Sunday, 20 January 2019

Pahlawan hidupku

Demi memulai tulisan ini, aku membutuhkan waktu berminggu minggu untuk menata hati. Setiap aku mulai menulis, mataku tak mampu membaca ketikan yang ada di layar moitorku karena air mata yang menyelimuti seluruh bola mataku. Bukan hal yang mudah bagiku untuk menulis tentang seseorang yang begitu dekat di hatiku sementara aku tak bisa lagi memberi pijatan kesukaannya, menatap wajahnya atau mendengar suaranya, karena beliau telah dipanggil Allah melalui sakit kankernya 15 tahun yang lalu.

.

.


Sebulan sebelum pernikahan yang digelar bersama dengan saudara kembarku, Allah ternyata memanggil beliau. Seorang ibu yang tumbuh dan besar di ujung pulau jawa dan terpelosok tapi memiliki mimpi yang tinggi. Beliau adalah seorang motivator, pengusaha ulet, pendidik ulung dan perekat keluarga. Meski hanya lulusan sekolah dasar, akan tetapi beliau lah yang menjadi public speaker trainer, make up artist teacher, business motivator hingga life coach bagi kami. Ibarat produk, beliau adalah seorang wanita yang full package.

.

.


Hari itu Sabtu, 22 Februari 2004, tepatnya jam 9 pagi, aku bergegas menuju ke rumah sakit dimana mami (panggilanku kepada beliau) dirawat di Surabaya. Selama dua hari terakhir, kondisi beliau makin memburuk dengan kesadaran yang sudah sangat menurun. Segera aku cium tangan bapak dan mas dan mempersilahkan mereka untuk istirahat setelah semalaman terjaga demi menjaga mami. Aku segera ambil kursi dan duduk di sebelah mami sambil membaca Al Quran. Terlihat tubuh beliau kurus terbaring lemah dengan mata terpejam. Belum selesai satu halaman aku baca ayat ayat suci Al Qur’an namun aku perhatikan nafas beliau mulai melambat. Segera aku bangunkan mas untuk menelpon saudara kembarku yang masih berada di kos-an agar lekas datang. Tahun itu adalah tahun terakhir masa kuliah kedokteranku, dan fenomena yang terjadi kepada ibuku adalah hal yang sudah bisa aku pahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku berlutut dan melafalkan syahadad tepat di dekat telinga beliau dengan suara agak keras dan berlinangan airmata. Antara perasaan sedih karena akan kehilangan seorang ibu yang sangat aku cintai sementara aku belum sempat untuk membalas budi beliau bercampur dengan perasaan bahwa aku harus tegar dan kuat karena semua bergantung kepadaku sebagai anak yang faham tentang Islam dan kesehatan. 

.

.


Beberapa menit kemudian terdengar seseorang berlari masuk ke kamar dan ternyata saudara kembaku yang datang dengan tergopoh gopoh dan melihat apa yang sedang terjadi. Dia menangis dan menjerit, “Mami….!!!” Ku katakana kepadanya, “Ayo sini, bantu aku mentalqin beliau!” Akhirnya kami berdua mengucapkan syahadad bersama sama, aku dari telinga kiri beliau dan saudara kembarku dari telinga kanan. “Asyhadu..anlaailaaha..illallah..wa asyhadu…anna..muhamdarasulullah” Entah sudah berapa kali kami lafadzkan syahadad ke telinga beliau sambil berlinang airmata, di saksikan mas, bapak dan para suster yang sudah siap untuk membantu. 

.

.


Hingga akhirnya aku lihat nafas beliau begitu pelan dan satu persatu nafas itu terhela hingga akhirnya saat nafas terakhir beliau hembuskan aku hentikan dan aku pegang kaki beliau, ternyata sudah dingin. Aku cium kening beliau dan berakhirlah perjalanan beliau sebagai seorang hamba Allah didunia ini. “Tolong suster panggil dokter jaga untuk declare jam kematian ibu saya” aku katakan kepada suster yang sudah siap dari tadi menunggu instruksi dari kami. Begitu dokter jaga datang, beliau memeriksa semua vital sign dan akhirnya konfirmasi bahwa mami sudah meninggal secara medis dinyatakan. Segera bapak tanda tangan surat surat untuk mengurus kepulangan jenazah mami dari rumah sakit. 

.

.

Aku langsung keluar kamar dan menangis sejadi jadinya! Semua memori tentang beliau seperti film yang diputar di depan mataku. Sumpah dokter dan pernikahan kami berdua yang sebentar lagi akan digelar tidak akan bisa beliau saksikan. Sungguh sebuah kesedihan yang tak terkira, setelah beliau berjuang berbulan bulan untuk bertahan dan bertahun tahun untuk mendidik dan membesarkan kami demi meraih cita cita kami memakai jas putih dan bertitel”dokter”.

.

.

Akhirnya setelah dua jam menunggu, kami mendapatkan ambulan untuk membawa jenazah beliau pulang ke Banyuwangi. Hujan deras disertai petir siang itu seolah mengiringi kesedihan yang kami rasakan. Aku dan kembaranku duduk di bagian belakang ambulan menemani beliau yang sudah terbalut kain kafan dan terbujur kaku, sementara bapak duduk disebelah supir sebagai penunjuk arah. Sepuluh jam perjalanan kita tempuh akhirnya kita tiba di Banyuwangi hampir tengah malam. Rumah kami sudah penuh dengan warga dan saudara yang siap memandikan dan menshalati beliau. Karena terlalu larut akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk menguburkan beliau setelah terbit fajar akan tetapi perawatan jenazah diselesaikan malam itu juga. 

.

.

Keesokan harinya saat aku melihat jenazah didalam keranda dan menjauh dari pandangan mata untuk dibawa ke tempat peristirahatan terakhir beliau, tak kuasa aku menahan rasa sedih yang amat dalam karena benar benar aku akan terpisah secara fisik selamanya dan aku tidak akan pernah bisa mencium tangan dan memeluk beliau. Hampir aku kehilangan kesadaran seperti halnya yang terjadi pada mas dan mbakku.

.

.

Selamat jalan mami, meski engkau sudah jauh dariku secara fisik, tapi memori tentangmu akan selalu terpatri kuat dalam benakku.


Meski engkau tak akan pernah lagi bisa mendengar keluh kesah kehidupan rumah tanggaku dan intrik intrik dalam membesarkan anak anakku, akan tetapi aku aku akan kenalkan mereka tentangmu.

 

Semoga Allah berikan Jannatul FirdausNya kepadamu karena telah mendidik kami untuk mengenal Islam melalui para guru yang engkau datangkan dan temen temen yang engkau pilihkan.

 

Semoga Allah terangi dengan cahaya di alam penantianmu karena telah mengorbankan waktu, tenaga dan pikiranmu agar kami bisa belajar baca Quran sejak dini.

 

Semoga Allah ampuni dosa dosamu karena telah mendidik kami menjadi da’i sejak kecil demi menyebarkan Islam.

 

Semoga Allah lapangkan kuburmu karena telah menjahitkan berpuluh puluh pakaian syar’i untuk kami saat kami memutuskan untuk berhijrah

 

Mami…dalam doa ku titipkan semua cinta ku padamu. Tak akan usang semua memori tentang mu. Masih ku simpan rapi semua mimpi dan cita cita mu. Dengan bantuan dan ijin Allah, aku akan usahakan sekuat tenaga untuk wujudkan semuanya.

 

Dari anak mu yang selalu bangga kepadamu dan rindu yang membuncah 


Nduk Rin (panggilan sayang dari beliau)

Riyadh 20 Januari 2019

Dana Umm Adam (saudara kembarku)

Thursday, 17 January 2019

Marshmallow experiment dan generasi instan



"Mama, can I open the presents now? Please please please..." (Mama boleh aku buka hadiah hadiahnya sekarang? Boleh Ya...ya...ya...)

Aku jawab:"You can open one present at a time, you can choose which present you want to open today and play with it and tomorrow after school, you can open another one"

(Kamu boleh membuka satu hadiah di satu waktu. Hari ini kami boleh pilih satu dan membukanya, besok sepulang sekolah kami buka lagi satu)

Rumaysa merengek meminta membuka hadiah-hadiah yang di terima dari teman temannya dari pesta kejutan karena dia sudah tamat Iqra. Allahumma Bariklaha.

Rumaysa sangat berbeda dari kakaknya. Dia punya kemauan keras dan punya determinasi yang tinggi untuk meraih hal yang dia inginkan. Ada bagusnya... dan tentu ada juga kurang bagusnya.

Bagus.. karena dia siap bekerja keras tanpa henti jika dia tahu bahwa ada imbalan besar yang dia bisa peroleh saat target yang aku set bisa dia raih.

Tidak bagusnya....kurang bisa mengendalikan diri dan emosi jika menginginkan sesuatu. Jika dia ingin sesuatu maka itu harus sekarang juga!
‎الحمد لله رب العالمين
Sedikit demi sedikit seiring usianya bertambah, semakin dia bisa mengerti arti dari "menunggu dan bersabar".

Beberapa bulan yang lalu aku membaca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa di akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an ada sebuah eksperimen yang diberi nama "marshmallow experiment".

Eksperimen ini dilakukan oleh univeritas ternama di dunia: Stanford university di bawah pimpinan psikolog yang kemudian menjadi profesor yang bernama: Walter Mischel.

Tujuan dari eksperimen ini adalah untuk menguji sebuah teori yang menghubungkan antara kesuksesan akademis di kemudian hari dengan kemampuan seorang anak dalam menunda untuk mendapatkan kepuasan sesaat (delayed gratification).

Dalam eksperimen ini mereka mengambil sampel anak usia TK (Preschool). Mereka menaruh snack yang menggoda di depan peserta eksperimen. Salah satu makanan kecil yang tersedia adalah marshmallow (aku menyebutnya permen gambus). Oleh karenanya eksperimen ini disebut "marshmallow experiment".

Si anak di beri informasi bahwa:
1. Dia boleh makan snack di depannya sekarang juga atau..
2. Jika dia bisa menunggu 15 menit (dimana penguji akan keluar dari ruangan dan masuk kembali setelah 15 menit) maka si anak bisa mendapat 2 snack (tidak hanya 1) sebagai "imbalan kesabarannya menunggu"

10 tahun kemudian anak-anak yang sama (yang tentunya kini sudah tumbuh dewasa) di minta kembali berpartisipasi dan diukur kesuksesan akademisnya.

Dari eksperimen tersebut (yang mana baru2 ini mulai di pertanyakan kekuatan argumennya 😜) disimpulkan bahwa:

Anak yang mampu menahan diri untuk tidak mendapatkan kesenangan sesaat dan mau menunggu demi imbalan yang lebih, maka mereka meraih nilai akademis yang lebih tinggi dari yang tidak mampu menahan diri.

Sang profesor akhirnya berkesimpulan bahwa anak yang di didik untuk bisa menunggu dan mengasah kemampuan mereka untuk menunda kepuasan (delayed gratification) akan lebih kompeten di kemudian hari.

Setelah membaca artikel itu, aku jadi berfikir. سبحان الله
Konsep ini sudah ada sebenarnya di dalam Islam. Islam mengajarkan kita melatih diri untuk bersabar, menahan hawa nafsu dan Istiqomah di jalan yang benar meskipun sulit.

Kadang konsep yang sebenarnya sudah di ajarkan oleh Allah ﷻ lewat rasul Mulia baginda Rasulullah Muhammad ﷺ
 1400 tahun yang lalu, memiliki bobot lebih hanya karena sudah melalui sebuah penelitian dari universitas bergengsi di dunia. استغفر الله العظيم

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Surah Al Kahfi yang artinya:

"Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia…." (al-Kahfi: 28)

Bersabar tidak hanya bermakna menerima Qadha Allah ﷻ yang menurut kita buruk akan tetapi bersabar juga bermakna
1. Terus menerus taat kepada Allah ﷻ dan berjalan di jalan yang Haq/benar meskipun aral melintang dan cobaan menghadang.
2. Terus menerus menjauhi larangan Allah ﷻ meskipun orang, lingkungan sekitar menggoda dan menggiring kita ke arah pembangkangan terhadap hukum dan aturan Allah ﷻ

Ini adalah konsep dasar yang bisa di aplikasikan di berbagai aspek kehidupan. Entah itu kita sebagai seorang individu yang terus berkembang dan berusaha menjadi baik ataupun sebagai seorang ibu yang mendidik putera puteri kita menjadi generasi hebat.

Ironisnya, justru sekarang semakin banyak hal yang berbau instan. Mulai dari Mie, susu, shopping, bahkan sampai kerudung ada istilah kerudung instan (yang ga pake’ peniti itu looh). Semakin banyak applikasi2 yang memudahkan generasi sekarang mendapatkan yang mereka inginkan dalam waktu cepat. Mulai dari pesan gojek, makanan, sepatu, transfer uang, beli tiket pesawat, nelpon keluarga, dan bisa di bilang hampir semua aktivitas bisa di lakukan dengan hanya bermodal smartphone dan semuanya bisa diperoleh dalam hitungan detik!

Pernah aku berfikir, tingginya angka perceraian di kalangan pemuda muslim di Inggris bisa jadi juga di picu oleh keinginan sesaat yang menggebu gebu. Setelah tahu proses panjang yang dibutuhkan dalam pernikahan untuk saling mengenal, saling mengerti, saling membantu, saling menghargai dan saling bersabar terhadap satu sama lain, mereka belum siap atau malah tidak tahu bagaimana menyiapkan diri untuk menghadapi tantangan berumah tangga yang tidak bisa di selesaikan dengan cara instan. Bisa jadi ini adalah efek "failure to delay the sense of gratification"

Pertanyaan yang menjadi PR buat kita semua
1. Mungkinkah kita bisa menanamkan nilai2 (kesabaran plus menahan diri dari godaan) kepada anak2 kita jika kita sendiri masih bergantung kepada yang instan dan lebih menyukai yang instan-instan?
2. Apakah upaya nyata yang sudah kita lakukan untuk melatih anak2 kita terlebih lagi diri kita sendiri supaya mampu mengendalikan diri dari semua "distraction" yang ada di depan mata?
3. Akankah kita dan generasi setelah kita nantinya tahu arti dari sebuah perjuangan dan perjalanan panjang meraih sebuah hasil maksimal? Ataukah mereka lebih memilih berhenti di tengah jalan karena ternyata Medan di depan mata semakin terjal?

Menahan diri, bersabar, tahan dari godaan perlu di pupuk dan di ajarkan...Bukan untuk nilai akademis di masa datang... bukan... tapi kerena memang dunia adalah ujian untuk tahan godaan dan ajang menunjukkan kepada Allah ﷻ atas kemampuan kita bersabar demi surga Firdaus sebagai imbalan.

Yumna Umm Nusaybah
London
11:52 malam
16 Januari 2019

#Kisahdariinggris
#revowritermutiaraummat
#curhatemakemak
#tulisanringan


Tuesday, 1 January 2019

2018 Reflection


Let’s make this new year day productive by writing beneficial reflection and tag 5 people. Could be in any languages.

------


2018 Reflection


Name 3 words that best describe 2018

*Unexpected *Exciting *Productive 

.

.

Name the Biggest lesson you’ve learnt this year

*If you push yourself beyond the comfort zone, surely you will be able to see how much potential you actually possess*

.

.

What’s the Biggest change I did this year

*Took on 3 jobs at one time although 2 of them were temporary*

.

.

What’s the Best decision I have made this year:

*Seizing any good opportunities came on my way and looking deep within myself with fresh eyes.*

.

.

Name Best single achievement this year:

*Willingness to challenge myself paired with unconditional support and encouragement from my dearest husband*

.

.

Who helped you to get through 2018

*Husband, my children, few of close friends and fantastic neighbour*

.

.


Which worry was unnecessary this year:

*That I won’t be able to balance between finishing new tasks I took on and fulfil my responsibilities as a wife and a mother*

.

.

How did you grow emotionally this year 

*I become better in shifting through any negative things around me whether it’s a comment, a situation, someone new or old I knew. Those things don’t affect me anymore even in a slightest. In contrary, it taught me how to be stronger and pick the necessary battle *

.

.

Your happiest moment in 2018

*When some of our plans become reality*

.

.

Your saddest moment in 2018

*Hearing few close friends of mine losing their loved ones*

.

.

Now I would like to tag 5 people and write your reflections 😘


Umm Adam

Erika Kartini

Rinta Twins Bunda

Citra Citraa

Hesti Rahayu

And special tag for cikgu Asri Supatmiati

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah Member Revowriter, London  Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman? Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita a...