Thursday, 26 April 2018

RASA BAHASA


Masih lekat dalam ingatanku kejadian tahun 2004 di bulan Oktober. Aku menangis tersedu sedu di ruang tunggu saat boarding di Bandara Juanda Surabaya. Hari sebelumnya aku pamitan dengan seluruh keluarga kemudian pagi itu aku diantar kakak dan sodara kembarku untuk terbang ke Inggris, SENDIRI!! (kebetulan suami ada kerjaan dan ga bisa menjemput). Ini adalah kali pertama aku naik internasional flight dan kali pertama aku bakalan berpisah lama dengan seluruh keluarga. 


Ini juga menjadi awal perjalan baru dalam lembaran baru kehidupanku. Bisa dibayangkan gimana khawatirnya diriku. Aku akan pindah ke negara baru, dengan suami yang baru aku nikahi, makanan baru, masyarakat baru, peran baru dan tentunya BAHASA baru. 


Setelah perjalanan panjang Indonesia - Inggris, sampailah aku di Heathrow Airport. Setelah melalui proses imigrasi aku keluar dan berharap suami sudah ada di luar sana menunggu sang istri. Ternyata sodara2.... suami ga ada di depan pintu arrival! Aku panik, mau nelpon pakai telpon umum aku ga punya koin poundsterling. Aku hanya bawa dolar dan akhirnya menukar uang di money changer di luar pintu arrival. Dapat koin, aku langsung menuju telpon umum yang ga jauh dari tempat money changer. Aku dial tapi ga nyambung, langsung masuk ke voicemail. Coba lagi, tetap saja ga nyambung. Akhirnya koin habis karena setiap masuk voicemail koin terpakai.


Lemah lunglai aku jadinya. Pikiran macem2 muncul di benakku! Jangan2 suami lupa njemput, jangan2 ada apa2 di jalan, Duh pokoknya panik tingkat dewa!


Aku sendirian di tanah rantau, ga ada keluarga, hanya ada suami dan sekarang ga ada disini. Aku berasa ada di PLANET lain karena yang aku dengar adalah orang2 di sekitarku berbicara dengan bahasa asing!!!


Ini adalah pertama kalinya aku merasa I DON’T BELONG HERE! Ini bukan rumahku, ini bukan tempatku, ini bukan orang yang akan bisa mengerti aku!


Setelah hampir 30 menit aku menunggu akhirnya suami muncul sambil berlari tergopoh gopoh dan meminta maaf. Ternyata ada delay kereta bawah tanah makanya telat. 


Bisa di Bayangkan lah betapa leganya diriku saat itu.... ciyaaaah!


Campur aduknya perasaanku saat aku terpapar langsung dengan bahasa baru dari orang2 disekitarku membuatku makin sadar bahwa aku benar benar harus adaptasi dengan cepat supaya perasaan anxious dan isolated bisa dihindari. Nggak mungkin lah suamiku akan selalu mendampingiku kemanapun aku pergi. 

Aku lah yang harus berhadapan langsung dan berkomunikasi Iangsung dengan orang2 di sekitarku dengan bahasa Inggris sebisaku meski masih kacau balau! 


Akhirnya dengan modal BONEK dan keadaan yang memaksa, aku beranikan diri keluar bertemu orang di masjid, kajian2 Islam, perpustakaan, pasar2 dan tempat2 orang bertemu dan berbicara satu sama lain.


Dari situlah akhirnya aku ngerasa kemampuan bahasaku sedikit berkembang ditambah lagi di keseharian aku dan suami ‘terpaksa’ berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Yang lucu..... jika aku kecewa atau ngerasa ada yang salah tapi ga ngerti kosakatanya, maka aku cuma bisa diam dan nangis 🙂 lah gimana lagi, kalaulah aku sampaikan dalam Bahasa Indonesia, suami juga ga akan paham 🙂 


Setelah 14 tahun, akhirnya kini aku mulai bisa memiliki rasa bahasa Inggris. Aku mulai bisa memahami humor2 Inggris yang sarkastik. Humor2 mereka sangat berbeda dengan humor di Indonesia. Dulu dulunya kalau ada kumpul2 teman2 Inggris dan mereka guyon, aku cuma senyum2 dan ketawa karena mendengar tawa orang (kasihaaaaan deh) tapi ga papa lah....mereka juga ga tahu kalau aku ga tahu. Ha ha.


Tapi tetap saja dalam banyak hal, otakku masih berfikir dalam bahasa Indonesia dan lidah harus menyampaikan dalam bahasa Inggris. Masih sering aku nyari2 kosakata dalam bahasa Inggris dan ga ketemu di otakku 🙂.


Orang bilang, jika seseorang sudah menyatu dengan sebuah bahasa maka mereka haruslah berfikir dalam bahasa tersebut.


Yang aneh, saat aku pulang ke Indonesia, aku seperti kembali menjadi diriku saat berusia 24 tahun (dalam hal memproses realitas). Itu adalah usia aku meninggalkan Indonesia pertama kali. Bukannya aku menjadi orang yang berbeda atau punya dual personality tapi aku sendiri merasakan bahwa bahasa sedikit banyak mempengaruhi kinerja otak dan mungkin proses berfikir yang sedikit berbeda. Karena tentunya bahasa Indonesia memiliki banyak perbedaan dalam mengungkapkan perasaan, rasa marah, rasa senang.


Itulah kenapa saya pakai deskripsi photo di atas. Orang yang mampu 2 bahasa (entah itu bahasa Inggris dan Indonesia, Arab dan Indonesia, Turki dan Indonesia, Spanyol dan Indonesia, Perancis dan Indonesia) seperti memiliki 2 jiwa karena tiap bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi tapi juga membawa peradaban dan metode berfikir tersendiri.  

2 jiwa bermakna 2 cara pandang, 2 budaya, 2 jendela dunia. 


Ini sih pengalaman pribadiku. Ga tahu lagi apakah setiap orang yang pindah ke negara lain dan mencelupkan diri dalam sistem yang ada (melalui pendidikan atau pekerjaan) dan berbicara full dalam bahasa setempat di kehidupan kesehariannya mengalami hal yang sama. 


Monggo silahkan sharing.... saya ingin tahu apakah saya normal atau nggak?! 😜 


Di pagi yang dingin....

London

26 April 2018

Tuesday, 24 April 2018

Unek-unek tentang Sosmed



"Waaah Jeng, si A baru balik dari Eropa looh, mana bawa anak2 dan ortu mereka lagi" lah kok tahu???? "Tuh dari photo dan status FBnya"


"Duh, kasihan ya mbak si B habis kena musibah. Dia minta cerai ke suaminya karena katanya suaminya jadi korban pelakor" Hah?!!! Kok tahu mbak?" Yah kan si B nulis dan minta doa di FB"


Yup.... itulah kenyataan dunia sekarang. Orang yang tidak pernah kita kenal atau bahkan ketemu langsung (hanya kenal dari status2 atau sosmed) bisa menjadi bahan diskusi dan kita bisa tahu kisah hidupnya, suka dan dukanya, pekerjaannya, kemana saja mereka, bahkan kapan mereka kentut dan sembelit (yang ini mah hiperbol banget!!)


Tak jarang, sosmed ini selain jadi sumber Rezeqi tapi juga menjadi sumber masalah antar teman, antar tetangga, antar rekan kerja atau bahkan pasutri. 


Dumay alias dunia maya adalah dunia unik. Kenapa aku bilang unik? Karena a wide range of emotion bisa terbentuk hanya dari mantengin sosmed di atas kasur sebelum tidur, nunggu taxi, minum


Kopi, leyeh2 di taman atau di tempat teraneh sekalipun. 


Apa yang kita baca dan lihat di sosmed terutama Facebook bener2 bisa membuat dunia seseorang menjadi oleng atau menjadi sempit atau menjadi eforia atau menjadi penuh makna bahkan menjadi makin cinta (Ciyeeeeeh) dan yang paling hebat adalah bisa menunjukkan seseorang kepada hidayah Islam.


Ada banyak alasan kenapa orang gabung ke FB. Fb yang mulai di bentuk tahun 2004 dan launch ke publik tahun 2006 kini sudah punya lebih dari 2,2 trilyun akun. Tak heran anak2 di ujung desapun punya akun Fb, suka update status dengan data plan yang harganya lumayan meski harus puasa makan siang supaya bisa beli data. 


Ditambah adanya YouTube, instagram yang bisa menciptakan selebriti dadakan hanya dengan tindakan konyol, goyonan alay, mas2 akting jadi mbak2, meski ada juga yang mendidik. Hampir2 fenomena ini mengubah dimensi komunikasi menjadi lebih kompleks.


Nah yang menarik....ada yang ketagihan sampai2 bangun tidur bukannya baca doa tapi baca status dan update insta stories, atau tidak bisa berhenti nge-refresh untuk tahu berapa like yang di dapat, berapa komen yang diperoleh dan berapa Haters yang menghujat.


Tulisan ini bukan untuk membahas apa manfaat dan mudharat sosmed atau membahas ciri2 orang yang kecanduan sosmed Silahkan tanya mbah Google saja! Pasti bisa jawab) tapi yang ingin aku soroti adalah fenomena dimana banyak yang menjadikan sosmed (wabil khusus Fb dan instagram)sebagai cermin dan standar untuk mengukur keberhasilan seseorang. 


Dari kisah pribadi yang aku sendiri dengar, seseorang jadi punya rasa Dendam, benci dan bermasalah dengan kakak iparnya (yang tinggal jauh di negara antah berantah) hanya karena dia melihat si Kakak ipar posting photo makanan hasil buatan dia sendiri beberapa jam setelah ngadu ke ibu mertua kalau dia ga punya uang untuk beli susu. Hah?!! Bingung kan? Pegangan baju dulu....


Jadi si A bercerita, dia sempat ilfeel alias ilang feeling ke iparnya hanya karena iparnya "terlihat"(awas pakai tanda petik) berbohong saat bilang dia ga punya uang. Beberapa jam setelah ibu si A mengadu kepada A kalau menantunya ga punya uang, di kasih lah uang tadi ke menantu(padahal si ibu mertua ini pensiunan yang pas pasan). Eh lah dalah beberapa jam setelahnya si menantu ini posting di Fb kalau dia habis bikin kue lezat (yang jelas2 butuh duit ekstra untuk bikin)! Si A ngelihat postingan itu dan ngerasa ga terima karena ibunya udah di bohongi. Kalau ga punya uang, kok mampu bikin kue lezat? Jangan2 uang yang seharusnya digunakan untuk membeli susu dipakai membuat kue (huuuh). Akhirnya A melabrak saudara laki2 nya dan jadilah perang saudara! 


Poin tulisan ini juga bukan tentang perang saudara Gara2 fb! Duh... mbulet amat sih! Tenang sodara.... poinku, be smart! Be sensible and be real! 


Seperti deskripsi dalam poto, Fb bukanlah standar dan ukuran dari bahagia tidaknya seseorang, berhasil dan suksesnya seseorang, baik buruknya sesorang, apa yang mereka tampakkan di layar HP anda melalui Share status dan photo2 adalah hal yang mereka pilih untuk di tunjukan. Apakah salah? Nggak juga (kecuali kalau niatnya menyombongkan diri atau menghasut dan memfitnah atau tujuan2 haram lainnya) 


Yang keliru adalah jika kita yang "terlena" dan merasa hidup kita "kurang" dan belum Sempurna hanya karena kita belum memiliki kehidupan seperti mereka2.


Yang mungkin keliru adalah cara pandang kita dalam mengukur dan mendefinisikan arti sebuah kesuksesan. 


Yang keliru bisa jadi perasaan kita yang masih dengan mudah di ombang ambing kan oleh berita2 hoax atau status2 yang bikin ngiler!


Fb menawarkan banyak informasi, pandai2lah menyortir dan menyaring dan pilihlah yang memberi positive impact dalam kehidupan keseharian kita. 


Tata perasaan dengan yakini bahwa kebahagiaan itu akan bisa kita raih meskipun kita tidak seperti si A B atau C.


Yakinlah bahwa A B dan C juga melewati perjuangan hanya saja mereka tidak membaginya kepada dunia!


YOU THINK YOU KNOW SOMEONE, BUT WHAT YOU REALLY KNOW IS ONLY WHAT THEY CHOOSE TO SHOW YOU!


Umm Nusaybah 

London 

25 April 2018


Tuesday, 10 April 2018

14 years! 



14 years ago...

We were complete strangers to one another

Never I heard such a beautiful name as yours 

Never I knew a well-planned man like you

Never I knew someone as forward thinking as you

Never I feel doubtful nor worried knowing you 

who would take my hands for marriage from my beloved father


I couldn’t be more sure than the day you asked me to be your wife

Even though we never met before

But my heart and mind said you’re the one I am looking for 

Many would say I have gone mad

To marry someone I have never met

Many would ask...

How could it be?

I build a life with someone I never see


I said to them that I had one condition

Whoever agreed to this would meet my expectation 

And you were the first person ever agreed

To the condition I had been holding on tight


With the reliance to Allah ﷻ 

We embarked on the journey to build family

For His sake we navigate this married life

Hoping the reward for being patient to one another 

In time of hardship and in time of ease


I am well aware I am not perfect

But having you in my life make me realised

That we don’t have to be great

We just need to try our best

To respect and fulfil our duties outlined by The Most Sacred


I pray Allah ﷻ would please with us

And grants Jannah for the effort we make

For this life is purely a place of transit

The main prize is that as long as He’s SWT pleased!


Mabruuuuuk to my twin too Umm Adam 🤗


Indonesia - 10/04/2004


London - 10/04/2018


PS: picture was taken on our wedding day. My father arranged the horse carriage as a surprise for us and then he made us went around the village on the way to home from the masjid where we made nikah 🙂

Pahlawan hidupku

Demi memulai tulisan ini, aku membutuhkan waktu berminggu minggu untuk menata hati. Setiap aku mulai menulis, mataku tak mampu membaca ketik...