Sunday, 30 December 2018

Who Am I?

Suatu hari puteri pertamaku bertanya: 

"Mama, who actually am I? Am I Indonesian? Am I Ethiopian? Am I British? What am I? Majority of my friends can say that they are Bengali, Pakistani or Indian, but I don’t know how I would describe myself?" -- (Mama, siapakah aku sebenarnya? Apakah aku seorang WN Indonesia? Ethiopia? Inggris? Siapa aku? Kebanyakan teman-temanku bisa menjawab bahwa mereka orang Bangladesh, Pakistan atau India, tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa menggambarkan tentang siapa diriku?)

.

.

Pertanyaan ini muncul setahun yang lalu saat Nusaybah masih berusia 8 tahun. Dan aku yakin, suatu saat pertanyaan ini akan muncul kembali saat dia mulai dewasa. 

.

.

Bisa di pastikan setiap manusia akan melalui sebuah proses pencarian jati diri. Ada yang mencari jawaban itu dengan penuh keseriusan, ada yang asal jawab saja dan ada yang tidak peduli dan lewat begitu saja tanpa ada bekas dan tanpa pernah peduli untuk memikirkannya kembali. 

.

.

Jika seseorang bertanya kepada kita tentang siapa kita yang sebenarnya? Apa jawaban pertama yang muncul dari mulut kita? Bahkan sebelum itu, kata apa yang muncul dalam benak kita? 

.

.

Seorang Perempuan-kah? Seorang ibu? Seorang enterpenur? Seorang dokter? Seorang direktur? Seorang ibu Rumah Tangga? Seorang ilmuwan? Orang Jawa? Orang Cina? Orang Batak? 

.

.

Tanpa kita sadari, sebenarnya Jawaban pertama itu menjadi perwakilan dari ide dasar tentang siapa kita yang sesungguhnya dan identitas ini yang nantinya menjadi titik sentral dari berbagai pilihan dan prioritas yang akan kita ambil di kehidupan keseharian kita atau jika ada aktivitas yang berbenturan dan kita di haruskan memilih. 

.

.

Satu contoh, seseorang perempuan yang benar benar butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarganya dan akhirnya mendapat pekerjaan itu, namun pekerjaan tersebut mengharuskan perempuan tadi memakai pakaian yang tidak sopan, maka pada saat itu akan terjadi ‘perang batin’ yang membuat si perempuan tadi harus memilih. 


Jika si perempuan tadi mengajukan pertanyaan itu kepada kita, saran apa yang yang akan kita berikan kepadanya?


Nah.. apa landasan kita menasehati tentang pilihan yang tepat? Siapa yang kita jadikan rujukan? Nasehat dan standar siapa yang kita pakai? Itu tergantung dari jawaban kita dari pertanyaan "Siapa kita" sebenarnya dan prioritas apa yang harus kita ambil dari berbagai pilihan yang ada. 

.

.

Jika kita menyadari bahwa hidup kita tidaklah "bebas" seperti klaim orang orang barat, maka sudah selayaknya kita kembalikan lagi pertanyaan itu kepada Yang sudah menciptakan kita. 

.

.

Allah ﷻ sudah menjelaskan bahwa tugas kita di dunia adalah untuk beribadah kepadaNya. Sebagaimana tersebut dalam Quran Surah Adz Dzariyat, Allah Ta’ala berfirman,


‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56) 

.

.

Ibadah dari segi bahasa adalah berasal dari perkataan Arab yang terbentuk dari kata dasar "ain", "ba" dan "dal" (عبد) yang membawa maksud merendah diri, patuh dan taat (al-Maududi, 1984). 

.

.

Kerendahan diri, kepatuhan dan ketaatan ini adalah secara umum, tidak difokuskan kepada sesuatu apapun.

.

.

Dari segi istilah, ibadah bermaksud khusyuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merendah diri dan tetap hati kepadaNya. Jelaslah, maksud dari segi istilah ini telah meletakkan fokus ketundukan dan kepatuhan seseorang manusia itu hanya ditujukan kepada Allah Subhanu Wa Ta’ala, tanpa sekutu sama sekali. 

.

.

Maka tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang Makhluk untuk mendefinisikan siapa kita.

.

.

Jadi siapakah kita? Kita adalah hamba Allah ﷻ yang di Ciptakan untuk menyembah Dia ﷻ. Walhasil, pilihan pilihan kita dalam hidup kita sudah semestinya selaras dengan apa yang Allah ﷻ inginkan. 

.

.

Bukannya selaras dengan hawa nafsu atau keinginan sesaat atau apa yang menguntungkan atau mana yang lebih gampang dilakukan atau mana yang lebih menghasilkan uang atau mana yang nanti di anggap lebih mulia oleh masyarakat.

Bukan, sekali lagi bukan itu yang seharunya menjadi standar. Tapi, manakah menurut Allah ﷻ pilihan yang tepat? tujuan yang tepat? pandangan di mata Allah ﷻ yang benar?

.

.

Jika seseorang sudah memahami hakikat mendasar jati diri ini maka tidak ada orang yang kesulitan memilih karena pusar dari pilihan itu tidak akan berubah! 

Hukum dan syariat Allah ﷻ tidak akan pernah berubah. 

.

.

Aku bisa bayangkan kebingungan itu akan jarang terjadi, kalaulah ada maka dengan tambahan pengetahuan ilmu dan bertanya kepada ahli ilmu akan bisa menemukan jawabannya. 

.

.

Seorang ibu RT akan mengerti apa yang di prioritaskan, demikian juga seorang ayah, seorang ibu pekerja, kapan seorang anak harus memprioritaskan kedua orang tuanya, kapan seorang suami harus memprioritaskan anak2nya, bahkan kapan seorang pemimpin harus menahan diri untuk tidak ikut2an mengucapkan natal dan boleh tidaknya kita atau para pembesar negeri ini berpartisipasi dalam perayaan agama lain. Semuanya sudah jelas dan selayaknya rasa malu, rasa takut, rasa minder, dan rasa rasa yang lain tidak seharusnya menjadi pertimbangan.

Penghujung 2018 sudah tiba, 2019 akan segera mulai, mari kita pertanyakan kembali Who Am I and let’s find the right answer and work from there. 


Wallahu ‘Alam bishowab


Weesp, Belanda

30 Desember 2018

Ditulis oleh: Yumna Umm Nusaybah

Saturday, 22 December 2018

Yang sedih untuk dikenang, hanya akan menguatkan.


“Nduk, muliho yo Nduk.... mami mlebu Rumah Sakit mulai mambengi sampe saiki” - (Nak, pulang ya nak.... mami masuk RS sejak semalam sampai sekarang)

.

.

Deg.....! Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara Bapak atau yang biasa aku sebut dengan panggilan Pak’e di telpon genggamku. Meski sejak kelas 1 SMA aku ngekos dan jauh dari orang tua, baru kali ini Pak’e memintaku pulang. Pastilah ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Aku hitung sudah hampir satu bulan lebih aku belum sowan ke desa menemui pak’e dan Mami. Semua dikarenakan kesibukan perkuliahan di UNAIR Surabaya yang sudah memasuki tahun ketiga. Dengan rasa khawatir yang masih menggantung, aku putuskan pulang di pagi harinya dan aku langsung meluncur ke Rumah Sakit Islam di Banyuwangi.

.

.


Sampailah aku dan saudara kembarku ke ruangan di mana mami di rawat, aku lihat nenekku duduk di samping mami sambil menangis. Aku lihat tubuh lemah tergolek di pembaringan, tubuh yang terlihat sangat kurus sekali. Aku benar benar terkejut dengan perubahan drastis dari berat badan mami. Ternyata BB beliau telah turun 30kg dalam rentang waktu 1 bulan! Sekiranya pengetahuan itu aku miliki sekarang, pasti aku sudah curiga malignansi, namun saat itu kebodohanku menutupi kesimpulan yang hampir hampir jelas. 

.

.


Aku peluk mami dan menangis sejadi jadinya, aku tanyakan kepada mami dan pak’e kenapa aku tidak di beri kabar sama sekali selama satu bulan terakhir tentang perubahan BB mami dan kondisi mami. 


Lewat telpon, beliau memang hanya mengeluh diare hampir setiap hari dan berasa capek saja, lagi lagi kebodohanku hanya bisa menyarankan mami cek up ke dokter spesialis interna. Beliau menuruti nasehatku dan dari sana, diketahui level hemoglobin beliau hanya 4! Oleh karenanya dokter menyarankan beliau opname. 


Aku langsung meminta bertemu dokter jaga, aku tanya apa saja kemungkinan penyebab HB turun drastis dalam waktu cepat? Perdarahankah? Apakah diare

Yang beliau keluhkan di sertai darah? Masalah di produksinya-kah (masalah dengan sumsum tulang belakang), ataukah hal lain? Setelah diskusi panjang lebar dokter menyarankan kami pergi periksa kolonoskopi, dan itu harus di Surabaya! 

.

.

Mulailah perjalanan panjang mendiagnosis penyakit ini. Hari demi hari, bulan demi bulan, masuk tahun demi tahun kami lalui, tapi belum juga ada titik terang. Segala jenis spesialisasi sudah beliau temui dan kami susuri, mulai dari yang di Banyuwangi hingga di Surabaya. Mulai dari ahli penyakit dalam, dokter mata, ahli rhematologi, ahli gastroenterologi, ahli nefrologi (ginjal), ahli jantung, ahli imunologi dan entah ahli ahli apalagi. Rasanya hampir hampir kami putus asa dan tidak tahu lagi harus kemana. Setiap bulan puluhan juta harus kita siapkan untuk opname, transfusi darah, injeksi eritropoitin, dan treatment2 lain karena HB yang selalu turun. Setiap tes darah, kami deg deg-an karena kami tidak tahu, akankah minggu itu HB naik atau turun drastis lagi. 


Malam malam kami terisi dengan solat malam dan untaian doa serta tangisan menghiba Allah ﷻ supaya diberi jalan keluar dan titik terang tentang sakit yang di sudah diderita mami selama 4 tahun!

.

.

Sampai suatu pagi, aku hadiri laporan pagi bagian interna dari dokter jaga malam UGD RS Dr Soetomo. Saat itu aku sudah masuk tahun kelima di FK Unair dan kami sudah mulai praktek di RS. Pasien dilaporkan datang dengan keluhan yang tidak spesifik dan sudah menghabiskan waktu berbulan bulan berpindah dari satu dokter spesialis ke dokter spesialis yang lain. Dokter Ami (yang saat itu belum meraih gelar profesor) menyampaikan ulasan beliau bahwa pasien ini sudah diketahui penyakit utamanya namun pasien dengan sakit seperti ini biasanya di awali dengan kunjungan ke banyak dokter spesialis tapi tidak memiliki kejelasan diagnosa. Ini tipe khas dari pasien yang menderita keganasan sel plasma darah bernama MULTIPLE MYELOMA!

.

.

Aku dan saudara kembarku saling berpandangan dengan hati teriris. Adakah kemungkinan mami menderita penyakit ini? Inikah titik terang yang kami inginkan? Haruskah kami berbahagia karena akhirnya titik terang itu mulai kelihatan ataukah bersedih karena kekhawatiran kami selama ini menjadi kenyataan?

.

.


Dengan perasaan bingung dan pikiran kacau, kami meminta waktu sebentar dengan Dr Ami usai laporan pagi. Beliau menganjurkan supaya mami melakukan tes darah spesifik untuk menegakkan diagnosa Multiple Myeloma. Kami memberi kabar kepada mami dan membawa beliau ke Surabaya untuk tes darah tersebut.


Setelah hasil tes ada di tangan, kami kunjungi Dr Ami di tempat praktek beliau. Kami tunjukkan hasil tes darah dan beliau memberi selamat kepada aku dan saudara kembarku karena telah berhasil menegakkan diagnosa yang tidak mudah. 


Lalu beliau bertanya:”Siapa pasien ini?”


Sambil tertunduk lesu, lemah lunglai kami jawab:”Ibu kami, Dok...”


Beliau ikut prihatin karena justru puteri sang ibu sendiri yang akhirnya harus menemukan diagnosa final dari sakit yang sudah 4 tahun menggerogoti sang Ibunda. Beliau juga menyampaikan bahwa kanker darah ini sudah memasuki stadium 4! Tidak ada terapi lain selain paliative care untuk mengurangi sedikit rasa sakit karena kanker yang telah menyebar ke seluruh tubuh. 


Setahun setelah diagnosa itu tegak, mami di panggil Allah ﷻ di usia beliau yang masih relatif muda, 57 tahun. 


Mami...yang selalu bercita cita putri kembarnya menjadi seorang dokter, membuka praktek bareng-bareng dan membantu orang orang miskin di desa yang tidak mampu berobat, telah di beri sakit yang menakdirkan sang puteri mendiagnosis sakit beliau sendiri.


Meski beliau hanya mampu menyaksikan wisuda sarjana kedokteran kami, dan tidak dihadirkan oleh Allah ﷻ dalam upacara sumpah dokter kami, akan tetapi jasa, pengorbanan, kerja keras, doa, air mata, dan malam malam serta tirakat yang sudah beliau lakukan berperan besar menjadikanku seperti sekarang.


Mami.... yang telah kehilangan kesempatan bersekolah dan selalu memimpikan menjadi seorang perawat telah mengalirkan tekad kuat buat kami -anak anaknya untuk tidak pernah menyerah, terus berjuang dan membuat sesuatu yang orang anggap jauh dari jangkauan menjadi mungkin dengan izin Allah ﷻ Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Mami.... yang ditakdirkan menikah dengan seorang kepala sekolah SD harus bekerja ekstra keras supaya bisa menyambung hidup dan membiayai 2 anak kuliah sekaligus. Beliau tidak pernah malu mencoba bisnis baru di setiap waktunya. 


Mulai dengan berjualan kerupuk, es lilin, menjahit baju, mengurus salon, perias pengantin, berjualan baju anak-anak di pasar, berjualan barang2 plastik, berjualan sayur keliling desa, berjualan genteng dan segala jenis enterprenur sudah beliau jalani. 


14 tahun yang lalu, mimpi beliau sudah menjadi kenyataan... namun memori perjuangan meraihnya tidak akan pernah lekang. 


Ya Allah ﷻ Ya Rahman.

Ampunilah dosa ibundaku tersayang

Lapangkanlah kuburnya

Mudahkan lah hisabnya 

Karuniakan lah Surga tertinggiMu untuknya

Berilah kami kesempatan berkumpul kembali di surga Firdaus yang kekal


‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


Weesp, Belanda

22 Desember 2018

Bertepatan dengan hari Ibu di Indonesia.

Ditulis oleh Nduk Yuyun yang selalu mendoakanmu (panggilan kesayangan mami untukku)


Ditulis dalam rangka mengikuti audisi naskah”Persembahan cinta untuk Ibu”

Friday, 21 December 2018

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (part 3-END)



Perbedaan yang terakhir yang Bianca sampaikan: "I am a university graduate..." dan dia tidak melanjutkan kalimatnya.


Aku sendiri yang harus mengisi titik titik itu...


Sejenak aku diam terpaku karena bagiku itu bukanlah perbedaan karena aku juga "University graduate" alias lulusan Univeritas gitu loh!!!

.

.


Tapi kenapa yang muncul dalam benak Bianca pernyataan yang seperti itu? 

.

.

Karena konteks diskusi kami adalah perbedaan di antara kami berdua, maka konsekuensi logis dari kalimat itu sudah tersirat meski tidak tersurat, bahwa: "Bianca adalah lulusan universitas sedang aku bukan!"


Beda lagi jika Bianca bilang:"I have my PhD degree" maka masih ada kemungkinan aku mengisi titik titiknya dengan jawaban :"I have my bachelor degree or Master Degree" 


Tapi dengan kalimat Bianca itu sudah nampak BIAS dan quick judgement yang menyimpulkan bahwa: perempuan berkerudung di hadapannya (dalam hal ini aku) adalah wanita yang tidak pernah mengecam pendidikan tinggi (Univeritas). Itu bedanya aku dan dia (paling gak berdasar pada ungkapan dia yang aku pahami)

.

.

Aku sengaja tidak beraksi dengan kalimat Bianca karena pasti kalimat tadi tidak sama sekali dia niatkan untuk merendahkanku. 

.

.

Bianca hanya menerka saja berdasar pada praduga yang selama ini mungkin dia tahu dan yang selama ini beredar dan di jual bebas oleh media2 koran ataupun TV di Inggris bahwa 

.

.

1. Wanita berkerudung itu identik dengan tidak berpendidikan tinggi. (Kalaulah ada itu hanya kasus pengecualian) 

2. Wanita berkerudung itu tidak fasih berbicara bahasa Inggris.

3. Wanita berkerudung itu di tindas oleh laki2 di komunitas mereka sendiri

4. Wanita berkerudung itu tidak punya pilihan (dipaksa untuk berkerudung dl) serta tidak punya banyak pilihan.

.

.

Kalau itu yang selalu di jual oleh headline2 media masa, sangat bisa dipahami darimana prasangka dan praduga Bianca tadi berasal. Its not her fault!.

.

.


Ini adalah pengalaman pertama bagiku menghadapi komentar yang sedikit menyudutkan seperti ini (meski hanya tersirat). Mengingat aku hanya 3 muslimah berkerudung dari 100 lebih orang yang hadir. Tentu saja identitasku sebagai perempuan berkerudung sangat bisa di indera. Seperti di Part 1 kisah ini sudah aku sebutkan, meski saat kerja di RS aku berinterasi dengan dokter, konsultan, perawat, tukang bersih2 RS tapi selama 6 Tahun itu tidak sekalipun aku mengalami kejadian seperti ini atau merasakan hal yang aneh begini. 


Mungkin sebagian pembaca akan berfikir: "ah, kamu aja yang sensitif Yum, mungkin bukan itu maksud Bianca" 


Mungkin saja demikian, tapi hari itu, aku tidak habis pikir dengan banyaknya pandangan mata dan ungkapan-ungkapan dan respon-respon aneh dari orang-orang di sekelilingku. 


Apakah karena aku ‘merasa’ menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris? Semoga saja hanya karena itu! 


Yah... karena ini pengalaman pribadi dan tulisan ini di tulis dari situasi yang sulit bisa di gambarkan kecuali berhadapan langsung dan berada di antara para wanita pekerja profesional yang menatapku dengan tatapan sedikit aneh (menurutku) maka ini adalah kesimpulan sederhana yang aku tangkap. 


Jujur....masih banyak kejadian yang lebih frontal dan lebih menakutkan dari yang aku alami hanya karena kami berkerudung. 


Sejenak pikiranku di sibukkan dengan kesimpulan di atas, tanpa ku sadari Sarah sudah masuk ke pembahasan berikutnya.


Aku tidak ingin tepancing dan aku merasa tidak perlu tersinggung, aku anggap Bianca belum banyak bertemu wanita2 berkerudung yang berprestasi atau membaca dan berinteraksi secara langsung dengan mereka (aku juga sedang memakai kacamata bias-ku kali ini) tapi aku bertekad di akhir acara aku harus meluruskan salah kaprah yang sudah merajalela. 


Kapan lagi kesempatan meluruskan prasangka itu datang, bisa jadi aku orang pertama dan orang terakhir Bianca temui dalam hidupnya (hiperbola banget deh!)


Akhirnya di akhir acara, ada kesempatan untuk para peserta berbicara dan mengajukan pertanyaan dan komentar. 


Saat itulah aku sampaikan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang aku harap bisa sedikit membuka mata dan meluruskan prasangka di luar sana (secara tersirat) bahwa perempuan berkerudung bisa juga berpendidikan tinggi dan bergelar dokter tapi memilih voluntary work. 


"Would it be possible to provide us with some researches -maybe in the form of archives that will be available online for all the coach to access- so we can back up all the statistics written on the coach note?"


"Let me give you just one example: just yesterday I delivered the session on "behave" and one of the attendees asked if it’s normal for her 11 years old daughter occasionally wet her bed, since I came from medical background and had spent 7 years studied medicine, I could help her a little bit and suggested the possible problem her daughter faced, and what she needs to do next. I am

fully aware that me as a coach is not meant to be parenting consultant let alone health advisor but my attendees really appreciated my help in that instance. So I guess additional information would help us along way and build our credibility even more!


Hikmah 


1. Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan tentang kita (wanita Muslima), tapi penting bagi kita menunjukkan bahwa Islam tidak seperti yang mereka pahami. It’s not about us but it’s about the image of Islam yang harus kita bela.


2. Tidak perlu tersinggung jika ada yang salah sangka, buktikan saja dengan adab dan tingkah laku yang islami.


3. Hidup sebagai ‘practicing muslim’ (muslim yang berusaha memegang dan menerapkan ajaran Islam dalam keseharian) dan sebagai minoritas di negeri Barat, mau nggak mau, suka nggak suka dan tanpa kita minta,

sudah menjadikan kita sebagai penanggung beban dan pembawa obor kebenaran. Pastikan kita memantaskan diri untuk amanah besar itu!


4. Prasangka dan praduga yang keliru tentang kaum perempuan pada khususnya atau Islam pada umumnya tidak cukup di counter (di lawan) dengan sikap dan tingkah laku yang baik saja tapi juga kemampuan menjelaskan dan kemampuan berargumen sehingga cahaya Islam selalu menjadi yang tertinggi. Lebih keren lagi kalau yang bersuara adalah kaum PEREMPUAN itu sendiri! 


5. Bersyukurlah jika kita berada di lingkungan dimana kita tidak harus "membuktikan" kepada khalayak rama ibahwa kita orang yang baik dan orang yang normal meskipun kita berkerudung.


6. Ambil kesempatan yang Allah ﷻ sajikan kepada kita untuk membela agamaNya kapanpun dan dimanapun.


7. Perbanyak ilmu, perbanyak diskusi, perbanyak menghadiri majelis ilmu di lingkungan kita ataupun menimba ilmu lewat media online supaya kita tahu dan bisa menyuarakan Islam dengan cara yang benar dan argumen yang kuat.


8. Hindarilah prasangka dan praduga, gimana caranya? Yah... dengan banyak membaca dan memahami.


9. Jadilah muslim yang aktif dan bantulah Islam dengan membuat narasi tandingan yang benar, tangguh dan beralasan.


The end


#KisahDariInggris

#RevowriterMutiaraUmmat

#MuslimDiBarat

#IslamDiInggris

#CurhatEmakEmak


Weesp, Belanda

21 Desember 2018

Ditulis oleh Yumna Umm Nusaybah

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (Part 2)

Pukul 12:30 siang masuk waktu ISHOMA, sambil menunggu antrian makan siang, aku putuskan untuk sholat duhur karena di musim dingin seperti sekarang, waktu waktu solat berdekatan satu sama lain. Aku tanya ke ketua panitia, seorang wanita berkulit putih berambut pendek bernama Bethan:"do you have a small spare room where I can pray?" (Adakah ruangan kecil yang bisa aku pakai untuk solat?) 


Dengan senyum manis, dia menjawab:"Let me ask the museum manager and I will get back to you, when do you need it and for how long? (Aku akan coba tanya ke manajer museum dan nanti aku kasih tahu kamu, kapan kamu butuhnya dan untuk berapa lama?).


Aku jawab: "I would appreciate it if I can use it now and I only need it for no longer than 5 to 7 minutes" (Kalau bisa sih sekarang dan aku hanya butuh untuk 5-7 menit saja)


Selang beberapa menit, Bethan sudah kembali dan mengajakku turun tangga dan menunjukkan ruangan meeting kosong yang bisa menampung lebih dari 10 orang!


"Thank you so much, Bethan! I really appreciate it, would it be okay if use it now and again in the next 30 - 45 minutes?"


(Terima kasih banyak, Bethan, dan bolehkah aku pakai lagi ruangan ini sekarang dan 30-45 menit lagi?) - sekalian ijin untuk memakai ruangan yang sama untuk solat asar.


Selesai solat, aku menuju meja yang sudah dipenuhi sandwich. Di situ sudah tertulis berbagai jenis sandwich, ada yang untuk vegetarian, gluten Free, dan sandwich yang berisi ayam dan daging. Jelas jelas daging dan ayamnya nggak halal, walhasil aku pilih sandwich untuk vegetarian yang isinya alpukat dan keju (ga nge-fan sama sekali sama rasanya tapi asal perut terisi saja)

.

.

.

Selesai makan, masuklah kami ke sesi kedua yang di isi oleh Ms Sarah Minor-Massy- seorang ibu dengan satu anak yang bekerja sebagai Solution director di MindGym. Dari aksennya, kelihatannya dia bukan wanita asli London. Dugaanku benar saat dia memperkenalkan diri. Sarah lahir dan besar di California, dan baru setahun terakhir pindah ke London. 


Topik yang di angkat Sarah hari itu berjudul: One of Us. Diskusi utamanya berbicara tentang bagaimana secara psikologis, perilaku setiap manusia akan selalu dipengaruhi oleh cara pandang mereka alias bias yang mereka miliki. Cara pandang/ bias ini terbentuk dari proses berkembangnya mereka di sepanjang perjalanan hidup, jumlah dan jenis informasi yang masuk ke dalam otak, dan apa yang menjadi kebiasaan keseharian kita (budaya). Beliau menyebutnya "unconscious bias". Sarah membuat sesinya interaktif. 

.

.


Sesi itu dia mulai dengan sebuah tes yang bernama IMPLICIT ASSOCIATION TEST dimana tes ini menganalisa adanya fenomena "the Stroop effect"


Dia menampilkan tulisan yang berwarna. Kata merah di tulis dengan tinta berwarna merah, lalu kami para audiens di minta membaca WARNA dari TULISAN itu secepat mungkin. Wajarlah kalau kami semua bisa membacanya dengan sangat cepat dan mudah. (Lihat gambar 1)


Selanjutnya dia menampilkan kata merah tapi di tulis dengan tinta warna biru dan kami di minta menyebut WARNA DARI TULISAN secepat mungkin dan BUKAN APA yang tertulis, saat inilah banyak yang berhenti atau mungkin menyebut warna yang keliru. (Lihat gambar 2)


Dari tes sederhana ini, para psikologis menyimpulkan bahwa alam bawah sadar kita cenderung secara cepat membuat kesimpulan dan kadang kesimpulan ini tidak logis dan terlalu menggeneralisasi. Warna merah belum tentu tertulis dengan kata MERAH (seperti pada latihan 2), tapi secara otomatis otak kita akan membaca kata "merah" yang berwarna "biru" dengan sebutan "merah" padahal yang di inginkan adalah menyebut warna dan bukan membaca kata yang tertulis. 


Alam bawah sadar kita cenderung mengasosiasikan kata dengan hal tertentu. Salah satu contonya adalah kata: kulit putih di asosiasikan dengan kata cantik, kata Afrika di asosiasi kan dengan krisis kelaparan, kata Eropa di asosiasikan dengan kemajuan, kata bule di asosiasikan dengan ganteng dan kaya, dan seterusnya. Pelajaran yang Sarah sampaikan: sudah menjadi sifat manusia untuk selalu ‘make a quick judgement’ (menghakimi sesuatu dan situasi dengan cepat) berdasar dan bergantung dari kebiasaan dan informasi yang sering kita peroleh. Sayangnya ‘quick judgement’ ini sering tidak benar bahkan berbahaya, sudah semestinya kita ‘take time’ untuk memberi diri kita sendiri kesempatan berfikir sehingga kita bisa menghakimi sesuatu, situasi dan seseorang dengan benar pula.


Kesimpulanku pribadi: berhati hatilah dalam mencari informasi, pastikan informasi, ilmu yang kita baca dan isi ke dalam otak kita adalah informasi yang benar dan valid, bukan hoax tapi berdasar. Kalau ilmu itu ilmu Islam, maka harus ada referensi dalil (Quran dan Sunnah). Kalaulah informasi itu tentang seorang maka kita kenal syariat yang namanya tabayyun dimana Islam

mengajarkan kita untuk cek dan ricek serta tidak grasa grusu bereaksi. We should respond and not react!


Fenomena ini juga menarik, kata Sarah, judgement itu juga bagian dari ‘decision making process’. Kalau pemahaman realitas kita nggak pas karena judgement kita yang grusa grusu maka cara kira merespon, menyikapi, dan menghakimi serta menghakimi sesuatu itupun akan keliru besar. 


Kalau fakta ini hal yang sepele dan mubah (dibolehkan dalam Islam) maka nggak masalah, tapi kalau ini berkaitan dengan hal besar semacam seorang perempuan yang ingin menikah dengan seorang laki2 atau sebaliknya dan mereka hanya menggunakan ‘stroop effect’ ini maka kemungkinan besar pernikahan mereka tidak akan langgeng. Kesan pertama boleh menggoda tapi selanjutnya belum tentu bikin bahagia. 

.

.

Konteks untuk kami para Parenting Coach saat itu adalah agar kita membuang bias itu sejauh jauhnya dan memberi kesempatan yang sama bagi semua peserta yang mengikuti parenting program yang kita suguhkan. Misalkan, menganggap peserta yang tidak aktif berbicara berarti tidak punya pendapat, menganggap peserta yang tidak fasih berbahasa Inggris tidak menguasai materi, dll. 

.

.

Setelah tes psikologi masal selesai, kami di minta bertukar informasi dengan orang yang duduk di sebelah kita tentang tiga persamaan dari kami berdua. Kebetulan sebelahku adalah seorang wanita berkulit putih dari Inggris utara dengan aksen kentalnya. Sebut saja namanya Bianca (bukan nama asli). Dia yang memulai berbicara dan menyimpulkan bahwa kami sama sama seorang ibu, sama sama seorang coach, dan sama sama perempuan. Aku pun setuju dengan pilihannya (of course).

.

.


Berikutnya, kami di minta saling bertukar informasi tentang apa yang menjadi perbedaan dari kami berdua. Ini yang MENARIK. Meski agak berat dan sungkan bagi kami untuk membicarakannya, tapi ini bagian dari topik yang harus di diskusikan. Aku persilahkan Bianca memulainya terlebih dahulu. Jujur aku sangat tertarik ingin mendengar apa yang ada dalam benaknya. 


Kata pertama yang dia sebut adalah, agama! (Perlu di catat bahwa obrolan tentang agama bukanlah obrolan umum, hal ini sangat privat dan jarang orang mau mendiskusikannya). 


Dia bilang:"Aku roman Katolik, kamu muslim" (aku mengangguk) 


Selanjutnya aku bilang:"kamu berambut pirang, aku berambut gelap, kamu seorang native, aku seorang imigran". Seperti kebiasaan orang Inggris yang terkenal sopan, dia pingin membuatku merasa nyaman dengan mengatakan: "aku dulu juga imigran di Spanyol"


Batinku berbicara: kayaknya orang Inggris di Spanyol tidak menyebut diri mereka

Imigran deh tapi mereka menyebut diri mereka EXPAT!. Imigran adalah label yang hanya di tempelkan oleh negara maju kepada para pendatang dari negara "miskin" atau negara "berkembang". Walaupun kenyataannya sama sama hijrah/ pindah tempat, tapi para pendatang dari negara maju tidak akan di sebut imigran, mereka di label dengan kata Expat. Lagi2 ini adalah asosiasi yang sengaja di tempelkan dari sebuah bahasa dengan realitas tertentu meskipun kenyataan yang terjadi sama tapi statusnya berbeda.


Rasa bahasa dari imigran dan expat TIDAKlah sama!


Anyway, giliran Bianca lagi untuk menyebut perbedaan antara aku dan dia, dan kalimat terakhirnya ini benar benar membuatku mengerutkan dahi dan bertanya tanya.


Bersambung...


#KisahDariInggris

#RevowriterMutiaraUmmat

#Muslim

#IslamDiInggris


Weesp, Belanda

21 Desember 2018

Monday, 17 December 2018

Thought of Him ﷺ 

Last Sunday, Nusaybah and her school had choir performance of Islamic nasheed in an event called Big Sing Up. Few Islamic school come together and performed several nasheed simultaneously from 9am - 12:30pm.

ماشاء الله 

It was fantastic atmosphere. There is no instruments played, only daf and humming. There were two international Munshid performed on the stage and all children were so excited. Apparently, one of the singer had a hit song that most children knew (clearly my knowledge was very behind on this department). The kids sang along and shouted the phrase of Takbir, Hamdalah and shahadah. 


One of my favourite moment was when a young boy (year 6) from Islamiya school in North West London performed his spoken words. He won the competition in his school for writing and reciting his poem titled:" what will I do if I meet the Prophet ﷺ "


It was soooo raw, genuine, beautiful as well as eloquent. It brought me to tear and I could relate to every words he said. 


So on the way home, I casually mentioned to Nusaybah and Rumaysa, maybe oneday you can write about the same thing: what you will do if you meet the Prophet Muhammad ﷺ.


I completely forgot the fact that I mentioned it (typical me) but today as I was busy in the kitchen and feeding Hudayfah, they were busy upstairs up to something. 


Apparently, Nusaybah typed her version of spoken words and Rumaysa had it a go too.


They told me they had a surprised and that I had to sit and watched as they read it. I was so pleased that Nusaybah and Rumaysa can verbalise their thoughts and feeling ماشاء الله تبارك الله 

but I was a bit sad to hear Nusaybah didn’t feel deserve to meet the beloved Prophet ﷺ .


I hugged both girls and we cried together (maybe for different reasons) and I said to them that it’s true, we might not deserve to be with Him ﷺ because of our actions won’t match up with him ﷺ but the fact that we want to meet him ﷺ and loves him is hopefully enough to make him ﷺ wants to meet us! Try to keep positive because Allah ﷻ is like what we think of Him.


After we are all calm down, I sent them to bed and gave them goodnight kiss. Now I am laying down on my bed having so many thoughts and contemplation. Thoughts on why Nusaybah feel that way, thought on how my parenting so far has moulded my children, thought on whether I have done enough to instil the love for Allah ﷻ and His Messenger ﷺ, thought on what I will say if I meet our beloved Prophet Al Mustafa ﷺ 


Ya Rabb, Ya Sami’ Ya Rahman Ya Rahim,allow us to enter Your highest Jannah and allow us to meet, hug, spend all the time we have listening to the story of revelation from

The lips of your beloved creation, Al Mustafa ﷺ 

 Ya Rabb allow us to meet Him in this life through good dreams and in the akheerah in Jannah.


اللهمّ امين يا ربّ العالمين




"اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ".



Thursday, 6 December 2018

Cute handwriting 


I just find it cute to read Rumaysa’s handwriting using phonics to actually write it 🙂 the meaning is making sense (just read it as it is) but obviously the spellings still need a lot of work. 


.

.


Funny thing, whenever she had a spelling test, she got everything correct. She usually feels a bit down if I mentioned the spelling mistake. So I would just let her keep writing and writing.

.

.


My main purpose is for her to enjoy and like expressing her thoughts and emotions in a form of writing. I believe in a few months she’ll be very good at it. ان شاءٓ الله 

.

.

What’s actually she meant to write: 

My handwriting is very nice so the teacher is very happy and the headmasters is also really happy.


London, 6th December 2018

9:26am

Found the sheet near the bin 🙂

Tuesday, 4 December 2018

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (Part 1)



Oleh: Yumna Umm Nusaybah

#KisahDariInggris


"I am so excited to attend this seminar. I am looking forward to the topic that will be discussed" ujarku ke suami sambil pakai pelembap wajah yang sudah hampir habis. Setelah pamit ke suami dan si kecil, aku keluar rumah menuju halte bis.


Pagi itu adalah salah satu pagi yang aku tunggu tunggu. Training gratis yang di sediakan oleh Parent Gym ini akan menghadirkan Dr Nihara Krause (Award winning Consultant Clinical Psychologist) dengan tema "Supporting the mental health of children and young people’.  


Kenapa aku tunggu-tunggu? 

Pertama karena topiknya berkaitan dengan human behaviour dan mental well being. Topik ini selalu bikin mataku ‘melek’ dan otakku bekerja. 


Kedua, karena trainingnya di London Barat. Butuh waktu satu jam dengan kereta bawah tanah untuk menempuh perjalanan dari rumahku ke Notting Hill. Sambil jalan jalan lah, hitung-hitung jadi turis lokal dadakan (sssst masih ndeso Emang). Kapan lagi emak-emak dengan anak usia 2 tahun bisa jalan jaan sendiri tanpa stroller? Sambil menyelam minum air. Dapat ilmu, dapat photo, tangan bebas stroller. 


Sampailah aku di stasiun Ladbroke Grove, setelah lima menit berjalan, aku bisa melihat museum of Brand yang menjadi tempat seminar. Setelah mendapat name tag di pintu masuk, mereka memintaku naik ke lantai satu. Ruangan tertutup di sebelah kanan tangga adalah ruang seminar. Saat aku buka pintu, aku lihat ruangan sudah hampir penuh, acara sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Aku mencoba masuk pelan-pelan dan memilih duduk di belakang tapi akhirnya aku putuskan untuk pindah duduk di depan sebelah kiri pembicara supaya bisa lebih konsentrasi.


Sekilas aku layangkan pandangan ke seluruh ruangan. Yang hadir mayoritas kaum perempuan, hanya ada dua laki-laki. Salah satunya panitia dan satunya lagi peserta. Rata-rata mereka adalah guru atau Family Support Worker dari berbagi SD di berbagai penjuru London dan luar London (Slough dan Luton). Yang menarik, hanya ada 3 muslimah (aku salah satunya) dan beberapa peserta dari kaum minoritas (tidak berkulit putih). Pemandangan yang tidak biasa bagiku karena biasanya kami (muslim) menjadi mayoritas di London timur. 


Meski 14 tahun di London, semua aktivitasku (sekolahnya anak-anak, tempatku dulu bekerja, dll) ada di area London timur yang notabene area dengan jumlah muslim terbesar di London. 


Bahkan ketika bekerja di RS, lebih dari separuh tim adalah kaum minoritas. Baru kali ini aku di hadapkan dengan situasi dimana aku harus aktif berpartisipasi dan menjadi minoritas dalam realitas yang sebenarnya. Boleh di bilang, biasanya aku super cuek terhadap cara orang memandang dan melihat penampilanku. PD aja gitu loh! 


Kalau hanya berjalan dan bertegur sapa dengan non muslim, bukan masalah. Hampir tiap hari aku lakukan karena tetangga sebelah rumahku sendiri orang Nasrani asli Ghana. 


Tapi kali ini, di depan para pekerja profesional ini, harapanku besar sekali untuk tidak merasa aneh dan terkucilkan. Pada kenyataannya mereka adalah orang yang berpendidikan, mereka bisa menyaring berita berita hoax dan berita berita provokasi dan prasangka tak berdasar semacam: perempuan berkerudung itu bodoh, tidak berpendidikan, tidak fasih berbahasa Inggris, bisanya cuma 3M (Manak, Macak, Masak), dan prasangka-prasangka lain. Idealnya sih begitu. Tapi ternyata aku keliru, banyak sekali tatapan aneh yang tidak pernah aku rasakan. Entah mengapa. Apakah karena area yang aku datangi memang area yang isinya kaum tajir. Yang pernah nonton film Notting Hill (Julia Roberts dan Hugh Grant) pasti tahu. Ya area ini bagian dari kecamatan Kensington and Chelsea, meski ga semua yang tinggal di sini kaya raya, tapi area ini terkenal sebagai area mahal yang isinya para selebriti. Atau karena aku saja yang lagi sensitif menjadi ‘The odd one out’?


Ternyata prasangka yang disebarkan oleh media-media Inggris berimbas dan terbukti saat momen diskusi di sesi kedua. 


BERSAMBUNG...


London, 4 Desember 2018

#revowritermutiaraummat

#KisahDariInggris

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah Member Revowriter, London  Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman? Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita a...