Sunday, 31 July 2005

for my Children-Be

If a child lives with criticism, he learns to condemn.
If a child lives with hostility, he learns to fight.
If a child lives with ridicule, he learns to be shy. If a child learns to feel shame, he learns to feel guilty.
If a child lives with tolerance, he learns to be patient.
If a child lives with encouragement, he learns confidence.
If a child lives with praise, he learns to appreciate. If a child lives with fairness, he learns justice.
If a child lives with security, he learns to have faith.
If a child lives with approval, he learns to like himself.
If a child lives with acceptance and frienship,he learns to find love in the world.

Friday, 22 July 2005

Menangislah!

Menangis Yang Dianjurkan Oleh: Muhammad al-KhaththathPublikasi 26/09/2004
hayatulislam.net - Lazimnya, menangis dipersepsikan secara negatif sebagai perkara yang menunjukkan sikap lemah dan cengeng. Sehingga sering kita diberi nasihat: Sudahlah, janganlah menangis!Namun ada menangis yang dianjurkan, hukumnya menurut syara adalah sunnah. Artinya, menangis yang membuat pelakunya dapat pahala. Apa itu: menangis karena takut kepada Allah dan tatkala ingat kepada-Nya.
Menangis karena takut kepada Allah disunahkan. Dalilnya adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Adapun dalil-dalil dari al-Qur’an antara lain:Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’. (Qs. al-Isrâ’ [17]: 109).Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis. (Qs. Maryam [19]: 58).Adapun dalil dari as-Sunnah adalah:•
Dari Ibnu Mas’ud ra., ia berkata; telah bersabda Nabi Saw kepadaku:“Bacakanlah al-Qur’an untukku.” Wahai Rasul! Apakah aku harus membaca al-Qur’an untukmu, sedangkan al-Qur’an itu diturunkan kepadamu? Beliau Saw bersabda, “Aku sangat menyukai mendengarkan al-Qur’an dari orang lain.” Ibnu Mas’ud berkata; Maka aku membacakan al-Qur’an surat an-Nisâ’ untuk Rasul, hingga aku sampai pada ayat:“Maka bagaimanakah (halnya orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (Qs. an-Nisâ’ [4]: 41). Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Cukup sampai di sini.” Aku menoleh kepada Rasul Saw, ternyata kedua matanya mengucurkan air mata. [Mutafaq ‘alaih].•
Dari Anas ra., ia berkata; Rasulullah Saw pernah berkhutbah dengan khutbah yang selama aku hidup tidak pernah mendengarnya. Rasulullah Saw bersabda:Andaikata kalian mengetahui apa-apa yang aku ketahui, maka niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Kemudian sahabat menutupi wajah mereka dan menangis tersedu-sedu. [Mutafaq ‘alaih].•
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata; Rasulullah Saw bersabda:Ada tujuh golongan yang Allah akan menaunginya pada saat tidak ada naungan kecuali naungan-Nya…. Orang yang mengingat Allah ketika sendirian sehingga bercucuran air matanya. [Mutafaq ‘alaih].• Dari Ibnu Umar, ia berkata; ketika sakit Rasulullah Saw semakin parah, maka disampaikan kepada beliau tentang shalat (siapa yang akan menjadi imamnya, penj.). Rasulullah Saw bersabda:Perintahkan kepada Abu Bakar untuk menjadi imam shalat. ‘Aisyah berkata, “[i]Sesunggunya Abu Bakar adalah laki-laki yang mudah luluh hatinya. Jika ia membaca (al-Qur’an, penj.), maka ia pasti akan banyak menangis.” Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari. Dalam riwayat Muslim dikatakan ‘Aisyah berkata:Aku berkata, “Wahai Rasulullah Saw, sesungguhnya Abu Bakar adalah laki-laki yang mudah luluh hatinya. Apabila ia membaca al-Qur’an, maka ia tidak akan bisa menahan air matanya.” [Mutafaq ‘alaih].•
Dari Anas ra., ia berkata; Rasulullah Saw bersabda kepada Ubay bin Ka’ab ra.:Sesungguhnya Allah memerintahkanku untuk membacakan kepadamu ayat ini:Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya). (Qs. al-Bayyinah [98]: 1). Ubay berkata, “Apakah Allah menyebutkan namaku?” Rasulullah Saw bersabda, “Ya” Kemudian Ubay pun menangis. [Mutafaq 'alaih].•
Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah Saw bersabda:Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah hingga air susu kembali lagi ke payudara. Dan tidak akan berkumpul debu perang fi sabilillah dengan asap Neraka Jahannam. [HR. Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih].• Dari Abdullah bin Syukhair ra. ia berkata:Aku mendatangi Rasulullah saw. pada saat beliau sedang shalat. Di perut beliau terdapat suara mendidih -seperti mendidihnya kuali- karena menangis. [Imam Nawawi berkata hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dalam kitab Asy-Syamail dengan sanad shahih]. •
Dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf, sesungguhnya Abdurahman bin Auf diberikan makanan pada saat ia (hendak berbuka) shaum. Maka ia berkata:Mush’ab bin Umair telah terbunuh padahal ia lebih baik dariku. Ia dikafani dengan bajunya. Apabila kepalanya ditutup maka kakinya kelihatan. Bila kakinya ditutup maka kepalanya kelihatan dan aku melihatnya.
Dan Hamzah telah terbunuh, ia lebih baik dariku. Sementara (kehidupanku) di dunia dilapangkan seperti saat ini. Atau ia berkata, “Aku diberi harta dunia seperti saat ini. Aku khawatir kebaikan-kebaikanku dipercepat.” Ibrahim berkata, “Kemudian ia menangis hingga membiarkan makanannya.”•
Dari Al-Irbad bin Sariyah ra., ia berkata:Rasulullah telah menasihati kami dengan nasihat yang menyebabkan hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran. [HR. Abu Dawud. At-Tirmidzi berkata hadits ini hasan shahih].• Dari Anas ra. bahwa Nabi saw ia bersabda: Barang siapa mengingat Allah kemudian keluar air matanya karena takut kepada Allah hingga bercucuran jatuh ke tanah, maka dia tidak akan disiksa di Hari Kiamat kelak. [HR. Hakim dalam kitab shahihnya, disetujui oleh Adz-Dzahabi].•
Dari Abu Raihanah, ia berkata; kami keluar bersama Rasulullah Saw dalam satu peperangan. Kami mendengar beliau Saw bersabda: Neraka diharamkan atas mata yang mengeluarkan air mata karena takut kepada Allah. Neraka diharamkan atas mata yang tidak tidur di jalan Allah. Abu Raihanah berkata; Aku lupa yang ketiganya. Tapi setelahnya aku mendengar beliau bersabda, “Neraka diharamkan atas mata yang berpaling dari segala yang diharamkan Allah.” [HR. Ahmad, Hakim dalam kitab shahihnya, disetujui oleh Adz-Dzahabi dan An-Nasa’i]. •
Dari Ibnu Abi Malikah, ia berkata; aku duduk bersama Abdullah bin Amru di atas batu, maka ia berkata: Menangislah! Jika tidak bisa berusahalah untuk menangis. Jika kalian mengetahui ilmu yang sebenarnya, niscaya salah seorang dari kalian akan shalat hingga patah punggungnya. Dia ia akan menangis hingga suaranya terputus. [HR. Hakim dalam kitab shahihnya, disetujui oleh Adz-Dzahabi].• Dari Ali ra. ia berkata:Tidak ada ahli berkuda di antara kami pada perang Badar kecuali Miqdad. Dan aku telah memperhatikan keadaan kita, tidak ada yang berdiri kecuali Rasulullah Saw di bawah suatu pohon. Beliau shalat dan menangis hingga waktu shubuh. [HR. Ibnu Huzaimah dalam kitab shahihnya].•
Dari Tsauban ra., ia berkata; Rasulullah Saw bersabda: Kebahagiaan bagi orang yang bisa menguasai dirinya, dilapangkan rumahnya, dan dibuat menangis oleh kesalahannya. [HR. Ath-Thabrani dengan sanad hasan].KhatimahHadits-hadits di atas menyadarkan kepada kita, siapa sebenarnya kita? Apakah kita termasuk orang yang takut kepada Allah ataukah kita berani kepada-Nya? Tentu yang terakhir, na’uudzubillahi mindzalik!Demi kesuksesan hidup masa depan, marilah kita renungkan sabda Nabi saw. dalam hadits qudsi dimana Allah SWT berfirman: “Tidak akan kukumpulkan dalam diri hamba-Ku: dua rasa takut dan dua rasa aman. Siapa saja yang takut kepada-Ku di dunia, maka akan Kuberi rasa aman di akhirat. Siapa saja yang merasa aman dari-Ku di dunia, maka akan Kuberi rasa takut di akhirat.” [HR. Najjar dalam Kanzul Umal, II/709].
Selamat menangis terhadap sikap diamnya kita serta merasa amannya kita atas dominasi kekufuran dan kemungkaran dan dicampakkannya syariah Allah di muka bumi, karena takut kepada Allah SWT, dan selamat berjuang meninggikan kalimat Allah dan menegakkan hukum syariah-Nya di muka bumi untuk mendapatkan keridloan-Nya!

Friday, 8 July 2005

Message for Muslim post London explosions

And surely, We shall try you till We test those who strive hard (for the Cause of Allah) and the patient ones, and We shall test your facts (i.e. the one who is a liar, and the one who is truthful).” [TMQ Muhammad:31] Dear brothers and sisters. Today several bomb explosions created havoc through London - although information about the events is still coming in, it is clear that many have died and have been injured. It is also clear that the world’s leaders congregating at the G8 summit in Gleneagles have quickly taken the opportunity to further their rhetoric to justify their ‘war on terror’. The media have already started speculating - talk of suicide bombings and ‘Islamist websites’ claiming responsibility for the explosions will only further the suspicion against our community. At such a time - where our community faces questions, accusations and calls for condemnation - we need to reflect upon how we react, for this time is a test for us and like all tests, Allah (swt) will question us on how we overcame these tests. After thought and contemplation about the consequences of these events for our community, we want to make the following points as to how we can deal with the aftermath of these events: 1. At a time of tests Islam mandates sabr (patience). Sabr does not mean we give up the truth at the first test. Rather it means to rely upon Allah (swt), ask for His (swt) help and follow His (swt) command without leaving it due to the test. 2. Allah (swt) raised this Ummah to carry the message of Islam and continue speaking the truth, despite provocation and despite the great tests we face. Indeed speaking the truth about the colonisation of the Muslim world and the killing, murder and rape of our Ummah by Western governments is of the highest obligations. The events in London will be used by these governments to silence our Ummah and detach us from the feelings of our Ummah. We must also carry da’wah to the non-Muslims about Islam in order for them to sense the greatness of our deen and our solutions. 3. At a time when fingers will be pointed at us from the wider community we need to come together as a community with one voice. Yes, the rules of Islam do not allow the harming of innocent civilians, but at the same time the rules of Islam do not allow us to condemn Muslims with little evidence in order to remove the pressure from ourselves. Condemnation with scant information will only aid the leaders of the West who want to use fear as a tool to change our Ummah and our Deen as well as allow them to arrest more Muslims unjustly under draconian terror laws. 4. It is possible in the days ahead that symbols of the Muslim community such as mosques and schools may be targets for vandalism; it is also foreseeable that our Muslim sisters may be at the forefront of verbal abuse or even attack. We advise the community to come together and collectively prepare the most appropriate arrangements to protect ourselves from such dangers. 5. Lastly we must make dua. The best dua is to ask Allah (swt) to raise our Ummah and our message so that we once again can live under a just Islamic rule (Khilafah State) and that our Ummah can implement Islam which will become a shining light in the darkness facing the world. Brothers and sisters! Stay strong and firm to Islam, for if we stay firm with Islam, Allah (swt) will assist us and raise our situation. "No reason have we why we should not put our trust on Allah. Indeed He Has guided us to the Ways we (follow). We shall certainly bear with patience all the hurt you may cause us. For those who put their trust should put their trust on Allah." [TMQ Al-Ibrahim: 12]

Tuesday, 5 July 2005

ORANG YANG DIDOAKAN MALAIKAT

Orang - orang yang Didoakan oleh Malaikat Oleh : Syaikh Dr. Fadhl Ilahi (dari Milis) Allah SWT berfirman, "Sebenarnya (malaikat - malaikat itu) adalah hamba - hamba yang dimuliakan, mereka tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah - perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka dan yang dibelakang mereka, dan mereka tidak memberikan syafa'at melainkan kepada orang - orang yang diridhai Allah, dan mereka selalu berhati - hati karena takut kepada-Nya" (QS Al Anbiyaa' 26-28)Inilah orang - orang yang didoakan oleh para malaikat : 1.. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa 'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci'" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) 2.. Orang yang duduk menunggu shalat. Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Shahih Muslim no. 469) 3.. Orang - orang yang berada di shaf bagian depan di dalam shalat. Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130) 4.. Orang - orang yang menyambung shaf (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalm shaf). Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272) 5.. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu" (Shahih Bukhari no. 782) 6.. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'" (Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini) 7.. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, 'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku ?', mereka menjawab, 'Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir) 8.. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda' ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Shahih Muslim no. 2733) 9.. Orang - orang yang berinfak. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010) 10.. Orang yang makan sahur. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang - orang yang makan sahur" (hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) 11.. Orang yang menjenguk orang sakit. Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh" (Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, "Sanadnya shahih") 12.. Seseorang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain" (dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)Maraji' :Disarikan dari Buku Orang - orang yang Didoakan Malaikat, Syaikh Fadhl Ilahi, Pustaka Ibnu Katsir, Bogor, Cetakan Pertama, Februari 2005 Semoga Bermanfaat

Monday, 4 July 2005

Mendidik Anak

TAFSIR AL-WA’IE Edisi 59 UST. ROKHMAT S. LABIB. MEI METODE MENDIDIK ANAK (TAFSIR QS LUQMAN [31]: 13) Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS LUQMAN [31]: 13) Ayat ini merupakan penggalan kisah tentang nasihat-nasihat Luqman kepada putranya. Karena ada kisah tersebut, surat ini dinamakan surat Luqman. Secara umum, surat Luqman termasuk surat Makiyyah.1 Seperti layaknya surat Makiyyah, surat ini lebih menitikberatkan pada tema-tema akidah, mengenai wahdâniyyah (keesaan Allah Swt.), kenabian, dan Hari Kebangkitan.2 Pada ayat ini Allah Swt. mengingatkan nasihat-nasihat bijak Luqman. Nasihat yang amat bernilai itu diawali dengan peringatan menjauhi perbuatan syirik. st1:*{behavior:url(#ieooui) } Tafsir Ayat Allah Swt. berfirman: Wa idz qâla luqmân li [i]bnih wahuwa ya’izhuh (Ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya pada waktu ia memberi pelajaran kepadanya). Para ulama berbeda pendapat mengenai siapa Luqman yang dimaksud dalam ayat ini. Sebagian mufassir menyatakan, ia adalah cicit Azar (bapak Nabi Ibrahim as). Sebagian lagi berpendapat, ia adalah keponakan Ayyub dari saudara perempuannya. Yang lainnya menyebutkan, ia adalah sepupu Ayyub dari bibinya.3 Adapun menurut Ibnu Katsir, ia adalah Luqman bin Anqa bin Sadun.4 Para mufassir juga berbeda pendapat tentang asal-usul, tempat tinggal, dan pekerjaannya. Tidak bisa dipastikan pendapat mana yang paling benar. Sebab, al-Quran tidak merinci siapa sesungguhnya Luqman yang dimaksud. Sebagai kitab yang berfungsi menjadi hudâ wa maw’izhah (petunjuk dan pelajaran) bagi manusia, penjelasan tentang hal itu tidak terlampau penting. Yang lebih penting justru pelajaran apa yang dapat dipetik dari kejadian itu. Di dalam al-Quran banyak kisah yang hanya diceritakan peristiwanya, tanpa dirinci waktu, tempat terjadinya, kronologi dan pelakunya; layaknya buku sejarah. Demikian pula dengan kisah Luqman dalam ayat ini. Al-Quran hanya memberitakan bahwa dia termasuk orang yang mendapat limpahan al-hikmah dari-Nya. Allah Swt. berfirman: Sesungguhnya telah Kami telah memberikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah.” (QS Luqman [31]: 12). Secara bahasa al-hikmah berarti ketepatan dalam ucapan dan amal.5 Menurut ar-Raghib, al-hikmah berarti mengetahui perkara-perkara yang ada dan mengerjakan hal-hal yang baik.6 Menurut Mujahid, al-hikmah adalah pemahaman, akal, dan kebenaran dalam ucapan selain kenabian.7 Hikmah dari Allah Swt. bisa berarti benar dalam keyakinan dan pandai dalam dîn dan akal.8 Pendapat agak berbeda dikemukakan Ikrimah, as-Sudi, dan asy-Sya’bi. Mereka menafsirkan al-hikmah sebagai kenabian. Karena itu, menurut mereka, Luqman adalah seorang nabi.9 Pendapat ini berbeda dengan jumhur ulama yang berpandangan bahwa dia seorang hamba yang salih, bukan nabi.10 Kendati bukan nabi, Luqman juga menempati derajat paling tinggi. Sebab, manusia yang derajatnya paling tinggi adalah orang yang kâmil fî nafsih wa mukmil li ghayrih, yakni orang yang dirinya telah sempurna sekaligus berusaha menyempurnakan orang lain. Kesempurnaan Luqman ditunjukkan dalam ayat sebelumnya, bahwa dia termasuk hamba Allah Swt. yang mendapat hikmah dari-Nya. Adapun upayanya untuk membuat orang lain menjadi sempurna terlihat pada nasihat-nasihat yang disampaikan kepada putranya.11 Dalam ayat itu disebutkan wa huwa ya‘izhuh. Kata ya‘izh berasal dari al-wa‘zh atau al-‘izhah yang berarti mengingatkan kebaikan dengan ungkapan halus yang bisa melunakkan hati.12 Karena itu, dalam mendidik anaknya, Luqman menempuh cara yang amat baik, yang bisa meluluhkan hati anaknya sehingga mau mengikuti nasihat-nasihat yang diberikan. “Yâ bunayya lâ tusyrik billâh (Hai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah). Luqman memanggil putranya menggunakan redaksi tasghîr: ya bunayya. Hal itu bukan untuk mengecilkan atau merendahkan, namun untuk menunjukan rasa cinta dan kasih sayang kepada anaknya.13 Dengan panggilan seperti itu, diharapkan nasihat yang disampaikan lebih mudah diterima. Nasihat pertama yang disampaikan kepada putranya itu adalah la tusyrik billâh (jangan mempersekutukan Allah). Mempersekutukan Allah adalah mengangkat selain Allah Swt. sebagai tandingan yang disetarakan atau disejajarkan dengan-Nya. Ketika Rasulullah saw. ditanya oleh salah seorang sahabatnya, Wail bin Abdullah ra., mengenai dosa apa yang paling besar, beliau menjawab: Syirik, yakni kamu menjadikan tandingan bagi Allah (HR an-Nasa’i). Larangan syirik ini berlaku abadi. Bahkan tidak seorang rasul pun yang diutus Allah Swt. kecuali menyampaikan larangan tersebut. (Lihat: QS az-Zumar [39]: 65). “Inna asy-syirk la zhulm ‘azhîm (Sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar). Dalam nasihatnya, Luqman tidak saja melarang syirik, namun juga menjelaskan alasan dilarangnya perbuatan tersebut.14 Secara bahasa azh-zhulm (kezaliman) berarti menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.15 Syirik disebut azh-zhulm karena menempatkan Pencipta setara dengan ciptaan-Nya, menyejajarkan Zat yang berhak disembah dengan yang tidak berhak disembah,16 atau melakukan penyembahan kepada makhluk yang tidak berhak disembah.17 Banyak ayat al-Quran yang menyebut perbuatan syirik sebagai azh-zhulm (Lihat, misalnya: QS al-An‘am [6]: 82). Selain kezaliman besar, dalam ayat lain, syirik juga disebut sebagai kesesatan yang nyata (QS. Saba’ [34]: 24) dan amat jauh (QS. an-Nisa’ [4]: 116). Karena itu, wajar jika syirik dinilai sebagai dosa terbesar dan tidak ada dosa yang melebihinya. Jika dosa-dosa lain, manusia masih bisa berharap mendapat ampunan dari Allah Swt., tidak demikian dengan syirik. Siapa pun yang telah melakukan perbuatan syirik, dan tidak bertobat, lalu meninggal dalam kesyirikan, maka tidak akan diampuni Allah Swt. (QS an-Nisa’ [4]: 48, 116). Lebih dari itu, syirik akan menyebabkan terhapusnya semua amal yang dikerjakan manusia (QS az-Zumar [39]: 65). Pelakunya diharamkan masuk surga (QS al-Maidah [5]: 72), sebaiknya ia kekal di dalam neraka (QS al-Bayyinah [98]: 6). Oleh karenanya, syirik menyebabkan penyesalan yang tak terbayarkan bagi pelakunya (QS al-Kahfi [18]: 42). Meneladani Nasihat Luqman Orangtua yang bijak pasti menginginkan anak yang dicintainya tumbuh menjadi manusia salih dan beroleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Keinginan itu tentu harus disertai dengan upaya untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, Luqman bisa dijadikan sebagai teladan. Nasihat-nasihat yang diberikan kepada anaknya, jika dikerjakan, bisa mengantarkan anaknya meraih keinginan mulia tersebut. Secara keseluruhan, ada dua perkara penting yang dinasihatkan Luqman kepada putranya. Pertama, menyangkut persoalan akidah. Luqman menasihati putranya agar tidak mempersekutukan Allah Swt. (ayat 13). Ia pun mengingatkan anaknya bahwa Allah Swt. Yang Mahatahu atas segala sesuatu, di langit maupun di bumi, akan membalas semua amal perbuatan manusia, seberat apa pun amal perbuatan itu (ayat 16). Kedua, berkenaan dengan pelaksanaan amal yang menjadi konsekuensi tauhid, baik menyangkut hubungan manusia dengan Al-Khâliq, dengan dirinya sendiri, maupun dengan sesama manusia. Pada ayat 17, Luqman memerintahkan anaknya untuk mendirikan shalat (hubungan manusia dengan Al-Khâliq), melakukan amar makruf nahi mungkar (hubungan manusia dengan sesamanya), dan meneguhkan sifat sabar dalam jiwanya (hubungan manusia dengan dirinya sendiri). Luqman juga mengingatkan anaknya untuk menjauhi larangan-larangan Allah Swt. Sifat sombong dan perilaku angkuh adalah di antara perbuatan yang harus dijauhi (ayat 18). Sebaliknya, sifat yang harus dilekatkan adalah menyederhanakan langkah dan melunakkan suara (ayat 18). Dapat disimpulkan, semua nasihat Luqman itu berorientasi pada keselamatan dîn anaknya. Ia menginginkan anaknya menjadi manusia yang taat kepada Tuhannya dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan jalan itu kebahagiaan dunia dan akhirat dapat diraih. Jika diperhatikan kisah-kisah dalam al-Quran, hal yang sama juga dilakukan para nabi dan rasul. Mereka semua amat menginginkan anaknya menjadi orang yang berpegang teguh kepada dîn yang haq, seperti yang dikabarkan Allah Swt: Ibrahim mewasiatkan ucapan kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku, sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagi kalian. Karena itu, janganlah kalian mati kecuali memeluk agama ini. (QS al-Baqarah [2]: 132). Patut dicatat urutan perkara yang dinasihatkan Luqman. Pertama kali yang ia nasihatkan adalah perkara akidah. Ia menginginkan anaknya lurus akidahnya. Setelah itu, baru menyangkut perkara amaliah. Pilihan ini tentu bukan suatu kebetulan. Sebab, dari berbagai sisi, akidah memang harus didahulukan. Akidah merupakan penentu status manusia, tergolong sebagai orang Mukmin atau kafir. Orang yang meyakini akidah yang haq, yang berasal dari Allah Swt., adalah orang Mukmin. Sebaliknya, orang yang mengingkari akidah tersebut tergolong sebagai orang kafir. Pada gilirannya, perbedaan status ini akan menentukan nasib mereka, memperoleh bahagia atau mendapat celaka. Di akhirat kelak, orang-orang kafir akan menjadi penghuni neraka (QS al-Bayyinah [98]: 6), sebaliknya orang-orang Mukmin dan beramal salih akan menjadi penduduk surga (QS al-Bayyinah [98]: 8). Keyakinan pada akidah yang benar juga menjadi syarat diterimanya amal. Allah Swt. hanya menerima amal yang dikerjakan orang-orang Mukmin. Sebaliknya, amal perbuatan orang-orang kafir sama sekali tidak dinilai pada Hari Kiamat kelak (QS al-Kahfi [18]: 105). Semua amalnya pun terhapus dan sia-sia, baik di dunia maupun di akhirat (QS al-Baqarah [2]: 217; QS at-Taubah [9]: 69), dan laksana debu yang diterbangkan (QS al-Furqan [25]: 23). Itu berarti, perbaikan amal perbuatan tanpa didahului dengan penerimaan pada akidah yang benar tidak akan berguna. Selain itu, perbuatan manusia juga sangat ditentukan akidahnya. Orang yang meyakini akidah Islam akan terikat dengan syariah. Sebaliknya, orang yang mengingkari akidah Islam dipastikan akan mengabaikan ketetapan syariah. Oleh karenanya, siapa pun yang hendak memperbaiki perilaku seseorang (ishlâh al-a’mâl), harus meluruskan akidahnya (tashhih al-‘aqîdah) terlebih dahulu. Jika dicermati dalam al-Quran, para nabi dan rasul juga melakukan hal yang sama. Mereka mendahulukan seruan akidah sebelum lainnya. Demikian juga dengan Rasulullah saw. Yang pertama kali beliau dakwahkan ke tengah masyarakat Jahiliah adalah perkara akidah. Ayat-ayat yang turun di awal dakwahnya juga menekankan pada akidah. Adapun ayat-ayat tentang hukum kebanyakan turun di Madinah, pada saat akidah umat sudah benar-benar mapan. Rasulullah saw. juga memerintahkan para sahabatnya untuk menyerukan kepada akidah terlebih dulu sebelum menjelaskan ketetapan hukum. Ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal ra. ke Yaman yang mayoritas penduduknya Ahlul Kitab, beliau memerintakan agar perkara pertama yang didakwahkan kepada mereka adalah mengesakan Allah Swt., baru setelah itu dijelaskan tentang kewajiban mendirikan shalat lima waktu dalam sehari semalam serta membayar zakat yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin mereka (HR al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Abu Dawud). Dalam pendidikan anak, Rasulullah saw. telah memerintahkan para orangtua untuk menekankan pendidikan akidah. Ibnu Abbas menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: Ajarkan kalimat Lâ ilaha illâ Allâh kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama. (HR al-Hakim). Abd ar-Razaq meriwayatkan bahwa para sahabat menyukai untuk mengajari anak-anak mereka kalimat Lâ ilaha illâ Allâh sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali sehingga kalimat itu menjadi yang pertama-tama mereka ucapkan.18 Demikianlah teladan dari orang-orang bijak dalam mendidik anaknya. Anda juga menginginkan anak Anda meraih bahagia dan surga? Ikutilah jejak mereka! Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.  Catatan kaki: 1 Asy-Syaukani, Fath al-Qadîr, IV/233, Dar al-Fikr, Beirut. 1983. 2 Ash-Shabuni, Shafwat at-Tafâsîr, II/446, Dar al-Fikr, Beirut. 1996. 3 Al-Baghawi, Ma’âlim at-Tanzîl, III/421, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993. 4 Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/1446, Dar al-Fikr, Beirut. 2000. 5 Ash-Shabuni, Shafwat at-Tafâsîr, II/451. 6 Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, XI/82, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993. 7 Aath-Thabari, Jâmi’ al-Bayân fî Ta’wîl al-Qur’ân, xi/208, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1992. 8 Abd al-Haqq al-Andalusi, al-Muharrar al-Wajîz fî Tafsîr al-Kitâb al-‘Azîz, IV/347, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993; al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, IV/41, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1993. 9 Abu al-Hasan al-Naysaburi, al-Wasîth fî Tafsîr al-Qur’ân al-Majîd, III/442, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994; Abu ‘Ali al-Fadhl, Majma’ al-Bayân fî Tafsîr al-Qur’ân, III/491, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1994. 10 Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhîm, III/ 1445; AbuThayyib al-Qinuji, Fath al-Bayân fî Maqâshid al-Qur’ân, X/281, Idarat Ihya’ al-Turats al-Islami, Qathar. 1989 11 Al-Khazin, Lubâb al-Ta’wîl fi Ma’âni at-Tanzîl, III/398, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995 12 Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143, Dar al-Fikr, Beirut. 1991. ar-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, hlm. 564, Dar al-Fikr, Beirut., tt. 13 Shihab al-Din al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, xi/84; Wahbah az-Zuhayli, Tafsîr al-Munîr, XI/143. 14 Burhan al-Din al-Baqa’i, Nazhm ad-Durar fî Tanâsub al-آyât wa as-Suwar, VI/13, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1995. 15 Mahmud Hijazi, at-Tafsîr al-Wâdhîh, III/47, an-Nashir, 1992. 16 Al-Khazin, Lubâb at-Ta’wîl, III/398. 17 Fakhr ad-Din al-Razi, at-Tafsîr al-Kabîr Aw Mafâtîh al-Ghayb, XIII/128, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut. 1990. 18 Muhammad Suwaid, Mendidik Anak bersama Nabi, terj. Salafudin A. Sayyid, hlm. 133, Pustaka Arafah, Solo. 2003

IKHLAS...

Tempat Persinggahan Iyyaka Na'budu Wa Iyyaka Nasta'in Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah Pengantar:Dalam kitab Madarijus Salikin, Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah menyebutkan tempat-tempat persinggahan Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in diantaranya adalah ikhlas. Berikut ini saya kutipkan beberapa penggal alenia yang tercantum dalam pasal ini. Bagi yang menginginkan uraian lebih lanjut saya persilahkan membaca langsung dari sumbernya. (ALS) Sehubungan dengan tempat persinggahan ikhlas ini Allah telah berfirman di dalam Al-Qur'an, (artinya):"Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (Al-Bayyinah: 5)"Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur'an) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik)." (Az-Zumar: 2-3)"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kalian, siapa di antara kalian yang lebih baik amalnya." (Al-Mulk: 2) Al-Fudhail berkata, "Maksud yang lebih baik amalnya dalam ayat ini adalah yang paling ikhlas dan paling benar." Orang-orang bertanya, "Wahai Abu Ali, apakah amal yang paling ikhlas dan paling benar itu ?"Dia menjawab, "Sesungguhnya jika amal itu ikhlas namun tidak benar, maka ia tidak diterima. Jika amal itu benar namun tidak ikhlas maka ia tidak akan diterima, hingga amal itu ikhlas dan benar. Yang ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah, dan yang benar ialah yang dikerjakan menurut As-Sunnah." Kemudian ia membaca ayat, (artinya): "Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (Al-Kahfi: 110) Allah juga berfirman, (artinya):"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan?" (An-Nisa': 125)Menyerahkan diri kepada Allah artinya memurnikan tujuan dan amal karena Allah. Sedangkan mengerjakan kebaikan ialah mengikuti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan Sunnah beliau. Allah juga berfirman, (artinya):"Dan, Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (Al-Furqan: 23)Amal yang seperti debu itu adalah amal-amal yang dilandaskan bukan kepada As-Sunnah atau dimaksudkan bukan karena Allah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada Sa'ad bin Abi Waqqash, "Sesungguhnya sekali-kali engkau tidak akan dibiarkan, hingga engkau mengerjakan suatu amal untuk mencari Wajah Allah, melainkan engkau telah menambah kebaikan, derajad dan ketinggian karenanya." Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, (artinya):"Tiga perkara, yang hati orang mukmin tidak akan berkhianat jika ada padanya: Amal yang ikhlas karena Allah, menyampaikan nasihat kepada para waliyul-amri dan mengikuti jama'ah orang-orang Muslim karena doa mereka meliputi dari arah belakang mereka." (HR. At-Thirmidzi dan Ahmad) Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pernah ditanya tentang berperang karena riya', berperang karena keberanian dan berperang karena kesetiaan, manakah diantaranya yang ada di jalan Allah? Maka beliau menjawab, "Orang yang berperang agar kalimat Allah lah yang paling tinggi, maka dia berada di jalan Allah.Beliau juga mengabarkan tiga golongan orang yang pertama-tama diperintahkan untuk merasakan api neraka, yaitu qari' Al-Qur'an, mujahid dan orang yang menshadaqahkan hartanya; mereka melakukannya agar dikatakan, "Fulan adalah qari', fulan adalah pemberani, Fulan adalah orang yang bershadaqah", yang amal-amal mereka tidak ikhlas karena Allah. Di dalam hadits qudsi yang shahih disebutkan; "Allah berfirman, 'Aku adalah yang paling tidak membutuhkan persekutuan dari sekutu-sekutu yang ada. Barangsiapa mengerjakan suatu amal, yang di dalamnya ia menyekutukan selain-Ku, maka dia menjadi milik yang dia sekutukan, dan Aku terbebas darinya'." (HR. Muslim)Di dalam hadits lain disebutkan; "Allah berfirman pada hari kiamat, 'Pergilah lalu ambillah pahalamu dari orang yang amalanmu kamu tujukan. Kamu tidak mempunyai pahala di sisi Kami'." Di dalam Ash-Shahih disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak melihat tubuh kalian dan tidak pula rupa kalian, tetapi Dia melihat hati kalian." (HR. Muslim) Banyak difinisi yang diberikan kepada kata ikhlas dan shidq, namun tujuannya sama. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya menyendirikan Allah sebagai tujuan dalam ketaatan. Ada yang berpendapat, ikhlas artinya membersihkan perbuatan dari perhatian manusia, termasuk pula diri sendiri. Sedangkan shidq artinya menjaga amal dari perhatian diri sendiri saja. Orang yang ikhlas tidak riya' dan orang yang shidq tidak ujub. Ikhlas tidak bisa sempurna kecuali shidq, dan shidq tidak bisa sempurna kecuali dengan ikhlas, dan keduanya tidak sempurna kecuali dengan sabar. Al-Fudhail berkata, "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', Mengerjakan amal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah jika Allah memberikan anugerah kepadamu untuk meninggalkan keduanya."Al-Junaid berkata, "Ikhlas merupakan rahasia antara Allah dan hamba, yang tidak diketahui kecuali oleh malaikat sehingga dia menulis-nya, tidak diketahui syetan sehingga dia merusaknya dan tidak pula diketahui hawa nafsu sehingga dia mencondongkannya."Yusuf bin Al-Husain berkata. "Sesuatu yang paling mulia di dunia adalah ikhlas. Berapa banyak aku mengenyahkan riya' dari hatiku, tapi seakan-akan ia tumbuh dalam rupa yang lain." Pengarang Manazilus-Sa'irin berkata, "Ikhlas artinya membersihkan amal dari segala campuran." Dengan kata lain, amal itu tidak dicampuri sesuatu yang mengotorinya karena kehendak-kehendak nafsu, entah karena ingin memperlihatkan amal itu tampak indah di mata orang-orang, mencari pujian, tidak ingin dicela, mencari pengagungan dan sanjungan, karena ingin mendapatkan harta dari mereka atau pun alasan-alasan lain yang berupa cela dan cacat, yang secara keseluruhan dapat disatukan sebagai kehendak untuk selain Allah, apa pun dan siapa pun." Dipetik dari: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, "Madarijus-Salikin Manazili Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in, Edisi Indonesia: Madarijus Salikin Pendakian Menuju Allah." Penerjemah Kathur Suhardi, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, Cet. I, 1998, hal. 175 - 178

Saturday, 2 July 2005

untuk yang Mo Married!

Renungkan apakah dirimu seperti ini sebagai wanita???
Seorang pria dan kekasihnya menikah dan acaranya pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan.Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria dalam tuxedo hitam yang gagah. Setiap pasang mata yang memandang setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.
Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan" katanya sambil menyodorkan majalah tersebut."Masing-masing kita! akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia..."Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik sebab hal tersebut untuk kebaikkan mereka bersama.
Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya."Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri.Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman... Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak dia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa airmata suaminya mulai! mengalir..."Maaf, apakah aku harus berhenti ?" tanyanya."Oh tidak, lanjutkan..." jawab suaminya.Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang terdaftar, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia."Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".
Dengan suara perlahan suaminya berkata "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku.Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang..."Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya. Bahwa suaminya menerimanya apa adanya... Ia menunduk dan menangis...
Dalam hidup ini, banyak kali kita merasa dikecewakan, depressi, dan sakit hati. Sesungguhnya tak perlu menghabiskan waktu memikirkan hal-hal tersebut. Hidup ini penuh dengan keindahan, kesukacitaan dan pengharapan.Mengapa harus menghabiskan waktu memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan dan menyakitkan jika kita bisa menemukan banyak hal-hal yang indah di sekeliling kita?
Saya percaya kita akan menjadi orang yang berbahagia jika kita mampu melihat dan bersyukur untuk hal-hal yang baik dan mencoba melupakan yang buruk...