Inggris berarti bagus juga untuk Indonesia? Belum tentu! 

Yang sebenarnya lebih perlu di cermati adalah dasar/ pondasi / filosofi yang mendasari sistem pendidikan itu sendiri.  


Apakah sebenarnya yang ingin disamaratakan? Kemampuan akademis? Kemampuan berfikir kritis? Pembentukan karakter berideologis? Menjadikan peserta didik berwawasan luas? Menjadikan anak didik beriman dan tidak selalu mendewakan budaya barat?


Bisakah sebenarnya sistem pendidikan yang ada sekarang memproduksi anak didik yang demikian?


Kalaulah memang ingin menyamaratakan pendidikan, sudahkah ada pemerataan sarana dan prasarana belajar? 


Sudahkah ada pemerataan guru-guru yang mumpuni dan berkualitas? 


Adakah juga keseimbangan antara jumlah siswa didik dan ketersediaan sekolah?


Memang mengubah kebijakan yang sudah berpuluh puluh tahun diterapkan tidaklah mudah. Apalagi jika ‘attitude’ terhadap mendidik dan tujuan bersekolah masih belum di rombak. Sekolah demi mendapat pekerjaan bagus di masa depan. Bukan demi membentuk kepribadian. Sekolah demi status sosial dan bukan menaikkan kemampuan inteletual. Sekolah karena itulah jenjang kehidupan yang berikutnya, bukan karena kecintaan kepada ilmu yang bermanfaat untuk ummat. 


Sudah semestinya ada proses sosialisasi untuk setiap kebijakan sebelum digulirkan. Perlu ada penjelasan dan edukasi kepada masyarakat tentang apa saja yang diperlukan. Dengan demikian tidak ada rakyat yang merasakan kedzoliman. Apalagi sampai ada yang terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada sekolah negeri yang bisa menampungnya. 


Di Inggris sendiri, tidak ada pungutan biaya sama sekali untuk pendidikan dasar. Semua anak di jamin mendapatkan sekolah. Tak akan ada kisahnya dimana anak terpaksa masuk sekolah swasta dan harus membayar mahal. Kalaulah masuk sekolah swasta adalah karena orang tuanya menghendakinya. Karena menurut UU Inggris, pendidikan adalah hak setiap anak. Justru orang tualah yang akan di kenai sanksi jika jelas jelas menelantarkan pendidikan anaknya. 


Sayangnya, hal hal di atas belum disempurnakan. Ada kesan kebijakan zonasi ini terburu buru dan tidak ada usaha untuk mengangkat sekolah sekolah yang masih berstandar rendah ke standar yang lebih layak. 


Cara pandang tentang sekolah unggulan pun tidak serta merta harus dihapuskan. 


Di London dan sekitarnya ada sekolah selevel SMP/SMA yang disebut Grammar School. Sekolah ini bisa di bilang sekolah unggulan. Isinya anak anak berprestasi dan cerdas karena untuk bisa lolos dan diterima di sekolah tersebut, mereka harus lulus 11+ exam. Sekolahnya pun gratis. Ada jatah zonasi (asal lulus tes) dan ada juga yang berhak masuk tanpa zonasi (dibutuhkan nilai yang lebih tinggi dari nilai zonasi). Jumlahnya pun tidak banyak. Kurang lebih dari 163 di seluruh Inggris bagian selatan (England). Rumor yang beredar, jebolan grammar School ini banyak yang melanjutkan ke Univeritas ternama seperti Oxford dan Cambridge. 


Kesimpulan. 


Sebuah kebijakan akan selalu membutuhkan sosialisasi. Mengupayakan anak mendapatkan pendidikan dari sekolah terbaik atau sekolah favorit adalah sangat wajar. Tidak perlu menyalahkan rakyat yang ‘mengerubungi’ penyedia pendidikan yang berkualitas. Yang menjadi tugas negara adalah menaikkan kualitas pendidikan tanpa harus menaikkan biaya. Lah kok bisa? Kenapa nggak? Kan kekayaan negara berlimpah ruah. 


Tidak seharusnya kualitas pendidikan sebanding dengan tebalnya dompet. Karena ini adalah hak dasar setiap rakyat. 


Yang perlu dipertanyakan kenapa sampai ada jurang kualitas yang lebar antara sekolah favorit dan non favorit.


Kenapa banyak sekali menjamur komersialisasi pendidikan. 


Kenapa juga sarana dan prasarana di setiap sekolah tidak sepadan? 


Masih banyak PR yang harus di selesaikan. 


Sistem zonasi sebenarnya tidak menjadi jawaban mendasar dari permasalahan di bidang pendidikan. Justru yang harus di rombak adalah ide ide yang mendasari setiap kebijakan dan apa yang inginkan dari mahalnya biaya dan lamanya jenjang pendidikan di Indonesia. 


London, 20 Juni 2019


#zonasi

#pendidikan

#catatandarilondon

#belajarmenulis

#opiniringan

Sunday, 16 June 2019

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London 


Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman?


Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita anggap seperti saudara sendiri?


Pernahkah kita bertemu dengan seseorang, meski hanya sebentar tapi justru menginspirasi?


Pernahkah kita mempunyai seorang kawan, kebaikan dan pengorbanan mereka menyentuh hati?


Berapa kali juga kita di kecewakan oleh teman yang sudah lama berkawan?


Berapa kali kita mundur teratur karena terbukti teman itu mau berada di samping kita karena asas manfaat saja.


Pernahkah kita bertemu seseorang yang pertemanannya tak lekang oleh masa?


Saat bahagia dan saat duka. Dia ada di samping kita 


Saat kita tertawa dan saat kita terluka, dia menghibur dan mengingatkan kita akan hakikat dunia.


Kadang diri ini penuh tanya,

Teman seperti apakah diriku?

Teman seperti apa yang aku cari?

Teman seperti apa yang benar benar aku cintai dan sayangi?

Teman seperti apa yang aku anggap teman sejati?


Rumusnya sebenarnya sederhana, siapa saja yang ada di samping kita saat kita berduka. 


Siapa saja yang menyisihkan waktu dan tenaganya saat kita membutuhkannya.  


Merekalah teman setia. Itulah teman yang sesungguhnya. 


Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris :


‘A friend in need is a friend indeed’


Artinya: teman yang ada saat kita membutuhkan, itulah teman yang sebenar benarnya.


Memilih seorang teman adalah sebuah ketrampilan. Dibutuhkan sebuah kemampuan mengatur rasa, mengukur diri sendiri (dalam berbagi dan berharap). Demikian juga kemampuan mendengarkan, empati dan berbicara saat yang tepat. 


Ada sebuah filosofi tentang teman yang sangat mewakili. 


Teman layaknya sebuah pohon. Ada dedaunan, ranting dan akar.


Daun akan berguguran, mereka tergantung pada cuaca (seasonal). Saat cuaca buruk, mereka berguguran. Saat cuaca cerah dan matahari bersinar, mereka menunjukkan eksistensinya.


Ada teman yang demikian. Berada di sekitar kita saat hari hari kita cerah dan bahagia. Ketika cobaan mulai melanda (krisis keuangan, pernikahan, kematian, kecelakaan, kesehatan, dll) maka mereka menghilang seketika. Tidak perlu menyalahkan mereka. Karena memang begitulah sejatinya teman selevel ‘dedaunan’. Tidak perlu marah dan kecewa. Perilaku mereka tidak menunjukkan kualitas kita, sebaliknya begitulah kualitas mereka.


Jika kita berkali kali dikecewakan oleh tipe teman seperti ini, berarti kita yang harus tajam dalam melihat dan meng-ihsas karakter seseorang. Sehingga kita tidak menaruh harapan yang terlalu besar. Haruskah di hindari? Tidak juga, karena tanpa dedaunan, sebuah pohon tidak nampak indah. Anggap saja mereka hadir untuk meramaikan suasana dan suporter saat kita bahagia. Hargai saja keberadaan mereka. Berterima kasih atas pertemanannya. Kita lah yang harus mengatur rasa di dalam dada. Supaya tidak kecewa. 


Seperti quote berikut: ‘some people come to your life just to teach you how to let go’. 


Kadang orang datang dalam kehidupan kita hanya untuk mengajari bagaimana kita harus melepaskannya. Ada orang yang datang sebagai sebuah berkah dan ada yang datang justru membawa masalah. Tapi justru membuat kita belajar menyelesaikannya. 


Bagian pohon yang kedua adalah ranting. Ranting nampak seolah olah kuat dan bisa menyangga berat. Namun saat dihadapkan pada beban yang berat, mereka patah dan berjatuhan. 


Orang seperti ini lebih menyakitkan untuk dijadikan teman. Karena kita sudah membuka hati. Mengisinya dengan keberadaan mereka. Namun di saat saat kritis dan sulit, mereka justru lari meninggalkan kita sendiri. Lagi lagi tak perlu menyalahkan mereka. Kita saja yang harus pandai menjaga diri. Berikan hati kepada yang benar benar berhak menerimanya. Bisa jadi teman ini tidak sadar telah menyakiti kita, namun itulah pertemanan yang bisa mereka suguhkan.


Yang terakhir adalah akar. Kalau dedaunan dan ranting jumlahnya bisa ratusan, maka akar tidaklah demikian. 


Teman yang seperti akar jumlahnya tidaklah banyak. Merekalah supporter setia kita. Bisa jadi dia masih dalam lingkup keluarga dan bisa juga teman sebaya. Siapa saja yang menemukan teman seperti akar pohon maka layaklah mereka berbahagia. Karena inilah teman sejati. Mereka yang menjadi tumpuan kita, pijakan saat kita ‘oleng’, bahagia ketika melihat kita berjaya, sedih dan siap siaga saat kita berduka. 


Namun demikian, satu hal yang harus kita sadari. Teman juga manusia. Mereka tidaklah kekal dan selamanya akan bersama kita. Jangan pernah bersandar pada sesuatu dan siapapun yang bersifat Fana. Bersandarlah kepada Dzat yang menghadirkan berbagai jenis teman tadi. Allah ta’ala!


Dia yang benar benar akan selalu bersama kita. Dia yang akan mendatangkan teman teman setia. Dia yang bisa menjauhkan teman yang tidak bermanfaat untuk dunia dan akherat. 


Sungguh benar perkataan Ibn Qayyim Al Jauziyah


‘DO NOT DEPEND ON ANYONE, BECAUSE EVEN YOUR OWN SHADOW LEAVES YOU WHEN IT’S DARK’


Jangan pernah bergantung kepada siapapun, bahkan bayanganmu sendiri meninggalkanmu saat gelap (datang)


London

12 Juni 2019

9 Syawal 1440H


*Terinspirasi dari video Jay Shetty

Keikhlasan Tanpa Merasa Ikhlas

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London - UK


Seminggu yang lalu...


Pagi pagi pukul 8:00 ada ketukan di pintu depan. Aku intip lewat jendela. Tukang yang sedang merenovasi rumah tetangga. 


Tetanggaku ini adalah seorang wanita lansia asli Ghana. Beliau meninggal saat pulang kampung ke Ghana. Rencananya, saat beliau balik ke London, rumah yang sedang di renovasi siap untuk di huni. Ternyata, Allah ﷻ berkehendak lain. Beliau meninggal mendadak seminggu sebelum kembali ke Inggris. 


Memang beliau sudah keluar masuk RS karena usia yang lansia. Tiap tahun beliau pulang ke Ghana. Disana ada rumah besar yang telah beliau bangun dari hasil kerjanya menjadi Health visitor di Inggris. 


Maret tahun lalu, kabar aku dapat dari anak angkatnya. Beliau tidak punya anak kandung, yang ada hanya God Daughters. Mereka hanya berkunjung sebulan satu atau dua kali. Hari hari wanita lansia ini di isi dengan menonton TV, baca koran dan online shopping. Beginilah kebanyakan para lansia di Inggris menghabiskan waktunya. 


Jadi...para tukang ini dipekerjakan oleh anak angkatnya. Sering sang tukang meminta kami membelikan ijin parkir. Ijin ini harus di beli oleh residen yang tinggal di area dengan zona yang sama. Harga 1 tiket £1.20 alias Rp 21.000 per 6 jam. Semasa tetanggaku yang lansia ini masih hidup, beliau sering meminta bantuan untuk pasang kabel-kabel internet, pesan tiket parkir spesial (disabled badge) dan hal hal tehnis lainnya. Kami cukup dekat meski kami berbeda keyakinan. Beliau sangat faham tentang tradisi muslim termasuk apa itu makanan halal, Ramadan, perayaan Idul fitri, dan lain sebagainya. Sering beliau belikan hadiah dan bingkisan untuk anak anakku. 


Demi menghormati mendiang tetangga dan itung-itung cari pahala, aku setujui permintaan si tukang.


Namun pagi itu, si tukang meminta tiket parkir sementara dan nanti kolega nya yang akan menggantinya. 


Tanpa pikir panjang, aku iya kan. Kebetulan ada tiket parkir seharian untuk semua zona (aku dapat gratis dari council). Tapi jatah tiket ini hanya 10 tiket per tahun. Aku usahakan untuk irit dan ‘di-eman eman’. 


Tapi aku relakan untuk di pakai pak tukang pagi itu. Si tukang senang dapat tiket seharian dan gratisan. Setelah dia berterima kasih, aku tutup pintu. Selang beberapa detik, ada ketukan lagi. Aku pikir orang yang sama. Tanpa aku intip lewat jendela, aku buka pintu. 


Ternyata...tetangga baru depan rumah. Seorang laki laki keturunan Afrika bertanya apakah boleh dia meminta satu tiket parkir juga. Dia tetangga yang baru pindah beberapa bulan, tidak pernah mengenalkan dirinya saat menjadi tetangga baru. Tidak pernah mengucapkan selamat pagi saat ketemu. Suka parkir asal asalan di depan rumah. Dia menyampaikan bahwa karena dia baru pindah, pihak council belum memberi ijin parkir sampai besok. Dan ijin sementara dia sudah habis. Belum pesan dan beli lagi. 


Bisa di bayangkan dong reaksiku! 


Respon pertama: "ih...enak aja! emang aku distributor kartu parkir?! Pesan sendiri gih sana!" (untung dalam hati aja) tapi yang keluar "Yes sure, let me get one for you."

Lalu aku jelaskan: "you can get this kind of permit for free, 10 permits every year and you can use it for all zone. Just visit the website and you can get it from there"


Dia berterima kasih. Dan aku langsung tutup pintu. Niatan untuk irit kartu parkir ga kesampean. Itu pikiranku. Sampai sore harinya...


Ada ketukan pintu...tetangga yang sama. Dia menyampaikan bahwa dia melihat pintu bagasi belakang mobilku terbuka lebar!


Terakhir aku pakai mobil, satu setengah jam yang lalu. Itu artinya, selama itu pula mobil yang aku parkir di pinggir jalan, pintu bagasinya terbuka lebar. Kalau ada pencuri, ini adalah sasaran empuk!


Qadha Allah ﷻ, mobil itu masih menjadi Rezeqi kami. Jadi aman aman saja. Jika tidak ada warning dari tetangga baruku, maka mobilku pasti semalaman dalam kondisi seperti itu. 


Serasa Allah ﷻ menamparku dengan kejadian ini. 


Kebaikan yang kita tanam akan kembali kepada kita. Entah itu di dunia atau di akherat. Dalam hati aku beristighfar berkali kali dan berterima kasih sekali kepada tetangga baruku yang repot repot memberi tahu. 


Terkadang kebaikan itu harus dilakukan tanpa pikir panjang karena Allah ﷻ tahu kita juga akan membutuhkan kebaikan mereka. 


Memang benar, membantu harus tanpa pamrih. Membantu harus tanpa berharap timbal balik. Kalau ada harapan untuk dikembalikan maka artinya kita berbuat baik karena asas manfaat. Kebaikan yang benar benar karena Allah ﷻ adalah kebaikan tanpa pamrih.


Kalau ada orang baik kepada kita, kita balas dengan kebaikan maka itu sudah biasa. Namun jika kita baik tanpa pamrih itu luar biasa. Apalagi baik kepada orang yang telah menyakiti kita, maka itu tanda kita benar benar ingin pahala saja. Asal tahu beda antara berbuat baik dan memaafkan dengan dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.


Ikhlas...itulah lawan dari pamrih. Kita sering mendengar orang berkata dengan mudahnya:"kalau beramal itu harus ikhlas, agar amalnya diterima oleh Allah". Padahal orang yang mengatakan demikian belum tentu ia masuk ke dalam kategori orang-orang yang ikhlas. Memang betul, kata "Ikhlas" mudah diucapkan, namun susah dipraktikkan. Apa sebetulnya hakikat dari ikhlas itu sendiri? Lalu apa ciri orang ikhlas dalam beramal?


Dalam kitab Mu’jam al-Wasith, kata ikhlas berasal dari kata خلص يخلص خلوصا yang berarti jernih atau murni. 


Sementara itu, menurut Al-Jurjani dalam al-Ta’rifat menjelaskan bahwa ikhlas adalah tidak mencari pujian dalam beramal.


Imam Qusyairi dalam kitab Arrisalah Al Qusyairiyah mengutip penjelasan gurunya. Ia menyatakan bahwa ikhlas adalah mengesakan Allah dalam ketaatan dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada-Nya. 


Perilaku ini tanpa ada embel-embel kepentingan lain yang berkaitan dengan manusia, atau ingin mencari pujian dan popularitas.


Menurut Dzun Nun Al Misri, ada tiga ciri orang ikhlas dalam beramal, yaitu:


Pertama, ketika dipuji atau dihina, sikapnya sama saja, tak ada perbedaan dalam perilakunya.


Kedua, melupakan amalan yang telah ia lakukan. Ia tak mau mengingatnya lagi. Seperti ketika telah memberi shadaqah atau bantuan kepada orang lain, maka ia tak mengungkitnya lagi. Agar amalnya tak sirna gara-gara al mannu (menyebut kembali amalan yang telah dikerjakan atau diberikan).


Ketiga, melupakan pahala amal akhirat, sehingga ia berusaha beramal sebanyak-banyaknya, karena selalu merasa kurang, serta tak pernah membanggakan amalnya.

Menurut pendapat Imam Fudhail bin Iyadh: meninggalkan amalan karena manusia maka itu riya’ (pamer) namanya, sedangkan beramal dengan tujuan agar dipuji manusia, maka itu masuk kategori syirik. Adapun ikhlas yaitu ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.


Hudzaifah Al Mura’syi, yang menyatakan bahwa ketika perilaku, perbuatan seorang hamba sudah sama lahir dan batinnya, baik di kala sendirian atau dalam suasana keramaian, maka kondisi seperti ini dinamakan ikhlas. (https://bincangsyariah.com/khazanah/ciri-orang-yang-ikhlas/)


Suka banget sama quote berikut


"Whoever sees sincerity in his sincerity, his sincerity is itself in need of sincerity. The destruction of every sincere person lies in his sincerity, (he is destroyed) to the extent that he sees sincerity in himself. When he abandons seeing sincerity in himself he will be sincere and purified."


"Siapa saja yang bisa melihat keikhlasan ketika dia berbuat ikhlas maka dia perlu keikhlasan dalam ikhlasnya (mempertanyakan keikhlasannya). Kerusakan dari setiap orang yang ikhlas ada pada keikhlasan (yang mereka rasakan). Saat dia tidak lagi melihat/ merasa bahwa dia ikhlas maka saat itulah sebenarnya dia benar benar ikhlas dan tersucikan (dari beramal selain karena Allah)"


London, 16 Juni 2019

13 Syawal 1440H


PS: tulisan ini tidak untuk mengatakan bahwa saya sudah ikhlas. Justru menjadi pengingat diri supaya terhindar dari membantu karena ingin dibantu.


#KisahDariInggris

#Revowriter

#CatatanRingan

#Renungan

#TazkiyatunNafs

Sunday, 9 June 2019

Hargai dan Cintai

#NasehatPernikahan

**********************

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London 


"Mba...saya harus bagaimana ya Mba. Dulu saya bercadar, lalu suami minta saya melepas cadar. Saya turuti. Sekarang saya disuruh melepas jilbab (baju panjang/Abaya) dan diminta memakai celana saja. Katanya bikin malu"


"Mba...suami saya jarang pulang. Dia sibuk terus bersama teman kerjanya. Ke cafe, ngobrol, pulang ke rumah selalu larut malam. Apakah pernikahan itu harus seperti ini Mba?"


"Mba...ternyata suami saya selama ini telah membohongi saya. Dia punya wanita simpanan. Entah mereka sudah menikah atau belum. Tapi saat akhir pekan, dimana dia pamit ada urusan ummat, ternyata dia bersama wanita itu."


Itulah sekelumit curhat yang pernah saya dengar. Karena saya seorang wanita, wajar kalau curhatnya dari ibu-Ibu. Kalau curhatnya dari bapak bapak malah aneh dan bisa bisa dosa (kan bukan mahram).


Mendengar curhat yang menyedihkan seperti ini membuatku merasa sedih. Selalunya kisah yang tertutur diiringi airmata. Nampak sekali hati mereka hancur berkeping keping. Ada dari mereka yang curhat untuk mencari penyelesaian. Ada yang sekedar ingin meringankan beban. Ada juga yang ingin meyakinkan diri mereka sendiri bahwa ada sekelumit harapan. Meski hampir memudar. 


Jikalau ada para pembaca mengalami hal yang serupa. Diuji oleh Allah lewat pasangannya. Aku berdoa agar Allah memberi jalan keluar. Yang baik untuk kedua pasangan. Semoga anak anak pun tidak menjadi korban. Permasalahan rumah tangga memang kompleks. Menyelesaikannya pun harus dengan sabar dan hati hati. Tidak bisa grusa grusu atau membela satu dan menjelekkan yang lain. 


Menyatukan dua manusia memang tidaklah mudah. Apalagi dua jenis yang berbeda. Intrik intrik rumah tangga tidak akan pernah habis. Seiring bertambahnya usia, jumlah anak, tambahan tanggung jawab, belum lagi orang tua kita yang semakin membutuhkan perhatian, kadang pasangan menjadi nomer sekian. 


Wajar kalau jurang komunikasi makin dalam. Masing masing sibuk dengan tanggung jawabnya. Sang suami sibuk bekerja sekuat tenaga supaya bisa menghidupi keluarga. Sang istri disibukkan mengurus anak dan rumah atau bahkan bekerja membantu ekonomi keluarga. 


Sebelum permasalahan dalam rumah tangga menjadi lebar dimana pilihannya tinggal: cerai atau tidak atau bahkan cerai baik baik atau cerai penuh benci. Pasti semua diawali dari sebuah masalah kecil. Masalah kecil yang tidak terselesaikan. Tidak terkomunikasikan. Berujung pada sebuah perasaan "diabaikan oleh pasangan". 


Berikut sekedar pesan ringan yang mungkin tidak menyelesaikan masalah serta merta. Namun bisa menjadi awal untuk menata kembali atau meluruskan lagi sebuah ikatan pernikahan dari dua lawan jenis. 


Emerson Eggerichs, best-selling author of Love and Respect menyimpulkan bahwa sebenarnya wanita itu butuh dicintai (loved) sedang laki laki butuh di hargai (respect). 


Kesimpulan ini dia ambil setelah survei pertanyaan: jika anda di minta memilih dari hal berikut, mana yang lebih mudah anda hadapi dan akan anda pilih? Ditinggalkan sendiri dan tidak di cintai oleh siapapun di dunia ini atau merasa tidak mampu dan tidak di hargai oleh semua orang? (If you were forced to choose one of the following, which would you prefer to endure, to be left alone and unloved in the world, or to feel inadequate and disrespected by everyone)


Dari sampel asli, 400 laki laki, 74% menjawab kalaulah terpaksa harus milih maka mereka memilih untuk sendiri dan tidak di cintai daripada tidak dihargai. 

Selanjutnya Emerson mengumpulkan data dari para wanita. Dia menemukan bahwa mayoritas wanita merasa lebih baik tidak di hargai daripada sendiri dan tidak di cintai.  


Berdasar pada data ini, Eggerichs menyimpulkan bahwa seorang istri itu ‘butuh untuk dicintai sebesar kebutuhan mereka untuk bernafas (a wife "needs love just as she needs air to breathe") dan seorang suami butuh untuk di hargai (a husband "needs respect just as he needs air to breathe")


Oke, itu memang buku psikologis yang ditulis oleh psikolog barat. Bagaimana dengan Islam?


Coba kita tengok hadis yang berkaitan dengan bagaimana seorang suami memperlakukan istrinya dan bagaimana seorang istri seharusnya memperlakukan suaminya.


Untuk para suami:


Rasulullah ﷺ bersabda:


‎خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

�"Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku" (HR At-Thirmidzi no 3895 dari hadits Aisyah dan Ibnu Majah no 1977 dari hadits Ibnu Abbas dan dishahihakan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 285))


Beliau shallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:


‎أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا

�"Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya". (HR At-Thirmidzi no 1162 dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Majah no 1987 dari hadits Abdullah bin ‘Amr, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (lihat As-Shahihah no 284))


Sedang berikut adalah hadis untuk para istri


Nabi ﷺ bersabda:


‎لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا


"Kalau seandainya aku (boleh) memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain maka akan aku perintahkan seorang wanita untuk sujud kepada suaminya". HR AT-Thirmidzi no 1159, Ibnu Majah no 1853 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani (Lihat As-Shahihah no 3366)


Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:


‎إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَّنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ


"Apabila seorang isteri mengerjakan shalat yang lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya (menjaga kehormatannya), dan taat kepada suaminya, niscaya ia akan masuk Surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya." (Hadits hasan shahih: Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban (no. 1296 al-Mawaarid) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.)


Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam,


‎لاَ تَصُمِ الْمَرْأَةُ وَبَعْلُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَلاَ تَأْذَنْ فِيْ بَيْتِهِ وَهُوَ شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ، وَمَا أَنْفَقَتْ مِنْ كَسْبِهِ مِنْ غَيْرِ أَمْرِهِ فَإِنَّ نِصْفَ أَجْرِهِ لَهُ.


"Tidak boleh seorang wanita puasa (sunnat) sedangkan suaminya ada (tidak safar) kecuali dengan izinnya. Tidak boleh ia mengizinkan seseorang memasuki rumahnya kecuali dengan izinnya dan apabila ia menginfakkan harta dari usaha suaminya tanpa perintahnya, maka separuh ganjarannya adalah untuk suaminya."(Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5195), Muslim (no. 1026) dan Abu Dawud (no. 2458) dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu)


Jika kita tilik satu persatu, Allah ﷻ dan rasulNya juga sudah mengajarkan kepada kita bagaimana seorang laki laki harus menunjukkan kasih sayangnya kepada istrinya. Dan seorang istri menujukkan hormatnya dengan mentaati suaminya (selama ada dalam koridor syara’)


Cek cok yang sering terjadi: suami mengatakan bagaimana saya bisa mencintai istri kalau dia tidak menghargai saya. Dan istri gantian mengatakan bagaimana saya bisa menghargai suami kalau dia kasar, tidak berakhlak dan tidak ahsan (baik) serta tidak penuh kasih sayang dalam memperlakukan saya. Inilah lingkaran setan. Selama si istri melulu meminta untuk di cintai dan selama suami melulu minta di hargai. Lingkaran masalah ini tidak akan pernah selesai.


Solusinya bagaimana? Do it as you are told! 

Lakukan apa yang menjadi kewajiban kita maka hak akan kita peroleh. Bisa jadi perolehan hak itu tidak segera dan serta merta. Namun jika kita melakukannya murni karena taat pada Allah ﷻ dan RasulNya maka insyaAllah sakinah, mawaddah dan Rahmah akan bisa tercipta. Atau paling tidak pahala sudah tersedia. 


Seperti apa bentuk respect kepada suami?

1. Tidak membicarakan aib suami kepada khalayak ramai

2. Memilih kata dan suasana saat bertutur kata

3. Memberi mereka kesempatan mengambil keputusan 

4. Mendukung keputusan mereka dan memujinya meski kadang ga sesuai dengan pertimbangan kita (para istri)

5. Memompa kePD annya dan memberitahunya bahwa kita bangga dengan segala pencapaiannya

6. Memilih teman yang suami suka dan menjauhi teman yang suami tidak suka

7. Mendengar nasihat dan segala batasan yang suami gariskan (meski mubah) Misal: suami tidak suka jika kita makan jengkol. Maka bentuk penghargaan kita adalah dengan menghindarinya sebisa mungkin

8. Tidak berbicara dengan nada merendahkan di hadapan suami dan di hadapan teman.

9. Boleh mengajari asal tidak terkesan menggurui


Seperti apa bentuk mencintai isteri?

1. Perhatian dengan apa yang istri sukai

2. Bertutur kata baik kepada mereka

3. Hindari memuji wanita lain di hadapan mereka 

4. Suka memuji hal hal kecil yang istri lakukan (asal nggak sarkastik)

5. Dampingi dan peluk istri saat mereka sedih, stress atau capek dengan segala urusan 

6. Ciuman sebelum berangkat kerja, SMS penuh cinta saat di tempat kerja, pelukan sekembali kerja adalah hal kecil tapi sangat bermakna

7. Diskusikan denhan istri semua yang dirasakan (oleh suami). Jangan malah diskusi dengan teman. Karena dengan begitu istri merasa dipentingkan

8. Beri mereka waktu luang untuk recharge dengan mengambil alih urusan anak dan rumah untuk sesaat. 

9. Berilah mereka sandang, pangan, papan yang sepadan dengan jumlah pendapatan (a.k.a jangan pelit)


Sama sama 9 poin. Masih banyak contoh lain yang bisa ditambahkan. Takut kepanjangan. Jadi saya cukupkan sekian 🙂


Semoga bermanfaat dan ini pengingat bagi diri sendiri juga. 


London, 9 Juni 2019

6 Syawal 1440H


#KisahDariInggris

#Revowriter

#CatatanRingan

#IslamDiLondon

Serba Serbi Idul Fitri di Inggris

Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Sengaja bikin judul yang nyundhul. Penasaran isinya? Boleh tapi sebelumnya ada WARNING. 


Meski ada kata “Inggris”, tulisan ini tidak akan mampu mewakili gambaran seluruh Inggris. Karena aku tinggal di London maka Inggris yang aku maksud adalah London. Namun London itu luas sodara! Jadi harus aku kerucutkan lagi. Apa yang nantinya tertulis adalah pengalaman berlebaran di London timur (karena di situlah aku tinggal).

London timur adalah area dengan jumlah muslim terbesar di London. Di sinilah muslim menjadi mayoritas. Karenanya pengalamanku ini tidak akan sama dengan teman yang tinggal di London tapi dia di London barat (misalkan) dimana muslim menjadi minoritas. London timur itu juga banyak muslimnya Rek, jadi tulisan ini sebenarnya cuma tradisi tahunan dan serba serbi keluarga Pak Khalifa. Nah loh! Makin ga nyundhul tho? Yo wis ra popo. Sing gelem moco nggih monggo, sing mboten kerso...nggih mboten menopo.


Di setiap sharing pengalaman hampir sama lah situasinya. Kalau ada teman Inggris bertanya:”Yumna, tell me How is Eid in Indonesia?” Maka jawabanku pasti seputar apa yang aku alami, lihat di tivi, dan tradisi yang pernah aku ikuti. Tentu jawaban ini tidak akan mewakili dan menangkap wajah seluruh Indonesia. 

Inilah yang disebut skewed view. Setiap pandangan/ opini/ pengalaman akan selalu bias karena ia akan selalu tertulis berdasarkan pada sebuah sudut pandang tertentu. Salah satunya pengalaman pribadi si penulis. 


Walhasil...jika ada yang ingin mendapat informasi lengkap. Atau ingin mendapatkan gambaran Eid di London seakurat mungkin, maka diharuskan membaca dari banyak blogger dan sumber. So you can put all the pieces together to find the most accurate description. Ini adalah hukum alam dari cara mendapatkan informasi akurat


Karena ini bukan karya ilmiah jadi santai aja bro!


Jadi begini...

Eid 1440H kali ini diawali dengan kebingungan. Seperti biasa, kami mendapat kabar terlihatnya hilal Syawal sebelum maghrib karena kami di belahan paling barat jadi kami mendapat jatah sunset terakhir. Sedangkan saudara-saudara yang di Malaysia, Australia, Indonesia dan timur tengah sudah bisa menetapkan apakah hilal Syawal sudah terlihat ataukah belum. Kebanyakan dari masjid besar London mengikuti keputusan rukyat Saudi. Entah mengapa. Kalau Idul Adha memang seharusnya demikian (rukyat penduduk Mekkah menjadi acuan) namun Idul Fitri, tidak ada syariat yang menyatakan harus mengikuti rukyat Saudi. Berhubung Saudi mengklaim sebagai negara yang mengikuti rukyat dan bukan hisab, ditambah lagi mereka sudah bersaksi telah melihat hilal dan mengumumkan ke khalayak ramai, maka aku putuskan untuk mempercayainya. Meskipun secara hitungan astronomi, tidak mungkin mereka melihatnya. Inilah sumber kebingungannya. 


Sebelum adzan maghrib semua masjid besar sudah mengumumkan bahwa solat Eid hari Selasa. Artinya malam ini sudah masuk 1 Syawal. Panik dimulai! 


Hadiah belum ada yang terbungkus. Rumah belum di rapikan. Dekorasi lebaran belum terpasang. Akhirnya semuanya dilakukan malam itu juga. Aku dan suami bagi tugas. Aku bagian beberes, suami menyetrika baju. Akhirnya selesailah acara bungkus membungkus kado dan memasang dekorasi. Takbir tidak menggema seperti di Indonesia. Yang ada hanya takbir pribadi, di rumah sendiri. Beruntung sekali besok kami ada undangan makan siang dan makan malam dari teman. Jadi acara masak masak tidak seheboh orang kebanyakan. 


Semua selesai ketika jam menunjukkan pukul 4 pagi. Phew! Artinya 4-5 jam menyelesaikan semua tugas. Sekali dalam setahun, tak apa lah. Selesai salat subuh, kami beranjak tidur. Salat Eid dijadwalkan pukul 10 pagi. Ada banyak sekali pilihan. Mulai dari salat di masjid dengan pilihan waktu sampai salat eid di taman luas. Kami memilih salat di taman yang bernama Valentine Park. Karena jaraknya sangat dekat dan salat akan di pimpin mufti terkenal: Mufti Menk. Ternyata salat Eid ini di siarkan langsung oleh Channel TV Islam di Inggris bermama Eman TV. Ribuan jamaah berduyun duyun menghadiri. 


Pukul 7:30 pagi semua bangun. Mandi, sarapan cereal dan berganti pakaian. Pukul 8:30 kami berangkat. Sampai di taman, harus cari parkiran. Duh semua parkir gratis sudah penuh. Yang ada berbayar. Itupun harus kembali dalam waktu 2 jam! Kami putuskan parkir di dalam taman. Membayar £5 samapai salat Eid selesai. Usai parkir, kami berjalan beriringan dengan tetangga yang kebetulan parkir di belakang mobil kita. Suami mencari saf terdepan. Aku bersama anak anak dan tetangga di saf belakang. Rerumputan sudah di tutup dengan plastik tebal sebagai penanda saf. Panitia meminta kita antri sembari mengarahkan kemana kami bisa duduk. Ini cara mereka untuk mengatur saf supaya rapi dan rapat. Sajadah kami bentangkan. Duduk sambil mendengar lantunan takbir dan bacaan Quran. Setengah jam kemudian, hujan rintik rintik. Panitia panik. Karena ada sederetan Shuyukh yang rencananya akan memberikan sambutan. Namun para jama’ah meminta salat di mulai. Akhirnya, panitia menyetujuinya. Pukul 10:10 salat Eid di mulai. Alhmdulillah hujan juga berhenti jadi kami bisa menikmati khutbah Eid. 


Setelah semua usai, antri keluar dari parkiran. Jarak rumah dan taman yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu 10 menit, hari itu butuh waktu satu jam. Sesampai di rumah, tidak ada acara sungkeman. Hanya foto bersama dan membuka hadiah. Anak anak bahagia sekali mendapat kejutan tahun ini (sengaja tidak di ekspos di sini) 🙂. Setelahnya, aku anjang sana ke tetangga. Ngobrol sebentar sembari makan biskuit asli Aljazair. Usai dari sana, kami salat duhur dan langsung cabut menuju rumah teman untuk makan siang. 


Di rumah teman Bangladesh (lahir dan besar di London) kami di suguhi beraneka ragam menu mereka. Biryani, kari ayam, kari daging, samosa, kebab dan berbagai manisan. Anak anak pun senang karena ada teman bermain. Sembari makan, kami mengobrol dan bercanda. Mereka sudah seperti keluarga di tanah rantau ini. 


Pukul 4 sore kami pulang ke rumah. Anak anak tertidur di mobil. Padahal ada undangan makan malam setelah ini (nampak banget emaknya yang ngotot dan semangat). Usai salat asar di rumah, lanjut perjalanan menuju East Ham. Kali ini yang mengundang teman Indonesia yang menikah dengan ikhwan Bengali. Menu yang dia masak: lontong lodeh dan rendang. Mantap dan cukup menjadi tombo kangen lebaran di Indonesia. Acaranya masih sama, mengobrol dan bercanda. Pukul 8 kami siap siap pulang. Pukul 9 kami sampai di rumah, sesaat sebelum maghrib tiba.


Setibanya di rumah, semua tepar dan langsung beranjak tidur. Esoknya kami di rumah seharian. Aku habiskan menelepon keluarga di Indonesia. Bercengkrama dan bercanda lewat kamera HP. 


Alhamdulillah atas tehnologi ini. Karena meski kami berjauhan dan tak berada di tempat yang sama, namun adanya foto dan video call membuat kami merasa ada di tengah tengah mereka.


Inilah sekelumit cerita Eidul fitri kami di London. Ada juga banyak teman Indonesia yang merayakan Idul fitri di wisma Nusantara. Kediaman duta besar Indonesia untuk Inggris raya. Solat eid dan makan opor ayam gratis yang disediakan oleh KBRI. 


Ada juga yang menghabiskan waktunya bersama keluarga besar. Usai salat di masjid. Yang menarik masjid di sini biasanya memiliki 3-4 kali salat eid dalam sehari untuk mengakomodasi jumlah muslim yang banyak dan tempat yang terbatas. 


Ada juga yang mengorganisir Eid untuk para mualaf yang jelas jelas tidak punya keluarga untuk merayakan eid bersama. Banyak anjuran untuk mengundang mereka supaya mereka tidak kesepian dan sedih di hari yang seharusnya mereka bahagia.


Bagaimana dengan Eid para pembaca?


Dari kami di London, selamat merayakan Idul Fitri 1440H. Eid Mubarak!


Taqabalallahu Minna wa minkum. Semoga Allah ﷻ menerima semua amal kita. 


London, 

4 Syawal 1440H 

7 Juni 2019


#KisahDariInggris

#Revowriter

#CatatanRingan

#IslamDiLondon

Wednesday, 5 June 2019

Terjun Saja!

#Day29

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Terjun Saja!


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Malam 29 sudah kurencanakan. Usai ifthar, ku susun semua jadwal. Membaca Quran, sholat, munajat dan tadabbur Ayat. Setelah selesai urusan dapur. Pukul 10:15 malam mengantarkan anak anak tidur. Hudayfah menolak tidur hingga pukul 11 malam karena tidur siang yang panjang. Setelah itu aku beranjak turun ke ruang tamu (kamar anak anak di atas). Kumulai dengan berwudhu, membaca Quran dimulai pukul 11:30 malam. Setelah beberapa waktu, ada suara krusak krusuk di atas. Eh...si thole bangun! Ya wis lah..jam menunjukkan pukul 1 pagi. Artinya so thole cuma tidur 1.5 jam. Tahu aja kalau emaknya mau begadang. Walhasil semua rencana gagal! Karena ternyata Allah ﷻ memintaku ngaji dan salat sambil ngemong. Minta ini minta itu, keluar masuk dapur minta susu dan buah buahan. Coba di tidurkan kembali. Nggak mempan!


Sebuah pelajaran: kadang realitas tidak seindah harapan. Harapan bisa khusyuk berkhalwat dengan Sang Maha Rahman. Apa daya Allah ﷻ kembali mengingatkan bahwa rencana manusia tidak secanggih rencana Tuhan.


Sama dengan tulisanku tentang diari Ramadan. 


Ramadan kali ini sedikit istimewa. Usai ikutan kelas intermediate Revowriter, ada niatan untuk meneruskan belajar mengukir aksara berharap sarat makna. Apalagi jika di lakukan di bulan mulia. Pasti jauh lebih berharga. Tapi harus aku akui, aku tipe orang yang seringnya hanya bermodal semangat tapi eksekusi tidak terjadi. Mungkin sempat melakukannya separuh tapi kemudian berhenti. Walhasil, niatan ini tidak terlalu aku perhatikan. Saat yang sama,di tiga hari pertama, ide tulisan sudah berjubel tapi belum juga ada waktu, tenaga dan kePD an di dalam jiwa. 


Akhirnya, Bismillah...coba lah tulis saja apa adanya. Dan tak terasa tulisan berangkai 29 hari terlaksana. Meski ada yang telat terbitnya 🙂


Terharu...gembira...lega...akhirnya target menulis harian selama bulan Ramadan tercapai. Meskipun di 10 hari terakhir agak macet karena kurangnya jam duduk dan ide menulis yang mulai habis. Ibarat lari maraton, menit menit sebelum garis finish tentu terasa berat dan sulit. Namun Allah ﷻ Maha Pengasih telah membantu dan memudahkan jalan untuk berbagi kebaikan.


Niat awal menulis adalah untuk sekedar berbagi random thoughts yang ada di benak di hari itu. Sebenarnya kurang yakin , akankah bermutu?


Tulisan ini menjadi tulisan akhir edisi Ramadan 1440H. Semoga kedepannya bisa menulis terus. Meski masih acak adul. Betul kata cikgu Asri Supatmiati bahwa jam duduk itu berpangaruh. 


Satu pelajaran berharga. Berencana memang harus, tapi jangan sampai rencana itu malah membuat kita takut berbuat. Terinspirasi untuk berbagi, boleh! Tapi jangan di bikin ribet dan malah menghentikan kita berkarya apalagi kalau hanya demi ‘like’ saja. Percuma! 


Aku yakin sekali, banyak tulisan tulisan keren di luar sana. Banyak penulis-penulis handal yang karyanya menggugah jiwa. Banyak para ‘alim/ ‘alimah yang tulisannya sarat dengan kebaikan dan di kenang sepanjang masa. 


Layaknya sebuah pintu yang punya kunci tersendiri. Demikian juga hati. Ada kunci untuk setiap hati. Kunci pembuka hati. Ada hati yang terbuka oleh kunci berupa tulisan. Ada juga kunci yang berupa uraian lisan. 


Kita tidak tahu kunci mana dan kunci siapa yang mampu membuka hati orang di luar sana. 

Kita tidak tahu ketukan siapa yang akan dijawab dan akhirnya membuat hati seseorang terbuka. 

Yang terpenting adalah aksi ‘mengetuk’. Mengetuk dengan mengingatkan kebesaran Allah ﷻ lewat firman firmanNya. 

Mengetuk dengan menyebarkan ibrah dalam keseharian

Mengetuk dengan tulisan tulisan yang menembus batas tempat dan waktu

Mengetuk untuk mengingatkan kembali bahwa ada cahaya Islam yang sudah kita punya.


Cahaya yang akan tetap menyala selama pemegang obor itu menjaganya

Cahaya yang hanya bisa di relfeksikan oleh yang punya mata

Cahaya yang akan menyinari sekitarnya.


Jika setiap dari kita merasa bertanggung jawab menjaga cahaya tadi, maka pasti makin banyak yang tertunjuki.


Semoga Allah ﷻ mengkaruniakan selalu cahayaNya untuk kita semua.

Semoga Allah ﷻ memberi kita jalan dan kesempatan untuk menjadi penjaga dan penyebar cahayaNya

Entah itu lewat lisan atau tulisan atau bahkan sekedar share postingan. 

Amin 


Khusus untuk pembaca setia saya (you know who you are). 

‎جزاك الله خيراً كثيراً untuk pompaan semangatnya. 


Bagi yang ingin mencoba, saran saya: take the plunge! Terjun saja! InsyaAllah bisa!


London, 3 Juni 2019

29 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Berubah dan Berbenah

#Day28

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Berubah dan Berbenah


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Setiap Ramadan akan berakhir, ada penyesalan. Kenapa diri ini tidak berusaha maksimal? Kenapa masih ada saja waktu yang terbuang? Kenapa masih kadang malas malasan? 29 hari terasa kurang, namun saat bersamanya sering aku sia siakan. 


Ku ulang ulang ayat dimana Allah berfirman tentang tujuan akhir dari puasa. La’allakum Tattaquun. Agar kalian menjadi orang yang bertakwa. Sudahkah diri ini meraihnya? Apa sebenarnya arti takwa? 


Sungguh...Takwa itu sebenarnya sudah kita praktek kan dalam keseharian di bulan Ramadan. 


Ketika kita tidak makan dan minum karenaNya. Sembunyi pun tidak ada yang mengetahui namun hati kita yakin bahwa Allah ﷻ mengamati. 


Ketika kita tidak menunda saat adzan maghrib tiba untuk membatalkan puasa. Taat pada syariat tanpa mempertanyakan kenapa harus berhenti saat maghrib dan bukan saat isya’.


Ketika kita mengikuti salat tarawih meskipun badan sudah capek. Karena kita berharap pahala dan ampunanNya. Membuktikan kita yakin akan surga dan neraka.


Ketika kita membaca Al Quran dan yakin betul bahwa kita sedang membaca Firman Allah Ta’ala. Pedoman hidup yang berlaku sepanjang masa. Membuktikan bahwa kita yakin akan kebenaran firmanNya.


Ketika kita makan sahur berharap barakahnya membuktikan bahwa makan minum, tidur, lafad yang muncul dari mulut, sebisa mungkin kita kontrol karena tahu akan konsekuensinya.


Sekiranya perilaku ini muncul di setiap hari sepanjang tahun. Maka sungguh beruntung. Allah ﷻ telah memilih kita menjadi orang yang sukses meraih berkah Ramadan.


Tapi...namanya juga manusia. Iman kadang kuat, kadang juga lemah. Kadang taat tanpa syarat. Kadang malas dan memilih milih syariat. Sheikh Yasir Qadh pernah menjelaskan. Jikalau keimanan seperti sebuah grafik, maka kita berharap setiap Ramadan berakhir, grafik kita ada di atas (misalkan angka 10). Kalaulah bulan berikutnya turun, maka turunnya pun tidak ke titik sebelumnya namun separuh atau lebih (misal angka 6). Ramadan berikutnya (jika kita masih mendapatinya) upayakan meraih angka 15 (ibarat saja). Kalaulah turun di bulan berikutnya maka tidak lebih rendah dari angka 8. Demikian seterusnya. Harapannya, Ramadan terakhir kita adalah Ramadan dengan titik tertinggi. 


Yang paling menyedihkan adalah jika puasa kita ada pada level yang terendah. 


Ibnu Rojab mengatakan,


‎أَهْوَنُ الصِّيَامُ تَرْكُ الشَّرَابِ وَ الطَّعَامِ


“Tingkatan puasa yang paling rendah hanya meninggalkan minum dan makan saja. 


Dan yang paling mengkhawatirkan adalah jika tidak mendapat apa apa kecuali lapar dan dahaga. 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


‎رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الجُوْعُ وَالعَطَشُ


“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath Thabrani)


Semoga kita tidak termasuk golongam tersebut. 


Mari rencanakan kebaikan yang akan kita lakukan di bulan berikutnya.


Jadikan Ramadan momentum perubahan. Yang belum menutup aurat. Mari tutup auratnya.

Yang belum belajar Islam, mari mulai belajar.

Yang sudah belajar, mari intensifkan

Yang sudah menjadi orang tua, mari fokuskan mendidik anak dengan tarbiyah Islam 

Yang belum menikah dan masih mencari, mari layakkan diri. 


Yang sudah bergabung dalam barisan dakwah, mantapkan kembali langkah. Pompa semangat untuk makin banyak berkontribusi.


Yang Allah ﷻ coba dengan sakit, semoga Allah mengangkat sakitnya. Sembari kita lihat sisi positif meski kadang susah. Allah ﷻ sedang menyucikan dosa kita dan menguji kesabaran kita. Siapa yang sabar maka pahalanya tiada terhingga. 


Allah berfirman,

‎إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ


“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dibalas dengan pahala tanpa batas.” (QS. Az Zumar [39] : 10)


Yang Allah ﷻ sedang uji dengan orang tua yang membutuhkan kita, tetap semangat karena Birrul Walidain adalah sebaik baik amal.


Bagi yang masih di sibukkan dengan pekerjaan, mari sisihkan waktu untuk mencari dan menjemput hidayahNya.


Mari berubah dan berbenah. 


Semoga Allah ﷻ mengaruniakan ampunanNya atas ketaatan yang sudah kita coba di bulan mulia.

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


‎مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


“Barangsiapa melaksanakan puasa Ramadhan karena keimanan dan ihtisab (mengharap pahala dari Allah); akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR Bukhari)


Semoga kita termasuk di dalamnya

‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


London, 2 Juni 2019

28 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Sunday, 2 June 2019

Dahsyatnya Tawakkal

#Day27

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Dahsyatnya Tawakkal*


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


“Gimana saya harus bayar sekolah anak anak bulan depan ya? Gaji sudah tidak cukup karena sembako semakin mahal ”


“Suamiku ternyata selingkuh Mbak! Dia banyak menghabiskan waktunya dengan teman online nya. Apa iya aku harus ninggalin dia? Padahal ada anak juga”


“Sedih rasanya ini Ramadan pertama tanpa ibunda. Beliau meninggalkan kami beberapa bulan lalu”


“Bisnis saya bangkrut Dek. Nggak tahu Musti gimana habis ini. Hutang jadi menumpuk dan jatuh tempo dalam hitungan hari.”


Inilah intrik intrik kehidupan yang kadang membentuk sikap seseorang. Menjadi orang yang sabar atau menjadi orang yang hilang harapan. 


Kesulitan, stress, beban hidup, terjepit dalam berbagai masalah adalah fitrah hidup di dunia. Ujian akan selalu ada tanpa kita minta. Ujian akan harus kita hadapi dan tidak akan bisa dihindari. Yang harus di lakukan adalah menyikapi. 


Namun sayangnya, ada dari manusia yang kadang lupa. Bahwa Allah ﷻ mengajarkan untuk tidak fokus pada masalah yang ada. 


Fokuslah pada Sang Pemilik solusinya maka akan Allah ﷻ akan membuka jalan dari arah yang tidak kita sangka. 


Coba kita tengok kisah Nabi Musa عليه السلام 


Allah mengizinkan Nabi Musa dan para pengikutnya untuk keluar dari Mesir menuju Syam. Pergi dari tanah yang penuh kedzoliman.


Mengetahui kepergian Musa, kemarahan Firaun semakin memuncak. Ia siapkan pasukannya untuk mengerjar Nabi Musa dan pengikutnya. Hal ini di abadikan di dalam Al Quran.


Setiba beliau di depan Laut Merah. Para pengikut Nabi Musa jadi gundah. Mereka merasa terjepit. Di depan laut luas menghadang, di belakang bala tentara Firaun yang dikenal kuat dan ganas.


‎فَأَتْبَعُوهُم مُّشْرِقِينَ


Maka Firaun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit.” (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 60).


Pada saat Firaun dan pasukannya berhasil menyusul Nabi Musa dan pengikutnya, pengikut Nabi Musa berkata,


‎فَلَمَّا تَرَآءَ الۡجَمۡعٰنِ قَالَ اَصۡحٰبُ مُوۡسٰٓى 

‎اِنَّا لَمُدۡرَكُوۡنَ‌ۚ‏ ﴿۶۱﴾  


Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: "Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul" (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 61)


Mereka mengatakan demikian karena melihat di hadapan mereka jalan tertutup oleh lautan. Mereka mengadu kepada Nabi Musa. 


Kemudian beliau menjawab,


‎قَالَ كَلاَّ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ


Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku”. (QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 62).


Respon Musa عليه السلام menunjukkan sikap Tawakkal yang sebenarnya. 

Beliau tidak fokus dengan masalah yang di hadapinya. 

Beliau yakin Allah ﷻ tidak akan menyia nyiakan hambaNya yang taat dan berusaha selalu mengikuti perintahNya. 

Realitas yang di indera Nabi Musa dan pengikutnya sama! Namun ternyata menghasilkan respon yang berbeda dari keduanya. 


Pengikut Nabi Musa hanya melihat rintangan di hadapannya, sedangkan Nabi Musa TIDAK melihat hanya dengan mata. Beliau melihat dari kacamata imannya. Beliau yakin seyakin yakinnya bahwa Allah ﷻ bersamaNya dan akan memberikan jalan keluar segera. 


Jalan keluar yang tidak pernah sekalipun terbayang dalam benak manusia. 

Jalan keluar sebagai imbalan atas keteguhan dan ketaatan mereka. 

Jalan keluar yang membuktikan bahwa selama kita bergantung hanya kepada Allah ﷻ dan bukan kepada kemampuan kita sebagai manusia biasa. Maka keajaiban, kemudahan dan jalan keluar yang tak di sangka keberadaannya akan muncul di depan mata. Allah ﷻ pun memerintahkan Nabi Musa عليه السلام memukulkan tongkatnya. Apakah Nabi Musa bertanya dan protes dengan perintah Allah ﷻ yang nampak tidak bisa dicerna? Tentu tidak! Beliu melakukananya dengan serta merta. Dipenuhi keyakinan bahwa inilah jalan keluarnya. 



‎فَاَوۡحَيۡنَاۤ اِلٰى مُوۡسٰٓى اَنِ اضۡرِبْ بِّعَصَاكَ الۡبَحۡرَ‌ؕ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٍ كَالطَّوۡدِ الۡعَظِيۡمِ‌ۚ‏ ﴿۶۳﴾  



Lalu Kami wahyukan kepada Musa: "Pukullah lautan itu dengan tongkatmu". Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.(QS:Asy-Syu’araa | Ayat: 63)


Mari kita belajar dari kisah mulia ini. 


Berapa banyak manusia bangga dengan kesuksesannya. Dengan pongah menganggap itu adalah murni dari kemampuan mereka. Ada juga yang menisbahkannya kepada keuletan cara kerja, kecerdasan aqal mereka, kegigihan dalam berusaha, detailnya rencana, tingginya cita cita. Dan mereka lupa bahwa tanpa Allah ﷻ semua tidak akan bisa diraihnya. 


Berapa banyak pula manusia merasa paling menderita sedunia. Seolah masalah selalu mengelilingi mereka. Ada yang menyalahkan diri sendiri. Ada juga yang menyalahkan orang sekitarnya. Merasa tidak mampu keluar dari lingkaran kesedihan. Merasa bahwa Allah ﷻ terus menerus menguji tanpa memberi solusi. (Ma’adzallah)


Padahal...jika seseorang itu bergantung tidak kepada kemampuan diri. Tetapi bergantung pada Ilahi. Pemberi ujian sekaligus Pemberi solusi, maka hidup tidak lagi repot dan ketentraman, qana’ah akan muncul di hati. 


Demikianlah tawakkal. Tawakkal bukan pasrah tanpa usaha. Justru Tawakkal adalah terus mencoba segala upaya yang masuk dalam lingkup kontrol kita. Saat yang sama, kita meyakini bahwa Allah ﷻ akan membersamai langkah kita mencari solusi. 


Nabi Musa عليه السلام tetap harus melakukan upaya. Allah ﷻ memerintahkan beliau mengambil tongkat dan memukulkannya.


Secara logika, apa yang beliau lakukan tidak akan menyelesaikan masalah. Secara kalkulasi manusia, aksi beliau tidak berhubungan dengan solusi. Namun nabi Musa عليه السلام tidak bergantung pada logika. Beliau bergantung pada Firman Allah Ta’ala. Allah ﷻ memerintahkan demikian. Tanpa ragu, beliau lakukan. 


Demikian juga seharunya sikap kita terhadap Islam. Adakalanya, sekilas syariat Islam terkesan berat bahkan menyulitkan. Tapi itulah namanya beban. Beban hukum untuk manusia yang mau beriman. Apapun syariat Allah ﷻ, kita harus yakin bahwa ketaatan kepadanya akan mendatangkan kebaikan. Itulah solusi yang Allah ﷻ berikan. Jika kita taat dan terus berusaha berjalan meski terseok seok untuk selalu menjaga kehalalan dan menghindari keharaman dalam tataran pribadi, masyarakat dan negara maka semua masalah akan bisa terselesaikan. 


Bisa jadi secara logika...terselesaikannya masalah itu nampak jauh dari harapan. Masalahnya terlalu kompleks, kerusakannya terlalu dalam, atau bahkan terasa utopia untuk kembali ke jalan Islam. Namun sekali lagi, mata hati seorang mukmin tidak fokus pada masalah. Tapi fokus pada Allah yang akan menyelesaikan. Tugas kita memukulkan tongkat (usaha) dan Allah ﷻ sendiri yang akan membelah lautan untuk kita bisa berjalan (menunjukkan kuasaNya dan memberikan penyelesaian).


*Terinspirasi dari kajian Yasmine Mogahed di YouTube. 


London, 1 Juni 2019

27 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Keluarga: Dimana Hati Berada

#Day26

#DiariRamadan 

#RamadanDiInggris

#IslamDiLondon


Keluarga: Dimana Hati Berada


Oleh: Yumna Umm Nusaybah

Member Revowriter, London


Selama 15 tahun di Inggris, tahun 2013 adalah mudik hari raya terakhir. Anak masih dua dan belum sekolah. Jadi bisa pulang selama hampir 8 minggu. Tapi sejak anak anak sekolah, jadwal mudik hari raya semakin sulit. 


Meskipun anak anak libur dua minggu setiap akhir Ramadan (termasuk hari raya) tapi pulang ke Indonesia dua minggu dengan membawa pasukan tiga di tambah harga tiket yang wah, rasanya kok berat juga. Apa nggak pingin pulang? Tentu saja. Bapak dan Abah (paman yang mengurusku sejak kecil) masih ada. Kakak juga disana. Pingin sekali bisa bertemu dan bercengkerama bersama di hari hari terakhir Ramadan. Pingin melihat takbir keliling desa. Pingin mendengar lantunan takbir dan bacaan Quran yang membahana. Pingin membantu menyiapkan jajanan di meja. Pingin bisa merasakan ribetnya di pagi lebaran. Anjang sana. Bertemu tetangga. Tertawa gembira. Itulah hal hal kecil yang kelihatannya sederhana namun memberi makna lebaran dan Ramadan yang berbeda.


Saat saat seperti ini, mengingatkanku pada sebuah quote: “Home is where the heart is”

This proverb means: your home will always be the place for which you feel the deepest affection, no matter where you are.


Rumah adalah dimana hati kita berada. Rumah adalah dimana kita merasa di cintai apa adanya. Tertawa dan konyol tanpa ada yang menghakimi. Bercanda tanpa ada yang tersinggung meski mungkin sedikit kejam dan sarkastik :)


Bagi seorang anak, keluarga adalah orang tua dan adik kakak. Tantangan besar membangun rumah tangga jauh dari keluarga besar adalah rasa cinta dan peduli yang bisa terkikis. Karena intensitas komunikasi yang berkurang. Mungkin Kita di sibukkan dengan keluarga kecil yang kita bina atau bahkan pekerjaan. Namun saat hari raya, saat saat bahagia, merekalah yang kita inginkan. 


Meski kadang ujian datang. Bentrok dengan orang yang kita sayangi karena satu dan lain hal. Pada kenyataannya merekalah yang Allah ﷻ takdirkan. Menjadi keluarga, penyangga, cheer leader, bersama menanggung beban agar hidup terasa lebih ringan. 


Siapapun yang sedang di uji dengan saudara. Mari kita tengok kisah Nabi Yusuf Alaihissalam. Dari sekian banyak saudara, nabi Yusuf menjadi korban kecemburuan mereka. Beliau di buang ke sumur oleh saudara saudara yang notabene sedarah. Gara gara peristiwa itu, Nabi Yusuf akhirnya terdampar dan menjadi budak. Dibeli oleh Raja ternama, digoda oleh isterinya dan akhirnya masuk penjara. Setelah sang raja sadar kesalahan isterinya, beliau membebaskan Nabi Yusuf AS dan memberinya sebuah posisi penting. Ketika beliau menjadi orang hebat dan ternama, orang penting di singgasana, saudara yang sudah membuat nabi Yusuf terbuang datang mengharap bantuan makanan karena masa paceklik yang menimpa. Nabi Yusuf tetap mau memaafkan. Beliau bahkan membantu dan tidak menghardik atau memalukan mereka di dalam istana. Itulah kesabaran yang indah. Sabrun Jamil. 


Mungkin kita di uji oleh saudara seperti saudara Nabi Yusuf. Akan tetapi contoh telah di berikan oleh Allah ﷻ kepada kita. Seburuk apapun manusia, kemaafan adalah lebih baik dan berpahala. 


Siapa yang memaafkan manusia maka Allah ﷻ berjanji menolong mereka.


Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu ia berkata:


‎يَا رَسُول اللَّه، إِنَّ لِي قَرابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُوني، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِم وَيُسِيئُونَ إِليَّ، وأَحْلُمُ عنهُمْ وَيَجْهَلُونَ علَيَّ، فَقَالَ: لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ المَلَّ، وَلا يَزَالُ معكَ مِنَ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلكَ


“Wahai Rasulullah, sama memiliki kerabat, saya sambung tapi mereka malah meutuskan, mereka berbuat buruk kepada saya tapi saya berusaha untuk berbuat baik kepada mereka. Mereka berbuat jahil kepada saya tapi saya sabar tidak ingin membalas dengan yang sama. Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘jika yang kamu katakan itu benar, maka seakan-akan kamu menaburkan debu panas ke wajahnya dan senantiasa Allah akan menolong kamu selama kamu terus berbuat seperti itu'” (HR. Muslim)


Ramadan segera berakhir. Masih ada harapan kita mendapat malam mulia. Pinta kita kepadaNya. Ya Allah Berikanlah kami hati yang mudah untuk memaafkan. Dan jangan jadikan saudara kandung kami sebagai cobaan. 


Untuk yang mudik, selamat berakhir pekan bersama handai tolan. Hati-hati di jalan. Jangan lupa bahwa doa orang safar di dengar Yang Maha Rahman. Terus berdoa dan meminta di penghujung Ramadan. 


London, 31 Mei 2019

26 Ramadan 1440H


#revowriter

#senyumramadan

#senyumrevowriterdibulanramadan

Konunikasi dalam Rumah Tangga

#Day3 "Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Mba Hesti Rahayu dan aku aka...