Sunday, 30 December 2018

Who Am I?

Suatu hari puteri pertamaku bertanya: 

"Mama, who actually am I? Am I Indonesian? Am I Ethiopian? Am I British? What am I? Majority of my friends can say that they are Bengali, Pakistani or Indian, but I don’t know how I would describe myself?" -- (Mama, siapakah aku sebenarnya? Apakah aku seorang WN Indonesia? Ethiopia? Inggris? Siapa aku? Kebanyakan teman-temanku bisa menjawab bahwa mereka orang Bangladesh, Pakistan atau India, tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa menggambarkan tentang siapa diriku?)

.

.

Pertanyaan ini muncul setahun yang lalu saat Nusaybah masih berusia 8 tahun. Dan aku yakin, suatu saat pertanyaan ini akan muncul kembali saat dia mulai dewasa. 

.

.

Bisa di pastikan setiap manusia akan melalui sebuah proses pencarian jati diri. Ada yang mencari jawaban itu dengan penuh keseriusan, ada yang asal jawab saja dan ada yang tidak peduli dan lewat begitu saja tanpa ada bekas dan tanpa pernah peduli untuk memikirkannya kembali. 

.

.

Jika seseorang bertanya kepada kita tentang siapa kita yang sebenarnya? Apa jawaban pertama yang muncul dari mulut kita? Bahkan sebelum itu, kata apa yang muncul dalam benak kita? 

.

.

Seorang Perempuan-kah? Seorang ibu? Seorang enterpenur? Seorang dokter? Seorang direktur? Seorang ibu Rumah Tangga? Seorang ilmuwan? Orang Jawa? Orang Cina? Orang Batak? 

.

.

Tanpa kita sadari, sebenarnya Jawaban pertama itu menjadi perwakilan dari ide dasar tentang siapa kita yang sesungguhnya dan identitas ini yang nantinya menjadi titik sentral dari berbagai pilihan dan prioritas yang akan kita ambil di kehidupan keseharian kita atau jika ada aktivitas yang berbenturan dan kita di haruskan memilih. 

.

.

Satu contoh, seseorang perempuan yang benar benar butuh pekerjaan untuk menghidupi keluarganya dan akhirnya mendapat pekerjaan itu, namun pekerjaan tersebut mengharuskan perempuan tadi memakai pakaian yang tidak sopan, maka pada saat itu akan terjadi ‘perang batin’ yang membuat si perempuan tadi harus memilih. 


Jika si perempuan tadi mengajukan pertanyaan itu kepada kita, saran apa yang yang akan kita berikan kepadanya?


Nah.. apa landasan kita menasehati tentang pilihan yang tepat? Siapa yang kita jadikan rujukan? Nasehat dan standar siapa yang kita pakai? Itu tergantung dari jawaban kita dari pertanyaan "Siapa kita" sebenarnya dan prioritas apa yang harus kita ambil dari berbagai pilihan yang ada. 

.

.

Jika kita menyadari bahwa hidup kita tidaklah "bebas" seperti klaim orang orang barat, maka sudah selayaknya kita kembalikan lagi pertanyaan itu kepada Yang sudah menciptakan kita. 

.

.

Allah ﷻ sudah menjelaskan bahwa tugas kita di dunia adalah untuk beribadah kepadaNya. Sebagaimana tersebut dalam Quran Surah Adz Dzariyat, Allah Ta’ala berfirman,


‎وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz Dzariyat: 56) 

.

.

Ibadah dari segi bahasa adalah berasal dari perkataan Arab yang terbentuk dari kata dasar "ain", "ba" dan "dal" (عبد) yang membawa maksud merendah diri, patuh dan taat (al-Maududi, 1984). 

.

.

Kerendahan diri, kepatuhan dan ketaatan ini adalah secara umum, tidak difokuskan kepada sesuatu apapun.

.

.

Dari segi istilah, ibadah bermaksud khusyuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, merendah diri dan tetap hati kepadaNya. Jelaslah, maksud dari segi istilah ini telah meletakkan fokus ketundukan dan kepatuhan seseorang manusia itu hanya ditujukan kepada Allah Subhanu Wa Ta’ala, tanpa sekutu sama sekali. 

.

.

Maka tidak ada pilihan lain lagi bagi seorang Makhluk untuk mendefinisikan siapa kita.

.

.

Jadi siapakah kita? Kita adalah hamba Allah ﷻ yang di Ciptakan untuk menyembah Dia ﷻ. Walhasil, pilihan pilihan kita dalam hidup kita sudah semestinya selaras dengan apa yang Allah ﷻ inginkan. 

.

.

Bukannya selaras dengan hawa nafsu atau keinginan sesaat atau apa yang menguntungkan atau mana yang lebih gampang dilakukan atau mana yang lebih menghasilkan uang atau mana yang nanti di anggap lebih mulia oleh masyarakat.

Bukan, sekali lagi bukan itu yang seharunya menjadi standar. Tapi, manakah menurut Allah ﷻ pilihan yang tepat? tujuan yang tepat? pandangan di mata Allah ﷻ yang benar?

.

.

Jika seseorang sudah memahami hakikat mendasar jati diri ini maka tidak ada orang yang kesulitan memilih karena pusar dari pilihan itu tidak akan berubah! 

Hukum dan syariat Allah ﷻ tidak akan pernah berubah. 

.

.

Aku bisa bayangkan kebingungan itu akan jarang terjadi, kalaulah ada maka dengan tambahan pengetahuan ilmu dan bertanya kepada ahli ilmu akan bisa menemukan jawabannya. 

.

.

Seorang ibu RT akan mengerti apa yang di prioritaskan, demikian juga seorang ayah, seorang ibu pekerja, kapan seorang anak harus memprioritaskan kedua orang tuanya, kapan seorang suami harus memprioritaskan anak2nya, bahkan kapan seorang pemimpin harus menahan diri untuk tidak ikut2an mengucapkan natal dan boleh tidaknya kita atau para pembesar negeri ini berpartisipasi dalam perayaan agama lain. Semuanya sudah jelas dan selayaknya rasa malu, rasa takut, rasa minder, dan rasa rasa yang lain tidak seharusnya menjadi pertimbangan.

Penghujung 2018 sudah tiba, 2019 akan segera mulai, mari kita pertanyakan kembali Who Am I and let’s find the right answer and work from there. 


Wallahu ‘Alam bishowab


Weesp, Belanda

30 Desember 2018

Ditulis oleh: Yumna Umm Nusaybah

Saturday, 22 December 2018

Yang sedih untuk dikenang, hanya akan menguatkan.


“Nduk, muliho yo Nduk.... mami mlebu Rumah Sakit mulai mambengi sampe saiki” - (Nak, pulang ya nak.... mami masuk RS sejak semalam sampai sekarang)

.

.

Deg.....! Jantungku seperti berhenti berdetak mendengar suara Bapak atau yang biasa aku sebut dengan panggilan Pak’e di telpon genggamku. Meski sejak kelas 1 SMA aku ngekos dan jauh dari orang tua, baru kali ini Pak’e memintaku pulang. Pastilah ada sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Aku hitung sudah hampir satu bulan lebih aku belum sowan ke desa menemui pak’e dan Mami. Semua dikarenakan kesibukan perkuliahan di UNAIR Surabaya yang sudah memasuki tahun ketiga. Dengan rasa khawatir yang masih menggantung, aku putuskan pulang di pagi harinya dan aku langsung meluncur ke Rumah Sakit Islam di Banyuwangi.

.

.


Sampailah aku dan saudara kembarku ke ruangan di mana mami di rawat, aku lihat nenekku duduk di samping mami sambil menangis. Aku lihat tubuh lemah tergolek di pembaringan, tubuh yang terlihat sangat kurus sekali. Aku benar benar terkejut dengan perubahan drastis dari berat badan mami. Ternyata BB beliau telah turun 30kg dalam rentang waktu 1 bulan! Sekiranya pengetahuan itu aku miliki sekarang, pasti aku sudah curiga malignansi, namun saat itu kebodohanku menutupi kesimpulan yang hampir hampir jelas. 

.

.


Aku peluk mami dan menangis sejadi jadinya, aku tanyakan kepada mami dan pak’e kenapa aku tidak di beri kabar sama sekali selama satu bulan terakhir tentang perubahan BB mami dan kondisi mami. 


Lewat telpon, beliau memang hanya mengeluh diare hampir setiap hari dan berasa capek saja, lagi lagi kebodohanku hanya bisa menyarankan mami cek up ke dokter spesialis interna. Beliau menuruti nasehatku dan dari sana, diketahui level hemoglobin beliau hanya 4! Oleh karenanya dokter menyarankan beliau opname. 


Aku langsung meminta bertemu dokter jaga, aku tanya apa saja kemungkinan penyebab HB turun drastis dalam waktu cepat? Perdarahankah? Apakah diare

Yang beliau keluhkan di sertai darah? Masalah di produksinya-kah (masalah dengan sumsum tulang belakang), ataukah hal lain? Setelah diskusi panjang lebar dokter menyarankan kami pergi periksa kolonoskopi, dan itu harus di Surabaya! 

.

.

Mulailah perjalanan panjang mendiagnosis penyakit ini. Hari demi hari, bulan demi bulan, masuk tahun demi tahun kami lalui, tapi belum juga ada titik terang. Segala jenis spesialisasi sudah beliau temui dan kami susuri, mulai dari yang di Banyuwangi hingga di Surabaya. Mulai dari ahli penyakit dalam, dokter mata, ahli rhematologi, ahli gastroenterologi, ahli nefrologi (ginjal), ahli jantung, ahli imunologi dan entah ahli ahli apalagi. Rasanya hampir hampir kami putus asa dan tidak tahu lagi harus kemana. Setiap bulan puluhan juta harus kita siapkan untuk opname, transfusi darah, injeksi eritropoitin, dan treatment2 lain karena HB yang selalu turun. Setiap tes darah, kami deg deg-an karena kami tidak tahu, akankah minggu itu HB naik atau turun drastis lagi. 


Malam malam kami terisi dengan solat malam dan untaian doa serta tangisan menghiba Allah ﷻ supaya diberi jalan keluar dan titik terang tentang sakit yang di sudah diderita mami selama 4 tahun!

.

.

Sampai suatu pagi, aku hadiri laporan pagi bagian interna dari dokter jaga malam UGD RS Dr Soetomo. Saat itu aku sudah masuk tahun kelima di FK Unair dan kami sudah mulai praktek di RS. Pasien dilaporkan datang dengan keluhan yang tidak spesifik dan sudah menghabiskan waktu berbulan bulan berpindah dari satu dokter spesialis ke dokter spesialis yang lain. Dokter Ami (yang saat itu belum meraih gelar profesor) menyampaikan ulasan beliau bahwa pasien ini sudah diketahui penyakit utamanya namun pasien dengan sakit seperti ini biasanya di awali dengan kunjungan ke banyak dokter spesialis tapi tidak memiliki kejelasan diagnosa. Ini tipe khas dari pasien yang menderita keganasan sel plasma darah bernama MULTIPLE MYELOMA!

.

.

Aku dan saudara kembarku saling berpandangan dengan hati teriris. Adakah kemungkinan mami menderita penyakit ini? Inikah titik terang yang kami inginkan? Haruskah kami berbahagia karena akhirnya titik terang itu mulai kelihatan ataukah bersedih karena kekhawatiran kami selama ini menjadi kenyataan?

.

.


Dengan perasaan bingung dan pikiran kacau, kami meminta waktu sebentar dengan Dr Ami usai laporan pagi. Beliau menganjurkan supaya mami melakukan tes darah spesifik untuk menegakkan diagnosa Multiple Myeloma. Kami memberi kabar kepada mami dan membawa beliau ke Surabaya untuk tes darah tersebut.


Setelah hasil tes ada di tangan, kami kunjungi Dr Ami di tempat praktek beliau. Kami tunjukkan hasil tes darah dan beliau memberi selamat kepada aku dan saudara kembarku karena telah berhasil menegakkan diagnosa yang tidak mudah. 


Lalu beliau bertanya:”Siapa pasien ini?”


Sambil tertunduk lesu, lemah lunglai kami jawab:”Ibu kami, Dok...”


Beliau ikut prihatin karena justru puteri sang ibu sendiri yang akhirnya harus menemukan diagnosa final dari sakit yang sudah 4 tahun menggerogoti sang Ibunda. Beliau juga menyampaikan bahwa kanker darah ini sudah memasuki stadium 4! Tidak ada terapi lain selain paliative care untuk mengurangi sedikit rasa sakit karena kanker yang telah menyebar ke seluruh tubuh. 


Setahun setelah diagnosa itu tegak, mami di panggil Allah ﷻ di usia beliau yang masih relatif muda, 57 tahun. 


Mami...yang selalu bercita cita putri kembarnya menjadi seorang dokter, membuka praktek bareng-bareng dan membantu orang orang miskin di desa yang tidak mampu berobat, telah di beri sakit yang menakdirkan sang puteri mendiagnosis sakit beliau sendiri.


Meski beliau hanya mampu menyaksikan wisuda sarjana kedokteran kami, dan tidak dihadirkan oleh Allah ﷻ dalam upacara sumpah dokter kami, akan tetapi jasa, pengorbanan, kerja keras, doa, air mata, dan malam malam serta tirakat yang sudah beliau lakukan berperan besar menjadikanku seperti sekarang.


Mami.... yang telah kehilangan kesempatan bersekolah dan selalu memimpikan menjadi seorang perawat telah mengalirkan tekad kuat buat kami -anak anaknya untuk tidak pernah menyerah, terus berjuang dan membuat sesuatu yang orang anggap jauh dari jangkauan menjadi mungkin dengan izin Allah ﷻ Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Mami.... yang ditakdirkan menikah dengan seorang kepala sekolah SD harus bekerja ekstra keras supaya bisa menyambung hidup dan membiayai 2 anak kuliah sekaligus. Beliau tidak pernah malu mencoba bisnis baru di setiap waktunya. 


Mulai dengan berjualan kerupuk, es lilin, menjahit baju, mengurus salon, perias pengantin, berjualan baju anak-anak di pasar, berjualan barang2 plastik, berjualan sayur keliling desa, berjualan genteng dan segala jenis enterprenur sudah beliau jalani. 


14 tahun yang lalu, mimpi beliau sudah menjadi kenyataan... namun memori perjuangan meraihnya tidak akan pernah lekang. 


Ya Allah ﷻ Ya Rahman.

Ampunilah dosa ibundaku tersayang

Lapangkanlah kuburnya

Mudahkan lah hisabnya 

Karuniakan lah Surga tertinggiMu untuknya

Berilah kami kesempatan berkumpul kembali di surga Firdaus yang kekal


‎اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


Weesp, Belanda

22 Desember 2018

Bertepatan dengan hari Ibu di Indonesia.

Ditulis oleh Nduk Yuyun yang selalu mendoakanmu (panggilan kesayangan mami untukku)


Ditulis dalam rangka mengikuti audisi naskah”Persembahan cinta untuk Ibu”

Friday, 21 December 2018

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (part 3-END)



Perbedaan yang terakhir yang Bianca sampaikan: "I am a university graduate..." dan dia tidak melanjutkan kalimatnya.


Aku sendiri yang harus mengisi titik titik itu...


Sejenak aku diam terpaku karena bagiku itu bukanlah perbedaan karena aku juga "University graduate" alias lulusan Univeritas gitu loh!!!

.

.


Tapi kenapa yang muncul dalam benak Bianca pernyataan yang seperti itu? 

.

.

Karena konteks diskusi kami adalah perbedaan di antara kami berdua, maka konsekuensi logis dari kalimat itu sudah tersirat meski tidak tersurat, bahwa: "Bianca adalah lulusan universitas sedang aku bukan!"


Beda lagi jika Bianca bilang:"I have my PhD degree" maka masih ada kemungkinan aku mengisi titik titiknya dengan jawaban :"I have my bachelor degree or Master Degree" 


Tapi dengan kalimat Bianca itu sudah nampak BIAS dan quick judgement yang menyimpulkan bahwa: perempuan berkerudung di hadapannya (dalam hal ini aku) adalah wanita yang tidak pernah mengecam pendidikan tinggi (Univeritas). Itu bedanya aku dan dia (paling gak berdasar pada ungkapan dia yang aku pahami)

.

.

Aku sengaja tidak beraksi dengan kalimat Bianca karena pasti kalimat tadi tidak sama sekali dia niatkan untuk merendahkanku. 

.

.

Bianca hanya menerka saja berdasar pada praduga yang selama ini mungkin dia tahu dan yang selama ini beredar dan di jual bebas oleh media2 koran ataupun TV di Inggris bahwa 

.

.

1. Wanita berkerudung itu identik dengan tidak berpendidikan tinggi. (Kalaulah ada itu hanya kasus pengecualian) 

2. Wanita berkerudung itu tidak fasih berbicara bahasa Inggris.

3. Wanita berkerudung itu di tindas oleh laki2 di komunitas mereka sendiri

4. Wanita berkerudung itu tidak punya pilihan (dipaksa untuk berkerudung dl) serta tidak punya banyak pilihan.

.

.

Kalau itu yang selalu di jual oleh headline2 media masa, sangat bisa dipahami darimana prasangka dan praduga Bianca tadi berasal. Its not her fault!.

.

.


Ini adalah pengalaman pertama bagiku menghadapi komentar yang sedikit menyudutkan seperti ini (meski hanya tersirat). Mengingat aku hanya 3 muslimah berkerudung dari 100 lebih orang yang hadir. Tentu saja identitasku sebagai perempuan berkerudung sangat bisa di indera. Seperti di Part 1 kisah ini sudah aku sebutkan, meski saat kerja di RS aku berinterasi dengan dokter, konsultan, perawat, tukang bersih2 RS tapi selama 6 Tahun itu tidak sekalipun aku mengalami kejadian seperti ini atau merasakan hal yang aneh begini. 


Mungkin sebagian pembaca akan berfikir: "ah, kamu aja yang sensitif Yum, mungkin bukan itu maksud Bianca" 


Mungkin saja demikian, tapi hari itu, aku tidak habis pikir dengan banyaknya pandangan mata dan ungkapan-ungkapan dan respon-respon aneh dari orang-orang di sekelilingku. 


Apakah karena aku ‘merasa’ menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris? Semoga saja hanya karena itu! 


Yah... karena ini pengalaman pribadi dan tulisan ini di tulis dari situasi yang sulit bisa di gambarkan kecuali berhadapan langsung dan berada di antara para wanita pekerja profesional yang menatapku dengan tatapan sedikit aneh (menurutku) maka ini adalah kesimpulan sederhana yang aku tangkap. 


Jujur....masih banyak kejadian yang lebih frontal dan lebih menakutkan dari yang aku alami hanya karena kami berkerudung. 


Sejenak pikiranku di sibukkan dengan kesimpulan di atas, tanpa ku sadari Sarah sudah masuk ke pembahasan berikutnya.


Aku tidak ingin tepancing dan aku merasa tidak perlu tersinggung, aku anggap Bianca belum banyak bertemu wanita2 berkerudung yang berprestasi atau membaca dan berinteraksi secara langsung dengan mereka (aku juga sedang memakai kacamata bias-ku kali ini) tapi aku bertekad di akhir acara aku harus meluruskan salah kaprah yang sudah merajalela. 


Kapan lagi kesempatan meluruskan prasangka itu datang, bisa jadi aku orang pertama dan orang terakhir Bianca temui dalam hidupnya (hiperbola banget deh!)


Akhirnya di akhir acara, ada kesempatan untuk para peserta berbicara dan mengajukan pertanyaan dan komentar. 


Saat itulah aku sampaikan sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan yang aku harap bisa sedikit membuka mata dan meluruskan prasangka di luar sana (secara tersirat) bahwa perempuan berkerudung bisa juga berpendidikan tinggi dan bergelar dokter tapi memilih voluntary work. 


"Would it be possible to provide us with some researches -maybe in the form of archives that will be available online for all the coach to access- so we can back up all the statistics written on the coach note?"


"Let me give you just one example: just yesterday I delivered the session on "behave" and one of the attendees asked if it’s normal for her 11 years old daughter occasionally wet her bed, since I came from medical background and had spent 7 years studied medicine, I could help her a little bit and suggested the possible problem her daughter faced, and what she needs to do next. I am

fully aware that me as a coach is not meant to be parenting consultant let alone health advisor but my attendees really appreciated my help in that instance. So I guess additional information would help us along way and build our credibility even more!


Hikmah 


1. Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang pikirkan tentang kita (wanita Muslima), tapi penting bagi kita menunjukkan bahwa Islam tidak seperti yang mereka pahami. It’s not about us but it’s about the image of Islam yang harus kita bela.


2. Tidak perlu tersinggung jika ada yang salah sangka, buktikan saja dengan adab dan tingkah laku yang islami.


3. Hidup sebagai ‘practicing muslim’ (muslim yang berusaha memegang dan menerapkan ajaran Islam dalam keseharian) dan sebagai minoritas di negeri Barat, mau nggak mau, suka nggak suka dan tanpa kita minta,

sudah menjadikan kita sebagai penanggung beban dan pembawa obor kebenaran. Pastikan kita memantaskan diri untuk amanah besar itu!


4. Prasangka dan praduga yang keliru tentang kaum perempuan pada khususnya atau Islam pada umumnya tidak cukup di counter (di lawan) dengan sikap dan tingkah laku yang baik saja tapi juga kemampuan menjelaskan dan kemampuan berargumen sehingga cahaya Islam selalu menjadi yang tertinggi. Lebih keren lagi kalau yang bersuara adalah kaum PEREMPUAN itu sendiri! 


5. Bersyukurlah jika kita berada di lingkungan dimana kita tidak harus "membuktikan" kepada khalayak rama ibahwa kita orang yang baik dan orang yang normal meskipun kita berkerudung.


6. Ambil kesempatan yang Allah ﷻ sajikan kepada kita untuk membela agamaNya kapanpun dan dimanapun.


7. Perbanyak ilmu, perbanyak diskusi, perbanyak menghadiri majelis ilmu di lingkungan kita ataupun menimba ilmu lewat media online supaya kita tahu dan bisa menyuarakan Islam dengan cara yang benar dan argumen yang kuat.


8. Hindarilah prasangka dan praduga, gimana caranya? Yah... dengan banyak membaca dan memahami.


9. Jadilah muslim yang aktif dan bantulah Islam dengan membuat narasi tandingan yang benar, tangguh dan beralasan.


The end


#KisahDariInggris

#RevowriterMutiaraUmmat

#MuslimDiBarat

#IslamDiInggris

#CurhatEmakEmak


Weesp, Belanda

21 Desember 2018

Ditulis oleh Yumna Umm Nusaybah

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (Part 2)

Pukul 12:30 siang masuk waktu ISHOMA, sambil menunggu antrian makan siang, aku putuskan untuk sholat duhur karena di musim dingin seperti sekarang, waktu waktu solat berdekatan satu sama lain. Aku tanya ke ketua panitia, seorang wanita berkulit putih berambut pendek bernama Bethan:"do you have a small spare room where I can pray?" (Adakah ruangan kecil yang bisa aku pakai untuk solat?) 


Dengan senyum manis, dia menjawab:"Let me ask the museum manager and I will get back to you, when do you need it and for how long? (Aku akan coba tanya ke manajer museum dan nanti aku kasih tahu kamu, kapan kamu butuhnya dan untuk berapa lama?).


Aku jawab: "I would appreciate it if I can use it now and I only need it for no longer than 5 to 7 minutes" (Kalau bisa sih sekarang dan aku hanya butuh untuk 5-7 menit saja)


Selang beberapa menit, Bethan sudah kembali dan mengajakku turun tangga dan menunjukkan ruangan meeting kosong yang bisa menampung lebih dari 10 orang!


"Thank you so much, Bethan! I really appreciate it, would it be okay if use it now and again in the next 30 - 45 minutes?"


(Terima kasih banyak, Bethan, dan bolehkah aku pakai lagi ruangan ini sekarang dan 30-45 menit lagi?) - sekalian ijin untuk memakai ruangan yang sama untuk solat asar.


Selesai solat, aku menuju meja yang sudah dipenuhi sandwich. Di situ sudah tertulis berbagai jenis sandwich, ada yang untuk vegetarian, gluten Free, dan sandwich yang berisi ayam dan daging. Jelas jelas daging dan ayamnya nggak halal, walhasil aku pilih sandwich untuk vegetarian yang isinya alpukat dan keju (ga nge-fan sama sekali sama rasanya tapi asal perut terisi saja)

.

.

.

Selesai makan, masuklah kami ke sesi kedua yang di isi oleh Ms Sarah Minor-Massy- seorang ibu dengan satu anak yang bekerja sebagai Solution director di MindGym. Dari aksennya, kelihatannya dia bukan wanita asli London. Dugaanku benar saat dia memperkenalkan diri. Sarah lahir dan besar di California, dan baru setahun terakhir pindah ke London. 


Topik yang di angkat Sarah hari itu berjudul: One of Us. Diskusi utamanya berbicara tentang bagaimana secara psikologis, perilaku setiap manusia akan selalu dipengaruhi oleh cara pandang mereka alias bias yang mereka miliki. Cara pandang/ bias ini terbentuk dari proses berkembangnya mereka di sepanjang perjalanan hidup, jumlah dan jenis informasi yang masuk ke dalam otak, dan apa yang menjadi kebiasaan keseharian kita (budaya). Beliau menyebutnya "unconscious bias". Sarah membuat sesinya interaktif. 

.

.


Sesi itu dia mulai dengan sebuah tes yang bernama IMPLICIT ASSOCIATION TEST dimana tes ini menganalisa adanya fenomena "the Stroop effect"


Dia menampilkan tulisan yang berwarna. Kata merah di tulis dengan tinta berwarna merah, lalu kami para audiens di minta membaca WARNA dari TULISAN itu secepat mungkin. Wajarlah kalau kami semua bisa membacanya dengan sangat cepat dan mudah. (Lihat gambar 1)


Selanjutnya dia menampilkan kata merah tapi di tulis dengan tinta warna biru dan kami di minta menyebut WARNA DARI TULISAN secepat mungkin dan BUKAN APA yang tertulis, saat inilah banyak yang berhenti atau mungkin menyebut warna yang keliru. (Lihat gambar 2)


Dari tes sederhana ini, para psikologis menyimpulkan bahwa alam bawah sadar kita cenderung secara cepat membuat kesimpulan dan kadang kesimpulan ini tidak logis dan terlalu menggeneralisasi. Warna merah belum tentu tertulis dengan kata MERAH (seperti pada latihan 2), tapi secara otomatis otak kita akan membaca kata "merah" yang berwarna "biru" dengan sebutan "merah" padahal yang di inginkan adalah menyebut warna dan bukan membaca kata yang tertulis. 


Alam bawah sadar kita cenderung mengasosiasikan kata dengan hal tertentu. Salah satu contonya adalah kata: kulit putih di asosiasikan dengan kata cantik, kata Afrika di asosiasi kan dengan krisis kelaparan, kata Eropa di asosiasikan dengan kemajuan, kata bule di asosiasikan dengan ganteng dan kaya, dan seterusnya. Pelajaran yang Sarah sampaikan: sudah menjadi sifat manusia untuk selalu ‘make a quick judgement’ (menghakimi sesuatu dan situasi dengan cepat) berdasar dan bergantung dari kebiasaan dan informasi yang sering kita peroleh. Sayangnya ‘quick judgement’ ini sering tidak benar bahkan berbahaya, sudah semestinya kita ‘take time’ untuk memberi diri kita sendiri kesempatan berfikir sehingga kita bisa menghakimi sesuatu, situasi dan seseorang dengan benar pula.


Kesimpulanku pribadi: berhati hatilah dalam mencari informasi, pastikan informasi, ilmu yang kita baca dan isi ke dalam otak kita adalah informasi yang benar dan valid, bukan hoax tapi berdasar. Kalau ilmu itu ilmu Islam, maka harus ada referensi dalil (Quran dan Sunnah). Kalaulah informasi itu tentang seorang maka kita kenal syariat yang namanya tabayyun dimana Islam

mengajarkan kita untuk cek dan ricek serta tidak grasa grusu bereaksi. We should respond and not react!


Fenomena ini juga menarik, kata Sarah, judgement itu juga bagian dari ‘decision making process’. Kalau pemahaman realitas kita nggak pas karena judgement kita yang grusa grusu maka cara kira merespon, menyikapi, dan menghakimi serta menghakimi sesuatu itupun akan keliru besar. 


Kalau fakta ini hal yang sepele dan mubah (dibolehkan dalam Islam) maka nggak masalah, tapi kalau ini berkaitan dengan hal besar semacam seorang perempuan yang ingin menikah dengan seorang laki2 atau sebaliknya dan mereka hanya menggunakan ‘stroop effect’ ini maka kemungkinan besar pernikahan mereka tidak akan langgeng. Kesan pertama boleh menggoda tapi selanjutnya belum tentu bikin bahagia. 

.

.

Konteks untuk kami para Parenting Coach saat itu adalah agar kita membuang bias itu sejauh jauhnya dan memberi kesempatan yang sama bagi semua peserta yang mengikuti parenting program yang kita suguhkan. Misalkan, menganggap peserta yang tidak aktif berbicara berarti tidak punya pendapat, menganggap peserta yang tidak fasih berbahasa Inggris tidak menguasai materi, dll. 

.

.

Setelah tes psikologi masal selesai, kami di minta bertukar informasi dengan orang yang duduk di sebelah kita tentang tiga persamaan dari kami berdua. Kebetulan sebelahku adalah seorang wanita berkulit putih dari Inggris utara dengan aksen kentalnya. Sebut saja namanya Bianca (bukan nama asli). Dia yang memulai berbicara dan menyimpulkan bahwa kami sama sama seorang ibu, sama sama seorang coach, dan sama sama perempuan. Aku pun setuju dengan pilihannya (of course).

.

.


Berikutnya, kami di minta saling bertukar informasi tentang apa yang menjadi perbedaan dari kami berdua. Ini yang MENARIK. Meski agak berat dan sungkan bagi kami untuk membicarakannya, tapi ini bagian dari topik yang harus di diskusikan. Aku persilahkan Bianca memulainya terlebih dahulu. Jujur aku sangat tertarik ingin mendengar apa yang ada dalam benaknya. 


Kata pertama yang dia sebut adalah, agama! (Perlu di catat bahwa obrolan tentang agama bukanlah obrolan umum, hal ini sangat privat dan jarang orang mau mendiskusikannya). 


Dia bilang:"Aku roman Katolik, kamu muslim" (aku mengangguk) 


Selanjutnya aku bilang:"kamu berambut pirang, aku berambut gelap, kamu seorang native, aku seorang imigran". Seperti kebiasaan orang Inggris yang terkenal sopan, dia pingin membuatku merasa nyaman dengan mengatakan: "aku dulu juga imigran di Spanyol"


Batinku berbicara: kayaknya orang Inggris di Spanyol tidak menyebut diri mereka

Imigran deh tapi mereka menyebut diri mereka EXPAT!. Imigran adalah label yang hanya di tempelkan oleh negara maju kepada para pendatang dari negara "miskin" atau negara "berkembang". Walaupun kenyataannya sama sama hijrah/ pindah tempat, tapi para pendatang dari negara maju tidak akan di sebut imigran, mereka di label dengan kata Expat. Lagi2 ini adalah asosiasi yang sengaja di tempelkan dari sebuah bahasa dengan realitas tertentu meskipun kenyataan yang terjadi sama tapi statusnya berbeda.


Rasa bahasa dari imigran dan expat TIDAKlah sama!


Anyway, giliran Bianca lagi untuk menyebut perbedaan antara aku dan dia, dan kalimat terakhirnya ini benar benar membuatku mengerutkan dahi dan bertanya tanya.


Bersambung...


#KisahDariInggris

#RevowriterMutiaraUmmat

#Muslim

#IslamDiInggris


Weesp, Belanda

21 Desember 2018

Monday, 17 December 2018

Thought of Him ﷺ 

Last Sunday, Nusaybah and her school had choir performance of Islamic nasheed in an event called Big Sing Up. Few Islamic school come together and performed several nasheed simultaneously from 9am - 12:30pm.

ماشاء الله 

It was fantastic atmosphere. There is no instruments played, only daf and humming. There were two international Munshid performed on the stage and all children were so excited. Apparently, one of the singer had a hit song that most children knew (clearly my knowledge was very behind on this department). The kids sang along and shouted the phrase of Takbir, Hamdalah and shahadah. 


One of my favourite moment was when a young boy (year 6) from Islamiya school in North West London performed his spoken words. He won the competition in his school for writing and reciting his poem titled:" what will I do if I meet the Prophet ﷺ "


It was soooo raw, genuine, beautiful as well as eloquent. It brought me to tear and I could relate to every words he said. 


So on the way home, I casually mentioned to Nusaybah and Rumaysa, maybe oneday you can write about the same thing: what you will do if you meet the Prophet Muhammad ﷺ.


I completely forgot the fact that I mentioned it (typical me) but today as I was busy in the kitchen and feeding Hudayfah, they were busy upstairs up to something. 


Apparently, Nusaybah typed her version of spoken words and Rumaysa had it a go too.


They told me they had a surprised and that I had to sit and watched as they read it. I was so pleased that Nusaybah and Rumaysa can verbalise their thoughts and feeling ماشاء الله تبارك الله 

but I was a bit sad to hear Nusaybah didn’t feel deserve to meet the beloved Prophet ﷺ .


I hugged both girls and we cried together (maybe for different reasons) and I said to them that it’s true, we might not deserve to be with Him ﷺ because of our actions won’t match up with him ﷺ but the fact that we want to meet him ﷺ and loves him is hopefully enough to make him ﷺ wants to meet us! Try to keep positive because Allah ﷻ is like what we think of Him.


After we are all calm down, I sent them to bed and gave them goodnight kiss. Now I am laying down on my bed having so many thoughts and contemplation. Thoughts on why Nusaybah feel that way, thought on how my parenting so far has moulded my children, thought on whether I have done enough to instil the love for Allah ﷻ and His Messenger ﷺ, thought on what I will say if I meet our beloved Prophet Al Mustafa ﷺ 


Ya Rabb, Ya Sami’ Ya Rahman Ya Rahim,allow us to enter Your highest Jannah and allow us to meet, hug, spend all the time we have listening to the story of revelation from

The lips of your beloved creation, Al Mustafa ﷺ 

 Ya Rabb allow us to meet Him in this life through good dreams and in the akheerah in Jannah.


اللهمّ امين يا ربّ العالمين




"اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ".



Thursday, 6 December 2018

Cute handwriting 


I just find it cute to read Rumaysa’s handwriting using phonics to actually write it 🙂 the meaning is making sense (just read it as it is) but obviously the spellings still need a lot of work. 


.

.


Funny thing, whenever she had a spelling test, she got everything correct. She usually feels a bit down if I mentioned the spelling mistake. So I would just let her keep writing and writing.

.

.


My main purpose is for her to enjoy and like expressing her thoughts and emotions in a form of writing. I believe in a few months she’ll be very good at it. ان شاءٓ الله 

.

.

What’s actually she meant to write: 

My handwriting is very nice so the teacher is very happy and the headmasters is also really happy.


London, 6th December 2018

9:26am

Found the sheet near the bin 🙂

Tuesday, 4 December 2018

Menjadi minoritas setelah 14 tahun di Inggris (Part 1)



Oleh: Yumna Umm Nusaybah

#KisahDariInggris


"I am so excited to attend this seminar. I am looking forward to the topic that will be discussed" ujarku ke suami sambil pakai pelembap wajah yang sudah hampir habis. Setelah pamit ke suami dan si kecil, aku keluar rumah menuju halte bis.


Pagi itu adalah salah satu pagi yang aku tunggu tunggu. Training gratis yang di sediakan oleh Parent Gym ini akan menghadirkan Dr Nihara Krause (Award winning Consultant Clinical Psychologist) dengan tema "Supporting the mental health of children and young people’.  


Kenapa aku tunggu-tunggu? 

Pertama karena topiknya berkaitan dengan human behaviour dan mental well being. Topik ini selalu bikin mataku ‘melek’ dan otakku bekerja. 


Kedua, karena trainingnya di London Barat. Butuh waktu satu jam dengan kereta bawah tanah untuk menempuh perjalanan dari rumahku ke Notting Hill. Sambil jalan jalan lah, hitung-hitung jadi turis lokal dadakan (sssst masih ndeso Emang). Kapan lagi emak-emak dengan anak usia 2 tahun bisa jalan jaan sendiri tanpa stroller? Sambil menyelam minum air. Dapat ilmu, dapat photo, tangan bebas stroller. 


Sampailah aku di stasiun Ladbroke Grove, setelah lima menit berjalan, aku bisa melihat museum of Brand yang menjadi tempat seminar. Setelah mendapat name tag di pintu masuk, mereka memintaku naik ke lantai satu. Ruangan tertutup di sebelah kanan tangga adalah ruang seminar. Saat aku buka pintu, aku lihat ruangan sudah hampir penuh, acara sudah di mulai beberapa menit yang lalu. Aku mencoba masuk pelan-pelan dan memilih duduk di belakang tapi akhirnya aku putuskan untuk pindah duduk di depan sebelah kiri pembicara supaya bisa lebih konsentrasi.


Sekilas aku layangkan pandangan ke seluruh ruangan. Yang hadir mayoritas kaum perempuan, hanya ada dua laki-laki. Salah satunya panitia dan satunya lagi peserta. Rata-rata mereka adalah guru atau Family Support Worker dari berbagi SD di berbagai penjuru London dan luar London (Slough dan Luton). Yang menarik, hanya ada 3 muslimah (aku salah satunya) dan beberapa peserta dari kaum minoritas (tidak berkulit putih). Pemandangan yang tidak biasa bagiku karena biasanya kami (muslim) menjadi mayoritas di London timur. 


Meski 14 tahun di London, semua aktivitasku (sekolahnya anak-anak, tempatku dulu bekerja, dll) ada di area London timur yang notabene area dengan jumlah muslim terbesar di London. 


Bahkan ketika bekerja di RS, lebih dari separuh tim adalah kaum minoritas. Baru kali ini aku di hadapkan dengan situasi dimana aku harus aktif berpartisipasi dan menjadi minoritas dalam realitas yang sebenarnya. Boleh di bilang, biasanya aku super cuek terhadap cara orang memandang dan melihat penampilanku. PD aja gitu loh! 


Kalau hanya berjalan dan bertegur sapa dengan non muslim, bukan masalah. Hampir tiap hari aku lakukan karena tetangga sebelah rumahku sendiri orang Nasrani asli Ghana. 


Tapi kali ini, di depan para pekerja profesional ini, harapanku besar sekali untuk tidak merasa aneh dan terkucilkan. Pada kenyataannya mereka adalah orang yang berpendidikan, mereka bisa menyaring berita berita hoax dan berita berita provokasi dan prasangka tak berdasar semacam: perempuan berkerudung itu bodoh, tidak berpendidikan, tidak fasih berbahasa Inggris, bisanya cuma 3M (Manak, Macak, Masak), dan prasangka-prasangka lain. Idealnya sih begitu. Tapi ternyata aku keliru, banyak sekali tatapan aneh yang tidak pernah aku rasakan. Entah mengapa. Apakah karena area yang aku datangi memang area yang isinya kaum tajir. Yang pernah nonton film Notting Hill (Julia Roberts dan Hugh Grant) pasti tahu. Ya area ini bagian dari kecamatan Kensington and Chelsea, meski ga semua yang tinggal di sini kaya raya, tapi area ini terkenal sebagai area mahal yang isinya para selebriti. Atau karena aku saja yang lagi sensitif menjadi ‘The odd one out’?


Ternyata prasangka yang disebarkan oleh media-media Inggris berimbas dan terbukti saat momen diskusi di sesi kedua. 


BERSAMBUNG...


London, 4 Desember 2018

#revowritermutiaraummat

#KisahDariInggris

Friday, 23 November 2018

Memulai dengan mencoba

Oleh Yumna Umm Nusaybah

Seorang filosof Jerman yang bernama Arthur Schopenhauer pernah punya petikan berikut: 

"The first forty years of life give us the text: the next thirty supply the commentary.

Mungkin ada juga yang pernah dengar sebuah ungkapan "Life begins at forty"

Yang aku tahu ungkapan ini sebenanrya di tujukan untuk kaum wanita di abad 20-an dimana sebelum mereka memasuki usia ke 40, para wanita biasanya akan di sibukkan dengan kesibukan mengasuh anak, membesarkan dan memenuhi kebutuhan fisik anak-anak mereka. Setelah mereka memasuki usia 40 tahun, barulah mereka bisa keluar dari "sangkarnya" dan proses menekuni bidang yang mereka sukai, berkarya, serius pursuing their own passion baru dimulai. Meski tidak menutup kemungkinan sudah ada kaum ibu yang meraih puncak karirnya, sukses mendidik anak-anaknya, memiliki bisnis dengan omset jutaan rupiah di usia 40 juga. 

Di manapun titik kehidupan kita sekarang, tidak perlu risau dan tidak perlu membandingkan dengan teman sebaya atau se-angkatan karena jalan hidup, dinamika keluarga, ujian, cobaan, kenikmatan yang diberikan Allah ﷻ untuk masing2 orang sangatlah berbeda. Setiap orang itu unik dan kelebihan, kekurangan, ujian dan kenikmatan sudah di design spesifik untuk masing2 orang oleh Allah ﷻ Yang terpenting adalah siapapun kita (dengan segala kelebihan dan kekurangan yang ada),berapapun usia kita, selagi masih bisa bernafas dan berfikir maka mencoba dan menggali potensi diri haruslah terus di lakukan. 

Dari kuliah WhatsApp bersama mba Asri Supatmiati mendorongku menggali kembali "mimpi" lamaku yang terkubur. Sebentar lagi aku memasuki usia 40, kini mulai mencari kembali apa yang membuatkumerasa hidup, menulis seperti menggali rasa dan pandangan pribadi yang jarang aku sampaikan di hadapan orang yang aku kenal. Mengagumkan rasanya ada orang di belahan dunia lain, generasi lain, ditahun yang berbeda dari tulisan itu di buat, namun mereka masih bisa merasakan efek dan pelajaran dari tulisan yang ingin aku ingin bagi. Kekaguman dari kekuatan tulisan inilah yang membuatku tergerak untuk belajar dan mencoba. Blog yang sudah ada sejak 2005 telah mengabadikan banyak momen dan hikmah dalam bentuk tulisan yang jika aku baca lagi bisa membawa diriku kembali ke masa lalu dan menelusuri jalan yang sama dengan rasa yang berbeda. 

Aku akui merangkai kata dalam bentuk tulisan bukanlah "strength" yang aku punya, juga bukan hal yang keluar secara mudah dan tabi’i. Tidak seperti kakak, atau saudara kembarku yang memang dari kecil udah jago menulis, mereka sering sekali menulis di diari. Aku lebih suka berbicara, menyuarakan ide secara spontanitas dan acak. Bagiku, menulis adalah sebuah tantangan tersendiri karena harus ada waktu untuk menata alur, meng-edit tulisan, memampatkan isi, merangkai kata yang mampu menyentuh kalbu dan membangkitkan pemikiran, dll. 


Tapi ternyata bayang-bayang ideal itulah yang justru semakin menyurutkan semangatku untuk menulis. Seperti kata mbak Asri: segmen pembaca akan selalu ada untuk setiap penulis. So here I go, giving it a try! 

Seperti quote di gambar: ‘Don’t try to figure out what other people want to hear from you; figure out what you have to say. It’s the one and only thing you have to offer.’

Tidak perlu mencoba menuruti apa yang orang lain ingin dengar dari kita atau mengikuti harapan orang lain terhadap (tulisan) kita, fokus saja kepada apa yang ingin kita sampaikan, karena itulah yang sebenarnya mampu kita tawarkan. Tentunya Ridha Allah yang kita niatkan. 

Alur yang jelas, pilihan kata yang keren, tulisan yang menyentuh jiwa, rangkaian kata yang membangkitkan pemikiran akan terasah jika selalu mencoba. 


London

23 November 2018

#revowritermutiaraummat

#MengapaAkuHarusMenulis

Monday, 24 September 2018

Memory to be stored 

I posted this to remind myself (oneday). It’s sad that we often forget small gestures given by our kids that meant a lot for them. Random handmade cards and loving messages are one of The beautiful memories that often we as a parent ais overlooked and pushed aside. 

Hence I encourage everyone to keep/ document any small token given by our kids so that they feel appreciate it and treasure it when they grow up. 

To my both daughters Nusaybah and Rumaysa 

Mama loves you so much.... just like what you usually said: I love you to every planets and back!



Tuesday, 10 July 2018

Deep reflection 


Nusaybah had induction day today for year 4 which she’ll be starting this coming September. I can tell I already like the new teacher. She introduced herself in the classroom and asked every child to describe how they feel about moving up to year 4. And this was Nusaybah’s description.  


It took me a while to understand the "philosophy" behind this picture but then she explained to me that she remembered on one assembly her head teacher explained to the whole pupils how as we grow older, we have more knowledge, we widen our horizon, we become stronger and bigger. Hence CHANGES ARE GREAT. 

I am so glad she’s looking forward for the next academic year. This is one of many reason I choose Al Noor. الحمد لله رب العالمين 

It never seizes to amaze me how the teachers and asatid take extra miles to instill a strong live lessons for the pupils.

Thursday, 7 June 2018

A humble doctor


Related image

Sebut saja Namanya dr C.....

Selama Ramadan ini, 2 minggu berturut turut ada seseorang yang menghadiri kajian lokaliti kami yang sosoknya menarik buatku. Beliau seorang pensiunan, asli dari Iraq dan dulu bekerja sebagai GP (Dokter Klinik setara spesialis). Di usianya yang sudah senja, beliau bisa di bilang masih aktif. Kemana mana masih nyetir sendiri, belanja sendiri, masak sendiri dan yang lebih keren lagi, wawasan politik dan pengetahuan Islam beliau patut di acungi jempol.

Tanpa ragu, tanpa canggung, beliau duduk bersama kami, sharing semua pemikiran2nya yang dikemas dengan bahasa yang captivating. Diskusi kami berkembang dari bahasan Taqwa, tajwid, tafsir ayat dalam Al Quran sampai urusan politik dan kondisi kaum muslimin di Iraq dan akar masalah dari konflik2 yang terjadi di negeri Muslim. 

Sampailah kami berdiskusi tentang image dari seorang perempuan muslim. Di negeri barat seperti Inggris, menjadi seorang wanita muslimah yang berkerudung tidaklah se-sederhana di negeri Muslim apalagi seperti di Indonesia. Ada anggapan 'buruk' tersendiri tentang sosok wanita yang berkerudung, apalagi berjilbab (berjubah). Umumnya anggota masyarakat yang a) tidak pernah mau belajar tentang Islam dan Muslim dari sumbernya langsung atau b) tidak punya tetangga Muslim yang aktif mengenalkan me-musliman dan ke-Islamannya, maka orang2 ini menggantungkan sumber informasi (tentang seperti apa sosok wanita muslimah itu) hanya dari mainstream media.

Alhasil, ga heran kalau kesimpulan umum tentang  wanita berkerdung dari rakyat inggris yang ogah baca dan ogah berinterksi dan membuka wawasan adalah bahwa mereka:
  • Nggak bisa bahasa Inggris
  • Nggak berpendidikan apalagi punya gelar dan bekerja sebagai profesional
  • Tertindas oleh suami atau bapaknya
  • Di paksa memakai kerudung 
  • Di paksa kawin (di jodohkan secara paksa)
  • Kerjaannya cuma masak dan (maaf) macak dan manak
  • Bodoh dan mau saja dibodohi
  • Terbelakang dan di manfaatkan oleh kaum pria dari komunitasnya sendiri.
  • Pemakan tunjangan negara untuk golongan ekonomi kurang alias benefit receiver
  • Benci dan pingin meneror orang2 yang bukan muslim
Itu hanya sekilas dari sekian banyak daftar 'pre-conceived idea' yang jelas salah semua.....walhasil kadang kami wanita muslimah harus pandai2 membawa diri dan tahu diri kalau perlu membuktikan diri :)

Berikut kisah yang di tuturkan oleh dr C saat beliau masih praktek menjadi dokter.

As my patient entered the room, he asked me"Oh I am here to see dr. C, where shall I go?" 

I was smiling and told him to take a seat an said: "I am dr C, how can I help?"

I could see, he was shocked and did not expect that the doctor he was registered with was a MUSLIM WOMAN and A Hijabi! (aku bisa melihat wajah dia terkejut sekali saat melihat dokter yang dia pilih adalah seorang perempuan muslim berkerudung pula!)

Lain waktu beliau bercerita, saat beliau mau periksa di dokter gigi dan harus menjalani perawatan yang memakan biaya sekitar £300 (sekitar 5,5 juta dan ini jumlah yang nggak sedikit), beliau langsung di minta mengisi formulir bebas biaya dimana ini biasanya di isi oleh orang2 yang mendapat layanan gratis karena mereka dari golongan ekonomi rendah (tanpa ada maksud memandang rendah atau apapun). Lagi lagi sambil senyum beliau bilang :"I pay for my own treatment so you can give me the bill".

Ketika kami tanya kenapa beliau tidak bilang saja kalau beliau seorang GP? beliau menjawab :"I do not like to mention it when it's not necessary. I was not there as a doctor, I was a patient so I do not think it is appropriate and there was no need to mention it." (Saya tidak suka menyebutkan -bahwa saya seorang dokter- karena kurasa itu tidak perlu. Saya berada disitu tidak sebagai seorang dokter, tapi sebagai seorang pasien jadi tidak pantas dan tidak pada tempatnya) 


Kisah seperti di atas sebenarnya bukanlah hal yang langka, aku pun sendiri pernah mengalaminya. Yang jelas jelas aku ingat adalah saat aku naik pesawat pulang ke Indonesia dari Dubai ke Jakarta, London ke Singapura dan Turki ke Ethiopia. Berasa sekali cara mereka (air hostess) melayaniku dibanding cara mereka melayani dua orang yang duduk di depanku (mungkin nanti bisa jadi tulisan sendiri). 

Moral of the story:
  1. Stay Positive! Anggap aja orang yang memandang kita 'rendah' hanya karena selembar kerudung di kepala kita adalah orang2 yang ga mau baca dan ga mau membuka wawasan, atau mungkin mereka lagi bete atau mungkin mereka cuma nonton TV kerjaannya atau emang ga pernah ketemu wanita muslimah dan bicara langsung. 
  2. Kikis habis tuh mental-mental di jajah alias merasa rendah diri hanya karena kulit kita yang berbeda atau ethnic kita atau agama kita (apalagi kalau ngabisin duit buat cream pemutih :)
  3. PeDe aja dong shaaayy! wajah boleh rata rata tapi otak harus berisi, apalagi wajah cantik dan otak menarik ...tambah asyiiiik!
  4. Tak perlu tersinggung kalau orang nggak tahu kalau kita bergelar sarjana, master atau phD yang penting di mata Allah kita istimewa. Justru sangat di sayangkan kalau kita di kelilingi orang yang hanya peduli dengan titel kita, harta kita, status sosial kita dan bukan kita sebagai seorang manusia yang punya wibawa (eh kenapa jadi berirama begini yaa...)
  5. Yang terakhir seperti di photo yang aku pampang: Rendah hati-lah meski kamu percaya diri tapi warnai karaktermu dengan keberanian (entah itu keberanian membela yang tertindas, keberanian berbicara benar meski pahit, dan menegakkan keadilan meski seluruh dunia melawan)
udah ah.....jadi ngelantur. Kalau panjenengan2 punya pelajaran lain dari kisah di atas, monggo di share ke saya. 

Umm Nusaybah
London
7 Juni 2018
*Lagi lagi tulisan pendek di sela2 nyiapin kajian untuk hari ini (kebiasaan last minute.com)*

Friday, 1 June 2018

{Percakapan} Who creates Allah ﷻ ?

As she munched the watermelon Rumaysa (5 yo) whispered to me:


"I am sorry Mama, I have a very rude thought about Allah"


Me: "Oh Dear! What thought would that be?" 


"I am thinking, if all of us are created, who created Allah ?"


Me:"awwww that’s not a rude thought, Sayang...in fact that’s a very smart question! 


Allah ﷻ was not created by anyone nor He had a son nor parents. He has no beginning and no end hence He is almighty! If Allah was created by SomeOne, then He is not Allah and we would have to worship the one who create ‘that Allah’. 


"That mean Allah has been living for sooooo long"


Me:"Yes... Rumaysa... He is ever living"


Lesson: indeed life of a mother is full of surprises! I would never thought I would receive such question from my 5 years old but I must thank my ‘teacher’ during my youth days..... they have given me the answer and show me the path (by the will of Allah). Not only it’s beneficial for me now but it has been beneficial for me to finally know my purpose in life. 


May Allah ﷻ grants all our teachers (from formal or informal education) beneficial knowledge and grants them Immense rewards in Jannah. اللهمّ امين يا ربّ العالمين 


London

31 May 2018

*Just after maghreb...as I sipped my tea*

Sunday, 27 May 2018

Shocking fact! 😜

Yesterday as we drove back home from school, my middle child (Rumaysa 5yo) told us (me and Hubby) the story of what happened at school.

I must say, she has a way to crack me up unexpectedly and I love that quality in her. Allahumma Bariklaha.

"Mama, Baba.... you will be shocked if I tell you what happened in school today"

Me: "oh really, what happen then?"

R:"You wouldn’t believe that two of my friend told me that they actually born at "Queen’s Hospital" (supposedly Queens Hospital) and "King George Hospital!!" It’s shocking!!!!

I couldn’t hold my laugh.....Bless her!

She genuinely thought those hospitals belong to the Queen and the King and their friend born at the Royal Family’s hospital which also gave her impression that either her friends are super special or descendent of the Royal Family (which both are totally untrue 😂)

Both are indeed the name of Hospital nearby her school and it’s named after the Royal Family.

Kids truly see and think differently 🙂

Allahumma Bariklaha!

Wednesday, 23 May 2018

{Perbincangan} Kema’suman Rasul



Sepulang dari sekolah naik, sembari nyetir mobil aku mendengarkan ulasan di YouTube dari ustad Nouman Ali Khan tentang kisah Nabi Musa alaihissalam. Anak pertamaku yang beberapa bulan lagi masuk usia 9 tahun ikut mendengarkan. Kisah Nabi Musa Alaihissalam bukanlah kisah yang asing bagi Nusaybah... mashaAllah dia lebih tahu detail dan urutan kisahnya di Banding aku.
Ketika ustad Nouman sampai pada ayat berikut

QS. Al-Qasas [28] : 15

وَدَخَلَ ٱلْمَدِينَةَ عَلَىٰ حِينِ غَفْلَةٍ مِّنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلَانِ هَٰذَا مِن شِيعَتِهِۦ وَهَٰذَا مِنْ عَدُوِّهِۦ ۖ فَٱسْتَغَٰثَهُ ٱلَّذِى مِن شِيعَتِهِۦ عَلَى ٱلَّذِى مِنْ عَدُوِّهِۦ فَوَكَزَهُۥ مُوسَىٰ فَقَضَىٰ عَلَيْهِ ۖ قَالَ هَٰذَا مِنْ عَمَلِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۖ إِنَّهُۥ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِينٌ

Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

Nusaybah mulai dengan pertanyaan2 yang bikin aku gelagepan. Sambil nyetir, sambil mikir, sambil berusaha menjelaskan kepada anak usia 9 tahun tidaklah gampang. Berikut beberapa pertanyaan dan jawabanku yang seadanya

"Mama, kan Nabi Musa seorang Rasul, kenapa beliau memukul mati orang tanpa sengaja? Kan itu sebuah dosa?"

Aku jawab:" Niatan awal Nabi Musa kan sebenarnya untuk menolong salah satu dari orang yang berkelahi yang meminta tolong. Beliau tidak tahu kalau satu tonjokan saja sudah bisa merobohkan dan membunuh lawannya"

Lanjut Nusaybah bertanya: "Berarti beliau sudah berbuat dosa dong,Ma... Apakah boleh seorang Rasul berbuat dosa?"

"Tapi saat beliau melakukan tindakan ini, Nabi Musa belum diangkat sebagai Rasul, Sayang.....jadi tidak bisa dikatakan beliau berbuat dosa sebagai Rasul. Seorang Rasul harus punya sifat ma’sum (bebas dari dosa), tapi mereka tidak harus bebas dari salah pilih atau salah dalam mengambil keputusan terbaik dalam perkara yang dibolehkan (bukan haram) seperti yang terjadi pada Rasulullah Muhammad ﷺ saat surat ‘Abasa turun(aku pernah menceritakan kisah turunnya Ayat ini ke Nusaybah jadi dia mengerti maksudku)

Pertanyaan masih berlanjut:"kenapa para Rasul harus bebas dari dosa, Mama?"

"Karena mereka adalah pembawa pesan dari Allah ﷻ, la....kalau pembawa pesannya berbuat dosa, terus di contoh pengikutnya... gimana dong?"

Pertanyaan berikutnya ini yang bikin aku mumet:" tapi kan kita pengikutnya juga tahu mana yang benar dan mana yang salah, apa iya kita hanya ngikut saja tanpa melihat apakah itu dosa atau nggak?"

Jreng!!!! Jreng!!!!!!

Nggak pernah aku berfikir kesana.... setelah mikir bentar aku jawab: "Nah... kita tahu benar dan salah kan dari Quran dan Sunnah yang dibawa Rasul Muhammad ﷺ, sekarang mama kasih contoh.... kalau misalkan Rasul Muhammad ﷺ melakukan solat dengan gerakan yang salah, apakah kita tahu? Nggak kan? Yang kita lakukan hanya ikut dan mencontoh beliau ﷺ dan akhirnya kita pun akan ikut2an berbuat salah dan seluruh anak cucu dan generasi berikutnya juga salah. Makanya untuk urusan aturan dari Allah ﷻ dan pesan yang dibawa Rasul dari Allah ﷻ maka rasul tidak akan pernah salah dan mereka bebas dosa. Dosa adalah ketika seseorang melanggar aturan Allah ﷻ. Salah bisa terjadi dalam lingkup hal yang dibolehkan. Bisa ngerti nak?"

"I undertsand now, Mama"

"Sooooo.....The Prophet Muhammad ﷺ never  ever did any sinful things all his life??"

Duh..... masih belum selesai juga nih anak....

"Sejak beliau di angkat sebagai Rasul tentu tidak pernah lah" jawabku sederhana.

"What about when he was a child or when he was young?"

"Well.... kita ga bisa katakan itu dosa, kan petunjuk belum turun dari Allah ﷻ. Salah dan benar itu kan Allah ﷻ yang menentukan"

"But why did the angel open his chest and clean it when he was young? Doesn’t that show that he was not free of sins?"

Nah loh apa hubungannya???

Ternyata dia pikir karena Rasul Muhammad ﷺ belum suci hatinya makanya perlu di bersihkan.

"Itu sebuah miracle dari Allah ﷻ dan Allah ﷻ sedang menyiapkan beliau menjadi seorang Rasul. Istimewanya, beliau ﷺ tidak pernah berbuat syirik dan mengikuti perbuatan buruk yang banyak dilakukan kaumnya."

Seperti biasa Rumaysa menyela :"How did we get here?"

Kita berdua tertawa....

Moral of the story:

Kadang kita belajar dan dituntut untuk belajar lebih karena anak2 kita. Teruslah belajar, memahami, mengerti, mengamalkan dan penuhi hari2 kita dengan ilmu karena ilmu ini yang akan menjadi lentera dan penunjuk bagi jalan yang kita lalui di dunia. Penuhi Majlis2 ilmu apalagi dibulan ramadhan seperti sekarang. Disanalah para malaikat2 turun dan mengelilingi dan mendoakan siapapun yang hadir.

Kapasitas kita untuk belajar adalah karunia, kemampuan kita dalam belajar adalah ketrampilan dan kemauan untuk belajar adalah pilihan!

Umm Nusaybah
London - 23 Mei 2018

Tuesday, 15 May 2018

Harga Diri

Image result for value yourself quotes

Sore tadi sambil cuci piring aku iseng2 bertanya ke Nusaybah: "If 10 being the best mother and 1 being a NOT very good mother, how much would you rate Mama?".

Pertama kali dia dengar pertanyaan ini, dia ga ngerti maksudku, akhirnya harus aku ulang 2 kali untuk menjelaskan maksud pertanyaanku. akhirnya dia jawab:

"Hmm... I think I will rate you 9.5". Aku tanya dia balik:"why?"...Nusaybah menjawab:"Karena kadang Mama marah tanpa sebab dan meninggikan nada bicara (scream and shout), just sometimes....so If you can control that part, I would rate you 10!"...Aku jawab sambil sumringah:"ooooh...Thank you Nusaybah, that's very sweet of you, I will try my best from now on to control my emotion and do less screaming and shouting" (sambil mikir: ah ini bisa menjadi target Bulan Ramadan nih....hehe)

Tak selang beberapa lama dia tiba tiba berkata: "I think I would rate Adek: 9, Baba: 9.5, Hudayfah: 8 and myself: 5!"

Jleb!!!! aku sedikit kaget mendengarnya......aku tahu kalau Nusaybah perlu banyak suntikan untuk bisa percaya kepada dirinya sendiri....dan lafad ini benar benar membuka mataku bagaimana dia melihat dirinya sendiri....dan saat inilah aku merasa perlu meluruskan dan menanamkan benih2 pemikiran yang tepat. 

Akhirnya aku bertanya lagi ke Nusaybah: "why do you rate yourself lower than anyone else?"
"Because I know I am not good enough yet, I have a lot of things to improve and be better at" jawabnya.

"Okay, let me ask you a question, If I tell you that the slipper I am wearing at the moment is worth £10, how much would you like to buy it? less of more?" (Okay, coba sekarang aku tanya, kalau aku bilang bahwa sandal yang aku pakai ini senilai £10, dengan harga berapa kamu mau membelinya? kurang dari £10 atau lebih dari £10?)

Dengan tegas dia menjawab: "£10 or less of course!"

"Nah sekarang kamu bayangkan, jika kamu menilai dirimu sendiri dengan harga 5, kira2 orang mau menghargaimu dengan harga 8 9 10 atau 5 4 3? 

Dengan sedikit menunduk dia menjawab: "5 4 3.....What are you actually trying to say, Mama?"  tanya dia penasaran.

Dimulailah acara berdalil ria.....

Akhirnya aku jelaskan bahwa jika kita tidak berani menghargai diri kita sendiri dengan harga yang tinggi, maka jangan harap orang akan menghargai kita dengan harga yang tinggi pula.

Mereka menghormati kita karena kita telah mampu menghormati diri kita sendiri dengan melakukan hal2 yang baik dan pantas, mereka menilai kita sebesar nilai yang kita sematkan dalam benak dan keyakinan kita. Oleh karenanya, sangat perlu bagi kita untuk memiliki rasa percaya diri yang tinggi, menyematkan nilai yang layak untuk diri kita sendiri jika kita ingin orang lain juga menghargai kita setinggi kita menaruh harga itu kepada diri kita.

Nusaybah kelihatan mengangguk angguk tanda percaya tapi keluar lagi pertanyaan yang lain,:"Tapi Allah kan melarang kita membanggakan diri dan merasa diri kita hebat, Mama?"

"Iya Betul...tapi ada perbedaan yang besar antara percaya diri dan menyombongkan diri, orang yang percaya diri itu karena memang mereka percaya akan kemampuan dia sendiri sehingga mereka tidak perlu validasi dari orang lain. Orang mau berkata apapun, mereka tetap maju terus, pantang mundur, tidak akan mengubah cara pandang mereka terhadapa diri mereka sendiri....sedang orang yang menyombongkan diri biasanya karena mereka ingin di anggap "percaya diri atau malah ingin di anggap hebat" di hadapan orang lain, padahal kenyataanya mereka tidak percaya diri, they just pretend to be confident and actually they don't fool anyone else apart from themselves!...ada peribahasa: tong kosong nyaring bunyinya (Empty vessels make the most noise), artinya orang yang ilmunya kurang, orang yang PD nya kurang malah biasanya banyak ngomong, they are usually bossy, want to be heard all the time, and want to take control of others and usually they only feel good when people say they are good and they constantly need people to say that they are good."

Ternyata konsep ini makin bikin dia penasaran. Nusaybah lanjut bertanya :"How about Allah, how would Allah value us?"

Aku jawab bahwa Allah sesuai dengan persangkaan hamba-NYA. Jika kita yakin bahwa Allah Maha Baik dan akan selalu menolong kita, maka Dia akan menolong. Tapi jika kita beranggapan bahwa Allah jauh dan tidak peduli dengan kita, maka hal demikian akan terjadi.

Intinya....jika kita ingin kebaikan dan respect dari orang lain maka kita harus terlebih dahulu me-respect diri kita....

Nusaybah manggut manggut dan diskusi di interupsi oleh pertanyaan Rumaysa:"How did all this started?" kita bertiga ngakak......karena ternyata diam diam Rumaysa mendengarkan dan ingin juga mengerti.

Jujur....pembahasan ini memang sedikit filosofis menurutku tapi bisa juga di bilang ini bagian dimana kita reprogramming their brain. Buktinya setelah diskusi panjang itu Nusaybah dengan semangat bilang :"Now I rate myself 10"

"That's good! well done for starting to believe more in yourself, next step is when you find a hardship, never think that you are not capable, you have to believe that you can achieve it but you just need a little bit of push and a little struggle, but that doesn't mean you are not good enough or even incapable."

"Okay Mama....I understand now" sambutnya berbinar binar seperti mendapat suntikan baru.

Momen2 seperti inilah yang aku sukai dan aku nantikan di proses panjang nggedein anak

Meski diskusinya ada di sela sela cuci piring, tapi aku yakin justru saat seperti ini yang harus kita manfaatkan sebaik baikya karena anak sedang antusias ingin mengerti dan ingin memahami sebuah konsep abstrak yang nantinya membentuk karakter unik hingga mereka bisa menghandle pressure besar di dunia yang keras ini.

Bagiku, momen ini seperti meletakkan batu bata dan pondasi awal saat kita membangun rumah, sama halnya...ini adalah batu bata yang akan define who they are in the future.

Ayo kita biasakan berdialog dan digs deeper the real feeling that our children have.

InshaAllah jika mereka terbiasa mendefinisikan dan melabeli perasaan, emosi dan segala hal yang tidak terindra atau teraba tapi hanya terasa, maka kedepannya mereka akan bisa di ajari untuk mengelola perasaan itu. Sebelum mereka di ajari untuk mengolah dan mengontrol rasa marah dan frustasi, mereka harus terlebih dahulu mengerti seperti apa rasa marah itu dan kenapa seseorang marah. Dengan begitu mereka akan terbiasa untuk mencari definisi, akar masalah dan solusi jitu untuk mengatasi berbagai persoalan di kehidupan mereka yang akan datang.

Umm Nusaybah
London
15 Mei 2018
*Di tulis sambil ngantuk di sela sela menyiapkan kajian untuk Ramadan*


Thursday, 3 May 2018

Kerja Keras

Image result for great things comes from comfort zone

'I can't do it, Mama.... I can't memorise this long ayah!...This is toooooo hard' lanjut dengan tetesan airmata dan kadang dengan tangisan.

Skenario seperti ini hampir terjadi seminggu sekali. Kadang Nusaybah dan lain waktu Rumaysa. Sebisa mungkin aku berusahan untuk tetap memberikan dorongan positif bahwa susah itu hanya di langkah pertama, kedua atau ketiga. Sekali kita mencoba maka langkah ke-4 akan semakin mudah dan ringan. Aku juga ingatkan ke mereka bahwa semakin banyak membaca semakin banyak pahala karena satu huruf setara dengan 10 pahala. Meski tetap cemberut tapi sedikit banyak, dorongan itu meringankan beban mereka.

Setiap orang entah itu anak-anak ataukah emak-emak tahu bahwa untuk meraih sesuatu, dibutuhkan sebuah perjuangan. Kadang kita melihat keberhasilan orang di depan mata dan menginginkan keberhasilan yang sama tapi ogah-ogahan menempuh kerja keras yang mengiringinya. 

Sebagai orangtua, sangatlah gampang bagi kita untuk mendorong dan menyampaikan kepada anak2 kita bahwa kesuskesan dan keberhasilan itu bisa di raih dengan kerja keras (tentu atas ijin Allah), akan tetapi kadang kita sendiri (aku dalam hal ini) bertanya tanya, apakah aku sudah contohkan kerja keras itu dalam kehidupan? atau aku hanya memilih dan memilah kegiatan yang aku sukai saja tanpa melihat apakah ini berkontribusi untuk perbaikanku sendiri dan anak2? Setiap orang tua ingin anak2nya 1000x lebih baik dari mereka namun tidak siap dengan zona tidak nyaman yang harus mereka hadapi.

Beberapa hari yang lalu, aku ikut kegiatan Parenting course. Di pertemuan pertama, intruktor nya hanya ingin memberikan tester apa saja nanti yang akan di cover dalam waktu 8 kali pertemuan. Sebelum masuk ke breakdown dari topik per minggu, salah satu intruktor bertanya kepada para peserta: 'What do you enjoy/like about parenting?' banyak sekali jawaban yang mirip. Ada yang menjawab bahwa dia suka saat bisa menghabiskan waktu dengan anak2, ada yang suka saat mereka merasa 'dibutuhkan' oleh anak anak mereka, ada juga yang mereka senang saat melihat anak2 mereka beranjak dewasa, independen dan bisa menjadi kebanggaan ortunya. Jujur...jawaban itu juga jawaban yang sama yang aku berikan, namun aku tambahi sedikit.....aku sampaikan kepada mereka: 'Yang aku nikmati adalah proses mendidik mereka (nurturing and moulding process), mendidik, membina, mengasuh, membentuk karakter, pola pikir, kebiasaan dan kecenderungan dari anak2ku...itulah yang aku sukai. Karena dalam proses ini, aku tahu bahwa aku sedang membentuk generasi masa depan, aku sedang mengasuh calon2 anggota masyarakat yang ke depannya aku berharap menjadi agent of change. Aku juga enjoy dan bahagia karena aku tahu setiap upaya yang aku lakukan akan meninggalkan sebuah legacy (warisan) berupa anak2 yang aku harap ketika nantinya aku sudah di kubur di bawah tanah, mereka masih bisa menularkan dan meneruskan kebaikan yang sudah aku tanam'. Berhubung pesertanya datang dari banyak background agama (meski intruktornya muslim) aku jelaskan dengan hati2 bahwa di dalam Islam aku yakin dan percaya bahwa jika anak2ku menjadi anak2 yang baik (soleh/ah) maka mereka bisa mendoakan aku dan bisa menjadi wasilah untukku meraih surga.

Sepertinya, sang intruktor tidak menyangka dengan jawaban panjangku.....Dia sempat terhenti sejenak dan kemudian berkomentar :'it's a very inspiring answer and well put. You also have a long vision for what you are doing'

Aku jelaskan jawabanku di postingan ini bukan untuk 'show off' tapi aku ingin mengingatkan diriku sendiri (ketika nanti aku baca lagi) dan semua ibu di luar sana bahwa kerja keras kita sebagai ibu memang kelihatan susah dan memakan waktu, tapi ingatlah bahwa itu karena kita punya visi dan misi yang besar. Misi yang ketika Allah berikan ke gunungpun mereka tidak sanggup! visi dan misi itu adalah menjadikan anak2 kita generasi Qurani. 

Jujur....aku pun kadang lose the plot. Tak jarang I am on pilot-mode. artinya aku mendidik anak dan mengurus mereka karena memang aku adalah ibu mereka, kalau bukan aku, siapa lagi yang akan mendidik dan mengurus mereka? karena ini adalah kewajiban! Karenanya, pertanyaan instruktor tadi sangat menyentil dan sangat perlu sehingga aku bisa refresh kembali alasan mendasarku kenapa aku ingin punya anak dan mendidik mereka sebaik2 baiknya. Wajarlah sebagai ibu, kadang visi itu kelihatan jauh dan susah untuk di sentuh. Bahkan kadang ada juga yang lupa dengan visi awal mereka membina Rumah Tangga dan memiliki anak. 

Tak jarang, ada yang beralasan bahwa keinginan mereka untuk menikah dan memiliki anak karena tuntutan biologis atau tuntutan sosial masyarakat atau tuntutan keluarga bahkan tuntutan negara atau dunia (Hayyah....mosok seeeh!). Padahal menurutku, misi seorang untuk membina rumah tangga haruslah lebih dari itu, sehingga ketika memilih calon pasanganpun akan di arahkan oleh misi besar itu. Tak jarang pula, yang sudah punya visi dan misi. eh malah lupa atau bahkan tidak lagi terbersit dalam benaknya,eh tapi nggak tahu lagi kalau sejak awal misi dan visi itu memang belum ada. ga perlu khawatir sodara2, tidak ada kata terlambat untuk memulai dan memilikiya. 

Harapanku, postingan ini akan menjadi pengingat diriku sendiri dan siapapun yang membacanya bahwa setiap visi/ keinginan/ mimpi dan misi(pilihan sekarang/ tindakan yang kita ambil dalam rangka meraih visi) kadang terjal dan sulit wabilkhusus dalam hal membina dan mendidik anak2. Dibutuhkan kesabaran, ketelatenan, pasokan energi, pasokan ilmu dan pasokan Iman yang kuat supaya tahan banting dan bisa menjadi sumber kekuatan bagi anak2 kita sendiri. 

Seperti kata2 di ilutrasi di atas: Hal yang hebat tidak pernah datang dari zona aman. Artinya, kalau kita ingin hasil yang spektakuler, maka upaya kita juga tidak bisa ecek2 alias seadanya atau sebisanya, namun harus ada upaya keras, berkorban banyak (waktu, energi, uang, kenyamanan, waktu luang, dll). Rasulullah Muhammad SAW sudah mencontohkan pengorbanan, dedikasi, kesabaran, ketelatenan yang luar biasa untuk bisa menunjuki Ummat manusia kepada Cahaya Allah. Betapa banyak kisah2 pilu di masa hidup Rasulullah (terutama di Makkah), padahal beliau adalah manusia pilihan, utusan Allah. Kalau Rasulullah saja harus menghadapi hal demikian, maka kita pun juga harus siap dengan kerja keras dalam banyak hal. 

Kerja keras belajar Islam, kerja keras mendidik anak, kerja keras menjadi ortu yang 'presence'. kerja keras menjadi anak yang berbakti, kerja keras menjadi tetangga yang baik hati, kerja keras menjadi da'i, kerja keras menjadi hamba Allah. 

Karena sesungguhnya yang Allah lihat adalah kerja dan upaya kita......bukan hasilnya!

Allah berfirman, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan". Surat at Taubah ayat 105

Thursday, 26 April 2018

RASA BAHASA


Masih lekat dalam ingatanku kejadian tahun 2004 di bulan Oktober. Aku menangis tersedu sedu di ruang tunggu saat boarding di Bandara Juanda Surabaya. Hari sebelumnya aku pamitan dengan seluruh keluarga kemudian pagi itu aku diantar kakak dan sodara kembarku untuk terbang ke Inggris, SENDIRI!! (kebetulan suami ada kerjaan dan ga bisa menjemput). Ini adalah kali pertama aku naik internasional flight dan kali pertama aku bakalan berpisah lama dengan seluruh keluarga. 


Ini juga menjadi awal perjalan baru dalam lembaran baru kehidupanku. Bisa dibayangkan gimana khawatirnya diriku. Aku akan pindah ke negara baru, dengan suami yang baru aku nikahi, makanan baru, masyarakat baru, peran baru dan tentunya BAHASA baru. 


Setelah perjalanan panjang Indonesia - Inggris, sampailah aku di Heathrow Airport. Setelah melalui proses imigrasi aku keluar dan berharap suami sudah ada di luar sana menunggu sang istri. Ternyata sodara2.... suami ga ada di depan pintu arrival! Aku panik, mau nelpon pakai telpon umum aku ga punya koin poundsterling. Aku hanya bawa dolar dan akhirnya menukar uang di money changer di luar pintu arrival. Dapat koin, aku langsung menuju telpon umum yang ga jauh dari tempat money changer. Aku dial tapi ga nyambung, langsung masuk ke voicemail. Coba lagi, tetap saja ga nyambung. Akhirnya koin habis karena setiap masuk voicemail koin terpakai.


Lemah lunglai aku jadinya. Pikiran macem2 muncul di benakku! Jangan2 suami lupa njemput, jangan2 ada apa2 di jalan, Duh pokoknya panik tingkat dewa!


Aku sendirian di tanah rantau, ga ada keluarga, hanya ada suami dan sekarang ga ada disini. Aku berasa ada di PLANET lain karena yang aku dengar adalah orang2 di sekitarku berbicara dengan bahasa asing!!!


Ini adalah pertama kalinya aku merasa I DON’T BELONG HERE! Ini bukan rumahku, ini bukan tempatku, ini bukan orang yang akan bisa mengerti aku!


Setelah hampir 30 menit aku menunggu akhirnya suami muncul sambil berlari tergopoh gopoh dan meminta maaf. Ternyata ada delay kereta bawah tanah makanya telat. 


Bisa di Bayangkan lah betapa leganya diriku saat itu.... ciyaaaah!


Campur aduknya perasaanku saat aku terpapar langsung dengan bahasa baru dari orang2 disekitarku membuatku makin sadar bahwa aku benar benar harus adaptasi dengan cepat supaya perasaan anxious dan isolated bisa dihindari. Nggak mungkin lah suamiku akan selalu mendampingiku kemanapun aku pergi. 

Aku lah yang harus berhadapan langsung dan berkomunikasi Iangsung dengan orang2 di sekitarku dengan bahasa Inggris sebisaku meski masih kacau balau! 


Akhirnya dengan modal BONEK dan keadaan yang memaksa, aku beranikan diri keluar bertemu orang di masjid, kajian2 Islam, perpustakaan, pasar2 dan tempat2 orang bertemu dan berbicara satu sama lain.


Dari situlah akhirnya aku ngerasa kemampuan bahasaku sedikit berkembang ditambah lagi di keseharian aku dan suami ‘terpaksa’ berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. Yang lucu..... jika aku kecewa atau ngerasa ada yang salah tapi ga ngerti kosakatanya, maka aku cuma bisa diam dan nangis 🙂 lah gimana lagi, kalaulah aku sampaikan dalam Bahasa Indonesia, suami juga ga akan paham 🙂 


Setelah 14 tahun, akhirnya kini aku mulai bisa memiliki rasa bahasa Inggris. Aku mulai bisa memahami humor2 Inggris yang sarkastik. Humor2 mereka sangat berbeda dengan humor di Indonesia. Dulu dulunya kalau ada kumpul2 teman2 Inggris dan mereka guyon, aku cuma senyum2 dan ketawa karena mendengar tawa orang (kasihaaaaan deh) tapi ga papa lah....mereka juga ga tahu kalau aku ga tahu. Ha ha.


Tapi tetap saja dalam banyak hal, otakku masih berfikir dalam bahasa Indonesia dan lidah harus menyampaikan dalam bahasa Inggris. Masih sering aku nyari2 kosakata dalam bahasa Inggris dan ga ketemu di otakku 🙂.


Orang bilang, jika seseorang sudah menyatu dengan sebuah bahasa maka mereka haruslah berfikir dalam bahasa tersebut.


Yang aneh, saat aku pulang ke Indonesia, aku seperti kembali menjadi diriku saat berusia 24 tahun (dalam hal memproses realitas). Itu adalah usia aku meninggalkan Indonesia pertama kali. Bukannya aku menjadi orang yang berbeda atau punya dual personality tapi aku sendiri merasakan bahwa bahasa sedikit banyak mempengaruhi kinerja otak dan mungkin proses berfikir yang sedikit berbeda. Karena tentunya bahasa Indonesia memiliki banyak perbedaan dalam mengungkapkan perasaan, rasa marah, rasa senang.


Itulah kenapa saya pakai deskripsi photo di atas. Orang yang mampu 2 bahasa (entah itu bahasa Inggris dan Indonesia, Arab dan Indonesia, Turki dan Indonesia, Spanyol dan Indonesia, Perancis dan Indonesia) seperti memiliki 2 jiwa karena tiap bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi tapi juga membawa peradaban dan metode berfikir tersendiri.  

2 jiwa bermakna 2 cara pandang, 2 budaya, 2 jendela dunia. 


Ini sih pengalaman pribadiku. Ga tahu lagi apakah setiap orang yang pindah ke negara lain dan mencelupkan diri dalam sistem yang ada (melalui pendidikan atau pekerjaan) dan berbicara full dalam bahasa setempat di kehidupan kesehariannya mengalami hal yang sama. 


Monggo silahkan sharing.... saya ingin tahu apakah saya normal atau nggak?! 😜 


Di pagi yang dingin....

London

26 April 2018

Tuesday, 24 April 2018

Unek-unek tentang Sosmed



"Waaah Jeng, si A baru balik dari Eropa looh, mana bawa anak2 dan ortu mereka lagi" lah kok tahu???? "Tuh dari photo dan status FBnya"


"Duh, kasihan ya mbak si B habis kena musibah. Dia minta cerai ke suaminya karena katanya suaminya jadi korban pelakor" Hah?!!! Kok tahu mbak?" Yah kan si B nulis dan minta doa di FB"


Yup.... itulah kenyataan dunia sekarang. Orang yang tidak pernah kita kenal atau bahkan ketemu langsung (hanya kenal dari status2 atau sosmed) bisa menjadi bahan diskusi dan kita bisa tahu kisah hidupnya, suka dan dukanya, pekerjaannya, kemana saja mereka, bahkan kapan mereka kentut dan sembelit (yang ini mah hiperbol banget!!)


Tak jarang, sosmed ini selain jadi sumber Rezeqi tapi juga menjadi sumber masalah antar teman, antar tetangga, antar rekan kerja atau bahkan pasutri. 


Dumay alias dunia maya adalah dunia unik. Kenapa aku bilang unik? Karena a wide range of emotion bisa terbentuk hanya dari mantengin sosmed di atas kasur sebelum tidur, nunggu taxi, minum


Kopi, leyeh2 di taman atau di tempat teraneh sekalipun. 


Apa yang kita baca dan lihat di sosmed terutama Facebook bener2 bisa membuat dunia seseorang menjadi oleng atau menjadi sempit atau menjadi eforia atau menjadi penuh makna bahkan menjadi makin cinta (Ciyeeeeeh) dan yang paling hebat adalah bisa menunjukkan seseorang kepada hidayah Islam.


Ada banyak alasan kenapa orang gabung ke FB. Fb yang mulai di bentuk tahun 2004 dan launch ke publik tahun 2006 kini sudah punya lebih dari 2,2 trilyun akun. Tak heran anak2 di ujung desapun punya akun Fb, suka update status dengan data plan yang harganya lumayan meski harus puasa makan siang supaya bisa beli data. 


Ditambah adanya YouTube, instagram yang bisa menciptakan selebriti dadakan hanya dengan tindakan konyol, goyonan alay, mas2 akting jadi mbak2, meski ada juga yang mendidik. Hampir2 fenomena ini mengubah dimensi komunikasi menjadi lebih kompleks.


Nah yang menarik....ada yang ketagihan sampai2 bangun tidur bukannya baca doa tapi baca status dan update insta stories, atau tidak bisa berhenti nge-refresh untuk tahu berapa like yang di dapat, berapa komen yang diperoleh dan berapa Haters yang menghujat.


Tulisan ini bukan untuk membahas apa manfaat dan mudharat sosmed atau membahas ciri2 orang yang kecanduan sosmed Silahkan tanya mbah Google saja! Pasti bisa jawab) tapi yang ingin aku soroti adalah fenomena dimana banyak yang menjadikan sosmed (wabil khusus Fb dan instagram)sebagai cermin dan standar untuk mengukur keberhasilan seseorang. 


Dari kisah pribadi yang aku sendiri dengar, seseorang jadi punya rasa Dendam, benci dan bermasalah dengan kakak iparnya (yang tinggal jauh di negara antah berantah) hanya karena dia melihat si Kakak ipar posting photo makanan hasil buatan dia sendiri beberapa jam setelah ngadu ke ibu mertua kalau dia ga punya uang untuk beli susu. Hah?!! Bingung kan? Pegangan baju dulu....


Jadi si A bercerita, dia sempat ilfeel alias ilang feeling ke iparnya hanya karena iparnya "terlihat"(awas pakai tanda petik) berbohong saat bilang dia ga punya uang. Beberapa jam setelah ibu si A mengadu kepada A kalau menantunya ga punya uang, di kasih lah uang tadi ke menantu(padahal si ibu mertua ini pensiunan yang pas pasan). Eh lah dalah beberapa jam setelahnya si menantu ini posting di Fb kalau dia habis bikin kue lezat (yang jelas2 butuh duit ekstra untuk bikin)! Si A ngelihat postingan itu dan ngerasa ga terima karena ibunya udah di bohongi. Kalau ga punya uang, kok mampu bikin kue lezat? Jangan2 uang yang seharusnya digunakan untuk membeli susu dipakai membuat kue (huuuh). Akhirnya A melabrak saudara laki2 nya dan jadilah perang saudara! 


Poin tulisan ini juga bukan tentang perang saudara Gara2 fb! Duh... mbulet amat sih! Tenang sodara.... poinku, be smart! Be sensible and be real! 


Seperti deskripsi dalam poto, Fb bukanlah standar dan ukuran dari bahagia tidaknya seseorang, berhasil dan suksesnya seseorang, baik buruknya sesorang, apa yang mereka tampakkan di layar HP anda melalui Share status dan photo2 adalah hal yang mereka pilih untuk di tunjukan. Apakah salah? Nggak juga (kecuali kalau niatnya menyombongkan diri atau menghasut dan memfitnah atau tujuan2 haram lainnya) 


Yang keliru adalah jika kita yang "terlena" dan merasa hidup kita "kurang" dan belum Sempurna hanya karena kita belum memiliki kehidupan seperti mereka2.


Yang mungkin keliru adalah cara pandang kita dalam mengukur dan mendefinisikan arti sebuah kesuksesan. 


Yang keliru bisa jadi perasaan kita yang masih dengan mudah di ombang ambing kan oleh berita2 hoax atau status2 yang bikin ngiler!


Fb menawarkan banyak informasi, pandai2lah menyortir dan menyaring dan pilihlah yang memberi positive impact dalam kehidupan keseharian kita. 


Tata perasaan dengan yakini bahwa kebahagiaan itu akan bisa kita raih meskipun kita tidak seperti si A B atau C.


Yakinlah bahwa A B dan C juga melewati perjuangan hanya saja mereka tidak membaginya kepada dunia!


YOU THINK YOU KNOW SOMEONE, BUT WHAT YOU REALLY KNOW IS ONLY WHAT THEY CHOOSE TO SHOW YOU!


Umm Nusaybah 

London 

25 April 2018


Tuesday, 10 April 2018

14 years! 



14 years ago...

We were complete strangers to one another

Never I heard such a beautiful name as yours 

Never I knew a well-planned man like you

Never I knew someone as forward thinking as you

Never I feel doubtful nor worried knowing you 

who would take my hands for marriage from my beloved father


I couldn’t be more sure than the day you asked me to be your wife

Even though we never met before

But my heart and mind said you’re the one I am looking for 

Many would say I have gone mad

To marry someone I have never met

Many would ask...

How could it be?

I build a life with someone I never see


I said to them that I had one condition

Whoever agreed to this would meet my expectation 

And you were the first person ever agreed

To the condition I had been holding on tight


With the reliance to Allah ﷻ 

We embarked on the journey to build family

For His sake we navigate this married life

Hoping the reward for being patient to one another 

In time of hardship and in time of ease


I am well aware I am not perfect

But having you in my life make me realised

That we don’t have to be great

We just need to try our best

To respect and fulfil our duties outlined by The Most Sacred


I pray Allah ﷻ would please with us

And grants Jannah for the effort we make

For this life is purely a place of transit

The main prize is that as long as He’s SWT pleased!


Mabruuuuuk to my twin too Umm Adam 🤗


Indonesia - 10/04/2004


London - 10/04/2018


PS: picture was taken on our wedding day. My father arranged the horse carriage as a surprise for us and then he made us went around the village on the way to home from the masjid where we made nikah 🙂

Monday, 26 March 2018

Dream Big


Dua hari yang lalu, aku ngobrol dengan anak tetangga yang usianya sekitar 12 tahun. Kita bicara tentang cita cita. Dia bertanya kepadaku waktu aku masih kecil, apakah aku selalu ingin menjadi dokter? Jawabanku seperti jawaban2 yang selalu aku sampaikan kepada siapapun yang bertanya bahwa aku ingat sekali aku ingin menjadi seorang astronot! 


Entah kenapa aku bercita cita menjadi astronot, tapi cita2 itu menjadikan ku suka dengan bahasan alam semesta, bintang dan formasinya, bahkan sampai sekarang! 


Meski yang aku sukai adalah yang gak njlimet2 amat senjlimet bahasannya Stephen Hawking, tapi cukuplah untuk membuatku makin penasaran dan menganga lebar akan Hebatnya Allah ﷻ


Hanya saja, layaknya kebanyakan orang tua, ibuku sangatlah kukuh menginginkan aku menjadi seorang dokter! Beruntung sekali aku punya seorang ibu (Allah Yarhamu) yang jelas dan tegas dalam memegang visi, misi dan mimpi. In a way I must thank her for her vision, she gave me a sense of purpose and target which I couldn’t devise it for myself at such a young age! 


Bukan hanya bermimpi, tapi beliau benar2 mencari informasi, melakukan usaha apa saja supaya visi dan mimpi itu tercapai. 


Mulai dengan les privat hampir di semua mata pelajaran, target nilai yang harus aku raih, target danem tiap jenjang sekolah, target SMA dan universitas yang harus aku masuki. Semua sangat tertata rapi dan beliau tidak pernah lengah sedikitpun!


Dengan Bantuan dan Rahmat Allah ﷻ, mimpi itu terwujud!


Aku yang hanya seorang anak perempuan dari sebuah desa terpencil, bapak seorang guru, Ibu seorang wiraswasta yang tidak pernah mampu menyelesaikan sekolahnya karena masalah biaya, ga punya silsilah yang pernah menjadi dokter, ga punya silsilah yang pernah mengenyam dunia kuliah di PTN (kecuali paman yang juga karena gemblengan ibuku) akhirnya berhasil juga mewujudkan mimpi ibuku. Meski 7 bulan sebelum sumpah dokter beliau dipanggil Allah setelah sakit yang di derita selama 5 tahun, tapi mimpi dan tujuan yang beliau tanamkan sejak kecil benar2 menjadi kenyataan.




Cerita ini bukan untuk “show off” atau memuji kehebatan ibuku (meski aku yakin setiap anak akan selalu percaya bahwa ibu mereka adalah ibu terhebat sedunia) tapi sekedar fakta yang aku alami sendiri dan meninggalkan pelajaran bagiku pribadi dan aku berharap bagi siapapun yang membaca bahwa: 




Hidup ini cuma sekali, kesempatan ini selayaknya diukir dengan visi yang jelas (I’m not talking about misi untuk meraih Ridha Allah - which is obvious, tapi lebih detail dari itu dan tidak lagi gambaran abstrak).


Mimpi besar (misalkan ingin menjadi da’i yang tangguh, menjadi ibu hebat, menjadi dokter dan penghafal Quran, menjadi penulis, menjadi interior designer, menjadi ahli tafsir, mimpi punya anak soleh/ Solehah, mimpi punya keluarga samawa, termasuk mimpi punya badan kurus dan langsing spt jaman SMA 😂dll) di barengi dengan


1. Tawakal yang maksimal kepada Allah ﷻ 


2. Langkah praktis dan realistis untuk meraihnya (the most crucial part yet often to be the most disregarded)


3. Evaluasi di tiap persinggahan 




Adalah kunci keberhasilan.




Kalau hanya punya visi dan mimpi tanpa ada rencana matang dan langkah yang jelas maka mimpi itu hanya akan menjadi sekedar mimpi!




Pesan sponsor: Jangan takut bermimpi..... the only thing stopping you is yourself! 

Hakikat Pertemanan*

Oleh: Yumna Umm Nusaybah Member Revowriter, London  Pernahkah kita dikhianati oleh seorang teman? Atau bahkan oleh sahabat yang sudah kita a...