Thursday, 17 January 2019

Marshmallow experiment dan generasi instan



"Mama, can I open the presents now? Please please please..." (Mama boleh aku buka hadiah hadiahnya sekarang? Boleh Ya...ya...ya...)

Aku jawab:"You can open one present at a time, you can choose which present you want to open today and play with it and tomorrow after school, you can open another one"

(Kamu boleh membuka satu hadiah di satu waktu. Hari ini kami boleh pilih satu dan membukanya, besok sepulang sekolah kami buka lagi satu)

Rumaysa merengek meminta membuka hadiah-hadiah yang di terima dari teman temannya dari pesta kejutan karena dia sudah tamat Iqra. Allahumma Bariklaha.

Rumaysa sangat berbeda dari kakaknya. Dia punya kemauan keras dan punya determinasi yang tinggi untuk meraih hal yang dia inginkan. Ada bagusnya... dan tentu ada juga kurang bagusnya.

Bagus.. karena dia siap bekerja keras tanpa henti jika dia tahu bahwa ada imbalan besar yang dia bisa peroleh saat target yang aku set bisa dia raih.

Tidak bagusnya....kurang bisa mengendalikan diri dan emosi jika menginginkan sesuatu. Jika dia ingin sesuatu maka itu harus sekarang juga!
‎الحمد لله رب العالمين
Sedikit demi sedikit seiring usianya bertambah, semakin dia bisa mengerti arti dari "menunggu dan bersabar".

Beberapa bulan yang lalu aku membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa di akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an ada sebuah eksperimen yang diberi nama "marshmallow experiment".

Eksperimen ini dilakukan oleh univeritas ternama di dunia: Stanford university di bawah pimpinan psikolog yang kemudian menjadi profesor yang bernama: Walter Mischel.

Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk menguji sebuah teori yang menghubungkan antara kesuksesan akademis di kemudian hari dengan kemampuan seorang anak dalam menunda untuk mendapatkan kepuasan sesaat (delayed gratification).

Dalam eksperimen ini mereka mengambil sampel anak usia TK (Preschool). Mereka menaruh snack yang menggoda di depan peserta eksperimen. Salah satu makanan kecil yang tersedia adalah marshmallow (aku menyebutnya permen gambus). Oleh karenanya eksperimen ini disebut "marshmallow experiment".

Si anak di beri informasi bahwa:
1. Dia boleh makan snack di depannya sekarang juga atau..
2. Jika dia bisa menunggu 15 menit (dimana penguji akan keluar dari ruangan dan masuk kembali setelah 15 menit) maka si anak bisa mendapat 2 snack (tidak hanya 1) sebagai "imbalan kesabarannya menunggu"

10 tahun kemudian anak-anak yang sama (yang tentunya kini sudah tumbuh dewasa) di minta kembali berpartisipasi dan diukur kesuksesan akademisnya.

Dari eksperimen tersebut (yang mana baru2 ini mulai di pertanyakan kekuatan argumennya 😜) disimpulkan bahwa:

Anak yang mampu menahan diri untuk tidak mendapatkan kesenangan sesaat dan mau menunggu demi imbalan yang lebih, maka mereka meraih nilai akademis yang lebih tinggi dari yang tidak mampu menahan diri.

Sang profesor akhirnya berkesimpulan bahwa anak yang di didik untuk bisa menunggu dan mengasah kemampuan mereka untuk menunda kepuasan (delayed gratification) akan lebih kompeten di kemudian hari.

Setelah membaca artikel itu, aku jadi berfikir. سبحان الله
Konsep ini sudah ada sebenarnya di dalam Islam. Islam mengajarkan kita melatih diri untuk bersabar, menahan hawa nafsu dan Istiqomah di jalan yang benar meskipun sulit.

Kadang konsep yang sebenarnya sudah di ajarkan oleh Allah ﷻ lewat rasul Mulia baginda Rasulullah Muhammad ﷺ
 1400 tahun yang lalu, memiliki bobot lebih hanya karena sudah melalui sebuah penelitian dari universitas bergengsi di dunia. استغفر الله العظيم

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al Kahfi yang artinya:

"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia…." (al-Kahfi: 28)

Bersabar tidak hanya bermakna menerima Qadha Allah ﷻ yang menurut kita buruk akan tetapi bersabar juga bermakna
1. Terus menerus taat kepada Allah ﷻ dan berjalan di jalan yang Haq/benar meskipun aral melintang dan cobaan menghadang.
2. Terus menerus menjauhi larangan Allah ﷻ meskipun orang, lingkungan sekitar menggoda dan menggiring kita ke arah pembangkangan terhadap hukum dan aturan Allah ﷻ

Ini adalah konsep dasar yang bisa di aplikasikan di berbagai aspek kehidupan. Entah itu kita sebagai seorang individu yang terus berkembang dan berusaha menjadi baik ataupun sebagai seorang ibu yang mendidik putera puteri kita menjadi generasi hebat.

Ironisnya, justru sekarang semakin banyak hal yang berbau instan. Mulai dari Mie, susu, shopping, bahkan sampai kerudung ada istilah kerudung instan (yang ga pake’ peniti itu looh). Semakin banyak applikasi2 yang memudahkan generasi sekarang mendapatkan yang mereka inginkan dalam waktu cepat. Mulai dari pesan gojek, makanan, sepatu, transfer uang, beli tiket pesawat, nelpon keluarga, dan bisa di bilang hampir semua aktivitas bisa di lakukan dengan hanya bermodal smartphone dan semuanya bisa diperoleh dalam hitungan detik!

Pernah aku berfikir, tingginya angka perceraian di kalangan pemuda muslim di Inggris bisa jadi juga di picu oleh keinginan sesaat yang menggebu gebu. Setelah tahu proses panjang yang dibutuhkan dalam pernikahan untuk saling mengenal, saling mengerti, saling membantu, saling menghargai dan saling bersabar terhadap satu sama lain, mereka belum siap atau malah tidak tahu bagaimana menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan berumah tangga yang tidak bisa di selesaikan dengan cara instan. Bisa jadi ini adalah efek "failure to delay the sense of gratification"

Pertanyaan yang menjadi PR buat kita semua
1. Mungkinkah kita bisa menanamkan nilai2 (kesabaran plus menahan diri dari godaan) kepada anak2 kita jika kita sendiri masih bergantung kepada yang instan dan lebih menyukai yang instan-instan?
2. Apakah upaya nyata yang sudah kita lakukan untuk melatih anak2 kita terlebih lagi diri kita sendiri supaya mampu mengendalikan diri dari semua "distraction" yang ada di depan mata?
3. Akankah kita dan generasi setelah kita nantinya tahu arti dari sebuah perjuangan dan perjalanan panjang meraih sebuah hasil maksimal? Ataukah mereka lebih memilih berhenti di tengah jalan karena ternyata Medan di depan mata semakin terjal?

Menahan diri, bersabar, tahan dari godaan perlu di pupuk dan di ajarkan...Bukan untuk nilai akademis di masa datang... bukan... tapi kerena memang dunia adalah ujian untuk tahan godaan dan ajang menunjukkan kepada Allah ﷻ atas kemampuan kita bersabar demi surga Firdaus sebagai imbalan.

Yumna Umm Nusaybah
London
11:52 malam
16 Januari 2019

#Kisahdariinggris
#revowritermutiaraummat
#curhatemakemak
#tulisanringan


No comments:

Konunikasi dalam Rumah Tangga

#Day3 "Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Mba Hesti Rahayu dan aku aka...