Monday, 16 May 2011

Materi Kajian Mutiara Online 30 april "Menjadi bidadari bumi dengan kepribadian Islami"

Bila kita cermati terdapat dua fenomena yang secsra fisik nampak pada diri manusia.Pertama, adalah fenomena performance (penampilan fisik) manusia, seperti bentuk tubuh, wajah dan pakaian.Kedua adalah fenomena yang berupa perbuatan manusia.Dari dua fenomena tersebut, orang kadang salah menilai tentang kepribadian seseorang.Banyak yang beranggapan bahwa performance adalah bentuk dari kepribadian seseorang, yaitu bagaimana postur tubuhnya, cara berjalan, cara berpakaian, pilihan konsumsi makanan dan minuman, status social dsb. Anggapan ini tidak terlepas dari pengaruh nilai-nilai barat tentang konsep kepribadian. Semakin mempengaruhi persepsi kaum muslimin dalam memandang kemuliaan dan kerendahan nilai kepribadian pada diri seseorang maupun masyarakat.Seseorang yang berpakaian ala barat, santun dalam berkata, rapi, disiplin, pemaaf, tepat waktu, dikatakan berkepribadian baik, menarik dan mulia. Meskipun ia biasa mengkonsumsi minuman keras, hidup tanpa ikatan pernikahan, memakan uang riba, dll. Contoh-contoh lain dapat dengan mudah kita temukan di tengah-tengah masyarakat.Persepsi ini diperparah dengan menjamurnya sekolah-sekolah kepribadian yang mengajarkan kepribadian baik dan mulia sesuai nilai baik dan mulia standar barat. Pengertian Syakhshiyah (Kepribadian)Kepribadian barangkali mirip sebuah energi. wujudnya sendiri adalah sesuatu yang abstrak. Orang hanya dapat menilai “dampak” yang ditimbulkannya. Disinilah titik kemungkinan orang berbeda dalam mendefinisikan makna “pribadi”.Ada yang menganggap, pribadi (kepribadian) adalah suatu sifat yang khas yang dimiliki oleh seseorang, yang dengan itu ia menjadi sosok yang khas, berbeda dari yang lainnya, Itu yang sering dikatakan sebagai watak atau karakter. Misalnya, watak keras, lemah lembut, dan kompromis. Watak, sesungguhnya tidak menunjukkan tinggi rendahnya pribadi seseorang. Orang Batak yang terkenal dengan sifat kerasnya tidak menjadi lebih rendah nilai kepribadiannya dibanding dengan orang Jawa yang lemah lembut. Watak keras Umar bin Khathab tidak menjadikannya lebih rendah dibandingkan Utsman bin Affan, yang dikenal lembut. Watak, memang lain dengan pribadi. watak adalah potensi dasar yang akan turut mewarnai pembentukkan kepribadian. Demikian juga sifat-sifat yang menonjol pada diri seseorang, semacam sifat teratur, rajin, hemat, telaten, jujur, hipokrit, pengacau, sombong dan lain-lain; tidak bisa dikatakan sebagai pribadi. Sebab sifat-sifat tersebut hasil bentukkan dari sebuah pribadi. Ini hanyalah sebuah gejala, bukan asas.Kepribadian atau dalam bahasa Arab disebut Asy-Syakhshiyyah, berasal dari kata syakhshun. Artinya orang, seseorang, atau pribadi. Kepribadian bisa diartikan jati diri seseorang (haqiiqatu asy-syakhshi). Kepribadian seseorang ditentukan oleh cara berfikir (aqliyyah), yaitu cara seseorang memikirkan sesuatu berdasarkan suatu standar tertentu atau bagaimana seseorang mengkaitkan fakta dengan informasi sebelumnya (dan sebaliknya) berdasarkan suatu standar tertentu dan cara berbuat (nafsiyah), yaitu aktivitas untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya Hakikat Kepribadian Bila kita cermati realita di atas, tentu hal tersebut merupakan persepsi yang keliru. Sebab yang menentukan tinggi rendahnya kepribadian seseorang bukan dari nilai-nilai fisik seseorang (cantik/tidak, kaya/miskin dsb) ataupun dari asal daerah dan sukunya (jawa, batak, sunda dll) Sebagaimana sabda Rasullulah SAW : “Sesungguhnya Allah tidak menilai atas rupamu serta harta kekayaanmu, akan tetapi dia hanya menilai hati dan amal perbuatanmu” (HR. Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah) Kepribadian sebenarnya perwujudan daripola pikir (aqliyah - bagaimana seseorang berfikir –yaitu memadukan antara informasi dan fakta berdasarkan suatu kaidah tertentu. Kaidah itulah yang disebut dengan aqidah, yang akan mendasari pembentukan syakhshiyah pada seseorang.)pola jiwa/tingkah laku (Nafsiyah adalah suatu cara bagaimana seseorang memenuhi kebutuhannya yang berdasar pada kaidah tertentu)Pola pikir seseorang ditunjukkan dengan sikap, pandangan atau pemikiran yang ada pada dirinya dalam menyikapi atau menanggapi berbagai pandangan dan pemikiran tertentu. Pola pikir pada diri seseorang tentu sangat ditentukan oleh ‘nilai paling dasar’ atau ideologi yang diyakininya. Dari pola pikir inilah diketahui bagaimana sikap, pandangan atau pemikiran yang dimiliki oleh seseorang.Contoh: berbohong itu salah, kenapa? ada yang berasalan yah karena semua orang memandangnya buruk/ atau karena merugikan orang lain. Namun ada yang melihat berbohong tidak selalu buruk, semisal berbohong di medan tempur bahwa kita punya kekuatan sekian ribu tentara, berbohong untuk mendamaikan orang, berbohong untuk memunculkan rasa kasih saying diantara suami dan isteri -> pemahaman yang terakhir adalah pemikiran yg berlandas pada Syariat Islam dan tidak hanya universal value atau asas manfaat saja.Sedangkan pola tingkah laku, adalah perbuatan-perbuatan nyata yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Pola tingkah laku pada diri seseorang pun sangat ditentukan oleh ‘nilai paling dasar’ atau ideologi yang diyakininya. Seseorang akan makan dan minum apa saja dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal tersebut. Seseorang akan memenuhi naluri seksualnya dengan cara apa saja bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal tersebut. Begitu juga sebaliknya bila ideologi yang diyakininya melarangnya.Walhasil, pola sikap dan pola tingkah laku inilah yang menentukan corak kepribadian seseorang. Dan karena pola sikap dan pola tingkah laku ini sangat ditentukan oleh nilai dasar/ideology yang diyakininya, maka corak kepribadian seseorang sangat bergantung pada ideology/aqidah yang dianutnya. Ideologi kapitalisme akan membentuk masyarakat berkepribadian kapitalisme-liberal yang serba berasaskan manfaat dan materialistic (tidak ada kata halal ataupn haram) Ideologi sosialisme akan membentuk kepribadian sosialis/komunis yang cenderung meniadakan Tuhan. Sedangkan ideology Islam seharusnya menjadikan kaum muslimin yang memeluk dan meyakininya memiliki kepribadian Islam. Pembentuk Kepribadian IslamSyakhsiyah Islamiyah terbentuk dari aqliyah Islamiyah (pola pikir Islam) dan nafsiyah Islamiyah(sikap jiwa Islami). Artinya, seseorang dikatakan memilikii syakhshiyah Islamiyah, jika dalam dirinya terbentuk aqliyah dan nafsiyah yang Islami. Dikatakan memiliki aqliyah Islamiyah, jika ia berfikir secara Islami. Setiap ide atau informasi yang ia terima, di-qiyas-kan atau distandarisasikan dengan aqidah dan pemikiran-pemikiran Islam. Dan ia dikatakan memiliki nafsiyah Islamiyah, disaat muncul kecenderungan untuk melakukan suatu perbuatan dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya, ia pertimbangkan dengan landasan aqidah Islam. Tidak begitu saja lepas kontrol, atau memakai alat pertimbangan lain semisal asas manfaat/ standard masyarakat/ atau malah desireProsesnyaseseorang yang telah memiliki aqidah Islam, -tentu melalui pemahaman, bukan sekedar taqlid buta- selanjutnya akan memfungsikan aqidah itu dalam pembentukan aqliyah dan nafsiyahnya. Caranya, setiap ia mendapat ide atau informasi, ia akan mengukurnya dengan aqidah Islam. Demikian juga kala ia terdorong untuk melakukan suatu perbuatan, demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Contohya, di saat ia mendapat pemikiran, bahwa ada kebolehan membungakan uang, asalkan untuk menolong rakyat, bukan untuk menjerat leher, atau bunga pinjaman bersifat produktif, bukan konsumtif. Kemudian ia mengecek dan menstandarisasikannya dengan dalil-dalil ataunash yang ada, maka berarti ia memiliki aqliyah Islamiyah. Tapi, jika kemudian menggunakan dasar pemikiran, bahwa di situ ada keuntungan yang dapat diambil, sehingga boleh dijalankan, berarti dia berfikir tidak Islami. Jika hal-hal seperti itu menjadi kebiasaan sehari-hari, berarti ia tidak memiliki pola pikir Islam (aqliyah Islamiyah). Contoh nafsiyah Islamiyah, seseorang mempunyai potensi internal berupa dorongan seksual (dawafi’ul jinsiyah). Suatu saat gharizahnya bangkit dan menuntut pemuasan. Jika pada saat itu hukum-hukum Islam masih menjadi pertimbangan untuk melakukan suatu tindakan, maka berarti di dalam dirinya masih ada sikap jiwa Islam (nafsiyah Islamiyah). Demikian juga di saat muncul keinginan-keinginan lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Misalnya, di saat ia merasa lapar, haus, ingin memiliki sesuatu, ingin berkuasa, dan lain-lain. Ada atau tidaknyanafsiyah Islamiyah, ditentukan oleh ada tidaknya tindakan untuk mendasari setiap kecenderungan (al muyuul)-nya dengan Islam. Jadi, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyah Islamiyah, jika ia memiliki aqliyah dan nafsiyah yang Islami, lepas dari kuat atau lemahnya syakhshiyah Islamiyah yang dimilikinya.Setiap orang yang berfikir atas dasar Islam dan menjadikan nafsunya tunduk di bawah aturan Islam, berarti ia memiliki syakhshiyah Islamiyah. Tetapi perlu dicatat, Islam tidak menganjurkan ummatnya memiliki kepribadian Islam yang pas-pasan. Yang dibutuhkan Islam adalah kepribadian yang tangguh, kuat aqidahnya, tinggi tingkat pemikirannya, dan taat mengerjakan ajaran-ajaran Islam, bukan pribadi yang laksana buih, mudah berubah, gampang goncang dan rapuh. Pribadi-pribad semacam ini tidak akan tahan lama. Apalagi menghadapi tantangan zaman seperti sekarang ini. Ia akan mudah lenyap ditelan masa. Metode Memperkuat Syakhshiyah IslamiyahBagaimana membentuk syakhshiyah Islamiyahyang kuat dan tangguh, atau pribadi muslim yang cerdik, cekatan, tawadhu, istiqomah dan tawakal? syakhshiyah yang sudah terbentuk, jangan dibiarkan apa adanya saja. Jangan disia-siakan apalagi dihancurkan. Pribadi harus diperkuat, ditumbuhkan dan dikembangkan. Caranya, dengan meningkatkan kualitas aqliyah dan nafsiyah Islamiyah.Kualitas aqliyah Islamiyah ditingkatkan dengan menambah perbendaharaan khasanah keilmuan Islam (tsaqofah Islamiyah). setiap muslim agar memiliki semangat mencari ilmu, kapan dan di manapun. Dengan perbendaharaan ilmu-ilmu Islam yang cukup, diharapkan ia akan mampu menangkal semua bentuk pemikiran yang merusak dan bertentangan dengan Islam. Selembut apapun pemikiran yang merusak itu, akan mampu ia tangkal. Juga dengan itu diharapkan ia akan mampu mengembangkan keilmuan Islam. Atau, jika mungkin, ia akan mencapai tingkat mujahid atau mujaddid. Allah mengajarkan doa kepada kita :“Katakanlah: Ya Rabb, tambahkanlah ilmu kepadaku” (Q.S. Thahaa: 14) Sedangkan kualitas nafsiyah Islamiyah ditingkatkan dengan melatih diri melakukan ketaatan, menjalankan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah SWT.Islam memerintahkan setiap muslim mengerjakan amalan-amalan fardhu. Islam juga menganjurkan setiap muslim agar selalu menyuburkan amalan-amalan sunnah, menjauhi hal-hal yang makruh dan dengan sikap wara’ meninggalkan yang subhat. Islampun mengajarkan agar kita senantiasa berahlak mulia, bersikap wara’ dan qanaah agar mampu menghilangkan kecenderungan yang buruk dan bertentangan dengan islam. Jika di kerjakan semua itu, nafsiyah menjadi kuat dan mampu menolak setiap kecenderungan yang bejat dan bertentangan dengan Islam. Allah berfirman dalam sebuah hadits Qudsi : “… dan tidaklah bertaqarrub (beramal) seorang hamba-Ku dengan seseuatu yang lebih Aku sukai seperti bila ia melakukan amalan fardhu yang Aku perintahkan atasnya, kemudian hamba-Ku senantiasa bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah, sehingga aku mencintainya….” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah) Juga firman Allah SWT : “Maka berlomba-lombalah kamu dalam mengerjakan kebajikan” (Q.S. Al Baqarah: 147) Rasulullah bersabda: “Bagi setiap muslim menjadi keharusan atasnya shadaqah. Abu Musa bertanya: ‘Bagaimana bila ia tidak mendapati sesuatu untuk shadaqoh?’ Rasul menjawab: ‘Ia harus berbuat dengan kedua tangannya, yang dapat mendatangkan manfaat untuk dirinya, kemudian ia bershadaqoh.’ ‘Bagaimana bila ia tak bisa berbuat begitu?’ Jawab Rasul: ‘Ia harus beramar ma’ruf dan mengajak kepada kebajikan.’ ‘Bagaimana bila ia tak kuasa melakukan hal itu?’ Rasul menjawab: ‘Menahan diri dari keburukan (berbuat buruk) adalah shadaqah’” (HR. Bukhari dari Abu Musa). Semakin tua usia, semakin meningkat kualitas pribadi yang dimiliki. Pemikiran Islamnya bertambah cemerlang, jiwanya semakin mantap, dan ia semakin dekat dengan Allah SWT. Manusia Bukan Malaikat Perlu diwaspadai adanya kekeliruan yang sering kali muncul di kalangan kaum muslimin, yaitu gambaran yang salah, bahwa sosok pribadi muslim, adalah laksana malaikat. Tak pernah salah dan suci dari segala dosa. Padahal tak akan pernah ada orang seperti itu, selain Nabi dan Rasul. Semua manusia pernah berbuat dosa. Persepsi seperti tadi bisa berbahaya. Jika ia mempunyai gambaran seperti itu, dan ia tidak menemukan orang yang sesuai dengan bayangannya di tengah masyarakat, ia akan kecewa. Apalagi di saat ia menjumpai, ternyata orang yang dikagumi selama ini toh bisa juga salah. Dengan demikian, telah jelas bahwa pembentukan syakhshiyah Islamiyah dimulai dengan penetapan aqidah Islam dalam diri seseorang, lalu difungsikan sebagai tolok ukur (miqyas) dalam setiap aktivitas berfikir dan pemenuhan kebutuhannya. Kesalahan pada manusia dapat saja terjadi. Suatu saat pemikirannya dapat terlepas dari aqidah, demikian juga kecenderungannya. Ia mungkin lalai, atau ia tidak tahu tentang soal itu. Apakah benar atau salah, halal atau haram. Allah SWT telah memperingatkan, agar kita tidak mengikuti hawa nafsu. Firman-Nya : “(Dan) janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. Sebab ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah” (QS. Shaad: 26)“Barangsiapa yang menghukumi tidak berdasarkan ketentuan Allah, maka mereka itulah orang-orang fasiq” (QS. Al Maidah: 47)“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah palingkan hati mereka. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasiq” (QS. Ash Shaaf: 5) Tampilan Khas Muslim berkepribadian Islam Allah SWT menggambarkan sosok-sosok pribadi muslim itu dalam berbagai ayat Al Quran, antara lain: “Muhammad itu Rasul Allah dan orang-orang yang bersamanya (shahabat) bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi saling berbelas kasih sesama mereka, engkau melihat mereka ruku dan sujud mengharap karunia Allah dan keridhoan-Nya. Tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS. Al-Fath: 29)“Dan orang-orang yang pertama-tama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang megikuti meraka dengan baik, Allah ridlo kepada mereka dan mereka pun ridlo kepada Allah” (QS. At-Taubah: 100)Begitu juga sebagaimana yang tercantum pada QS. Al-Mukminun 1-11, QS. Al-Furqon 63-74, QS. At-Taubah 89, dan lain-lain. Sifat-sifat khas pribadi muslim itu tidak ada kaitannya dengan penampilah fisik seorang mukmin. Tapi bukan berarti juga Islam mengabaikan penampilan fisik. Islam menganjurkan, agar setiap muslim memperhatikan dandanan, penampilan, pakaian, dan menggunakan wewangian seperlunya saat bergaul dengan sesama. Rasulullah bersabda : “Jika kamu mengunjungi saudara-saudaramu, maka perbaikilah kendaraanmu dan perindahlah pakaianmu, sehingga seolah kalian bagaikan tahi lalat (kesan keindahan) di antara manusia. Sesungguhnya Allah tiada menyukai hal-hal yang buruk” (HR. Abu Daud).“Suatu ketika Rasulullah saw melihat seorang lelaki yang rambutnya acak-acakan. Maka Rasulullah berseru: ‘Tidakkah ia menemukan sesuatu untuk merapikan rambutnya?’“ (HR. Imam Malik dalam “Al Muwaththo”, Ahmad dari Jabir r.a. )“Hendaklah kamu menggunakan ‘itsmad’ (sejenis celak), sebab ia bisa menjernihkan mata dan menyuburkan bulu mata” (HR. Turmudzi).Jadi, semua penampilan fisik tidak ada kaitannya dengan pembentukan syakhshiyah Islamiyah. Juga bukan merupakan sifat-sifat khas pribadi muslim, tetapi semata-mata penampilan (performance) yang memerlukan perawatan. Unsur-unsur Pelemah Syakhshiyah IslamiyahSeorang muslim adalah manusia biasa, ia bukan malaikat dan bukan iblis. Karena itu wajar jika kadang-kadang melakukan perbuatan haram, atau malas mengerjakan perintah-perintah Allah. Sekali, dua kali atau beberapa kali bisa saja itu terjadi pada dirinya, mungkin ia lalai. Bisa juga ia tidak tahu, bahwa perbuatan itu bertentangan dengan Islam dan sifat-sifat mulia seorang pribadi muslim. Atau mungkin setan telah merasuk dalam dirinya dan nafsu telah mencengkramnya, sehingga ia terjerumus dalam perbuatan dosa. Sehingga seseorang yang melakukan penyelewengan terhadap perintah dan larangan Allah, dipandang sebagai orang yang bermaksiyat kepada Allah. Di hari kiamat nanti, ia akan disiksa karena melakukan perbuatan itu atau dengan kata lain orang tersebut lemah syakhsyiyahnya. Oleh karena itu kepribadian seorang muslim tidak besifat langgeng, yang senantiasa melekat pada diri seorang muslim, karena kadang-kadang manusia khilaf, tergoda syetan atau lalai, sehingga terdapat kecacatan dalam tingkah lakunya. Memang benar bahwa manusia berbuat senantiasa sesuai dengan pemahamannya, tetapi pemahaman tidak selalu terikat dengan aqidahnya. Kadangkala pemahaman itu terlepas dari ikatan aqidahnya. Ada tiga kemungkinan yang mengakibatkan perbuatan manusia itu menyimpang dari aqidahnya.1.Pertama, manusia itu lemah, ia terkadang lengah dan melalaikan ikatan pemahaman dengan aqidahnya.2.Kedua, kadang ia tidak tahu bahwa pemahaman yang dimilikinya bertentangan dengan aqidah Islam.3.Ketiga, syetan beroperasi di hatinya sehingga ia berbuat melampaui batas, terlepas dari kontrol aqidahnya. Hal inilah yang akan memperlemah syakhsyiyyah seseorang dari sisi aqliyahnya. Sedangkan unsur pelemah dari sisi nafsiyah (tingkah laku) apabila seseorang tersebut tidak senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan banyak melakukan amalan-amalan wajib dan sunnah, menjauhi yang makruh atau pun yang syubhat dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Kepribadian Shahabat dan Tabi’inCiri khas syakhshiyah pada sahabat dan tabi’in berbeda-beda sesuai dengan tingkatan ilmu, aqliyah, kemampuan hafalan Al-Quran dan hadits Rasul.Abu Ubaidah bin Zarrah adalah salah seorang shahabat yang demikian teguh keimanannya. Beliau pantas menduduki jabatan khalifah, sehingga Abu Bakar sendiri pernah mencalonkannya sebagai khalifah dan menunjuknya ketika terjadi musyawarah di Tsaqifah Bani Sa’idah. Hal ini mengingat keahlian dan keamanahannya. Abu Ubaidah termasuk salah seorang shahabat yang menguasai dan hafal Al-Quran seluruhnya. Beliau mempunyai sifat amanah sehingga Rasulullah memujinya: “Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang yang terpercaya dan orang yang terpercaya dalam ummatku adalahAbu Ubaidah” (HR. Bukhari) Selain itu beliau memiliki sifat terpuji, lapang dada dan tawadhu’. Sangat tepatlah bila Abu Bakar mengangkatnya sebagai pengelola Baitul Maal dan pada saat yang lain beliau dipercaya sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam. Di kalangan shahabat terkenal pula seorang dermawan bernama Thalhah bin Zubeir, yang oleh Rasulullah pernah dijuluki Thalhah bin Khoir (Thalhah yang baik) dalam perang Uhud. Karena kedermawanannya ia juga mendapat gelar-gelar lain yang serupa, semisal Thalhah Fayyadl (Thalhah yang pemurah) pada saat perang Dzul ‘Aisyiroh, dan Thalhah Al Juud(Thalhah yang pemurah) dalam perang Khaibar. Beliau sering menyembelih unta untuk dibagikan kepada rakyat dan selalu menyediakan air untuk kepentingan umum. Beliau tak pernah lupa menyediakan kebutuhan orang faqir yang ada di sekeliling kaumnya (bani Tim) dan selalu melunasi hutang-hutang mereka. “Setiap nabi mempunyai hawari (pendamping) dan hawariku adalah Zubeir” (HR. Ahmad dengan isnad Hasan dalam “Al Musnad” jilid I/89 dan Al Hakim “Al Mustadrak”, jilid III/462).Beliau tidak pernah absen dalam setiap peperangan sejak masa Nabi Muhammad saw hingga masa Khalifah Utsman bin Affan. Demikian tinggi semangat jihadnya dengan lapang dada beliau menjual rumahnya untuk kepentingan jihad fi sabilillah. Rupanya andil yang tidak kecil inilah yang menyebabkan Zubeir bin Awwam termasuk salah satu dari enam orang yang berhak menduduki jabatan Khalifah menjelang berakhirnya masa Umar bin Khathab. Figur lain di antara shahabat yang ditunjuk Umar sebagai calon Khalifah adalah Abdurrahman bin Auf. Beliau adalah seorang dermawan yang memberikan sebagian besar hartanya untuk kepentingan jihad fi sabilillah, Az Zuhri meriwayatkan: “Abdurrahman bin Auf menanggung seluruh ahli Madinah. Sepertiga penduduknya diberi pinjaman, sepertiga lainnya membayar pinjamannya, sedangkan sepertiga sisanya diberikan sebagai pemberian” (Lihat “Si’ar A’lam An Nubala” karangan Imam Adz Dzahabi jilid I/88).Sedangkan dalam buku Miyatul Aulia karangan Abu Naim, disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf telah memerdekakan 30.000 orang hamba sahaya. Selain itu, diantara yang layak menduduki jabatan Khalifah dan komandan pasukan adalah Khalid bin Said bin Ash. Beliau diangkat oleh Rasul sebagai Wali di San’a (Yaman), kemudian di masa Abu Bakar beliau diangkat sebagai komandan pasukan untuk membebaskan Syam. Sedangkan saudaranya yang bernama Abban, pada tahun 9 Hijriyah diangkat oleh Rasulullah sebagai Wali di Bahrain. Di antara shahabat yang mempunyai keahlian di bidang pemerintahan dan perancangan tata kota adalah Utbah bin Hazwan. Beliau diangkat oleh Umar bin Khaththab sebagai Wali sekaligus menata kota Bashroh.Ada pula shahabat terkenal ahli pidato adalah Tsabit bin Qois, Abdullah bin Rawabah, Hasan bin Tsabit dan Ka’ab bin Malik.Dan tidak ketinggalan, shahabat Utsman bin Affan yang terkenal dengan sifat pemalunya, sampai-sampai Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya malaikat pun merasa malu kepadanya”Shahabat Khabab bin Mudzir, terkenal dengan kecermatan pendapatnya sehingga digelari Dzir Ra’yi (intelektual).Selain itu di masa shahabat terdapat seorang shahabat yang mampu berbicara dalam seratus bahasa. Ini adalah kemampuan yang tak tertandingi oleh bangsa dan ummat yang lain hingga kini. Beliau adalah Abdullah bin Ubeir.Zaid bin Tsabit mempunyai keahlian dalam bidang qadla/kehakiman dan fatwa. Shahabat yang ahli dalam pengkajian kitab Taurat adalah Abdullah bin Amr bin Ash dan Abil Jalad Al Jauli.