Sunday, 27 May 2018

Shocking fact! 😜

Yesterday as we drove back home from school, my middle child (Rumaysa 5yo) told us (me and Hubby) the story of what happened at school.

I must say, she has a way to crack me up unexpectedly and I love that quality in her. Allahumma Bariklaha.

"Mama, Baba.... you will be shocked if I tell you what happened in school today"

Me: "oh really, what happen then?"

R:"You wouldn’t believe that two of my friend told me that they actually born at "Queen’s Hospital" (supposedly Queens Hospital) and "King George Hospital!!" It’s shocking!!!!

I couldn’t hold my laugh.....Bless her!

She genuinely thought those hospitals belong to the Queen and the King and their friend born at the Royal Family’s hospital which also gave her impression that either her friends are super special or descendent of the Royal Family (which both are totally untrue 😂)

Both are indeed the name of Hospital nearby her school and it’s named after the Royal Family.

Kids truly see and think differently 🙂

Allahumma Bariklaha!

Wednesday, 23 May 2018

{Perbincangan} Kema’suman Rasul



Sepulang dari sekolah naik, sembari nyetir mobil aku mendengarkan ulasan di YouTube dari ustad Nouman Ali Khan tentang kisah Nabi Musa alaihissalam. Anak pertamaku yang beberapa bulan lagi masuk usia 9 tahun ikut mendengarkan. Kisah Nabi Musa Alaihissalam bukanlah kisah yang asing bagi Nusaybah... mashaAllah dia lebih tahu detail dan urutan kisahnya di Banding aku.
Ketika ustad Nouman sampai pada ayat berikut

QS. Al-Qasas [28] : 15

وَدَخَلَ ٱلْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِۦ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِۦ ۖ فَٱسْتَغَٰثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِى مِنْ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۖ إِنَّهُۥ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Nusaybah mulai dengan pertanyaan2 yang bikin aku gelagepan. Sambil nyetir, sambil mikir, sambil berusaha menjelaskan kepada anak usia 9 tahun tidaklah gampang. Berikut beberapa pertanyaan dan jawabanku yang seadanya

"Mama, kan Nabi Musa seorang Rasul, kenapa beliau memukul mati orang tanpa sengaja? Kan itu sebuah dosa?"

Aku jawab:" Niatan awal Nabi Musa kan sebenarnya untuk menolong salah satu dari orang yang berkelahi yang meminta tolong. Beliau tidak tahu kalau satu tonjokan saja sudah bisa merobohkan dan membunuh lawannya"

Lanjut Nusaybah bertanya: "Berarti beliau sudah berbuat dosa dong,Ma... Apakah boleh seorang Rasul berbuat dosa?"

"Tapi saat beliau melakukan tindakan ini, Nabi Musa belum diangkat sebagai Rasul, Sayang.....jadi tidak bisa dikatakan beliau berbuat dosa sebagai Rasul. Seorang Rasul harus punya sifat ma’sum (bebas dari dosa), tapi mereka tidak harus bebas dari salah pilih atau salah dalam mengambil keputusan terbaik dalam perkara yang dibolehkan (bukan haram) seperti yang terjadi pada Rasulullah Muhammad ﷺ saat surat ‘Abasa turun(aku pernah menceritakan kisah turunnya Ayat ini ke Nusaybah jadi dia mengerti maksudku)

Pertanyaan masih berlanjut:"kenapa para Rasul harus bebas dari dosa, Mama?"

"Karena mereka adalah pembawa pesan dari Allah ﷻ, la....kalau pembawa pesannya berbuat dosa, terus di contoh pengikutnya... gimana dong?"

Pertanyaan berikutnya ini yang bikin aku mumet:" tapi kan kita pengikutnya juga tahu mana yang benar dan mana yang salah, apa iya kita hanya ngikut saja tanpa melihat apakah itu dosa atau nggak?"

Jreng!!!! Jreng!!!!!!

Nggak pernah aku berfikir kesana.... setelah mikir bentar aku jawab: "Nah... kita tahu benar dan salah kan dari Quran dan Sunnah yang dibawa Rasul Muhammad ﷺ, sekarang mama kasih contoh.... kalau misalkan Rasul Muhammad ﷺ melakukan solat dengan gerakan yang salah, apakah kita tahu? Nggak kan? Yang kita lakukan hanya ikut dan mencontoh beliau ﷺ dan akhirnya kita pun akan ikut2an berbuat salah dan seluruh anak cucu dan generasi berikutnya juga salah. Makanya untuk urusan aturan dari Allah ﷻ dan pesan yang dibawa Rasul dari Allah ﷻ maka rasul tidak akan pernah salah dan mereka bebas dosa. Dosa adalah ketika seseorang melanggar aturan Allah ﷻ. Salah bisa terjadi dalam lingkup hal yang dibolehkan. Bisa ngerti nak?"

"I undertsand now, Mama"

"Sooooo.....The Prophet Muhammad ﷺ never  ever did any sinful things all his life??"

Duh..... masih belum selesai juga nih anak....

"Sejak beliau di angkat sebagai Rasul tentu tidak pernah lah" jawabku sederhana.

"What about when he was a child or when he was young?"

"Well.... kita ga bisa katakan itu dosa, kan petunjuk belum turun dari Allah ﷻ. Salah dan benar itu kan Allah ﷻ yang menentukan"

"But why did the angel open his chest and clean it when he was young? Doesn’t that show that he was not free of sins?"

Nah loh apa hubungannya???

Ternyata dia pikir karena Rasul Muhammad ﷺ belum suci hatinya makanya perlu di bersihkan.

"Itu sebuah miracle dari Allah ﷻ dan Allah ﷻ sedang menyiapkan beliau menjadi seorang Rasul. Istimewanya, beliau ﷺ tidak pernah berbuat syirik dan mengikuti perbuatan buruk yang banyak dilakukan kaumnya."

Seperti biasa Rumaysa menyela :"How did we get here?"

Kita berdua tertawa....

Moral of the story:

Kadang kita belajar dan dituntut untuk belajar lebih karena anak2 kita. Teruslah belajar, memahami, mengerti, mengamalkan dan penuhi hari2 kita dengan ilmu karena ilmu ini yang akan menjadi lentera dan penunjuk bagi jalan yang kita lalui di dunia. Penuhi Majlis2 ilmu apalagi dibulan ramadhan seperti sekarang. Disanalah para malaikat2 turun dan mengelilingi dan mendoakan siapapun yang hadir.

Kapasitas kita untuk belajar adalah karunia, kemampuan kita dalam belajar adalah ketrampilan dan kemauan untuk belajar adalah pilihan!

Umm Nusaybah
London - 23 Mei 2018

Tuesday, 15 May 2018

Harga Diri

Image result for value yourself quotes

Sore tadi sambil cuci piring aku iseng2 bertanya ke Nusaybah: "If 10 being the best mother and 1 being a NOT very good mother, how much would you rate Mama?".

Pertama kali dia dengar pertanyaan ini, dia ga ngerti maksudku, akhirnya harus aku ulang 2 kali untuk menjelaskan maksud pertanyaanku. akhirnya dia jawab:

"Hmm... I think I will rate you 9.5". Aku tanya dia balik:"why?"...Nusaybah menjawab:"Karena kadang Mama marah tanpa sebab dan meninggikan nada bicara (scream and shout), just sometimes....so If you can control that part, I would rate you 10!"...Aku jawab sambil sumringah:"ooooh...Thank you Nusaybah, that's very sweet of you, I will try my best from now on to control my emotion and do less screaming and shouting" (sambil mikir: ah ini bisa menjadi target Bulan Ramadan nih....hehe)

Tak selang beberapa lama dia tiba tiba berkata: "I think I would rate Adek: 9, Baba: 9.5, Hudayfah: 8 and myself: 5!"

Jleb!!!! aku sedikit kaget mendengarnya......aku tahu kalau Nusaybah perlu banyak suntikan untuk bisa percaya kepada dirinya sendiri....dan lafad ini benar benar membuka mataku bagaimana dia melihat dirinya sendiri....dan saat inilah aku merasa perlu meluruskan dan menanamkan benih2 pemikiran yang tepat. 

Akhirnya aku bertanya lagi ke Nusaybah: "why do you rate yourself lower than anyone else?"
"Because I know I am not good enough yet, I have a lot of things to improve and be better at" jawabnya.

"Okay, let me ask you a question, If I tell you that the slipper I am wearing at the moment is worth £10, how much would you like to buy it? less of more?" (Okay, coba sekarang aku tanya, kalau aku bilang bahwa sandal yang aku pakai ini senilai £10, dengan harga berapa kamu mau membelinya? kurang dari £10 atau lebih dari £10?)

Dengan tegas dia menjawab: "£10 or less of course!"

"Nah sekarang kamu bayangkan, jika kamu menilai dirimu sendiri dengan harga 5, kira2 orang mau menghargaimu dengan harga 8 9 10 atau 5 4 3? 

Dengan sedikit menunduk dia menjawab: "5 4 3.....What are you actually trying to say, Mama?"  tanya dia penasaran.

Dimulailah acara berdalil ria.....

Akhirnya aku jelaskan bahwa jika kita tidak berani menghargai diri kita sendiri dengan harga yang tinggi, maka jangan harap orang akan menghargai kita dengan harga yang tinggi pula.

Mereka menghormati kita karena kita telah mampu menghormati diri kita sendiri dengan melakukan hal2 yang baik dan pantas, mereka menilai kita sebesar nilai yang kita sematkan dalam benak dan keyakinan kita. Oleh karenanya, sangat perlu bagi kita untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi, menyematkan nilai yang layak untuk diri kita sendiri jika kita ingin orang lain juga menghargai kita setinggi kita menaruh harga itu kepada diri kita.

Nusaybah kelihatan mengangguk angguk tanda percaya tapi keluar lagi pertanyaan yang lain,:"Tapi Allah kan melarang kita membanggakan diri dan merasa diri kita hebat, Mama?"

"Iya Betul...tapi ada perbedaan yang besar antara percaya diri dan menyombongkan diri, orang yang percaya diri itu karena memang mereka percaya akan kemampuan dia sendiri sehingga mereka tidak perlu validasi dari orang lain. Orang mau berkata apapun, mereka tetap maju terus, pantang mundur, tidak akan mengubah cara pandang mereka terhadapa diri mereka sendiri....sedang orang yang menyombongkan diri biasanya karena mereka ingin di anggap "percaya diri atau malah ingin di anggap hebat" di hadapan orang lain, padahal kenyataanya mereka tidak percaya diri, they just pretend to be confident and actually they don't fool anyone else apart from themselves!...ada peribahasa: tong kosong nyaring bunyinya (Empty vessels make the most noise), artinya orang yang ilmunya kurang, orang yang PD nya kurang malah biasanya banyak ngomong, they are usually bossy, want to be heard all the time, and want to take control of others and usually they only feel good when people say they are good and they constantly need people to say that they are good."

Ternyata konsep ini makin bikin dia penasaran. Nusaybah lanjut bertanya :"How about Allah, how would Allah value us?"

Aku jawab bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-NYA. Jika kita yakin bahwa Allah Maha Baik dan akan selalu menolong kita, maka Dia akan menolong. Tapi jika kita beranggapan bahwa Allah jauh dan tidak peduli dengan kita, maka hal demikian akan terjadi.

Intinya....jika kita ingin kebaikan dan respect dari orang lain maka kita harus terlebih dahulu me-respect diri kita....

Nusaybah manggut manggut dan diskusi di interupsi oleh pertanyaan Rumaysa:"How did all this started?" kita bertiga ngakak......karena ternyata diam diam Rumaysa mendengarkan dan ingin juga mengerti.

Jujur....pembahasan ini memang sedikit filosofis menurutku tapi bisa juga di bilang ini bagian dimana kita reprogramming their brain. Buktinya setelah diskusi panjang itu Nusaybah dengan semangat bilang :"Now I rate myself 10"

"That's good! well done for starting to believe more in yourself, next step is when you find a hardship, never think that you are not capable, you have to believe that you can achieve it but you just need a little bit of push and a little struggle, but that doesn't mean you are not good enough or even incapable."

"Okay Mama....I understand now" sambutnya berbinar binar seperti mendapat suntikan baru.

Momen2 seperti inilah yang aku sukai dan aku nantikan di proses panjang nggedein anak

Meski diskusinya ada di sela sela cuci piring, tapi aku yakin justru saat seperti ini yang harus kita manfaatkan sebaik baikya karena anak sedang antusias ingin mengerti dan ingin memahami sebuah konsep abstrak yang nantinya membentuk karakter unik hingga mereka bisa menghandle pressure besar di dunia yang keras ini.

Bagiku, momen ini seperti meletakkan batu bata dan pondasi awal saat kita membangun rumah, sama halnya...ini adalah batu bata yang akan define who they are in the future.

Ayo kita biasakan berdialog dan digs deeper the real feeling that our children have.

InshaAllah jika mereka terbiasa mendefinisikan dan melabeli perasaan, emosi dan segala hal yang tidak terindra atau teraba tapi hanya terasa, maka kedepannya mereka akan bisa di ajari untuk mengelola perasaan itu. Sebelum mereka di ajari untuk mengolah dan mengontrol rasa marah dan frustasi, mereka harus terlebih dahulu mengerti seperti apa rasa marah itu dan kenapa seseorang marah. Dengan begitu mereka akan terbiasa untuk mencari definisi, akar masalah dan solusi jitu untuk mengatasi berbagai persoalan di kehidupan mereka yang akan datang.

Umm Nusaybah
London
15 Mei 2018
*Di tulis sambil ngantuk di sela sela menyiapkan kajian untuk Ramadan*


Thursday, 3 May 2018

Kerja Keras

Image result for great things comes from comfort zone

'I can't do it, Mama.... I can't memorise this long ayah!...This is toooooo hard' lanjut dengan tetesan airmata dan kadang dengan tangisan.

Skenario seperti ini hampir terjadi seminggu sekali. Kadang Nusaybah dan lain waktu Rumaysa. Sebisa mungkin aku berusahan untuk tetap memberikan dorongan positif bahwa susah itu hanya di langkah pertama, kedua atau ketiga. Sekali kita mencoba maka langkah ke-4 akan semakin mudah dan ringan. Aku juga ingatkan ke mereka bahwa semakin banyak membaca semakin banyak pahala karena satu huruf setara dengan 10 pahala. Meski tetap cemberut tapi sedikit banyak, dorongan itu meringankan beban mereka.

Setiap orang entah itu anak-anak ataukah emak-emak tahu bahwa untuk meraih sesuatu, dibutuhkan sebuah perjuangan. Kadang kita melihat keberhasilan orang di depan mata dan menginginkan keberhasilan yang sama tapi ogah-ogahan menempuh kerja keras yang mengiringinya. 

Sebagai orangtua, sangatlah gampang bagi kita untuk mendorong dan menyampaikan kepada anak2 kita bahwa kesuskesan dan keberhasilan itu bisa di raih dengan kerja keras (tentu atas ijin Allah), akan tetapi kadang kita sendiri (aku dalam hal ini) bertanya tanya, apakah aku sudah contohkan kerja keras itu dalam kehidupan? atau aku hanya memilih dan memilah kegiatan yang aku sukai saja tanpa melihat apakah ini berkontribusi untuk perbaikanku sendiri dan anak2? Setiap orang tua ingin anak2nya 1000x lebih baik dari mereka namun tidak siap dengan zona tidak nyaman yang harus mereka hadapi.

Beberapa hari yang lalu, aku ikut kegiatan Parenting course. Di pertemuan pertama, intruktor nya hanya ingin memberikan tester apa saja nanti yang akan di cover dalam waktu 8 kali pertemuan. Sebelum masuk ke breakdown dari topik per minggu, salah satu intruktor bertanya kepada para peserta: 'What do you enjoy/like about parenting?' banyak sekali jawaban yang mirip. Ada yang menjawab bahwa dia suka saat bisa menghabiskan waktu dengan anak2, ada yang suka saat mereka merasa 'dibutuhkan' oleh anak anak mereka, ada juga yang mereka senang saat melihat anak2 mereka beranjak dewasa, independen dan bisa menjadi kebanggaan ortunya. Jujur...jawaban itu juga jawaban yang sama yang aku berikan, namun aku tambahi sedikit.....aku sampaikan kepada mereka: 'Yang aku nikmati adalah proses mendidik mereka (nurturing and moulding process), mendidik, membina, mengasuh, membentuk karakter, pola pikir, kebiasaan dan kecenderungan dari anak2ku...itulah yang aku sukai. Karena dalam proses ini, aku tahu bahwa aku sedang membentuk generasi masa depan, aku sedang mengasuh calon2 anggota masyarakat yang ke depannya aku berharap menjadi agent of change. Aku juga enjoy dan bahagia karena aku tahu setiap upaya yang aku lakukan akan meninggalkan sebuah legacy (warisan) berupa anak2 yang aku harap ketika nantinya aku sudah di kubur di bawah tanah, mereka masih bisa menularkan dan meneruskan kebaikan yang sudah aku tanam'. Berhubung pesertanya datang dari banyak background agama (meski intruktornya muslim) aku jelaskan dengan hati2 bahwa di dalam Islam aku yakin dan percaya bahwa jika anak2ku menjadi anak2 yang baik (soleh/ah) maka mereka bisa mendoakan aku dan bisa menjadi wasilah untukku meraih surga.

Sepertinya, sang intruktor tidak menyangka dengan jawaban panjangku.....Dia sempat terhenti sejenak dan kemudian berkomentar :'it's a very inspiring answer and well put. You also have a long vision for what you are doing'

Aku jelaskan jawabanku di postingan ini bukan untuk 'show off' tapi aku ingin mengingatkan diriku sendiri (ketika nanti aku baca lagi) dan semua ibu di luar sana bahwa kerja keras kita sebagai ibu memang kelihatan susah dan memakan waktu, tapi ingatlah bahwa itu karena kita punya visi dan misi yang besar. Misi yang ketika Allah berikan ke gunungpun mereka tidak sanggup! visi dan misi itu adalah menjadikan anak2 kita generasi Qurani. 

Jujur....aku pun kadang lose the plot. Tak jarang I am on pilot-mode. artinya aku mendidik anak dan mengurus mereka karena memang aku adalah ibu mereka, kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mendidik dan mengurus mereka? karena ini adalah kewajiban! Karenanya, pertanyaan instruktor tadi sangat menyentil dan sangat perlu sehingga aku bisa refresh kembali alasan mendasarku kenapa aku ingin punya anak dan mendidik mereka sebaik2 baiknya. Wajarlah sebagai ibu, kadang visi itu kelihatan jauh dan susah untuk di sentuh. Bahkan kadang ada juga yang lupa dengan visi awal mereka membina Rumah Tangga dan memiliki anak. 

Tak jarang, ada yang beralasan bahwa keinginan mereka untuk menikah dan memiliki anak karena tuntutan biologis atau tuntutan sosial masyarakat atau tuntutan keluarga bahkan tuntutan negara atau dunia (Hayyah....mosok seeeh!). Padahal menurutku, misi seorang untuk membina rumah tangga haruslah lebih dari itu, sehingga ketika memilih calon pasanganpun akan di arahkan oleh misi besar itu. Tak jarang pula, yang sudah punya visi dan misi. eh malah lupa atau bahkan tidak lagi terbersit dalam benaknya,eh tapi nggak tahu lagi kalau sejak awal misi dan visi itu memang belum ada. ga perlu khawatir sodara2, tidak ada kata terlambat untuk memulai dan memilikiya. 

Harapanku, postingan ini akan menjadi pengingat diriku sendiri dan siapapun yang membacanya bahwa setiap visi/ keinginan/ mimpi dan misi(pilihan sekarang/ tindakan yang kita ambil dalam rangka meraih visi) kadang terjal dan sulit wabilkhusus dalam hal membina dan mendidik anak2. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, pasokan energi, pasokan ilmu dan pasokan Iman yang kuat supaya tahan banting dan bisa menjadi sumber kekuatan bagi anak2 kita sendiri. 

Seperti kata2 di ilutrasi di atas: Hal yang hebat tidak pernah datang dari zona aman. Artinya, kalau kita ingin hasil yang spektakuler, maka upaya kita juga tidak bisa ecek2 alias seadanya atau sebisanya, namun harus ada upaya keras, berkorban banyak (waktu, energi, uang, kenyamanan, waktu luang, dll). Rasulullah Muhammad SAW sudah mencontohkan pengorbanan, dedikasi, kesabaran, ketelatenan yang luar biasa untuk bisa menunjuki Ummat manusia kepada Cahaya Allah. Betapa banyak kisah2 pilu di masa hidup Rasulullah (terutama di Makkah), padahal beliau adalah manusia pilihan, utusan Allah. Kalau Rasulullah saja harus menghadapi hal demikian, maka kita pun juga harus siap dengan kerja keras dalam banyak hal. 

Kerja keras belajar Islam, kerja keras mendidik anak, kerja keras menjadi ortu yang 'presence'. kerja keras menjadi anak yang berbakti, kerja keras menjadi tetangga yang baik hati, kerja keras menjadi da'i, kerja keras menjadi hamba Allah. 

Karena sesungguhnya yang Allah lihat adalah kerja dan upaya kita......bukan hasilnya!

Allah berfirman, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". Surat at Taubah ayat 105

Konunikasi dalam Rumah Tangga

#Day3 "Tulisan ini untuk menyemarakkan #RevowriterWritingChallenge. Tulisan ini dibuat atas tantangan dari Mba Hesti Rahayu dan aku aka...