Thursday, 7 June 2018

A humble doctor


Related image

Sebut saja Namanya dr C.....

Selama Ramadan ini, 2 minggu berturut turut ada seseorang yang menghadiri kajian lokaliti kami yang sosoknya menarik buatku. Beliau seorang pensiunan, asli dari Iraq dan dulu bekerja sebagai GP (Dokter Klinik setara spesialis). Di usianya yang sudah senja, beliau bisa di bilang masih aktif. Kemana mana masih nyetir sendiri, belanja sendiri, masak sendiri dan yang lebih keren lagi, wawasan politik dan pengetahuan Islam beliau patut di acungi jempol.

Tanpa ragu, tanpa canggung, beliau duduk bersama kami, sharing semua pemikiran2nya yang dikemas dengan bahasa yang captivating. Diskusi kami berkembang dari bahasan Taqwa, tajwid, tafsir ayat dalam Al Quran sampai urusan politik dan kondisi kaum muslimin di Iraq dan akar masalah dari konflik2 yang terjadi di negeri Muslim. 

Sampailah kami berdiskusi tentang image dari seorang perempuan muslim. Di negeri barat seperti Inggris, menjadi seorang wanita muslimah yang berkerudung tidaklah se-sederhana di negeri Muslim apalagi seperti di Indonesia. Ada anggapan 'buruk' tersendiri tentang sosok wanita yang berkerudung, apalagi berjilbab (berjubah). Umumnya anggota masyarakat yang a) tidak pernah mau belajar tentang Islam dan Muslim dari sumbernya langsung atau b) tidak punya tetangga Muslim yang aktif mengenalkan me-musliman dan ke-Islamannya, maka orang2 ini menggantungkan sumber informasi (tentang seperti apa sosok wanita muslimah itu) hanya dari mainstream media.

Alhasil, ga heran kalau kesimpulan umum tentang  wanita berkerdung dari rakyat inggris yang ogah baca dan ogah berinterksi dan membuka wawasan adalah bahwa mereka:
  • Nggak bisa bahasa Inggris
  • Nggak berpendidikan apalagi punya gelar dan bekerja sebagai profesional
  • Tertindas oleh suami atau bapaknya
  • Di paksa memakai kerudung 
  • Di paksa kawin (di jodohkan secara paksa)
  • Kerjaannya cuma masak dan (maaf) macak dan manak
  • Bodoh dan mau saja dibodohi
  • Terbelakang dan di manfaatkan oleh kaum pria dari komunitasnya sendiri.
  • Pemakan tunjangan negara untuk golongan ekonomi kurang alias benefit receiver
  • Benci dan pingin meneror orang2 yang bukan muslim
Itu hanya sekilas dari sekian banyak daftar 'pre-conceived idea' yang jelas salah semua.....walhasil kadang kami wanita muslimah harus pandai2 membawa diri dan tahu diri kalau perlu membuktikan diri :)

Berikut kisah yang di tuturkan oleh dr C saat beliau masih praktek menjadi dokter.

As my patient entered the room, he asked me"Oh I am here to see dr. C, where shall I go?" 

I was smiling and told him to take a seat an said: "I am dr C, how can I help?"

I could see, he was shocked and did not expect that the doctor he was registered with was a MUSLIM WOMAN and A Hijabi! (aku bisa melihat wajah dia terkejut sekali saat melihat dokter yang dia pilih adalah seorang perempuan muslim berkerudung pula!)

Lain waktu beliau bercerita, saat beliau mau periksa di dokter gigi dan harus menjalani perawatan yang memakan biaya sekitar £300 (sekitar 5,5 juta dan ini jumlah yang nggak sedikit), beliau langsung di minta mengisi formulir bebas biaya dimana ini biasanya di isi oleh orang2 yang mendapat layanan gratis karena mereka dari golongan ekonomi rendah (tanpa ada maksud memandang rendah atau apapun). Lagi lagi sambil senyum beliau bilang :"I pay for my own treatment so you can give me the bill".

Ketika kami tanya kenapa beliau tidak bilang saja kalau beliau seorang GP? beliau menjawab :"I do not like to mention it when it's not necessary. I was not there as a doctor, I was a patient so I do not think it is appropriate and there was no need to mention it." (Saya tidak suka menyebutkan -bahwa saya seorang dokter- karena kurasa itu tidak perlu. Saya berada disitu tidak sebagai seorang dokter, tapi sebagai seorang pasien jadi tidak pantas dan tidak pada tempatnya) 


Kisah seperti di atas sebenarnya bukanlah hal yang langka, aku pun sendiri pernah mengalaminya. Yang jelas jelas aku ingat adalah saat aku naik pesawat pulang ke Indonesia dari Dubai ke Jakarta, London ke Singapura dan Turki ke Ethiopia. Berasa sekali cara mereka (air hostess) melayaniku dibanding cara mereka melayani dua orang yang duduk di depanku (mungkin nanti bisa jadi tulisan sendiri). 

Moral of the story:
  1. Stay Positive! Anggap aja orang yang memandang kita 'rendah' hanya karena selembar kerudung di kepala kita adalah orang2 yang ga mau baca dan ga mau membuka wawasan, atau mungkin mereka lagi bete atau mungkin mereka cuma nonton TV kerjaannya atau emang ga pernah ketemu wanita muslimah dan bicara langsung. 
  2. Kikis habis tuh mental-mental di jajah alias merasa rendah diri hanya karena kulit kita yang berbeda atau ethnic kita atau agama kita (apalagi kalau ngabisin duit buat cream pemutih :)
  3. PeDe aja dong shaaayy! wajah boleh rata rata tapi otak harus berisi, apalagi wajah cantik dan otak menarik ...tambah asyiiiik!
  4. Tak perlu tersinggung kalau orang nggak tahu kalau kita bergelar sarjana, master atau phD yang penting di mata Allah kita istimewa. Justru sangat di sayangkan kalau kita di kelilingi orang yang hanya peduli dengan titel kita, harta kita, status sosial kita dan bukan kita sebagai seorang manusia yang punya wibawa (eh kenapa jadi berirama begini yaa...)
  5. Yang terakhir seperti di photo yang aku pampang: Rendah hati-lah meski kamu percaya diri tapi warnai karaktermu dengan keberanian (entah itu keberanian membela yang tertindas, keberanian berbicara benar meski pahit, dan menegakkan keadilan meski seluruh dunia melawan)
udah ah.....jadi ngelantur. Kalau panjenengan2 punya pelajaran lain dari kisah di atas, monggo di share ke saya. 

Umm Nusaybah
London
7 Juni 2018
*Lagi lagi tulisan pendek di sela2 nyiapin kajian untuk hari ini (kebiasaan last minute.com)*

Friday, 1 June 2018

{Percakapan} Who creates Allah ﷻ ?

As she munched the watermelon Rumaysa (5 yo) whispered to me:


"I am sorry Mama, I have a very rude thought about Allah"


Me: "Oh Dear! What thought would that be?" 


"I am thinking, if all of us are created, who created Allah ?"


Me:"awwww that’s not a rude thought, Sayang...in fact that’s a very smart question! 


Allah ﷻ was not created by anyone nor He had a son nor parents. He has no beginning and no end hence He is almighty! If Allah was created by SomeOne, then He is not Allah and we would have to worship the one who create ‘that Allah’. 


"That mean Allah has been living for sooooo long"


Me:"Yes... Rumaysa... He is ever living"


Lesson: indeed life of a mother is full of surprises! I would never thought I would receive such question from my 5 years old but I must thank my ‘teacher’ during my youth days..... they have given me the answer and show me the path (by the will of Allah). Not only it’s beneficial for me now but it has been beneficial for me to finally know my purpose in life. 


May Allah ﷻ grants all our teachers (from formal or informal education) beneficial knowledge and grants them Immense rewards in Jannah. اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


London

31 May 2018

*Just after maghreb...as I sipped my tea*

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah Member Revowriter, London  Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman? Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita a...