Saturday, 24 November 2012

Khusyuknya Sahabah ansariyah - Abbad bin Bishir dalam membaca Quran

Mengenang Abbad dan Dzatur Riqa’

Aisyah Ra pernah menyampaikan 3 tokoh utama kaum Anshar, Sa’ad bin Muadz, Usaid bin Hudhair dan yang terakhir adalah Abbad bin Bisyir. Kita akan menengok sejenak tentang salah satu dari mereka, Abbad bin Bisyir. Seperti yang kita ketahui, Anshar adalah inti dari dakwah masa awal, Anshar adalah kaum yang ikhlas dan senantiasa dalam naungan Rasululullah pasca hijrah, keutamaan Anshar sungguh tak bisa dihitung. Siapa Abbad?


Hari ini ingin kuceritakan satu kisah tentangnya yang membuat hati ingin bertemu orang-orang seperti ini setelahnya,

Selepas perang Dzatur Riqa’, para pasukan muslimin menginap di perjalanan dan membangun tenda di satu wilayah. Hirosah ketika itu diamanahi kepada Ammar bin Yasir dan Abbad sendiri, hirosah adalah tugas menjaga, tugas yang sederhana, tetap terlelap di waktu malam, namun sebenarnya ada amanah dalam tugas sederhana ini, yaitu memastikan tenda dan kaum muslimin yang beristirahat tetap aman. Abbad melihat Ammar kelelahan selepas perang, ia pun menganjurkan Ammar untuk istirahat terlebih dahulu, dan nantinya hirosah bisa dilakukan bergantian.

Sepanjang hirosah, Abbad berpikir “kenapa aku tidak melakukan Qiyamullail saja sembari mengisi hirosah”. Lalu ia pun bangun dan beribadah pada Tuhannya dengan khusyuk dan syahdu. Tak lama dalam keheningan itu, panah musuh mengenainya, ternyata ada penyusup yang masih menguntit pasukan, namun yang membingungkan, Abbad tetap hening dalam Qiyamullail, lalu panah kedua pun mengenainya. Tapi…Abbad tetap khusyuk dengan shalatnya, ada apa?. Tak lama, sebelum tasyahud akhirnya ia membangungkan Ammar yang mendapati rekannya sudah terluka. Setelah terjaganya Ammar dan suara yang mengusik, para pasukan musuh di malam gelap itu kabur untuk menghindari pertarungan yang bisa ditimbulkan. Ammar, sama seperti kita mungkin heran, kenapa?, kenapa Abbad tidak langsung membatalkan shalatnya dan membangunkan Ammar untuk sigap menghadang musuh?

Ammar bertanya, “Mengapa aku tidak dibangunkan ketika kamu dipanah untuk yang pertama kali tadi?”

Abbad menjawab,

Ketika aku shalat tadi, aku membaca beberapa ayat Al-Quran yang sangat mengharukan di hatiku sehingga aku tidak ingin memutuskannya. Demi Allah, kalau tidaklah akan menyia-nyiakan pos penjagaan yang ditugaskan Rasul kepada kita menjaganya, sungguh aku lebih suka mati daripada memutuskan bacaan ayat-ayat yang sedang kubaca itu.”

Begitulah Abbad bin Bisyir dengan kecintaannya yang sangat kepada Rabb dan rasul-Nya.

Bagaimana dengan aku dan kau?, pernahkah kita meresapi kalamullah yang utuh hingga zaman berakhir itu, karena ia telah dijamin kemurniannya hingga bumi mengalami usia akhirnya.

Wallahua’lam
Sumber: SINI

Wednesday, 1 February 2012

Ternyata si mba bagian bersih bersih itu.....

Ini adalah sambungan dari postingan bulan desember lalu...
aku sudah janji untuk menulis tentang kisah kedua tentang bagaimana kita seharusnya menghindar dari menghakimi orang lain dari status pekerjaannya.

Al Kisah, di tempatku bekerja...setiap weekend (sabtu dan minggu) ada mba muda muslimah, berkerudung, usia 30-an yang bertugas mengambil sampah sampah medis, membersihkan meja2 pasien, mengantar air dan juga menyiapkan makan malam dan makan siang pasien. Bisa di bilang pekerjaannya buuuanyak, berat dan penuh dengan tuntutan fisik. Dia harus angkat sana angkat sini, dorong sana dorong sini, dan sejenisnya. Tak heran setiap kali di akhir shiftnya dia nampak capek sekali. Aku selalu sempatkan mengucapkan salam, bertanya kabar dia dan ngobrol sedikit sana sini. 

Suatu hari obrolanku bermula karena aku lihat dia sedang duduk di pojok dapur Rumah sakit sambil membaca buku setebal bantal. Aku tanya dia buku apa yang dia baca, dia bilang; "it's a law book"
makin penasaran aku tanya kenapa kok baca buku ttg law? dia jawab: "I am in the second year of studying law in University" MashaAllah!!! sontak kaget aku mendengarnya....

Hebat! kesan pertama yg muncul dariku, selain dia seorang ibu dari satu anak, dia udah berusia 30-an, dia kerja banting tulang sabtu minggu tp subhanAllah di hari hari lain dia full time student di fakultas hukum. Mimpi dia adalah menjadi lawyer. Ternyata dia datang dari keluarga berpendidikan dan bapak ibunya adalah praktisi hukum di Bangladesh. Semangat itu dia warisi dari kedua orang tuanya. 
Kadang anaknya juga mengeluh kenapa dia selalu sibuk, kalau tidak bekerja dia harus belajar. Namun semua harus dia lakukan demi masa depan seluruh keluarga. 

Ibrah: tidak ada yang menyangka seseorang yang bekerja sebagai tukang bersih2 di RS adalah seorang calon pengacara. Kolegaku ini tidak pernah berkoar koar dan menuntut untuk di hormati tapi kerendahan hatinya membuat ku semakin respect kepada dia.

Orang yang berilmu dan suka 'pamer' dan merasa penting karena ilmunya adalah hal biasa, namun orang yang semakin rendah hati karena semakin banyak dan semakin dalam ilmunya adalah luar biasa. 

Islam mengajarkan kita untuk selalu rendah hati apapun posisi kita dan saat yg sama tidak judgemental terhadap orang lain yang kelihatannya 'kurang' dari kita.

Percaya atau nggak, Gubernur London yang dulu (Ken Livingstone) sukanya naik kereta bawah tanah bareng2 rakyatnya, perdana menterinya (David Cameron) suka naik sepeda kalau mau ke House of Parliement, gubernur London yang sekarang (Boris Johnson) naik sepeda juga ke mana mana. Profesi adalah pilihan dan masing2 memiliki peran pentingnya di masyarakat.

smg kita termasuk orang yang humble dengan segala apa yang telah Allah anugerahkan untuk kita. Amin