Monday, 5 December 2011

Menghakimi seseorang dari penampakan dan pekerjaan

Assalamualaikum semuanyaaa...

wah hampir 5 bulanan deh gak ngeblog.....blog2 terakhir isinya juga copy paste dari blog lain...mohon maaf sekali...biasalah aku lebih disibukkan dengan kegiatan sebagai seorang ibu, kerja part time, kegiatan dakwah di area tinggalku dan kerjaan rumah...
saat yang sama aku juga ingin menyapa semua teman2 mayaku yang selama 6 tahun terakhir setia membaca blog ku dan 'follow' postinganku....

barusan aku baca2 postingan lama, indah juga ketika dibaca...jadi mengingatkan skenario kejadian di masa lalu...meski mungkin ada yang bosan membacanya, merasa gak mendapat manfaat atau hal2 negatif lainnya...tapi secara pribadi...I like to read again what I have written.

kali ini ingin sekali menulis tentang sebuah percakapan dengan kolegaku di RS yang membuatku merenung....ada 2 kisah yang bisa menjadi pelajaran bagiku pribadi dan oleh karenanya aku bagi disini....

Tinggal di London yang merupakan multicultural city alias kota campur sari dimana sebagian besar penduduknya adalah warga imigran benar2 membuatku harus me-reset cara pandang dan cara berfikir.
Kalo di Indonesia, seseorang yang berprofesi sebagai satpam, tukang sapu, tukang bersihin dapurnya rumah sakit, hampir hampir kita akan menyimpulkan bahwa mereka adalah orang orang yang kurang beruntung dalam hal pendidikan, oleh karenanya mereka harus menjalan profesi yang bergaji kecil seperti itu. Pada kenyataannya memang banyak yang demikian, namun semestinya tidaklah kita boleh berfikiran semacam itu. Belum tentu orang yang pekerjaannya serabutan dan bukan pekerjaan yang menuntur jenjang sekolah sebenarnya memiliki kemampuan begitu begitu saja. Ini yang aku buktikan ketika tinggal di London.

Sering kali kita menghakimi seseorang dan memberikan penghargaan/ respect terhadap seseorang berdasar pada profesi mereka. Sekarang coba bayangkan....jika kita bertemu dengan seseorang yang sedang menyapu jalan, apa reaksi kita? ah....orang ini hanya penyapu jalan, gak penting....tapi jika setelah itu dia masuk ke kampus dan ujung ujungnya kita tahu dia adalah seorang mahasiswa yang mencari uang tambahan dengan menyapu jalan...pasti rasa itu berubah menjadi kekaguman....subhanAllah.....rendah hati sekali mahasiswa ini, dll.....betul kan?

nah Pengalamanku sangat sangat mirip dengan peristiwa tadi.

Kisah si A.
Sebut saja namanya Lili.....dia asli dari Siera Lion, sebuah negara di Afrika. Dia wanita cantik berkulit hitam. Seorang domestic worker di bangsal tempat aku bekerja.....kerjaannya membersihkan area bangsal, menyiapkan makanan untuk pasien, membuang sampah2 medis dan mengepel lantai dapur, dll...
Dia seorang muslim meski tidak memakai kerudung tapi dia selalu puasa saat ramadhan. Orangnya baik hati, sangat cheerful dan sangat ramah. Suatu hari aku mendapat kesempatan untuk berbicara panjang lebar dengan dia....
Dia bercerita tentang betapa bahagianya hari itu....apa pasal? karena dia baru mendapat telpon dari OXFORD UNIVERSITY bahwa anak laki lakinya mendapat beasiswa untuk kuliah di sana jurusan Tehnik aeronatika. SubhanAllah! beasiswa berarti bebas biaya...Lily tidak akan mengeluarkan uang sepeserpun untuk pendidikan tinggi anak laki lakinya....Usut punya usut ternyata dia juga memiliki anak perempuan yang juga sudah selesai kuliah dan bekerja menjadi seorang profesional. hampir 10 tahun lily bekerja menjadi domestic worker dan tiap hari dia jalani dengan penuh senyum dan bahagia. Kadang kala dia mengeluh sakit punggungnya karena terlalu banyak menanggung dan mengangkat benda berat dikarenakan tuntutan kerja, tapi apa boleh buat, semua demi menghidupi keluarganya.

Saat aku tanya apa rahasianya sehingga anak anaknya berhasil? Lily menjawabnya dengan penuh keyakinan: I invest my time for them Jawab dia!.dia kisahkan bagaimana dia berlari pontang panting untuk mencarikan buku2 pelajaran untuk anak2nya...dari satu perpus ke perpus lain, dia tidak mampu membeli tapi dia upayakan semaksimal mungkin, entah dengan membeli second hand atau pinjam ke perpus atau beli dari negeri Siera Lion yang notabene harga buku lebih murah. 
Tiap malam seusai makan malam, dia akan habiskan duduk menemani anak2nya mengerjakan PR, sang anak belajar, dia juga belajar, membaca koran dan berita2 politik. Hal lain yang aku kagumi dari lily adalah Kesadaran politik dia. Meski hanya di dapur kerjannya tapi dia orang pertama yang selalu bertanya kepadaku tentang bagaimana komen2ku berkaitan dengan peristiwa politik dunia...SubhanAllah! mulai dari kasusnya Muammar Gadafi, Obama, dll.....belum pernah aku lihat orang seantusias dia  ketika berbicara tentang masalah politik. Pasti kita berfikir untuk apa dia harus membaca berita2 spt itu? aku juga sempat tanyakan kepada lily dan jawaban dia sungguh memukau. Dia jawab:'if you don't know what's going on around the world then you won't revolve with the world. Kamu akan tertinggal, membaca membuka cakawala, membuat kita pandai dan mengerti segala hal!' ungkap Lily
jujur aku terkaget2 mendengar jawaban itu, sangat dalam dan bermakna, aku tanya kembali apakah dia dulu kuliah juga...dia jawab: Yes and I used to teach in High school backhome!'

aha! ketemu dah jawaban dari rasa penasaranku.....ternyata meski seorang domestic worker yang kerjaannya ngepel, nyapu dan cuci piring tapi dia adalah orang yang meraih pendidikan tinggi!

Khatimah: Don't judge the book by its cover! sungguh pengalaman berharga bagiku.

kisah selanjutnya disambung kapan2 yah!