Monday, 29 August 2005

AH..CEMAS.....

Bila Cemas Mendatangi HatiPenulis: Manajemen Qolbu Online
[Kajian Bening Hati - Manajemen Diri]
Oleh : Aa Gym
Alhamdulillaahirabbil 'aalamiin, Allahuma shalli 'ala Muhammad wa'ala aalihi washahbihii ajmai'iin. Saudaraku yang budiman, kita janganlah pernah bermimpi dapat hidup dengan tenang dan bahagia sekiranya kita belum memiliki ilmu yang benar untuk mengarungi belantara dunia yang penuh dengan jebakan, rintangan dan ancaman berbahaya ini.
Cobalah tengok bagaimana kisah tarzan; semua hal yang mungkin dapat menyulitkan dan menyengsarakan, ternyata hal yang mudah saja bagi sang tarzan. Karena ia memiliki kunci pokok untuk mengatasi semua masalah dan kebutuhannnya tersebut, yakni ilmu. Ya tarzan tahu ilmu tentang seluk beluk hutan dan cara mengatasinya.
Tapi bandingkan dengan orang yang masuk ke hutan tanpa tahu seluk beluk hutan, tidak tahu cara menembusnya dan bagaimana menundukan binatang buas yang berkeliaran, niscaya dirinya akan dicekam perasaan tidak tentram, cemas, was-was, dan serba takut, walaupun dia berbekal ransel penuh dengan makanan, minuman, pakaian tahan dingin, dompet penuh uang serta senjata lengkap, tetapi karena tidak berbekal ilmu maka tetap saja kecemasan mendatangi hatinya.
Jadi apa sebenarnya ilmu untuk mengatasi rasa cemas dan was-was tadi? ilmunya hanyalah satu saudaraku, yakni ilmu dari Allah, dzat yang menciptakan dunia beserta segala isinya. Itulah Al Islam, dengan pedoman pokoknya berupa Al Qur’an dan As Sunnah. Semua rahasia kehidupan dunia dan akhirat dibeberkan dengan sempurna dan cermat di dalamnya, sehingga tidak ada satupun urusan, kecuali mesti ada rahasia jalan keluarnya.
Dengan demikian, kalau toh hidup ini kerapkali dicekam perasaan yang kacau balau dan menyengsarakan, maka penyebab pokoknya adalah karena kita kurang memahami ilmu dengan benar.
Dalam sebuah hadits dinyatakan, pada suatu ketika datanglah seseorang kepada Ibnu Ma’ud r.a, sahabat Rasulullah saw, untuk meminta nasihat. Wahai Ibnu Mas’ud, “ujarnya“ "berilah nasihat yang dapat kujadikan obat bagi jiwaku yang sedang dilanda kecemasan dan kegelisahan. Dalam beberapa hari ini aku merasa tidak tentram.Jiwaku gelisah dan pikiran pun serasa kusut, makan tak enak, tidur pun tidak nyenyak.”
Mendengar hal itu, Ibnu Mas’ud kemudian menasehatinya “Kalau penyakit seperti itu yang menimpamu, maka bawalah hatimu mengunjungi tiga tempat, yaitu ke tempat orang membaca Al Qur’an, kau baca Al Qur’an atau dengarkanlah baik-baik orang yang membacanya; atau pergilah ke majelis pengajian yang mengingatkan hati kepada Allah; atau carilah waktu dan tempat yang sunyi, kemudian berkhalwatlah untuk menyembah-Nya, misalnya di tengah malam buta, ketika orang-orang sedang tidur nyenyak, engkau bangun mengerjakan shalat malam, memohon ketenangan jiwa, ketentraman pikiran dan kemurnian hati kepada-Nya. Seandainya jiwamu belum terobati dengan cara ini, maka mintalah kepada Allah agar diberi hati yang lain karena hati yang kau pakai itu bukanlah hatimu.
Setelah orang itu kembali ke rumahnya, diamalkannyalah nasihat Ibnu Mas’ud tersebut. Dia pergi mengambil air wudhu. Setelah itu, diambilnya Al Qur’an, kemudian dibacanya dengan hati yang khusyuk. Selesai membaca Al Qur’an, ternyata jiwanya berubah menjadi sejuk dan tentram, pikirannya pun menjadi tenang, sedangkan kegelisahannya hilang sama sekali. Wallahu a’lam (mq)***

Friday, 26 August 2005

FOR MAMI....I DO LOVE AND MISS YOU..

Hari ini, tiga tahun lalu persis. Aku ingat betul, “tolong pulang ibu kritis” Pagi itu aku bangun, sempat terdengar suamiku berbicara dengan orang ditelpon, aku tidak ngeh apa yang dibicarakan,” ahh aku tidak enak badan, semua sendi terasa nyeri”, keluhku dalam hati. Tidak lama begitu suamiku selesai berbicara, dia minta aku untuk cepat berkemas, untuk pergi ke bandara. Ada apa? tanyaku dalam hati. Walau dia cuma bisa berbahasa sepatah-patah, “aku barusan pesan tiket, dapat kabar dari adik kamu, ibumu kritis, pulanglah” Aku langsung lari ke meja komputer, lihat email pagi itu, “Ibu Kritis”, begitu judul email dari adikku yang setia menunggu ibu di rumah sakit, ‘critical’ mungkin itu yang bisa suamiku tangkap. Tubuhku gemetar, langsung aku berkemas, kuambil baju ala kadarnya, yang penting bawa nappies untuk si kecil, pikirku. Persis jam 2 siang aku berhambur keluar, untuk segera berangkat ke bandara. Tidak tahu saat itu bahwa ibu persis pulang ke Penciptanya, jam 8 malam waktu Jakarta. Banyak doa yang kuingat dalam perjalananku ke Jakarta, memohon kepada Allah agar aku diberikan kesempatan untuk melihat ibuku, memohon maaf atas dosa yang pernah aku perbuat, tetapi walaupun Allah berkehendak lain aku memohon agar aku diberikan kesempatan untuk memandikan jenazah ibuku. Aku serahkan semua ini padaMu, karena Kau-lah yang berhak atas ini semua. Aku teringat kembali 3 bulan lalu pulang ke Jakarta lihat ibu sudah dalam kondisi yang menurun, badan kurus, wajah pucat, putih. “Aku pulang dulu, insya Allah kalau ada rejeki aku datang lagi” begitu kataku waktu mau pamit pulang sambil menggantikan baju ibu, ibu cuma bisa menangis, sambil mencium dan memelukku. Banyak sekali airmata saat itu, tidak pernah aku tahu itu hari terakhir aku lihat ibu. Kanker rahim yang Allah berikan pada ibu, hanya 11 bulan, pendek betul. Teringang apa yang ibuku rasakan saat itu, “ah, sakit sekali ini, kalau kamu ingat waktu melahirkan anakmu, rasa sakit itu, tapi ini jauh lebih hebat” begitu terus katanya. “Jangan menyerah bu, itu pertanda Allah meleburkan dosa-dosa ibu” tambahku menghibur. “Aku sudah cukup hidup, anak sudah besar-besar, apalagi” keluhnya lagi. Sudah tiga kali aku bolak-balik ke Jakarta selama hampir 9 bulan, semenjak ibu didiagnosa kanker rahim stadium 3B, bukan main, cepat sekali. Apa benar orang bilang, “cancer is a silent killer” Ibuku orang hebat, tidaklah mudah membesarkan 9 anak dari seorang suami pegawai negeri yang punya idealisme tinggi, “bapak kamu itu orangnya keras, tetapi jujur, orang bilang bapak punya posisi basah, banyak kesempatan kalau memang bapak mau jadi kaya, tapi bapakmu tidak mau punya cara curang untuk cari rejeki” begitu kata ibuku. “Biarlah aku pinjam uang sana-sini, yang penting anak-anak sekolah, bisa sampai ke perguruan tinggi, jangan seperti aku, tidak tamat sekolah, karena mesti bantu kakekmu di sawah” kata ibuku untuk selalu mengingatkan pada anak-anaknya pentingnya sekolah. Aku ingat sekali ibuku punya tulisan tangan yang sangat bagus, kakek bilang ibu murid yang pintar di sekolah. Begitu aku sampai di Singapura, tak tahan rasanya untuk telpon ke Jakarta, mengabarkan bahwa aku akan sampai di Jakarta satu jam lagi, “telpon lagi nanti, kakakmu sedang di rumah sakit” begitu suara sepupu ibuku menjawab telponku. “Ternyata Allah masih memberikan kesempatan kepadaku untuk lihat ibu” pikirku dalam hati. Setengah jam kemudian, aku balik telpon k Jakarta, “Mas, aku ada di Singapura, apa kamu jemput aku nanti di Cengkareng, bagaimana ibu?” begitu aku dengar kakakku menjawab telpon. “Ibu sudah tidak ada, ibu pergi tadi malam, pemakaman baru saja selesai, nanti aku jemput kamu di Cengkareng” Innalillahi wa innaillaihi roji’un, dadaku terasa sesak, tak tahan, kududuk sambil kupangku anakku, “Ibu pergi, tak sempat ketemu aku dulu” tangisku dalam hati. Ingin rasanya aku berteriak kepada seluruh penumpang mengenai kabar ibuku ketika aku harus kembali ke pesawat untuk penerbangan Singapura-Jakarta. “Aku sempat pamit ke ibu untuk pulang kerumah, airmata ibu keluar saat itu” begitu adikku bercerita setengah jam sebelum ibu pergi, mungkin malaikat maut sudah disamping ibu, tidak mungkin rasanya ibu berbicara bahwa ibu tidak akan mungkin lihat anak-anaknya lagi, pikirku dalam hati. “3 hari sebelum ibu pergi, ibu bilang kepadaku ibu lihat banyak bintang di langit-langit di kamar rumah sakit” “Bagus sekali diatas”, begitu katanya padaku waktu aku sedang menunggunya, padahal itu hanya langit-langit saja, tambah adikku bercerita, ibu juga sudah memaafkan kita semua. “Hampir seribu orang datang untuk melayat ibu”, kata bapakku. Tak terbayang rasanya rumah orangtuaku yang kecil, pasti sesak dipenuhi orang yang datang untuk melihat ibuku yang terakhir kalinya. “Kalau aku mati, belum tentu sebanyak itu orang akan datang melayatku” tambah bapak lagi. Ibuku pergi pada usia belum mencapai 60 tahun, meninggalkan seorang suami dan 9 anak, juga termasuk kedua orangtuanya yang masih hidup saat itu. Allahummagfir lahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu. Ya Allah, terimalah semua amal ibadah ibuku semasa hidupnya. Rasa rindu ini tak pernah mau pergi. Enfield, 25 Agustus, 2002-2005, mengenang seorang ibu yang penuh perjuangan dalam hidupku, surga adalah balasanmu. dari seorang shahabat muslimah di London...thanks mba Di karena udah dijinkan mengopi..:)

Tuesday, 23 August 2005

DISAMBUT BIDADARI SURGA

Ya Allah, Alangkah Bahagianya Calon Suamiku Itu...
Hudzaifah.org - Pada zaman Rasulullah SAW hiduplah seorang pemuda yangbernama Zahid yang berumur 35 tahun namun belum juga menikah. Diatinggal di Suffah masjid Madinah. Ketika sedang memperkilat pedangnyatiba-tiba Rasulullah SAW datang dan mengucapkan salam. Zahid kaget danmenjawabnya agak gugup."Wahai saudaraku Zahid..selama ini engkau sendiri saja," Rasulullah SAWmenyapa. "Allah bersamaku ya Rasulullah," kata Zahid. "Maksudku kenapaengkau selama ini engkau membujang saja, apakah engkau tidak inginmenikah.,"kata Rasulullah SAW. Zahid menjawab, "Ya Rasulullah, aku iniseorang yang tidak mempunyai pekerjaan tetap dan wajahku jelek, siapayang mau denganku ya Rasulullah?" " Asal engkau mau, itu urusan yangmudah!" kata Rasulullah SAW.Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan sekretarisnya untuk membuat suraty ang isinya adalah melamar kepada wanita yang bernama Zulfah bintiSaid, anak seorang bangsawan Madinah yang terkenal kaya raya dan terkenal sangat cantik jelita.
Akhirnya, surat itu dibawah ke rumahZahid dan oleh Zahid dibawa kerumah Said. Karena di rumah Said sedangada tamu, maka Zahid setelah memberikan salam kemudian memberikan surattersebut dan diterima di depan rumah Said. "Wahai saudaraku Said, akumembawa surat dari Rasul yang mulia diberikan untukmu saudaraku." Saidmenjawab, "Adalah suatu kehormatan buatku." Lalu surat itu dibuka dan dibacanya. Ketika membaca surat tersebut, Said agak terperanjat karenatradisi Arab perkawinan yang selama ini biasanya seorang bangsawanharus kawin dengan keturunan bangsawan dan yang kaya harus kawin denganorang kaya, itulah yang dinamakan SEKUFU.Akhirnya Said bertanya kepada Zahid, "Wahai saudaraku, betulkah surat ini dari Rasulullah?" Zahid menjawab, "Apakah engkau pernah melihat akuberbohong.."Dalam suasana yang seperti itu Zulfah datang dan berkata, "Wahai ayah,kenapa sedikit tegang terhadap tamu ini.. bukankah lebih disuruhmasuk?""Wahai anakku, ini adalah seorang pemuda yang sedang melamar engkau supaya engkau menjadi istrinya," kata ayahnya.
Disaat itulah Zulfah melihat Zahid sambil menangis sejadi-jadinya dan berkata, "Wahai ayah,banyak pemuda yang tampan dan kaya raya semuanya menginginkan aku, akutak mau ayah...!" dan Zulfah merasa dirinya terhina. Maka Said berkatakepada Zahid, "Wahai saudaraku, engkau tahu sendiri anakku tidak mau.bukan aku menghalanginya dan sampaikan kepada Rasulullah bahwa lamaranmu ditolak." Mendengar nama Rasul disebut ayahnya, Zulfahberhenti menangis dan bertanya kepada ayahnya, "Wahai ayah, mengapamembawa-bawa nama rasul?" Akhirnya Said berkata, "Ini yang melamarmuadalah perintah Rasulullah." Maka Zulfah istighfar beberapa kali danmenyesal atas kelancangan perbuatannya itu dan berkata kepada ayahnya,"Wahai ayah, kenapa sejak tadi ayah berkata bahwa yang melamar iniRasulullah, kalau begitu segera aku harus dikawinkan dengan pemuda ini.Karena ingat firman Allah dalam Al-Qur'an surat 24 : 51. "Sesungguhnyajawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah danRasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) diantara mereka ialahucapan. Kami mendengar, dan kami patuh/taat". Dan mereka itulahorang-orang yangberuntung. (QS. 24:51)"
Zahid pada hari itu merasa jiwanya melayang ke angkasa dan baru kaliinimerasakan bahagia yang tiada tara dan segera pamit pulang. Sampai dimasjid ia bersujud syukur. Rasul yang mulia tersenyum melihatgerak-gerik Zahid yang berbeda dari biasanya. "Bagaimana Zahid?""Alhamdulillah diterima ya rasul," jawab Zahid. "Sudah ada persiapan?"Zahid menundukkan kepala sambil berkata, "Ya Rasul, kami tidak memilikiapa-apa." Akhirnya Rasulullah menyuruhnya pergi ke Abu Bakar, Ustman,dan Abdurrahman bi Auf. Setelah mendapatkan uang yang cukup banyak,Zahid pergi ke pasar untuk membeli persiapan perkawinan.
Dalam kondisi itulah Rasulullah SAW menyerukan umat Islam untuk menghadapi kaum kafi ryang akan menghancurkan Islam.Ketika Zahid sampai di masjid, dia melihat kaum Muslimin sudahsiap-siapdengan perlengkapan senjata, Zahid bertanya, "Ada apa ini?" Sahabatmenjawab, "Wahai Zahid, hari ini orang kafir akan menghancurkan kita,maka apakah engkau tidak mengerti?". Zahid istighfar beberapa kalisambil berkata, "Wah kalau begitu perlengkapan kawin ini akan aku jualdan akan kubelikan kuda yang terbagus." Para sahabat menasehatinya,"Wahai Zahid, nanti malam kamu berbulan madu, tetapi engkau hendakberperang?" Zahid menjawab dengan tegas, "Itu tidak mungkin!" LaluZahid menyitir ayat sebagai berikut, "Jika bapak-bapak, anak-anak,suadara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamuusahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya dan rumah-rumahtempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih baik kamu cintai daripadaAllah dan Rasul-Nya (dari) berjihad di jalan-Nya. Maka tunggulah sampaiAllah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (QS. 9:24).Akhirnya Zahid (Aswad) maju ke medan pertempuran dan mati syahid dijalan Allah.
Rasulullah berkata, "Hari ini Zahid sedang berbulan madudengan bidadari yang lebih cantik daripada Zulfah."Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur'an surat 3 : 169-170 dan 2:154)."Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur dijalan Allah itumati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki.Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yangdiberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadaporang-orang yang masih tinggal dibelakang yang belum menyusul merekadan tidak (pula) mereka bersedih hati".(QS 3: 169-170)."Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalanAllah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup,tetapi kamu tidak menyadarinya." (QS. 2:154).
Pada saat itulah para sahabat meneteskan air mata dan Zulfahpunberkata, "Ya Allah, alangkah bahagianya calon suamiku itu, jika akutidak bisamendampinginya di dunia izinkanlah aku mendampinginya di akhirat."
HIKMAH Mudah-mudahan bermanfaat dan bisa menjadi renungan buat kita bahwa,"Untuk Allah di atas segalanya, and die as syuhada.""Jika seorang anak Adam meninggal, maka terputuslah semua amalnyakecuali 3 hal : Shadaqah Jariyyah, Ilmu yg Bermanfaat dan Anak yg Shalih yg Mendoakannya." (Hadits Shahih Riwayat Muslim no.1631, danAhmad 2/372)

Monday, 15 August 2005

my DUA....

taken from Nasheed of Sami Yusuf
O My Lord,
My sins are likeThe highest mountain;
My good deedsAre very fewThey’re like a small pebble.
I turn to You
My heart full of shame,
My eyes full of tears.
Bestow YourForgiveness and MercyUpon me.
Ya Allah,Send your peace and blessings On the Final Prophet,
And his family,And companions,And those who follow him.

Monday, 1 August 2005

Oh...Hidup......

Hidup Ini Hanya Ada 3 Hari Yang pertama: Hari kemarin. (PAST) Anda tak bisa mengubah apa pun yang telah terjadi.Anda tak bisa menarik perkataan yang telah terucapkan.Anda tak mungkin lagi menghapus kesalahan;dan mengulangi kegembiraan yang anda rasakan kemarin.Biarkan hari kemarin lewat; lepaskan saja... Yang kedua: Hari esok. (FUTURE) Hingga mentari esok hari terbit,Anda tak tahu apa yang akan terjadi.Anda tak bisa melakukan apa-apa esok hari.Anda tak mungkin sedih atau ceria di esok hari.Esok hari belum tiba; biarkan saja... Yang tersisa kini hanyalah : Hari ini. (PRESENT) Pintu masa lalu telah tertutup;Pintu masa depan pun belum tiba.Pusatkan saja diri anda untuk hari ini.Anda dapat mengerjakan lebih banyak hal hari inibila anda mampu memaafkan hari kemarin dan melepaskanketakutan akan esok hari.Hiduplah hari ini. Karena, masa lalu dan masa depan hanyalah permainan pikiran yang rumit.Hiduplah apa adanya.Karena yang ada hanyalah hari ini;hari ini yang abadi.Perlakukan setiap orang dengan kebaikan hati dan rasa hormat, meski mereka berlaku buruk pada anda.Cintailah seseorang sepenuh hati hari ini,karena mungkin besok cerita sudah berganti.Ingatlah bahwa anda menunjukkan penghargaan padaorang lain bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapakahdiri anda sendiri.Jadi teman, jangan biarkan masa lalu mengekangmu atau masa depan membuatmu bingung, lakukan yang terbaik HARI INI dan lakukan SEKARANG juga!!!!!! The day will come when you will review your life and be thankful for every minute of it.Every hurt,every sorrow, every joy, every celebration, every moment of your life will be a treasure.This is why today is called a PRESENT.